Negeri Tetangga .. Thailand yang Unik

Berita kerusuhan di Thailand sudah tersebar hingga ke Indonesia. Tentu saja membuat cemas para orang tua yang anaknya sedang kuliah di sana, bekerja, dan sebagainya. Begitu juga keluarga dan sobat karib saya yang berada di Indonesia selalu menanyakan kondisi di sini, apakah seperti yang diberitakan di televisi?

(bbc.co.uk)

Sesungguhnya saya tidak begitu mengerti, tetapi karena banyak teman-teman kuliah saya yang orang Thailand, dan terkadang pengajar yang bukan orang asli sini kerap bertanya kepada mereka mengenai kondisi Thailand saat perkuliahan, saya sedikit banyak mengerti. Kondisi raja yang sudah berumur dan tidak begitu mencampuri lagi urusan pemerintahan, dan masalah-masalah lain yang berhubungan dengan sikap politik yang bagi partai oposisi menyimpang, menyulut pertentangan antara kubu kaos merah dengan kubu kaos kuning. Saya sendiri heran kenapa ada istilah warna seperti itu.

Ketika perdana menteri Thaksin jatuh dan melarikan diri, ternyata saat ini dikuasi pemerintahan dikuasai oleh Yingluck yang merupakan kerabatnya. Pemilu dimenangkan oleh Yingluck karena memang kebijakan Thaksin yang sejak dulu sangat mendukung pertanian. Mungkin sangat mirip dengan jaman Suharto dulu. Ketika Yingluck mengusulkan adanya undang-undang untuk pengampunan (mungkin ditujukan agar Thaksin dapat kembali ke Thailand dengan damai) muncullah protes keras dari kubu yang menjatuhkan Thaksin dulu. Saat ini terjadi dua demonstrasi antara kubu Yingluck (dari petani luar Bangkok) dan dari kubu oposisi (dari dalam kota Bangkok) yang jika sampai bertemu, sudah dapat dipastikan terjadi pertumpahan darah. Itu yang saya tangkap dari informasi sana sini. Saat tulisan ini dibuat, kerusuhan mereda karena Raja Bhumibol sedang ulang tahun yang ke-86.

(sindikasiberita.com)

Kondisi Geografis dan Budaya

Berbeda dengan Indonesia, Thailand sedikit unik. Seluruh sarana dan fasilitas terkonsentrasi ke ibu kota Bangkok. Tidak ada kota-kota besar seperti Bandung, Jogjakarta, Medan, dan kota besar lainnya selain Jakarta seperti di indonesia. Kebetulan saya sekolah di kampus yang terletak di pinggiran Bangkok. Dan memang saya merasakan ada kesenjangan antara kota dengan desa. Akan tetapi menurut saya bagus juga dari sisi budaya. Orang yang di luar Bangkok masih memiliki jiwa yang belum tercemar. Ketika menuju suatu Mall saya naik van (seperti angkot tetapi mewah, dengan AC dan kebersihan yang terjaga) dan yang membuat saya heran adalah ketika akan membayar, kita hanya meletakkan uang yang sudah tertentu harganya, kemudian nampan itu beredar di antara penumpang. Tidak ada kondektur, hanya seorang supir. Ketika semua selesai meletakkan uang untuk ongkos perjalanan ke nampan, sang supir pun sepertinya tidak menghitung lagi uang tersebut kurang atau tidak. Bayangkan jika ini diterapkan di Jakarta, uang yang beredar dijamin hilang.

Peran Raja

Saya pernah belajar geografi di sekolah, dan ketika mempelajari negara-negara ASEAN, saya sempat membaca negara Thailand, diman dipimpin oleh seorang raja dengan perdana menteri. Disebutkan juga Thailand merupakan satu-satunya negara yang tidak pernah dijajah. Di sini istilah dijajah berarti ditindas dan sumber daya alamnya dikuras habis oleh penjajah, sementara Jepang tidak bisa dibilang menjajah karena hanya menduduki untuk dijadikan basis pertempuran dengan sekutu, walaupun terkadang lebih kejam dari penjajah akibat kepepet dan harus menang dalam perang.

(Chiangmai-mail.com)

Salah satu hal yang ternyata menurut saya salah ketika mendapat pelajaran sejarah Thailand di sekolah adalah bahwa Thailand tidak dijajah karena memang kebetulan letaknya berbatasan antara jajahan Inggris di selatan dengan jajahan Perancis di utara. Masuk akal memang, tetapi ketika saya menelusuri situs-situs sejarah Thailand ternyata peran raja Chulalongkorn sangat penting ketika itu. Raja Chula merupakan raja yang disayangi oleh rakyatnya. Raja ini terkenal sebagai raja yang suka belajar dan berpetualang ke negara-negara lain. Dengan taktiknya silaturahmi ke negara-negara lain yang biasanya negara monarki juga, ketika Perancis dan Inggris akan menguasai Thailand, banyak bantuan dari sahabat-sahabat raja. Sesekali pernah Tsar rusia yang siap membantu jika diperlukan bantuan untuk menghadapi Perancis yang saat itu sudah menguasai Laos dan akan masuk ke Thailand. Jadi menurut saya alasan kenapa Thailand tidak dijajah karena letaknya yang berbatasan kurang tepat. Penjajah itu pintar, mengapa tidak dibagi dua saja Thailand? Biar sama-sama untung. Kalaupun memang sebagai negara pemisah, itu bisa saja taktik raja Chula yang cerdik. Toh, tetangganya, Kamboja, yang terletak di tengah-tengah juga jatuh ke tangan penjajah.

Pelajaran dari Negeri Gajah

Banyak hal-hal positif yang bisa diambil dari negeri ini dan diterapkan di tanah air. Thailand merupakan negara dengan mayoritas memeluk Budha dan menerapkan ajaran Darma setiap hari. Walaupun di kota masih kerap dijumpai pencurian, dan kejahatan lainnya, tetapi di desa-desa mereka masih mempercayai adanya hukum karma. Kadang saya malu dengan negara saya yang mengagung-agungkan Islam sebagai rahmatan lil alamin tetapi perilakunya jauh dari kemulian agama yang dia anut. Memang saya sendiri pun masih jauh dari sempurna. Tetapi jika menganggap diri kita lebih baik dari orang lain, bisa saja mendatangkan setan untuk menyelinap masuk lewat ajaran yang kita anut. Dengan memutar dalil-dalil bisa saja setan menyusup. Menghalalkan yang haram dengan alasan tertentu yang terkesan lebih urgen. Dengan adanya amalan-amalan tertentu yang menghapus dosa-dosa yang telah dibuat, menurut saya juga sangat memungkinkan syetan untuk menyelinap masuk. Masuk ke dalam relung-relung fikiran kita secara halus tanpa kita sadar. Dengan dalil-dalil tertentu, bisa saja saling membunuh karena merasa suatu ajaran menyimpang. Di sini, membunuh semut pun mereka enggan. Burung perkutut dan tekukur yang sering terdengar di sekitar kos tempat saya menginap bebas berkeliaran dan tidak ada yang berupaya untuk menangkapnya. Beda dengan kondisi di tanah air. Apapun yang bisa dijadikan uang, diambil tanpa pandang bulu, hutan yang kian gundul, pembakaran hutan untuk membuka lahan, pengeboran yang merusak lingkungan seperti di Lapindo, membuat malu jika didengar oleh anak cucu kita nanti, semoga. Ya, semoga anak cucu kita tidak memiliki pemikiran miring seperti pendahulunya.

(Perkutut liar)

Menurut saya, jakarta harus banyak belajar dari kota Bangkok. Kebersihan, jalur transportasi yang beragam, tata kota dan kedisiplinan warganya patut diacungi jempol. Budaya antri yang tinggi dengan kesabaran berkendara dapat dijumpai di mana-mana. Tidak seperti Jakarta yang penuh dengan klakson ketika macet, di Thailand walaupun macet, hampir tidak terdengar adanya suara klakson. Penyeberang jalan sangat dihormati. Ketika ada sebuah mobil akan keluar dan menuju jalan raya dan ada orang yang melintas, mereka cenderung menunggu pejalan kaki lewat. Jika dijumpai pejalan kaki yang berhenti karena melihat ada mobil yang akan keluar, dipastikan itu orang Indonesia (waktu itu saya J). Karena sudah kebiasaan sebagai orang Jakarta harus waspada, meleng sedikit ditabrak.

Keberhasilan dalam menanggulangi AIDS sungguh prestasi yang membanggakan. Bandingkan dengan negara kita yang saat ini secara mengejutkan katanya kita gagal mengatasi HIV/AIDS yang sudah berlangsung selama 7 tahun. Ketika pekan kondom yang kontroversial di tanah air berlangsung, justru Chiang Mai University Thailand melakukan riset dan mengatakan kondom tidak aman terhadap AIDS. Pori-pori kondom 400 kali lebih besar dibanding virus HIV itu sendiri. Kalaupun alasannya untuk penyakit kelamin jenis lain seperti sipilis yang berasal dari bakteri, toh penyakit itu sudah ada obatnya, beda dengan HIV/AIDS. (https://www.academia.edu/566646/RELIGIOUS_APPROACHES_TO_HIV_AIDS_PREVENTION_IN_THAILAND). Mungkin satu-satunya peran kondom adalah menghindari penderita HIV/AIDS melahirkan bayi yang HIV/AIDS juga karena kondom berfungsi sebagai alat KB. Jika saya perhatikan dengan iklan kondom untuk KB ketika saya sekolah tahun 90-an dulu (dengan selogan terkenal ya ya ya ..) justru lebih cerdas dan memahami benar fungsi kondom, dibanding saat ini yang memfungsikan kondom sebagai alat melawan HIV/AIDS dan justru membuat rasa aman bagi pelaku sex baik yang sudah mengetahui terjangkit HIV/AIDS maupun yang belum.

Untuk para pemimpin negeri ku, di tanganmu lah segala kebijakan bermula dan segala akibat (baik/buruk) akan kami tanggung bersama. Saya pun merasakan betapa berat bebanmu. Tapi jika engkau bergaul dan berdiskusi dengan orang yang tepat tanpa mementingkan kepentingan pribadi atau golongan, saya yakin Allah berada di sisi Anda.

Devise untuk Autentikasi pada Ruby on Rails

Buat project baru

rails new devis

Buat satu model berisi daftar kerjaan

rails g scaffold todo name description

migrasikan ke dalam database

rake db:migrate

Arahkan route ke todos#index, agar ketika dijalankan langsung ke alamat tersebut:

root :to => ‘todos#index’

Tambahkan pada Gemfile:

gem ‘devise’

Save file tersebut, lakukan bundle install seperti biasa ketika selesai melakukan editing Gemfile

bundle install

Install devise yang baru ditambahkan pada Gemfile

rails generate devise:install

Setelah terinstall anda bebas membuat devise terhadap model Anda. Misalnya, user:

rails generate devise User

Perhatikan routes.rb dan user.rb jika Anda ingin menelusuri sistem devise bawaan Gem ‘devise’. Migrasikan:

rake db:migrate

Sedikit kelemahan dari devise adalah, kita tidak bisa sign out. Oleh karena itu, sisipkan kode di bawah ini pada body di \app\views\layout\application.html.erb. Note: sisipkan, jangan di replace semua !

<p class=”notice”><%= notice %></p>

<p class=”alert”><%= alert %></p>

<% if flash[:error] %>

<div id=”error”>

<%= flash[:error] %>

</div>

<% end %>

<div id=”container”>

<div id=”user_status”>

<% if user_signed_in? %>

Welcome <%= current_user.email %>! Not you?

<%= link_to “Sign out”, destroy_user_session_path, :method => :delete %>

<% else %>

<%= link_to “Sign up”, new_user_registration_path %> or

<%= link_to “Sign in”, new_user_session_path %>.

<% end %>

</div>

Terakhir, tambahkan pada app\controllers\todos_controller.erb di bagian atas:

before_filter :authenticate_user!

Jalankan server dan anda akan diminta password untuk masuk ke page daftar kerjaan (todo):

rails s

Membuat Relasi Tiga Objek di Ruby on Rails

Postingan yang lalu kita telah berhasil membuat relasi sederhana antara dua tabel (one-to-many). Sekarang kita akan mencoba relasi antara tiga tabel. Buat project baru, misalnya parkir. Kita akan merelasikan tiga tabel yaitu user, mobil, dan todo. Todo adalah daftar pekerjaan yang dimiliki tiap user, begitu juga dengan mobil. Berikut diagram ERD-nya (dibuat dengan aplikasi www.draw.io)

rails new parkir

Buat model user dengan atribut nama dan alamat.

rails g scaffold user nama alamat

Kode di atas menghasilkan model user dengan atribut nama dan alamat, dan operasi diberikan oleh Scaffold (New, Show, Update, dan Delete). Bisa juga ditulis rails g scaffold user nama:string alamat:string. Tetapi secara default, RoR akan memberikan struktur data string.

rails g scaffold mobil user:belongs_to merek no_seri

Kode di atas akan menghasilkan model mobil dengan atribut merek dan no_seri dengan operasi langsung diberikan oleh scaffold. Migrasikan menjadi tabel:

rails g scaffold todo user:belongs_to name description

Kode di atas akan menghasilkan model mobil dengan atribut name dan description dengan operasi langsung diberikan oleh scaffold. Migrasikan menjadi tabel:

rake db:migrate

Buka file \models\user.rb. Tambahkan:

has_many :mobils

has_many :todos

Sedangkan pada file\models\mobil.rb, tambahkan:

belongs_to :user

Karena pada saat generate scaffold mobil kita sudah menambahkan user:belongs_to, maka tidak perlu menambah relasi di atas. Sekarang kita akan menghubungkan antara mobil dengan user, dimana pada tabel mobil memiliki foreign key user_id. User_id berada di tabel Users yang diberikan secara otomatis oleh RoR selain nama dan alamat.

Seperti biasa selalu migrasikan ke tabel dengan instruksi rake. Buka command prompt baru khusus untuk menjalankan server. Arahkan folder ke project.

rails server

Buka http://localhost:3000/users dan masukan satu data baru. Jalankan dan ketika menekan tombol show, kita akan menambahkan mobil milik user yang bersangkutan. Maka pada metode show, kita harus memanggil variabel mobil. Pada \controller\user_controller.rb tambahkan pada metode show (def show):

@mobil = Mobil.new(user_id: @user.id)

@todo = Todo.new(user_id: @user.id)

Artinya kita akan menambahkan mobil baru berdasarkan user_id dari pemilikinya yang saat ini sedang tampil. Jika tidak diisi, ketika akan menambahkan mobil pada users#show, akan muncul eror di form_for (cannot contain nil .. dst). Secara default, show pada daftar user tidak menyertakan data mobil, oleh karena itu sisipi kode pada \view\user\show.html.erb:

<% unless @user.mobils.empty? %>

<% end %><div id=”mobils”>

<% unless @user.mobils.empty? %>

<%= render @user.mobils %>

<% end %>

</div>

 

<h3>Add a Car:</h3>

 

<%= render partial: ‘mobils/form’ %>

Letakkan kode di atas sebelum link_to. Di sini render partial: bemaksud menyisipi form menambahkan mobil baru pada form menampilkan (show) user.

Buat satu file baru di \views\mobils\ dengan nama _mobil.html.erb. Isi dengan kode berikut:

<div class=”mobil” data-time=”<%= mobil.created_at.to_i %>”>

<strong><%= mobil.merek %></strong>

<em>on <%= mobil.created_at.strftime(‘%b %d, %Y at %I:%M %p’) %></em>

<%= simple_format mobil.no_seri %>

</div>

Buat satu file baru di \views\todos\ dengan nama _todo.html.erb. Isi dengan kode berikut:

<div class=”todo” data-time=”<%= todo.created_at.to_i %>”>

<strong><%= todo.name %></strong>

<em>on <%= todo.created_at.strftime(‘%b %d, %Y at %I:%M %p’) %></em>

<%= simple_format todo.description %>

</div>

File _mobil.html.erb merupakan file template untuk render @user.mobil. Jika tidak ada ini maka akan ada pesan “Missing Templat Users#show”. Jalankan Server, Anda harus menghasilkan aplikasi sederhana yang menambah user disertai dengan kendaraannya. Utak-atik views untuk menghasilkan tampilan yang bagus (lihat teknik membuat css dan sejenisnya untuk membuat user interface yang baik). Aplikasi ini sangat sederhana tetapi dapat berfungsi dengan baik.

Coba masukan satu user dengan satu mobil dan kerjaan. Pastikan berjalan dengan baik. Setelah itu klik show user yang bersangkutan untuk melihat daftar pekerjaan dan mobil yang dimilikinya.

Membuat Blog dengan Ruby on Rails + PDF Generation “PRAWN”

Introduction:

Lanjutan dari tulisan sebelumnya (membuat blog dengan rails), coba kita akan membuat tampilan pdf dari suatu postingan. Jika Anda belum membuat aplikasi blog, ada baiknya membuat terlebih dahulu dengan cara seperti tutorial sebelumnya (membuat blog). Perhatikan gambar berikut, tampak kop dan logo yang akan muncul setiap suatu postingan akan ditampilkan dalam format Printable Document File (pdf).

Sebaiknya Anda install terlebih dahulu Gem untuk Prawn.

gem install prawn

Insert pada Gemfile :

gem "prawn", "~> 0.12.0"

gem “prawnto”, “~> 0.1.1”

Jangan lupa menginstal gem:

bundle install

Tambahkan pada app\controllers\ articles_controller.erb kode berikut ini:

prawnto :prawn => { :top_margin => 75, :left_margin =>55, :right_margin =>100}

Buat satu file baru pada app\views\articles\ show.pdf.prawn. Insert file prawn itu dengan kode berikut ini (Letakkan file gambar di app\assets\images\logo.jpg):

pdf.image “#{Rails.root}/app/assets/images/logo.jpg”, :scale => 0.2, :position => 180

pdf.text “\n”    

pdf.text ” AT 70.12: Web Application Engineering” ,:style => :bold

pdf.text ” Asian Institute of Technology”

pdf.text ” Handout: #{@article.name}”

pdf.text ” ____________________________________________________________________”

pdf.text ” \n”

pdf.text ” #{@article.name}”, :size =>18, :style => :bold, :align => :center

pdf.text ”

#{@article.content},”,:columns => 2, :width => pdf.bounds.width,:style => :italic, :align => :justify

Actually you can type on http://localhost:3000/products.pdf to show show.pdf.prawn for each posting, you can add a link at show.html.erb with:

<%= link_to ‘Printable Version’, article_path(@article, :format => ‘pdf’) %>

  1. Run the server:

rails server

Open http://localhost:3000/products. You must see pdf document on your browser when clicking the “printable version” links.

Yukk .. Membuat Aplikasi Blog dengan Ruby on Rails

Introduction:

Aplikasi blog maksudnya kita akan membuat sistem yang menyediakan sarana bagi user untuk membuat suatu tulisan (content) dan user itu maupun yang lain dapat memberikan komentar (comment) terhadap tulisan tertentu. Jadi prinsipnya kita akan menyediakan dua model yaitu model content dan model comment. Model di sini merupakan objek yang akan diterjemahkan ke database yaitu tabel contents dan tabel comments. Sedikit ribet memang di rails, terutama konvensi ketika model single (content) ditranslasikan ke tabel menjadi plural/jamak (contents). Kita menggunakan relasi one-to-many dimana satu content memiliki lebih dari satu comment, sementara itu comment harus dimiliki (has_belongs) oleh suatu content.

Tutorial:

Arahkan ke direktori dimana aplikasi rails kita akan kita letakkan. Buat program baru, misalnya kita beri nama blog.

rails new blog

Artinya kita akan membuat suatu project dengan nama blog. Jika Anda menggunakan database postgresql tambahkan –d postgressql di sebelah kanan blog. Pindahkan folder pada command prompt Anda ke folder blog yang baru saja terbentuk (cd blog). Buat model content dengan atribut name dan content.

rails g scaffold article name content:text

Kode di atas menghasilkan model article dengan atribut name dan content, dan operasi diberikan oleh Scaffold (New, Show, Update, dan Delete). Bisa juga ditulis rails g scaffold article name:string content:text. Tetapi secara default, RoR akan memberikan struktur data string.

rails g scaffold comment article:belongs_to name content

Kode di atas akan menghasilkan model comment dengan atribut name dan content dengan operasi langsung diberikan oleh scaffold. Migrasikan menjadi tabel:

rake db:migrate

Buka file \models\article.rb. Tambahkan:

has_many :comments

Sedangkan pada file\models\comment.rb, tambahkan:

Belongs_to :content

Karena pada saat generate scaffold comment kita sudah menambahkan content:belongs_to, maka tidak perlu menambah relasi di atas. Migrasikan model anda ke database.

rails server

Buka http://localhost:3000/articles dan masukan satu data baru. Jalankan dan ketika menekan tombol show, kita akan menambahkan comment milik content yang bersangkutan. Maka pada metode show, kita harus memanggil variabel comment. Pada \controller\contents_controller.rb tambahkan pada metode show (def show):

@comment = Comment.new(article_id: @article.id)

Artinya kita akan menambahkan comment baru berdasarkan content_id dari pemilikinya yang saat ini sedang tampil. Jika tidak diisi, ketika akan menambahkan comment pada contents#show, akan muncul eror di form_for (cannot contain nil .. dst). Secara default, show pada daftar content tidak menyertakan data comment, oleh karena itu SISIPI (pada line 12) kode pada \view\articles\show.html.erb:

<% unless @article.comments.empty? %>

<h3><%= pluralize(@article.comments.size, ‘Comment’) %></h3>

<% end %>

 

<div id=”comments”>

<% unless @article.comments.empty? %>

<%= render @article.comments %>

<% end %>

</div>

 

<h3>Add a comment:</h3>

 

<%= render partial: ‘comments/form’ %>

Letakkan kode di atas sebelum link_to. Di sini render partial: bemaksud menyisipi form menambahkan comment baru pada form menampilkan (show) content.

Buat satu file baru di \views\comments\ dengan nama _comment.html.erb. Isi dengan kode berikut:

<div class=”comment” data-time=”<%= comment.created_at.to_i %>”>

<strong><%= comment.name %></strong>

<em>on <%= comment.created_at.strftime(‘%b %d, %Y at %I:%M %p’) %></em>

<%= simple_format comment.content %>

</div>

File _comment.html.erb merupakan file template untuk render @content.comment. Jika tidak ada ini maka akan ada pesan “Missing Templat Contents#show“. Anda harus menghasilkan aplikasi sederhana yang menambah content articles dengan komentarnya. Untuk membuat tampilan yang indah, Anda harus sedikit mengatur layout html dan css aplikas yang baru saja Anda buat.

Membuat GUI di Matlab dengan tombol Load *.MAT

File mat merupakan file hasil olah Matlab sebelumnya (image processing, jaringan syaraf tiruan, dan lain-lain). Biasanya hasil oleh ini disimpan dalam file dengan instruksi save <nama_file> dan diberikan ekstensi oleh matlan mat.

Pertama-tama persiapkan satu folder untuk program yang akan kita buat. File mat harus diletakkan pada folder kerja tersebut (pada matlab diberi istilah current directory). Buat suatu GUI baru dengan nama misalnya ambil_file.

guide

Anda akan melihat pilihan mau buat GUI kosong, GUI yg pernah dibuat, atau sudah bertemplate. Pilih saja yang Blank GUI (Default). Drug toolbox command button berlambang “OK” ke arah lembar kerja GUI. Secara default akan diberi nama Push Button.

Untuk mengedit Push Button, klik ganda tombol itu hingga memunculkan properties. Ganti Push Button dengan isian pada String: Ambil File. Dan nama variabel (pada Matlab diberi nama Tag) isi dengan nama ambil. Tag ini akan menampilkan fungsi ambil di file m matlab.

Simpan GUI anda dan beri nama, misalnya ambil. Matlab akan menciptakan dua file yaitu ambil.fig dan ambil.m fungsinya berturut-turut sebagai GUI dan sebagai script. Secara ajaib, Matlab akan memberikan kode yang siap kita isi di sana. Dengan cara yang sama, buat seperti di bawah ini:

Edit text di sebelah kanan biarkan saja, tidak perlu di utak-atik supaya cepat, dan nama Tag (variabel)-nya edit1. Maksudnya adalah menampilkan nama file yang diambil. Masukan listing seperti berikut ini:

  • [x,y] = uigetfile(‘*.mat’, ‘Mengambil Data’);
  • set(handles.edit1,‘String’,x);
  • y=load(x)
  • net=y.network1

Uigetfile akan mengambil jendela get file dengan ekstensi yang akan ditampilkan *.mat. Pada jendela akan muncul nama jendela ‘Mengambil Data‘. Saya mengambil data saya bernama jst.mat, hasil training JST yang lalu. Instruksi y=load(x) akan mengambil variabel x ke workspace dan net=y.network1 mengambil variabel di y yang isinya hanya jst saya (network1). Jika Anda lihat di command window akan muncul y dan net saya, tentu saja jika Anda tidak memiliki file jst.mat milik saya tidak akan muncul networknya (coba buat sendiri). Silahkan cek apakah file tersebut muncul di sebelah kanan tombol Ambil File (Edit Text).

Sekarang kita coba menyimpan data yang kita barusan ambil (atau mungkin data hasil oleh GUI jika ada). Misal kita akan merename. Isi pada fungsi simpan (awas jangan salah kamar) di m-file pada simpan_Callback.

  • y=load(‘jst.mat’)
  • [nm_file] = uiputfile(‘*.mat’,‘Menyimpan File’);
  • data_file = [nm_file];
  • save(data_file);

Jalankan, Anda akan menampilkan jendela simpan. Bisa Anda tambahkan message jika file telah tersimpan. Di sini kita coba menyimpan y hasil dari loading suatu file (‘jst.mat‘). Dan akan menyimpannya menjadi file lain, misalnya jst2.mat.

Contoh di atas hanya mencoba GUI saja, karena tidak ada yang diolah di sini. Anda bisa menyisipkan fungsi-fungsi ini pada sistem yang anda rancang. Dari pengolahan gambar hingga fungsi-fungsi berat seperti Algoritma Genetik yang saya buat untuk mencari lokasi SPBU yang optimal di Bekasi.

Sublime Text 2 untuk Editing Rails

Go directily to http://www.sublimetext.com/2. Choose your operating system where this app will be installed.

After downloading, you shoud run setup :

Follow the installation instruction:

Click Next until Finish. You should find this look. There is no time limit to evaluate this application, so buy it if you feel good for you.

Membuat Relasi Antar Kelas Sederhana dengan Ruby on Rails

 

Kita akan membuat dua kelas yaitu user dan mobil yang menghubungkan data user dengan mobil yang dimilikinya. Untuk yang baru pertama kali, sebaiknya lihat postingan sebelumnya, di mana menulis kode rails, cara instalasi, membuat program sederhana, dan lain-lain. Mudah-mudahan Anda juga berhasil membentuk apliksi sederhana seperti di bawah ini.

Ok, tiap user memiliki bisa lebih dari satu mobil, dan tiap mobil memiliki data pemiliknya.

rails new parkir

Artinya kita akan membuat suatu project dengan nama parkir. Jika Anda menggunakan database postgresql tambahkan –d postgressql di sebelah kanan parkir. Pindahkan folder pada command prompt Anda ke folder parkir yang baru saja terbentuk.

cd parkir

Buat model user dengan atribut nama dan alamat.

rails g scaffold user nama alamat

Kode di atas menghasilkan model user dengan atribut nama dan alamat, dan operasi diberikan oleh Scaffold (New, Show, Update, dan Delete). Bisa juga ditulis rails g scaffold user nama:string alamat:string. Tetapi secara default, RoR akan memberikan struktur data string.

rails g scaffold mobil user:belongs_to merek no_seri

Kode di atas akan menghasilkan model mobil dengan atribut merek dan no_seri dengan operasi langsung diberikan oleh scaffold. Migrasikan menjadi tabel:

rake db:migrate

Buka file \models\user.rb. Tambahkan:

has_many :mobils

Sedangkan pada file\models\mobil.rb, tambahkan:

belongs_to :user

Karena pada saat generate scaffold mobil kita sudah menambahkan user:belongs_to, maka tidak perlu menambah relasi di atas. Sekarang kita akan menghubungkan antara mobil dengan user, dimana pada tabel mobil memiliki foreign key user_id. User_id berada di tabel Users yang diberikan secara otomatis oleh RoR selain nama dan alamat.


Seperti biasa selalu migrasikan ke tabel dengan instruksi rake. Buka command prompt baru khusus untuk menjalankan server. Arahkan folder ke project.

rails server

Buka http://localhost:3000/users dan masukan satu data baru. Jalankan dan ketika menekan tombol show, kita akan menambahkan mobil milik user yang bersangkutan. Maka pada metode show, kita harus memanggil variabel mobil. Pada \controller\user_controller.rb tambahkan pada metode show (def show):

@mobil = Mobil.new(user_id: @user.id)

Artinya kita akan menambahkan mobil baru berdasarkan user_id dari pemilikinya yang saat ini sedang tampil. Jika tidak diisi, ketika akan menambahkan mobil pada users#show, akan muncul eror di form_for (cannot contain nil .. dst). Secara default, show pada daftar user tidak menyertakan data mobil, oleh karena itu sisipi kode pada \view\user\show.html.erb:

<% unless @user.mobils.empty? %>

<h3><%= pluralize(@user.mobils.size, Mobil) %></h3>

<% end %><div id=”mobils”>

<% unless @user.mobils.empty? %>

<%= render @user.mobils %>

<% end %>

</div>

 

<h3>Add a Car:</h3>

 

<%= render partial: ‘mobils/form’ %>

Letakkan kode di atas sebelum link_to. Di sini render partial: bemaksud menyisipi form menambahkan mobil baru pada form menampilkan (show) user.

Buat satu file baru di \views\mobils\ dengan nama _mobil.html.erb. Isi dengan kode berikut:

<div class=”mobil” data-time=”<%= mobil.created_at.to_i %>”>

<strong><%= mobil.merek %></strong>

<em>on <%= mobil.created_at.strftime(‘%b %d, %Y at %I:%M %p’) %></em>

<%= simple_format mobil.no_seri %>

</div>

File _mobil.html.erb merupakan file template untuk render @user.mobil. Jika tidak ada ini maka akan ada pesan “Missing Templat Users#show”. Jalankan Server, Anda harus menghasilkan aplikasi sederhana yang menambah user disertai dengan kendaraannya.

Coba masukan satu user dengan satu mobil. Pastikan berjalan dengan baik.

Setelah ditambahkan Mobil, ketika suatu user dilihat, akan tampak daftar mobil yang dimilikinya (has_many :mobils). Yang sedikit janggal adalah konsep jamak dan singuler pada RoR, yakni jamak mobil menjadi mobils.

Kuliah Lagi ..

Ketika SMA saya merupakan siswa yang lumayan, maksudnya lumayan bagus nilai mata pelajarannya. Bukan karena cerdas, tetapi karena serius dan belajar dengan tekun. Beda dengan teman-teman saya yang lain yang memang cerdas bawaan lahir, dengan belajar sedikit, langsung memahami. Sementara saya harus begadang semalaman untuk memahami suatu materi, apa boleh buat. Tidak apa, toh itu membuahkan hasil, hingga saya lulus UMPTN dan masuk di jurusan Teknik Mesin, jurusan yang sulit menurut saya. Buktinya saya butuh waktu enam tahun untuk memperoleh gelar sarjana teknik.

(Tak disangka yang saya salami itu, alumni AIT juga)

Ternyata wisuda merupakan kebahagiaan sesaat karena hampir setahun saya menganggur, ditolak ketika melamar di sana sini, maklum tidak jauh tahunnya dari krisis moneter waktu itu. Akhirnya karena kepepet, saya ditawari mengajar oleh sepupu saya di salah satu kampus di Jakarta. Jurusan yang saya ajar pun jauh dari jurusan saya ketika kuliah, yaitu jurusan Teknik Komputer. Terus terang, saya di sana bukan ngajar, tapi belajar, apa boleh buat. Dengan berbekal dengkul, saya bekerja dengan menaiki beberapa angkutan umum.

Karena tuntutan profesi, saya mencoba untuk kuliah S2 di UI, mengambil jurusan Teknik Mesin, seperti jurusan S1 saya, dan Alhamdulillah diterima. Tetapi ketika melihat uang kuliah sebesar 11 juta rupiah di awal, saya langsung berfikir, keluarga yang baru saja saya jalani, mau tidak mau harus berfikir ulang untuk mengeluarkan uang sebesar itu. Akhirnya saya lepas kuliah di UI dan uang tersebut kami gunakan untuk mengkredit rumah BTN. Sedih juga, tapi apa boleh buat, hidup itu pilihan.

Tetapi di saat bersamaan, di tempat saya mengajar dibuka kelas S2, dan saya walaupun tidak gratis mendapat potongan yang lumayan besar jika kuliah di sana. Akhirnya saya ambil kuliah tersebut dengan jurusan ilmu komputer (M.Kom). Dengan mudah saya jalani kuliah tersebut dan lulus tepat waktu (1,5 tahun). Ternyata dari studi tersebut saya memperoleh banyak manfaat, mulai dari banyaknya jam mengajar hingga saya memperolah sertifikasi dosen, dimana mensyaratkan strata 2 jika ingin mendapatinya. Dan satu hal yang terpenting adalah dengan gelar S2 itu saya diterima di kampus Asian Institute of Technology (AIT) thailand (www.ait.ac.th) pada jurusan Computer Science program Ph.D, tentu dengan beasiswa (BPPLN Dikti), karena tidak mungkin saya dan kampus saya membiayai uang kuliah yang hinggu lulus sekitar setengah milyar. Ternyata AIT merupakan kampus andalah beasiswa sejak lama, walaupun sempat terkena banjir, tetapi perlahan-lahan mulai bangkit dan peminatnya mulai bertambah.

Kampus tersebut dari sisi ranking memang tidak begitu menonjol, tetapi alumninya banyak tersebar di seluruh dunia, karena kampus itu masuk kategori kampus internasional, hampir semua mahasiswanya adalah penerima beasiswa (maklum uang kuliahnya hampir dua kali kampus terkenal seperti Mahidol dan lain-lain). Salah satu alumni dari Indonesia yaitu Prof. Joko Santoso, yang pernah menjadi rektor ITB dan UI, dan saat tulisan ini dibuat merupakan dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI). Dan beliau menjadi alumni kehormatan AIT, beserta putri raja Thailand dan beberapa alumni dari berbagai negara yang lain.

(Prof. Joko Santoso. Sumber: Wikipedia)

Selain itu, yang mengejutkan saya, mantan rektor UGM, yaitu Prof. Sudjarwadi, yang ketika saya wisuda bersalaman dengannya juga S2 di tempat saya saat ini mengambil S3.  Begitu pula, salah satu rekan kerja saya yang sekarang sudah dipanggil Allah sebulan yang lalu, Bpk Soedarmin, ternyata sempat beberapa bulan kursus di sana, dan banyak menceritakan kehidupan di sana. Sayang ketika beliau dipanggil saya tidak sempat ke rumahnya karena sudah berangkat ke Thailand, semoga damai di alam sana.

(Bersama Alm Soedarmin, ketika mengecek alat uji tekan beton di lab Sipil)

Sungguh hidup itu berputar-putar saja, tidak jauh dari yang pernah menghampiri kita walau sesaat. Tinggalah saya, alumni mesin yang sedang mengemban tugas berat menaklukan degree tertinggi Computer Science, semoga berhasil. Amiin.

Lika-liku Mencari Beasiswa

Tidak dapat dipungkiri, biaya pendidikan saat ini tidak bisa dibilang murah lagi. Ketika tahun 1995 dulu saya kuliah di UGM, SPP bersih masih Rp. 250 ribu saja, tak perduli fakultas teknik atau kedokteran. Tetapi saat ini dengan adanya jalur mandiri, biaya masuk untuk fakultas kedokteran gigi saja sudah hampir mencapai 200-an juta rupiah, sungguh biaya yang fantastis. Bagaimana dengan sekolah menengah? Ternyata tidak jauh berbeda. Masuk sekolah negeri malah lebih mahal dari pada sekolah swasta, tentu saja negeri yang memiliki standar internasional yang sering dikenal dengan istilah RSBI. Untung saja pengadaan program tersebut dianggap salah oleh Mahkamah konstitusi sehingga harus dihapus. Bagaimana dengan calon siswa atau mahasiswa yang pintar tetapi kurang mampu? Tentu saja salah satu andalannya adalah beasiswa. Bagaimana dengan kampus negeri yang tidak melewati jalur khusus dan ikut saringan masuk seperti sipenmaru, UMPTN, SNMPTN, atau apalah namanya yang berubah terus itu? Ternyata informasi yang saya baca dari surat kabar, ada keluhan dari beberapa calon mahasiswa yang tidak sanggup membayar uang masuk yang standar tetapi sebesar 5 jutaan. Akhirnya calon mahasiswa tersebut mengundurkan diri. Sungguh sangat disayangkan.

Sebenarnya pemerintah menyediakan beasiswa kepada para mahasiswa yang disalurkan melalui kampus masing-masing. Misalnya kampus tempat saya mengajar menyediakan beasiswa yang membebaskan biaya SPP selama setahun kepada mahasiswa yang layak menerima beasiswa. Ada dua jenis biasanya yaitu bagi yang tidak mampu dan bagi yang memiliki keunggulan dari sisi akademis. Bagaimana dengan mahasiswa yang tidak sanggup dari awal? Jangan khawatir, ada jenis beasiswa lain yaitu beasiswa Fullbright yang akan membebaskan mahasiswa dari membayar kuliah sejak awal. Beasiswa jenis ini ditujukan kepada lulusan SMA yang diundang oleh kampus kami untuk diwawancara. Untuk jurusan komputer sangat disayangkan dua calon penerima beasiswa fullbright mengundurkan diri karena diterima di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan memilih untuk masuk UNJ walaupun tidak beasiswa.

Bagaimana dengan dosen dan karyawan? Jangan khawatir, ada jenis beasiswa lainnya yang siap menanti. Untuk karyawan ada beasiswa sebagai tenaga kependidikan. Sayang, beasiswa jenis ini ditujukan untuk karyawan di kampus negeri. Terpaksa beberapa karyawan di kampus kami (non dosen) kuliah dengan biaya mandiri. Dan bagi dosen, tentu saja harapan satu-satunya adalah beasiswa mengingat saat ini mengambil S2 dan S3 tidak murah lagi. Jangankan uang pribadi, kampus saja sangat keberatan untuk membiayai dosennya kuliah lagi. Apalagi saat ini tuntutan studi lanjut tidak dapat dihindarai, yakni dosen harus S2 dan jika ingin naik pangkat menjadi lektor kepala harus memiliki jenjang pendidikan S3.

Beasiswa Program Pascasarjana Dalam Negeri

Beasiswa ini adalah beasiswa andalan para dosen karena kampus yang dituju adalah kampus dalam negeri sehingga tidak mengganggu aktivitas mengarjar (asal kampus tujuan tidak terlalu jauh) dan keluarga. Beasiswa ini mudah didapat asalkan kita diterima di kampus tujuan dan syarat-syarat administrasi lain memenuhi, dengan syarat utama adalah Nomor Induk Dosen (NIDN).

Karena banyak yang menginginkan beasiswa dalam negeri maka kapasitasnya menjadi sangat terbatas. Apalagi ketika syarat S2 dan S3 terhadap dosen diterapkan oleh DIKTI. Untuk S2 sedikit lebih mudah karena memang kapasitasnya bisa ditingkatkan di kampus tujuan beasiswa. Tetapi untuk program S3 sangat sulit mengingat keterbatasan profesor pembimbing. Untuk ilmu komputer UI saja, antrian sudah panjang dimana tiap profesor sudah membawa calon kandidat doktor masing-masing. Jangan harap calon mahasiswa yang datang tiba-tiba bisa diterima menjadi calon mahasiswa S3. Dan salah satu yang terberat adalah ketika wawancara terkadang kita diminta menunjukan publikasi karya ilmiah kita di jurnal internasional.

Beasiswa Program Pascasarjana Luar Negeri

Untuk yang malas menembus kampus dalam negeri yang persaingannya ketat, ada baiknya mencoba mendaftar di luar negeri. Biasanya jika mendengar luar negeri para dosen langsung lemas mengingat syarat yang ketat, terutama kemampuan bahasa. Belum lagi masalah lainnya yaitu harus meninggalkan keluarga bagi yang sudah memiliki anak dan istri.

Untuk dosen sebenarnya dari ketika sebelum menjadi dosen harus sudah mempersiapkan sendiri kemampuan berbahasanya, terutama bahasa Inggris. Banyak kursus-kursus yang bertebaran yang membantu kita dari speaking, listening, reading, hingga writing. Sebaiknya memang kampus memberikan bantuan kursus, pelatihan, dan sejenisnya kepada dosennya agar siap untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Oiya, selama tulisan ini dibuat, syarat Toefl yang berlaku adalah minimal 500 dan toefl ITP, bukan prediksi (yang harganya sekitar 200/300 ribu rupiah). Untuk kampus negeri sepertinya studi lanjut ke luar negeri menjadi satu keharusan, karena kualitas kampus di luar negeri berbeda dengan kampus dalam negeri terutama dari sisi publikasi karya ilmiah. Walaupun UI, UGM, ITB, dan kampus lapis atas memiliki rangking di atas beberapa kampus luar negeri. Tetapi tentu saja agak janggal jika dosen UI kuliah di UGM atau ITB. Berbeda jika dosen UI studi lanjut di MIT misalnya.

Bagaimana jika kemampuan berbahasa sudah terpenuhi? Langkah selanjutnya adalah mendaftar ke kampus luar negeri. Di sinilah seninya, karena tiap kampus berbeda baik dari sisi waktu pendaftaran maupun sistemnya. Tetapi kebanyakan kampus luar negeri, khususnya yang studi S3, harus mencari profesor yang siap menjadi supervisor / advisor kita. Terkadang mereka memberikan suatu tugas/pertanyaan yang harus kita jawab dan terkadang walaupun supervisor sudah ok, kita diharuskan berangkat ke sana untuk tes masuk. Untungnya beberapa kampus tidak mengharuskan kita ikut test ke kampus tujuan (ke luar negeri), tetapi hanya menyerahkan sertifikan GMAT/GRE yang mirip dengan Test Potensi Akademik (TPA). Bahkan beberapa kampus membebaskan test masuk jika memang kita sudah memiliki banyak tulisan di jurnal-jurnal bertaraf internasional, syukur-syukur terindeks di scopus, ieee, thomson, dan index internasional lainnya.

Jika kita sudah diterima dan dibuktikan dengan surat tanda terima (letter of acceptance) yang tanpa syarat, maka kita siap mendaftar beasiswa baik ke DIKTI maupun beasiswa lainnya, misalnya LPDP dari kementrian keuangan. LOA yang tanpa syarat, sering diistilahkan dengan, LOA unconditional, menjadi syarat mutlak, karena pemerintah akan memberikan bantuan beasiswa ke calon mahasiswa yang sudah pasti akan berangkat jika didanai. Jika masih ada satu syarat tertentu (di luar syarat keuangan) maka dikhawatirkan ketika pemerintah menyetujui pencairan beasiswa, calon mahasiswa itu ditolak kampus tujuan karena tidak memenuhi kondisi yang diminta oleh pemberi LOA. Mengapa demikian? Karena saya sendiri mengalami hal seperti ini, yaitu harus meminta lagi kampus tujuan LOA yang tanpa syarat. Biasanya akan diberikan ketika kita memunuhi syarat yang diminta.

Untuk beasiswa DIKTI, syarat terberat sebenarnya adalah wawancara. Karena ini merupakan penentu apakah kita disetujui atau tidak untuk diberi beasiswa. Karen sifatnya wawancara, maka aspek subjektif menjadi sangat menentukan. Saya termasuk korbannya. Sebagai dosen fakultas teknik, saya termasuk tipe yang sulit dalam berbicara. Dalam bahasa Indonesia saja masih sulit, apalagi bahasa Inggris. Walaupun IELTS saya 6.0 tetapi pada wawancara pertama, bahasa Inggris saya dianggap kurang. Akhirnya saya ikut wawancara ulang. Dan anehnya, ketika diwawancara oleh pewawancara yang lain, saya dinyatakan tidak ada masalah dengan bahasa Inggris saya. So, berdoalah semoga mendapat pewawancara yang baik. Dari sekitar 6 pewawancara ada beberapa yang kerap tidak meluluskan calaon penerima beasiswa. Saya masih ingat wajah-wajahnya, terkadang geram juga sih. Tetapi mereka sebenarnya menerima beban yang cukup berat dari negara. Untuk yang dosen swasta, bersiap-siaplah Anda bertarung dengan dosen-dosen negeri yang merupakan dosen pilihan. Tentu saja tidak perlu rendah diri bagi dosen-dosen swasta, santai saja.

Wawancara

Beberapa pertanyaan yang muncul dalam sesi wawancara kebanyakan tidak jauh berbeda antara satu calon dengan calon lainnya. Apalagi untuk pewawancara yang sama. Tetapi jika pewawancara yang berbeda tentu saja beda pertanyaannya. Ciri khas ketika wawancara adalah, ketika dua orang pewawancara mewawancarai kita, salah satunya adalah yang aktif dan seperinya penentu kelulusan. Tentu saja tidak bisa saya sebutkan di sini. Ada cerita lucu juga ketika calon dari makasar mendapat giliran dan ketika tahu bahwa sekarang giliran dia, dia enggan masuk (karena tahu yg mewawancara “killer”), sampai petugas administrasi memaksa dia masuk. Jika dia menolak berbahaya juga, karena saya berikutnya. Akhirnya saya dipanggil untuk wawancara di meja sebelahnya yang lebih lunak dan kabarnya banyak meluluskan. Ciri khas pewawancara yg masuk kategori “baik” adalah ketika menolak, walaupun tidak diumumkan saat itu, dia memberikan alasan yang kuat atas penolakannya. Alasannya pun logis dan kebanyakan diterima oleh calon yang diwawancarai, dimana setelah wawancara si calon akan berusaha memenuhi persyaratan yang kurang tersebut.

Berikut ini tips yang mungkin bisa jadi pegangan.

Pewawancara adalah manusia biasa, jadi jangan buat dia kesal, sebal, dan terlalu banyak mencari alasan. Ketika datang hormatilah dia sebagai orang yang diberi tanggung jawab oleh negara memilih calon penerima beasiswa yang jika ditotal untuk S3 berkisar antara setengah hingga dua millyar hingga lulus. Oiya, wawancara dengan bahasa Inggris, lebih sulit dari test Speaking IELTS karena di sini selain bahasa Inggris yang baik, harus juga sesuai dengan isinya. Sementara IELTS walaupun kita menjawab dengan bohong/ngarang, jika tata bahasa benar, tetap dianggap benar (hanya menguji bahasa bukan konten).

Khusus yang akan ambil S3, pasti akan ditanyakan tema/judul proposal disertasi dengan bukti email antara kita dengan supervisor. Bukan hanya sekedar supervisor kita setuju untuk membimbing kita melainkan juga komunikasi mengenai judul tersebut. Saya diserang di wilayah ini karena ketika calon supervisor setuju menurut saya sudah beres, tetapi ternyata harus berlanjut komunikasi tersebut mengenai tema proposal kita.

Untuk yang memiliki LOA masih condisional, saran saya adalah berdoa. Karena kalau kita lihat pengumuman hasil wawancara kebanyakan gagal yaitu LOA yang masih kondisional. Seharusnya kita memenuhi kondisi pada LOA, minimal tinggal masalah keuangan, karena DIKTI melihat jika syarat LOA masalah keuangan, DIKTI menganggap semua yg melamar beasiswa pasti minta ditanggung biaya kuliahnya (ditambah biaya hidup pula).

 Mungkin segini saja bagi-bagi ceritanya, jika masih belum jelas bisa email ke saya atau tulis komentar di bawah. Oiya, andalan beasiswa dikti saat ini yang saya tahu adalah DIKTI (untuk yg belum punya NIDN mendaftar di beasiswa unggulan, sedang yang sudah ada NIDN masuk ke BPPLN). Sementara LPDP (saya lupa situsnya, searching aja di GOOGLE) memiliki syarat usia yg ketat, yaitu 35 tahun, beda dengan BPPLN Dikti yang 45 tahun. Selamat mencoba, tidak ada salahnya, tidak ada suap menyuap untuk pendaftaran beasiswa.

Lapor diri di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok

Setelah tertunda hampir beberapa minggu akhirnya saya berangkat juga ke KBRI untuk melakukan proses lapor diri. Lapor diri bermaksud memberitahukan ke perwakilan RI di luar negeri bahwa saya akan tinggal untuk jangka waktu tertentu di negara tersebut. Sangat bermanfaat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti di mesir dan syiria misalnya, kita dapat perlindungan dari KBRI. Untuk Thailand misalnya seperti banjir besar yang terjadi dua tahun yang lalu. Sebagian besar siswa Indonesia menumpang di KBRI Bangkok. Selain itu, lapor diri juga merupakan salah satu syarat untuk perpanjangan visa pelajar dari 90 hari menjadi satu tahun.

Kami berangkat bersama dengan rekan saya ditambah penunjuk jalan (mahasiswa senior) dengan MRT. Setelah memarkir sepeda di pintu keluar Asian Institute of Technology (AIT) kami langsung menstop van yang mengantarkan kami ke statiun Mon Chit. Biayanya cukup murah, 30 Baht. Anehnya lagi, tidak ada kondektur yang menagih, melainkan hanya berupa nampar yang diedarkan secara estafet dari kursi depan dan mengisi nampan itu dengan sejumlah uang. Jika hal itu diterapkan di Indonesia, bisa jadi di tengah jalan uang itu hilang, tapi di sini kejujuran warga Thailand patut diacungi jempol. Tidak begitu lama tibalah di MRT yang dijadikan studi banding oleh Gubernur Jokowi untuk diterapkan di Jakarta.

Tujuan pertama adalah Ratchadewi, yang terletak di Bangkok. Sedikit ada kebingungan mengenai prosedur pembelian tiket MRT karena swalayan dengan memasukan sejumlah coin. Untungnya ada loket yang menukarkan coin. Dua rekan saya sempat kebingungan karena dikira loket itu membeli tiket MRT langsung, padahal hanya menukarkan uang, walaupun terkadang ada yang diberikan tiket juga. Mungkin tergantung kondisi stok yang ada di loket itu. Biaya ke Bangkok adalah 37 Baht. Setelah naik, saya melihat suasana dalam MRT yang cukup bersih rapi, dan yang utama, sejuk. Tidak diperkenankan penumpang makan, apalagi merokok. Sepanjang perjalanan saya bisa melihat keindahan kota Bangkok dari atas MRT, dari bangunannya yang khas, hingga Victory Monumen di bundaran yang terletak di tengah Bangkok. Tidak lama kemudian, kami tiba di Stasiun Rathcadewi.

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya tiba juga di KBRI. Lumayan jauh letaknya dari stasiun Ratchadewi. Apalagi hari itu matahari terik. Sepanjang perjalanan banyak pedagang menjajakan perhiasan, dan buah-buahan. KBRI cukup luas, dibandingkan dengan kedutaan Thailand yang hanya diberikan sedikit oleh Indonesia. Kami langsung menuju loket lapor diri yang letaknya sama dengan pengurusan VISA dan konsulat. Setelah menelepon bagian penerimaan lapor diri, saya segera menghadap petugas tersebut dan menyerahkan pasport setelah mengisi biodata. Si petugas memberitahukan bahwa proses ini akan selesai jam dua siang, jadi kami diharap menunggu.

Sambil menunggu selesai diproses, kami sarapan di kantin KBRI yang letaknya berdekatan dengan sekolah TK, SD, SMP, dan SMA khusus warga negara Indonesia. Kantin letaknya di bagian belakang KBRI dan masuknya harus melalui pintu yang lain. Sedikit sulit masuk ke sana karena petugas yang berjaga adalah berkewarganegaraan Thailand yg tidak jelas berbicara Inggris. Untungnya ada petugas yang bisa berbahasa Indonesia yang meminta saya untuk menunggu penandatanganan SPPD hingga jam 12 siang. Kami tiba di kantin, dan langsung melihat orang-orang Indonesia di sana. Makanan khas Indonesia sepert nasi goreng, aneka sayur tersaji sudah. Sayangnya, harganya cukup mahal, lebih mahal dibanding makan di Cafetaria AIT. Setelah foto sebentar di depan KBRI kami keluar jalan-jalan sambil menunggu jam 2 siang.

Bangkok termasuk daerah yang padat dan jalanan dapat dikatakan macet di siang hari. Tapi berbeda dengan di Indonesia, di sana walaupun macet, tidak terdengar klakson yang memekakkan telinga. Mereka dengan sabar menikmati kemacetan itu. Walaupun penduduknya penganut budha yang taat, tetapi rekan senior saya menasehati tetap waspada terhadap kejahatan. Terkadang patung untuk sembahyang tersedia, dengan dupa, sesajen dan sejenisnya. Beberapa orang terlihat sembahyang sambil membaca doa yang bisa dibaca langsung di batu yang terletak di depan patung.

Kami mampir di beberapa Mall setelah menukar uang di penukaran uang dengan harga bersaing di penukaran uang bernama “Super Rich”. Super Rich merupakan andalah mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Thailand untuk menukar uang. Dibanding dengan bank SCB di AIT, di sini ketika saya menukar 200 dollar, saya bisa untung 60 baht dibanding di kampus saya. Akan tetapi, untuk menukar uang, kita diharuskan menunjukkan passport, padahal passport sedang diproses di kedutaan. Untungnya kami boleh menggunakan fotokopi passport.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 ketika tiba di satu Mall yang berdekatan dengan KBRI. Setelah membeli kalkulator sebagai perlengkapan ujian MID Term, kami bergegas ke KBRI. Alhamdulillah SPPD saya sudah ditandangani. SPPD ini harus dikirim ke DIKTI sebagai bukti bahwa saya telah menggunakan tiket pesawat yang dibelikan Dikti. Kami makan siang dengan masakan khas Indonesia, sayur lodeh, dan tempe. Tampak juga anak-anak Indonesia yang sekolah di sana dari TK – SMA makan juga di kantin itu.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya proses lapor diri selesai. Saya lihat di bagian endorsment Passport, sudah di cap oleh petugas KBRI. Akhirnya beres sudah tugas hari ini.

Kami pulang dengan membawa oleh-oleh Durian Montong yang ternyata tidak boleh dibawa ke dalam MRT. Setelah berfikir panjang, akhirnya bagian sekuriti membolehkan kami membawa durian montong itu asalkan dimasukan ke dalam tas. Karena tas saya terbesar, akhirnya masuk juga itu durian ke tas saya. Dan benar, walaupun tertutup rapat, aromanya tersebar ke mana-mana. Hmmmm .. inilah durian terenak yang pernah saya makan. Menurut teman saya, rasanya sama dengan durian asal Medan.

Kuliah Web Application

Untuk jurusan Computer Science (Ilmu Komputer), tiap mahasiswa diwajibkan mengambil mata kuliah web application yang diasuh oleh Dr. Matthew M. Dailey. Doktor asal Amerika Serikat ini ahli di bidang pengembangan web.

Sempat ikut kuliah perdana, saya terpaksa harus kembali ke Indonesia karena tiap penerima beasiswa diwajibkan mengikuti serangkaian acara hingga penandatanganan kontrak dengan DIKTI. Dimulai dengan pengurusan Visa di kedutaan Thailand, dilanjutkan dengan Lokakarya pra keberangkatan yang dihadiri oleh hampir seratus orang. Setelah hampir 3 minggu menunggu SP Setneg, akhirnya dokumen selesai, ditandai dengan penandatangan kontrak di DIKTI, gedung D lt 4.

Setelah kembali ke AIT, saya dihadapkan dengan beberapa kesulitan akibat absen perkuliahan selama hampir sebulan. Beberapa dosen memberi keringanan, dari komposisi yang Mid : Final = 40 : 60 menjadi 20 : 80 hingga adanya kelas tambahan.

Berbekal tanya sana sini, akhirnya sedikit demi sedikit saya mampu mengikuti alur kuliah Web yang sangat ditakuti oleh sebagian besar mahasiswa CS di AIT. Terpaksa saya harus ikuti handout lab hingga yang saat ini dipelajari (Ajax). Cukup sulit, terutama karena laptop saya yang harus VMWare karena kapasitas C yang minim, sementara Laptop dari AIT belum tiba.

Diawali dengan install ubuntu 13, saya mulai mengeksplore bahasa yang baru saya kenal yaitu “Ruby on Rails (RoR)”. Bahasa ini lumayan ampuh dari security, terbukti telah digunakan di Yellow Page dan Twitter, dibanding PHP yang diterapkan di Facebook dan banyak di hack orang.

Masih ada waktu dua minggu untuk persiapan Mid Term. Semoga bisa mengikuti dan menjawab soal-soal yang diujikan, Amiiin.

Perkenalan dengan Para Senior Mahasiswa Indonesia di AIT

Mahasiswa Indonesia di AIT cukup banyak sekitar empat puluhan. Kebanyakan mengambil pascasarjana master, dan hanya beberapa yang doktoral, termasuk salah satunya saya. Banyaknya mahasiswa Indonesia di AIT salah satunya adalah adanya kerjasama dual degree antara Institute Tekhnologi Sepuluh november (ITS) dengan kampus ini. Tiap tahun ITS mengirim lebih dari 10 orang mahasiswanya yang melanjutkan sisa kuliah S2-nya di AIT.

Sore itu tiba-tiba rekan samping kamar saya yang juga mahasiswa Indonesia, memberitahukan bahwa ada pertemuan mahasiswa baru Indonesia dengan salah satu pengurus PERMITHA (Persatuan mahasiswa Indonesia di Thailand). Tadinya saya tidak ingin datang karena baru saja selesai kuliah Prof Guha yang bablas hingga jam 7 malam. Tetapi karena ajakan dua rekan saya yang baru masuk juga, akhirnya saya ikut juga pertemuan yang diadakan di gedung School of Engineering and Resources Departement.

Agenda pada malam itu adalah selain perkenalan dengan tiga belas mahasiswa baru juga membahas acara “welcome show”. Selain itu, para senior juga bersedia memperkenalkan diri. Untuk acara welcome show, sepertinya Indonesia kekurangan wakilnya, ditambah lagi tidak ada acara tari tradisional, yang ada hanya tari kontemporer.

Semoga ke depan ajang silaturahmi antar mahasiswa Indonesia di AIT berjalan dengan baik.