Membuat Diagram dengan Mudah

Baik skripsi, tesis, maupun disertasi tidak lepas dari diagram. Biasanya diagram digunakan ketika menggambarkan flow atau alur dari penelitian, yang dikenal dengan istilah framework. Atau diagram standar lainnya yang menggambarkan prosedur, roadmap, dan sejenisnya. Karena keterbatasan waktu, biasanya siswa mengopi saja dari internet, padahal jika menggunakan gambar hasil karya orang lain perlu menginformasikan sumbernya. Maka, para siswa perlu dibekali kemampuan dengan cepat membuat sendiri diagramnya.

Banyak aplikasi baik online maupun di laptop yang menyediakan hal tersebut. Beberapa mungkin terlalu ‘canggih’ sehingga mahasiswa enggan mempelajarinya. Namun, jika mendengar kata ‘power point’, tentu saja sebagian besar mahasiswa pernah memakainya. Nah, tidak ada salahnya dari pada plagiasi gambar dari internet, lebih menggunakan aplikasi bawaan microsoft office saja untuk membuat diagram.

Jika tidak memiliki lisensi Microsoft Office, bisa menggunakan WPS Office yang isinya tidak jauh berbeda dengan Microsoft Office. Tentu saja jika menggunakan alat yang canggih seperti Microsoft Visio, hasilnya lebih baik. Atau bisa menggunakan aplikasi online web io atau Canva. Tentu saja yang online membutuhkan biaya pulsa, atau setidaknya waktu respon yang sedikit lambat karena online. Untuk adik-adik yang sedang skripsi, bisa menggunakan alternatif murah dengan power point. Silahkan lihat ilustrasi dari video berikut. Semoga sedikit membantu.

How To

Banyak informasi beredar kalau sumber daya manusia (SDM) kita masih lemah. Hal ini menyebabkan beberapa sektor diisi oleh pekerja-pekerja asing. Repotnya, sektor itu merupakan sektor dengan bayaran yang sangat tinggi karena menuntut keahlian tertentu. Seperti prinsip ekonomi, jika permintaan tinggi tetapi suplai kurang maka dipastikan harga akan naik.

Sebenarnya apa sih permintaan yang tinggi itu? Beberapa industri membutuhkan SDM yang tidak bisa diganti oleh mesin atau yang saat ini mulai menggantikan peran manusia adalah kecerdasan buatan, alias Artificial Intelligence (AI) atau sering diistilahkan dengan singkatan indonesia Akal Imitasi (AI).

Sebenarnya hampir semua pekerjaan berisi ‘how to’ atau bagaimana mengerjakan, menyelesaikan, meningkatkan, dan sejenisnya terhadap suatu aktivitas tertentu. Beberapa pekerjaan mungkin bisa diselesaikan oleh satu karyawan, tetapi karena perlu volume yang besar membutuhkan tambahan tenaga, sehingga menghasilan permintaan terhadap pekerjaan itu.

Industri membutuhkan SDM, tetapi kampus atau sekolah tidak mampu memberikan suplai ke industri itu. Beberapa industri terpaksa memberikan pelatihan ke karyawan tersebut. Beberapa merekrut pekerja magang dari sekolah/kampus karena dianggap sudah mampu menjawab ‘how to’ melakukan tugas tertentu. Adanya AI menimbulkan masalah tertentu karena dapat menggantikan peran pekerja manusia. Tapi ternyata AI dapat dimanfaatkan bagi pelajar atau mahasiswa dalam melatih diri sendiri menjawab ‘how to’. Misalnya bagaimana membuat aplikasi mobile seperti ditunjukan pada video berikut.

Konsep-konsep tertentu seperti Application Programming Interface (API) yang sebelumnya perlu membaca buku atau tutorial yang tebal-tebal dan terkadang perlu pelatih, sekarang dengan AI bisa membantu menjelaskan, misalnya ChatGPT. Nah, salah satu yang diperlukan oleh pelajar di masa depan adalah kemampuan belajar sepanjang hayat, salah satunya adalah meningkatkan kemampuan metakognisi di mana seseorang memiliki kemampuan mengetahui apa yang dibutuhkannya dengan mengetahui apa yang perlu dipelajari dengan efisien. Video berikut memperlihatkan bagaimana menghubungkan aplikasi mobile dengan API. Jika berhasil maka dapat mengembangkan ke metode yang lebih kompleks selain ‘read’, yakni ‘update’, ‘create’ dan ‘delete’ dalam format Restful API misalnya (post, get, put, dan lain-lain).

Tablet untuk Produktivitas?

Laptop bagi mahasiswa dan dosen merupakan alat penting, khususnya untuk jurusan informatika dan komputer. Bagaimana tidak, berbeda dengan jurusan lain yang membutuhkan praktik dengan alat yang harus ada di laboratorium, jurusan informatika dan komputer hanya membutuhkan lab dalam bentuk alat komputasi, misalnya PC maupun laptop. Tentu saja perlu lab tertentu yang khusus, misalnya untuk piranti elektronika dan basic science lainnya.

Dosen sendiri terkadang memerlukan akses yang ringan karena sifatnya yang mobile. Selain pindah ruangan, terkadang pindah ke kampus lain untuk mengajar. Jadi, membawa laptop yang berat sangat mengganggu, khususnya yang sudah kepala empat.

Pilihan lain adalah tablet yang ringan. Kalau dulu tablet tidak bisa terkoneksi dengan LCD proyektor, sekarang kebanyakan tablet sudah bisa tersambung lewat LCD proyektor, baik yang HDMI maupun yang kabel VGA jaman dulu, asalkan ada konverter/dongle. Tentu saja untuk dosen informatika, penggunaan beberapa perangkat masih diperlukan mengingat beberapa aplikasi berbasis Windows maupun Linux perlu diajarkan.

Biasanya dosen informatika memiliki 1 laptop berbasis windows dan perangkat lain yang untuk produktifitas biasa, seperti menulis, presentasi dan mengolah data sederhana dengan spreadsheet. Biasanya Mac jadi andalan untuk produktifitas biasa, walau saat ini terkadang bisa untuk mengajarkan materi pemrograman. Apalagi banyak sistem saat ini yang menggunakan browser/online, misalnya Google Colab. Bahkan untuk server pun, misalnya Play with Docker, dapat digunakan asalkan terkoneksi ke internet.

Saya memiliki satu tablet dari Huawei yang ternyata memiliki WPS office full yang mirip dengan MS Word, baik untuk tulisan, presentasi, dan spreadsheet. Salah satu problem utamanya adalah tidak ada plugin Mendeley, tapi ternyata dapat diatasi dengan mengkombinasikan penggunaan mendeley.com versi browser dengan WPS office. Silahkan lihat tutorial berikut, untuk penulisan ilmiah (jurnal, skripsi, dan sejenisnya).

Reformasi Pendidikan Tinggi di Indonesia: Tantangan dan Harapan

Berbicara masalah pendidikan di Indonesia ternyata rumit. Berbeda dengan negara-negara tetangga yang kecil, Indonesia selain luas, juga beragam. Kesenjangan kualitas SDM antara timur dan barat, serta kondisi sosial tertentu sangat mempengaruhi keberagamannya.

Nah, disini kita hanya bicara pendidikan tinggi. Memang, pendidikan dasar dan menengah tidak kalah penting, tetapi pendidikan tinggi sangat mempengaruhi masa depan. Kalau dasar dan menengah memang karena harus dan wajib ada. Syukurlah, sudah ada perbedaan antara kementerian pendidikan dengan pendidikan tinggi (kemendiktisaintek).

Kelemahan lulusan S1 di negara kita ternyata di luar dugaan, yaitu kemampuan membaca dan menulis. Ini sedikit mengejutkan saya, karena generasi saya yang namanya membaca dan menulis bukan hanya di bangku kuliah, saat SMA pun sudah dimulai, minimal dasar-dasarnya.

Reformasi yang lain menurut mendiktisaintek yang baru adalah sifat struktural di dunia pendidikan yang bersifat kolegial, bukan atasan – bawahan. Dekan, Kaprodi, dan lain-lain sudah selayaknya ditunjuk, bukan seperti pilpres atau pilkada, pemaparan visi-misi, dan sejenisnya.

Beberapa aturan terkadang perlu dihapus, khususnya yang menghambat inovasi dari dosen-dosen. Seperti gaya mengajar, tata cara, administrasi yang mengganggu tri darma sebaiknya dibuang, dan fokus ke yang diistilahkan beliau, ‘kepatutan’.

Solusi Hosting Gratis untuk Pemrograman Web di Lab: Tantangan dan Alternatif

Terkadang lab tidak menyediakan tool untuk pemrograman web, sehingga mengandalkan aplikasi yang ada versi gratisnya, lihat pos yang lalu. Tetapi ternyata sudah tidak gratis lagi, harus berlangganan. Masih ada penyedia hosting yang gratis yakni infinityfree [link]. Hanya saja problem ketika digunakan di lab, akun semua kena suspen. Mungkin karena ketika menggunakan jaringan di lab, IP terdeteksi sama, sehingga melanggar batas maksimum.

Beberapa aplikasi seperti w3school menyediakan juga server tapi hanya HTML, tidak bisa memasang database seperti Php-Mysql. Namun ada juga yang menyediakan server secara gratis, tetapi harus menghinstall full, yakni Play-With-Docker (PWD).

Untuk latihan Phpmyadmin bisa lihat instalasi di PWD berikut ini. Lumayan, menghemat anggaran Laboratorium. Apalagi Docker sendiri sudah merupakan teknologi terkini untuk server.

Untuk memulai, login terlebih dahulu ke hub docker terlebih dahulu. Oiya, untuk PWD jika digunakan di Wifi kampus aman, tidak kena suspen seperti Infinityfree.

Sekian semoga tertarik.

Potret Kondisi dan Kebijakan Terkini bagi Dosen di Indonesia

Tidak mudah menjadi dosen di Indonesia. Bayangkan saja ASN-ASN di departemen lain memperoleh tunjangan kinerja, tetapi dosen ASN tidak. Alasannya katanya karena ada tunjangan sertifikasi dosen. Tapi anehnya untuk memperoleh sertifikasi dosen terkadang perlu tes dan ada kuota, berbeda dengan tunjangan kinerja yang otomatis karena ‘berkinerja’ di tiap departemen. Uniknya, staf kemendikbud mendapat tunjangan kinerja tetapi justru dosen yang merupakan ‘core’ tidak. Nah, kabarnya per Januari 2025 akan cair tunjangan kienrja untuk dosen ASN. Bagaimana dengan yang non ASN, alias dosen swasta? Nanti dulu, sebagai dosen swasta tetap saja melihat dosen ASN bahagia, kita harus ikut bahagia.

Mungkin ada yang belum tahu kalau ada undang-undang kemendikbudristek no. 44 tahun 2024 tentang profesi, karir, dan penghasilan dosen di perguruan tinggi.

Nah, ternyata undang-undang ini yang dibuat oleh kemendikbudristek yang tidak lama akan diganti, oleh mentri yang baru ditunda lewat surat edarannya.

Banyak yang menyambut baik atas ditundanya undang-undang ini, bahkan beberapa mengharapkan dibatalkan. Kita tunggu saja nanti, mudah-mudahan kabar baik yang muncul.

Dilema Peralihan dari Mendeley Desktop ke Reference Manager, Serta Solusinya

Sitasi dan daftar pustaka merupakan hal-hal wajib yang ada dalam sebuah artikel ilmiah, baik jurnal, skripsi, disertasi, dan sejenisnya. Saat ini, walau banyak tool untuk otomatisasi pengelolaannya, Mendeley masih menjadi andalan penulis-penulis di dunia. Dengan menambahkan koleksi ke Mendeley, tinggal klik langsung sitasi muncul di daftar pustaka, khusus yang Mendeley desktop.

Salah satu yang menjadikan aplikasi ini disukai orang adalah gratis, berbeda dengan yang lain yang dipaksa berbayar. Nah, entah mengapa pengguna Mendeley desktop seolah dipaksa menggunakan Mendeley reference manager. Beberapa sumber menyebutkan adanya peralihan aplikasi ke online yang lebih ringan, yang jelas Mendeley tidak lagi mensuport Mendeley desktop. Sepertinya ketika penulis sudah nyaman dengan Mendeley desktop, Mendeley.Com mungkin mengalami kemunduran dari sisi akses karena jarang yang membukanya. Itu dugaan saya saja sih.

Nah, bagaimana pengguna yang sudah terbiasa dengan Mendeley desktop tetapi dipaksa mendeley reference manager? Tidak jadi masalah karena kita masih bisa menginstal aplikasi tersebut dan mengunduh source code nya di internet (Link). Plug in agar terpasang di MS Word sepertinya perlu cara khusus bagi pengguna Macbook, lihat tutorial berikut.

Tentu saja Microsoft Word perlu dimiliki oleh pengguna Mendeley. Bagaimana dengan WPS Office yang saat ini mulai banyak diminati. Pengguna MS Word tidak akan memiliki masalah berarti jika beralih ke WPS Office, khususnya yang ingin mengetik di tablet. Saya mencoba mengetik di tablet Huawei ternyata mirip dengan menggunakan laptop.

Nah, bagaimana untuk mengetik jurnal atau artikel ilmiah lainnya? Silahkan lihat caranya di video berikut.

Apapun tools nya, kita harus bisa beradaptasi. Yang penting tetap produktif dalam menulis.

Kaizen dan Ikigai: Rahasia Jepang untuk Hidup Lebih Bermakna dan Berkualitas

Ada prinsip Jepang yang ternyata kalau diterapkan bisa meningkatkan kualitas hidup kita, yakni kaizen dan ikigai. Kaizen mengedepankan proses peningkatan terus menerus walaupun kecil. Sementara Ikigai dalah konsep Jepang yang menggambarkan “alasan untuk hidup” atau “alasan untuk bangun di pagi hari.” Ikigai adalah perpaduan antara apa yang kamu cintai, apa yang kamu kuasai, apa yang dunia butuhkan, dan apa yang bisa memberi penghasilan.

Jadi kalau ada rekan yang berkata jalani saja, menunggu mati, dan paham fatality sejenisnya jangan terpengaruh ya. Kalau kita masih hidup sudah pasti tuhan masih memberikan satu misi ke kita, jangan disia-siakan.

Ada suatu kisah seorang kakek-kakek yang sedang menanam kelapa. Kalau dipikir-pikir kan aneh, usianya mungkin tidak beberapa lama lagi tapi kok tetap semangat menanam. Kalau di Jepang itulah yang membuat umur mereka panjang-panjang. Di Youtube dijelaskan bagaimana manula yang pensiun sejak tahun 80an masih aktif bekerja.

Anda pasti pernah melihat rekan Anda yang ketika SMA atau kuliah biasa saja, tetapi sekarang sukses. Mungkin waktu itu gagal ujian masuk PTN, masuk PTS yang biasa saja, tetapi sekarang sudah jadi profesor atau pengusaha yang sukses. Hal ini terjadi karena rekan Anda itu melakukan prinsip Kaizen, secara perlahan-lahan improvement hingga waktu berlalu, beberapa tahun kemudian sudah ‘menyalip’ Anda. Mahasiswa-mahasiswa yang kita didik pun, mungkin saat ini biasa saja, tapi kalau improve setiap hari, baik dari tambahan pengalaman, ilmu, dan mampu menghadapi cobaan ada, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan akan jauh lebih sukses, atau setidaknya kualitas hidupnya meningkat.

Tren dan Tantangan Studi Doktoral bagi Dosen di Indonesia

Walaupun syarat dosen minimal bergelar magister, saat ini tanpa paksaan banyak yang studi lanjut ke jenjang doktoral. Beberapa rekan yang sebelumnya salah mengambil S3 karena tidak linear berusaha mengambil doktor lagi agar linear. Sebagai informasi, sebenarnya linearitas itu tidak harus linear dengan magisternya melainkan dengan riset yang ditekuni atau dalam istilah yang resmi saat ini: rumpun ilmu.

Banyak aspek lain yang membuat rekan yang sudah S3 mengambil lagi S3 bidang yang lain. Salah satunya adalah S3 di bidang yang bisa dibilang banyak dibutuhkan, misalnya informatika atau ilmu komputer, beserta turunannya seperti teknologi informasi, sistem informasi, dan sejenisnya. Jika tetap mengambil S3 yang sudah diambil sebelumnya, misalnya manajemen, maka ranting ilmu yang harus dipilih untuk naik ke lektor kepala atau guru besar harus sesuai S3-nya, padahal mungkin dia bekerja di kampus informatika. Jadi tidak ada jalan lain selain mengambil S3 bidang informatika lagi.

Kampus baru yang membuka S3 pun mulai bermunculan, membuat dosen-dosen yang ingin upgrade ke jenjang yang lebih tinggi lagi untuk memilih kampus mana yang dirasa pas dengan situasi dan kondisinya. Kampus negeri, seperti UI, ITB, UGM, dan top-10 lainnya masih menjadi pilihan. Hanya saja kampus ini seperti karakteristik kampus negeri di tanah air, memaksa mahasiswa mandiri. Promotor tidak akan mencari si mahasiswa kalau menghilang, berbeda dengan misalnya Binus University, tempat istri saya mengambil S3, ke ujung dunia pun akan dicari.

Jadi sekarang dosen-dosen banyak pilihan untuk melanjutkan ke S3 sesuai dengan kemampuan, apalagi untuk yang dengan biaya sendiri. Kemampuan di sini tidak berarti pandai atau tidak, melainkan mungkin karena sambil bekerja sehingga waktu tersita. Walau cerdas tetap saja karena tidak menyediakan waktu yang cukup, akibatnya drop out. Oiya, ada informasi beberapa kampus tidak men-DO mahasiswa doktoralnya tetapi mereset NIM menjadi NIM baru, akibatnya walau riset tetap dilanjutkan tetapi tidak boleh lulus sampai 2,5 tahun ke depan. Tentu saja 2,5 tahun artinya waktu dan biaya tambahan.

Untuk yang mengambil bidang informatika, khususnya ilmu komputer, dengan adanya ChatGPT, masalah sebagian besar sudah terpecahkan, mulai dari State of the Art (SOTA) maupun kode program. Kalau dulu mahasiswa doktoral hanya merancang disain penelitian dan noveltinya, dan menyerahkan eksperimen ke programmer, sekarang bisa dilakukan sendiri dengan bantuan AI.

Studi doktoral di Indonesia berbeda dengan luar negeri yang karakternya sudah mapan sejak lama. Jika di LN kalau mahasiswa sudah layak lulus, pihak kampus mulai dari dosen, tata usaha, dan lainnya dilarang menghalang-halangi kelulusannya. Jika di Indonesia untuk sidang terbuka harus mengeluarkan biaya seperti hajatan, di LN tidak terjadi karena itu dianggap ‘menghalang-halangi’. Sepertinya hanya 20% saja dari kemampuan intelektual kita yang digunakan untuk S3, 80% sisanya adalah hal-hal lain seperti keuangan, waktu yang tersedia, kedekatan dengan promotor/co-promotor dan lain-lain. Jadi, saran saya untuk Anda yang mengambil S3 di dalam negeri, gunakan semua kelebihan yang ada di dalam diri kita karena kampus dalam negeri memang begitu karakteristiknya. Jika Anda penulis buku dan cepat mengetiknya, atau jago negosiasi, pandai bicara karena marketing, jago memahami undang-undang/aturan, atau hal-hal lain nya, bisa dimanfaatkan, asalkan halal. Bayangkan Universitas Indonesia (UI) saja, semua paham di level berapa kampus itu di negara kita, yang hanya bisa disaingi oleh ITB dan UGM, tetap saja ada mahasiswa doktoral yang memanfaatkan kelebihan yang ada dalam dirinya yang seorang menteri, walaupun kabarnya ditangguhkan.

Sekian, semoga menginspirasi.

Pemerintahan Baru

Setelah melalui serangkaian tahapan pilpres akhirnya pemerintahan baru terbentuk. Kabinet merah putih yang dikomandoi oleh mantan danjen kopassus, Prabowo Subianto, akhirnya terbentuk. Berbeda dengan kabinet sebelumnya yang ramping, kali ini kabinet cukup gemuk. Yang jelas terlihat adalah terpecahnya kemendikbudristek menjadi empat kementerian, antara lain: pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, riset, dan kebudayaan. Semoga lebih baik karena lebih fokus.

Mirip dengan menonton sepak bola kita di penyisihan piala dunia, terkadang kita merasa lebih hebat dari pelatih dan pemain. Komentar pun bermunculan, bebas, tak ada yang melarang. Pemerintahan juga seperti itu, ada menteri yang dipertanyakan kelulusan doktornya, kementerian baru yang dipertanyakan maksudnya, dan hal-hal lain yang pasti bisa dikomentari. Apalagi jika melihat Youtube, para youtuber yang berpengikut banyak kerap melontarkan komen-komen yang terkadang membuat orang khawatir, sindiran-sindiran terhadap pemimpin yang harus bertanggung jawab, dan dugaan-dugaan lain yang terkadang baik di sisi jumlah viewer tapi bisa berdampak terhadap suasana hati yang menonton. Ada yang mengatakan kondisi yang tidak baik-baik saja ini tanggung jawab dari pemimpin, yang ujung-ujungnya prinsip ‘salah Jokowi’ digunakan. Namun, untungnya pidato pertama presiden Prabowo mengatakan, “ikan busuk dimulai dari kepala”, yang menandakan beliau siap menanggung jika kondisi buruk terjadi.

Memang sulit, jika kita mengikuti negara yang sudah maju pendidikannya, misalnya Finlandia, khawatirnya rakyat kita tidak bisa mengikuti. Jangankan negara eropa itu, mengikuti negara Asean yang lain pun kita terkadang sulit, mengingat lokasi geografis dan SDM yang berbeda-beda, termasuk karakter budayanya. Mau tidak mau sebaiknya kita kembali ke metode yang digunakan oleh Ki Hajar Dewantara, dengan prinsip: “ing ngarso sung tulodo; ing madyo mangun karso; tut wuri handayanto .. eh handayani maksudnya”.

Untung ada AI yang bisa membuat kita bisa berlari cepat mengikuti negara-negara lain yang di atas kita. Belajar pun kian murah, banyak fasilitas-fasilitas online. Tinggal bagaimana memicu anak-anak muda agar mau mengikuti teknologi, informasi, sains, dan perkembangan terkini. Di dunia pendidikan sepertinya ada gap yang terlalu jauh antara senior dan junior. Beberapa organsisasi masih tidak memberi kesempatan kepada anak-anak muda untuk memegang tanggung jawab. Banyak yang terkesan ‘itu itu saja’ orangnya. Khawatir nanti anak-anak muda tidak bersemangat lagi, yang ujung-ujungnya banyak yang lari dan berkarir di negara lain. Yuk, beri kesempatan kepada anak-anak muda untuk memagang tanggung jawab.

Sistem Kendali Cerdas

Sistem kendali memiliki banyak istilah lain misalnya sistem kontrol atau sistem pengaturan. Kalau dalam kurikulum dimulai dari sistem kendali, sistem kendali digital dan sistem kendali cerdas.

Salah satu yang terkenal adalah kendali cerdas dengan fuzzy, atau dikenal dengan istilah kendali logika fuzzy (KLF) atau dalam istilah inggrisnya fuzzy logic controller (FLC). Kendali ini merupakan salah satu kendali yang berbeda dengan kendali klasik dengan Proporsional, Integrator dan Differentiator (PID) yang mengandalkan prinsip fisika.

Fuzzy hanya menerapkan rule yang bebas dibuat tanpa melihat aspek fisikanya. Ibarat bandul otomatis yang mengatur speed, fuzzy mengatur tidak lewat gaya sentrifugal melainkan lewat logika if-then.

Ternyata saya pertama kali mengajar sistem kendali pada tahun 2003, 21 tahun yang lalu. Uniknya tahun ini, 2024, diminta mengajar lagi. Berbeda dengan informatika yang perubahan teknologi yang pesat, ilmu dasar sistem kendali ternyata tidak jauh berbeda.

Video berikut memperlihatkan bagaimana menerapkan fuzzy pada model sistem kendali dengan memanfaatkan software MATLAB yang di dalamnya ada SIMULINK. Siapa tahu ada yang tertarik.

Gen Z

Tiap generasi memiliki karakter masing-masing. Tidak dapat dipungkiri lingkungan sangat berpengaruh terhadap kejiwaan orang yang berada di dalamnya. Uniknya manusia merupakan makhluk yang amat adaptif, yang mampu menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Prinsip yang paling bertahan adalah yang adaptif ternyata terbukti. Dinosaurus yang perkasa pun punah, malah cicak yang kecil mampu beradaptasi dan eksis sampai sekarang.

Kita yang bisa bertahan dari pandemi memiliki kemampuan beradaptasi terhadap virus mematikan tersebut. Konon, resesi saat pandemi kemarin persentasenya sama dengan ketika perang dunia kedua, toh kita mampu melaluinya. Kalau lihat mbah saya dulu, ketahanan mereka bertani, mengangkut rumput berat di pundaknya, berbeda dengan ayah dan ibu saya, satu bekerja di kantor, satu lagi membantu dengan usaha kecil-kecilan lewat dagangan di rumah. Lalu saya dan istri yang mengajar, berbeda pula dengan generasi anak saya, khususnya yang paling kecil yang disebut generasi z (gen z). Sering pula generasi itu disebut generasi strowberi yang rawan emosinya.

Mbah kita mungkin tidak masalah mendidik ayah/ibu kita, dilanjutkan ke kita anaknya pun tidak terlalu bermasalah juga. Walau sulit protes toh kalau tidak cocok akibat paksaan, generasi yg disebut gen x tetap bisa beradaptasi dan fleksibel. Walau masih ga habis pikir kenapa dulu ditaboki tanpa alasan yg jelas di sekolah, tetapi tetap saja nurut dan menghormati, apalagi yang saat ini masih hidup dan sudah jompo.

Gen z yang memang sejak lahir sudah diberikan gadget dan aplikasi yang serba instan dan memanjakan membuat mereka manja. Sebagai orang tua harus mau tidak mau mengalahkan gadget dari sisi respon menjawab, menyemangati, dan selalu hadir. Kalau tidak, mereka akan lebih dekat ke smart phone. Banyak yang mengkhawatirkan kondisi mereka nanti yang akan menggantikan kita. Ada yang khawatir karena terkenal malas, manja, kurang tangguh, namun saya yakin Allah tuhan semesta alam mungkin punya rencana lain. Mereka yang hidup di zamannya sudah pasti dibekali dengan kemampuan adaptif yang mungkin saja otak kita tidak sanggup memikirkannya. Jadi, kadang generasi ‘peniru’ dan ‘latah’ ya diajari dengan mencontohkan saja. Para guru, orang tua, pejabat, pemerintah, ya tunjukan yang ‘wah’, ‘hebat’, ‘cool’, dan sejenisnya ke para gen z ini agar mereka meniru, bukan sebaliknya ya, semoga dugaan saya benar.

ChatGPT + Searching Web = Ultimate Browsing

Ketika di awal rilis, ketika di searching nama kita, ChatGPT akan menjawab tidak tahu, tentu saja dengan kata maaf yang sopan. Di sini Google masih tersenyum karena untuk update data terkini mau tidak mau masih harus mengandalkan si ‘mbah’ yang masih ok. Namun perkembangan lanjutan ternyata Microsoft yang memiliki sahamnya di Open AI, menyediakan alat searchingnya (BING) memberikan akses ChatGPT terhadap data terkini. Misal saya bertanya saat ini ‘Anda kenal haryono dosen Univ Islam 45?’

akan muncul respon: Hasilnya ternyata cukup akurat, tentu saja asalkan link di internet yang memberikan informasi. Jadi satu pertanyaan sudah mewakili pencarian di Google karena verifikasi informasi yang kita butuhkan sudah diberikan oleh AI, gantinya kita mengklik link yang disarankan ditambah membacanya karena dikhawatirkan tidak relevan.

Di sini uniknya karena ChatGPT yang dilatih oleh data lampau kini bisa memanfaatkan data baru jika informasi dari data yang dilatihkan sebelumnya tidak ada. Bagaimana jika kita ingin memperoleh no kontaknya?

Ternyata ChatGPT menjaga kerahasiaan/data pribadi, walaupun saya yakin AI ini mengetahuinya. Mengingat data pribadi termasuk kategori doxing maka secara etika AI tidak boleh membocorkannya ke publik. Jadi mau tidak mau harus mencari sendiri lewat Googling kalau ada. Alamat pun tidak diberikan, kecuali alamat kampus yang memang boleh diakses umum. Sekian semoga bermanfaat.

Budaya Mutu dalam Pendidikan

Manusia merupakan sumber daya juga dalam suatu negara yang tidak kalah dari sumber daya alam (SDA). Jika SDA bisa habis, sumber daya manusia (SDM) selalu ada, kecuali memang jumlahnya habis. SDM kita cenderung bertambah karena pertumbuhannya yang positif dan diperkirakan mencapai puncaknya di 2045 dimana komposisi tertinggi pada usia muda yang produktif.

Berbicara tentang SDM tentu saja tidak lepas dari dunia pendidikan, misalnya pendidikan tinggi. Kita tidak melupakan pendidikan tinggi walaupun dari sisi statistik, penduduk Indonesia rata-rata tamatan SMP. Pendidikan tinggi bagi suatu negara merupakan motor penggerak karena level ini salah satu jenjang yang di seluruh dunia tidak jauh berbeda. Lulusannya kebanyakan bisa bekerja lintas negara asalkan dibekali bahasa asing, misalnya bahasa Inggris. Beberapa SMK memang banyak yang bisa bekerja di luar negeri, misalnya Jepang, tapi kebanyakan untuk bidang-bidang yang skill-nya standar, misalnya pengelasan, perakitan, dan sejenisnya.

Peraturan mendikbudristek menekankan akan budaya mutu dalam institusi pendidikan. Ciri-ciri budaya mutu yang baik adalah mengikuti standar yang ada. Setelah ada standar, berikutnya adalah pelaksanakaan siklus PPEPP. Siklus ini singkatan dari Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian dan Peningkatan. Standar yang diwajibkan di negara Indonesia adalah standar nasional pendidikan tinggi (SN-DIKTI). Standar ini merupakan standar minimal, yang jika. hanya memenuhi standar ini hasilnya adalah terakreditasi baik (kalau dulu c), yang rencananya pun akan berubah nanti menjadi “Tidak Terakreditasi”, “Terakreditasi”, “Unggul”, dan “Internasional”. Nah, bagaimana mengetahui SN-DIKTI? Silahkan lihat situs resminya [url] atau googling saja dengan kata kunci: “Pusat Standar & Kebijakan Pendidikan”. Dalam PPEPP perlu ada usaha untuk mengukur sejauh mana kinerja perguruan tinggi mengikut standar yang ada.

Oleh karena itu diperlukan indikator yang diistilahkan dengan Indikator Kinerja Utama (IKU). Biasanya dinyatakan dalam jumlah/kuantitatif agar bisa diukur. Dari contoh SN-DIKTI gambar di atas tampak misalnya standar pembelajaran perlu perencanaan pembelajaran, yang bisanya dalam bentuk RPS. Jadi kalau dikuantitatifkan berapa jumlah mata kuliah dan berapa jumlah RPS-nya. Jika seluruhnya berarti sudah memenuhi standar minimal. Selain itu ada Indikator Kinerja Tambahan (IKT) yang merupakan usaha suatu kampus untuk meningkatkan kualitas melebihi standar SN-DIKTI yang merupakan standar minimal. Misal jika program S1 menurut SN-DIKTI minimal S2/magister, maka jika kampus ingin meningkatkan standarnya, bisa menambahkan IKT agar standar minimal baru, misalnya 50% bergelar doktor.

Salah satu manfaat adanya budaya mutu adalah meningkatnya performa kampus, mengingat banyak kampus-kampus berguguran akibat budaya mutu yang rendah. Usaha meningkatkan mutu tidak boleh hanya segelintir orang saja, ibarat mesin yang sudah bisa berjalan walaupun personelnya berganti.

Ketika Negara Api yang Bernama “AI” itu Sudah Menyerang

Artificial Intelligence (AI) yang beberapa tahun lalu merupakan barang mewah sekarang menjadi barang yang paling mudah dijumpai sehari-hari. Informasi dari keponakan yang kuliah, saat awal-awal munculnya chatgpt, seorang rekannya bisa membuatkan skripsi teman-temannya lewat chatgpt. Tentu saja di awal-awal karena memang teman-temannya kalah cepat tahu informasi itu, namun saat ini sebagian besar mahasiswa mengetahui fasilitas itu. Ternyata aplikasi yang awalnya chat dengan informasi hasil training saja sekarang terkoneksi dengan search engine Bing dari microsoft yang bisa mengetahui informasi tidak hanya yang dilatih dahulu tetapi dari informasi internet terkini. Misalnya informasi nama saya.

Dengan menanyakan informasi di chatgpt, jika ada di internet maka akan segera diketahui oleh chatgpt. Bahkan linknya juga diberikan akan mengarah ke blog yang saya tulis ini. Jika demikian ibarat kita search di Google lalu mengklik informasi yang tampil di page satu persatu dan memilih lalu membacanya, kini diganti dengan sebuah mesin yang mencari dari search engine Bing lalu menampilkan informasi yang paling relevan ke kita. Yang tadinya beberapa klik akhirnya hanya satu kali klik saja di Chatgpt. Beberapa situs yang monetize dari klik bisa bubar. Blog saya ini pun yang sempat muncul iklannya sekarang nol.

Tapi yang tidak apa-apa karena memang niatnya ‘just for a little kindness’. Dan tulisan yang saya buat sedapat mungkin ditulis sendiri tanpa bantuan AI, sekalian melatih otak agar tetap ON.