Pemerintahan Baru

Setelah melalui serangkaian tahapan pilpres akhirnya pemerintahan baru terbentuk. Kabinet merah putih yang dikomandoi oleh mantan danjen kopassus, Prabowo Subianto, akhirnya terbentuk. Berbeda dengan kabinet sebelumnya yang ramping, kali ini kabinet cukup gemuk. Yang jelas terlihat adalah terpecahnya kemendikbudristek menjadi empat kementerian, antara lain: pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, riset, dan kebudayaan. Semoga lebih baik karena lebih fokus.

Mirip dengan menonton sepak bola kita di penyisihan piala dunia, terkadang kita merasa lebih hebat dari pelatih dan pemain. Komentar pun bermunculan, bebas, tak ada yang melarang. Pemerintahan juga seperti itu, ada menteri yang dipertanyakan kelulusan doktornya, kementerian baru yang dipertanyakan maksudnya, dan hal-hal lain yang pasti bisa dikomentari. Apalagi jika melihat Youtube, para youtuber yang berpengikut banyak kerap melontarkan komen-komen yang terkadang membuat orang khawatir, sindiran-sindiran terhadap pemimpin yang harus bertanggung jawab, dan dugaan-dugaan lain yang terkadang baik di sisi jumlah viewer tapi bisa berdampak terhadap suasana hati yang menonton. Ada yang mengatakan kondisi yang tidak baik-baik saja ini tanggung jawab dari pemimpin, yang ujung-ujungnya prinsip ‘salah Jokowi’ digunakan. Namun, untungnya pidato pertama presiden Prabowo mengatakan, “ikan busuk dimulai dari kepala”, yang menandakan beliau siap menanggung jika kondisi buruk terjadi.

Memang sulit, jika kita mengikuti negara yang sudah maju pendidikannya, misalnya Finlandia, khawatirnya rakyat kita tidak bisa mengikuti. Jangankan negara eropa itu, mengikuti negara Asean yang lain pun kita terkadang sulit, mengingat lokasi geografis dan SDM yang berbeda-beda, termasuk karakter budayanya. Mau tidak mau sebaiknya kita kembali ke metode yang digunakan oleh Ki Hajar Dewantara, dengan prinsip: “ing ngarso sung tulodo; ing madyo mangun karso; tut wuri handayanto .. eh handayani maksudnya”.

Untung ada AI yang bisa membuat kita bisa berlari cepat mengikuti negara-negara lain yang di atas kita. Belajar pun kian murah, banyak fasilitas-fasilitas online. Tinggal bagaimana memicu anak-anak muda agar mau mengikuti teknologi, informasi, sains, dan perkembangan terkini. Di dunia pendidikan sepertinya ada gap yang terlalu jauh antara senior dan junior. Beberapa organsisasi masih tidak memberi kesempatan kepada anak-anak muda untuk memegang tanggung jawab. Banyak yang terkesan ‘itu itu saja’ orangnya. Khawatir nanti anak-anak muda tidak bersemangat lagi, yang ujung-ujungnya banyak yang lari dan berkarir di negara lain. Yuk, beri kesempatan kepada anak-anak muda untuk memagang tanggung jawab.

Sistem Kendali Cerdas

Sistem kendali memiliki banyak istilah lain misalnya sistem kontrol atau sistem pengaturan. Kalau dalam kurikulum dimulai dari sistem kendali, sistem kendali digital dan sistem kendali cerdas.

Salah satu yang terkenal adalah kendali cerdas dengan fuzzy, atau dikenal dengan istilah kendali logika fuzzy (KLF) atau dalam istilah inggrisnya fuzzy logic controller (FLC). Kendali ini merupakan salah satu kendali yang berbeda dengan kendali klasik dengan Proporsional, Integrator dan Differentiator (PID) yang mengandalkan prinsip fisika.

Fuzzy hanya menerapkan rule yang bebas dibuat tanpa melihat aspek fisikanya. Ibarat bandul otomatis yang mengatur speed, fuzzy mengatur tidak lewat gaya sentrifugal melainkan lewat logika if-then.

Ternyata saya pertama kali mengajar sistem kendali pada tahun 2003, 21 tahun yang lalu. Uniknya tahun ini, 2024, diminta mengajar lagi. Berbeda dengan informatika yang perubahan teknologi yang pesat, ilmu dasar sistem kendali ternyata tidak jauh berbeda.

Video berikut memperlihatkan bagaimana menerapkan fuzzy pada model sistem kendali dengan memanfaatkan software MATLAB yang di dalamnya ada SIMULINK. Siapa tahu ada yang tertarik.

Gen Z

Tiap generasi memiliki karakter masing-masing. Tidak dapat dipungkiri lingkungan sangat berpengaruh terhadap kejiwaan orang yang berada di dalamnya. Uniknya manusia merupakan makhluk yang amat adaptif, yang mampu menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Prinsip yang paling bertahan adalah yang adaptif ternyata terbukti. Dinosaurus yang perkasa pun punah, malah cicak yang kecil mampu beradaptasi dan eksis sampai sekarang.

Kita yang bisa bertahan dari pandemi memiliki kemampuan beradaptasi terhadap virus mematikan tersebut. Konon, resesi saat pandemi kemarin persentasenya sama dengan ketika perang dunia kedua, toh kita mampu melaluinya. Kalau lihat mbah saya dulu, ketahanan mereka bertani, mengangkut rumput berat di pundaknya, berbeda dengan ayah dan ibu saya, satu bekerja di kantor, satu lagi membantu dengan usaha kecil-kecilan lewat dagangan di rumah. Lalu saya dan istri yang mengajar, berbeda pula dengan generasi anak saya, khususnya yang paling kecil yang disebut generasi z (gen z). Sering pula generasi itu disebut generasi strowberi yang rawan emosinya.

Mbah kita mungkin tidak masalah mendidik ayah/ibu kita, dilanjutkan ke kita anaknya pun tidak terlalu bermasalah juga. Walau sulit protes toh kalau tidak cocok akibat paksaan, generasi yg disebut gen x tetap bisa beradaptasi dan fleksibel. Walau masih ga habis pikir kenapa dulu ditaboki tanpa alasan yg jelas di sekolah, tetapi tetap saja nurut dan menghormati, apalagi yang saat ini masih hidup dan sudah jompo.

Gen z yang memang sejak lahir sudah diberikan gadget dan aplikasi yang serba instan dan memanjakan membuat mereka manja. Sebagai orang tua harus mau tidak mau mengalahkan gadget dari sisi respon menjawab, menyemangati, dan selalu hadir. Kalau tidak, mereka akan lebih dekat ke smart phone. Banyak yang mengkhawatirkan kondisi mereka nanti yang akan menggantikan kita. Ada yang khawatir karena terkenal malas, manja, kurang tangguh, namun saya yakin Allah tuhan semesta alam mungkin punya rencana lain. Mereka yang hidup di zamannya sudah pasti dibekali dengan kemampuan adaptif yang mungkin saja otak kita tidak sanggup memikirkannya. Jadi, kadang generasi ‘peniru’ dan ‘latah’ ya diajari dengan mencontohkan saja. Para guru, orang tua, pejabat, pemerintah, ya tunjukan yang ‘wah’, ‘hebat’, ‘cool’, dan sejenisnya ke para gen z ini agar mereka meniru, bukan sebaliknya ya, semoga dugaan saya benar.

ChatGPT + Searching Web = Ultimate Browsing

Ketika di awal rilis, ketika di searching nama kita, ChatGPT akan menjawab tidak tahu, tentu saja dengan kata maaf yang sopan. Di sini Google masih tersenyum karena untuk update data terkini mau tidak mau masih harus mengandalkan si ‘mbah’ yang masih ok. Namun perkembangan lanjutan ternyata Microsoft yang memiliki sahamnya di Open AI, menyediakan alat searchingnya (BING) memberikan akses ChatGPT terhadap data terkini. Misal saya bertanya saat ini ‘Anda kenal haryono dosen Univ Islam 45?’

akan muncul respon: Hasilnya ternyata cukup akurat, tentu saja asalkan link di internet yang memberikan informasi. Jadi satu pertanyaan sudah mewakili pencarian di Google karena verifikasi informasi yang kita butuhkan sudah diberikan oleh AI, gantinya kita mengklik link yang disarankan ditambah membacanya karena dikhawatirkan tidak relevan.

Di sini uniknya karena ChatGPT yang dilatih oleh data lampau kini bisa memanfaatkan data baru jika informasi dari data yang dilatihkan sebelumnya tidak ada. Bagaimana jika kita ingin memperoleh no kontaknya?

Ternyata ChatGPT menjaga kerahasiaan/data pribadi, walaupun saya yakin AI ini mengetahuinya. Mengingat data pribadi termasuk kategori doxing maka secara etika AI tidak boleh membocorkannya ke publik. Jadi mau tidak mau harus mencari sendiri lewat Googling kalau ada. Alamat pun tidak diberikan, kecuali alamat kampus yang memang boleh diakses umum. Sekian semoga bermanfaat.

Budaya Mutu dalam Pendidikan

Manusia merupakan sumber daya juga dalam suatu negara yang tidak kalah dari sumber daya alam (SDA). Jika SDA bisa habis, sumber daya manusia (SDM) selalu ada, kecuali memang jumlahnya habis. SDM kita cenderung bertambah karena pertumbuhannya yang positif dan diperkirakan mencapai puncaknya di 2045 dimana komposisi tertinggi pada usia muda yang produktif.

Berbicara tentang SDM tentu saja tidak lepas dari dunia pendidikan, misalnya pendidikan tinggi. Kita tidak melupakan pendidikan tinggi walaupun dari sisi statistik, penduduk Indonesia rata-rata tamatan SMP. Pendidikan tinggi bagi suatu negara merupakan motor penggerak karena level ini salah satu jenjang yang di seluruh dunia tidak jauh berbeda. Lulusannya kebanyakan bisa bekerja lintas negara asalkan dibekali bahasa asing, misalnya bahasa Inggris. Beberapa SMK memang banyak yang bisa bekerja di luar negeri, misalnya Jepang, tapi kebanyakan untuk bidang-bidang yang skill-nya standar, misalnya pengelasan, perakitan, dan sejenisnya.

Peraturan mendikbudristek menekankan akan budaya mutu dalam institusi pendidikan. Ciri-ciri budaya mutu yang baik adalah mengikuti standar yang ada. Setelah ada standar, berikutnya adalah pelaksanakaan siklus PPEPP. Siklus ini singkatan dari Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian dan Peningkatan. Standar yang diwajibkan di negara Indonesia adalah standar nasional pendidikan tinggi (SN-DIKTI). Standar ini merupakan standar minimal, yang jika. hanya memenuhi standar ini hasilnya adalah terakreditasi baik (kalau dulu c), yang rencananya pun akan berubah nanti menjadi “Tidak Terakreditasi”, “Terakreditasi”, “Unggul”, dan “Internasional”. Nah, bagaimana mengetahui SN-DIKTI? Silahkan lihat situs resminya [url] atau googling saja dengan kata kunci: “Pusat Standar & Kebijakan Pendidikan”. Dalam PPEPP perlu ada usaha untuk mengukur sejauh mana kinerja perguruan tinggi mengikut standar yang ada.

Oleh karena itu diperlukan indikator yang diistilahkan dengan Indikator Kinerja Utama (IKU). Biasanya dinyatakan dalam jumlah/kuantitatif agar bisa diukur. Dari contoh SN-DIKTI gambar di atas tampak misalnya standar pembelajaran perlu perencanaan pembelajaran, yang bisanya dalam bentuk RPS. Jadi kalau dikuantitatifkan berapa jumlah mata kuliah dan berapa jumlah RPS-nya. Jika seluruhnya berarti sudah memenuhi standar minimal. Selain itu ada Indikator Kinerja Tambahan (IKT) yang merupakan usaha suatu kampus untuk meningkatkan kualitas melebihi standar SN-DIKTI yang merupakan standar minimal. Misal jika program S1 menurut SN-DIKTI minimal S2/magister, maka jika kampus ingin meningkatkan standarnya, bisa menambahkan IKT agar standar minimal baru, misalnya 50% bergelar doktor.

Salah satu manfaat adanya budaya mutu adalah meningkatnya performa kampus, mengingat banyak kampus-kampus berguguran akibat budaya mutu yang rendah. Usaha meningkatkan mutu tidak boleh hanya segelintir orang saja, ibarat mesin yang sudah bisa berjalan walaupun personelnya berganti.

Ketika Negara Api yang Bernama “AI” itu Sudah Menyerang

Artificial Intelligence (AI) yang beberapa tahun lalu merupakan barang mewah sekarang menjadi barang yang paling mudah dijumpai sehari-hari. Informasi dari keponakan yang kuliah, saat awal-awal munculnya chatgpt, seorang rekannya bisa membuatkan skripsi teman-temannya lewat chatgpt. Tentu saja di awal-awal karena memang teman-temannya kalah cepat tahu informasi itu, namun saat ini sebagian besar mahasiswa mengetahui fasilitas itu. Ternyata aplikasi yang awalnya chat dengan informasi hasil training saja sekarang terkoneksi dengan search engine Bing dari microsoft yang bisa mengetahui informasi tidak hanya yang dilatih dahulu tetapi dari informasi internet terkini. Misalnya informasi nama saya.

Dengan menanyakan informasi di chatgpt, jika ada di internet maka akan segera diketahui oleh chatgpt. Bahkan linknya juga diberikan akan mengarah ke blog yang saya tulis ini. Jika demikian ibarat kita search di Google lalu mengklik informasi yang tampil di page satu persatu dan memilih lalu membacanya, kini diganti dengan sebuah mesin yang mencari dari search engine Bing lalu menampilkan informasi yang paling relevan ke kita. Yang tadinya beberapa klik akhirnya hanya satu kali klik saja di Chatgpt. Beberapa situs yang monetize dari klik bisa bubar. Blog saya ini pun yang sempat muncul iklannya sekarang nol.

Tapi yang tidak apa-apa karena memang niatnya ‘just for a little kindness’. Dan tulisan yang saya buat sedapat mungkin ditulis sendiri tanpa bantuan AI, sekalian melatih otak agar tetap ON.

Uang Kuliah Tunggal

Entah mengapa Indonesia selalu memunculkan istilah-istilah di tiap era-nya. Untuk yang kurang update tentu saja hal itu sedikit menjengkelkan. Salah satunya adalah istilah-istilah dalam pendidikan, misalnya yang dulunya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) menjadi Uang Kuliah Tunggal (UKT). Belum lagi aspek-aspek turunannya seperti yang dulunya SIPENMARU, jadi UMPTN, jadi SNMPTN, SBPMTN, UTBK, dan lain-lainnya.

Uniknya UKT ini bervariasi, dari yang murah banget sampai yang mahal banget. Akhirnya karena kondisi ini, beberapa kampus menaikan UKT tersebut yang menyebabkan masyarakat yang diwakili oleh mahasiswa berontak. Dari demo di Univ Jenderal Sudirman, hingga UGM yang kemah di depan Balairung membuat Nadim menstop kenaikan UKT.

Demo UKT Mhs UGM [url]

Terlepas dari itu semua, ternyata statistik mengatakan hal unik lainnya. Ternyata jika dirata-rata, rakyat kita adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ini lagi ada istilah SLTP, dan SMK yang dulu namanya STM untuk teknik dan SMEA untuk ekonomi. Mungkin hanya SLB yang tidak berubah. Ada sedikit fokus ganda, ke arah pendidikan (agar tingkat pendidikan rata-rata meningkat, setidaknya SMA) atau ke daya saing SDM di level dunia (pendidikan tinggi). Kalau hanya fokus ke pendidikan dasar dan menengah, maka kampus menjadi ‘barang mewah’ yang wajar untuk mahal, tapi khawatirnya SDM kita kalah bersaing dengan negara lain (lihat saja Malaysia yg dosen sudah hampir 100% doktor [url]). Dan khawatirnya IQ kita tidak beranjak yang saat ini rata-rata kabarnya setara dengan gorila [url].

Prabowo yang sebentar lagi menjadi presiden pun mulai gamang dengan kenaikan UKT ini, mengingat PTN sejatinya dibiayai oleh rakyat. Sudah sewajarnya tidak menaikan harga UKT yang tinggi. Tapi jika dijalankan dengan benar maka perlu seleksi yang ketat jika ingin masuk PTN seperti ketika saya ikut UMPTN di era 90-an. Tidak semua orang walaupun punya uang bisa masuk kampus negeri. Resikonya kapasitas daya tampung PTN jadi sedikit dan sedikit melegakan nafas kampus-kampus swasta yang kini ‘khawatir’ dengan jumlah daya tampung kampus negeri. Jika di era 90-an kampus PTN murah, sekarang justru kebalikannya kampus negeri mahal dan kampus swasta rata-rata menurunkan uang semester dan uang gedung.

Kadang utak-atik istilah sedikit membantu menghaluskan, misalnya tidak ada polisi, jaksa, dan hakim yang jahat, yang ada oknum polisi, oknum jaksa, dan oknum hakim. Jadi sekarang tidak ada PTN yang SPP nya mahal, soalnya yang mahal UKT-nya.

Study Tour

Kecelakaan yang merenggut nyawa siswa SMK beberapa waktu yang lalu membuat munculnya penolakan terhadap adanya study tour siswa sekolah menengah, khususnya saat kelulusan atau saat liburan. Banyak penyebab adanya musibah itu dari kelalaian, hingga memang sudah ajal yang bisa kapan saja dan dengan cara apa saja. Sebagai orang tua mungkin kita was-was jika ada kegiatan di luar sekolah, apalagi ke daerah yang sulit seperti puncak misalnya.

Sebagai ketua program studi sering kali saya menerima pesan WA dari orang tua yang menanyakan kabar anaknya, terutama jika tidak pulang ke rumah, misalnya acara mahasiswa pencinta alam (MAPALA) yang memang kerap kumpul di luar. Kembali ke kondisi pembelajaran saat ini akibat pandemi COVID 19 terkadang menjadikan kontroversi antara kuliah online dengan offline, dengan bantuan AI atau tidak. Prof Renald Kasali dalam video youtube-nya menyarankan mendidik anak-anak/siswa agar menjadi Driver bukan Passenger. Terkadang diberi tugas ke luar negeri sendiri agar merasakan problem-problem yang terjadi di lapangan dan menyelesaikannya dengan cara dan usaha sendiri.

Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diganti dengan perkuliahan online. Terkadang siswa tidak sekedar menerima transfer ilmu dari pengajar. Siswa bisa mendapat inspirasi dari pengajar bagaimana berinteraksi, bagaimana pengajar, guru, dosen atau pelatih menghadapi permasalahan. Inspirasi yang merupakan gabungan dari softskill dan hardskill inilah yang tidak bisa diperoleh dari pembelajaran online. Banyak kegiatan-kegiatan yang tidak bisa digantikan oleh dunia online, misalnya kunjungan langsung, magang, hinggak Kuliah Kerja Nyata (KKN).

KKN di Kec Bayan Purworejo Tahun 2000 dengan Dosen DPL

AI sendiri jika dikombinasikan dengan cara pembelajaran yang tepat sangat membantu, mengingat pengajar bisa fokus ke hal-hal lain yang berkaitan dengan kreativitas, perencanaan, hingga pendekatan antar individu terhadap siswa. Hubungan dengan guru pun tidak putus walaupun anak didik telah lulus. Semoga kita tetap kuat menyongsong masa depan yang kian kompleks. Di akhir tulisan di salah satu artikel di majalah TIME ada satu komen yang menarik di akhir ulasan mengenai apakah AI bisa menggantikan pengajar:
I’ve been to former students’ weddings and baby showers and funerals of their parents,” says Millard, the high school English teacher in Michigan. “I’ve hugged my students. I’ve high-fived my students. I’ve cried with my students. A computer will never do that. Ever, ever.”—Updated excerpt from TIME, Aug. 8, 2023.

Syukuran Kelulusan dengan Promotor

Membaca PDF dengan Kindle Setelah Konversi dengan K2pdfopt

Kondisi saat ini membaca dengan buku sudah mulai ditinggalkan walaupun masih banyak yang bilang sensasi membaca buku kertas tidak bisa digantikan. Ada juga yang berpendapat membaca dengan gadget melelahkan mata karena radiasi sinar dari alat baca tersebut. Namun saat ini perkembangan e-ink, salah satu teknologi untuk e-reader sudah sangat maju.

Oiya, banyak yang belum tahu e-ink, silahkan lihat video penjelasannya di Youtube.

Berbeda dengan tablet atau smartphone, e-ink mirip dengan tinta yang dicetak di layar dalam bentuk elektron. Dalam kondisi mati pun elektron itu tetap menempel dan kita bisa melihatnya. Ya mirip tinta yang ditulis dikertas, tapi di sini menggunakan elektron.

Salah satu merk terkenal adalah Kindle, buatan Amazon yang memang diperuntukan membaca ebook yang dijual toko online tersebut. Saat ini beragam merk bermunculan, yang paling laris adalah versi Android. Tapi ternyata setelah saya gunakan, Kindle memiliki keunggulan dari sisi hemat baterainya. Mengapa hemat? Menurut saya karena Kindle tidak membutuhkan proses yang berat karena memang diperuntukan hanya untuk membaca, berbeda dengan versi Android yang bisa apa aja selain baca. Akibatnya harus sering ngecas, berbeda dengan Kindle yang bisa sebulan di casnya, bahkan saya suka lupa kapan terakhir mengecas, akibat kuatnya baterai. Hanya saja kelemahannya ketika membaca buku dengan gambar atau persamaan-persamaan perlu terlebih dahulu dikonversi menjadi PDF yang cocok dengan kindle, dan diproses dulu di laptop. Sungguh merepotkan, tapi ketika selesai dikonversi, silahkan baca tanpa khawatir kehabisan baterai, cocok untuk dibaca dalam perjalanan. Untuk versi Mac OS, video berikut memperlihatkan bagaimana proses mengkonversinya.

Perkuliahan Hybrid

Salah satu dampak positif dari pandemi COVID-19 adalah kita dipaksa biasa menjalankan sesuatu secara daring. Mulai dari belanja, bekerja, hingga sekolah atau kuliah. Bahkan orang tua jadul yang tidak pernah memanfaatkan device untuk online terpaksa harus memanfaatkannya. Saya pernah menulisa dampak COVID dari sisi lingkungan [Link]. Karena kendaraan hampir tidak beroperasi, efeknya adalah suhu permukaan (land surface temperature) turun hingga 7 derajat baik siang maupun malam.

Seperti diutarakan oleh bapak Ridwan Kamil, sebaiknya hal-hal yang bisa diterapkan saat COVID tetap dilanjutkan saat COVID telah selesai, khususnya yang menguntungkan dari sisi waktu, tenaga, hingga dampak negatif terhadap lingkungan. Memang ada kesulitan suatu aktivitas dijalankan secara remote, seperti perkuliahan yang mengandalkan keterampilan yang memang harus dijalankan secara luring. Namun, keterampilan tertentu seperti bidang IT dan pemrograman masih bisa memanfaatkan aktivitas secara daring.

Pemasaran misalnya, ternyata efektif lewat daring, entah itu media sosial seperti tiktok, instagram dan sejenisnya, perlu terus diterapkan. Dalam pengajaran, beberapa waktu yang lalu pernah saya jalankan dengan cara hybrid yang menggabungkan tatap muka dengan online meeting. Jenis pertama saya dari rumah menggunakan zoom meeting, kampus yang dihadiri mahasiswa menayangkan zoom tersebut di layar dan mereka secara offline mengikut acara tersebut. Jenis kedua, saya hadir di kelas, beberapa siswa yang karena ada kegiatan khusus dan urgen tidak berada di lokasi dekat kampus terpaksa hadir lewat zoom. Jadi saya harus mengajar sambil zoom. Agak sedikit merepotkan tetapi ternyata untuk pertukaran data dan file lebih mudah, apalagi disertai dengan e-learning yang mendukung seperti tampak dalam video contoh berikut.

Mengurus Jabatan Fungsional Dosen

Walau dalam Tri Darma Perguruan Tinggi hanya ada tiga tugas yakni pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, dalam pelaksanaannya ternyata tidak sesederhana itu. Banyak pekerjaan-pekerjaan administratif yang sangat menyita waktu yang jika tidak kuat, seorang dosen akan terlantar. Salah satunya adalah mengumpulkan berkas-berkas kinerja.

Salah satu komponen saja misalnya mengajar. Seorang dosen perlu mempersiapkan surat keputusan (SK) mengajar, tanda tangan absensi siswa, nilai UTS, UAS, tugas. Belum lagi mengoreksinya. Untuk bimbingan perlu mempersiapkan SK pembimbing, berita acara sidang akhir mahasiswa, dan lain-lain yang tidak semua dosen senang mengumpulkan berkas-berkas tersebut. Publikasi pun tidak sesederhana itu, perlu mengecek plagiarismenya, link review, upload di repository kampus jika link naskah tidak bisa diakses dari luar secara gratis, dan lain-lain.

Masalah muncul ketika beberapa tahun, data menumpuk dan tiba-tiba diminta mengurus jabatan fungsional dosen, di situlah letak permasalahan. Banyak berkas-berkas yang hilang. Walaupun laporan Beban Kerja Dosen (BKD) untuk pencairan tunjangan tiap semester harus dibuat, tetap saja namanya data bisa saja selip entah ke mana. Ini menjadi lingkaran setan, mau mengurus enggan karena harus cari berkas-berkas, tidak diurus, makin menumpuklah berkas-berkas yang harus dikumpulkan, tambah enggan lagi, begitu seterusnya.

Untungnya di tempat saya ada tim yang kita tinggal menyerahkan berkas-berkas, masalah input ke sistem mereka yang melaksanakan. Maklum kadang untuk dosen-dosen senior masalah seperti itu walaupun gampang tetap saja karena kesibukan jadi terbengkalai. Repot juga kan jika sudah mengumpulkan, memasukkan pula ke sistem. Yang lebih merepotkan adalah kampus yang tidak mengurusi, ditambah syarat-syarat khusus yang tidak ada di aturan DIKTI tapi diadakan kampus. Misal diminta 1 sinta 2 tatapi diminta 2 paper, harus diprint out, padahal DIKTI minta hanya upload pdf saja ke sistem.

Salah satu hal baru yang ada adalah aplikasi mobile Selancar PAK yang dapat diunduh di Playstore untuk mengecek progres perjalanan pengurusan jabatan fungsional kita. Setelah mendapat persetujuan dari LLDIKTI tempat kita berada, kita bisa menggunakan akun yang sama untuk login.

Perhatikan usulan diinput tanggal 18 Desember 2023 operator mengajukan tanggal 3 Maret 2024, alias tiga bulan. Infonya hal ini karena antrian yang banyak di pihak operator, bisa sampai ratusan. Tetapi selepas dari pengajuan operator, proses berjalan dengan kilat karena berkas sudah dicek dengan benar oleh LLDIKTI.  

Berikunya adalah proses penilaian dimulai setelah 5 hari kemudian. Di sinilah poin terpenting karena berkas kita dinilai, banyak-banyak berdoa. Untungnya bulan Ramadhan, jadi otomatis berdoa disertai dengan shalat malam.

Jika berhasil, dua minggu kemudian akan muncul tahapan berikutnya yakni terbit PAK. Untuk yang kurang beruntung pada tahapan ini muncul notif warna merah yang artinya ada yang perlu diperbaiki. Dengan aplikasi ini proses yang dulu kabarnya bisa sampai 2 tahun sekerang beberapa bulan saja. Yuk mengurus Jabatan Fungsional.

Buruh yang Dihargai vs Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Merana

Pendidikan merupakan komponen terpenting kemajuan bangsa. Tanpa pendidikan, perkembangan suatu bangsa terbatas, mengingat salah satu keunggulan manusia dibanding makhluk lain adalah kemampuannya berpikir, dan mengatasi problem-problem yang dihadapi sepanjang waktu. Negara kita di sisi lain sedang berupaya mengejar ketertinggalannya dari sisi pendidikan, termasuk komponen di dalamnya adalah ketersediaan pengajar (guru dan dosen).

Presiden Indonesia, Joko Widodo, kaget ketika mengetahui lulusan S2 dan S3 negara kita kalah dengan Malaysia [Url]. Untuk dosen, sudah hampir 100% bergelar Doktor di Malaysia, walaupun memang banyak juga sih doktor kita yang mengajar di sana. Namun terlepas dari itu semua memang seharusnya pemerintah mendukung segala usaha untuk meningkatkan kompetensi pengajar.

Dibanding buruh atau pekerja-pekerja lainnya, guru dan dosen sedikit berbeda. Cap ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ sedikit banyak ‘mengerem’ tuntutan praktisi pendidikan. Tunjangan serdos sedikit banyak membantu, tetapi hal-hal lain seperti perpindahan homebase dan ikatan-ikatan dinas tidak masuk akal lain masih menerpa dosen-dosen kita. LLDIKTI sepertinya masih memihak kampus dibanding dengan dosen-dosen. Akibatnya banyak ‘brain drain’ alias migrasi penduduk berpendidikan untuk bekerja di negara lain sulit dibendung selama negara sendiri tidak mendukung. Padahal, sedikit diberi kenyamanan, walau gaji kecil bagi penduduk kita tidak jadi masalah.

Kekompakan asosiasi dosen sepertinya tidak sekuat organisasi buruh. Selama menjadi dosen, banyak fenomena-fenomena yang sepertinya pengajar sedikit berbeda dengan profesi lainnya. Mungkin postingan ini bisa menjadi bahan referensi bagaimana kondisi pendidikan kita, setidaknya dari sudut pandang pengajar dan bisa jadi berbeda antara satu dosen dengan dosen lainnya. Termasuk jika Anda dosen negeri, pasti berbeda pula dengan saya yang dosen swasta di kampus menengah.

Dosen itu Mandiri. Berbeda dengan profesi-profesi lain yang dibentuk untuk mendukung pengguna lulusan, dosen selalu dipersiapkan tanpa disengaja. Memang ada asisten-asisten dosen ketika menjadi mahasiswa yang siap menjadi dosen, tetapi jumlahnya minoritas. Hampir kebanyakan dosen di Indonesia mempersiapkan secara mandiri pendidikan, dari S1, S2, bahkan S3. Banyak pihak yang mengambil keuntungan dari kemandirian dosen, khususnya yayasan-yayasan swasta yang mengelola kampus. Padahal studi lanjut bagi seorang dosen bisa jadi nyawa taruhannya.

Kurang Kompak. Ini merupakan pendapat pribadi saya, seorang dosen yang sempat bekerja di industri (perbankan). Kalau menurut Anda dosen itu kompak, ya semoga pendapat Anda benar. Ketika berencana S3 pun halangan internal menghadang, belum lagi hadapan eksternal. Saat studi lanjut, kebetulan saya mengalami kondisi yang sudah ‘membaik’. Biasanya kondisi buruk akibat sikap pemerintah yang mengambil kebijakan yang parsial. Sering kita mendengar gara-gara si “A”, kita semua dipersulit. Waktu itu saya ingat agar mudah pencairan, ada forum milis yang mempermudah akses ke DIKTI, tapi ternyata ada yang menggunakan email dengan nama asing, akibatnya bubar sudah karena DIKTI ga percaya.

Satu hal yang menurut saya kurang kompaknya dosen adalah tidak saling melindungi, bahkan ada istilah ‘susah lihat orang senang, senang lihat orang susah’. Kalau Anda belum mengalami mungkin tidak percaya. Saya ingat ketika tahun pertama beasiswa, karena situs LITABMAS (sekarang BIMA) tidak ada larangan penerima beasiswa ambil hibah penelitian, saya iseng memasukkan proposal dan ternyata lolos. Repotnya aturan baru membatalkan kelulusan hibah dosen yang menerima beasiswa, dan di luar dugaan, banyak yang bersorak gembira atas aturan tersebut (semoga cuma pikiran saya aja .. tapi ga sampai share ke semua grup lah, udah tahu juga, kan ada LPPM). Untungnya tidak di cancel, tetapi anggota yang menjadi ketua, sementara ketua tidak diperbolehkan ikut serta. Ga jadi masalah sih, yang penting dananya cair .. hehe. Nah, ini membuat kecewa pihak-pihak tertentu (aneh kan?).

Jabatan Fungsional. Kurangnya jumlah profesor di negara kita tidak lepas dari proses pengajuan Jabatan Fungsional (JAFUNG) yang membutuhkan waktu lama, bahkan bisa bertahun-tahun [Post Terkait]. Nah, saat ini ternyata dengan aplikasi yang canggih, bisa hanya beberapa bulan, saya sendiri mengajukan Lektor Kepala pertengahan Desember, Maret sudah selesai. Profesor-profesor muda pun bermunculan. Kondisi terakhir membuat saya khawatir, yakni seorang Profesor yang baru diangkat, kabarnya melakukan pelanggaran dalam publikasi, sekaligus jumlah publikasinya yang disebut tidak wajar (ratusan paper dalam waktu beberapa bulan saja). Yang saya khawatirkan adalah kebijakan parsial yang nanti biasa dilakukan oleh pemerintah, yakni ‘mempersulit’ kenaikan jafung guru besar (profesor). Sebagai sesama dosen, alangkah baiknya melihat sesuatu dengan menganggap kita merupakan bagian di dalamnya, agar ibarat menyembuhkan penyakit tidak merusak bagian lain yang sehat atau yang baru sembuh. Yuk sesama dosen kita kompak. Lebih baik disebut buruh yang dihargai dari pada pahlawan tanpa tanda jasa yang merana.

Kualitas Udara Kita

Kalau kita jalan-jalan ke Jakarta sering kita jumpai tempat/jalur pesepeda yang kadang-kadang diisi oleh motor. Saya lihat pesepeda rata-rata cukup lengkap dari seragam, alat minum, hingga asesoris-asesori lainnya. Sempat terpirkan bagaimana mereka sanggup menggenjot sepeda di kondisi udara Jakarta seperti itu. Postingan ini sedikit membahas bagaimana mengetahui kualitas udara di tempat kita.

Kualitas udara secara detil dapat diperoleh dengan memasang sensor di titik-titik tertentu di wilayah yang akan dicari datanya. Salah satu website yang dapat diakses antara lain Link berikut [URL]. Gambarannya adalah sebagai berikut.

Kalau dilihat Jakarta berwarna ungu yang dari legend artinya Berbahaya. Silahkan kalau mau bersepeda pun tidak apa-apa asal bawa masker. Link yang lain ada juga yang lebih detil membahas kualitas udara berdasarkan titik-titik tertentu [URL].

Situs ini berisi informasi lokasi sensor kualitas udara. Hasilnya dapat dilihat secara detil berikut ini. Kondisi berbahaya ternyata ada saran untuk penduduk berikut ini.

Di sini tampak bahaya bagi kelompok orang yang sensitif. Untuk yang masalah di paru-paru, istilahnya halusnya apa ya, bahasa betawinya sih bengek, silahkan menggunakan masker jika ingin beraktifitas di wilayah tersebut.

Ibu Kota Baru – Nusantara

Pilpres 2024 sudah berlalu dan kemungkinan besar presiden pendukung ibu kota baru yang menang, jadi IKN tetap berjalan (walau siapapun yg menang sih, karena sudah ditetapkan). Terpikir di benak saya keinginan untuk melihat seperti apa sih IKN itu. Mirip istilah Semesta Mendukung (mestakung) yang dicetuskan oleh Prof Yohannes Surya, tiba-tiba ada tugas ke salah satu kampus negeri di Balikpapan. Kebetulan dah.

Seperti biasa, pesawat menuju bandara Sepinggan dari tempat saya lewat Soetta. Berangkatlah ke sana dengan Garuda selama kurang lebih dua jam. Bandara itu ternyata tidak terlalu besar tidak juga kecil, mungkin karena tidak sepadat bandara di kota-kota besar lain seperti Surabaya, Bali, atau Jogja. Namun fasilitas sudah cukup baik.

Karena hari sudah menjelang siang, terpaksa mampir di warung makan Buguri, yang merupakan singkatan dari Bumbu Gurih. Lokasinya di pinggir pantai, dengan pemandangan yang oke banget.

Perjalanan ke IKN karena belum ada toll langsung harus melewati toll ke Samarinda, berbelok ke barat melewati jalan berliku dari lokasi hotal Platinum butuh 1.5 jam. Kabarnya jika sudah ada toll langsung yang melewati muara yang menjorok ke dalam IKN tidak sampai 1 jam.

Banyak kendaraan berat lewat, maklum ada target deadline 17 Agustus 2024 akan ada upacara 17-an di IKN yang dihadiri oleh presiden Jokowi. Nah, ada warung makan Acang, yang dikepalai oleh keturunan Cina yang ternyata enak juga dengan rasa khas masakah Cina.

Setelah shalat, lanjut ke IKN yang melewati jalan naik turun (tidak rata). Setelah tiba tampak pohon-pohon ekaliptus yang biasa dijadikan bahan baku kertas. Sepertinya dulu tempat hutan untuk pabrik kertas.

Sepertinya masih on progress agar bisa jadi tempat rekreasi. Ada satu stan untuk nyewa foto-foto di titik nol IKN. Titik nol ditandai dengan satu gapura kecil buatan Badan Informasi Geospasial (BIG). Lihat orang-orang yang foto, jadi kepengen juga.

Hari ketiga (selasa) entah kenapa tiba-tiba di hotel ramai, banyak polisi, ternyata beberapa hari kemudian (hari jumat), presiden Jokowi menengok progres pengerjaan IKN. Tiga hari ternyata sudah cukup untuk melihat bagaimana kondisi Balikpapan yang sepertinya tidak lama lagi akan ramai. Oiya, jangan lupa beli Mantau rasa sapi lada hitam ya …

Mem-bo-san-kan

Di dunia per-medsos-an, atau mungkin saat ini yg lebih tepat per-tik-tok-an, bosan merupakan indikator kalau suatu konten gagal. Tiap orang berusaha membuang jauh-jauh istilah tersebut kalau ingin tetap diperhatikan. Di sinilah problem untuk bangsa kita, dengan jumlah nitizen yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Apakah ini baik-baik saja?

Untuk menarik perhatian usaha membuat sesuatu itu tidak membosankaan adalah baik, tetapi lebih baik lagi membuat sesuatu yang membosankan menjadi menarik. Mbah surip pernah menyanyikan lagu dengan lirik ” bangun tidur, tidur lagi. Bangun lagi, tidur lagi. Bangun … tidur lagi, hahaha”. Unik juga, sesuatu yang membosankan bisa dikemas menarik.

Sebagian besar kegiatan kita sehari-hari pun bisa dibilang membosankan, akan tetapi toh tetap harus dijalankan. Jika kita perhatikan anak-anak, mereka melakukan sesuatu yang bagi kita membosankan dan tidak menarik dengan keceriaan. Ternyata salah satu prinsip yang mereka jalankan adalah keingintahuan atau kalau dalam bahasa Inggris curiosity. Atau dalam istilah kekiniannya: kepo. Anak-anak ingin tahu segala hal, maka bagi mereka kehidupan tidak ada yang membosankan. Repotnya ketika masuk dunia pendidikan, khususnya pendidikan di negara kita, keingintahuan secara perlahan berkurang.

Saya pernah menghadiri pelatihan seminggu tentang penulisan artikel ilmiah. Dalam kondisi habis sesi ISHOMA, hawa kantuk mulai menyelimuti peserta dan sang profesor pun agak kesulitan dalam mengatasi kondisi membosankan.

Karena ngantuk saya coba untuk menggunakan ke-kepo-an saya. “Prof, mengapa judul gambar di bawah tetapi judul tabel di atas?”, wajah sang profesor pun tiba-tiba cerah. Sepertinya terkejut senang karena ada juga yang memperhatikan. Dia menjelaskan dengan sedikit logika bahwa judul tabel di atas karena tabel tumbuh ke bawah, sementara judul gambar di bawah karena biasanya gambar tumbuh ke atas, walaupun ada gambar tertentu yang memang tumbuh ke bawah, misalnya bagan organisasi. Lihat, sesuatu yang membosankan ternyata bisa juga menarik.

Einstein enggan dibilang orang cerdas, dia hanya ingin dibilang orang yang selalu ingin tahu. Nah, rendah hati bukan? Ya, rendah hati adalah salah satu obat kalau ingin memiliki sifat ingin tahu.

Saya pernah ikut kuliah umum pada mata kuliah tertentu tentang GIS, selesai presentasi beberapa mahasiswa bertanya. Yang unik adalah terkadang pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang berasal dari Jepang adalah pertanyaan yang menurut saya waktu itu biasa saja, kalau tidak ingin dibilang ‘katro’, kalau dalam istilah anak gaul “ya elah, gitu aja kok nanya”. Tapi kalau dipikir-pikir, namanya orang bertanya pasti maksudnya ingin tahu kan? bukan ingin dipuji. Jadi jika ada keingintahuan di hati kita, buang jauh-jauh gengsi, takut dibilang bodoh, dan lain-lain.

Ketika masih mengagung-agungkan gengsi maka salah sendiri jika menderita karena tidak tahu, mirip puisi Khairil Anwar “Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing’. So, agar tidak bernasib malang, buang jauh-jauh gengsi agar tidak ‘malu bertanya sesat di jalan’ menyelimuti kita. Yang tidak sedang tugas belajar pun jika selalu ingin tahu, maka berarti lifelong learning ada dalam diri kita. Oiya, sebaiknya jangan pangkas keingintahuan hanya pada gossip, atau ghibah, atau perpolitikan praktis yang saat ini sedang jadi alat baik media massa ataupun medos agar jadi trending topic, gunakan untuk pekerjaan/tugas sehari-hari juga, dan semoga pekerjaan dan tugas kita hari ini lancar ya gays.