Pendidikan di Tanah Air Beta

Waktu itu saat liburan panjang, secara tidak sengaja channel di TV menunjukkan pembicaraan seorang tua paruh baya yang dikelilingi oleh anak-anak kecil usia taman kanak-kanak. Dia diwawancarai mengenai kondisi pendidikan di Indonesia yang tidak merangsang anak-anak untuk berfikir dengan benar. Mereka hanya dilatih untuk mencari dan mencari tanpa adanya proses berfikir analitis atau logis. Misalnya, di bawah bacaan ada pertanyaan yang jawabannya harus dicari di tulisan tersebut, yang menurut saya saat ini bisa diwakilkan dengan “Mbah Google” atau aplikasi pengolah kata yang banyak dijumpai saat ini. Dan masih banyak kasus-kasus lainnya.

Berikutnya dia mempertanyakan kuliah berbasis kompetensi yang saat ini didengang dengungkan oleh pemerintah. Bayangkan saja, saat ini saya mengajar tiap semester tidak lebih dari empat atau lima mata kuliah, dan saya sudah merasa lelah karena harus benar-benar menguasai walaupun sudah berulang kali mengajar. Sedangkan siswa dibebani enam belas mata kuliah yang harus dia kuasai dan semuanya baru pertama kali diterima (tidak mengulang). Apakah dengan menguasai keenam belas materi itu dengan disertai nilai yang baik menjamin siswa tersebut kompeten? Menarik saat dia menjelaskan: “Kita mengenal nama Rudi, ada Rudi Hartono, Rudi Hadi Hadisuwarno, George Rudi, dlsb. Bayangkan jika Rudi Hartono, Maestro bulu tangkis yang hingga saat ini rekor delapan kali All England berturut-turut belum terpatahkan diharuskan belajar piano, renang, basket, dan sebagainya, tentu saja tidak akan ada Rudi Hartono pebulutangkis Indonesia.”

Terus terang sebagai pengajar di perguruan tinggi, saya pusing juga oleh peraturan DIKTI yang mengharuskan mahasiswa yang akan lulus perguruan tinggi agar menulis di jurnal, mengingat masukan dari sekolah menengah yang kurang diasah sifat analitisnya. Saat mereka hanya menghapal dan memakai suatu rumus, mereka dipaksa untuk membandingkan berbagai rumusan, apalagi menemukan rumusan yang baru. Kecuali kalo memang ingin buat jurnal-jurnalan yang tidak ada hal-hal baru didalamnya, bisa saja sih. Toh hanya untuk syarat. Untungnya Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI) di wilayah Kopertis III membuat surat penolakan mengenai kewajiban menerbitkan jurnal sebagai syarat lulus perguruan tinggi.

Menurut pandangan saya, kita cukup tertinggal dengan negara lain, jangankan level dunia, untuk asia tenggara saja kita masih kalah jauh. Jika diibaratkan riset IPTEK itu seperti tangga, kita berada di tangga paling bawah. Bagaimana untuk naik ke atas? Ya tentu saja dengan meniti tangga satu persatu dengan cepat. Jika dengan Malaysia kita tertingga dua atau tiga anak tangga, ya kita berusaha lebih cepat meniti dua atau tiga tangga itu. Untuk meloncat 12 anak tangga tentu saja tidak mungkin, karena riset itu berkelanjutan. Dari riset terdahulu dilanjutkan lagi, lagi dan terus hingga menghasilkan “State of The Art” (Terkini). Kecuali beberapa orang pintar di antara kita yang cepat menaiki tangga tetapi tidak tersedia tangga, jadilah dia pindah tangga (kerja/mengajar di negara lain). Bahkan di millis soft computing yang saya ikuti, hingga meninggalpun ada yang di negara lain. Untungnya DPR menyetujui anggaran pendidikan yang 20 persen dari APBN. Semoga dimanfaatkan sebaik mungkin agar kami para pengajar tidak “antar anak antar istri (ternak teri)” sebelum mengajar dan mahasiswa berbakat yang kesulitan membayar kuliah karena PTN pun sudah mahal saat ini dapat berkonsentrasi mengasah akal dan skill-nya. Walaupun saya kuliah dulu membayar, toh karena PTN saya sadar bahwa sebagian uang bayaran saya disubsidi oleh negara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s