Berfikir dan Merasa

Selain kemampuan berfikir dan menganalisa, ternyata kita juga dikaruniai oleh insting atau naluri dalam membaca situasi dan kondisi. Kemampuan tersebut harus kita manfaatkan jika ingin hidup lebih mudah. Saya jadi ingat ketika baru tiba dari pelatihan Bahasa Inggris selama tiga bulan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Saat berangkat ke Yogyakarta saya menitipkan STNK kendaraan saya ke Bibi yang mengasuh anak-anak saya, tetapi ketika tiba dari Yogya saya lupa meminta kembali STNK tersebut. Entah mengapa saya tidak menyadari hal itu dan telah melanglangbuana hampir tiga bulan Jakarta – Bekasi tanpa membawa STNK. Anehnya saya santai saja melewati operasi zebra rutin yang dilakukan oleh polisi, dan anehnya pula saya tidak pernah diberhentikn karena polisi hanya memberhentikan secara acak kendaraanyang lewat. Mungkin karena sikap saya yang santai dan tak merasa berdosa, akhirnya tidak distop.

Suatu malam selepas tiba dari kerja, seperti biasa saya melepas dompet saya. Karena diletakan di atas meja yang pendek di kamar, anak saya yang baru berumur satu tahunan dapat mengambilnya. Saya sadar setelah seluruh isi dompet berserakan di kasur dan sambil tidur terlentang anak saya meletakkan dompet yang kosong di jidatnya sambil cengengesan. Dari pengalaman yang lalu lalu, jika dompet saya dimainkan anak sayapasti yang tercabut adalah STNK yang memang ukurannya lebih besar dari ktp atau ATM. Saya terkejut ketika tidak dijumpai STNK dari barang-barang yang beserakan. Habislah itu kamar saya obrak-abrik. Semua ikut mencari, dan sampai keesokan harinya STNK belum juga ditemukan. Saya sempat jengkel dan menyalahkan anak saya atas ulahnya itu (tentu saja tidak bisa karena masih bayi). Sempat juga sehari meminjam kendaraan mertua karena khawatir di jalan ada pemeriksaan oleh polisi. Berbagai informasi sudah saya kumpulkan mengenai langkah-langkah apa saja yang harus ditempuh jika STNK hilang.


Keesokan harinya saya baru sadar ternyata STNK yang saya titipkan ke bibi saat berangkat ke Yogya belum dikembalikan lagi ke saya. Jika dihitung-hitung sudah hampir tiga bulanan. Tadinya saya menyalahkan anak saya, akhirnya jadi bersyukur karena dengan diobrak-abrik isinya oleh dia, saya jadi tahu kalau di dompet saya tidak ada STNK-nya. Saya harusnya “ngeh” saat Allah menunjukkan sesuatu lewat situasi dan kondisi berupa dompet yang berantakan. Seperti pakar-pakar motivasi bilang, tidak ada kejadian yang terjadi secara kebetulan. Ada kekuatan yang memang mengatur kejadianyang terjadi dunia ini, apapun itu, asal kita pandai “merasa” kita bisa tahu pesan apayang Dia sampaikan. Karena hanya nabi-lah yang menerima pesan langsung dari Allah (dialog). Yang membuat saya tersenyum jika kejadian itu teringat lagi adalah ulahnya dengan meletakkan dompet yang sudah diambil isinya di atas jidatnya, seolah-olah mengatakan,” Ayah. . . Pake otak dong. . Di dompet kagak ada STNK-nya nih. .!!”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s