Pilih Waterfall atau Iterasi?

Waterfall merupakan teknik perancangan sistem yang telah lama digunakan. Banyak yang berhasil menggunakan metode ini tetapi banyak juga yang gagal, bahkan kerugiannya pun cukup besar. Hal ini karena tahapan yang mengalir seperti air terjun itu, penentuan keberhasilannya di akhir, yaitu setelah tahap implementasi. Padahal sampai tahap itu telah banyak dana yang digelontorkan.

Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, diperkenalkanlah metode iterasi. Metode ini mempercepat waktu pemodelan seperti metode waterfall (kebutuhan, analisa, disain, implementasi dan test) tetapi diulang kembali pada iterasi berikutnya. Karena satu iterasi merupakan fasa waterfal maka proyek pembuatan sistem informasi mampu mendeteksi resiko ketika satu iterasi terlaksana.

Misalnya iterasi 1 dan 2 pada gambar di atas (diambil dari buku UP karangan Jim Arlow (Arlow & Neustadt, 2005)) tahap requirements hingga test dilaksanakan. Jika sukses maka iterasi berikutnya (konstruksi dan transisi) siap dilaksanakan dan peluang berhasilnya lebih tinggi dibanding tanpa adanya iterasi. Metode iterasi juga bisa mengantisipasi perubahan-perubahan, terutama requirements, ketika di tengah jalan ada hal mendesak yang harus ditambahkan.

Contoh Kasus

Di suatu kampus tidak ada SIM yang mengelola baik urusan akademik (KRS, Bimbingan, dll) maupun urusan kepegawaian (absen, surat menyurat, dll). Kampus tersebut mencoba untuk membuat proyek pengadaan SIM tersebut dengan membayar perusahaan yang bersedia membuatkannya. Metode yang digunakan adalah waterfall dimana pihak kampus menunjukan alur proses dan kebutuhan-kebutuhannya lengkap. Setelah beberapa tahun ternyata tidak jadi walaupun uang sudah banyak keluar.

Kemudian vendor pun diganti. Rancangan sudah dijalankan, namun hampir dua tahun belum juga terlaksana. Sepertinya proyek tersebut terlampau sulit dan besar bagi vendor pembuatnya. Testing dan implementasi tak kunjung terlaksana karena seluruh requirements belum beres. Terpaksa manual masih dijalankan total.

Di awal perkuliahan, seorang dosen menanyakan e-learning, apakah sudah tersedia. Pihak IT mengatakan sudah, dan akun pun dibuatkan untuk dosen tersebut. Namun, baik mata kuliah maupun siswa tidak ada. Ketika ingin mendaftarkan mata kuliah yang ingin diajarkan, ternyata tidak bisa. Ketika menanyakan ke pihak IT jawabannya adalah mata kuliah didaftarkan oleh pihak rektorat. Namun pihak rektorat belum siap. Padahal si dosen hanya membutuhkan alat/tools untuk berkomunikasi, memberikan materi (text atau video) ke siswa. Pihak IT pun dengan “PD” mengatakan ke dosen tersebut bahwa e-learning akan dibuat canggih seperti universitas terbuka (UT). Tentu saja dengan kata “akan” yang artinya entah kapan. Akhirnya dosen tersebut menggunakan Whatsupp untuk berkomunikasi dengan mahasiswa, dan berhasil secara efektif.

Bagaimana jika menggunakan metode iterasi? Tentu saja mudah. Lakukan saja yang urgen terlebih dahulu, misalnya yang melibatkan perkuliahan. KRS online dan informasi nilai UTS dan UAS. Buat e-learning sementara yang dengan fleksibel pengajar berinteraksi dengan si mahasiswa. Toh tidak e-learning murni dimana nilai dan perkuliahan tidak 100% online. Lalu jika sudah OK, buat iterasi berikutnya yang menambahkan fitur-fitur SIM tersebut hingga sempurna. Dengan metode iterasi ini, pihak kampus bisa langsung menerapkan SIM, berbeda dengan metode waterfall yang menunggu 100% jadi baru diterapkan entah kapan, yang beresiko mengalami kegagalan seperti sebelumnya. Tapi tetap saja keputusan di pihak kita, menggunakan metode waterfall atau iterasi, kedua-duanya berpotensi berhasil, hanya saja iterasi memiliki resiko yang lebih kecil, katanya .. silahkan baca buku-buku yang bertema analisa dan disain sistem informasi baik konvensional atau berorientasi obyek. Sekian semoga bisa menginspirasi.

Referensi

  • Singer, PW., & Cole, A. Ghost Fleet… Ups .. sorry salah
  • Arlow, J., & Neustadt, I. (2005). UML 2 and the Unified Process (Second). United States: Pearson Education Limited.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s