Menulis Artikel Ilmiah atau Menulis Buku?

Kalau kita perhatikan dunia pendidikan tinggi di lingkungan kampus kita masing-masing, akan tampak dosen yang pakar dengan bidang tertentu seperti mengelola jaringan, membuat web, atau aplikasi lainnya. Tetapi mereka minim sekali mempublikasikan artikel ilmiah (yang bukan buku). Mengapa bisa terjadi? Postingan ringan kali ini hanya analisa singkat mengenai fenomena ini.

Buku & Kepakaran

Dari taman kanak-kanak kita sudah mengenal buku. Dari yang berisi informasi hingga panduan mengerjakan sesuatu. Buku biasanya berisi ilmu-ilmu yang sudah established atau sudah fix, hampir tidak ada perdebatan besar mengenai kontennya. Pengarang dalam menulis buku mengandalkan kepakaran dan pengalamannya. Namun tentu saja tanpa sesuatu hal baru, penulis buku tidak bisa menulis suatu artikel ilmiah di jurnal atau seminar-seminar. Coba saja menulis artikel yang isinya pembahasan materi dari buku, sudah dipastikan akan ditolak oleh pengelola jurnal. Kecuali kalau memang jurnal itu kekurangan tulisan, tentu saja dengan modifikasi di sana sini.

Jurnal ilmiah

Jika buku biasanya ilmu-ilmu yang sudah baku berasal dari puluhan tahun lalu, jurnal berisi temuan-temuan baru kurang dari sepuluhan tahun. Bahkan artikel yang baru terbitpun sesungguhnya diteliti sekitar satu hingga tiga tahun, tergantung berapa lama proses revisinya. Bahkan ada naskah yang proses revisi hingga sembilan tahun.

Aktif Menulis Buku & Artikel Ilmiah

Jadi apakah penulis buku yang kebanyakan pakar berpengalaman tidak bisa menulis artikel ilmiah di jurnal dan sebaliknya penulis aktif di jurnal kesulitan menulis buku? Menurut saya baik menulis buku maupun jurnal bisa oleh penulis yang sama. Sedikit penjelasannya adalah berikut ini.

Ambilah contoh seorang pakar menggali sumur pantek di perumahan. Dia memiliki segudang pengalaman dalam membuat sumur itu. Tentu saja dia bisa membuat buku mengenai tatacara menggali dan menemukan lokasi sumurnya. Tetapi untuk menghasilkan suatu artikel ilmiah dia harus menemukan hal-hal baru ketika melakukan aktivitas menggalinya. Ditambah dia harus aktif mengikuti perkembangan terbaru masalah gali menggali. Jika dia hanya fokus ke menggali sumur, beres, menerima bayaran, dia tidak akan bisa menemukan hal-hal baru dan menulisnya dalam suatu artikel ilmiah. Begitu juga dengan seorang dosen, misalnya mengajar jaringan komputer. Jika dia hanya berfokus mengajar “crimping”, setting IP, dan sejenisnya saja, atau sekedar menjalankan tugas me-maintain jaringan di institusinya, tentu saja tidak bisa dihasilkan suatu artikel ilmiah tanpa hal-hal baru dan mengikut perkembangan jaringan komputer terkini lewat jurnal-jurnal.

Terus terang ketika studi, saya mendapati rekan-rekan yang jago di mata kuliah tertentu, tetapi ketika riset mengalami kesulitan dan terhambat lulusnya, apalagi doktoral mengharuskan adanya publikasi di jurnal internasional. Sebenarnya perlu adanya sikap ingin tahu yang lebih, disertai ketidakpuasan mengenai metode-metode yang saat ini ada, agar diperoleh “gap” antara ilmu terkini dengan masalah yang dijumpai. Research Question yang ditemukan merupakan obor yang memicu seorang untuk meneliti. Oiya, untuk yang sedang riset disertasi, jangan harap bisa menemukan jawaban langsung dari internet, buku, atau bahkan bertanya ke supervisor karena memang masalah tersebut belum terselesaikan dengan tuntas, bahkan belum ada jawabannya. Selamat menemukan hal-hal baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s