Tulisan Terbaik Yang Sekaligus Terburuk

Menilai lebih mudah dari membuat. Coba baca satu artikel pada jurnal bereputasi, misalnya satu paragraf saja. Tampak mudah dibaca dan mengalir lancar. Terlihat sederhana dan mudah dipahami, namun ketika kita mencoba membuat seperti itu, menit berlalu, bahkan sudah berjam-jam, belum juga bisa membuat tulisan seperti itu.

Teringat ketika membuat skripsi waktu S1. Selesai menulis dan sidang akhir, saya merasa banyak salah tulis, baik dari tata bahasa maupun kesalahan-kesalahan lainnya. Anehnya waktu itu lulus tanpa revisi, yang menjadi misteri bagi saya bertahun-tahun.

Ketika mulai bekerja sebagai pengajar di salah satu kampus di Jakarta dan membimbing tugas akhir. Banyak siswa yang ternyata memiliki masalah yang sama dengan saya ketika menjadi mahasiswa dahulu, yaitu menulis. Mengingat kejadian waktu saya kuliah dahulu, jarang sekali saya memberikan revisi yang banyak ke siswa, dan menolerir kesalahan-kesalahan yang tidak penting.

Waktu kuliah S2 saya mengalami kejadian mirip S1, yaitu tanpa revisi. Tetapi hal ini terjadi karena saya sidang ulang akibat ada masalah administratif dengan sidang pertama. Alhasil sidang ulang hanya seperti diskusi saja. Nah, yang agak unik ketika disertasi.

Jenjang S3 membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding level lainnya, baik dari sisi eksperimen maupun penulisan laporannya. Ditambah lagi syarat publikasi di jurnal internasional bereputasi membuat mahasiswa harus mampu menulis. Namun jangan khawatir, karena tulisan hanya melaporkan saja apa yang telah dilakukan, akhirnya pasti akan selesai juga.

Tiap kampus berbeda-beda dalam tata cara sidang. Kebetulan di kampus saya sebelum disidangkan, naskah harus dicek oleh dosen luar kampus. Revisi dari luar pun hanya istilah-istilah tertentu yang harus diganti, mengikuti standar yang ‘lebih umum’, dan menghindari bentuk-bentuk jargon tertentu. Tidak ada revisi besar.

Nah, uniknya walau saat sidang terjadi kontroversi mengenai kesimpulan, akhirnya salah satu penguji menyetujui format kesimpulan yang ada di tiap bab pembahasan, mengingat bidang saya multidisiplin maka ketika pembahasan pada bidang ilmu komputer di akhir bab dimasukan pula kesimpulan bidang ilmu komputer. Bab yang membahas perencanaan tata ruang, di bagian akhir bab diisi pula kesimpulan bidang tersebut, dan seterusnya hingga ada kesimpulan umum di akhir tulisan.

Saat itu saya berencana merevisi sesuai argumen salah satu penguji karena menurut saya benar. Ketika menghadap dosen pembimbing dan mengutarakan maksud saya ternyata di luar dugaan dia tidak setuju. Kalau pun mau merivisi sedikit saja, sambil menjentikan jari ke saya memberi kode berarti ‘sedikit sekali’. “Disertasi adalah tulisan terburukmu”, lalu malah menanyakan tulisan paper-paper berikutnya yang perlu di-publish. Dengan kata lain berarti tulisan saya berikutnya harus lebih baik dari disertasi saya tersebut. Ternyata itu jawaban tidak pernah revisi selama ini. Artinya tulisan terakhir kita, walaupun kita anggap tulisan terbaik, sekaligus menjadi tulisan terburuk, karena tulisan kita berikutnya harus lebih baik lagi.

Kalau pun revisi, itu pun dianggap edisi tersendiri dalam sebuah terbitan seperti gambar di bawah. Sekian semoga bisa menginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.