Kekalahan

Satu kata yang menjadi judul postingan ini sangat dihindari oleh kita. Namun sesungguhnya tanpa ada kata tersebut tidak ada lawan kata lainnya, yaitu kemenangan. Postingan ini sedikit membahas kondisi timnas Indonesia yang di leg 1 kalah 4 – 0 dari Thailand, setelah di awal-awal menunjukan kinerja yang menjanjikan, yaitu mengalahkan Malaysia dan imbang dengan Vietnam.

Thailand bagi saya tidak asing karena hampir 5 tahun tugas belajar di negeri gajah putih itu. Negeri kerajaan itu sangat berbeda dengan negara-negara asia tenggara lainnya. Perpaduan antara modernisasi dengan adat istiadat ternyata bisa melahirkan budaya kuat bagi rakyatnya.

Negara penganut Budha tersebut sangat menghormati biksu dan rajanya. Percaya dengan karma dimana perbuatan akan dibalas setimpal menyebabkan rakyatnya berfikir dua kali untuk berbuat jahat. Bahkan ketika kita menepuk nyamuk dengan amarah di depan mereka, tatapan mereka langsung terlihat kecewa, terutama di daerah pinggiran kota. Ketika berburu durian di pasar Thailand malam hari, tampak para pedagang lebih suka tidur dengan kelambu dari pada membakar obat nyamuk atau menyemprot pembasmi serangga.

Di bandara sering berjumpa dengan rombongan remaja Thailand yang menyambut para pemain yang mewakili negaranya, entah pertandingan apa. Tampak wajah sumringah para pemain ketika disambut. Saya yakin di dunia maya pun perlakuannya akan seperti itu. Para pemain yang mewakili negaranya, juga mewakili raja akan berjuang mati-matian. Ketika pulang pun akan disambut tidak perduli menang atau kalah.

Di berbagai bidang negara tersebut sebenarnya memiliki bibit yang tidak beda dengan negara kita. Namun keseriusanlah yang membedakan. Bayangkan saja, negara yang memiliki riwayat tanah yang kurang subur memiliki hasil bumi yang terkenal hasil utak-atiknya. Sampai-sampai istilah ‘bangkok’ menggambarkan buah yang super besar seperti jambu bangkok, pepaya bangkok, ayam bangkok dan lain-lain.

Untuk memulainya ada baiknya kita serius dalam segala hal. Bahkan sebagai suporter pun harus serius. Jangan sampai hanya mengagumi dikala menang saja. Saat terpuruk pun suporter harus sesuai dengan maknanya yaitu ‘pendukung’, bukan sebaliknya ‘pembully’.

Riset yang dilakukan Microsof mungkin ada benarnya, nitizen kita kerap kebablasan dalam memberikan komentar. Sanjungan setinggi langit bisa berbalik menjadi caci maki sejadi-jadinya. Bahkan media masa pun latah dan melihat peluang karakter pembully nitizen sehingga membuat konten ibarat menyiram api dengan minyak.

Tidak ada ruginya menghormati seseorang, apalagi bangsa sendiri. Semoga bangsa kita berjaya seperti era keemasan dulu. Yuk, kita dukung timnas sepakbola dan cabang olah raga lainnya. Udahan dulu ya, mau nonton final leg2 piala AFF . Semoga menginspirasi dan selamat tahun baru 2022.