Oleh-oleh dari Seminar Internasional di Jogja

Kebetulan saya ikut menghadiri seminar internasional Asian Intelligent Information and Database Systems (ACIIDS) 2019. Seminar yang disponsori oleh salah satu penerbit terkenal ini (Springer) sudah yang kesebelas. Sebagus-bagusnya seminar internasional ternyata tetap kalah dengan jurnal internasional dari sisi isi. Tapi dari sisi ide sepertinya tidak kalah, mungkin karena aslinya prosiding itu adalah pengantar riset seorang peneliti yang biasanya bermuara ke jurnal internasional. Dan yang terpenting sebenarnya dari seminar internasional adalah pertemuan dan bertukar fikiran dengan para profesor dari seluruh dunia disamping tentu saja acara jalan-jalannya (tour).

Tema Riset Teknologi Informasi

Kebetulan saya saat ini mengampu mata kuliah Riset Teknologi Informasi, jadi bisa menambah referensi riset-riset yang berkaitan dengan teknologi informasi di dunia saat ini. Computer vision, machine learning, dan sejenisnya masih merupakan riset yang banyak dilakukan saat ini. Ada juga yang melakukan tes dan uji coba menangani data warehouse dengan konsep cubic-nya berupa tabel fakta (fact table) dan dimension.

Begitu masuk ke riset tentang mesin turing (turing machine), di situlah mulai “pusing pala barbie”. Maklum, itu materi yang paling saya benci, walaupun ketika masuk ke teknik kompilasi sebenarnya bidang ini sangat menarik karena kita diajarkan membuat bahasa pemrograman custom sendiri.

Doctoral Proposal

Ada juga sesi yang dihadiri oleh mahasiswa doktoral yang menyajikan proposal risetnya. Di sini mereka akan ditanya oleh profesor-profesor yang mengikuti seminar. Banyak masukan yang diperoleh yang membuat risetnya berskala internasional. Berbeda dengan mahasiswa doktoral yang proposal risetnya hanya dihadiri oleh dosen-dosen lokal, walaupun dosen-dosen tersebut alumni kampus luar negeri. Mungkin ini sedikit komentar yang diberikan oleh profesor-profesor luar yang mengikuti acara khusus mahasiswa doktoral ini yang jika diikuti sarannya bisa meningkatkan kualitas penelitiannya.

Kurang Berskala Internasional

Biasanya jika tema yang diangkat terlalu lokal, misalnya ada yang bertema deteksi rekaman otak yang dikonversikan ke bahasa. Di sini dikritik karena bahasa yang digunakan bahasa Indonesia. Walaupun respondenya orang Indonesia ada baiknya mencoba orang Indonesia yang bisa berbahasa internasional, misalnya bahasa Inggris.

Obyektivitas dalam Tes Performa

Beberapa riset membutuhkan pengujian. Kebanyakan riset yang diusulkan agak sulit mengujinya secara obyektif, biasanya yang bertema-tema “agak sosial” seperti bidang e-learning. Memang bidang ini agak sulit mengecek benar salah dari sistem yang diusulkan, misalnya sistem rekomendasi tertentu di e-learning, apa dasar benar atau salahnya suatu rekomendasi.

Tentang Metode

Metode merupakan topik utama teknologi informasi. Topik ini selalu bermunculan di jurnal-jurnal internasional, jadi saran seorang profesor, mutlak harus membaca studi literatur terkini sebanyak mungkin. Juga hati-hati dengan pengujian performa metode yang diusulkan. Oiya, ada satu proposal yang dikritik karena hanya membandingkan metode-metode yang ada dan repotnya metode yang dikuasai oleh si profesor yang mereview tidak dicantumkan, misalnya Support Vector Machine (SVM).

Format Presentasi Kurang Dipahami

Memang beda presentasi di hadapan dosen-dosen pembimbing dan promotor dengan di hadapan khalayak ramai. Misalnya seorang peserta menyampaikan tema “long term memory ..” tetapi di slide yang dipresentasikan tidak mencantumkan penjelasan mengenai “long term memory” sehingga pendengar agak kesulitan mengikuti alur penjelasan slide kemudian.

Research Question, Hipotesa, dan sejenisnya, wajib kah?

Ini yang saat ini agak berbeda dengan riset-riset dahulu. Sepertinya saat ini pertanyaan penelitian tidak vulgar seperti riset-riset di era 90-an yang mengharuskan hal tersebut dinyatakan secara eksplisit. Begitu juga kesimpulan yang harus menjawab pertanyaan penelitian sepertinya agak berubah saat ini. Kesimpulan sendiri dari buku-buku tentang artikel ilmiah mengatakan bahwa kesimpulan merupakan “pemberi kesan” dari suatu artikel. Jika suatu artikel bisa memberi kesan yang membekas bagi pembacanya, bahkan menyampaikan ke orang lain tentang yang ia baca, maka artikel tersebut dapat dikatakan berhasil. Dan bukan hanya formalitas menjawab pertanyaan riset belaka. Begitu pula dengan hipotesa yang biasanya diajarkan dalam riset-riset yang berbau statistik. Oiya, ada bedanya lho riset yang berupa natural science dengan design science. Inilah yang bikin “ribut” antara satu dosen bidang tertentu (misalnya dosen-dosen pertanian, biologi, dan sejenisnya) dengan dosen bidang lainnya (arsitek, sastra, perancang, dan lain-lain). Sepertinya perlu postingan khusus tentang hal ini, sekian semoga bermanfaat.

Milestone Dosen

Dalam melaksanakan suatu pekerjaan ada satu target yang harus dicapai. Terkadang target tersebut tidak memiliki tahapan yang jelas. Tidak ada salahnya mencari tahapan-tahapan sendiri yang dalam versi Inggrisnya dikenal dengan “milestone“. Jika kita pergi naik mobil ke Bandung via toll maka akan tampak suatu rambu yang menjelaskan berapa kilometer kita sudah melangkah, nah istilah milestone diambil dari situ.

Pangkat

Misal seorang dosen dalam karirnya ada jenjang yang menunjukan peningkatan kinerjanya, diistilahkan dengan kepangkatan. Dari tenaga pengajar, seorang dosen terus meningkatkan kinerjanya, lanjut ke asisten ahli, hingga berakhir ke profesor/guru besar. Beberapa kampus kurang memperhatikan kepangkatan dosen-dosennya, tetapi ada kampus yang sudah mulai melayani peningkatan kualitas dosennya dengan mengurusi proses kenaikan pangkat, bahkan dari pemberkasan. Dosen tinggal menjalankan fungsinya saja dan ketika saatnya naik pangkat, bagian yang mengurus kepangkatan langsung bekerja mencatat, mendokumentasi, hingga mengajukan ke LLDIKTI.

Bagaimana dengan yang sedang studi lanjut? Untuk yang satu ini tiap kampus memiliki karakter masing-masing. Beasiswa DIKTI sendiri membedakan program doktoral dengan kuliah dulu dan program yang langsung riset. Biasanya ada selisih satu tahun (dengan kuliah dulu lebih lama setahun). Repotnya, kenyataannya tidak selisih setahun tetapi dua tahun, tiga tahun, atau abadi .. hehe. Tahapan-tahapan tersebut terkadang tidak sama jangka waktunya. Misalnya untuk tahapan-tahapan di tempat saya kuliah, atau yang menganut perkuliahan awal sebelum riset: course work, candidacy, progress meeting, journal acceptance, dissertation writing, external examination, final defence. Course work terkadang bisa lebih dari setahun, maklum karena tuntutan IPK 3.5 ke atas maka jarang doktoral yang ambil satu semester lebih dari 3 mata kuliah, bahkan ada yang tiap semester 1 mata kuliah. Sempat saya kagum dengan mahasiswa dari Nepal yang menurut saya cerdas banget dalam program (ruby and rail), tetapi ternyata satu semester dia hanya ambil mata kuliah itu. Pantas saja jago, siang malam cuma utak-atik itu, sementara saya ambil empat mata kuliah dan kewalahan. Di antara tahapan-tahapn itu fokuslah ke yang “tidak jelas” waktu penyelesaiannya. Misalnya, journal acceptance yang tiap jurnal tidak jelas kapan selesainya, apalagi jika sering ditolak, repot juga. Menunggu naskah yang diterima hingga dua tahun terkadang jadi hal yang biasa bagi seorang mahasiswa doktoral. Itu pun terkadang tidak pasti karena supervisor/advisor bisa memiliki “hak veto” untuk menahan siswa-nya. Kalau begitu tidak ada jalan lain selain berdoa dan nikmati saja perjalanan itu.

Ketika ke Bandung, terkadang kita butuh mampir ke rest area untuk enjoy sejenak. Tapi tentu saja tidak berlama-lama di situ dan harus melanjutkan lagi perjalanan ke Bandung. Begitu pula, terkadang seorang dosen butuh hal-hal lain yang bermanfaat untuk enjoy sejenak. Tapi jangan lupa dengan tangga yang harus dilewati. Ristek-Dikti sepertinya melihat gejalan ini sehingga memaksa para lektor kepala dan guru besar untuk mempublikasikan karya ilmiahnya di tingkat internasional serta terindeks (Scopus, WoS, DOAJ, dll). Kadang tangga yang seharusnya kita lalui tidak memiliki keuntungan material dibanding kegiatan-kegiatan lain seperti menguji kopentensi siswa, uji sertifikasi, pembicara sana sini, dan lain-lain. Padahal tangga yang jika tidak dilalui sekarang, besok belum tentu lebih mudah dilalui, ditambah lagi usia yang memang tidak segesit sebelumnya. Ketika usia sudah melewati masa beasiswa barulah kelimpungan melanjutkan studi ke jenjang wajib bagi dosen, yaitu S3. Tapi untungnya tidak ada kata terlambat, banyak rekan-rekan saya yang memiliki semangat untuk studi lanjut di usia kepala lima, yang jujur saja level ilmunya sebenarnya sudah di level doktor, andai saja dia mengikuti tangga yang seharusnya dilalui ketika usia muda dahulu.

Jabatan

Mirip dengan militer, ada istilah pangkat dan jabatan. Repotnya tidak ada hormat-menghormat di per-dosen-an. Tidak hanya penghormatan oleh dosen lain, bahkan oleh stat tata usaha pun saat ini penghormatan sudah jarang. Bahkan karena berkuasa dalam hal tertentu, seperti yang memegang kunci dan mengatur ruang, seorang dosen terkadang “dikerjai” oleh mereka, tentu saja dengan cara yang halus. Akhirnya banyak yang lebih suka mengincar jabatan karena memiliki kekuasaan yang sepertinya menggoda dan kadang bisa membuat mabuk. Sudah bisa ditebak, ketika menjabat biasanya melupakan tangga yang harus dilalui dan sibuk dengan mainan kekuasaan yang ada di hadapannya.

Pemimpin Akademis

Ada hal-hal yang unik dari dunia akademis, yang berhubungan dengan kepemimpinan. Ada yang beranggapan pemimpin institusi akademik haruslah seseorang yang baik dari sisi tri-darma, terutama sisi riset. Tapi ada pula yang beranggapan bahwa karena pemimpin akademik bermain dari sisi administratif maka tidak perlu seorang calon pemimpin akademis memiliki performa di sisi riset.

Beberapa kampus besar di Indonesia, mungkin di luar negeri, memiliki pemimpin-pemimpin akademis dengan performa akademis yang baik. Pemimpin memang harus memahami apa yang dia pimpin dan akan mengalami kesulitan jika orang yang non-akademis dipaksa menjadi pemimpin akademis. Banyak hal-hal rumit yang khas yang dimiliki oleh institusi akademis.

Seperti dikutip dari artikel ini, ketika memimpin akademis, waktu seorang dosen akan terpecah dan riset-nya pun berkurang mengingat harus melaksanakan kegiatan administratif yang kadang membosankan. Pengalaman saya ketika menjabat, memang terjadi hal-hal yang demikian. Akan merepotkan mengerjakan riset ketika diminta melaksanakan hal-hal administratif. Biasanya kampus yang baik akan menyediakan staf non akademik yang akan membantu pejabat akademik menjalankan kegiatan administratif, tidak seperti yang saya alami, yaitu pejabat sekaligus juga menjalankan fungsi administratif yang membosankan, tidak ada staf, ditambah lagi tim dari tenaga pendukung yang malah tidak mendukung, malah disuruh “memohon” ketika membutuhkan suatu fasilitas.

Sister Ristekdikti – Sister Yang Siap Menjadi “Mother”

Salah satu terobosan Ristek-Dikti yang saat ini sedang mulai berjalan adalah Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi yang disingkat SISTER. Rencananya sistem ini merangkum seluruh informasi dosen yang ada di Indonesia, dari informasi Tri Darma hingga layanan-layanan lainnya seperti: Pengajuan Angka Kredit (PAK), Layanan Beban Kinerja Dosen (BKD), dan yang saat ini sedang heboh-hebohnya adalah Sertifikasi Dosen. Bagi dosen yang baru tahun ini mengajukan diri untuk mendapatkan sertifikasi dosen harus melewati SISTER. Misalnya penilaian rekan sejawat maka rekan tersebut harus telah memiliki akun SISTER.

Mendaftar Sister

Sistem SISTER agak sedikit unik karena server tidak terpusat, kecuali kampus-kampus kecil yang nebeng ke LLDIKTI di wilayahnya. Tiap kampus harus menyediakan server dengan spesifikasi minimal tertentu kemudian menginstal aplikasi SISTER. Server ini akan menampung data tiap-tiap dosen yang kemudian disinkronisasi dan selanjutnya terkirim ke pusat. Manfaatnya adalah beban server pusat jadi terdistribusi ke tiap-tiap kampus.

Untuk sign up tiap dosen harus menyiapkan email masing-masing dosen (bisa yang gratisan). Klik Daftar Di sini untuk mendaftar. Kemudian setelah menemukan NIDN dan Nama maka dengan email itu kita bisa meng-claim NIDN dan nama tersebut milik kita. Nah, di situlah terkadang masalah muncul ketika seorang dosen yang salah meng-claim NIDN dan Nama yang mungkin karena sama namanya padahal NIDN-nya berbeda. Jika sudah maka email verifikasi akan dikirim ke email yang digunakan untuk sign up barusan. Nah, di sini lagi masalahnya ketika salah memasukan email yang pada akhirnya verifikasi nyasar ke email yang salah tersebut.

Sinkronisasi

Data default dari SISTER merupakan data yang diambil dari forlap, seperti NIDN, homebase, penelitian, pengajaran dan sejenisnya. Beberapa kata mesti dibenahi oleh tim SISTER, seperti fakultas Teknik yang ditulis “TEHNIK” seperti jaman Belanda dulu. Sementara data lainnya seperti riset dan lain-lain harus diisi sendiri. Tetapi untuk publikasi, ada fasilitas sinkronisasi yang disediakan SISTER agar pengisian lebih cepat dengan cara menarik data dari SINTA. Buka SISTER dan arahkan ke menu kiri pada Pelaks Penelitian Publikasi karya.

 

Tekan Import Publikasi dari SINTA untuk menarik data penelitian dari SINTA.

 

Setelah itu seluruh data penelitian yang aedea di SINTA akan muncul di sbawah no, judul dan lain-lain. Langkah terakhir adalah Aksi yang terdiri dari Import, Timpa portofolio, dan Abaikan.

Setelah menekan tombol Konfirmasi di bagian bawah kanan, maka seluruh data penelitian akan muncul di data publikasi kita. Hmm .. sepertinya SISTER akan menjadi “Mother”, ibu dari seluruh sistem informasi bagi dosen. Dan karena sudah terintegrasi, untuk kampus-kampus nakal yang suka fiktif-fiktifan agak kesulitan. Selamat mendaftar SISTER.

Berfikir Dalam vs Multitasking

Ketika sosial media bermunculan di tahun 2000-an awal yang dipelopori aplikasi-aplikasi chatting di internet, serta aplikasi-aplikasi di smartphone membuat perubahan pola fikir di masyarakt. Postingan ini terinspirasi dari artikel di the New York Times berikut ini yang membicarakan efek dari sosmed yang mengurangi kemampuan kita dalam berfikir dalam (deep thinking).

Intinya adalah adalah pengganggu kerja (work distraction) saat ini jauh melebihi era-era sebelumnya. Saya teringat ketika kerja kelompok waktu kuliah. Agar mempermudah komunikasi, dibuatlah grup di Facebook. Tidak beberapa lama kemudian, ternyata satu orang tidak update (offline) sehingga mau tidak mau kopi darat. Ketika ditanya kenapa dia tidak online ternyata jawabannya di luar dugaan. “Saya kewalahan, karena seharian tidak bisa kerja akibat mainan facebook”, katanya dengan logat Rusia yg kental.

Intro

Saat ini kita cenderung berfikir dangkal (shallow think), misalnya membaca email, melihat pesan masuk, mengupdate status, atau hal-hal multi-tasking lainnya. Ternyata ketika beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya ada ketidakefisiensian yang diberi istilah attantion residue. Every time you switch your attention from one target to another and then back again, there’s a cost.Ketika dari satu aktivitas kembali ke aktivitas utama ternyata membutuhkan usaha yang lebih sehingga ibarat kendaraan, bensin jadi boros. Berikut tip dan trik dari artikel tersebut agar bisa berfikir dalam di era yang banyak sekali gangguan seperti notifikasi email, whatsapp, line, dan sejenisnya.

Bekerja Mendalam (Work Deeply)

Prinsip ini mirip prinsip 90 menit perhari untuk mahir sesuatu yang tidak boleh diinterupsi. Begitu juga dengan bekerja mendalam, kita diharapkan tidak menunggu waktu luang untuk menyelesaikan sebuah tugas. Butuh usaha untuk meluangkan waktu agar hasil selesai sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Merangkul Kebosanan (Embrace Boredom)

Teknik yang unik. Intinya adalah jangan bermusuhan dengan kebosanan karena jika dianggap musuh maka biasanya kita akan melawan dengan aktivitias-aktivitas yang tidak pro berfikir mendalam seperti lihat-lihat Facebook, update status, dan lain-lain. Jika kita sedang mengerjakan sesuatu dan muncul rasa bosan di dalamnya dan kita lawan dengan hal-hal sederhana di atas maka otak kita akan muncul mekanisme yang diberi istilah Pavlovian. Makin sering dituruti maka ketika muncul kebosanan saat mengerjakan pekerjaan penting otak tidak mentolerirnya sehingga konsentrasi terpecah ke aktivitas-aktivitas yang katanya “anti kebosanan” tapi membahayakan itu.

Sunyikan Sosial Media

Riuhnya pilpres di tanah air tidak lepas dari peran sosial media. Aplikasi ini memang memiliki manfaat tetapi juga bisa berbahaya, khususnya terkait dengan kinerja berfikir mendalam kita. Jika dirasa manfaat yang diperoleh tidak signifikan, ada baiknya berhenti total dari bermain sosial media seperti Facebook, Twitter, dan kawan-kawan. Saat ini kemampuan fokus menjadi barang yang langka karena orang cenderung berfikir “enak” tanpa ingin mendalam. Terkadang kita jadi malas mengingat karena ada Google, misalnya.

Mungkin pembaca tidak sepenuhnya setuju. Memang dari pada fokus kepada hal-hal yang mengganggu alangkah baiknya fokus ke manfaat yang didapat ketika fokus ke hal-hal utama dan berfikir dalam tentangnya. Oiya, tulisan di blog pada postingan ini kayaknya masuk kategori shallow think yang membuat jadi lupa bikin buku teks .. hehe. Sekian, semoga bisa membantu mengatasi hambatan rekan-rekan pembaca yang tesis, disertasi, laporan, dan sejenisnya (butuh deep thinking) yang ga jadi-jadi.

Ilustrasi: Woman Fide Master (WFM) Alexandra Botez

Daftar Menjadi Member IEEE

Selain Scopus, IEEE merupakan salah satu pengindek sekaligus menyimpan data riset dalam bentuk digital library. Organisasi yang menaungi listrik, elektronika dan komputasi ini singkatan dari Institute of Electrical and Electronics Engineers. Postingan ini sedikit sharing cara mendaftarnya.

Membuat Akun

Untuk membuat akun di IEEE.org tidak perlu isian yang panjang. Cukup mengisi nama dan biodata singkat, kita langsung memiliki akun di IEEE. Tapi tentu saja belum menjadi member. Apa saja yang diperoleh dengan mendaftakan akun scara free ini dapat dilihat di email konfirmasi setelah create account. Atau langsung kllik JOIN MEMBER saja karena nanti diminta mendaftar akun.

Membuat akun wajib jika ingin menjadi member. Kalau pun tetap mengklik JOIN MEMBER, ketika belum login kita diminta mendafta akun.

Join Member

Setelah cek login akun IEEE, berikutnya jika tertarik menjadi member IEEE silahkan mengklik join member pada tombol di sebelah kanan. Sebagai informasi, biaya member adalah pertahun yang akan habis pada bulan Desember. Jadi daftar di bulan Januari sedikit lebih lama jika daftar di bulan berikutnya. Tapi biasanya ada diskon-diskon di bulan tengah, misalnya Maret ini.

Ada dua pilihan yaitu profesional dan student, dengan harga yang tentu saja student lebih murah. Tetapi karena bulan ini ada diskon dari $78 menjadi $42 karena Indonesia masuk kategori negara berkembang, akhirnya coba daftar.

Mengisi Biodata

Seperti biasa, yang paling melelahkan adalah mengisi profil/biodata.

Bagian yang ber-bintang merah wajib diisi. Setelah itu baru kita memilih apa saja yang akan dibeli.

Item Pembelian

Gambar di bawah adalah item-item yang bisa dipilih untuk masuk ke keranjang belanja (apa saja yang didaftar). Mudahnya, pilih saja yang sesuai dengan bidang kita, syukur-syukur gratis.

Tekan salah satu, misalnya Women in Engineering, dan ketika diklik pastika di “chart” muncul. Sebelumnya jendela harga muncul terlebih dahulu untuk konfirmasi.

Berikutnya adalah format langganan, cetak, elektronik, atau digital. Biasanya diskon pada eletronik dan digital.

Jika sudah, cek kembali keranjang belanja sebelum melakukan pembayaran.

Pembayaran

Pembayaran seperti biasa ketika membeli online. Pilihannya Credit Card, Pay Pal, dan sejensinya. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kita akan terus berlangganan atau tidak. Jika iya, centang persetujuan automatic renewal process. Jika tidak cukup klik “No Thanks”, karena jika kelupaan, bayaran akan jalan terus tiap tahun.

 

Membuat Email Resmi IEEE

Manfaat pertama jadi member IEEE adalah memiliki email resmi (official) dengan at: ieee.org. Kapasitas drive nya juga lumayan besar, sekitar 30 Gb. Masuk ke bagian kiri IEEE.org pada menu: Personalize your IEEE experience. Pilih GoogleApps@IEEE account. Isi email format IEEE yang Anda inginka, mudah-mudahan belum ada yang punya.

Setelah memasukan password, maka akun email @ieee.org akan siap satu jam kemudian.

Kapasitas yang tersedia pun lumayan besar. NOTE: IEEE akan menawarkan login dengan email yang baru, jika tidak maka tolak saja permintaan system tersebut. Jika menerima email ieee.org sebagai akun login, maka akun email yang lama tidak bisa digunakan lagi.

Media Penyimpanan Data

IEEE menyediakan fasilitas penyimpanan data penelitian sebesar maksimal 2 TB, hmm lumayan besar. Silahkan masuk ke fasilitas IEEE DataPortTM tersebut, tentu saja harus menjadi member IEEE dahulu. Sekian, semoga bermanfaat.

Yuk Mereview Artikel …

Salah satu kerjaan sosial para peneliti adalah mereview artikel suatu jurnal. Disebut kerjaan sosial karena hampir semuanya tanpa dibayar. Tetapi namanya peneliti yang juga penulis artikel, pasti senang membaca artikel ilmiah. Seperti seorang penulis novel yang pasti gemar membaca novel, kecuali anekdot Cak Lontong yang ketika temannya mengkritik dia yang berniat menulis buku padahal tidak bisa baca, berkata “kan saya menulis, orang lain yang baca”, hehe. Kebetulan postingan ini sedikit membagi pengalaman mereview, kebetulan akhir-akhir pekan cenderung dihabiskan untuk membaca-baca artikel atau buku ilmiah.

Menjadi Reviewer

Menjadi seorang reviewer biasanya lewat undangan dari pengelola jurnal berdasarkan kepakaran peneliti. Bisa juga lewat rekomendasi reviewer lain. Kepakaran di sini terkadang sangat spesifik, misalnya seorang doktor informatika akan memiliki kepakaran yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Ada yang fokus ke machine learning, big data, perolehan informasi dan lain-lain. Biasanya editor memilih reviewer yang memiliki makalah yang banyak disitasi sebagai indikator kepakaran dan ketersebaran ilmu si calon reviewer. Tentu saja calon reviewer itu boleh menolak, karena yang tahu kemampuan adalah reviewer yang bersangkutan (bila revewer yg ditunjuk merasa kurang ‘pede’. Disamping masalah beban kerja calon reviewer tersebut yang mungkin sangat sibuk.

Tipe-tipe Artikel Ilmiah

Artikel kebanyakan hasil penelitian. Hanya beberapa yang merupakan studi literatur penullis tentang tema yang sedang “in” saat ini. Biasanya ditulis oleh tokoh yang diakui keilmuannya di bidang tersebut, dan tentu saja tulisannya baik dan mengikuti kaidah ilmiah. Dari sisi penerbitan, ada jurnal, seminar, maupun book chapter. Walaupun ada istilah jurnal nasional dan internasional, di postingan ini yang dimaksud adalah internasional karena kebanyakan jurnal nasional tidak melewati tahap review, atau setidaknya hanya formalitas saja, kecuali untuk jurnal-jurnal nasional yang terakreditasi yang proses review nya bisa beberapa ronde.

Hal-hal Yang Direview

Kebanyakan aspek yang dinilai adalah kebaruan (novelty) karena inti dari riset adalah menemukan hal-hal baru. Jika mengulang sesuatu yang sudah dilakukan/direset orang lain maka tidak dapat dikatakan sebagai riset. Masalah di kampus adalah kebanyakan riset mahasiswa S1 hanya menerapkan teori yang didapat, atau membuat alat/aplikasi tanpa ada sentuhan hal-hal yang baru. Jika dikirim ke jurnal internasional pasti ditolak. Tugas berat dari si pembimbing menambahkan hal baru agar bisa dipublikasikan bersama mahasiswanya.

Tiap jurnal/prosiding memiliki point-point tertentu yang sedikit berbeda. Berikut ini contoh ilustrasi kriteria yang muncul saat mereview.

Beberapa seminar biasanya menggunakan sistem review free yang banyak beredar seperti easychair. Format evaluasinya seperti soal pilihan berganda dengan bobot angka yang nantinya dikalkulasi score-nya.

Ada juga EDAS yang berbayar tetapi cukup baik dalam mengelola naskah, apalagi kabarnya saat ini disertai dengan cek plagiarisme. Jurnal-jurnal ternama biasanya menggunakan sistem buatan sendiri seperti Elsevier di atas.

Beberapa manfaat yang didapat ketika mereview sebuah artikel antara lain:

  • Meningkatkan kualitas penulisan
  • Meningkatkan kecepatan membaca
  • Meningkatkan kemampuan bahasa Inggris ilmiah
  • Mengetahui perkembangan IPTEK lebih cepat karena naskah otentik langsung dari peneliti
  • Bisa menemukan ide-ide baru dari naskah yang direview
  • Mendapat pengakuan kepakaran (sertifikat, dan sejenisnya)
  • Memperlebar jaringan antar peneliti, dll

Yah, jika tidak dibayar jangan khawatir, pahala mengalir terus, apalagi jika naskah yang kita review banyak dilihat orang di seluruh dunia. Selamat mencoba.

Update: 27 Maret 2019

Selesai mereview, sebagai ucapan terima kasih, pihak pengelola jurnal biasanya mengirimkan sertifikat bahwa kita telah mereview, contohnya Elsevier yang mengirimkan sertifikat tidak sampai seminggu setelah submit hasil review.

sertifikat review_001

Instal Netbeans di Ubuntu

Netbeans merupakan salah satu Integrated Development Environment (IDE) terkenal untuk pemrograman. Bahasa yang digunakan adalah Java, walaupun di dalamnya bisa juga PHP dan C++. Netbeans merupakan opensource dan dengan gratis dapat diinstal baik lewat platform Windows maupun Linux. Jika ingin murni opensource, instalasi pada Linux merupakan pilihan utama. Postingan ini sedikit men-share instalasi Netbeans pada Linux, khususnya Ubuntu.

Download Netbeans

Jika Netbeans diunduh dengan browser Mozilla pada Ubuntu di link ini, maka otomatis situs tersebut memberikan pilihan platform Linux. Simpan file unduhan tersebut di Ubuntu. Untuk mudahnya pilih All yang artinya seluruh fasilitas yang ada dipilih. Jangan khawatir, ukuran file hanya sekitar 200-an Mb.

Instal JDK

JDK yang sebaiknya versi 8 harus telah terinstal sebelum Netbeans hasil unduhan dipasang. Salah satu situs yang cukup jelas menginstal JDK adalah di sini. Di situs tersebut juga diajari cara menginstal Netbeans lewat terminal, tetapi di Ubuntu saya entah mengapa tidak berhasil meng-create new project. Tapi untuk menginstal JDK bisa berjalan. Dan pastikan JDK terpasang dengan menulis instruksi berikut pada terminal:

javc -version

Instal Netbeans

Akhirnya kita sampai tahap terakhir yaitu instalasi Netbeans yang kode sumbernya telah diunduh. Perhatikan nama file-nya, misalnya yang saya unduh bernama: netbeans-8.0-linux.sh. Juga lokasinya, biasanya pada folder Downloads. Pindahkan saja ke Documents atau folder lain. Ketik dua script berikut ini yang berturut-turut memberikan akses ke file hasil unduhan dan menjalankannya:

chmod +x netbeans-8.0-linux.sh
sudo ./netbeans-8.0-linux.sh

Ketika tulisan ini dibuat, Netbeans masuk versi 10 yang namanya berganti Apache Netbeans. Ada juga versi 8.2, tetapi di sini saya unduh yang di bawahnya sedikit (versi 8.0). Berikutnya tidak perlu dijelaskan di sini karena ketika jendela instalasi Netbeans muncul maka tinggal tekan Next saja hingga selesai. Uji dengan membuat project baru, jika berhasil muncul maka Netbeans telah diinstal dengan benar. Selamt ber-opensource.

Web of Science di Sinta

Sinta terus bergerak memperbaiki sistem penilaiannya. Setelah metode verifikasi dan sinkronisasi di tiap-tiap institusi, satu pengindeks tua dan terkenal, web of science (WoS) masuk dalam daftar perhitungannya. Situs tersebut dikembangkan oleh Institute of Scientific Information (ISI) yang sebelumnya lebih dikenal dengan nama Thomson Reuters (dulu dikenal dengan indeks ISI-Thomson. WoS adalah pengindeks yang pertama kali menerapkan Journal Impact Factor (JIF), sementara saingannya, Scopus, menggunakan SNIP, mirip JIF tapi dengan normalisasi pada tiap journal berdasarkan sebaran sitasi tiap author.

WoS memang sangat ketat dalam menjaga kualitas artikel-artikel yang diindeksnya dibanding scopus. Agak sulit mencari jurnal-jurnal yang diindeks oleh pengindeks tersebut. Sepertinya dengan masuknya WoS ke SINTA diharapkan dapat memacu penulis-penulis artikel ilmiah untuk mempublikasikan di jurnal-jurnal terindeks WoS. Sepertinya SINTA berusaha menjawab tantangan pihak-pihak yang mempertanyakan sistem kerja SINTA yang memang masih terus membenahi diri. Mirip Scopus, untuk mencari artikel harus login terlebih dahulu (tidak free).

Kalimat Ampuh “What Do You Want?”

Kalimat sederhana di atas merupakan kalimat penting yang diucapkan oleh wakil rektor urusan kemahasiswaan di tempat saya kuliah dulu. Waktu itu karena berbagai sebab saya menghadap ke rektor yang kebanyakan tugasnya menghadapi mahasiswa-mahasiswa bermasalah seperti saya, baik dari sisi akademik, keuangan, dan masalah-masalah lainnya. Tentu saja masalah-masalah saya tersebut tidak dapat saya ungkap di sini, tetapi intinya adalah ketika diskusi tidak berjalan dengan mulus sementara waktu terus berjalan, kata pamungkas dari si profesor wakil rektor itu adalah “what do you want?”. Satu kata yang membuat saya “mematung” karena tersadar tujuan saya mendiskusikan hal tersebut dengan beliau yang jadi merembet ke lain-lain. Cukup sederhana, waktu itu saya menginginkan segera diijinkan melaksanakan riset, mengingat sudah 1.5 tahun kuliah doktoral berjalan, dan juga “argo” terus berjalan.

Mungkin sudah budaya di Indonesia yang gemar “menutupi” segala hal yang kita inginkan. Berbeda dengan budaya luar, khususnya dunia barat yang cenderung to the point. Ada kalanya memang baik karakter menutupi tersebut untuk menjaga perasaan orang. Tapi repot juga kan menahan lapar gara-gara ketika ditanya apakah mau makan kita bilang “terima kasih tadi sudah (padahal belum)”.

Banyak berita yang dishare di media sosial yang jika saya baca intinya sederhana jika diekstrak dengan pertanyaan “what do you want” tersebut. Tidak ada yang salah dengan info-info tersebut (kecuali yang hoax tentu saja). Rata-rata berita itu cukup panjang dengan berbagai macam alasan ampuh yang diberikan oleh penulis yang intinya sebenarnya bisa diekstrak menjadi satu atau dua kalimat saja apa sebenarnya yang diinginkan. Bisa saja intinya: “saya ingin lektor kepala (atau bahkan profesor) tapi tidak perlu menulis artikel apalagi buku”, “saya ingin menulis artikel ilmiah tapi tidak perlu indeks-indeksan, apalagi Scopus dan Web of Science, “saya ingin beasiswa S3 walau usia di atas 50 tahun”, dan lain-lain. Tapi tentu tidak ada salahnya kan? Namanya juga keinginan, mudah-mudahan bisa mencerahkan dan tidak tersinggung.


Membuat Database Objek (file *.yap) dengan DB4O

[PBO|TK&TI|PERT3]

Database objek memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan database relasional. Database ini memasukan sebuah operasi ke dalam data objek, sementara database relasional hanya memasukan atribut saja. DBMS yang kebanyakan beredar saat ini menggunakan jenis relasional walaupun beberapa sudah mulai mengombinasikan dengan database objek dalam bentuk Object Relational Database Management System (ORDBMS). Namun beberapa pengembang objek merasa tidak puas dengan kinerjanya karena ketika menggunakan harus merakit menjadi sebuah objek sementara ketika selesai digunakan dibongkar lagi untuk dimasukan ke dalam sistem basis data relasional.

Salah satu alternatif DBMS jika akan menggunakan murni sistem berorientasi objek adalah DB4O. Postingan ini sedikit membahas apa saja yang dibutuhkan untuk mempraktekan program berorientasi objek.

Bahasa Pemrograman

Ada dua kubu yang mempraktekan bahasa pemrograman berbasis objek, antara lain: dotnet dan java. Dotnet di sini biasanya menggunakan bahasa C# dalam suatu IDE terkenal visual studio. Sementara untuk yang opensource dipelopori oleh Java dengan IDE yang terkenal netbeans dan eclipse.

Sistem Basis Data

Silahkan unduh DB4O, yang merupakan singkatan dari Database For Object. Bentuk DB4O adalah Jar file yang ketika tulisan ini dibuat sudah masuk versi 8. Searching saja di Google maka kita dapat dengan mudah mengunduh db4o tersebut.

File Database

Berbeda dengan basis data relasional yang ketika membuat basis data harus menggunakan Data Definition Language (DDL), pada db4o mudah saja, siapkan saja satu file dengan nama ekstensi standar *.yap. Walaupun bisa dengan nama lain, alangkah baiknya menggunakan nama standar *.yap karena agar terhindar dari konflik dengan nama database lain seperti MySQL, SQL Server,Oracle, dll.

Praktek dengan Netbeans

Salah satu IDE Java yang mudah digunakan adalah Netbeans walaupun sepertinya berat ketika dibuka. IDE ini bisa berjalan dengan baik di sistem operasi Windows maupun linux, misalnya Ubuntu. Untuk praktek, siapkan terlebih dahulu Netbeans dan DB4O. Berikut hasil uji coba untuk meng-insert sebuah objek baru dari sebuah kelas yang ada pada db4o. Langkah-langkahnya antara lain:

  • Import jar basis data db4o
  • Masukan nama basis data [1]
  • Buat objek baru [2]
  • Jalankan (RUN) [3]
  • Lihat hasilnya [4]

Sekian, semoga postingan ini bisa menarik minat untuk mempelajari basis data objek lebih lanjut.

Konsep Inheritance pada Objek – bag 2

[pbo|t.inf&t.komputer|pert.2]

Postingan ini kelanjutan dari postingan yang lalu tentang pewarisan. Sedikit diulang, inheritance artinya sebuah kelas mewarisi kelas lain yang merupakan induknya. Karakter ini merupakan kekhasan pemrograman berorientasi objek. Langsung saja praktek, sebagai ilustrasi adalah kelas Person yang akan mewarisi kelas Teacher. Ada ungkapan “dosen juga manusia”, nah untuk inheritance juga sama, Teacher juga Person yang mewarisi ciri-ciri seorang manusia tetapi memiliki ciri-ciri lain yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya.

class with visio

Di sini diambil contoh kelas Person memiliki atribut: nama, umur, dan hobi dengan operasi: bio() dan greeting() yang masing-masing jika dipanggil berturut-turut memunculkan alert biografi dan kata sambutan dari objek yang bersangkutan. Buka mozilla dan masuk developer dengan menekan ctrl-shift-k agar muncul jendela developer. Buat sebuah kelas person:

function Person(first, last, age, gender, interests) {
this.name = {
‘first’: first,
‘last’ : last
};
this.age = age;
this.gender = gender;
this.interests = interests;
this.bio = function() {
alert(this.name.first + ‘ ‘ + this.name.last + ‘ is ‘ + this.age + ‘ years old. He likes ‘ + this.interests[0] + ‘ and ‘ + this.interests[1] + ‘.’);
};
this.greeting = function() {
alert(‘Hi! I\’m ‘ + this.name.first + ‘.’);
};
}

Tambahkan sebuah objek baru dengan nama variable person1.

var person1 = new Person(‘Bob’, ‘Smith’, 32, ‘male’, [‘music’, ‘skiing’]);

Berikutnya buat kelas Teacher dengan karakteristik yang sama dengan Person hanya memiliki satu tambahan atribut yaitu subject dan satu operasi yaitu farewell().

function Teacher(first, last, age, gender, interests, subject) {
Person.call(this, first, last, age, gender, interests);
this.subject = subject;
}

Perhatikan kata kunci call yang memanggil atribut yang dimiliki kelas Person dan menandakan kelas Teacher tersebut mewarisinya. Hanya saja ada tambahan baru yaitu subject.

Teacher.prototype.farewell = function() {
alert(this.name.first + ‘ has left the building. Bye for now!’);
};

Perhatikan teknik menambah operasi di sebuah kelas, dengan kata kunci prototype. Biasanya bermanfaat ketika akan menambah operasi tidak sekalian membuat kelas (tambahan). Ok, berikutnya menguji kelas Teacher apakah mewarisi Person? Buat satu objek.

var teacher1 = new Teacher(‘Dave’, ‘Griffiths’, 31, ‘male’, [‘football’, ‘cookery’], ‘mathematics’);
Jalankan operasi:
teacher1.bio()
teacher1.farewell()

Uji dengan person1, apakah bisa menjalankan operasi person1.farewell? Seharusnya tidak karena hanya milik kelas Teacher, sementara Teacher bisa menjalankan operasi bio() milik induknya.

Pastikan alert muncul. Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Problem – Windows Can’t Find Target Pada Netbeans

Lama juga tidak menggunakan Netbeans, ternyata sudah versi 10, padahal dulu pakai yang versi 6. Kini menggunakan versi 8, itu pun sebagai pendukung perkuliahan “pemrograman berbasis objek”, terutama untuk bagian prakteknya. Saat mengimpor file Jar sistem basis data objek db4o ada pesan yang sedikit mengganggu berikut:

Terus terang agak membingungkan mengingat versi-versi sebelumnya tidak ada masalah. Tetapi ketika ditekan OK kira-kira beberapa kali, netbeans tetap berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Mungkin ada sedikit “block” dari Windows, terutama windows 10 dengan platform 64 bit. Terbukti db4o berhasil ditarik ke paket yang akan digunakan (pada folder library).

Tampak db4o versi 7 yang baru saja diunduh dari sini berhasil ditarik ke Libraries walaupun beberapa kali muncul pesan mengganggu di atas. Yah, selama masih berjalan tidak apa-apa yang penting praktek tetap berjalan. Untuk membuktikannya ketika diketik instruksi import di bawah paket, bantuan muncul, menandakan library berjalan dengan baik.

Selain dengan Java (Netbeans, Eclipse, dll), db4o dapat berjalan juga di lingkungan .NET buatan Windows. Sepertinya ada sedikit persaingan dua platform itu. Semoga postingan ini bisa mengurai masalah ini minimal ada kasus seperti tersebut di atas yang mungkin saja terjadi kepada pembaca sekalian. Komentar berisi penyelesaian hal mengganggu ini tentu saja saya butuhkan, walaupun untuk sementara masih bisa berjalan.

Skripsi – Apa & Untuk Apa

[riset.ti|r.408|pert.1]

Skripsi dikenal juga dengan nama Final Project untuk jenjang Strata 1 (S1). Untuk jenjang diploma diberi nama tugas akhir. Skripsi terkadang menjadi momok yang menakutkan bagi para mahasiswa yang terkadang pula menyebabkan tidak selesainya perkuliahan seorang mahasiswa. Hal ini terjadi karena memang skripsi seperti layaknya sebuah proyek membutuhkan perencanaan yang matang, dengan tujuan tertentu dengan waktu yang jelas dan realistis dengan sumber daya yang terbatas (keuangan dan peralatan).

Manfaat Skripsi/Final Project

Terlepas dari penting atau tidaknya skripsi, ada manfaat yang bisa dipetik dari pelaksanaan skripsi:

  • Belajar lebih dalam. Ada peluang dengan skripsi seorang mahasiswa terpaksa belajar lebih dalam dibanding materi perkuliahan.
  • Langkah awal sebelum bekerja. Skripsi mempersiapkan mahasiswa untuk terjun dalam kehidupan/problem nyata dengan mempraktekan keahlian/skill yang diterima selama perkuliahan.
  • Mempersiapkan kelanjutan studi. Skripsi juga sebagai persiapan seorang mahasiswa jika ingin lanjut ke jenjang yang lebih tinggi dengan lebih mengeksplor permasalahan serta belajar melakukan proses-proses penelitian.

Atau dengan bahasa yang sederhana, skripsi memiliki dua tujuan utama yaitu dari sisi edukasi (critical thinking, kemampuan bekerja independen, kemampuan menerapkan metode ilmiah, dan kemampuan mengungkapkan ide baik lisan maupun tulisan) dan aspek penelitian dimana mahasiswa turut berkontribusi mengembangkan IPTEK dengan mengisi gap penelitian (research gap) yang ada. Poin penting adalah pada critical thinking yang mengharuskan mahasiswa tetap berfikir logis dan sistematis.

Aktor yg Terlibat

Pemain utama skripsi adalah mahasiswa yang bersangkutan. Berikutnya adalah dosen pembimbing (supervisor) dan dewan penguji (examiner). Interaksi yang positif diantara ketiganya dapat meningkatkan kualitas dari skripsi yang dilaksanakan. Tentu saja ada aktor-aktor tambahan lain yang mendukung seperti laboran, research collaborator, research participants, dll.

Proses Penelitian

Ada banyak variasi proses pengerjaan skripsi. Biasanya langkah awal adalah masalah administratif yang merupakan otonomi kampus masing-masing. Namun secara garis besar tahapan-tahapan yang selalu dilalui antara lain:

  • Menyusun proposal
  • Mendeskripsikan permasalahan
  • Mengikuti tujuan/objektif skripsi
  • Mengumpulkan dan menganalisa data
  • Membuat kesimpulan dan merancang/mengidentifikasikan riset ke depan
  • Mempresentasikan hasil penelitian dan mempertahankan ide di sidang secara lisan
  • Menyusun dan merevisi laporan akhir/final

Kriteria Keberhasilan

Keberhasilan sebuah final project sangat tergantung dari standar kampus masing-masing. Namun ada kriteria-kriteria standar yang biasanya selalu ada pada tiap-tiap institusi. Yang pertama adalah secara umum, hasil penelitian suatu mahasiswa:

  • Memiliki topik riset yang relevan
  • Topik yang orisinil
  • Temuan yang signifikan
  • Hasil pekerjaan si mahasiswa adalah yang utama

Hasil laporan juga merupakan kriteria penting baik atau buruknya sebuah skripsi:

  • Presentasi hasil yang jelas dan dapat diklarifikasi
  • Tiap bagian report konsisten
  • Argumentasi yang dipilih tepat
  • Mampu secara jelas memisahkan ide sendiri dengan ide orang lain (sitasi)
  • Mampu meramu pustaka dan sitasi
  • Gaya penulisan yang menarik

Selain itu mempertahankan sebuah ide/gagasan merupakan salah satu kriteria keberhasilan pula.

  • Ketepatan berargumentasi
  • Mampu mendiskusikan hasil sebagai respon terhadap permasalahan yang diangkat

Juga hal-hal lain yang tak kalah pentingnya bisa menjadi kriteria sukses atau tidaknya final project¸ seperti:

  • Bagaimana bersikap terhadap pihak yang tidak sependapat
  • Memenuhi tenggak waktu (deadline) dan persyaratan-persyaratan lain yang harus dipenuhi

Demikian pengantar bagi adik-adik yang sedang berjuang dalam kegalauan, siapa tahu bisa membantu untuk segera mempersiapkan diri.

Konsep Inheritance pada Objek – JavaScript

Salah satu kharakter khas dari pemrograman berorientasi objek selain konsep objek adalah konsep inheritance. Konsep ini seperti arti katanya, pewarisan, mirip dengan seorang anak yang mewarisi kharakter orang tuanya, tetapi juga memiliki karakter khas yang tidak dimiliki oleh orang tuanya itu.

Untuk mempraktekannya silahkan buka mozilla firefox lalu tekan ctr-shift-k untuk mengaktifkan jendela developer. Untuk membuat kelas objek, silahkan lihat postingan yang lalu.

function Person(first, last, age, gender, interests) {
// property and method definitions
this.first = first;
this.last = last;
this.age=age;
}

Perlu diketahui, fungsi dalam JavaScript merupakan salah satu tipe objek (silahkan lihat penjelasannya di link resminya). Berikutnya bangkitkan sebuah objek instan dengan nama person1.

var person1 = new Person(‘Bob’, ‘Smith’, 32, ‘male’, [‘music’, ‘skiing’]);

Ketika sebuah objek instan dipanggil maka JavaScript akan menyimpannya. Coba saja ketik person1 maka ketika ditekan titik (“.”) maka akan muncul bantuan seperti tampak pada gambar di bawah ini.

Tampak di atas “age”, “first”, dan “last” yang merupakan atribut yang pada definisi kelas Person diawali kata kunci this. Pilih valueOf() maka akan muncul:

person1.valueOf()
Object { first: “Bob”, last: “Smith”, age: 32 }

Object Constructor

JavaScript menggunakan kata kunci constructor untuk menjabarkan inheritance. Misalnya kita telah memiliki objek person1 dan akan membuat person3 yang mewarisi karakteristik dari person1 yang sudah dibuat sebelumnya.

var person3 = new person1.constructor(‘Karen’, ‘Stephenson’, 26, ‘female’, [‘playing drums’, ‘mountain climbing’]);

Di sini person3 memiliki atribut seperti di atas dengan mewarisi kelas Person. Silahkan ketik: person3.age, maka akan menampilkan 26 yang merupakan umur dari objek person3. Gambaran inheritance dapat dilihat di bawah ini.

Metaheuristic Optimization – Advanced

Metaheuristic pengertiannya telah sedikit diulas pada postingan yang lalu. Di sini sedikit diulas metode-metode yang dapat dikatakan advanced. Namun di sini advanced tidak serta-merta untuk tingkat lanjut melainkan sekedar memberitahukan metode-metode terbaru berdasarkan artikel-artikel jurnal yang sudah diterbitkan.

Metode heuristik terkini dapat diklasifikasikan berdasarkan aliran algoritma pencariannya, antara lain:

  • Mengambil inspirasi dari sifat-sifat alami (nature)
  • Mengambil inspirasi dari sifat-sifat fisika

Sifat-sifat yang diambil dari hukum alam telah banyak diteliti di metaheuristik, tetapi yang terkini dapat dirinci sebagai berikut:

  • PSO, bersasarkan sekolompok binatang dalam mencari makan
  • Dolphin     Echolocation (DE), berdasarkan teknik sonar yang dimiliki oleh lumba-lumba
  • Big Bang-Big Crunch (BB-BC), berdasarkan teori evolusi alam
  • Cuckoo Search (CS), berdasarkan sifat burung
  • Imperialist Competitive Algorithm (ICA)

Sementara itu ada algoritma-algoritma yang diambil dari sifat fisika, antara lain:

  • Charged System Search (CSS) dan Magnetic Charged System Search (MCSS), berdasarkan hukum Coulomb dan Newton
  • Colliding Bodies Optimization (CBO), berdasarkan tumbukan satu dimensi partikel
  • Ray Optimization (RO), berdasarkan hukum refraksi cahaya (snell)

Demikian kira-kira metode advanced metaheuristic yang bisa dibaca dari literatur-literatur baik jurnal maupun buku. Sekian informasinya, mudah-mudahan bisa dijelaskan lebih detil pada postingan berikutnya.