Kita Ingin Diperlakukan Sama

Cepat sekali waktu berlalu, tahu-tahu sudah mulai bulan puasa lagi. Beberapa kegiatan banyak yang numpuk minggu-minggu menjelang bulan penuh berkah ini. Hari jumat ini, sudah bisa ditebak, tema kutbah Jumat pasti tidak jauh dari perintah puasa.

Salah satu ayat yang terkenal adalah Al-Baqarah ayat 183 tentang perintah untuk berpuasa. Yang unik dari surat ini adalah “..sebagaimana telah diwajibkan kepada kaum-kaum sebelum kamu..”. Argumen sederhana yang menyentuh salah satu sifat manusia yang selalu membanding-bandingkan dan iri jika diperlakukan tidak adil.

Perintah sunat pun perlu narasi penjelasan bahwa perintah tersebut telah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya bahkan sejak jaman nabi Ibrahim a.s. Sepertinya sifat ingin diperlakukan sama merupakan bawaan dari manusia.

Ketika diimplementasikan pada kebijakan, hasilnya pun serupa. Kalau tidak membeda-bedakan, hasilnya dijamin akan damai, sebaliknya jika ada perlakuan yang membeda-bedakan, diskriminasi, dan sejenisnya, pasti ada penolakan. Mirip apartaid di Afrika Selatan, atau jaman penjajahan Belanda dulu, tidak akan lama, penguasa akan runtuh. Bukan hanya sekedar sama, tentu ada unsur keadilan juga. Mirip permintaan Nabi Muhammad SAW yang meminta adanya perlakuan khusus untuk umatnya yang umurnya singkat, berbeda dengan jaman nabi-nabi yang terdahulu yang bisa sampai ratusan tahun usianya. Akhirnya diberikanlah malam Lailatul Qadar, yang satu malam jika beribadah setara dengan 1000 bulan atau sekitar 83 tahun.

Untuk pemerintahan yang sebentar lagi berganti, jika ingin damai, sebaiknya kebijakan tidak membeda-bedakan, karena tidak ada yang suka diperlakukan berbeda dengan yang lain.

Katanya Kita Semua Sakit Jiwa

Berbeda dengan sakit fisik/jasmani dimana kita langsung ke klinik, mumpung ada BPJS, sakit jiwa biasanya santai saja, karena kita tidak merasa sakit.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel karangan Sydney Seldom berjudul ‘Naked Face’. Novel ini menceritakan seorang psikiater yang menangani beragam pasien sakit jiwa, dari yang kecil, sedang, hingga parah. Suatu waktu ada seorang pasien yang ternyata istri seorang bos Mafia Italia, yang bermaksud memerlukan bantuan psikiater tersebut untuk menyembuhkan masalah kejiwaan sang suami. Walaupun si wanita tersebut tidak menceritakan bahwa suaminya seorang mafia, tetapi mata-mata si mafia mengetahui bahwa istrinya mengunjungi psikiater.

Alhasil, khawatir rahasia sang bos mafia terbongkar akhirnya nyawa sang psikiater terancam. Walau berat, karena banyak polisi yang jadi antek mafia, alhasil ketika berhadapan dengan si bos mafia, dengan ilmu psikologisnya si psikiater mampu mempecundangi bos mafia sampai tewas. Di akhir cerita si psikiater menangis terus, ketika ditanya oleh sang detektif dengan sedih sang psikiater berkata, “ibarat seorang dokter, si penjahat itu adalah orang sakit yang seharusnya menjadi pasien saya, saya yang ditugasi menyembuhkan tidak seharusnya malah membunuh orang yang sakit”.

Sang psikiater juga mengatakan bahwa setiap orang ada penyakit jiwa yang seharusnya bisa disembuhkan, misalnya luka/trauma lama, dan sejenisnya, atau yang saat ini sedang trend adalah sakit jiwa akibat kalah pemilu.

Oke, sekian dulu tulisan singkat ini, semoga kita yang sama-sama, maaf sakit jiwa, bisa sembuh .. minimal jika belum sembuh tidak memperburuk keadaan bangsa yang sedang berusaha menjadi negara maju ini.

Ingin Begini, Ingin Begitu

Yang suka nonton film doraemon pasti mengenal judul di atas, yang sering muncul saat awal film. Dari bayi yang baru lahir, anak-anak, hingga orang dewasa pasti ingin sesuatu. Bukan hanya itu, organisasi pun ada yang diinginkan. Istilahnya objektif yang akan dicapai. Kalau istilah perusahaan, berbeda-beda, misalnya visi misi, atau istilah lain misalnya north-star metric ala GOJEK.

Google, sebagai perusahaan ternama yang menguasai dunia IT memanfaatkan istilah Objectives and Key Results (OKRs). Istilah ini diperkenalkan oleh seorang kapitalis ternama: John Doerr, dengan formula ternamanya [link]:

I will … as measured by …

Ketika formula tersebut diimplementasikan pada OKRs maka menjadi I will (Objective) as measured by (Key Result). Sangat sederhana, begitu juga waktu pengukurannya biasanya tiap bulan dan bukan tiap tahun. Jika anda ‘ingin’ tapi tidak tahu cara mengukurnya maka itu dikatakan bukan ‘goal/tujuan’. Jadi apapun keinginan Anda harus tahu ukuran ketercapaiannya.

Misal Anda seorang mahasiswa, ketika ingin lulus maka alat ukurnya adalah tentu saja harus bisa diukur tiap bulan jika menerapkan OKRs. Kalau ukurannya nilai mata kuliah, maka itu terlalu lama, so .. nilai tugas, latihan, absen dan lain-lain yang bisa diukur perbulan harus ada. Untuk dosen biasanya diukur tiap semester dalam bentuk beragam, yang jelas untuk yang sudah tersertifikasi bisa menggunakan BKD, untuk per bulan? silahkan cari sendiri.

Untuk yang sedang S3? Nah ini sedikit unik mengingat S3 adalah riset. Banyak rekan saya yang sanggup menjalankan OKR saat di fasa course, tapi kewalahan saat fasa riset. Biasanya mengukur lewat latihan-latihan soal, tugas, dan lain-lain terkait kuliah, kini saat riset harus mengukur progress tiap bulan. Alhasil, karena terlalu lamanya ukuran dari kampus (seminar progress) karena terlena akhirnya tidak sanggup mengejar deadline. Ada satu hal yang diwajibkan saat penelitian, yakni log book. Walaupun ini sekedar mencatat, bisa dimanfaatkan untuk melihat sejauh mana progres yang telah tercapai, sehingga bisa digunakan untuk mencapai objective-objektive kecil yang menjawab objective utama.

Ok, selamat menyelesaikan objektif-objektif Anda, semoga lancar. Jangan terpengaruh objektif-objektif orang lain yang bukan objektif kita ya, e.g., menjadi presiden, DPR, dan lainnya, … nanti dikhawatirkan objektif utama kita malah terlupakan, selain tentu saja membuat tekanan darah kita tidak normal.

Pendapat Anda

Manusia ketika lahir tidak memiliki skill seperti hewan, misalnya kerbau, sapi, kambing, dan lain-lain yang ketika lahir langsung bisa jalan. Manusia harus belajar, entah dari orang tua, lingkungan maupun bangku sekolah. Berbeda dengan seorang pawang/pelatih hewan melatih binatang peliharaan, melatih manusia jauh berbeda karena manusia memiliki kesadaran.

Di tahun 80an, di jaman guru sangat mendominasi, galak, penuh dengan hukuman, sebagian besar siswa cenderung takut mengeluarkan ide, pendapat, dan aspirasi lainnya. Jangankan protes bertanya pun takut, apalagi mengeluarkan pendapat. Berbeda dengan saat ini, guru harus berhati-hati, jangan sampai kebablasan dalam menghukum, bisa-bisa dilaporkan ke pihak yang berwajib. Hal ini ditunjang oleh banyak tools/alat bantu belajar seperti Google dan yang terkini adalah ChatGPT, serta alat bantu berbasis AI lainnya. Kehebatan guru tidak terlau dominan lagi.

Nah, untuk Anda yang mengalami luka lama seperti saya yang mengalami pendidikan di sisa-sisa jaman penjajahan dahulu, ada sedikit trik yang bisa digunakan, khususnya jika akan lanjut kuliah lagi (S3 khususnya). Jenjang S3 memang menuntut adanya Tesis yang berupa pendapat terhadap kasus tertentu yang akan diuji saat sidang, baik progress, tertutup, maupun terbuka.

Pendapat merupakan satu alat ukur mengenai hal-hal yang ada di kepala kita. Misalnya kita membaca sebuah buku, tanpa adanya ‘ujian’ berupa entah pertanyaan terkait buku atau resensi/kritik, kita tidak bisa mengatakan telah membaca buku itu. Pendapat juga merupakan satu alat bantu untuk mencari kebenaran. Berbeda dengan ilmu pasti, khususnya ilmu sosial sebagian besar tidak 100% benar atau 100% salah.

Kemarin, tanggal 14 Februari 2024, sebagian besar penduduk mengeluarkan pendapat lewat pemilu. Di sini rakyat yang beragam tingkat pendidikan, kepercayaan, kekayaan, dan lain-lain menyalurkan pendapat mengenai siapa pemimpin negara 5 tahun ke depan. Kedewasaan kita dalam menerima pendapat yang berbeda diuji, apakah kita marah dengan orang yang beda pendapat dengan kita, ataukah menerima karena tiap orang punya pandangan yang berbeda.

Itulah menariknya manusia, karena memiliki pendapat yang beragam. Suatu malam saat saya tinggal di kos-kosan di Yogya, rekan saya yang suka begadang, asyik mengobrol dengan temannya. Suaranya terdengar hingga kamar tidur saya. Tidak terlalu berisik sih, cuma omongannya membuat kepala saya aktif kembali dan jadi sulit tidur. “Eh, menurut kamu, bintang itu isinya apa ya?”, tanya rekanku di ruang tamu kos yang memang tidak ada atapnya sehingga langit terlihat jelas. “Apa ya?”, jawab teman satunya lagi, sepertinya berfikir keras. “Menurut pendapat saya, itu seperti batu, cuma nyala aja”, jawab si penanya. Upss .. praktis saya jadi ikut mikir di tempat tidur sendirian. Anda yang membaca tulisan ini kalo jadi ikutan tidak bisa tidur .. Sorry ye.

Problem Solving

Jika Anda membaca literatur kuno India, khususnya agama Budha, sesuatu itu muncul akibat ketidaktahuan. Terlepas percaya atau tidak, hal-hal yang dulu tidak ada dan sekarang ada akibat hal tersebut. Kita mungkin sudah lupa atau tidak sadar bagaimana ketika bayi kita tidak tahu bagaimana caranya mensuplai makanan ke tubuh kita. Jadi, ketidaktahuan akan sesuatu memantik problem yang harus diselesaikan. Ketidaktahuan memancing keingintahuan, dan memunculkan ilmu-ilmu baru. Ok, filsafat mungkin memusingkan, postingan ini kita membumi saja.

Problem Jangka Pendek

Dari kecil kita sudah mampu menyelesaikan problem-problem yang tidak perlu membutuhkan pemikiran mendalam. Dengan bertanya, searching di internet, dan kegiatan sederhana lainny bisa menyelesaikan problem sederhana. Repotnya kebanyakan soal-soal di bangku sekolah masuk kategori ini, sehingga ketika anak itu kuliah, ada kebingungan, khususnya ketika muncul problem yang perlu pemikiran mendalam.

Problem Jangka Panjang

Berbeda dengan problem jangka pendek yang sederhana, problem jangka panjang memerlukan pemikiran yang mendalam, terkadang berupa tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang anak/pelajar. Terkadang berbeda dengan problem sebelumnya yang bisa dilakukan lewat kursus, pelatihan, dan sejenisnya, problem jangka panjang membutuhkan effort untuk menyelesaikannya. Usaha tersebut terkadang meminta ‘tumbal’. Banyak rekan-rekan saya yang tidak kuat, sakit, bahkan meninggal dunia. Seorang anak yang cerdas dan terlatih menyelesaikan problem-problem singkat berupa soal-soal ujian terkadang kewalahan ketika problem harus diselesaikan tidak dalam waktu beberapa menit saja, bisa satu hari, satu bulan bahkan satu tahun, yang jika tidak sabar akan mengganggu pikirannya.

Repotnya banyak problem-problem jangka panjang yang butuh pemikiran mendalam harus diselesaikan oleh seorang anak yang harus memutuskan masa depannya, misalnya melanjutkan jurusan/bidang apa, karir apa yang akan diambil, bekerja di mana dan sebagainya yang tidak bisa dilakukan dengan cepat karena harus memikirkan secara mendalam. Bagi yang pernah mengambil doktor, sudah pasti mengenal tipe problem ini.

Salah satu buku ternama ‘furute skills‘ membahas bahwa problem solving merupakan skill utama di atas critical thinking dan creativity ya karena memang problem-solving merupakan induk dari keberlangsungan hidup umat manusia. Jadi cara paling mudah dalam belajar adalah dengan ingin mencari tahu hal-hal yang tidak/belum diketahui. Ketika membaca, kuliah, atau aktivitas lain jika Anda berhasil memancing keingintahuan, dipastikan ada yang ‘berbekas’ dari aktivitas itu … minimal tidak tertidur.

Mengetahui Ringkasan Video Youtube dengan Cepat

Saat ini nonton youtube terkadang lebih mudah dibanding membaca. Tapi bagi pembaca yang terbiasa membaca terkadang menonton bisa menghabiskan waktu beberapa menit hingga beberapa jam. Tentu saja ini sangat membosankan jika diminta mencari ringkasannya. Namun, saat ini perkembangan Artificial Intelligence (AI) sudah dapat mempermudah pekerjaan kita. Postingan ini bermaksud memperkenalkan Anda bagaimana cara cepat mengetahui isi video tanpa perlu menonton full link video youtube, misalnya:

Langkah pertama adalah membuka video tersebut, dilanjutkan dengan menekan view transcript di bagian bawah video tersebut. Setelah tombol ditekan maka transkript akan muncul di bawah. Berikutnya tinggal Anda kopi dan paste saja di sembarang text editor.

Anda bisa membacanya atau dengan menanyakan ChatGPT apa ringkasan atau isi dari transkrip tersebut dengan prompt> rangkum, tulisan ini tentang apa: < paste naskahnya>. Anda akan menerima jawaban yang lengkap. Selamat mencoba.

Sinergi Teknik Informatika dan Sistem Informasi

Teknik Informatika/Ilmu Komputer dengan Sistem Informasi saling bersinergi. Ketika pertama kali merancang device layar sentuh, Apple pada mulanya divisi Teknik Informatika, dengan programmer-programmernya, membuat tablet terlebih dahulu. Ketika sudah selesai, bekerjalah orang Sistem Informasi. Hasil survey ternyata mengejutkan, user banyak yang menginginkan device yang segenggam tangan ukurannya dan mudah dibawa-bawa. Melihat hasil tersebut, segera Apple bekerja cepat membuat device yang lebih kecil dikenal dengan nama Iphone. Hasilnya, sesuai dengan riset, ternyata laku keras.

Sulit dikatakan mana yang lebih penting TI atau SI. Ketika saya di Bank, lulusan SI kebanyakan mengutak-atik schedulling, project analisis, termasuk kebutuhan personel, dan sebagainya. Tentu saja jika dilihat dari salary, melebihi lulusan TI. Namun, tentu saja kebutuhannya pun tidak sebanyak orang TI, waktu itu sekitar 1: 10an.

Beberapa tools sangat diperlukan untuk analisis survey, sebagai contoh video singkat ini yang menggunakan AMOS untuk analisis jalur (path analysis)

PPEPP yang Mirip Backpropagation

Pengelola program studi pasti mengenal Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian dan Peningkatan yang diisitlahkan dengan PPEPP. Ini merupakan siklus yang mengandalakan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Karena konsep, tentu saja sangat rumit bagi yang baru mengenalnya. Oke, jika Anda sudah mengenal metode backpropagation learning dalam machine learning, bisa kita pahami dengan menganalogikan PPEPP dengan proses learning tersebut.

Penetapan

Penetapan merupakan inti dari rencana meningkatkan mutu. Di sini berisi keputusan resmi berupa indikator yang akan dicapai. Dalam machine learning (ML) ibarat target output dari model yang akan dilatih.

Pelaksanaan

Ketika target disertai input yang menghasilkan target tersebut tersedia, maka proses pelatihan berjalan. Dalam pelaksanaannya, model diberi bobot dan bias tertentu, kemudian forward propagation berjalan. Di sini input tertentu diharapkan menghasilkan output sesuai dengan target. Output mengikuti kalkulasi input berdasarkan bobot dan bias yang diset.

Evaluasi

Dalam akreditasi, evaluasi berusahan mencari praktik baik, praktik buruk, dan praktik baru ketika proses pelaksanaan selesai. Nah, di sini jika output sesuai dengan target maka dikatakan praktik baik terjadi, begitu pula sebaliknya. Dalam proses learning, evaluasi ini menghasilkan error, misalnya dihitung dengan standar Mean Square Error (MSE).

Pengendalian

Tahap ini terjadi ketika diketahui adanya praktik buruk, maupun praktik baru yang belum jelas baik atau buruknya. Dalam ML berupa error. Nah, proses pengendalian bermaksud membuat rekomendasi dan revisi terhadap bobot dan bias pada model yang dilatih.

Peningkatan

Tahap ini berisi optimalisasi, yaitu bagaimana meningkatkan, menyesuaikan dan menyelaraskan output dengan targetnya, dalam kampus diistilahkan Indeks Kenerja Utama (IKU) yang berpatokan standar nasional DIKTI, dan Indeks Kinerja Tambahan (IKT) yang berdasarkan kampus yang ingin melebihi standar nasional DIKTI. Bisa jadi adanya perubahan target jika sulit tercapai, atau target yang tidak relevan.

Jadi jika PPEPP berjalan dengan baik, secara logika organisasi akan berkembang ke arah yang lebih baik. Nah, oleh karena itu target yang tepat perlu dibuat karena proses akan mengikuti target tersebut. Makin banyak iterasi yang dibutuhkan, tentu saja membutuhkan waktu dan biaya yang besar, jadi gunakan proses yang efisien dan efektif agar tidak perlu membutuhkan iterasi (dalam backpropagation diistilahkan dengan epoch) yang banyak. Semoga tulisan ini bisa memudahkan pemahaman terhadap PPEPP dalam akreditasi program studi.

Paper of Paperless?

Salah satu kendala pembaca paperless adalah hilangnya kesan membaca buku, dari aromanya, bolak-balik halaman, dan kesan-kesan lainnya yang ada pada buku kertas. Selain itu masalah terpenting adalah kesehatan mata. Berbeda dengan buku yang terlihat dengan memantulkan sinar, pada buku digital (paperless) yang dibaca lewat monitor LCD biasa sinar mengarah ke mata, walaupun sudah jenis yang paling nyaman sekalipun seperti layar AMOLED.

Saat ini e-reader yang memanfaatkan teknologi e-ink sepertinya mulai dicari. Hal ini karena prinsipnya yang menyerupai tulisan di kertas. Dari yang berjenis Kindle, KOBO yang ber sistem operasi sendiri, hingga Onyx, Meebooox, yang ber sistem operasi Android. Masing-masing punye kelemahan dan kelebihan masing-masing. Oiya, jika Anda belum memahami apa itu e-ink silahkan lihat video ini ketika Kindle ‘dihajar’ habis-habisan .. dan uniknya ketika kondisi sudah mati total, tinta elektroniknya masih mencetak lho.

Jika siang hari LCD membutuhkan sinar untuk menampilkan gambar, e-ink justru malah tidak perlu sinar karena prinsipnya yang mencetak tulisan/gambar di dinding layar. Sinar hanya berfungsi seperti lampu belajar yang menerangi buku, di e-reader berarti menerangi tulisan e-ink yang tercetak, jadi aman banget di mata. E-reader Android saat ini banyak dicari, tapi saya masih setia dengan Kindle karena ringan operasinya, mirip buku yang tidak perlu dicas. Baterai bisa tahan 2 bulanan karena memang minim proses di Kindle. Salah satu keluhan yakni tidak bisa reflow text dapat diatasi dengan mengkonversi terlebih dahulu di PC atau Laptop Anda. Jika sudah, Anda tinggal baca dengan nyaman, walau ribuan halaman, mata tidak capai. Lihat video ini yang mengilustrasikan bagaimana membaca paper ilmiah. Jenis bacaan ini membutuhkan persamaan matematis dan gambar/tabel yang jika dengan reflow text biasa hasilnya berantakan, tapi dengan k2pdfopt.exe yang memang diperuntukan untuk Kindle hasilnya ok, bahkan untuk paper 2 kolom tetap nyaman dibaca.

Kalau novel yang berisi hanya tulisan mudah saja, tinggal langsung dikirim ke Kindle online yg langsung mengkonversi menjadi MOBI, atau ekstensi lain standar Kindle. Untuk e-reader Android memang praktis tapi sepertinya sayang, boros energi, kalau hanya untuk dipakai membaca layaknya buku. Kecuali memang ingin membaca perpusnas, gramedia online, dan novel-novel online yang ada di playstore.

Kalau Paper? Tentu saja jatuhnya lebih mahal. Beberapa teman kadang lebih suka print sebelum dibaca tetapi masalahnya butuh biaya, kertas, tinta printer, seperti kasus saya yg macet tintanya dan harus sering-sering dibersihkan (head cleaning), dan barusan flushing karena mampet parah dengan cara seperti video berikut.

Outcome Based

Presiden Jokowi di awal pemerintahan kerap melakukan gebrakan-gebrakan di luar kebiasaan. Dari menteri kelautan yang gemar meledakan para pencuri ikan, hingga menteri pendidikan yang bukan dari praktisi kampus, yakni pendiri Gojek, alias pengusaha. Sikapnya yang ‘gaul’ kerap dianggap kurang menghargai kesakralan institusi pendidikan di Indonesia, yang memang masih ada sisa-sisa pendidikan Belanda, khususnya di kampus-kampus tua.

Terlepas dari itu, apakah kinerjanya baik? Semua terserah pembaca sekalian. Terakhir, mendikbud yang lulusan Harvard ini dicecar oleh anggota dewan, yang mengkritisi nasib guru-guru di daerah 3T, dan mereka tidak menghiraukan penghargaan orang luar negeri yang melihat kinerjanya yang ok.

Di akhir-akhir masa jabatan presiden, uniknya adalah menteri yang bergelar magister itu justru mampu menambah profesor-profesor baru yang dulu terasa ‘seret’. Sistem 400 tim ‘shadow’ (kemudian diralat menjadi mirroring) di tiap dirjen sepertinya mempercepat dan memperlancar proses.

Mungkin salah satu hal yang cukup mengganggu rekan-rekan dosen yang tidak muda lagi adalah beasiswa yang sulit karena syarat umur sekarang masuk kategori remaja (di bawah 40 tahun). Kampus-kampus besar mungkin bisa memberikan beasiswa lokal, tetapi untuk kampus-kampus menengah ke bawah terpaksa menggunakan uang pribadi (dana mandiri). Saya termasuk rombongan beruntung yang memperoleh beasiswa, dan ternyata memang di luar negeri, dosen-dosen kita ke-tua-an. Kita selalu jadi ‘pa RT’, karena paling tua.

Benarkah kita tidak perlu melihat pandangan orang luar negeri terhadap kinerja kita? Saya ingat dulu ketika Habibie ditolak pertanggungjawabannya oleh DPR sehingga terpaksa diganti. Banyak kejadian, orang kita di luar negeri lebih dihargai dari pada di dalam negeri.

Bolehlah kita menghiraukan pandangan orang luar, tetapi kejadian-kejadian saat ini menunjukan hal sebaliknya. Misalnya masalah hukum di negara kita. Ketika 7 tahun yang lalu, dengan framingnya, media bisa membuat Jesica oleh pemirsa dianggap pasti bersalah, tetapi tatkalan orang luar menampilkan netflix berjudul ‘es kopi’, mulailah heboh karena ternyata ada yang tidak beres. Kadang kita memang butuh alat diluar diri kita untuk berkaca. Tidak hanya di kurikulum, outcome-based bisa juga diterapkan dalam sistem kita, hasil nyata sangat penting, seperti kata jenderal Antivirus di film Asterix yang diperankan oleh Zlatan Ibrahimovic, “Why talk when you can fly?”, ok, tunjukan saja karya kita, biar orang yang menilai.

Sidang Terbuka – Perlukah?

Status sebagai mahasiswa merupakan satu aktivitas bekerja juga, mirip jabatan, tugas khusus, dan apapun yang memiliki tujuan yang jelas yakni memperoleh ilmu dan dibuktikan dengan kelulusan. Dosen pun ketika studi lanjut ke jenjang yang lebih tinggi berubah statusnya menjadi mahasiswa. Dualisme itu yang sedikit menyulitkan, khususnya dosen-dosen senior yang telat studi lanjut. Di mana sulitnya? Nah, itu dia, sulit juga menjelaskannya.

Waktu itu, thailand cukup panas, maklum mendekati hari raya Sonkran, hari raya yang terkenal dengan ‘mainan air’, semprot-semprotan, dan sejenisnya. Kalau di Indonesia ya hari raya idul fitri untuk yang muslim, natal untuk yang nasrani. Seperti biasa, siang itu di depan meja belajar, saya melamun. Di sini melamun berarti berfikir keras, mengingat tidak ada jawaban di internet, bahkan pembimbing pun tidak tahu jawabannya. Khas mahasiswa doktoral. Sambil menyeruput kopi Thailand (UFM bakery 50 baht) yang lebih murah dari kopi Vietnam (honkrum 100 baht), tiba-tiba ada telepon dari staf pengajar institut pertanian bogor (IPB).

“Halo apa kabar? Bagaimana keadaan di sana?”, sapa telepon itu. Seperti biasa, walau sedang pusing tapi cukup dijawab dengan dusta, “baik, bagaimana dengan Anda?”. Intinya ternyata hanya bertanya-tanya perihal kampus tempat saya kuliah. Tadinya saya fikir dari tim pewawancara waktu mendaftar beasiswa DIKTI ternyata hanya survey. “Apakah di sana ada sidang terbuka?”, saya jawab kalau seperti di Indonesia yang mengundang orang sekampung, disertai acara makan-makan, pembagian souvenir, dan sejenisnya ya tidak ada. Paling hanya informasi seperti berikut ini.

“Kalau wisuda? Bayar kah?”, tanyanya lagi. Saya jawab ada deposit ketika mendaftar kalau di rupiahkan setengah juta. Tapi setelah wisuda dan kita mengikuti wisuda, uang itu bisa diambil kembali. Mungkin maksudnya agar yang daftar serius, bukan nge-prank. Jadi, baik sidang terbuka maupun wisuda, praktis tidak ada yang bayar. Paling menyiapkan snack dan minuman saja ketika sidang terbuka, itu pun biasanya tidak dimakan oleh promotor dan penguji, malah peserta yang kebanyakan teman senegara, yang menjarah selepas acara. Bahkan kabarnya sudah ‘dipesan’ oleh teman-teman yang senasib sepenanggungan saat acara final defence berlangsung. Seperti ini suasana sidang terbuka [link].

Saya yakin teman-teman saya di negara lain pun sama, sepertinya hanya di Indonesia yang melakukan ritual sidang terbuka seperti hajatan. Beberapa kampus sudah mulai menghapus sidang terbuka, misalnya rekan saya yang kuliah di Brawijaya. Sepertinya jika ingin menjadi kampus internasional, agak merepotkan mahasiswa asing yang ingin sidang terbuka versi kampus Indonesia.

“Sir, how about final defence of mr Haoran Zhang?”, tanyaku ke promotor saya. Sambil geleng-geleng dia mengutarakan kekecewaannya. Katanya dia tidak lulus, alias sidang ulang. Wah, gawat juga. Pantes saya lihat kemarin dia sibuk mondar-mandir bawa alatnya dengan wajah pusing. Beda dengan Indonesia yang sudah pasti lulus, ternyata sidang terbuka bisa tidak lulus juga.

Ada info dari rekan istri saya yang S3, kabarnya ada juga mahasiswa doktoral yang tidak ikut wisuda. Kalaupun ikut, biasanya tidak terlalu wah. Salah satu sebabnya adalah sidang terbuka yang lebih ‘wah’ dari wisuda. Sidang terbuka ibarat wisudah khusus untuk si mahasiswa seorang. Nah, berbeda dengan di kampus saya, ketika ada mahasiswa Indonesia yang lulus doktoral, kampus mengundang duta besar dan atase kebudayaan, yang biasanya selalu hadir dan tidak diwakilkan [link].

Karena sidang terbuka yang ‘biasa saja’ (tapi sangar juga), wisuda jadi sangat hikmat. Bahkan dalam acara tersebut ada dua sebutan, Mr saat masuk gedung, dan Dr setelah pelantikan (pemasangan Hood, seperti sayap di belakang, kalau di Indonesia kuncir di topi wisuda yang digeser ke kiri atau ke kanan (saya lupa) oleh rektor/dekan [link]. Tapi bagi orang Indonesia yang S3 di Indonesia, sidang terbuka bisa jadi kenangan yang indah. Bisa juga jadi sarana jalan-jalan teman-teman si mahasiswa. Bayangkan teman saya yang mau lulus di Brawijaya, ketika ada kabar tidak ada sidang terbuka lagi (katanya kalau publish Q2), acara jalan-jalannya batal dah …

Tak Ada yang Kebetulan

Manusia memang beragam, baik fisik maupun pemikirannya. Ada yang percaya tuhan, ada yang tidak yakin, namun sepertinya kebanyakan meyakini keberadaan-Nya. Beberapa tradisi dan agama mengatakan bahwa keberadaan kita tidak kebetulan melainkan hasil ‘sesuatu’ sehingga banyak dari kita merasakan adanya De Javu, alias sepertinya pernah mengenal sesuatu yang kita jumpai dulu entah di mana.

Waktu sekolah menengah atas karena ikut dengan kakak yang kuliah komputer, terkadang ikut membaca meteri kuliah, bahkan menjadi langganan ‘penyusup’ ketika di sore hari ada praktikum, khususnya internet. Ternyata walau S1 mengambil jurusan mesin, ujung-ujungnya Kembali ke komputer. Waktu itu tema skripsinya kebetulan disain suspense dengan bantuan pemrograman komputer. Nah, Ketika lulus mengajar komputer, sempat bekerja di bank bagian IT. Terus merembet, hingga saat ini aktif mengikuti proyek-proyek yang meng ‘AI’-kan aplikasi-aplikasi di beberapa departemen. Kalau dibilang kebetulan ya konyol juga.

Ok dibilang kebetulan, tapi kalau kebetulan terus menerus ya kita jadi curiga. Sepertinya ada sesuatu yang mengatur. Bahkan lahirnya kita, misalnya saya lahir di Jogja, Indonesia, itu pun pasti bukan kebetulan.

Mengapa pemain bola kebanyakan dari negara dengan sistem pembibitan dan manajemen pelatihan yang baik untuk sepakbola? Sepertinya tuhan menempatkan si pemain itu di lingkungan yang cocok, misalnya Lionel Messi di Argentina, pemain bulu tangkis di Cina atau Indonesia, ilmuwan di Amerika dan Eropa, dan seterusnya. Walaupun untuk personel tertentu seperti Habibie dilahirkan di Indonesia, atau nabi saya, Muhammad SAW, lahir di kaum jahiliyah saat itu.

Ketika berangkat kerja, saya melihat sampah-sampah yang dibuang sembarang, bahkan di kali yang bikin repot petugas yang mengambilnya. Pasti tuhan ada maksudnya, setidaknya saya layak dilahirkan di tempat itu .. wah. Kondisi apapun, seperti kata Jack Ma bisa dijadikan peluang. Katanya, jika Anda tidak bisa jadi yang terbaik, jadilah yang pertama. Ya iyalah, pertama itu berarti inovator. Kadang yang pertama itu hambatannya paling besar, lihat saja di balapan, pasti yang pertama paling berat menahan angin, misalnya di balap sepeda. Paling banyak mendapat cibiran dan penolakan. Teorema de morgan, di masanya dianggap teori orang gila mengingat tidak terlihat kegunaannya, padahal saat ini merupakan bahan baku sistem digital pada komputer. Untungnya dulu belum ada netizen ….

Unifying Goal

Entah dalam bekerja maupun kuliah, terkadang ada tugas yang harus dikerjakan dalam bentuk kelompok. Sebagian besar kelompok yang kita ada di dalamnya biasanya berbeda-beda karakteristik personilnya. Apalagi jika Anda kuliah di luar negeri dengan orang-orang dari berbagai kebudayaan dan lingkungan. Nah, repotnya terkadang tiap personil memiliki goal atau tujuan masing-masing, sehingga goal kelompok harus sejelas mungkin jangan sampai terganggu oleh goal masing-masing.

Peran besar Sukarno pada bangsa Indonesia adalah menyatukan seluruh rakyat Indonesia agar memiliki satu tujuan bersama, alias unifying Goal. Bangsa yang beragam suku, agama, ras, dan adat harus memiliki satu tujuan bersama, tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang terkenal. Pertarungan dua kubu perang dingin Uni Sovyet yang komunis dengan Amerika Serikat yang liberal membuat tujuan bersama bangsa Indonesia ketika itu di tahun 60an kacau balau tak menentu. Efeknya adalah terulang kembali kekacauan di akhir Era Majapahit, alias perang saudara.

Jika tujuan personil mengalahkan tujuan kelompok sudah dipastikan pekerjaan berat bakal dihadapi. Saya pernah memiliki kelompok saat kuliah yang menggabungkan mahasiswa master dengan doktoral. Repotnya adalah mahasiswa magister tidak masalah mendapat B, sementara mahasiswa doktoral harus nilai A, nilai B pada dasarnya tidak lulus. Bayangkan jika mahasiswa magister yang kebanyakan mayoritas di kelompok memiliki tujuan cukup dapat B, dijamin mahasiswa doktoral akan bekerja keras, bahkan menjadi ‘single fighter’ agar minimal B+.

Dalam dunia kerja, misalnya kerjasama antara klien dan konsultan. Memang aslinya masing-masing memiliki tujuan di institusinya, misalnya konsultan memiliki banyak membimbing klien sementara klien mencapai tujuan perusahaannya. Tujuan utama mereka seharusnya menyelesaikan problem klien secepat dan sebaik mungkin, namun jika konsultan mengutamakan tujuan institusi kebanyakan menjaga agar klien tergantung terus dengan konsultan. Ada beberapa instansi pemerintah yang memiliki aplikasi dari konsultan tetapi source code tidak diberikan, kalau diberikan pun ternyata tidak bisa diakses. Sebagian lagi memasang server di tempat lain atau di tempatnya agar klien tergantung dan tidak bisa lepas dari konsultan itu.

Biasanya pemimpin yang baik akan melihat hal tersebut dimana tujuan bersama harus yang utama. Seperti pemimpin bangsa mungkin berasal dari partai tertentu, suku tertentu, agama tertentu, dan lain-lain yang sudah pasti memiliki tujuan individu dan kelompoknya. Namun untuk keberlangsungan bangsa, tujuan bersama harus di atas tujuan kelompok masing-masing, alias Unifying Goal harus tetap terjaga. Repotnya adalah terkadang tujuan kelompok menjadi yang utama sehingga setelah pemilu, ketidakpuasan merajalela, kritik tidak manusia kerap berseliweran di medsos dan media. Parahnya lagi jika pemimpin, misalnya menteri, masih memiliki tujuan kelompoknya menjadi tujuan utama.

Anak-anak muda kita merupakan pewaris bangsa yang di tahun 2045 kabarnya persentasenya tertinggi di dunia. Persentase tersebut tidak ada artinya jika masing-masing berjalan dengan tujuan sendiri dan melupakan bahkan tidak menganggap tujuan bersama. Jangankan tercapainya tujuan bersama, perpecahan bisa saja terjadi. Kalau bisnis mungkin kita bisa memilih bekeja sama dengan siapa, tetapi sebagai satu bangsa tentu saja tidak ada pilihan lain harus bisa bekerja sama dengan bangsa sendiri. Semoga kedepan bangsa kita menjadikan tujuan bersama lebih diutamakan dari tujuan individu dan kelompok.

The Power of One

Istilah Big Data muncul bersamaan dengan perkembangan hardware dan software, termasuk media sosial seperti facebook, twitter, tiktok, instagram, dan sebagainya. Secara sederhana, Big Data dengan konsep volume, velocity, veracity, dan variety, merupakan kumpulan data yang tidak mudah disimpan dalam penyimpanan konvensional [link]. Untuk mengolahnya butuh piranti yang kuat (super computer), dan beberapa software seperti Matlab memperkenalkan konsep pemrosesan Tall Array [link], dimana untuk uji coba digunakan data sederhana, setelah ok baru data yang besar agar ketika testing tidak memberatkan kinerja komputer.

Sebenarnya konsep big data adalah data yang buruk lebih baik dari pada tidak ada data. Namun, jika kurang pandai mengelola data dapat dipastikan hasil kurang relevan, tidak akurat atau tidak bermakna. Jadi Big Data memerlukan satu komponen lain yaitu Algoritma, dimana saat ini penerapannya disertai dengan Artificial Intelligence. Dengan algoritma yang tepat disertai pemrosesan paralel, pengolahan Big Data jadi lebih mudah dan cepat.

Bagaimana dengan “brainware”? Dalam hal ini adalah manusia. Berbeda dengan komputer yang bisa dijalankan secara paralel, kita sebagai manusia ternyata tidak sanggup paralel. Istilah multitasking sebenarnya bukan bersamaan secara paralel melainkan berganti-ganti secara cepat. Repotnya, tiap berganti memerlukan delay yang secara total mengurangi performa. Bahkan ada psikolog yang meneliti ketika mengerjakan suatu tugas psikis, jika sering diinterupsi, kerap terjadi error/kesalahan. Peneliti lain menghasilkan informasi adanya penambahan waktu sekitar 30% jika dua aktivitas dilakukan secara bersamaan dibanding secara serial satu kali finish dilanjutkan dengan aktivitas kedua hingga finish juga [link]. Namun untuk tugas tertentu seperti petugas McD yang menerima pesan sekalian melakukan pembayaran lebih menguntungkan dengan orang yang sama mengingat penambahan waktu 30% tapi menurunkan membayar petugas yang terpisah.

Untuk melatih the power of one sederhana, kerjakan satu aktivitas satu saja, hilangkan gangguan seperti notifikasi, berita yang tiba-tiba muncul di browser, youtube kesukaan, dan sejenisnya. Kemampuan untuk ‘bersikap bodo amat’ terkadang perlu [link], maksudnya adalah menyingkirkan yang tidak penting. Sehingga kemampuan ‘mengupas’ hal-hal yang tidak perlu hingga yang tinggal adalah hal yang perlu dikerjakan, dijamin tugas akan selesai. Prinsip the power of one ini merupakan awal dari prinsip ‘do less and obsess’ konsep yang mendorong seseorang untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dan mendalam daripada mencoba melakukan terlalu banyak hal dengan sekali waktu.

Orang pun senang dengan the ‘power of one’. Manakah yang lebih Anda sukai, berdialog dengan orang yang kerap membaca notif dari HP dengan orang yang fokus mendengarkan dan merespon pembicaraan dengan Anda. Sekian, semoga bermanfaat.

Jangan Lupa Evaluasi

Anda sakit? Anda baik-baik saja? Jika pertanyaan itu dialamatkan ke Anda, apa yang Anda jawab? Mungkin Anda menjawab baik-baik saja, hanya sedikit kolesterol dan kadang magh kambuh. Begitu juga terhadap institusi Anda, mungkin menjawab dengan hal yang sama, misal bisnis lancar, mahasiswa baru masih ada tiap tahun, masih untung, dan sejenisnya.

Dari kecil saya hidup di utara Jakarta, tepatnya tanjung priok. Kehidupan yang keras dimana sumpah serapah sudah biasa. Keponakan saya yang masih kecil waktu itu pun kalau sedikit tersinggung langsung keluar kata ‘anjing’. Uniknya ketika idul adha, melihat kambing lewat dia langsung teriak, ada .. anjing.. ada anjing.. nah lho. Ketika kondisi lagi error, wilayah tempat tinggal saya menjadi tempat pertarungan antar geng, karena lokasinya yang tak tersentuh aparat keamanan. Pernah saya dan teman kecil saya tebak-tebakan di mana tetesan darah yang berceceran di jalan berhenti.

Selang beberapa waktu, saya harus SMA ke Jogja, karena diajak kakak yang kuliah. Jaman itu merupakan jaman yang tidak bisa dilupakan karena masih bermain surat dan sekali saya menerima wesel. “Rahmadya, segera ke tata usaha”, pemberitahuan dari pengeras suara sekolah. Siang itu saya menghadap TU dan diberikan secarik wesel. Untungnya di depan sekolah ada kantor pos, langsung saja ke sana. Sesampainya di sana, petugas melihat wesel, entah apa yang dia lakukan, selanjutnya memberikan uang sesuai dengan jumlah yang tertera. Ya, uang bulanan ternyata dikirim via wesel, waktu itu tahun 1992. Setelah itu karena bank sudah menjamur, kiriman beralih lewat bank. Tapi jangan salah, tidak seperti sekarang yang ada ATM, waktu itu harus ke teller hanya sekedar cek apakah ada kiriman masuk. Agar tidak malu sama teller karena dateng Cuma ngecek isi rekening, biasanya saya dan kedua kakak saya bergiliran ke teller di hari yang berbeda, he he.

Saatnya liburan merupakan hal yang membahagiakan. Dengan naik kereta senja yogya gambir saya tiba dengan lelah, mengingat kereta jaman dulu yang banyak berhenti, tidak seperti sekarang. Baru saja sampai, saya terkaget menghirup udara Jakarta yang tidak senyaman Yogya. Keponakan saya langsung menyambut,”om bandit .. om bandit”. Dalam hati kenapa dia memanggil nama saya bandit, mungkin sulit lidahnya. Untuk menyegarkan badan, saya langsung mandi. Alangkah terkejutnya ketika air PAM dari ledeng menerpa tubuhku. Tidak seperti air di kampung yang menyegarkan, air PAM malah bikin berkeringat. Dalam hati saya berfikir kenapa saya betah tinggal di daerah ini ya bertahun-tahun.

Cerita di atas hanya mengilustrasikan bahwa kita terkadang merasa hal-hal aneh, kurang wajar, kurang sehat, dan lainnya adalah hal yang biasa karena sudah bertahun-tahun menikmati hal tersebut. Ibarat menderita sakit yang lama, jadi tubuh menganggap itu bukan penyakit. Para nabi, juru selamat, dan orang tercerahkan lainnya sejatinya hanya menyadarkan kita akan penyakit yang kita alami. Begitu juga di tempat kita bekerja, karir kita, dan sekitar kita. Terkadang baru sadar ketika terjadi hal-hal yang di luar dugaan seperti jumlah mahasiswa menurun, karyawan baik pindah ke pesaing, adanya kerugian, bahkan kebangkrutan hingga terpaksa dijual.

Petenis juara dunia pun masih membutuhkan pelatih yang membantu menyadarkan kalau servis masih ada kelemahan. Bahkan juara dunia catur pun membutuhkan pelatih yang kalau diadu, si pelatih itu tentu saja kalah. Jadi, mintalah bantuan orang untuk mengevaluasi diri, organisasi, tim, dan lain-lain. Sekian, semoga menginspirasi.