Buruh yang Dihargai vs Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Merana

Pendidikan merupakan komponen terpenting kemajuan bangsa. Tanpa pendidikan, perkembangan suatu bangsa terbatas, mengingat salah satu keunggulan manusia dibanding makhluk lain adalah kemampuannya berpikir, dan mengatasi problem-problem yang dihadapi sepanjang waktu. Negara kita di sisi lain sedang berupaya mengejar ketertinggalannya dari sisi pendidikan, termasuk komponen di dalamnya adalah ketersediaan pengajar (guru dan dosen).

Presiden Indonesia, Joko Widodo, kaget ketika mengetahui lulusan S2 dan S3 negara kita kalah dengan Malaysia [Url]. Untuk dosen, sudah hampir 100% bergelar Doktor di Malaysia, walaupun memang banyak juga sih doktor kita yang mengajar di sana. Namun terlepas dari itu semua memang seharusnya pemerintah mendukung segala usaha untuk meningkatkan kompetensi pengajar.

Dibanding buruh atau pekerja-pekerja lainnya, guru dan dosen sedikit berbeda. Cap ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ sedikit banyak ‘mengerem’ tuntutan praktisi pendidikan. Tunjangan serdos sedikit banyak membantu, tetapi hal-hal lain seperti perpindahan homebase dan ikatan-ikatan dinas tidak masuk akal lain masih menerpa dosen-dosen kita. LLDIKTI sepertinya masih memihak kampus dibanding dengan dosen-dosen. Akibatnya banyak ‘brain drain’ alias migrasi penduduk berpendidikan untuk bekerja di negara lain sulit dibendung selama negara sendiri tidak mendukung. Padahal, sedikit diberi kenyamanan, walau gaji kecil bagi penduduk kita tidak jadi masalah.

Kekompakan asosiasi dosen sepertinya tidak sekuat organisasi buruh. Selama menjadi dosen, banyak fenomena-fenomena yang sepertinya pengajar sedikit berbeda dengan profesi lainnya. Mungkin postingan ini bisa menjadi bahan referensi bagaimana kondisi pendidikan kita, setidaknya dari sudut pandang pengajar dan bisa jadi berbeda antara satu dosen dengan dosen lainnya. Termasuk jika Anda dosen negeri, pasti berbeda pula dengan saya yang dosen swasta di kampus menengah.

Dosen itu Mandiri. Berbeda dengan profesi-profesi lain yang dibentuk untuk mendukung pengguna lulusan, dosen selalu dipersiapkan tanpa disengaja. Memang ada asisten-asisten dosen ketika menjadi mahasiswa yang siap menjadi dosen, tetapi jumlahnya minoritas. Hampir kebanyakan dosen di Indonesia mempersiapkan secara mandiri pendidikan, dari S1, S2, bahkan S3. Banyak pihak yang mengambil keuntungan dari kemandirian dosen, khususnya yayasan-yayasan swasta yang mengelola kampus. Padahal studi lanjut bagi seorang dosen bisa jadi nyawa taruhannya.

Kurang Kompak. Ini merupakan pendapat pribadi saya, seorang dosen yang sempat bekerja di industri (perbankan). Kalau menurut Anda dosen itu kompak, ya semoga pendapat Anda benar. Ketika berencana S3 pun halangan internal menghadang, belum lagi hadapan eksternal. Saat studi lanjut, kebetulan saya mengalami kondisi yang sudah ‘membaik’. Biasanya kondisi buruk akibat sikap pemerintah yang mengambil kebijakan yang parsial. Sering kita mendengar gara-gara si “A”, kita semua dipersulit. Waktu itu saya ingat agar mudah pencairan, ada forum milis yang mempermudah akses ke DIKTI, tapi ternyata ada yang menggunakan email dengan nama asing, akibatnya bubar sudah karena DIKTI ga percaya.

Satu hal yang menurut saya kurang kompaknya dosen adalah tidak saling melindungi, bahkan ada istilah ‘susah lihat orang senang, senang lihat orang susah’. Kalau Anda belum mengalami mungkin tidak percaya. Saya ingat ketika tahun pertama beasiswa, karena situs LITABMAS (sekarang BIMA) tidak ada larangan penerima beasiswa ambil hibah penelitian, saya iseng memasukkan proposal dan ternyata lolos. Repotnya aturan baru membatalkan kelulusan hibah dosen yang menerima beasiswa, dan di luar dugaan, banyak yang bersorak gembira atas aturan tersebut (semoga cuma pikiran saya aja .. tapi ga sampai share ke semua grup lah, udah tahu juga, kan ada LPPM). Untungnya tidak di cancel, tetapi anggota yang menjadi ketua, sementara ketua tidak diperbolehkan ikut serta. Ga jadi masalah sih, yang penting dananya cair .. hehe. Nah, ini membuat kecewa pihak-pihak tertentu (aneh kan?).

Jabatan Fungsional. Kurangnya jumlah profesor di negara kita tidak lepas dari proses pengajuan Jabatan Fungsional (JAFUNG) yang membutuhkan waktu lama, bahkan bisa bertahun-tahun [Post Terkait]. Nah, saat ini ternyata dengan aplikasi yang canggih, bisa hanya beberapa bulan, saya sendiri mengajukan Lektor Kepala pertengahan Desember, Maret sudah selesai. Profesor-profesor muda pun bermunculan. Kondisi terakhir membuat saya khawatir, yakni seorang Profesor yang baru diangkat, kabarnya melakukan pelanggaran dalam publikasi, sekaligus jumlah publikasinya yang disebut tidak wajar (ratusan paper dalam waktu beberapa bulan saja). Yang saya khawatirkan adalah kebijakan parsial yang nanti biasa dilakukan oleh pemerintah, yakni ‘mempersulit’ kenaikan jafung guru besar (profesor). Sebagai sesama dosen, alangkah baiknya melihat sesuatu dengan menganggap kita merupakan bagian di dalamnya, agar ibarat menyembuhkan penyakit tidak merusak bagian lain yang sehat atau yang baru sembuh. Yuk sesama dosen kita kompak. Lebih baik disebut buruh yang dihargai dari pada pahlawan tanpa tanda jasa yang merana.

Kualitas Udara Kita

Kalau kita jalan-jalan ke Jakarta sering kita jumpai tempat/jalur pesepeda yang kadang-kadang diisi oleh motor. Saya lihat pesepeda rata-rata cukup lengkap dari seragam, alat minum, hingga asesoris-asesori lainnya. Sempat terpirkan bagaimana mereka sanggup menggenjot sepeda di kondisi udara Jakarta seperti itu. Postingan ini sedikit membahas bagaimana mengetahui kualitas udara di tempat kita.

Kualitas udara secara detil dapat diperoleh dengan memasang sensor di titik-titik tertentu di wilayah yang akan dicari datanya. Salah satu website yang dapat diakses antara lain Link berikut [URL]. Gambarannya adalah sebagai berikut.

Kalau dilihat Jakarta berwarna ungu yang dari legend artinya Berbahaya. Silahkan kalau mau bersepeda pun tidak apa-apa asal bawa masker. Link yang lain ada juga yang lebih detil membahas kualitas udara berdasarkan titik-titik tertentu [URL].

Situs ini berisi informasi lokasi sensor kualitas udara. Hasilnya dapat dilihat secara detil berikut ini. Kondisi berbahaya ternyata ada saran untuk penduduk berikut ini.

Di sini tampak bahaya bagi kelompok orang yang sensitif. Untuk yang masalah di paru-paru, istilahnya halusnya apa ya, bahasa betawinya sih bengek, silahkan menggunakan masker jika ingin beraktifitas di wilayah tersebut.

Ibu Kota Baru – Nusantara

Pilpres 2024 sudah berlalu dan kemungkinan besar presiden pendukung ibu kota baru yang menang, jadi IKN tetap berjalan (walau siapapun yg menang sih, karena sudah ditetapkan). Terpikir di benak saya keinginan untuk melihat seperti apa sih IKN itu. Mirip istilah Semesta Mendukung (mestakung) yang dicetuskan oleh Prof Yohannes Surya, tiba-tiba ada tugas ke salah satu kampus negeri di Balikpapan. Kebetulan dah.

Seperti biasa, pesawat menuju bandara Sepinggan dari tempat saya lewat Soetta. Berangkatlah ke sana dengan Garuda selama kurang lebih dua jam. Bandara itu ternyata tidak terlalu besar tidak juga kecil, mungkin karena tidak sepadat bandara di kota-kota besar lain seperti Surabaya, Bali, atau Jogja. Namun fasilitas sudah cukup baik.

Karena hari sudah menjelang siang, terpaksa mampir di warung makan Buguri, yang merupakan singkatan dari Bumbu Gurih. Lokasinya di pinggir pantai, dengan pemandangan yang oke banget.

Perjalanan ke IKN karena belum ada toll langsung harus melewati toll ke Samarinda, berbelok ke barat melewati jalan berliku dari lokasi hotal Platinum butuh 1.5 jam. Kabarnya jika sudah ada toll langsung yang melewati muara yang menjorok ke dalam IKN tidak sampai 1 jam.

Banyak kendaraan berat lewat, maklum ada target deadline 17 Agustus 2024 akan ada upacara 17-an di IKN yang dihadiri oleh presiden Jokowi. Nah, ada warung makan Acang, yang dikepalai oleh keturunan Cina yang ternyata enak juga dengan rasa khas masakah Cina.

Setelah shalat, lanjut ke IKN yang melewati jalan naik turun (tidak rata). Setelah tiba tampak pohon-pohon ekaliptus yang biasa dijadikan bahan baku kertas. Sepertinya dulu tempat hutan untuk pabrik kertas.

Sepertinya masih on progress agar bisa jadi tempat rekreasi. Ada satu stan untuk nyewa foto-foto di titik nol IKN. Titik nol ditandai dengan satu gapura kecil buatan Badan Informasi Geospasial (BIG). Lihat orang-orang yang foto, jadi kepengen juga.

Hari ketiga (selasa) entah kenapa tiba-tiba di hotel ramai, banyak polisi, ternyata beberapa hari kemudian (hari jumat), presiden Jokowi menengok progres pengerjaan IKN. Tiga hari ternyata sudah cukup untuk melihat bagaimana kondisi Balikpapan yang sepertinya tidak lama lagi akan ramai. Oiya, jangan lupa beli Mantau rasa sapi lada hitam ya …

Mem-bo-san-kan

Di dunia per-medsos-an, atau mungkin saat ini yg lebih tepat per-tik-tok-an, bosan merupakan indikator kalau suatu konten gagal. Tiap orang berusaha membuang jauh-jauh istilah tersebut kalau ingin tetap diperhatikan. Di sinilah problem untuk bangsa kita, dengan jumlah nitizen yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Apakah ini baik-baik saja?

Untuk menarik perhatian usaha membuat sesuatu itu tidak membosankaan adalah baik, tetapi lebih baik lagi membuat sesuatu yang membosankan menjadi menarik. Mbah surip pernah menyanyikan lagu dengan lirik ” bangun tidur, tidur lagi. Bangun lagi, tidur lagi. Bangun … tidur lagi, hahaha”. Unik juga, sesuatu yang membosankan bisa dikemas menarik.

Sebagian besar kegiatan kita sehari-hari pun bisa dibilang membosankan, akan tetapi toh tetap harus dijalankan. Jika kita perhatikan anak-anak, mereka melakukan sesuatu yang bagi kita membosankan dan tidak menarik dengan keceriaan. Ternyata salah satu prinsip yang mereka jalankan adalah keingintahuan atau kalau dalam bahasa Inggris curiosity. Atau dalam istilah kekiniannya: kepo. Anak-anak ingin tahu segala hal, maka bagi mereka kehidupan tidak ada yang membosankan. Repotnya ketika masuk dunia pendidikan, khususnya pendidikan di negara kita, keingintahuan secara perlahan berkurang.

Saya pernah menghadiri pelatihan seminggu tentang penulisan artikel ilmiah. Dalam kondisi habis sesi ISHOMA, hawa kantuk mulai menyelimuti peserta dan sang profesor pun agak kesulitan dalam mengatasi kondisi membosankan.

Karena ngantuk saya coba untuk menggunakan ke-kepo-an saya. “Prof, mengapa judul gambar di bawah tetapi judul tabel di atas?”, wajah sang profesor pun tiba-tiba cerah. Sepertinya terkejut senang karena ada juga yang memperhatikan. Dia menjelaskan dengan sedikit logika bahwa judul tabel di atas karena tabel tumbuh ke bawah, sementara judul gambar di bawah karena biasanya gambar tumbuh ke atas, walaupun ada gambar tertentu yang memang tumbuh ke bawah, misalnya bagan organisasi. Lihat, sesuatu yang membosankan ternyata bisa juga menarik.

Einstein enggan dibilang orang cerdas, dia hanya ingin dibilang orang yang selalu ingin tahu. Nah, rendah hati bukan? Ya, rendah hati adalah salah satu obat kalau ingin memiliki sifat ingin tahu.

Saya pernah ikut kuliah umum pada mata kuliah tertentu tentang GIS, selesai presentasi beberapa mahasiswa bertanya. Yang unik adalah terkadang pertanyaan-pertanyaan dari siswa yang berasal dari Jepang adalah pertanyaan yang menurut saya waktu itu biasa saja, kalau tidak ingin dibilang ‘katro’, kalau dalam istilah anak gaul “ya elah, gitu aja kok nanya”. Tapi kalau dipikir-pikir, namanya orang bertanya pasti maksudnya ingin tahu kan? bukan ingin dipuji. Jadi jika ada keingintahuan di hati kita, buang jauh-jauh gengsi, takut dibilang bodoh, dan lain-lain.

Ketika masih mengagung-agungkan gengsi maka salah sendiri jika menderita karena tidak tahu, mirip puisi Khairil Anwar “Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing’. So, agar tidak bernasib malang, buang jauh-jauh gengsi agar tidak ‘malu bertanya sesat di jalan’ menyelimuti kita. Yang tidak sedang tugas belajar pun jika selalu ingin tahu, maka berarti lifelong learning ada dalam diri kita. Oiya, sebaiknya jangan pangkas keingintahuan hanya pada gossip, atau ghibah, atau perpolitikan praktis yang saat ini sedang jadi alat baik media massa ataupun medos agar jadi trending topic, gunakan untuk pekerjaan/tugas sehari-hari juga, dan semoga pekerjaan dan tugas kita hari ini lancar ya gays.

Kita Ingin Diperlakukan Sama

Cepat sekali waktu berlalu, tahu-tahu sudah mulai bulan puasa lagi. Beberapa kegiatan banyak yang numpuk minggu-minggu menjelang bulan penuh berkah ini. Hari jumat ini, sudah bisa ditebak, tema kutbah Jumat pasti tidak jauh dari perintah puasa.

Salah satu ayat yang terkenal adalah Al-Baqarah ayat 183 tentang perintah untuk berpuasa. Yang unik dari surat ini adalah “..sebagaimana telah diwajibkan kepada kaum-kaum sebelum kamu..”. Argumen sederhana yang menyentuh salah satu sifat manusia yang selalu membanding-bandingkan dan iri jika diperlakukan tidak adil.

Perintah sunat pun perlu narasi penjelasan bahwa perintah tersebut telah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya bahkan sejak jaman nabi Ibrahim a.s. Sepertinya sifat ingin diperlakukan sama merupakan bawaan dari manusia.

Ketika diimplementasikan pada kebijakan, hasilnya pun serupa. Kalau tidak membeda-bedakan, hasilnya dijamin akan damai, sebaliknya jika ada perlakuan yang membeda-bedakan, diskriminasi, dan sejenisnya, pasti ada penolakan. Mirip apartaid di Afrika Selatan, atau jaman penjajahan Belanda dulu, tidak akan lama, penguasa akan runtuh. Bukan hanya sekedar sama, tentu ada unsur keadilan juga. Mirip permintaan Nabi Muhammad SAW yang meminta adanya perlakuan khusus untuk umatnya yang umurnya singkat, berbeda dengan jaman nabi-nabi yang terdahulu yang bisa sampai ratusan tahun usianya. Akhirnya diberikanlah malam Lailatul Qadar, yang satu malam jika beribadah setara dengan 1000 bulan atau sekitar 83 tahun.

Untuk pemerintahan yang sebentar lagi berganti, jika ingin damai, sebaiknya kebijakan tidak membeda-bedakan, karena tidak ada yang suka diperlakukan berbeda dengan yang lain.

Katanya Kita Semua Sakit Jiwa

Berbeda dengan sakit fisik/jasmani dimana kita langsung ke klinik, mumpung ada BPJS, sakit jiwa biasanya santai saja, karena kita tidak merasa sakit.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel karangan Sydney Seldom berjudul ‘Naked Face’. Novel ini menceritakan seorang psikiater yang menangani beragam pasien sakit jiwa, dari yang kecil, sedang, hingga parah. Suatu waktu ada seorang pasien yang ternyata istri seorang bos Mafia Italia, yang bermaksud memerlukan bantuan psikiater tersebut untuk menyembuhkan masalah kejiwaan sang suami. Walaupun si wanita tersebut tidak menceritakan bahwa suaminya seorang mafia, tetapi mata-mata si mafia mengetahui bahwa istrinya mengunjungi psikiater.

Alhasil, khawatir rahasia sang bos mafia terbongkar akhirnya nyawa sang psikiater terancam. Walau berat, karena banyak polisi yang jadi antek mafia, alhasil ketika berhadapan dengan si bos mafia, dengan ilmu psikologisnya si psikiater mampu mempecundangi bos mafia sampai tewas. Di akhir cerita si psikiater menangis terus, ketika ditanya oleh sang detektif dengan sedih sang psikiater berkata, “ibarat seorang dokter, si penjahat itu adalah orang sakit yang seharusnya menjadi pasien saya, saya yang ditugasi menyembuhkan tidak seharusnya malah membunuh orang yang sakit”.

Sang psikiater juga mengatakan bahwa setiap orang ada penyakit jiwa yang seharusnya bisa disembuhkan, misalnya luka/trauma lama, dan sejenisnya, atau yang saat ini sedang trend adalah sakit jiwa akibat kalah pemilu.

Oke, sekian dulu tulisan singkat ini, semoga kita yang sama-sama, maaf sakit jiwa, bisa sembuh .. minimal jika belum sembuh tidak memperburuk keadaan bangsa yang sedang berusaha menjadi negara maju ini.

Ingin Begini, Ingin Begitu

Yang suka nonton film doraemon pasti mengenal judul di atas, yang sering muncul saat awal film. Dari bayi yang baru lahir, anak-anak, hingga orang dewasa pasti ingin sesuatu. Bukan hanya itu, organisasi pun ada yang diinginkan. Istilahnya objektif yang akan dicapai. Kalau istilah perusahaan, berbeda-beda, misalnya visi misi, atau istilah lain misalnya north-star metric ala GOJEK.

Google, sebagai perusahaan ternama yang menguasai dunia IT memanfaatkan istilah Objectives and Key Results (OKRs). Istilah ini diperkenalkan oleh seorang kapitalis ternama: John Doerr, dengan formula ternamanya [link]:

I will … as measured by …

Ketika formula tersebut diimplementasikan pada OKRs maka menjadi I will (Objective) as measured by (Key Result). Sangat sederhana, begitu juga waktu pengukurannya biasanya tiap bulan dan bukan tiap tahun. Jika anda ‘ingin’ tapi tidak tahu cara mengukurnya maka itu dikatakan bukan ‘goal/tujuan’. Jadi apapun keinginan Anda harus tahu ukuran ketercapaiannya.

Misal Anda seorang mahasiswa, ketika ingin lulus maka alat ukurnya adalah tentu saja harus bisa diukur tiap bulan jika menerapkan OKRs. Kalau ukurannya nilai mata kuliah, maka itu terlalu lama, so .. nilai tugas, latihan, absen dan lain-lain yang bisa diukur perbulan harus ada. Untuk dosen biasanya diukur tiap semester dalam bentuk beragam, yang jelas untuk yang sudah tersertifikasi bisa menggunakan BKD, untuk per bulan? silahkan cari sendiri.

Untuk yang sedang S3? Nah ini sedikit unik mengingat S3 adalah riset. Banyak rekan saya yang sanggup menjalankan OKR saat di fasa course, tapi kewalahan saat fasa riset. Biasanya mengukur lewat latihan-latihan soal, tugas, dan lain-lain terkait kuliah, kini saat riset harus mengukur progress tiap bulan. Alhasil, karena terlalu lamanya ukuran dari kampus (seminar progress) karena terlena akhirnya tidak sanggup mengejar deadline. Ada satu hal yang diwajibkan saat penelitian, yakni log book. Walaupun ini sekedar mencatat, bisa dimanfaatkan untuk melihat sejauh mana progres yang telah tercapai, sehingga bisa digunakan untuk mencapai objective-objektive kecil yang menjawab objective utama.

Ok, selamat menyelesaikan objektif-objektif Anda, semoga lancar. Jangan terpengaruh objektif-objektif orang lain yang bukan objektif kita ya, e.g., menjadi presiden, DPR, dan lainnya, … nanti dikhawatirkan objektif utama kita malah terlupakan, selain tentu saja membuat tekanan darah kita tidak normal.

Pendapat Anda

Manusia ketika lahir tidak memiliki skill seperti hewan, misalnya kerbau, sapi, kambing, dan lain-lain yang ketika lahir langsung bisa jalan. Manusia harus belajar, entah dari orang tua, lingkungan maupun bangku sekolah. Berbeda dengan seorang pawang/pelatih hewan melatih binatang peliharaan, melatih manusia jauh berbeda karena manusia memiliki kesadaran.

Di tahun 80an, di jaman guru sangat mendominasi, galak, penuh dengan hukuman, sebagian besar siswa cenderung takut mengeluarkan ide, pendapat, dan aspirasi lainnya. Jangankan protes bertanya pun takut, apalagi mengeluarkan pendapat. Berbeda dengan saat ini, guru harus berhati-hati, jangan sampai kebablasan dalam menghukum, bisa-bisa dilaporkan ke pihak yang berwajib. Hal ini ditunjang oleh banyak tools/alat bantu belajar seperti Google dan yang terkini adalah ChatGPT, serta alat bantu berbasis AI lainnya. Kehebatan guru tidak terlau dominan lagi.

Nah, untuk Anda yang mengalami luka lama seperti saya yang mengalami pendidikan di sisa-sisa jaman penjajahan dahulu, ada sedikit trik yang bisa digunakan, khususnya jika akan lanjut kuliah lagi (S3 khususnya). Jenjang S3 memang menuntut adanya Tesis yang berupa pendapat terhadap kasus tertentu yang akan diuji saat sidang, baik progress, tertutup, maupun terbuka.

Pendapat merupakan satu alat ukur mengenai hal-hal yang ada di kepala kita. Misalnya kita membaca sebuah buku, tanpa adanya ‘ujian’ berupa entah pertanyaan terkait buku atau resensi/kritik, kita tidak bisa mengatakan telah membaca buku itu. Pendapat juga merupakan satu alat bantu untuk mencari kebenaran. Berbeda dengan ilmu pasti, khususnya ilmu sosial sebagian besar tidak 100% benar atau 100% salah.

Kemarin, tanggal 14 Februari 2024, sebagian besar penduduk mengeluarkan pendapat lewat pemilu. Di sini rakyat yang beragam tingkat pendidikan, kepercayaan, kekayaan, dan lain-lain menyalurkan pendapat mengenai siapa pemimpin negara 5 tahun ke depan. Kedewasaan kita dalam menerima pendapat yang berbeda diuji, apakah kita marah dengan orang yang beda pendapat dengan kita, ataukah menerima karena tiap orang punya pandangan yang berbeda.

Itulah menariknya manusia, karena memiliki pendapat yang beragam. Suatu malam saat saya tinggal di kos-kosan di Yogya, rekan saya yang suka begadang, asyik mengobrol dengan temannya. Suaranya terdengar hingga kamar tidur saya. Tidak terlalu berisik sih, cuma omongannya membuat kepala saya aktif kembali dan jadi sulit tidur. “Eh, menurut kamu, bintang itu isinya apa ya?”, tanya rekanku di ruang tamu kos yang memang tidak ada atapnya sehingga langit terlihat jelas. “Apa ya?”, jawab teman satunya lagi, sepertinya berfikir keras. “Menurut pendapat saya, itu seperti batu, cuma nyala aja”, jawab si penanya. Upss .. praktis saya jadi ikut mikir di tempat tidur sendirian. Anda yang membaca tulisan ini kalo jadi ikutan tidak bisa tidur .. Sorry ye.

Problem Solving

Jika Anda membaca literatur kuno India, khususnya agama Budha, sesuatu itu muncul akibat ketidaktahuan. Terlepas percaya atau tidak, hal-hal yang dulu tidak ada dan sekarang ada akibat hal tersebut. Kita mungkin sudah lupa atau tidak sadar bagaimana ketika bayi kita tidak tahu bagaimana caranya mensuplai makanan ke tubuh kita. Jadi, ketidaktahuan akan sesuatu memantik problem yang harus diselesaikan. Ketidaktahuan memancing keingintahuan, dan memunculkan ilmu-ilmu baru. Ok, filsafat mungkin memusingkan, postingan ini kita membumi saja.

Problem Jangka Pendek

Dari kecil kita sudah mampu menyelesaikan problem-problem yang tidak perlu membutuhkan pemikiran mendalam. Dengan bertanya, searching di internet, dan kegiatan sederhana lainny bisa menyelesaikan problem sederhana. Repotnya kebanyakan soal-soal di bangku sekolah masuk kategori ini, sehingga ketika anak itu kuliah, ada kebingungan, khususnya ketika muncul problem yang perlu pemikiran mendalam.

Problem Jangka Panjang

Berbeda dengan problem jangka pendek yang sederhana, problem jangka panjang memerlukan pemikiran yang mendalam, terkadang berupa tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang anak/pelajar. Terkadang berbeda dengan problem sebelumnya yang bisa dilakukan lewat kursus, pelatihan, dan sejenisnya, problem jangka panjang membutuhkan effort untuk menyelesaikannya. Usaha tersebut terkadang meminta ‘tumbal’. Banyak rekan-rekan saya yang tidak kuat, sakit, bahkan meninggal dunia. Seorang anak yang cerdas dan terlatih menyelesaikan problem-problem singkat berupa soal-soal ujian terkadang kewalahan ketika problem harus diselesaikan tidak dalam waktu beberapa menit saja, bisa satu hari, satu bulan bahkan satu tahun, yang jika tidak sabar akan mengganggu pikirannya.

Repotnya banyak problem-problem jangka panjang yang butuh pemikiran mendalam harus diselesaikan oleh seorang anak yang harus memutuskan masa depannya, misalnya melanjutkan jurusan/bidang apa, karir apa yang akan diambil, bekerja di mana dan sebagainya yang tidak bisa dilakukan dengan cepat karena harus memikirkan secara mendalam. Bagi yang pernah mengambil doktor, sudah pasti mengenal tipe problem ini.

Salah satu buku ternama ‘furute skills‘ membahas bahwa problem solving merupakan skill utama di atas critical thinking dan creativity ya karena memang problem-solving merupakan induk dari keberlangsungan hidup umat manusia. Jadi cara paling mudah dalam belajar adalah dengan ingin mencari tahu hal-hal yang tidak/belum diketahui. Ketika membaca, kuliah, atau aktivitas lain jika Anda berhasil memancing keingintahuan, dipastikan ada yang ‘berbekas’ dari aktivitas itu … minimal tidak tertidur.

Mengetahui Ringkasan Video Youtube dengan Cepat

Saat ini nonton youtube terkadang lebih mudah dibanding membaca. Tapi bagi pembaca yang terbiasa membaca terkadang menonton bisa menghabiskan waktu beberapa menit hingga beberapa jam. Tentu saja ini sangat membosankan jika diminta mencari ringkasannya. Namun, saat ini perkembangan Artificial Intelligence (AI) sudah dapat mempermudah pekerjaan kita. Postingan ini bermaksud memperkenalkan Anda bagaimana cara cepat mengetahui isi video tanpa perlu menonton full link video youtube, misalnya:

Langkah pertama adalah membuka video tersebut, dilanjutkan dengan menekan view transcript di bagian bawah video tersebut. Setelah tombol ditekan maka transkript akan muncul di bawah. Berikutnya tinggal Anda kopi dan paste saja di sembarang text editor.

Anda bisa membacanya atau dengan menanyakan ChatGPT apa ringkasan atau isi dari transkrip tersebut dengan prompt> rangkum, tulisan ini tentang apa: < paste naskahnya>. Anda akan menerima jawaban yang lengkap. Selamat mencoba.

Sinergi Teknik Informatika dan Sistem Informasi

Teknik Informatika/Ilmu Komputer dengan Sistem Informasi saling bersinergi. Ketika pertama kali merancang device layar sentuh, Apple pada mulanya divisi Teknik Informatika, dengan programmer-programmernya, membuat tablet terlebih dahulu. Ketika sudah selesai, bekerjalah orang Sistem Informasi. Hasil survey ternyata mengejutkan, user banyak yang menginginkan device yang segenggam tangan ukurannya dan mudah dibawa-bawa. Melihat hasil tersebut, segera Apple bekerja cepat membuat device yang lebih kecil dikenal dengan nama Iphone. Hasilnya, sesuai dengan riset, ternyata laku keras.

Sulit dikatakan mana yang lebih penting TI atau SI. Ketika saya di Bank, lulusan SI kebanyakan mengutak-atik schedulling, project analisis, termasuk kebutuhan personel, dan sebagainya. Tentu saja jika dilihat dari salary, melebihi lulusan TI. Namun, tentu saja kebutuhannya pun tidak sebanyak orang TI, waktu itu sekitar 1: 10an.

Beberapa tools sangat diperlukan untuk analisis survey, sebagai contoh video singkat ini yang menggunakan AMOS untuk analisis jalur (path analysis)

PPEPP yang Mirip Backpropagation

Pengelola program studi pasti mengenal Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian dan Peningkatan yang diisitlahkan dengan PPEPP. Ini merupakan siklus yang mengandalakan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Karena konsep, tentu saja sangat rumit bagi yang baru mengenalnya. Oke, jika Anda sudah mengenal metode backpropagation learning dalam machine learning, bisa kita pahami dengan menganalogikan PPEPP dengan proses learning tersebut.

Penetapan

Penetapan merupakan inti dari rencana meningkatkan mutu. Di sini berisi keputusan resmi berupa indikator yang akan dicapai. Dalam machine learning (ML) ibarat target output dari model yang akan dilatih.

Pelaksanaan

Ketika target disertai input yang menghasilkan target tersebut tersedia, maka proses pelatihan berjalan. Dalam pelaksanaannya, model diberi bobot dan bias tertentu, kemudian forward propagation berjalan. Di sini input tertentu diharapkan menghasilkan output sesuai dengan target. Output mengikuti kalkulasi input berdasarkan bobot dan bias yang diset.

Evaluasi

Dalam akreditasi, evaluasi berusahan mencari praktik baik, praktik buruk, dan praktik baru ketika proses pelaksanaan selesai. Nah, di sini jika output sesuai dengan target maka dikatakan praktik baik terjadi, begitu pula sebaliknya. Dalam proses learning, evaluasi ini menghasilkan error, misalnya dihitung dengan standar Mean Square Error (MSE).

Pengendalian

Tahap ini terjadi ketika diketahui adanya praktik buruk, maupun praktik baru yang belum jelas baik atau buruknya. Dalam ML berupa error. Nah, proses pengendalian bermaksud membuat rekomendasi dan revisi terhadap bobot dan bias pada model yang dilatih.

Peningkatan

Tahap ini berisi optimalisasi, yaitu bagaimana meningkatkan, menyesuaikan dan menyelaraskan output dengan targetnya, dalam kampus diistilahkan Indeks Kenerja Utama (IKU) yang berpatokan standar nasional DIKTI, dan Indeks Kinerja Tambahan (IKT) yang berdasarkan kampus yang ingin melebihi standar nasional DIKTI. Bisa jadi adanya perubahan target jika sulit tercapai, atau target yang tidak relevan.

Jadi jika PPEPP berjalan dengan baik, secara logika organisasi akan berkembang ke arah yang lebih baik. Nah, oleh karena itu target yang tepat perlu dibuat karena proses akan mengikuti target tersebut. Makin banyak iterasi yang dibutuhkan, tentu saja membutuhkan waktu dan biaya yang besar, jadi gunakan proses yang efisien dan efektif agar tidak perlu membutuhkan iterasi (dalam backpropagation diistilahkan dengan epoch) yang banyak. Semoga tulisan ini bisa memudahkan pemahaman terhadap PPEPP dalam akreditasi program studi.

Paper of Paperless?

Salah satu kendala pembaca paperless adalah hilangnya kesan membaca buku, dari aromanya, bolak-balik halaman, dan kesan-kesan lainnya yang ada pada buku kertas. Selain itu masalah terpenting adalah kesehatan mata. Berbeda dengan buku yang terlihat dengan memantulkan sinar, pada buku digital (paperless) yang dibaca lewat monitor LCD biasa sinar mengarah ke mata, walaupun sudah jenis yang paling nyaman sekalipun seperti layar AMOLED.

Saat ini e-reader yang memanfaatkan teknologi e-ink sepertinya mulai dicari. Hal ini karena prinsipnya yang menyerupai tulisan di kertas. Dari yang berjenis Kindle, KOBO yang ber sistem operasi sendiri, hingga Onyx, Meebooox, yang ber sistem operasi Android. Masing-masing punye kelemahan dan kelebihan masing-masing. Oiya, jika Anda belum memahami apa itu e-ink silahkan lihat video ini ketika Kindle ‘dihajar’ habis-habisan .. dan uniknya ketika kondisi sudah mati total, tinta elektroniknya masih mencetak lho.

Jika siang hari LCD membutuhkan sinar untuk menampilkan gambar, e-ink justru malah tidak perlu sinar karena prinsipnya yang mencetak tulisan/gambar di dinding layar. Sinar hanya berfungsi seperti lampu belajar yang menerangi buku, di e-reader berarti menerangi tulisan e-ink yang tercetak, jadi aman banget di mata. E-reader Android saat ini banyak dicari, tapi saya masih setia dengan Kindle karena ringan operasinya, mirip buku yang tidak perlu dicas. Baterai bisa tahan 2 bulanan karena memang minim proses di Kindle. Salah satu keluhan yakni tidak bisa reflow text dapat diatasi dengan mengkonversi terlebih dahulu di PC atau Laptop Anda. Jika sudah, Anda tinggal baca dengan nyaman, walau ribuan halaman, mata tidak capai. Lihat video ini yang mengilustrasikan bagaimana membaca paper ilmiah. Jenis bacaan ini membutuhkan persamaan matematis dan gambar/tabel yang jika dengan reflow text biasa hasilnya berantakan, tapi dengan k2pdfopt.exe yang memang diperuntukan untuk Kindle hasilnya ok, bahkan untuk paper 2 kolom tetap nyaman dibaca.

Kalau novel yang berisi hanya tulisan mudah saja, tinggal langsung dikirim ke Kindle online yg langsung mengkonversi menjadi MOBI, atau ekstensi lain standar Kindle. Untuk e-reader Android memang praktis tapi sepertinya sayang, boros energi, kalau hanya untuk dipakai membaca layaknya buku. Kecuali memang ingin membaca perpusnas, gramedia online, dan novel-novel online yang ada di playstore.

Kalau Paper? Tentu saja jatuhnya lebih mahal. Beberapa teman kadang lebih suka print sebelum dibaca tetapi masalahnya butuh biaya, kertas, tinta printer, seperti kasus saya yg macet tintanya dan harus sering-sering dibersihkan (head cleaning), dan barusan flushing karena mampet parah dengan cara seperti video berikut.

Outcome Based

Presiden Jokowi di awal pemerintahan kerap melakukan gebrakan-gebrakan di luar kebiasaan. Dari menteri kelautan yang gemar meledakan para pencuri ikan, hingga menteri pendidikan yang bukan dari praktisi kampus, yakni pendiri Gojek, alias pengusaha. Sikapnya yang ‘gaul’ kerap dianggap kurang menghargai kesakralan institusi pendidikan di Indonesia, yang memang masih ada sisa-sisa pendidikan Belanda, khususnya di kampus-kampus tua.

Terlepas dari itu, apakah kinerjanya baik? Semua terserah pembaca sekalian. Terakhir, mendikbud yang lulusan Harvard ini dicecar oleh anggota dewan, yang mengkritisi nasib guru-guru di daerah 3T, dan mereka tidak menghiraukan penghargaan orang luar negeri yang melihat kinerjanya yang ok.

Di akhir-akhir masa jabatan presiden, uniknya adalah menteri yang bergelar magister itu justru mampu menambah profesor-profesor baru yang dulu terasa ‘seret’. Sistem 400 tim ‘shadow’ (kemudian diralat menjadi mirroring) di tiap dirjen sepertinya mempercepat dan memperlancar proses.

Mungkin salah satu hal yang cukup mengganggu rekan-rekan dosen yang tidak muda lagi adalah beasiswa yang sulit karena syarat umur sekarang masuk kategori remaja (di bawah 40 tahun). Kampus-kampus besar mungkin bisa memberikan beasiswa lokal, tetapi untuk kampus-kampus menengah ke bawah terpaksa menggunakan uang pribadi (dana mandiri). Saya termasuk rombongan beruntung yang memperoleh beasiswa, dan ternyata memang di luar negeri, dosen-dosen kita ke-tua-an. Kita selalu jadi ‘pa RT’, karena paling tua.

Benarkah kita tidak perlu melihat pandangan orang luar negeri terhadap kinerja kita? Saya ingat dulu ketika Habibie ditolak pertanggungjawabannya oleh DPR sehingga terpaksa diganti. Banyak kejadian, orang kita di luar negeri lebih dihargai dari pada di dalam negeri.

Bolehlah kita menghiraukan pandangan orang luar, tetapi kejadian-kejadian saat ini menunjukan hal sebaliknya. Misalnya masalah hukum di negara kita. Ketika 7 tahun yang lalu, dengan framingnya, media bisa membuat Jesica oleh pemirsa dianggap pasti bersalah, tetapi tatkalan orang luar menampilkan netflix berjudul ‘es kopi’, mulailah heboh karena ternyata ada yang tidak beres. Kadang kita memang butuh alat diluar diri kita untuk berkaca. Tidak hanya di kurikulum, outcome-based bisa juga diterapkan dalam sistem kita, hasil nyata sangat penting, seperti kata jenderal Antivirus di film Asterix yang diperankan oleh Zlatan Ibrahimovic, “Why talk when you can fly?”, ok, tunjukan saja karya kita, biar orang yang menilai.

Sidang Terbuka – Perlukah?

Status sebagai mahasiswa merupakan satu aktivitas bekerja juga, mirip jabatan, tugas khusus, dan apapun yang memiliki tujuan yang jelas yakni memperoleh ilmu dan dibuktikan dengan kelulusan. Dosen pun ketika studi lanjut ke jenjang yang lebih tinggi berubah statusnya menjadi mahasiswa. Dualisme itu yang sedikit menyulitkan, khususnya dosen-dosen senior yang telat studi lanjut. Di mana sulitnya? Nah, itu dia, sulit juga menjelaskannya.

Waktu itu, thailand cukup panas, maklum mendekati hari raya Sonkran, hari raya yang terkenal dengan ‘mainan air’, semprot-semprotan, dan sejenisnya. Kalau di Indonesia ya hari raya idul fitri untuk yang muslim, natal untuk yang nasrani. Seperti biasa, siang itu di depan meja belajar, saya melamun. Di sini melamun berarti berfikir keras, mengingat tidak ada jawaban di internet, bahkan pembimbing pun tidak tahu jawabannya. Khas mahasiswa doktoral. Sambil menyeruput kopi Thailand (UFM bakery 50 baht) yang lebih murah dari kopi Vietnam (honkrum 100 baht), tiba-tiba ada telepon dari staf pengajar institut pertanian bogor (IPB).

“Halo apa kabar? Bagaimana keadaan di sana?”, sapa telepon itu. Seperti biasa, walau sedang pusing tapi cukup dijawab dengan dusta, “baik, bagaimana dengan Anda?”. Intinya ternyata hanya bertanya-tanya perihal kampus tempat saya kuliah. Tadinya saya fikir dari tim pewawancara waktu mendaftar beasiswa DIKTI ternyata hanya survey. “Apakah di sana ada sidang terbuka?”, saya jawab kalau seperti di Indonesia yang mengundang orang sekampung, disertai acara makan-makan, pembagian souvenir, dan sejenisnya ya tidak ada. Paling hanya informasi seperti berikut ini.

“Kalau wisuda? Bayar kah?”, tanyanya lagi. Saya jawab ada deposit ketika mendaftar kalau di rupiahkan setengah juta. Tapi setelah wisuda dan kita mengikuti wisuda, uang itu bisa diambil kembali. Mungkin maksudnya agar yang daftar serius, bukan nge-prank. Jadi, baik sidang terbuka maupun wisuda, praktis tidak ada yang bayar. Paling menyiapkan snack dan minuman saja ketika sidang terbuka, itu pun biasanya tidak dimakan oleh promotor dan penguji, malah peserta yang kebanyakan teman senegara, yang menjarah selepas acara. Bahkan kabarnya sudah ‘dipesan’ oleh teman-teman yang senasib sepenanggungan saat acara final defence berlangsung. Seperti ini suasana sidang terbuka [link].

Saya yakin teman-teman saya di negara lain pun sama, sepertinya hanya di Indonesia yang melakukan ritual sidang terbuka seperti hajatan. Beberapa kampus sudah mulai menghapus sidang terbuka, misalnya rekan saya yang kuliah di Brawijaya. Sepertinya jika ingin menjadi kampus internasional, agak merepotkan mahasiswa asing yang ingin sidang terbuka versi kampus Indonesia.

“Sir, how about final defence of mr Haoran Zhang?”, tanyaku ke promotor saya. Sambil geleng-geleng dia mengutarakan kekecewaannya. Katanya dia tidak lulus, alias sidang ulang. Wah, gawat juga. Pantes saya lihat kemarin dia sibuk mondar-mandir bawa alatnya dengan wajah pusing. Beda dengan Indonesia yang sudah pasti lulus, ternyata sidang terbuka bisa tidak lulus juga.

Ada info dari rekan istri saya yang S3, kabarnya ada juga mahasiswa doktoral yang tidak ikut wisuda. Kalaupun ikut, biasanya tidak terlalu wah. Salah satu sebabnya adalah sidang terbuka yang lebih ‘wah’ dari wisuda. Sidang terbuka ibarat wisudah khusus untuk si mahasiswa seorang. Nah, berbeda dengan di kampus saya, ketika ada mahasiswa Indonesia yang lulus doktoral, kampus mengundang duta besar dan atase kebudayaan, yang biasanya selalu hadir dan tidak diwakilkan [link].

Karena sidang terbuka yang ‘biasa saja’ (tapi sangar juga), wisuda jadi sangat hikmat. Bahkan dalam acara tersebut ada dua sebutan, Mr saat masuk gedung, dan Dr setelah pelantikan (pemasangan Hood, seperti sayap di belakang, kalau di Indonesia kuncir di topi wisuda yang digeser ke kiri atau ke kanan (saya lupa) oleh rektor/dekan [link]. Tapi bagi orang Indonesia yang S3 di Indonesia, sidang terbuka bisa jadi kenangan yang indah. Bisa juga jadi sarana jalan-jalan teman-teman si mahasiswa. Bayangkan teman saya yang mau lulus di Brawijaya, ketika ada kabar tidak ada sidang terbuka lagi (katanya kalau publish Q2), acara jalan-jalannya batal dah …