Akreditasi Jurnal Nasional

Setelah beberapa waktu yang lalu banyak dosen, termasuk saya, diminta revisi laporan kinerja dosen karena tidak memasukan penelitian maka saat ini jurnal menjadi favorit di kalangan dosen. Cukup dengan satu naskah di jurnal ber-ISSN maka tunjangan dapat segera dicairkan. Tetapi untuk kepangkatan, bobot jurnal yang hanya ber-ISSN sangat kecil. Oleh karena itu jurnal yang terakreditasi saat ini banyak dicari karena bobotnya dua setengah kali jurnal yang hanya ber-ISSN.

Saat ini jurnal yang terakreditasi ada dua kategori, yang sudah ada sertifikatnya dan yang hanya terindeks SINTA. Jurnal yang sudah terindeks SINTA tidak serta merta memperoleh sertifikat akreditasi nasional. Harus mendaftarkan/mengajukan diri untuk akreditasi di situs resmi ARJUNA. Silahkan sign-up terlebih dahulu di link berikut ini.

Syarat-Syarat

Salah satu hal memberatkan yang menyulitkan jurnal yang terindeks SINTA untuk mengajukan akreditasi adalah Digital Object Identifier (DOI), yang merupakan indeks berbayar. DOI mirip Scopus yang mencatatkan makalah-makalah jurnal yang mengajukan untuk meminta nomor DOI untuk tiap naskah yang ada di dalamnya. Repotnya lagi, untuk mengajukan akreditasi, empat edisi harus sudah memiliki DOI di tiap-tiap naskahnya. Jika per edisi 5 tulisan (minimal syarat akreditasi) maka butuh 20 DOI untuk akreditasi.

Syarat-syarat lainnya adalah adanya informasi mengenai dewan redaksi, peer-review/reviewer/mitra bestari dan lain-lainnya. Oiya, sebagai perkenalan berikut ini adalah jurnal PIKSEL yang saya kelola. Silahkan berkunjung.

Tahapan Akreditasi

Jika syarat-syarat terpenuhi maka kita tinggal mengklik submit. Ada beberapa cheklist yang wajib ada (salah satunya DOI). Prosesnya terkadang cepat, terkadang seperti yang saya alami lumayan lama. Tahapan-tahapannya antara lain: evaluasi dokumen, proses penilaian, penetapan akreditasi, dan penerbitan SK akreditas.

Yuk, bantu-bantu jurnal nasional yang kebanyakan tak berbayar lewat artikel-artikel berkualitas dan juga bersedia menjadi reviewer. Proses masih dalam tahap evaluasi dokumen, jika sudah masuk tahap proses penilaian akan tampak seperti gambar berikut. Sekian semoga bermanfaat.

Memutar (Rotate) Teks Diagram Dari Visio Pada Word

Terkadang gambar yang dibuat di Visio dan sudah ditempel di Word harus diputar karena secara default miring. Hal ini sedikit mengganggu pembaca, termasuk reviewer yang me-review artikel tulisan kita. Postingan ini sedikit men-share tip singkat bagaimana memutarnya agar sama dengan tulisan. Perhatikan diagram di bawah yang memperlihatkan teks pada diagram yang miring.

Berikut adalah langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan di Word. Cara ini bisa dijalankan dengan syarat gambar yang ditempel bukan image (jpg/bmp/png) melainkan bawaan visio (select all dari visio dan di-paste di word).

1. Dobel Klik dan Masuk ke Visio Lewat Word

Dobel klik pada teks yang akan diputar, misalnya pada “Get API ..”. Setelah itu kita akan masuk ke menu editing Visio via Word.

2. Pilih Rotate Tools

Berikutnya ketika masuk ke Visio editing, pilih simbol rotasi. Dilanjutkan dengan memutarnya. Jangan lupa mengedit tulisan agar tidak keluar kotak diagram. Bisa dengan cara enter di suatu kata atau dengan melebarkan ukuran bagan. Hasilnya kira-kira sebagai berikut, selamat mencoba.

Fikiran .. Pedang Bermata Dua

Untuk Anda yang mengagung-agungkan fikiran, waspadalah karena fikiran sepertinya membantu Anda dalam keseharian tetapi bisa juga seperti pedang bermata dua yang melukai si pemilik. Hal ini terjadi karena yang seharusnya fikiran berfungsi sebagai alat tetapi beralih fungsi menjadi si majikan. Bagi tradisi kuno Hindu dan Budha fikiran sangat berbahaya karena bisa membuat seseorang hanyut dalam fikirannya. Fikiran yang tak terkendali, diibaratkan sebagai “monyet” yang bergerak loncat ke sana ke mari.

Kisah Imam Malik dan Imam Syafii

Tradisi Islam dahulu kala sering terjadi silang pendapat, karena fikiran. Imam Malik, sang guru, pernah berbeda pendapat dengan Imam Syafii, imam yang paling banyak pengikutnya di Indonesia. Imam Syafii tidak sependapat dengan Imam Malik yang mengatakan cukup dengan tawakal, rejeki akan tiba. Imam syafii berpendapat tidak mungkin tanpa usaha, rejeki akan tiba, seperti burung yang tidak keluar sarang mencari makan tidak akan memperoleh makanan. Begitulah sifat fikiran yang masih mengenal dualitas (atas bawah kiri kanan, suka duka, beanar salah, dan lain-lain). Perbedaan pendapat sejatinya tidak melepas/memutus ikatan pertemanan, apalagi murid dan guru, apalagi hanya dalam hal tetek bengek yang tidak penting, misalnya pileg, pilgub, pilpres, dan pil-pil lainnya.

Pulang dari berguru, Imam Syafii melihat orang-orang yang ramai memanen anggur. Terbesit ide untuk membantu memanen, dan benar dugaannya, selesai memanen Imam Syafii mendapat upah anggur yang banyak. Setelah memperoleh upah, beliau mendatangi lagi gurunya guna membuktikan kebenaran pendapatnya. Sang guru membenarkan pendapatnya, tetapi dengan santai ia mengambil anggur pemberian Imam Syafii, sambil mengatakan beberapa waktu yang lalu, dia kepingin sekali makan buah anggur, dan dengan doa dan tawakal, anggur yang banyak tiba di hadapannya. Mereka akhirnya tertawa.

Mindfulness/Kesadaran

Kesadaran yang berarti menyadari apa yang terjadi dalam fikiran dan perasaan merupakan inti dari meditasi, yang dalam istilah bahasa pali-nya, “sati”. Silahkan coba, tapi tidak berhenti sampai sati saja, melainkan mempelajari. Jika sudah terlatih sadar, seseorang akan memahami mengapa sebuah fikiran muncul, dari mana asalnya dan merembet ke mana. Akibatnya akan muncul kebijaksanaan dengan ciri khas, ego yang tidak mendominasi. Ego yang berada di fikiran akan membuat fikiran menjadi raja sementara diri kita budaknya. Akibatnya banyak orang-orang terpelajar yang di mata orang awam “error”. Konon, pembunuh salah satu khalifaturrasyiddin, Ali bin Abi Thalib, adalah Ibnu Muljam yang cerdas, berilmu, hafal Alquran dan Alhadits, yang sepertinya tidak mungkin terjadi pembunuhan itu jika ego dalam fikiran membuat seseorang menjadi budaknya.

Bahayanya Merasa Benar

Ketika lulus S1 dan menjadi dosen, saya menguji tugas akhir siswa tentang jaringan. Siswa mengatakan bahwa pewarnaan dalam kabel jaringan mempengaruhi nyambung atau putusnya koneksi, selain urutan kabelnya. Sementara saya ngotot, tidak, asalkan ujung ke ujungnya sesuai pin, urutan warna tidak pengaruh. Selang beberapa semester, saya bekerja sebagai staf IT pada bank nasional dan mengalami kondisi yang membuat saya merasa bersalah. Ceritanya sebuah vendor kabel disewa untuk memasang kabel jaringan di cabang dekat asam reges, Jakarta. Warnanya acak, walaupun ujung ke ujung (pin) tepat “lurus/straight“. Sempat jaringan berfungsi normal ketika menggunakan IBM pentium III, tetapi kebetulan ada pergantian PC ke HP Pentium IV, satu pun tidak ada PC baru yang berjalan jaringannya. Dimintalah saya datang ke sana, ternyata saya cek urutan kabelnya tidak standar (bukan: putih-orange, orang, putih-hijau, biru, putih-biru, hijau, putih-coklat, coklat). Akhirnya saya berfikir jangan-jangan siswa saya benar, urutan warna harus standar, akhirnya saya coba satu titik, ternyata benar. Dipanggilah vendor yang memasang kabel kemarin, mirip sidang tugas akhir saya dulu saling ngotot (walaupun untungnya, siswa tersebut saya luluskan). Vendor tersebut membuktikan dengan tester jaringan yang menunjukan “OK”. Akhirnya, saya putuskan menunjukan ke mereka pada satu titik koneksi dengan memasang ulang dengan warna standar, dan terbukti “OK” dengan PC yang baru. Karena takut kasus saya follow-up ke atas, mereka setuju memasang ulang seluruh kabel jaringan. Mudah-mudahan siswa yang saya uji hampir 17 tahun yang lalu itu membaca postingan ini, dan menerima permintaan maaf saya, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin.

Realtime Protection Windows Defender Tidak Bisa Dihidupkan

Beberapa hari yang lalu ada simbol silang pada antivirus bawaan Windows 10: Windows Defender. Klik simbol panah atas di bagian bawah kanan Windows.

Jika dijalankan Windows Defender, dan masuk ke bagian Realtime Protection posisi Windows Defender tidak dapat dihidupkan (ON).

Cara menghidupkannya agak sedikit rumit, info dari beberapa situs internet hasil googling. Informasi dari situs ini menyarankan masuk ke registry editor dengan mengetik “regedit” di searching Windows 10. Arahkan ke posisi: HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Policies\Microsoft dan pilih Windows Defender.

Pada gambar di atas value “DisableAntiSpayware” bernilai satu (1). DIsarankan untuk menggantinya menjadi nol (0) atau hapus saja (delete) registri tersebut. Oke, kalau ragu, ganti saja menjadi nol dengan mendobel klik registry tersebut, ganti satu menjadi nol.

Tekan OK. Kembali ke Windows Defender, Anda akan diminta me-restart. Tekan saja tombol “restart” yang artinya menghidupkan kembali Windows Defender. Tunggu beberapa saat dan pastikan Windows Defender aktif kembali. Semoga bermanfaat.

Dear SISTER …

Sabtu ini masuk kerja dalam rangka pelatihan pengisian BKD online dan aplikasi SISTER. Sudah lama tidak ada acara di kampus pada hari sabtu. Untuk BKD online sepertinya tidak ada masalah karena sudah hampir satu semester ini menggunakannya dan fine-fine saja. Nah yang SISTER baru kali ini bisa dicoba, dan baru kali ini juga server sudah terpasang, dan repotnya baru hari itu juga instal ulang ke versi yang baru. Tapi salut juga dengan tim IT UNISMA yang bekerja cepat dan profesional.

Memang aplikasi-aplikasi buatan Ristekdikti memiliki nama-nama yang unik dan mudah dihafal, misalnya SINTA, ARJUNA, SIMLITABMAS, SISTER, yang sering diledek: “SINTA … RAMA-nya mana? Kok malah ARJUNA?” Btw, pinter juga tim Ristekdikti utak-atik singkatan. Oiya, untungnya Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi disingkat Kementerian “Ristekdikti”, bukan “Kemriting”. Nah, ini lagi .. SIM akademik kampus kami bernama SIMAK yang mirip kata Si Emak, he he.

Registrasi SISTER

SISTER diambil dari singkatan kata Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi yang isinya mengintegrasikan seluruh aspek yang ada pada seorang dosen. Dari profil homebase, pengajaran, BKD, kepangkatan, dan upload-upload data penting lainnya. Sistem kerjanya adalah tiap kampus besar harus menyediakan server dengan spesifikasi tertentu, menginstal aplikasi, serta ada admin yang mengelola. Karena sifatnya yang tidak online murni, admin bertugas mensinkronkan database di kampus dengan Dikti (pusat). Di sini dikatakan kampus besar karena jika kampus kecil maka bisa “nebeng” di LLDIKTI di wilayahnya. Langkah awal bagi seorang dosen agar bisa menjalankan aplikasi SISTER adalah membuka alamat sister kampusnya, misalnya untuk UNISMA adalah link berikut ini. Cara registrasinya mirip dengan registrasi SINTA yaitu mendaftarkan email untuk login. Jika sudah, maka diminta membuka email.

Setelah membuka email maka ada link untuk aktivasi yang jika diklik maka akan diarahkan lagi ke aktivasi SISTER. Pastikan akun sudah aktif agar bisa digunakan sebagaimana mestinya.

 

Manfaatnya lagi adalah cepatnya proses pengajuan kepangkatan (PAK) dosen karena bisa lewat jalur online yang tidak perlu berkas-berkas yang berat. Setelah aksi foto-foto dengan pemateri dari LLDIKTI, acara selesai, dan foto berikut kudapan favorit tiap diadakan pertemuan dari tim serdos. Sekian catatan harian ini, semoga bisa mengingatkan rekan-rekan dosen akan adanya aplikasi SISTER dari Ristekdikti.

Menjalankan MS Word di Ubuntu

Ada dua aplikasi terkenal yang mirip MS Word di Linux yaitu LibreOffice Writer dan satu lagi yang terkenal buatan Apache yaitu Open Office. Aplikasi yang digunakan untuk menjalankan MS Word di linux adalah PlayOnLinux. Aplikasi ini berupa mesin virtualisasi yang berupa wadah untuk proses instalasi MS Office di dalamnya. Silahkan lihat tatacara instalasinya di situs resmi ubuntu.

Tekan tombol Install pada PlayOnLinux dan pilih aplikasi yang berbasis Windows yang tersedia. Tentu saja siapkan juga software installernya. Sempat install MS Office 64 bit tetapi ternyata PlayOnLinux diperuntukan aplikasi berplatform 32bit. Akhirnya coba install Office 2010 32bit. Fasilitas-fasilitas unggul MS Word seperti Automatic Table of Contents, review, dan lain-lain dapat dijalankan di linux, sehingga mempermudah user yang sudah terbiasa dengan MS Word. Sayangnya ketika mencoba share to blog tidak berhasil teregister akun wordpressnya, entah mengapa. Ada baiknya menggunakan bawaan Linux seperti LibreOffice dan OpenOffice karena tentu saja lebih cepat, terutama jika sekedar mengetik. Selamat mencoba, siapa tahu berminat.

 

 

 

Migrasi ke PHP versi 7 itu Wajib

Semester ini teknik kompilasi, information retrieval, algoritma, pengolahan citra dan basis data menjadi santapan sehari-hari (karena mengajar). Teknik kompilasi membahas teknik-teknik parsing suatu bahasa pemrograman. Ada informasi bahwa PHP versi 5 ke bawah sangat rentan dan mudah dimanipulasi parsing-nya. Dan yang terpenting PHP 5 akan dihentikan dukungannya per 31 Desember 2018 nanti. PHP sendiri saya gunakan sebagai praktek dalam mata kuliah sistem basis data. Berikut edaran dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengenai hal tersebut.

Yuk, Install Versi 7.x

Silahkan unduh PHP versi terbaru di SINI. Pada postingan ini saya mencoba menggunakan versi terbaru itu. Coba pilih versi 7.3 yang terbaru ketika postingan ini ditulis.

Ukuran XAMPP untuk PHP 7.3 ini cukup kecil, hanya sekitar seratusan mega byte. Isi dari XAMPP dapat dilihat saat proses instalasi. Oiya, gunakan login Administrator agar instalasi optimal, karena ada pesan / warning ketika tidak menggunakan login itu.

Intal XAMPP ini satu paket dalam Bitnamiyang mensuport paket Drupal, Joomla, Moodle dan WordPress. Lanjutakan dengan menekan Next> hingga proses instalasi selesai.

Testing XAMPP yang Baru

Dimulai dengan pemilihan bahasa, control panel XAMPP muncul ketika aplikasi pertama kali dijalankan. Hidupkan server database dan PHP untuk memulai aplikasi (wah .. ada Tomcat .. jadi trauma waktu S2 dulu). Seperti biasa windows minta konfirmasi apakah kedua server itu dihidupkan, tekan saja OK.

Coba saya migrasi beberapa file terdahulu (php dan mysql) untuk testing. Misalnya input data barang.

Ternyata tampilan XAMPP jika dijalankan localhost langsung menuju dashboard yang menginformasikan tentang versi 7.3 dari PHP ini.

Tampak berhasil insert satu data baru. Silahkan migrasi ke PHP versi 7 agar tenang dan nyaman, khususnya bagi admin web (sementara mungkin, karena serangan terus terjadi mencari kelemahan-kelemahan yang mungkin ada). Semoga bermanfaat.

Ketika acara FGD (dua dari kanan)

Membuat Histogram

[komputer.1|manajemen|lab.sainstech|pert.9]

Histogram adalah grafik yang menunjukan hubungan data dengan frekuensi dalam inteval tertentu. Grafik ini penting untuk menunjukan sebaran nilai suatu data. Sehingga informasi dapat digali dari data tersebut. Misalkan kita memiliki data nilai sebagai berikut:

Berikutnya kita ingin melihat sebaran nilai tersebut dalam suatu interval:

Excel memiliki fasilitas “Data Analysis” yang dapat diakses di Menu Data (biasanya di sebelah kanan atas).

Excel akan mengeluarkan jendela Data Analysis. Pilih Histogram dilanjutkan dengan memilih range data.

Pilih range data nilai di atas serta bagian bin range data yang berisi data interval di atas.

Setelah ditek OK maka akan tampak Sheet baru yang menunjukan data tersebut.

Embed PDF di WordPress Via Google Docs

Tadinya bermaksud mengembed kode program di wordpress, tetapi ternyata berbayar alias upgrade ke paket bisnis yang 20-an dollar per bulan. Akhirnya coba dengan mengembed pdf saja ke wordpress yang gratis memanfaatkan Google Drive.

Menggunakan Google Drive

Google drive untuk praktisnya dibuka lewat Gmail dengan menekan simbol aplikasi lainnya dilanjutkan dengan menekan simbol Google Drive.

Cara paling mudah adalah mengupload PDF ke Google Drive seperti pada postingan yang lalu. Di sini kita coba dengan cara lain dengan memanfaatkan fasilitas Google Docs.

Google Docs

Tekan tombol “+” di Drive lalu new dan pilih Google Docs. Akan tampil seperti MS Word biasa dengan menu-menu untuk mengetik. Copas saja kode yang akan diinsert ke wordpress di situ.

Atur folder di Drive agar rapi dan mudah mencarinya. Sayangnya tidak ada fasilitas “save as” di Google Docs untuk mengkonversi menjadi file Pdf. Atau dengan fasilitas embed via word langsung seperti di Onedrive. Tapi ternyata dengan fasilitas PRINT ada pilihan Google Cloud Print menjadi PDF yang diletakan di drive, beres dah.

Lanjutkan dengan menekan tombol print untuk menghasilkan file pdf di Google Drive. Buka file tersebut dilanjutkan dengan meng-embedded seperti postingan terdahulu. Mungkin contoh embed-nya bisa dilihat di bawah ini.

Audit Keamanan Informasi

Dulu pernah diminta mengajar mata kuliah keamanan sistem informasi, dari dasar-dasar serangan siber, enkripsi, dan sejenisnya. Tetapi ketika beralih ke jurusan sistem informasi, ternyata ada yang namanya audit keamanan sistem informasi. Nah, ini di Indonesia sedang digodok aturannya oleh Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN). Dulu divisi kemanan transaksi elektronik di luar BSSN dibawah Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure/Coordination Center (ID-SIRTII/CC) dan sekarang digabung dengan lembaga sandi negara menjadi BSSN, bahkan lembaga sandi negara ditunjuk sebagai pengatur lembaga baru tersebut.

Penilaian & Audit Keamanan Transaksi Perdagangan Berbasis Elektronik

Era disrupsi memiliki konsekuensi dari sisi transaksi yang mengharuskan dalam bentuk elektronik. Bahkan dari sisi audit jika ditemukan dua jenis bukti (elektronik dan paper) maka yang elektronik memiliki kekuatan yang lebih besar. Saat ini hampir sebagian besar transaksi keuangan bersifat elektronik. Jadi audit tentang transaksi ini mutlak diperlukan.

Kekurangan Auditor

Saat ini di Indonesia jumlah auditor hanya 300-an menurut asosiasi auditor sistem informasi di Indonesia (IASII) padahal kebutuhan di tanah air cukup tinggi. Sebagai informasi negara-negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina sudah kelebihan auditor dan siap-siap masuk ke Indonesia untuk mensuplai kebutuhan auditor. India? Jangan ditanya, sudah sejak lama mereka masuk bahkan IASII kerap mem-briefing auditor-auditor India yang akan bertugas di Indonesia, waduh. Apalagi perjanjian-perjanjian seperti AFTAA, WTO, MEA, dan lain-lain kebanyakan sudah ditandatangani pemerintah.

Pembentukan Aturan

Memang aturan mudah dibentuk, tetapi jika tidak memandang dunia internasional, agak sulit di era globalisasi ini. Tampak wakil dari praktisi sepertinya keberatan jika auditor harus disertifikasi ulang oleh BSSN mengingat mereka sudah memiliki sertifikasi internasional. Jika aturan dibuat sendiri sertifikasinya, tetangga apalagi internasional akan menanyakan apa itu BSSN, maklum tidak mengenalnya. Bahkan dari asosiasi mempertanyakan mengapa e-KTP yang budgetnya trilyunan tidak diaudit keamanan informasinya, sementara nanti para pengusaha dengan budget yang sedikit diharuskan untuk diaudit keamanan transaksi online-nya. Sepertinya perlu dikomunikasikan dengan para praktisi sebelum aturannya dibuat, dan segera mengingat dunia startup, terutama bidang finansial (misal fintech, paytren, dll) sudah mulai merambah. Sekian sekilas info.

Peer-to-Peer System vs Mediator

Generasi seusia saya pasti pernah mengalami dengar musik lewat kaset, CD, hingga DVD. Namun masih kah dengan cara yang sama saat ini? Masih, mungkin hanya hadiah album dari KFC atau siswa yang mengumpulkan laporan skripsi ke kampus. Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya adalah ditemukannya konsep Peer-to-Peer di tahun 90-an.

Nasib Para Mediator

Mediator di sini adalah penghubung antara satu pihak dengan pihak lainnya, produsen dengan konsumen, penjual dengan pembeli, baik barang maupun jasa. Seperti contoh di atas, mediatornya adalah produsen musik waktu itu. Penyanyi kontrak dengan produser, kaset/CD dijual dan hasil dibagi antara produsen dengan penyanyi. Ketika era digital melanda, seorang pemilik bisa membagi file dengan orang lain dan ini dengan mudah dilakukan di era 2000-an ketika network kian murah dan kian cepat. Bahkan seorang penyanyi bisa langsung mengirimkan hasil karyanya ke pendengar langsung, tentu bukan dengan mediator produser melainkan sebuah teknologi peer-to-peer, sebagai contoh adalah NAPSTAR. Mungkin di musik agak kurang “smooth” karena ada unsur pembajakannya, walaupun sekedar berbagi pakai. Contoh lain adalah konsumen, misalnya ingin membeli komponen kendaraan, maka dengan mudah dapat dilakukan tanpa ke bengkel/toko sparepart melainkan langsung ke pabriknya dengan mediator yang baru yaitu sistem online.

Peer-to-Peer System

Sistem ini merupakan sistem terdistribusi dengan tiap node bisa berupa PC, laptop, HP dan lain-lain yang terhubung ke jaringan dengan menerima aturan-aturan yang ditetapkan bersama. Prinsip ini bisa menghubungkan produsen dengan konsumen langsung. Jadi banyak mediator yang tadinya sebagai penghubung mereka tidak digunakan lagi (bidang transportasi, keuangan, dan lain-lain). Juga dengan lembaga pendidikan?

Ketika putri saya kelas 6, saya memasukan ke bimbingan belajar ternama di Indonesia. Entah kenapa sebagian rekannya keluar karena orang tuanya tidak melihat adanya kemajuan. Anak teman saya juga ketika dikursuskan di bimbingan belajar yang lainnya malah keluar dengan sendirinya dan minta daftar ke situs yang menyediakan bimbingan belajar online, dan hasilnya pun oke. Jika tujuannya pemahaman atau transfer pengetahuan, hubungan langsung peserta didik dengan tutor bisa dilaksanakan tanpa mediator fisik (bimbingan belajar) yang terbatas ruang dan waktu.

Break sebentar nulisnya … abang driver online sudah tiba membawa jus pesanan. Lagi-lagi contoh aplikasi online yang menghubungkan produsen jus dengan konsumen.

Seberapa Mediator kah Anda?

Karena pertanyaan aneh, jadinya sulit dijawab. Ambil saja contoh toko-toko komputer di kawasan glodok yang menjadi perantara produsen laptop/hp sudah merasakannya (termasuk juga department store kabarnya). Beberapa bisa bertahan karena level mediatornya rendah, alias menyediakan juga servis, tukar tambah, dan lain-lain yang memang tidak terlalu melibatkan pihak produsen. Di sini toko itu sendiri yang menjadi produsen yang berjenis jasa (perbaikan). Bagaimana dengan kampus/sekolah dan Dosen/guru? Silahkan jawab sendiri dengan cara analisa seperti contoh di atas. Mahasiswa sudah jelas jadi konsumen (semoga industri jadi konsumen juga), siapakah produsennya, kampus/sekolah atau dosen/guru? Ataukah keduanya mediator dengan pihak lain (unknown) sebagai produsen? Wah. Ada baiknya lihat video Youtube siswa 12 tahun sebagai app developer tentang guru-guru di sekolahnya. (https://www.youtube.com/watch?v=Fkd9TWUtFm0). Sekian semoga menginspirasi.

Instant Quiz dengan KAHOOT – Part 2

Jika sudah Sign Up dengan Kahoot berikutnya kita coba membuat quiz-nya. Sebenarnya Kahoot sekedar media/alat bantu membuat quiz instan. Tetap saja konten (learning management system) ditangan tutor. Ada contoh-contoh quiz bawaan Kahoot. Silahkan mencoba. Jika ingin membuat yang baru tekan Create yang berada di pojok kanan atas.

Ada empat pilihan soal: Quiz, Jumble, Discussion atau Survey. Di sini kita ambil contoh Quiz.

 

Ada soal/Question yang harus diisi dilanjutkan dengan mengisi pilihan jawaban. Untuk jawaban yang benar tekan simbol centang di samping answer. Tekan + untuk menambah soal baru hingga beberapa soal. Jika sudah tekan Save di pojok kanan atas.

Soal dapat di-share agar bisa digunakan oleh tutor-tutor yang lain. Cara memainkannya adalah dengan menekan tombol Plat It.

 

Ada dua pilihan yaitu player vs player atau team lawan team. Pilih saja misalnya player vs player. NOTE: Kahoot yang dishare tersebut berfungsi sebagai ADMIN yang mengatur jalannya quiz. Dengan kata lain untuk tutor/teacher, bukan untuk siswa yang akan mengikuti ujian/quiz.

Bertanding

Ketika dijalankan dengan menekan tombol Play It. Kahoot akan memberikan PIN secara random yang harus diisi oleh peserta quiz ketika menjalankan Kahoot (www.kahoot.it). Setelah memasukan PIN, maka player diminta mengisi identitas bebas. Peserta akan tampak di ADMIN.

Misalnya peserta bernama Yes dan No. Tunggu semua peserta daftar quiz. Jika sudah mulai tekan Start di sebelah kanan.

Di bagian ADMIN, soal akan tampak. Biasanya ditayangkan di LCD di depan kelas. Atau bisa juga dengan cara lain, misal ditulis di grup WA, Chat, dll. Soal berikutnya akan lanjut setelah ADMIN menekan tombol Next di sebelah kanan atas soal quiz.

ADMIN dapat memonitor jumlah peserta yang menjawab dengan benar dan salah. Jika peserta sudah siap dengan pertanyaan berikutnya, kembali ADMIN menekan tombol Next di pojok kanan atas. Jika sudah selesai, selain rangking terlihat, hasilnya bisa disimpan/download.

Untuk menyimpan di komputer kita, tekan Direct Download. File yang diunduh berformat Excel, berisi informasi jawaban peserta quiz.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam quiz dengan Kahoot antara lain dapat dirinci sebagai berikut:

  • Soal tidak tampak di peserta, hanya ADMIN. Biasanya di komputer yang ditayangkan di LCD kelas.
  • Soal dapat ditayangkan lewat cara lain, misalnya pesan di Whatsapp, Facebook, dan lain-lain. Oleh karena siswa butuh waktu untuk membaca dan membuka aplikasi pesan maka waktu disetel yang wajar, misalnya 2 atau 3 menit per soal mengingat default Kahoot adalah 20 detik. Bisa-bisa siswa belum baca soal waktu sudah habis.
  • Jika waktu habis, siswa yang belum menjawab dianggap salah menjawab soal yang bersangkutan.

Salah satu keunggulan quiz lewat aplikasi adalah rekap jawaban secara instan diperoleh dalam format Excel. Bahkan dapat diketahui dengan pasti jawaban siswa, seberapa cepat menjawab serta benar atau salahnya. Selamat Mencoba.

 

Instant Quiz dengan KAHOOT – Part 1

Ketika presentasi Revolusi Industri 4.0 di Munas APTIKOM 2018 Palembang, Prof. Eko Indrajit meluncurkan quiz dengan menggunakan aplikasi Kahoot. Dengan memasukan Game PIN seperti gambar di bawah maka akan ditampilkan empat pilihan jawaban, masing-masing dengan warna atau bentuk. Soal ditayangkan di layar LCD, biasanya di kelas. Siswa ketika menjawab tinggal menakan jawaban di handphone masing-masing setelah memasuki quiz via PIN tersebut. Bagaimana cara membuatnya? Postingan ini sekadar berbagi bagaimana membuat kuis instan ini.

Mendaftar/Signup Kahoot

Klik di sini untuk daftar (di bagian bawah kahoot). Untuk gratis, tekan saja Sign up for Free.

Ada empat pilihan, untuk guru, siswa, sosialita atau pekerjaan. Di sini saya ambil contoh sebagai teacher sesuai dengan profesi saya, dosen.

Berikutnya diminta cara sign up (ada tiga pilihan). Gunakan saja login with Google agar lebih cepat. Pilihan lainnya adalah Sign up with Microsoft, jika ingin.

Hanya butuh tiga isian dan satu checklist konfirmasi sebelum lanjut (joint Kahoot). Checklist terakhir ditekan jika ingin menerima informasi baru dari Kahoot.

Setelah itu schroll hingga ke bawah, pilih saja Basic Version for Teachers.

Selesai sudah daftar Kahoot. Pilih saja Personalize dengan beberapa isian baru agar sesuai dengan tema quiz. Atau jika tidak ingin, bisa pilih No Thanks.

Lanjut: Membuat Quiz

Latihan Mengetik Cepat Online

Salah satu faktor penting dalam penyelesaian proyek baik menulis, riset, hingga pembuatan program aplikasi adalah mengetik cepat. Dengan mengetik cepat maka proses pengerjaan dapat terselesaikan jauh di bawah waktu deadline.

Program Untuk Latihan

Dulu ada program untuk melatih mengetik namanya Typing Master. Namun saat ini lebih baik menggunakan yang berbasis web karena dapat terhubung dengan pengetik-pengetik lainnya dari seluruh dunia. Beberap pengguna menyarankan menggunakan 10fastfinger yang juga disertai game yang menarik karena berkompetisi dengan negara-negara lain.

Lumayan masuk 10 besar ketika uji coba langsung dengan kecepatan 89 wpm (kata/menit). Untuk kecepatan di atas 100 wpm berarti mengetiknya seperti berbicara mengalirnya kata. Sepertinya harus latihan lagi.

Mengetik 10 jari dan Buta

Dua teknik tersebut wajib dikuasai oleh rekan-rekan yang ingin mengetik cepat. Biasanya jika sudah 10 jari secara otomatis akan mengetik buta. Buta di sini artinya tidak melihat tuts keyboard yang ditekan. Teknik yang digunakan adalah:

  • Letakan jari pada rumahnya (asdf – jkl;) khusus untuk qwerty
  • Tekan huruf sesuai dengan wilayah jari (kelingking, manis, tengah, telunjuk dan jempol).

Namun ternyata ketika melihat juara satu-nya 141 wpm, keyboard yang digunakan adalah jenis maltron. Hmm .. bagaimana lagi, sudah terlanjur qwerty jika dipindah akan belajar dari nol lagi.

Jenis-Jenis Format Keyboard

Ternyata jenis-jenis keyboard beragam. Memang saya merasa qwerty sangat tidak reliable karena kebanyakan huruf yang diketik, misalnya a malah berada di jari yang terlemah yaitu kelingking kiri. Jenis-jenis keyboard yang tersedia antara lain (sumber: indoworx.com/jenis-jenis-keyboard/):

1. QWERTY

Ini adalah formasi keyboard pertama di dunia. Kelemahannya adalah beban tangan kiri lebih besar dari tangan kanan. Sangat tidak cocok dengan tangan Indoneisa yang lebih kuat di kanan (bukan kidal). Namun apa boleh buat, karena sudah terlanjur banyak yang makai terpaksa tetap dipertahankan, karena jika format baru akan belajar lagi.

2. DVORAK

Dibentuk pada tahun 1932. Kabarnya DVORAK lebih evisien 10 – 15% dibanding qwerty.

3. KLOCKENBERG

Merupakan kombinasi qwerty dengan dvorak. Bentuknya terpisah antara kiri dan kanan. Fungsinya untuk mengurangi beban pada otot tangan dan bahu. Namun memiliki masalah dalam hal tata ruang dan sangat tidak mobile.

3. MALTRON

Keyboard ini mengatasi masalah jari yang harus menyesuaikan dengan keyboard pada qwerty. Dengan bentuk ini, jari tidak terlalu menyesuaikan dengan keyboard. Repititive injury yang kerap dialami orang yang banyak mengetik dapat dihindari. Lihat gambar di bawah (sumber: assistiveit.co.uk)

 

4. PALANTYPE

Keyboard ini membagi konsonan dengan huruf hidup (bagian tengah). Konsonan di kiri dan kanan yang posisinya mirip awal dan akhir kata. Sayangnya hanya mensuport bahasa Inggris.

5. STENOTYPE

Cocok untuk wartawan dalam merekam/mencatat wawancara. Hasilnya masih berupa singkatan-singkatan sehingga harus diedit lagi jika ingin dipublish. Tapi dengan singkatan saja, si wartawan masih bisa membaca apa yang diketik ketika wawancara. Hmm .. di jaman yang sudah mudah merekam sepertinya tidak diperlukan.

6. ALPHABETIC    

Keyboard ini sederhana karena memformat keyboard secara alfabet. Mudah dalam memasang karena urutannya alfabet .. he he. Biasanya hanya untuk mainan anak-anak.

7. ALPHANUMERIC

Biasa digunakan oleh para kasir / teller bank. Sangat cocok untuk mengetik angka. Keyboard qwerty biasanya menyertakan keyboard alphanumeric yang terpisah di bagian kanan. Tapi untuk laptop sepertinya sudah tidak ada untuk menghemat space.

Demikian tulisan ringan mengenai seluk beluk mengetik. Selamat mengetik.

E-learning Instan dengan Edmodo

Orang-orang se-generasi dengan saya tidak begitu setuju dengan hal-hal yang serba instan, apalagi menyangkut hal-hal yang penting, seperti pendidikan, terutama para rekan yang idealis. Tetapi di era milenial dengan fenomena disrupsi sekarang ini, jika tidak bisa memberikan servis yang disertai kemudahan-kemudahan, maka dapat dipastikan akan tergerus bahkan hancur.

Waktu itu sekembalinya dari tugas belajar, saya mulai mempraktekan flipped learning yang meng-switch perkuliahan dengan pembelajaran di rumah. Jika selama ini perkuliahan tatap muka digunakan untuk transfer ilmu, maka metode ini membaliknya menjadi diskusi dan pengayaan. Di manakah letak transfer ilmu-nya? Jawabnya adalah sebaliknya, transfer ilmu dilakukan sepanjang waktu ketika siswa berada di luar kelas. Caranya bagaimana? Tentu saja e-learning salah satunya. Cara lainnya banyak: Whatsapp, Chating, Telegram, dan lain-lain. Namun masing-masing aplikasi yang memang pada dasarnya dibuat bukan untuk pembelajaran daring, maka memiliki beberapa keterbatasan seperti pembuatan soal, quiz, dan lain-lain. Whatsapp yang sempat saya gunakan karena kampus tidak mempersiapkan e-learning dengan cepat ada masalah ketika hp saya error dan data history hilang semua. Untuk komunikasi, WA dkk sepertinya dapat diandalkan, setidaknya sebagai pelengkap e-learning.

Mendaftar Edmodo

Edmodo dapat diakses di link resminya (edmodo.com). Ada tiga pilihan untuk login: teacher, student dan parent. Sign up saja dengan cepat via email Anda, atau bisa juga dengan “Continue with Google” di bawah “Continue with Office 365”.

 

Mengundang Mahasiswa Mengikuti Kelas

Setelah kelas dibentuk maka tutor dapat mengundang mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan. Caranya ada dua: 1) mengisi data-data si mahasiswa dan 2)menge-share kode kelas yang muncul di Edmodo. Masing-masing punya kelemahan dan kelebihan.

Cara Pertama: Memasukan Langsung

Masuk ke Member Options lalu pilih Add Students dilanjutkan dengan menambah siswa-siswa peserta kelas kita.

Unik juga, siswa tidak wajib memasukan e-mail. Perhatikan, ada tiga mahasiswa yang didaftar tanpa login email. Ketika Add Students ditekan, maka Edmodo akan meng-generate akun disertai passwordnya.

Jangan lupa menekan Download Instruction untuk memunculkan PDF akun dan passwod ketiga siswa di atas.

Ketika login pertama kali maka mahasiswa disarankan langsung mengganti password yang diberikan oleh Edmodo. Cara ini praktis juga karena siswa secara Instan bisa bergabung di kelas tanpa Sign Up di Edmodo. Caranya adalah masuk ke: https://www.edmodo.com/?show_login_modal=1 dengan account di atas:

Satu hal yang unik adalah Edmodo meminta email orang tua/parent untuk peserta. Walaupun tidak diwajibkan, mungkin maksudnya agar mudah dimonitor oleh orang tua, khawatirnya mereka mengikuti e-learning sesat … hehe. Gantilah password dengan masuk ke Setting dan masuk ke menu Password di kiri lalu ganti passwordnya.

Cara Kedua: Meminta Siswa Mendaftar/Join

Cara kedua lebih praktis, yaitu siswa diminta gabung setelah terlebih dahulu sign up di edmodo. Ketika ingin bergabung mereka diminta memasukan kode kelas yang telah kita bagikan sebelumnya. Di menu Classes tekan Joint a Class lalu di jendela Join Group masukan kode kelasnya. Tidak diperlukan parent di cara ini.

Tapi satu kelemahannya adalah jika kode kelas tersebar ke mana-mana maka semua orang bisa masuk ke kelas kita. Walaupun kita bisa me-remove yang bersangkutan, tetapi sangat merepotkan, terlebih jika kelasnya banyak, misalnya ratusan. Apalagi untuk masuk tidak perlu konfirmasi dari kita, alias langusng ikut.

Kelemahan Edmodo

Banyak hal-hal yang sifatnya tertutup ada kemungkinan terbuka keluar karena menggunakan aplikasi berbagi edmodo. Selain itu sistem darurat ini tidak bisa dijadikan hibah pembelajaran daring yang saat ini mulai digenjot oleh Kemristekdikti. Tetapi untuk kampus yang enggan menyiapkan e-learning, atau e-learningnya ingin sempurna sekali (walau entah kapan jadinya), aplikasi ini dengan mudah dapat dipakai. Sekian, siapa tahu bermanfaat.