Mengisi Teks/Tulisan ke Dalam Gambar di Microsoft Word

Banyak aplikasi online maupun android yang tersedia untuk memasukan teks ke dalam gambar. Namun jika kepepet, ga ada pulsa atau wifi gratis, terpaksa kita harus menggunakan fasilitas di laptop yang tersedia. Salah satunya adalah Microsoft Word mengingat aplikasi ini palang banyak diinstal di laptop.

Salah satu fasilitas di Ms Word untuk menyisipkan teks adalah dengan Text Box. Silahkan buka di menu Insert pilih Text Box. Pilih kotak yang sederhana saja yang terletak di kiri atas. Berikutnya silahkan hapus kotaknya dengan cara: Klik kanan – Outline – No Outline.

Jika sudah, masukan gambar dengan: Klik kanan Text Box – Format Shape. Di bagian kanan pilih Text Outline. NOTE: Perhatikan ketika klik kanan, pastika kotaknya yang diklik kanan bukan teksnya.

Pilih Offline karena kita ingin mengambil gambar dari file yang kita miliki. Lalu edit Teks-nya sesuai dengan kata-kata yang diinginkan. Gunakan WordArt untuk membuat tulisan indah. Hasilnya kira-kira seperti di bawah ini:

Selamat mencoba menyisipkan teks di gambar, semoga bermanfaat.

Mengatasi Masalah Ponsel Booting Terus (Looping)

Gara-gara HP dipakai anak main game terus, akibatnya tidak berhasil restart. Sebelumnya memang saya lihat kapasitas system sudah penuh. Namun terlambat, HP rusak duluan. Biasanya saya menggunakan cara lama yaitu hard reset factory tapi ternyata gagal. Repotnya saya jadi tidak bisa lihat dan update WA, terutama WA perkuliahan.

Banyak panduan di youtube yang menyarankan, salah satunya adalah tidak ada cara lain selain mengisi ROM dengan cara flash, yaitu mengisi dari aplikasi pengisian flash ke handphone. Aplikasi yang terkenal dan banyak digunakan saat ini adalah ODIN.

Mengunduh File Firmware

Untuk mengisi flash, perlu mencari file firmware yang cocok dengan versi HP kita. Repot juga, karena saya lupa versi HP (bukan nama pasaran). Akhirnya ketemu juga, SM-N750. Cari di internet fasilitas untuk mengunduhnya yang gratis, karena kebanyakan berbayar. Ada tiga file yang dibutuhkan selain firmware:

  • Driver HP, dalam kasus saya Samsung Driver
  • Aplikasi pengisi (flashing), saya pilih ODIN
  • Firmware
  • Instal Driver Samsung.

Sebelumnya saya salah mengunduh firmware yang harusnya N750 tapi N900, ketika diflash ODIN memberi informasi Fail. Jika sudah masuk langkah berikutnya.

Masuk ke Mode Download Firmware

Firmware adalah software yang berasal dari pabrik perangkat keras yang tersimpan di ROM (sejenis flashdisk dalam HP). Langkah yang dilakukan untuk HP Samsung adalah (untuk HP lain mungkin berbeda):

  • Tekan Volume Down + Power Button + Home Button. Nanti akan muncul Warning, yang memang benar-benar warning. Relakan data Anda jika hilang, kalau takut hilang backup saja, atau pergi ke tukang servis HP. Jika hilang tidak masalah, lanjut berikutnya.
  • Tekan Volume Up. Nanti akan muncul robot starwar (maksudnya Android). Colok ke laptop dengan kabel ori (bukan kabel abal-abal) karena akan digunakan untuk high speed transfer.

Masuk ke Aplikasi ODIN

Jalankan ODIN dengan mengklik file exe nya. Tidak perlu install karena akan langsung terbuka. Pastikan ketika kabel USB dari HP ditancap ke Laptop, ada informasi ADD di ODIN, jika tidak berarti ada masalah dengan driver, atau tunggu sampai proses instal driver (plug-n-play) selesai.

Secara default Auto Reboot dan F. Reset Time tercentang. Biarkan saja. Kita tinggal mengklik AP di File (Download). Di sini kita membrowsing ke lokasi file MD5, atau dikenal dengan nama PDA. Oiya, pastikan rar diekstrak. Lanjutkan dengan menekan Start, setelah menunggu lumayan lama (beberapa menit) aplikasi ODIN memverifikasi file MD5 tersebut. Jika Fail, berarti firmware tidak cocok, jika cocok maka akan berlanjut hingga Pass, yang artinya selesai. HP akan booting dan masuk ke menu inisiasi seperti layaknya HP baru.

Akhirnya selesai juga masalah, dan tidak perlu keluar uang untuk servis HP. Oiya, jurusan teknik komputer itu berkaitan antara hardware dan software, seperti kasus ini. Lihat tampilan video singkat di bawah ini. Semoga bermanfaat.

Referensi

zon3-android.net/flashing/samsung/cara-flashing-samsung-galaxy-note-3-neo-sm-n750.html

Kurikulum Teknik Komputer

Association for Computing Machinery (ACM) dan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) membuat panduan (report) tentang materi yang harus dipelajari (kurikulum) untuk jurusan-jurusan:

  • Teknik Komputer (Computer Engineering)
  • Ilmu Komputer (Computer Science)
  • Sistem Informasi (Information System)
  • Teknologi Informasi (Information Technology)
  • Rekayasa Perangkat Lunak (Software Engineering), dan
  • Model di Masa yang akan datang (Future Model)

Karena kebetulan homebase saya di teknik computer (TK), postingan ini sedikit banyak membahas jurusan tua tersebut. Tahun 2004 ACM/IEEE membuat panduan kurikulum jurusan tersebut, tetapi kemudian direvisi mengikuti perkembangan teknologi pada tahun 2016 yang lalu. Yang dilaporkan panduan tersebut adalah:

  • Body of Knowledge (BoK)
  • Mata kuliah yang melingkupi BoK
  • Kebutuhan Inti jurusan
  • Karakteristik lulusan jurusan teknik komputer

Perkembangan Teknik Komputer

Jurusan TK merupakan hasil evolusi dari teknik elektro dan ilmu komputer. Pertama kali dibentuk untuk menyediakan tenaga terampil dengan spesialisasi logika digital, perancangan prosesor dan sistem komputer. Namun kemudian berkembang mengikuti evolusi yang berkembang dari jurusan ilmu komputer. Di panduan tersebut dibahas juga perkembangan TK di China, yang saat ini membagi jurusan ICT menjadi tiga: computer systems organization, computer applied technology, dan computer software and theory. Sementara itu di Inggris, beberapa kampus seperti University of Manchester menutup jurusan tersebut, waw.

Body of Knowledge Teknik Komputer

Struktur BoK terdiri dari Knowledge Area (KA) yang kemudian dipecah lagi menjadi Knowledge Units (KUs). KUs ini membahas outcome dari pembelajaran yang harus dicapai. BoK TK terdiri dari 12 KA antara lain:

  • CAE Circuits and Electronics
  • CAL Algoritma Komputasi
  • CAO Arsitektur dan Organisasi Komputer
  • DIG Disain Dijital
  • ESY Sistem Tertanam
  • NWK Jaringan Komputer
  • PPP Keprofesian
  • SEC Keamanan Informasi
  • SGP Pemrosesan Sinyal
  • SPE Rekayasa sistem dan proyek
  • SRM Manajemen Sumber Daya
  • SWD Perancangan software

Sementara itu rincian KA beserta KUs-nya silahkan lihat di halaman 25 panduannya. Beberapa mata kuliah sepertinya sulit dijalankan di kampus swasta dengan dana pas-pasan. Oiya, di panduan tersebut ada pembahasan rinci tentang laboratorium yang harus disediakan antara lain:

  • Circuits and electronics (wajib)
  • Arsitektur dan disain komputer (tambahan)
  • Pemrosesan sinyal (tambahan)
  • Disain Sistem digital dan logika (wajib)
  • Sistem Tertanam (wajib)
  • Pengenalan rekasyasa (disarankan)
  • Jaringan (disarankan)
  • Disain software (disarankan)
  • Disain proyek akhir (wajib)

Unik juga, ternyata jaringan bukan praktek wajib, melainkan hanya disarankan. Silahkan baca untuk yang TI, SI, dan ilkom. Sekian, semoga bermanfaat.

Manajemen dan Strategi Informasi Perusahaan-Perusahaan Besar

Ketika membenahi buku-buku lawas yang berantakan, saya menemukan buku yang digunakan untuk perkualiahan IT strategy. Perkuliahan S2 tersebut “lumayan”. Maksudnya sulit dimengerti karena ada unsur “mengantuk”nya. Maklum temanya berat karena masih agak asing. Di tahun 2008 memang era disrupsi belum dimulai (atau mungkin sedang dimulai). Buku berjudul “Corporate Information Strategy and Management, 7 edition – Text and Cases” tersebut dikarang oleh Lynda M. Applegate, dkk, yang merupakan dosen harvard business school.

Ketika membacanya, buku terbitan tahun 2005 itu memang berbahasa Inggris “level atas”. Ditambah dengan banyak studi kasus, membuat kepala pening. Padahal niatnya ingin dapat nilai sekadarnya dan lulus master sebagai prasarat minimal jadi seorang dosen. Namun saat ini, ketika membacanya kembali ada sedikit kekaguman. Ternyata bagus juga bukunya dalam mengulas secara detil kasus per kasus.

Sedikit Ringkasan di Modul – 1: Business Impacts

Banyak studi kasus yang diberikan modul 1, biasanya cerita sukses penggunaan IT dalam mempertahankan kinerja perusahaannya. Tapi ada satu kolom yang ditulis oleh Nicholas G. Carr (ditulis dalam majalah Financial Times tahun 2001). Isinya kira-kira sebagai berikut:

Penerapan CPU dalam Silikon Kecil

Waktu itu, di tahun 68, seorang peneliti di Intel, Ted Hoff, mampu menyisipkan prosesor dalam silikon kecil. Sejak itulah pembuatan komputer berukuran kecil membanjiri pasaran. Dari penggunaan anggaran 5%, 15%, dan terus hingga 50% perusahaan-perusahaan AS digunakan untuk sarana dan prasarana IT.

IT Sebagai Penentu Kesuksesan

Banyak perusahaan-perusahaan besar yang memiliki sarana dan prasarana IT yang baik mengungguli perusahaan-perusahaan lain yang kurang memiliki sarana tersebut. Hal ini berlangsung cukup lama. Namun lama kelamaan akibat teknologi IT yang terus berkembang, sarana dan prasarana IT menjadi sangat murah dan semua perusahaan mampu membelinya. Ini menimbulkan sedikit gejolak baru.

Menghilangnya IT Sebagai Penentu Kesuksesan

Mirip kejadian era setelah revolusi industri. Ketika itu banyak perusahaan-perusahaan kuat memiliki jalur distribusi sendiri, seperti kereta api, pasokan daya listrik, bahkan jalan khusus pabrik tersebut. Namun berkembangnya teknologi kelistrikan dan elektronik. Munculnya perusahaan-perusahaan jasa pengiriman, memunculkan dibangunnya sarana dan prasarana untuk umum. Sehingga tiap perusahaan bisa menggunakannya, istilah saat ini adalah share infrastruktur. Begitu pula yang terjadi dalam IT yang masuk ke dunia online. Tidak ada lagi saat ini yang menggunakan infrastruktur IT yang full terisolasi, yang berpotensi menuntut biaya tinggi.

Terlalu Banyak Hal-Hal yang Baik

Tulisan tersebut diakhiri dengan satu kekhawatiran. Memang waktu tulisan itu ditulis, dunia online belum begitu tampak. Amazon, Alibaba, Gojek, Grab, dan sejenisnya belum tampak. Atau bahkan beberapa pendiri masih sekolah. Namun dengan analogi era setelah revolusi industri, sepertinya akan terulang lagi. Bahkan, sejarawan D.S. Landes memprediksi adanya ketidakpastian akibat penerapan teknologi IT yang terus berkembang dan kian sempurna.

Demikian, kolom singkat di modul-1 yang bagi saya sangat menarik. Menarik di sini karena tulisan itu bisa meramal kondisi 10 tahun kemudian dimana saat ini banyak perusahaan-perusahaan raksasa tumbang akibat perkembangan pesat teknologi informasi. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Mendaftarkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HKI) Suatu Ciptaan

Berbeda dengan mendaftar hak patent yang lebih sulit, bahkan pendingnya bisa bertahun-tahun, mendaftar hasil ciptaan di negara kita lebih mudah. Kementerian yang bertanggung jawab mendata hasil ciptaan adalah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), khususnya Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Prosesnya sangat cepat, kurang dari seminggu untuk karya tertentu, namun manfaatnya cukup besar terutama jika di kemudian hari ada yang menjiplak. Posisi jadi lebih kuat jika kita sudah mendaftarkan/mencatatkan hasil ciptaan di kemenkumham.

Salah satu hal yang mempercepat proses pencatatan adalah tersedianya fasilitas online, dengan nama e-Hak Cipta Kekayaan Intelektual (lihat link resminya untuk registrasi). Butuh satu hari untuk verifikasi akun kita. Jika sudah, kita siap mendaftarkan ciptaan kita dengan terlebih dahulu login dengan akun yang telah diverifikasi.

Isi permohonan baru jika ingin mendaftarkan ciptaan. Setelah itu dilanjutkan untuk mengisi data-datanya. File-file yang harus disiapkan untuk diunggah antara lain:

  • Scan NPWP
  • Scan KTP
  • Scan Pernyataan Bermaterai
  • File Ciptaan (Foto, Bagan, Manual, dll)

Jika sudah diupload, tunggu dicek oleh pihak e-HKI dengan terlebih dahulu membayar dengan biaya antara 400 hingga 600 ribu. Khusus UMKM ada keringanan biaya (hampir separuhnya).

Tunggu beberapa hari untuk menunggu pengesahan oleh pihak e-Hakcipta. Jika sudah disetujui, file HKI bisa diunduh langsung sebelum menerima berkas aslinya.

Untuk panduan lengkapnya silahkan unduh berkas panduan resminya dari link berikut. Selamat mendaftar ciptaan, semoga bermanfaat.

Membuat Video Tutorial dengan Mobizen pada Android

Untuk sarana pendukung pertemuan kuliah terkadang penjelasan dalam bentuk video pembelajaran perlu juga. Bentuknya bisa power point atau capture dari laptop dengan aplikasi tertentu, misalnya screen-O-matic yang gratis. Jika materi dalam bentuk power point tidak masalah. Lain halnya jika penjelasan berupa rumus-rumus matematika yang dijelaskan seperti pada white board di kelas.

Banyak cara, salah satunya adalah dengan membeli pen-drive, dengan pena dan tatakan elektronik yang mampu menulis lewat screen komputer. Tapi harganya lumayan juga. Dengan sedikit berfikir, saya melihat samsung galaxy note 2014 edition saya dahulu yang sudah error tombol chargernya, tetapi sebenarnya masih ok baik layar maupun pena stylusnya. Dan setelah menanyakan anak saya yang SD ternyata katanya ada aplikasi untuk capture screen di android, namanya Mobizen. Alhasil, saya langsung ke Bekasi Cyber Park untuk service tombol charger samsung saya, dan normal kembali dengan hanya mengeluarkan dana Rp 100 ribu saja (ganti tombol usb untuk charger di tablet). Kuat juga ternyata samsung, 4 tahunan masih OK. Berikut tampilannya, tapi ntah mengapa di bagian tengah voice hilang berganti dengan suara pulpen stylush, mungkin ada yang tertekan. Sekian, selamat mencoba aplikasi tersebut.

Sepertinya lebih baik menggunakan microphone dari headset, hasilnya lebih jernih seprti berikut ini.

Kode Warna HTML

Banyak referensi kode warna dijumpai di internet. Saya sendiri memerlukan referensi tersebut sewaktu-waktu. Terkadang repot juga ketika butuh, tidak ada catatan tentang kode tersebut. Terpaksa buka internet. Salat satu kode yang akurat adalah dari situs ini karena beragam warna tersedia.

Perhatikan, dengan mngklik warna hijau di pallete, langsung Color code muncul: #2EFE2E. Tapi untuk warna dasar bisa menggunakan kode berikut, sekaligus sebagai contekan jka sewaktu-waktu butuh:

  

  Nama Warna HEX RGB
 
Alice Blue #F0F8FF rgb(240, 248, 254)
 
Antique White #FAEBD7 rgb(251, 235, 217)
 
Aqua #00FFFF rgb(0, 255, 254)
 
Aquamarine #7FFFD4 rgb(115, 255, 216)
 
Azure #F0FFFF rgb(239, 255, 255)
 
Beige #F5F5DC rgb(245, 245, 223)
 
Bisque #FFE4C4 rgb(255, 227, 200)
 
Black #000000 rgb(0, 0, 0)
 
Blanched Almond #FFEBCD rgb(255, 234, 208)
 
Blue #0000FF rgb(0, 0, 255)
 
Blue Violet #8A2BE2 rgb(138, 43, 226)
 
Brown #A52A2A rgb(165, 42, 42)
 
Burly Wood #DEB887 rgb(222, 184, 135)
 
Cadet Blue #5F9EA0 rgb(95, 158, 160)
 
Chartreuse #7FFF00 rgb(127, 255, 1)
 
Chocolate #D2691E rgb(210, 105, 30)
 
Coral #FF7F50 rgb(251, 127, 80)
 
Cornflower Blue #6495ED rgb(100, 149, 237)
 
Cornsilk #FFF8DC rgb(225, 248, 220)
 
Crimson #DC143C rgb(220, 20, 60)
 
Cyan #00FFFF rgb(62, 254, 255)
 
Dark Blue #00008B rgb(0, 0, 139)
 
Dark Cyan #008B8B rgb(29, 139, 139)
 
Dark Golden Rod #B8860B rgb(184, 134, 11)
 
Dark Gray #A9A9A9 rgb(169, 169, 169)
 
Dark Green #006400 rgb(19, 100, 0)
 
Dark Khaki #BDB76B rgb(189, 183, 107)
 
Dark Magenta #8B008B rgb(139, 0, 140)
 
Dark Olive Green #556B2F rgb(85, 107, 47)
 
Dark Orange #FF8C00 rgb(251, 140, 1)
 
Dark Orchid #9932CC rgb(153, 50, 204)
 
Dark Red #8B0000 rgb(139, 5, 0)
 
Dark Salmon #E9967A rgb(233, 150, 122)
 
Dark Sea Green #8FBC8F rgb(143, 188, 144)
 
Dark Slate Blue #483D8B rgb(72, 61, 139)
 
Dark Slate Gray #2F4F4F rgb(47, 79, 79)
 
Dark Turquoise #00CED1 rgb(48, 206, 209)
 
Dark Violet #9400D3 rgb(148, 0, 211)
 
Deep Pink #FF1493 rgb(249, 19, 147)
 
Deep Sky Blue #00BFFF rgb(43, 191, 254)
 
Dim Gray #696969 rgb(105, 105, 105)
 
Dodger Blue #1E90FF rgb(30, 144, 255)
 
Fire Brick #B22222 rgb(178, 34, 33)
 
Floral White #FFFAF0 rgb(255, 250, 240)
 
Forest Green #228B22 rgb(34, 139, 35)
 
Fuchsia #FF00FF rgb(249, 0, 255)
 
Gainsboro #DCDCDC rgb(220, 220, 220)
 
Ghost White #F8F8FF rgb(248, 248, 255)
 
Gold #FFD700 rgb(253, 215, 3)
 
Golden Rod #DAA520 rgb(218, 165, 32)
 
Gray #808080 rgb(128, 128, 128)
 
Green #008000 rgb(27, 128, 1)
 
Green Yellow #ADFF2F rgb(173, 255, 48)
 
Honey Dew #F0FFF0 rgb(240, 255, 240)
 
Hot Pink #FF69B4 rgb(240, 255, 240)
 
Indian Red #CD5C5C rgb(205, 92, 92)
 
Indigo #4B0082 rgb(75, 0, 130)
 
Ivory #FFFFF0 rgb(255, 255, 239)
 
Khaki #F0E68C rgb(240, 230, 140)
 
Lavender #E6E6FA rgb(230, 230, 250)
 
Lavender Blush #FFF0F5 rgb(254, 240, 245)
 
Lawn Green #7CFC00 rgb(124, 252, 2)
 
Lemon Chiffon #FFFACD rgb(255, 250, 205)
 
Light Blue #ADD8E6 rgb(173, 216, 230)
 
Light Coral #F08080 rgb(240, 128, 128)
 
Light Cyan #E0FFFF rgb(224, 255, 255)
 
Light Golden Rod Yellow #FAFAD2 rgb(250, 250, 210)
 
Light Gray #D3D3D3 rgb(211, 211, 211)
 
Light Green #90EE90 rgb(144, 238, 144)
 
Light Pink #FFB6C1 rgb(252, 182, 193)
 
Light Salmon #FFA07A rgb(251, 160, 122)
 
Light Sea Green #20B2AA rgb(40, 178, 170)
 
Light Sky Blue #87CEFA rgb(135, 206, 250)
 
Light Slate Gray #778899 rgb(119, 136, 153)
 
Light Steel Blue #B0C4DE rgb(176, 196, 222)
 
Light Yellow #FFFFE0 rgb(255, 255, 224)
 
Lime #00FF00 rgb(63, 255, 0)
 
Lime Green #32CD32 rgb(50, 205, 50)
 
Linen #FAF0E6 rgb(250, 240, 230)
 
Magenta #FF00FF rgb(249, 0, 255)
 
Maroon #800000 rgb(128, 4, 0)
 
Medium Aqua Marine #66CDAA rgb(102, 205, 170)
 
Medium Blue #0000CD rgb(0, 0, 205)
 
Medium Orchid #BA55D3 rgb(186, 85, 211)
 
Medium Purple #9370DB rgb(147, 112, 219)
 
Medium Sea Green #3CB371 rgb(60, 179, 113)
 
Medium Slate Blue #7B68EE rgb(123, 103, 238)
 
Medium Spring Green #00FA9A rgb(62, 250, 153)
 
Medium Turquoise #48D1CC rgb(72, 209, 204)
 
Medium Violet Red #C71585 rgb(199, 21, 133)
 
Midnight Blue #191970 rgb(25, 25, 112)
 
Mint Cream #F5FFFA rgb(245, 255, 250)
 
Misty Rose #FFE4E1 rgb(254, 228, 225)
 
Moccasin #FFE4B5 rgb(254, 228, 181)
 
Navajo White #FFDEAD rgb(254, 222, 173)
 
Navy #000080 rgb(0, 0, 128)
 
Old Lace #FDF5E6 rgb(253, 245, 230)
 
Olive #808000 rgb(128, 128, 1)
 
Olive Drab #6B8E23 rgb(107, 142, 35)
 
Orange #FFA500 rgb(252, 165, 3)
 
Orange Red #FF4500 rgb(250, 69, 1)
 
Orchid #DA70D6 rgb(218, 112, 214)
 
Pale Golden Rod #EEE8AA rgb(238, 232, 170)
 
Pale Green #98FB98 rgb(152, 251, 153)
 
Pale Turquoise #AFEEEE rgb(175, 238, 239)
 
Pale Violet Red #DB7093 rgb(219, 112, 147)
 
Papaya Whip #FFEFD5 rgb(254, 239, 213)
 
Peach Puff #FFDAB9 rgb(253, 218, 185)
 
Peru #CD853F rgb(205, 133, 63)
 
Pink #FFC0CB rgb(252, 192, 203)
 
Plum #DDA0DD rgb(221, 160, 221)
 
Powder Blue #B0E0E6 rgb(176, 224, 230)
 
Purple #800080 rgb(128, 0, 128)
 
Rebecca Purple #663399 rgb(102, 51, 153)
 
Red #FF0000 rgb(255, 0, 0)
 
Rosy Brown #BC8F8F rgb(188, 143, 142)
 
Royal Blue #4169E1 rgb(65, 105, 225)
 
Saddle Brown #8B4513 rgb(139, 69, 19)
 
Salmon #FA8072 rgb(250, 128, 114)
 
Sandy Brown #F4A460 rgb(244, 164, 95)
 
Sea Green #2E8B57 rgb(46, 139, 87)
 
Sea Shell #FFF5EE rgb(255, 245, 238)
 
Sienna #A0522D rgb(160, 82, 45)
 
Silver #C0C0C0 rgb(192, 192, 192)
 
Sky Blue #87CEEB rgb(135, 206, 235)
 
Slate Blue #6A5ACD rgb(106, 90, 205)
 
Slate Gray #708090 rgb(112, 128, 145)
 
Snow #FFFAFA rgb(255, 250, 250)
 
Spring Green #00FF7F rgb(63, 255, 128)
 
Steel Blue #4682B4 rgb(70, 130, 180)
 
Tan #D2B48C rgb(210, 180, 140)
 
Teal #008080 rgb(26, 128, 127)
 
Thistle #D8BFD8 rgb(216, 191, 216)
 
Tomato #FF6347 rgb(250, 99, 71)
 
Turquoise #40E0D0 rgb(64, 224, 208)
 
Violet #EE82EE rgb(238, 130, 238)
 
Wheat #F5DEB3 rgb(245, 222, 179)
 
White #FFFFFF rgb(255, 255, 255)
 
White Smoke #F5F5F5 rgb(245, 245, 245)
 
Yellow #FFFF00 rgb(255, 255, 0)
 
Yellow Green #9ACD32 rgb(154, 205, 49)

 

Referensi:

  • dianagung.com
  • html-color-codes.info/
  • w3schools.com/cssref/css_colors.asp

 

Problem pada Edit Menu dan Sidebar Menu di OJS 3.1

Ada sedikit masalah ketika menambahkan satu menu baru di bawah about misalnya “editorial team”. Beberapa user bisa tetapi ada satu user yang tidak berhasil menambahkan menu tersebut. Kuncinya ternyata di menu terdiri dari dua jenis:

  • User Menu, dan
  • Primary Menu

Video berikut memperlihatkan tampilannya. Perhatikan jika tidak muncul, tinggal drag saja unassigned menu ke kiri agar tampak. Gunakan primary menu agar tampil di menu khusus jurnal yang dilihat (jila lebih dari satu jurnal dalam situs OJS).

Side Bar Menu

Ada lagi masalah dalam OJS 3.1 yaitu tidak bisa mengupload suatu gambar. Misalnya di sidebar (menu yang ada di sisi kanan OJS) akan ditayangkan “indexed by” dengan tampilan logo Google Scholar dan Sinta, ternyata tidak bisa upload gambar. Solusi sementara sebelum menemukan jawaban pastinya adalah dengan mengarahkan gambar ke sumber lain. Lihat video berikut. Sekian semoga sedikit banyak bermanfaat.

Strategi Pembelajaran Daring (Online)

Dalam menghadapi era revolusi 4.0 dan university 5.0 pemerintah mencetuskan GEN-RI 4.0 yang salah satunya adalah dengan menarapkan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA). Kendala tentu saja akan dihadapi ketika menerapkan sistem pembelajaran daring tersebut. Beberapa literatur di internet banyak mengupas hal tersebut, salah satunya dari situs ini.

Daring vs Tatap Muka

Pembelajaran tatap muka sudah dilaksanakan sejak taman kanak-kanak. Guru atau dosen datang, melaksanakan rutinitas seperti biasa, memperkenalkan diri, mengecek absensi, mengeluarkan lelucon tertentu yang membuat siswa tertarik, dan sebagainya. Peserta didik pun melakukan hal yang sama, berusaha memahami tujuan pembelajaran, mempersiapkan materi, berusaha datang tepat waktu, dan dapat mengikuti pelajaran yang diajarkan. Bagaimana dengan perkuliahan daring?

Perkuliahan daring menimbulkan masalah bukan hanya siswa tetapi pengajar (tutor) pun mengalami hal yang sama. Fokus utama tentu saja kepada peserta didik yang menjadi sasaran pembelajaran. Ibarat mengajari berenang, siswa dipaksa terjun ke kolam tanpa terlebih dahulu diberi teknik/teori dasarnya. Hal ini terkadang membuat siswa frustasi. Banyak siswa mengalami ketidakjelasan terhadap materi yang diajarkan. Materi datang dan pergi begitu saja tanpa ada bekas di benak peserta didik.

Tiga Strategi Pembelajaran Daring

Strategi di sini hanya berupa hal-hal yang perlu disadari oleh pengajar online (tutor) ketika memulai perkuliahan daringnya. Hal-hal tersebut adalah aspek-aspek yang membedakan kuliah daring dengan tatap muka, baik dari sisi kelemahan maupun kelebihannya.

  • Pembelajaran daring bukan hanya berkutat dengan internet, melainkan aspek penting yaitu “lebih aman (safer)”. Kita mengenal Learning Management Systems (LMS) sebagai komponen penting e-learning. Akhir-akhir ini aksi “bulying” kerap terjadi ketika proses pembelajaran. Dengan LMS, peserta didik dengan nyaman berinteraksi dengan tutor-nya tanpa khawatir dicemooh oleh peserta lainnya. Di sinilah letak “safe” tersebut. Intinya, peserta didik bebas mengekspresikan ide-idenya.
  • Pembelajaran daring memperluas komunitas pembelajaran. Memperluas di sini karena antara satu siswa dengan siswa lainnya memiliki akses komunikasi yang lebih baik dibanding diskusi tatap muka yang terbatas oleh ruang dan waktu. Bahkan diskusi tatap muka yang sudah baik pun masih memiliki kendala dimana ada kecenderungan siswa kurang peduli terhadap apa yang dikatakan oleh rekannya. Mungkin karena akibat dia sendiri sedang berjuang memahami konsep-konsep di benaknya. Selain itu, kebanyakan perkuliahan tatap muka hanya menjadi ajang kontes kecanggihan profesor pengajar saja, padahal harusnya berfokus ke perkembangan intelektual peserta didik.
  • Menemukan ritme. Hal terakhir ini salah satu kendala utama pembelajaran daring. Ketika kita terbiasa dengan jadwal yang pasti, urutan proses perkuliahan yang runtun, pada perkuliahan online peserta didik harus mengatur sendiri jadwal yang optimal kapan dia belajar dan harus keluar dari zona nyamannya yang biasa mereka lakukan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi (tatap muka yang teratur). Jika tidak diantisipasi, dapat dipastikan siswa akan lalai dalam mengatur waktunya. Tetapi jika siswa mampu mengetahui kapan waktu-waktu optimalnya akibat kebebasan dalam belajar daring, banyak keutamaan-keutamaan yang diperoleh dari perkuliahan online.

Itulah tiga hal yang harus disadari oleh tutor online. Ada baiknya tutor memastikan peserta didik cepat mencapai zona nyamannya dalam kuliah daring. Tentu saja tiap siswa berbeda, namun demikian pada umumnya perbedaan-perbedaan yang ada memiliki keunggulan tersendiri. Postingan ini disarikan dari tulisan pada referensi berikut. Sekian semoga bermanfaat.

Referensi:

Era University 5.0

Untuk menghadapi era revolusi 4.0, ristek dikti mencanangkan GEN-RI 4.0 (post yang lalu). Sementara itu saat ini kabarnya kita siap menghadapi era university 5.0. Sebelum masuk ke era tersebut, ada baiknya membahas era-era sebelumnya.

University 1.0

Ada sedikit perbedaan antara satu sumber dengan sumber lainnya mengenai pembagian era university. Situs berikut menjelaskan saat ini adalah era pendidikan tinggi (higher education) 3.0, sementara situs lainnya versi 5.0. Jika diambil dari rujukan yang terakhir, university 1.0 adalah pendidikan yang ditujukan untuk para kaum elit/bangsawan.

University 2.0

Munculnya era revolusi industri memaksa perubahan paradigma pendidikan. Pendidikan tidak hanya untuk kaum elit saja.

University 3.0

Setelah perang dunia kedua, semua negara fokus untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. University berperan dalam melakukan inovasi-inovasi dalam rangka meningkatkan daya saing.

University 4.0

Era ini ditunjukan dengan perubahan sosial dimana wanita berperan juga dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Era ini sekitar tahun 60-an hingga 70-an.

University 5.0

Pada era ini pendidikan tinggi dituntut mampu mengikuti perkembangan globalisasi ditandai dengan pesatnya perkembangan telekomunikasi dan perubahan budaya era modern. Sebenarnya siapakah konsumen university 5.0 ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah generasi z.

Generasi Z

Generasi Z merupakan penerus generasi sebelumnya (millenials dan baby boomers). Generasi ini (saat ini berusia 7 – 23 tahun) yang ditandai dengan “melek internet” memiliki ketabahan dan tangguh dalam mencapai sesuatu (Grit). Karakter-karakternya antara lain:

  • Ingin unggul dibanding rekan-rekannya
  • Ingin menguasai dunia dengan kegiatan suka rela
  • Percaya bahwa tiap aksi pasti ada hasil nyata
  • Melihat aspek sosial ketika memilih bekerja di suatu institusi
  • Beberapa ingin bekerja yang memiliki dampak terhadap dunia sekitar
  • Gemar membagi (share) ilmu lewat dunia maya
  • Percaya bahwa dunia online bisa membantunya menggapai keinginan
  • Percaya bahwa apapun memiliki kemungkinan untuk diraih
  • Lebih pragmatis dibanding generasi sebelumnya. Mereka terkadang menghargai orang biasa dibanding selebritis terkenal
  • Menghargai nilai kejujuran
  • Sangat memperhatikan keseimbangan dunia kerja dengan kehidupan
  • Sangat menghargai uang, terkadang pandai berhemat tetapi terkadang membeli hal-hal tertentu yang unik (“cool product” dari pada “cool experience”).

Tuntutan Generasi Z terhadap University 5.0

Oleh karena hal-hal di atas, generasi Z membutuhkan kampus-kampus sebagai berikut:

  • Kampus yang akuntabel yang bisa menjangkau semua golongan (inclusive)
  • Value Oriented. Generasi Z harus melihat manfaat dari kampus tempat dia kuliah.
  • Interaktif. Generasi ini menuntut jawaban segera ketika menjumpai masalah.
  • Berdasarkan kenyataan. Kampus harus bisa membuktikan diri bahwa institusinya layak dipilih oleh mereka
  • Fleksibel. Kampus harus mampu beradaptasi terhadap perkembangan jaman yang cepat.
  • Personal. Tidak ada kampus yang memiliki strategi yang tepat untuk semua mahasiswa generasi Z yang beragam karakternya. Mereka ingin diperhatikan personal yang berbeda dengan rekan-rekannya.

Referensi:

Menyederhanakan Alamat Link dengan Bit.ly

Memang ketika membagi alamat situs yang berisi data selayaknya ditulis lengkap dengan menyertakan nama domainnya. Tetapi terkadang dengan menuliskan secara lengkap, ketika berbagi data dengan rekan tim jika ditulis terlalu panjang sedikit merepotkan, ditambah lagi dengan link yang berisi kode-kode tertentu yang tidak “human readable“. Salah satu situs terkenal yang memberikan layanan penyederhanaan alamat situs yang di-share adalah bit.ly.

Manfaat yang saya rasakan dengan situs ini adalah mudah dalam mengingat alamat situs yang dibagikan dari/ke orang lain, terutama ketika menginfokan sesuatu secara ofline (bukan dengan WA, facebook, dan sejenisnya). Dengan format “bit.y/(keterangan)” maka orang lebih mudah mengingat/mencatat “keterangannya” dan terhindar dari salah tulis. Berikut ini langkah-langkah penggunaannya:

Mendaftar/Sign-up

Pertama kita diminta untuk mendaftar di bit.ly. Tekan tombol “Sign Up” untuk mendaftar. Jika malas mengisi data, bisa dengan sign up dengan facebook.

Menyederhanakan Link dengan Bitlink

Misalkan ada link seperti ini: https://drive.google.com/file/d/0BzvQ5rbP5stZUHRmMU1oTnJDOVVOOVRfRWZtNm8yeUdwamlz/view?usp=sharing

yang harus di share. Tentu saja sulit diingat, kecuali memang dengan cara copas. Dengan bit.ly kita tinggal memasukan ke isian link yang akan disederhanakan setelah menekan Create Bitlink dilanjutkan dengan mengeditnya. Misalnya saya edit menjadi: “10-tips-penulisan” yang tentu saja mudah diingat dan ditulis/diketik. Tekan Save dan alamat yang sudah disederhanakan siap dipakai.

Bandingkan link sebelumnya yang panjang dan disederhanakan menjadi: http://bit.ly/10-tips-penulisan saja. Mudah diingat bahkan jika ingin mengeshare secara lisan dapat dilakukan dengan kata “10-tips-penulisan” dengan alamat depan “bit.ly” yang juga mudah diingat. Sekian semoga bermanfaat.

Mencoba Open Journal System (OJS) Versi 3.1.0.0

Oleh: Herlawati

Ketika memberi pelatihan OJS 3 di kampus UNISMA Bekasi, ada beberapa hal baru yang dapat dibagikan di sini. Pertama-tama ternyata OJS saat ini masuk versi 3.1.0.0 dengan tampilan yang lebih “smooth” dibanding versi 3.0. Berikut beberapa hal spesifik yang menjadi kendala saat itu:

Role “jurnal manager”

Jurnal menager memiliki hak akses untuk melakukan beberapa aksi seperti mempublish artikel baru. Tetapi beberapa role harus diset di level di atasnya (admin) dan tidak mengikuti default-nya. Sebab jika mengikuti aturan default dari bawaan OJS3 memiliki banyak keterbatasan, terutama bagi pengelola jurnal baru yang harus mengupload edisi-edisi cetak lawas yang harus dionline-kan. Tentu saja jangan disamakan level jurnal manager dengan admin karena khawatir pengelola jurnal merusak e-journal (berisi beberapa jurnal di suatu institusi). Uniknya akun yang sudah dibuat default tidak bisa diedit, dan harus dibuatkan akun baru dengan hak akses yang tidak default. Terpaksa membuat akun-akun baru jurnal manager dengan hak akses yang tidak default (dengan fasilitas khusus).

Menu tambahan

Beberapa peserta berhasil menambahkan menu tambahan, tetapi ada satu jurnal yang tidak bisa ditambahkan menu tertentu seperti “Editorial Team” yang berisi nama-nama pengelola suatu jurnal. Kasus ini agak rumit karena hanya satu jurnal yang bermasalah sementara jurnal-jurnal lainnya oke.

Upload Gambar

Ketika menambahkan teks statis di bar vertikal kanan, dan akan memasukan logo/gambar ternyata tidak bisa upload gambar. Tetapi dengan menggunakan gambar/logo dari link sumber lain ternyata bisa. Sepertinya masih harus diteliti masalah upload gambar di OJS 3.1.0.0 ini.

Masih banyak hal-hal teknis yang perlu dibenahi. OJS buatan PKP ini pun terus membenahi diri dengan mempermudah penggunaannya. Maklum tidak semua pengguna memiliki background komputer. Oiya, silahkan berkunjung ke jurnal yang diutak-atik barusan di link berikut ini. Sekian semoga bermanfaat.

Pelatihan OJS3

Update: 24 Februari 2018

Info dari pertemuan antar pengelola jurnal di LIPI bahwa migrasi dari OJS 2 ke OJS 3 harus hati-hati mengingat tiap artikel yang dipublikasi memiliki Digital Object Identifier (DOI) yang unik dan ketika migrasi harus dipastikan tidak berubah. Sementara info dari PKP, perancang OJS, menyebutkan versi 3 memiliki keunggulan lebih dinamis, mudah dikustomisasi, dan theme yang lebih menarik. Silahkan lihat di link resminya.

Open Journal System (OJS) Versi 3

Oleh: Herlawati, S.Si., M.M., M.Kom. (STMIK Bina Insani)

Open Journal System (OJS) adalah aplikasi gratis untuk mengelola jurnal. Aplikasi ini dibuat oleh Public Knowledge Project (PKP), silahkan kunjungi situsnya. Saat ini OJS sudah versi 3 dengan tambahan utama misalnya ORCID ID terlihat, serta tahapan proses publikasi lebih singkat dibanding OJS versi sebelumnya (versi 2). Selain itu tampilan lebih halus, bentuk sitasi yang kustom, dan lain-lain.

Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi tim Relawan Jurnal Indonesia (RJI). Beberapa waktu yang lalu, sebagai contoh perguruan tinggi Bina Insani mengadakan pelatihan OJS tersebut. Postingan tentang pelatihan kustomisasi OJS 3 dan MOU dengan pihak Relawan Jurnal Indonesia (RJI) korda Jakarta dapat dilihat link berikut ini.

Salah satu kustomisasi adalah mengaktifkan plugin. Plugin ini berfungsi untuk menseting komponen-komponen tertentu di OJS, seperti menambah focus and scope, peer review, template, alamat redaksi, stats counter, dan lain-lain. Silahkan video tutorialnya berikut.

Setelah diaktivasi, untuk menambah salah satu komponen, misalnya stats counter, akan dilanjutkan pada postingan lainnya.

Era Revolusi Industri 4.0

Dulu di bangku sekolah kita diperkenalkan dengan istilah revolusi industri di Inggris tahun 1760. Tiba-tiba muncul informasi dari sharing di grup WA revolusi industri versi 4.0. Ada baiknya kita melihat kembali ke belakang perkembangan revolusi industri yang terjadi hingga saat ini.

Revolusi Industri 1.0

Ini merupakan revolusi industri pertama yang ditujukan untuk mematahkan teori Robert Maltus akan kekhawatiran jumlah penduduk yang jauh lebih tinggi pertumbuhannya (deret ukur) dibanding pertumbuhan kebutuhan pokok (deret hitung). Penemuan mesin-mesin yang meningkatkan efisiensi dan jumlah produksi memicu revolusi industri pertama. Ditunjang pula oleh patent act yang membuat para ilmuwan berminat untuk menemukan mesin-mesin atau alat-alat baru.


Revolusi Industri 2.0

Rusaknya lingkungan membuat negara-negara industri berfikir keras menciptakan terobosan-terobosan baru tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Revolusi industri 2.0 dicetus oleh penemuan-penemuan di bidang kelistrikan.

Revolusi Industri 3.0

Tidak lama setelah perkembangan kelistrikan, ditemukan pula alat-alat elektronika dan telekomunikasi yang menciptakan temuan-temuan baru di bidang teknologi informasi dan elektronika. Revolusi industri 3 tidak berlangsung lama karena kemunculannya teknologi digital.

Revolusi Industri 4.0

Revolusi ini ditandai dengan era disrupsi, yaitu kemunculan industri-industri yang berbasis online (digital). Bukan hanya komputer, teknologi mobile sudah mewabah dan hampir semua orang terhubung secara online. Dalam revolusi ini peran inovasi menjadi penentu daya saing suatu produk di pasaran. Dan ternyata ada kesenjangan antara industri yang bergantung dengan inovasi dengan kesiapan tenaga kerja. Banyak penyedia lapangan kerja kesulitan mencari sumber daya manusia yang selain memiliki kemampuan literasi (baca, tulis, dan hitung) juga literasi data (big data), literasi teknologi (coding, dan pemahaman terhadap AI) dan literasi manusia (humanities, komunikasi dan disain).

industrial rev

Silahkan lihat power point menarik berikut ini:

Bagaimana mengatasinya? Jawabannya adalah pendidikan yang berkaitan dengan revolusi industri 4.0.

GEN-RI 4.0

GEN-RI 4.0 singkatan dari General Education + Revolusi Industri 4.0. Prinsipnya adalah literasi dari general education berkolaborasi dengan literasi data dan teknologi dalam kurikulum. Selain itu ada teknik baru dalam menghadapi perkembangan iptek yang sangat cepat, yaitu konsep belajar sepanjang hayat (life long learning). Peserta didik diharapkan terus mengupdate ilmunya mengikuti perkembangan IPTEK terkini.

Negara kita sedang mencoba menggabungkan belajar konvensional dengan online, yang dikenal dengan istilah blend learning yang difasilitasi oleh Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) dan jaringan IdREN (backbone). SPADA menerapkan banyak metode-metode baru yang berkaitan dengan pembelajaran online seperti:

  • Hybrid Credit Transfer
  • Rintisan Cyber University
  • Regulator dan penjaminan mutu PJJ (online learning)
  • Innovative-based learning
  • Flip learning (lihat post terdahulu tentang flip learning)
  • Dan Super Faculty.

Saya sedikit mendeteksi adanya “sesuatu” yang berefek terhadap dosen-dosen di tanah air, tapi belum begitu jelas, mungkin pembaca memiliki “penerawangan” yang tajam, dan bisa di share di komentar. Yang jelas, konsep belajar seumur hidup mengharuskan dosen belajar seumur hidup. Sekian, semoga bermanfaat.

Referensi

Praseyono, Agus Puji. 2017. https://ristekdikti.go.id/revolusi-industri-ke-4-dan-integrasinya-dalam-tata-kelola-negara/

Ahmad, Intan. 2018. Medan. https://drive.google.com/file/d/1nFR_Ap679jSPHPTkvYvWIGdPYsxRLnMn/view?usp=sharing

https://www.facebook.com/judianto/videos/10211421680240473/

Membuat dengan Cepat Konten Pembelajaran (tes.com)

Salah satu komponen Flipped Learning adalah mekanisme bagaimana siswa belajar di luar jam pelajaran sekolah. Selama ini yang jadi andalah adalah buku beserta soal-soal latihan. Namun tidak semua siswa memiliki gaya belajarnya yang cocok dengan reading. Bagi yang bertipe Auditory sepertinya tidak ada masalah, tetapi bagi yang verbal dan kinesthetic tentu saja akan kesulitan. Beberapa alat bantu dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya akan dibahas pada postingan ini.

Konten merupakan komponen penting dalam proses belajar mengajar. Beberapa tahun yang lalu konten menjadi beban ketika seorang dosen diminta mengajar. Namun belakangan ternyata konten dapat diperoleh dengan mudah secara online. Kejadian ketika seorang murid memiliki informasi ilmu yang belum diketahui oleh seorang pengajar sudah menjadi biasa saat ini. Sehingga peran pengajar saat ini yang tepat adalah sebagai katalisator dalam proses belajar mengajar.

Untuk membuat dengan cepat bahan ajar, banyak alat bantu yang bisa dimanfaatkan, salah satunya adalah test.com, suatu situs yang menyediakan sarana untuk mengajar online. Bentuknya yang tinggal drag konten yang dicari dengan alat bantu “searching” memudahkan pengajar untuk menyediakan sarana belajar ke mahasiswa. Masuk ke menu pembuatan session perkuliahan dapat diakses di page berikut.

Ada beragam bentuk dari sesi pembelajaran yaitu tulisan (reading), video, dan suara. Ketiga bentuk pembelajaran tersebut bisa mengakomodir tipe belajar siswa (verbal, auditory, dan kinesthetic). Banyak situs di youtube yang membantu bagaimana menggunakan fasilitas tes.com tersebut seperti berikut ini.

Sebelum perkuliahan dimulai, flipped learning menganjurkan untuk men-share materi belajar dengan bantuan tools tertentu seperti tes.com di atas. Selanjutnya ketika perkuliahan, diskusi diberikan sekaligus penilaian oleh dosen dengan cara lisan (tanya jawab). Metode belajar ini memanfaatkan waktu di luar perkuliahan untuk seolah-olah dalam kelas. Sekian, semoga bermanfaat.