Waterfall, Iteration, atau Metode Extreem/Agile dalam Menulis dan Revisi

Bagi rekan-rekan yang berkecimpung dalam dunia IT pasti mengenal metode waterfall, iteration atau Extreem/Agile. Metode-metode tersebut diterapkan dalam perancangan perangkat lunak dan analisa & disain. Namun demikian, saya kerap menerapkannya dalam menulis, baik buku, paper imiah, maupun sekedar postingan di blog. Di antara metode-metode tersebut, manakah yang cocok dengan Anda? Mungkin postingan ini bisa sedikit membantu.

Waterfall

Waterfall artinya air terjun. Jadi metode ini menggunakan prinsip air terjun yang jatuh dari atas ke bawah. Menulis dengan metode waterfall berarti menulis secara cepat, tanpa memperhatikan tata bahasa, mengikuti ide yang ada di kepala. Ketika selesai 100% barulah proses editing dimulai. Kesalahan-kesalahan kecil, salah ketik (typo), maupun salah komposisi (letak kalimat dan paragraf) diperbaiki setelah semua ide dituangkan dalam tulisan. Banyak tips dan trik menulis yang saya terima menganjurkan metode ini, sangat cocok sebagai pemula yang terkadang “bengong” ketika di depan laptop. Fokus menuangkan ide menjadi dasar utama, apalagi bagi pemula yang jarang menulis. Re-writing menjadi wajib bagi yang menerapkan metode ini.

Kelebihan waterfall yang mengalirkan tulisan dengan lincah terkadang menyulitkan penulis buku yang tebal. Tidak mungkin lagi mengecek tulisan dari awal. Bayangkan saja berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengecek lagi. Skimming mungkin bisa, tetapi jika mengecek dengan teliti hingga di level tata bahasa, sangat memberatkan, kecuali memang ada bagian yang mengoreksinya. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pun dalam kata pengantar buku “di bawah bendera revolusi” disebutkan bahwa ketika beliau menulis buku tersebut (kumpulan tulisan) mengatakan tidak sempat lagi membaca ulang kembali apa yang ditulisnya. Kemungkinan besar beliau menggunakan metode iterasi, yang merupakan perbaikan dari metode waterfall dalam perancangan sistem.

Iteration

Metode iterasi menerapkan perulangan (iterasi) dalam proses pembuatannya. Ide-nya adalah merubah sesuatu ketika masih sederhana lebih mudah dibanding jika sudah kompleks. Termasuk juga mengoreksinya dan mengujinya. Tentu saja mengecek perbab lebih enak dibanding per-buku. Ketika menulis disertasi, yang paling melelahkan adalah ketika mengoreksi seluruh isi disertasi. Metode iterasi ini digunakan dengan cara ketika selesai satu bab, langsung koreksi bab yang baru saja ditulis. Terkadang bukan hanya satu bab, satu paragraf pun langsung dikoreksi ketika selesai dibuat. Terkadang kesalahan logika bisa ditemukan sebelum terlanjur, misalnya ternyata paragraf yang baru ditulis salah tempat atau kurang cocok di bab/sub-bab yang sedang digarap.

Jika seluruh tulisan selesai dibuat, mengoreksi tulisan yang dibuat dengan metode iterasi ini lebih cepat dan mudah dibanding mengoreksi tulisan yang dibuat dengan waterfall yang masih banyak salah di sana sini. Bahkan bisa hanya dengan “skimming”. Tentu saja konsep re-writing tetap diterapkan walau menulis menggunakan metode iterasi.

Extreem/Agile

Pernah dalam satu semester saya mengikuti kuliah web development dengan ruby and rails. Metode yang digunakan adalah dengan extreem/agile. Metode ini berfokus menghasilkan satu aplikasi dengan cepat. Berbeda dengan iterasi yang hanya perulangan beberapa milestoon/tahap dalam waterfall, extreem/agile menggabungkan beberapa tahap dalam proses pengembangannya. Ketika proses pembuatan proyek, ada fasilitas bantu yang berupa testing. Jadi testing dapat dilakukan sebelum software selesai dibuat. Metode ini bisa cepat karena dibuat “keroyokan” dengan alat bantu versioning. Rollback ketika new version gagal dengan mudah dan aman dilakukan.

Dalam hal menulis, banyak alat bantu yang bisa digunakan. Misalnya spelling and grammar check yang tersedia di wordprocessing yang digunakan. Aplikasi seperti grammarly terkadang bisa mendeteksi bukan hanya salah ketik, melainkan juga tata bahasa (singular, plural, atau completion). Satu tool yang saat ini mutlak diperlukan dalam publikasi ilmiah adalah cek plagiarisme. Beberapa software bisa digunakan untuk itu, seperti turnitin, plagscan, smallseotools, dll (lihat post sebelumnya). Untuk menulis “keroyokan”, penerapan cloud seperti google drive/one drive bisa juga diterapkan, termasuk menu review di mirosoft word.

Mungkin ide dalam postingan ini aneh bagi Anda, tetapi di jaman “disruption” yang melibatkan multi/interdisiplin dalam berbagai bidang, penerapan satu metode di luar domain ilmu sudah biasa dilakukan. Yang background-nya IT, tidak ada salahnya menerapkan metode-metode orang IT untuk hal-hal tertentu. Siapa yang “rigid”/kaku/radikal siap-siap akan ditinggalkan.

Iklan

Curve Fitting dengan Matlab

Curve fitting artinya membuat sebuah kurva dari rentetan titik. Kurva yang dihasilkan berupa persamaan linear ataupun non linear (matlab menyediakan quadratic hingga polinomial pangkat sembilan). Silahkan lihat post sebelumnya untuk membedakannya dengan interpolasi. Biasanya dijumpai ketika praktikum yang menguji satu variabel dengan perbedaan perlakuan tertentu. Saya sendiri menjumpai pertama kali kasus ini ketika praktikum fisika dasar di tingkat pertama kuliah. Hasilnya pun hanya dengan menarik garik lurus (linear) terhadap serangkaian titik hasil uji coba tersebut.

Matlab menyediakan toolbox dengan nama “cftool” yang dapat diakses dengan mengetik fungsi tersebut di command window. Misalnya kita memiliki serangkaian data sebagai berikut:

  • data =
  • 19.8960
  • 16.9290
  • 15.6660
  • 19.8870
  • 17.9100
  • 18.4260
  • 18.9570
  • 18.7710
  • 15.4860
  • 17.1510
  • 15.3210
  • 18.2580
  • 17.8860
  • 13.7100
  • 17.6040
  • 16.7610
  • 15.8880
  • 16.6200

Langkah pertama adalah memasukan data tersebut ke dalam cftool. Tekan tombol “data” untuk memunculkan jendela data.

 

Karena data hanya satu seri, isi dengan data x atau data y. Saya coba keduanya ternyata hasilnya sama karena memang datanya hanya satu seri. Setelah menekan “create data set” maka toolbox akan terisi data tersebut. Kembali ke jendela “cftool” tekan “Fitting” untuk memulai proses curve fitting. Muncul jendala baru untuk mengisi parameter-parameter yang sesuai (linear / non linear).

Setelah memasukan jenis polinomialnya, lanjutkan dengan menekan “Apply“. Hasil polinomialnya tampak dalam kolom “Result” dan grafiknya dapat dilihat di jendela “Cftool“.

 

Hasil di kolom result dapat dilihat. Parameter yang dihasilkan adalah konstanta persamaan linear beserta parameter-parameter lainnya seperti Goodness of fit, SSE, R-square, dan lain-lain yang dapat dilihat dari pelajaran statistik. Silahkan coba untuk korelasi dua variabel.

  • Linear model Poly1:
  • f(x) = p1*x + p2
  • Coefficients (with 95% confidence bounds):
  • p1 = -0.1403 (-0.2877, 0.007083)
  • p2 = 18.62 (17.02, 20.21)
  • Goodness of fit:
  • SSE: 37.47
  • R-square: 0.2029
  • Adjusted R-square: 0.1531
  • RMSE: 1.53

Mudah untuk Copy-Paste, Mudah Pula Mengeceknya (Plagiarism atau tidak)

Menjadi pengajar/tutor e-learning memerlukan aspek-aspek khusus, salah satunya adalah otentifikasi tugas ataupun jawaban yang diberikan oleh peserta kuliah online. Walaupun aspek-aspek lain masih harus diverifikasi seperti apakah benar murni dari tulisan sendiri ataukah orang lain yang menulis. Otentifikasi biometrik sepertinya diperlukan. Setidaknya minimal tulisan yang dikirim terhindar dari plagiarisme yang merupakan salah satu aspek penting dalam dunia akademik.

Untuk mahasiswa yang malas, cara copy-paste terkadang menjadi jalan pintas yang murah. Sumber-sumber informasi bertebaran di internet. Dengan sekali googling, jawaban langsung ditemukan, bahkan kalau keywords yang diketik tepat hasilnya muncul di list teratas google. Namun ternyata mudah men-copas mudah pula mengeceknya. Apalagi saat ini bertebaran fasilitas-fasilitas gratis untuk cek plagiasi (lihat postingan tentang software plagiasi sebelumnya). Berikut contoh cek plagiasi terhadap tugas mahasiswa dengan smallseotools.

Lebih enak jika tugas dalam bentuk soft copy karena tinggal copas ke plagiarism checker dibanding jika mengumpulkannya dalam bentuk tulisan tangan. Tekan tombol “Check Plagiarsm” di bagian bawah dan tunggu beberapa saat.

Hasilnya sungguh mengesankan, 84% mirip dengan tulisan orang lain yang jika saya tekan salah satu tulisan berwarna merah tersebut, mengarahkan ke source aslinya (kebanyakan mahasiswa copas dari tulisan blog orang yg berbahasa Indonesia).

Tiap-tiap institusi berbeda-beda syarat maksimal persentasi similaritinya. Misal untuk serdos dipatok 50%, jurnal berstandard IEEE sebanyak 20%. Kampus saya kuliah 15%, dan lain-lain. Bagaimana jika dia mencontek jawaban temannya yang tidak dipublish di internet melainkan hanya dikumpulkan ke dosen. Salah satu software yang tepat sepertinya Plagscan. Software ini setelah login kita bisa memasukan naskah jawaban siswa dan jika ada naskah baru, dan discan similaritinya, plagscan juga mensearch dari naskah jawaban yang kita masukan walaupun belum dipublish. Jadi, untuk para mahasiswa, berfikir dua kali lah jika ingin menjiplak tulisan orang. Copas itu mudah, tetapi mudah pula mendeteksi kecurangannya. Selamat menjiplak .. ups, mencoba software cek plagiasi maksudnya.

Sains Harus Belajar dari Marketing

Sepintas sungguh aneh, bahkan bagi orang murni sains marketing dianggap bukanlah ilmu, setidaknya disebut “an oxymoron” alias retorika yang ambigu yang sering dipakai politisi kita (pro maupun kontra). Benarkah marketing itu bukan ilmu? Postingan kali ini terinspirasi dari buku web mining (lihat post yang lalu) yang akan segera saya kembalikan ke perpustakaan. Di buku tersebut di bab “Using Marketing Tests to Understand Customers” disinggung masalah ilmu unik marketing.

Power of Marketing

Sebelum lanjut, sepertinya kita sadari terlebih dulu kondisi aneh perusahaan-perusahaan saat ini dalam kaitannya dengan masalah disruption. Banyak perusahaan yang terkenal mapan langsung terpuruk karena fenomena tersebut. Salah satunya adalah ditinggalkan oleh konsumennya yang memilih produk lain yang dianggap memenuhi harapannya. Salah satu aspek terpenting suatu perusahaan adalah marketing karena merupakan sarana untuk menarik konsumen yang kemudian berdampak terhadap keuntungan. Tanpa keuntungan tentu saja tidak dapat membiayai ongkos-ongkos suatu perusahaan. Bolehlah teknik, riset, dan sejenisnya terhadap suatu produk atau manufaktur, tetapi tanpa melakukan riset dalam marketing, siap-siap mengambil resiko besar terhadap kerugian. Ipad waktu itu siap dipasarkan apple, tetapi bagian riset marketing ternyata melihat animo masyarakat terhadap Iphone lebih tinggi, padahal Iphone waktu itu belum siap publish. Dan benar, dengan menahan Ipad dan melapas Iphone terlebih dahulu, apple mendulang untung besar. Para pekerja aktif seperti perawat, dokter, dan sejenisnya lebih membutuhkan piranti cerdas mungil dibanding yang lebih besar.

Marketing & Sains

Apa itu sains? Sains intinya melakukan riset runtun yang berdasarkan tahapan-tahapan yang disebut metode ilmiah: hipotesa, disain eksperimen, eksperimen, analisa hasil, dan merevisi hipotesa. Tahapan-tahapan itu haris bisa ditiru oleh periset lain sehingga terbukti keandalan dan akurasi temuannya (confidence). Bagaimana dengan marketing? Tunggu dulu, dengan data yang ada sebelumnya ternyata hasil hipotesa tidak berlaku dengan kondisi yang ada sekarang. Jangankan data beberapa tahun yang lalu, data beberapa bulan yang lalu saja belum tentu akurat untuk diterapkan saat ini. Lalu bagaimana ini?

Buku rujukan web mining menjelaskan bahwa titik penting bagian riset di marketing adalah hipotesa. Hipotesa yang tidak tepat tentu saja tidak bermanfaat walaupun benar. Walaupun mengikuti metode ilmiah tetapi jika tidak menjawab persoalan utama, tentu saja tidak bermanfaat. Untuk itu saintis harus belajar bagaimana marketing menentukan hipotesa risetnya yang terkadang bagi ilmuwan kurang greget, kurang wah, kurang berbobot, tapi ternyata dampaknya besar. Berikut hal-hal yang bisa dipelajari dari marketing dalam penentuan hipotesa:

  • Kreativitas: dibutuhkan untuk menemukan hipotesa yang menarik
  • Skeptisme/keraguan: bukan hanya solve problem, ternyata meyakinkan suatu itu penting, terutama dengan pencarian dan perbandingan alternatif-alternatif.
  • Kepercayaan diri untuk maju berdasarkan hasil riset. Terkadang di kampus kita selalu menekankan hasil riset harus OK, model harus fit, dan sejenisnya. Parahnya siswa suka mengutak-atik data agar “cakep”. Ternyata bagi orang marketing, sejelek apapun data maupun hasil riset, bisa digunakan untuk move on (termasuk diterapkan bagi yg calonnya kalah pemilu).

Marketing untuk Dana Penelitian

Sering sekali teknik marketing saya gunakan untuk memperoleh hibah penelitian. Sebagian hibah penelitian sebenarnya berdasarkan proses marketing kita, baik ketika membuat proposal maupun saat presentasi. Tidak semua judul yang lolos di jurnal lolos pula di hibah (sepertinya sebaliknya juga berlaku). Kreativitas, keraguan, dan kepercayaan untuk maju yang telah dibahas di atas, sangat diperlukan. Keahlian dalam mengemas sesuatu yang biasa-biasa saja jadi berharga dan sesuatu yang sudah berharga dikemas agar terlihat bermanfaat sangat diperlukan untuk mendapatkan dana hibah. Ketika mengajukan proposal hibah terkadang saya sengaja membuat bimbang reviewer. Bolehlah dia marah-marah ketika presentasi, setidaknya saya telah membuat mereka bimbang untuk menolaknya disaat memutuskan lolos atau tidak. Sepertinya perlu postingan tersendiri untuk masalah hibah. Sekian semoga bermanfaat.

Reference

Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America: Wiley.

Aplikasi anti plagiarisme, free dan yang Berbayar.

Dalam dunia akademik, plagiasi merupakan suatu pelanggaran serius. Belakangan karena maraknya kasus plagiasi di suatu kampus memaksa pemerintah mengganti rektornya. Agar kejadian ini tidak terulang lagi, alangkah baiknya suatu institusi memiliki fasilitas untuk mengecek suatu tulisan apakah mencontek karya orang lain. Dengan demikian tiap karya yang dipublikasikan benar-benar murni tulisan si penulis. Sepertinya teknologi web-mining diterapkan dalam aplikasi-aplikasi anti plagiarisme ini (lihat pembahasan mengenai web mining)

Selain untuk mencegah, ternyata alat bantu cek plagiasi bisa membantu mahasiswa untuk mengetahui apakah tulisannya pernah ditulis orang lain. Terkadang si mahasiswa memang benar-benar menulis sendiri tulisannya, tetapi ternyata kebetulan sama dengan tulisan yang telah dipublikasikan orang lain. Di sinilah fungsi lain dari plagiarism checking tool tersebut, yaitu membuat suatu tulisan berbeda dengan karya orang lain.

1. Aplikasi anti plagiarisme yang terkenal adalah Turnitin. Hanya saja aplikasi ini tidak gratis dan harus berlangganan. Tetapi bagi suatu institusi sepertinya tidak masalah, mengingat manfaat yang diberikan tool ini. Salah satu aspek penting dari alat bantu ini adalah adanya bukti otentik bahwa suatu tulisan orisinal. Biasanya suatu kampus mensyaratkan prosentasi tertentu, misalnya di tempat saya tingkat kemiripannya kurang dari 15%. Selain itu jika ada sumber lain yang mirip, maksimal 5% kemiripannya dengan satu sumber itu. Berikut tampilan setelah Log-in.

Seperti biasa, jika ada yang berbayar maka ada juga yang menyediakan fasilitas yang gratis. Namun demikian belum tentu benar-benar akurat dan harus diuji. Tetapi tidak ada salahnya menggunakannya. Berikut ini adalah beberapa yang bisa dicoba.

2. PlagScan. Tool ini mirip seperti turnitin, login terlebih dahulu. Namun ada kolom khusus bisa mengecek tulisan tanpa login. Misal saya ambil contoh dari paper terdahulu saya.

Ternyata hasilnya benar-benar akurat, yakni 99% menyontek. Dengan kata lain memang benar bahwa itu tulisan saya yang dulu. Jika ada orang lain yang copy paste bisa terdeteksi. Lumayan untuk mengoreksi tugas-tugas mahasiswa apakah menyontek atau tidak. Tetapi di sini menyontek dengan tulisan yang sudah dipublikasi, kalau menyontek temannya belum tentu ketahuan (tapi tentu saja dosennya tahu, tinggal tuduh saja yang mengumpulkan belakangan berarti nyontek).

3. Smallseotools. Mirip dengan plagscan, kita diminta register terlebih dahulu. Tetapi bisa juga tanpa register dengan limit 1000 kata. Saya ambil contoh mirip dengan kasus sebelumnya. Hasilnya tingkat kemiripan 92%, sepertinya lebih akurat Plagscan. Terlihat juga proses smallseotools ini lebih lama dibandingkan plagscan.

Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah smallseotools menjamin tulisan yang ingin dicek tidak diambil mereka. Tiap selesai proses data langsung dihapus. Tetapi tetap saja saya masih ragu-ragu.

4. Duplichecker. Mirip dengan plagscan dan smallseotools (jadi mikir jangan-jangan mereka pakai engine yang sama). Tetapi antara plagscan dengan smallseotools terbukti berbeda hasilnya, jadi disimpulkan sementara memakai mesin yang berbeda. Oke, kita coba dengan tulisan yang sama dengan sebelumnya. Sama dengan smallseotools, maksimal 1000 kata. Upps.. ternyata salah, harusnya 100% plagirized.

Ketika saya mau tes lagi ternyata harus signup dulu karena melebihi limit (sekali cek). Menurut saya aplikasi ini tidak recomended. Walaupun harus diuji lagi setelah Sign-up masih salah apa tidak (silahkan coba).

Sepertinya plagscan lebih bagus di antara ketiga plagiarism checker gratisan tersebut. Namun demikian perlu diuji lagi untuk tulisan yang banyak dengan naskah “gado-gado”, apakah bisa mendeteksi atau seperti yang terakhir, “no plagiarism detected”, padahal pakai tools yang lain “plagiarized”.

Satu hal yang ditakutkan adalah ketika kita memasukan suatu naskah ke plagiarism checker yang mencuri naskah tersebut. Tetapi kalau memang sudah pasti segera dipublikasikan ya tidak masalah, toh kalau dipublikasi sudah tentu dibaca semua orang. Bagi pengelola jurnal yang penting pastikan Google scholar minimal mendeteksi suatu tulisan resmi yang dipublish sehingga jika ada yang menyontek pasti terlambat karena Google sudah mendeteksi terlebih dahulu naskah aslinya. Sedikit banyak semoga postingan ini bermanfaat.

Mengisi IEEE Copyright untuk Publikasi

Mungkin banyak pembaca yang sudah terbiasa mengisi form IEEE copyright yang biasanya diminta oleh pengelola jurnal atau seminar sebelum tulisan dipublikasi lewat IEEE. Saya sendiri baru dua kali, dan seperti biasa masalah lupa merupakan kendala utama. Terpaksa email-email yang dahulu dibuka-buka lagi untuk contekan. Untuk yang baru pertama kali, mungkin postingan ini bisa sedikit membantu.

Setelah mengunduh form dari link yang disediakan pengelola seminar (misalnya ICIC 2017), buka dengan Pdf reader yang bisa mengisi TEXT karena harus ada isian yang diisi. Banyak software yang tersedia di internet, misalnya Foxit Pdf reader. Dengan menggunakan menu Comment tinggal menempatkan text box di lokasi isian.

Bagi yang tidak suka menginstal software Pdf reader yang bisa mengisi text box, bisa dengan cara mengkonversi form IEEE itu menjadi ms word. Banyak fasilitas online yang tersedia misalnya link ini. Tinggal upload file pdf kemudian file doc siap diunduh dan diisi.

Sekarang masalahnya adalah mengisinya. Ada lima isian yang harus diisi yaitu: 1) judul paper, 2) Author, 3) Nama jurnal/conference, 4) Nama dan tanda tangan, 5) Tanggal penandatanganan. Biasanya, panitia seminar sudah mengisikan nama conference yang akan dilaksanakan.

Kemudian bagian penandatanganan sedikit hati-hati karena ada tiga isian tanda-tangan. Isi pada bagian di bawah General Terms, jangan pada isian US Government .. dan Crown … Nama dan tanggal bisa diisi dengan ketikan atau tulis tangan seperti saya (maklum darurat, sedang pelatihan IELTS 3 bulan di jogja).

Setelah itu di-scan dan kirim ke panitia. Itu merupakan paper pertama saya (diselenggarakan oleh universitas indonesia), terindeks di IEEE dan Scopus, sejak tulisan ini dibuat sudah disitasi dua kali. Yang terpenting sebenarnya adalah naskah diterima dulu, direvisi dan siap publish. Sekian, semoga sedikit bermanfaat.

 

 

 

Bagi Dosen, Menulis Buku itu Mudah

Buku Teks/Ajar

Perlu diketahui bahwa ilmu itu dinamis dan terus berkembang. Jurnal yang terbit saat ini, setelah lewat mekanisme peer-review yang memakan waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun, ditambah dengan proses publikasi yang terkadang antri, sesungguhnya sudah tertinggal beberapa tahun. Bagi mahasiswa S3 yang riset sebelum dijurnalkan berarti dua atau tiga tahun yang lalu. Jadi kemungkinan jurnal yang terbit saat ini adalah hasil riset lima tahun ke belakang (kira-kira). Jurnal itu sendiri masih belum pasti kebenarannya karena adanya perdebatan di antara satu penulis dengan penulis lainnya mengenai suatu problem tertentu. Sementara itu buku (buku teks dan buku ajar) adalah kumpulan ilmu yang diyakini sudah tidak diperdebatkan lagi ilmu-nya. Itulah sedikit perbedaannya walaupun sama-sama membahas ilmu pengetahun. Sebelum menjadi buku teks, biasanya kumpulan jurnal dengan tema tertentu dirangkum menjadi satu buku yang diisitilahkan dengan book section. Buku yang ditulis saat ini ada dua jenis yaitu buku terjemahan atau buku teks/ajar, yang biasanya berupa kompilasi dari beberapa buku rujukan lainnya.

Saya sendiri, mungkin pembaca juga, merasakan sulitnya membaca jurnal dibanding membaca buku teks. Begitu juga logikanya, lebih mudah membuat buku dibanding menulis jurnal hasil penelitian. Masalah terbesar bagi dosen adalah kurangnya waktu untuk menulis sebuah buku. Maklum dosen di Indonesia berbeda dengan dosen luar negeri dari sisi pendapatan. Mau tidak mau harus mengajar banyak jika ingin mencukupi kebutuhannya sehari-hari, terutama bagi dosen swasta seperti saya.

Mengajar Sambil Menulis Buku

Teman-teman kita sebenarnya adalah guru kita, sumber inspirasi kita, walaupun ada kelemahan dan kejelekannya menurut kita. Ketika belajar menjadi pengajar, saya melihat ada ibu-ibu dosen yang aktif menulis buku, saya tanya kenapa bisa? Maklum dia sendiri tidak memiliki laptop. Ternyata dia menjawab sederhana, setelah mengajar, biasanya ada waktu luang sekitar setengah jam, terutama untuk SKS yang besar. Waktu luang itu dia gunakan untuk mengetik buku di komputer kelas.

Kasus lain adalah rekan saya yang seorang instruktur lab. Karena seringnya mengajar suatu bahasa pemrograman, dia bisa mencicil menulis beberapa buku yang berhasil diterbitkan oleh penerbit terkenal. Satu hal keuntungan bagi pengajar yang menulis adalah bisa memahami langsung pembacanya, apakah mengerti atau harus ditambah lagi penjelasannya. Ibaratnya, umpan balik langsung diterima sebelum buku itu tercetak.

Satu Semester Satu Buku

Ketika mengajar data mining di satu kampus yang dimiliki oleh yayasan alumni jepang di daerah Jakarta timur, saya mencoba untuk mempraktekan apakah bisa membuat buku dalam waktu 6 bulan. Tidak ada salahnya mencoba. Saya siapkan peralatannya yaitu laptop dan bahasa pemrograman.

Kebetulan kuliah di dalam laboratorium sehingga siswa bisa langsung mempraktekan programnya. Tiap pertemuan langsung satu buat langkah-langkahnya. Awalnya saya membuat lengkap dengan kalimat penjelasan selain “capture” dari langkah-langkahnya. Tetapi ketika selesai kuliah, siswa langsung menyodorkan flashdisk. Ya ampun, di satu sisi saya ingin menulis buku, di satu sisi saya tidak tega menolak ketika diminta filenya. Oke lah, minggu besoknya saya hanya meng-“capture” tidak menulis penjelasan yang rencananya akan saya tulis nanti saja setelah kuliah selesai. Aneh juga, tidak ada yang minta filenya, mungkin mereka merasa percuma kalau hanya gambar. Ketika pertemuan ke-empat belas, ternyata lengkap jadi empat belas bab yang siap dicetak. Bagaimana dengan penerbit? Sebenarnya penerbit dan penulis itu saling membutuhkan, hanya saja terkadang sulit bertemu. Ada baiknya menjalin komunikasi dengan penerbit-penerbit.

Setelah proses editing, biasanya buku terbit kira-kira enam bulanan. Ternyata bisa juga satu tahun satu buku. Tetapi bila ingin bagus hasilnya (lebih detil, jelas, dan kompilasi dengan sumber buku lain), sebaiknya setelah pertemuan terakhir kuliah, diperbaiki lagi semester berikutnya dengan lebih detail sambil mengajar mahasiswa berikutnya. Sehingga cukuplah menghasilkan satu buku yang baik dalam waktu 2 tahun. Itu kalau satu mata kuliah, jika ada 3 mata kuliah maka ada kemungkinan menerbitkan 3 buku dalam kurun waktu tersebut. Oiya, salah satu keuntungan mengajar kampus swasta adalah kualitas siswanya yang kalau di kurva normal itu di “average” alias rata-rata. Jadi jika mereka jelas dan memahami materi buku yang kita tulis, sudah dipastikan akan dipahami juga oleh siswa lainnya.

Kewajiban Menulis Buku

Memang tidak ada kewajiban menulis buku bagi dosen muda. Tetapi untuk para profesor atau minimal lektor kepala, selain jurnal, buku juga bisa dijadikan syarat agar tunjangan (serdos/khormatan) diberikan. Jadi ternyata bermanfaat juga. Ketika saya mempublish jurnal, ada tawaran dari luar negeri untuk memasukan jurnal saya ke book chapter suatu buku. Tentu saja tidak langsung bisa dipublikasikan karena berbeda antara jurnal dengan buku. Buku harus bisa menjelaskan hal-hal kepada pembaca tanpa pembaca harus membuka referensi-referensi lainnya. Dengan kata lain, satu buku cukup untuk memahami satu topik tertentu, pembaca harus dijelaskan dengan perlahan-lahan dan detil karena tidak semua pembaca memiliki level pengetahuan yang setara dengan penulis.

Semoga kita sama-sama bisa menulis buku, baik ilmiah maupun buku populer. Oiya, masalah pajak, itu urusan pemerintah, kita ikuti saja karena manusia tidak luput dari dua hal: maut dan bayar pajak. Semoga sedikit bermanfaat.