Sustainable Development – Part 2

Dalam bahasa Indonesia, sustainable development (SD) diartikan sebagai pembangunan berkelanjutan (post ini sebagai kelanjutan dari postingan terdahulu). Sesuai dengan namanya, yaitu pembangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan generasi sekarang, melainkan juga generasi yang akan datang, istilah resmi yang dirumuskan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) pada tahun 1987: “Development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”.

Banyak definisi-definisi lainnya antara lain oleh Turner (1988): ” In principle, such an optimal (sustainable growth) policy would seek to maintain an “acceptable” rate of growth in per-capita real incomes without depleting the national capital asset stock or the natural environmental asset stock”. Istilah yang cenderung ke arah ekonomi dan lebih menjelaskan istilah “needs” pada rumusan WCED. Sementara itu Conway (1987) menjelaskan sustainable development: “The net productivity of biomass (positive mass balance per unit area per unit time) maintained over decades to centuries”. Istilah ini cenderung ke arah carryng capacity, ukuran kecukupan kebutuhan berdasarkan jumlah populasi dengan suplai/produksi untuk kebutuhan populasi tersebut. Terakhir disertakan pada postingan ini yaitu istilah dari Sen (1999): “A sustainable society is one in wich peoples’ ability to do what they have good resason to value is continually enhanced” yang lebih mengarah ke aktualisasi sosial. Namun semua memiliki kesamaan yaitu melihat aspek keberlanjutan pada masa yang akan datang. Istilah-istilah di atas diambil dari buku “An introduction to sustainable development” karangan (Elliott, 2013).

Mengapa SD penting? Biasanya sesuatu yang penting itu jika diabaikan akan menimbulkan malapetaka. Begitu juga dengan SD, jika tidak diperhatikan, generasi yang akan datang akan menanggung akibatnya. Ada baiknya menilik sejarah. Rostow pada tahun 1960 memperkenalkan konsep perkembangan suatu negara yang dimulai dari tradisional, berlanjut ke agraris dan industri berbasis agraris, manufaktur, industri skala besar, dan terakhir berbasis layanan-layanan yang bersifat mendukung kemakmuran. Tentu saja idenya berasal dari perkembangan negara-negara eropa yang ternyata ketika beralih dari agraris ke industri cenderung merusak lingkungan.

Untuk itulah pada tahun 70-an sudah ada diskusi-diskusi yang membahas SD guna menanggulangi dampak lingkungan dari industrialisasi. Biasanya jika suatu negara mengabaikan aspek lingkungan, negara-negara lain akan mengucilkan negara tersebut. Tetapi perkembangan berikutnya ternyata bukan hanya satu negara yang merusak lingkungan, melainkan gabungan beberapa negara (nuklir, efek rumah kaca, dll). Akhirnya mau tidak mau perlu diadakan pertemuan khusus pada tahun 1987 oleh WCED dengan tema “Our common Future” yang dilenjutkan pada tahun 1992 di Rio, Brazil (Eart summit) dengan hasil berupa dokumen dengan nama Agenda 21.

Repotnya istilah SD sendiri berkembang mengikuti perkembangan jaman. Bahkan kebutuhan generasi yang akan datang pun tidak bisa kita paksakan sesuai dengan generasi saat ini. Krisis ekonomi 98 dan 2008 sendiri membuktikan kegagalan neo-liberal, dimana kebebasan berusaha bisa berbahaya jika negara tidak ikut campur. Beberapa perusahaan diambil alih negara, bahkan oleh negara pencetus liberal itu sendiri, Amerika Serikat. Bagaimana dengan Indonesia? Hmm sepertinya sebagai orang IT, sulit juga saya menjawab. Tetapi mengingat krisis-krisis kemarin, alangkah baiknya negara mulai memperhatikan bisnis dan perdagangan, jangan dibiarkan bebas (liberal), berbahaya. Pengusaha kalau rugi, paling kabur, nah kalau negara gimana? Kabur juga? Kabar terakhir beberapa BUMN, seperti Garuda Indonesia, Krakatau Steel, mengalami kerugian (tidak ada untung), dan tugas Ibu Sri Mulyani tambah berat sepertinya. Apalagi saham Freeport 51% akan segera dikuasai yang tentu saja harus untung (masak baru diambil alih dilepas lagi).

Kalo gitu kita ganti bacaan aja, pusing soalnya membahas bidang sosial. Baca buku-buku kuno optimasi dan fuzzy dulu ah, mumpung masih berstatus mahasiswa dan banyak buku-buku offline. Baca buku online (ebook), lama-lama mata perih.

Ref:

Elliott, J. A. (2013). An Introduction to Sustainable Development (4th ed.). London: Routledge.

 

Iklan

Menulis Doctoral Thesis

Tesis (thesis) merupakan salah satu syarat kelulusan mahasiswa pascasarjana. Master thesis (tesis) untuk jenjang S2 (master) dan Doctoral thesis (disertasi) untuk jenjang S3 (doktoral). Berbeda dengan program master, program doktoral kebanyakan mengharuskan mahasiswa untuk mempublikasikan tulisan di jurnal internasional (minimal sudah diterima/accepted). Tambahan syarat publikasi pada jurnal internasional untuk program doktoral menambah rumitnya menulis disertasi.

Satu disertasi bisa lebih dari satu jurnal

Bersyukurlah bagi mahasiswa doktoral yang satu disertasi bisa dipecah menjadi jurnal-jurnal yang tidak saling tergantung satu dengan lainnya. Mengapa? Karena berarti sebelum disertasi selesai dibuat, mahasiswa tersebut sudah boleh mengirimkan ke jurnal internasional yang biasanya telah ditentukan syarat-syaratnya seperti impact factor dan reputasi jurnal. Publikasi di jurnal internasional selain memakan waktu lama, prosesnya pun tidak jelas berapa lama. Yang repot adalah jika jurnal harus dibuat setelah disertasi selesai. Mengapa repot? Sederhana, berarti mahasiswa tersebut harus menyediakan waktu tambahan setelah selesai disertasi untuk publikasi yang biasanya beberapa bulan, sialnya bisa beberapa tahun, padahal “argo” tetap berjalan. Ketika mengobrol empat mata dengan pak Onno Purbo setelah beliau mengisi seminar di kampus (waktu itu saya lagi ketiban sial jadi ketua jurusan). “Kuliah doktor itu gampang, buat aja lima jurnal internasional, nanti sidang akhir jadi cepat, tinggal tunjukan saja problem ini sudah dipublish di jurnal ini, problem itu di jurnal itu, dan seterusnya”. Saya cuma manggut-manggut karena waktu itu gak ngerti, ternyata satu jurnal aja saya menyelesaikan hampir dua tahun, bagaimana dia bisa bikin lima?

Banyak hal-hal detil yang harus ditulis

Sebagai saran ampuh sebelum terlambat, “tulislah apa yang dikerjakan ketika riset tanpa menunggu selesainya riset”. Kalau tidak, silahkan tanggung sendiri akibatnya. Saya sendiri agak sedikit keliru, karena yang saya tulis adalah jurnal, harusnya disertasi, ketika riset. Ketika harus menulis disertasi (setelah publikasi ilmiah) agak sedikit kewalahan mengumpulkan hal-hal detil ketika riset (tabel-tabel, running programe, uji coba dan sebagainya). Mirip pemulung ngobrak-abrik tempat sampah mencari barang yang bisa dijual. Kebetulan disertasi saya ber-objektive lepas sehingga boleh men-submit jurnal tanpa menunggu selesai riset. Rekan saya yang mengharuskan publikasi setelah riset selesai kebingungan karena ketika mulai menulis, laptopnya “digondol” maling. Data-data, running program¸ dan sejenisnya harus diulangi lagi. Butuh satu semester untuk mengerjakan itu.

Mem-paraphrase Tulisan Sendiri

Biasanya disertasi sebelum disetujui harus dicek terlebih dahulu lewat Turnitin, yaitu software pendeteksi plagiasi. Karena berbahaya jika suatu disertasi dianggap plagiasi naskah orang lain, seperti yang terjadi belakangan ini di kampus negeri di Jakarta. Mengapa harus memparafase tulisan sendiri? Karena ketika kita sudah mempublikasi jurnal, tulisan tersebut sudah terekam di database pengindeks-pengindeks dunia. Ketika kita hanya menyalin tulisan jurnal kita ke disertasi, maka Turnitin akan mendeteksinya. Repot juga.

Menggandakan Disertasi Sebelum Pulang

Khusus untuk yang kuliah di luar negeri, ijazah harus disetarakan di dalam negeri. Salah satu syaratnya adalah disertasi, oleh karena itu jangan lupa membawa salinan tapi asli buku disertasi yang kita buat untuk ditunjukan ke divisi Ristek-dikti yang bertugas menyetarakan ijazah. Repot juga kan kalau dicetak “pas” dan tidak membawa satu pun salinan disertasinya. Terus terang saya tidak memiliki salinan ijazah master, konyol juga. Untungnya ngambil di kampus dalam negeri jadi tidak diwajibkan untuk penyetaraan ijazah.

Disertasi bukanlah tulisan terbaik kita

Ketika membaca sub-judul di atas pasti anda mengernyitkan dahi, apa maksudnya? Oke lah, kita merasa itu adalah masterpiece kita. Tetapi kita dinilai dengan kemajuan kan ? (esok harus lebih baik dari sekarang kata nabi). Jika disertasi adalah tulisan terbaik, berarti tulisan kita berikutnya adalah tulisah abal-abal alias tidak ada kemajuan. Jadi, untuk yang sedang menulis disertasi bersama dengan saya saat ini, yuk selesaikan dengan sebaiknya tanpa perlu menuntut hasil yang sempurna. Kerjakan dengan cepat, lulus, pulang, dan lanjutkan menulis yang lebih baik dari disertasi kita di tanah air lewat buku, riset baru, dan lain-lain. Selamat membuat laporan riset.

Section and Multilevel List in Microsoft Word

Multilevel list in word is used to continue numbering from one heading to the next heading. It makes writers easy to type and manage the sequence of subchapter. For example, if we have written subchapter 2.1, and come to new subchapter, the Microsoft word will automatically write 2.2 and the writer just write the name of the subchapter, for example “basic theory”, “recommendation”, end so on.

What is heading? In word, heading means the header of a writing that use a style. The writer can use some styles in styles menu. There are many headings provided: heading 1, heading 2, and so on. Why we use that style and do not just type manually? The heading has a purpose. It used in navigation and for automatic table of contents as well.

We can also modify the heading regarding the font, tab, paragraph, etc. And what the section used for? In the writing, we always have many chapters. Every chapter has their own number for subchapter. With the section in Microsoft word, we can separate the multilevel list of a chapter with the other chapters.

How to separate the section? First, we have to know whether the two pages have the same section or not. It’s easy, just click your mouse on the header and footer location. Word will show you the number of section.

To separate the section, we just open the page-layout menu and chose break tool. Choose “next page” on section break option. This break only separate the multilevel list section but not the page number. Use page break if we want to separate numbering from previous pages, for example if do not want to continue alphabet-numbering style from acknowledgements, table of contents, and so on.

See the video below.

Latihan Modifikasi Table of Contents (Daftar Isi) di Microsoft Word

Membuat laporan penelitian terkadang menambah kerjaan utama seorang peneliti yaitu riset. Belum lagi masalah standar penulisan. Untungnya kampus menyediakan sebuah template yang siap pakai di link resminya (klik di sini untuk bahan latihan postingan ini). Jadi masalah margin, jenis font, cover dan sejenisnya tidak masalah lagi dan riset dapat dilaksanakan dengan cepat tanpa corat-coret terhadap hal-hal yang kurang penting oleh dosen pembimbing. Diharapkan sebelum membaca tulisan ini melihat dulu postingan sebelumnya bagaimana membuat daftar isi, gambar, dan tabel secara otomatis di Ms Word.

Tetapi template sendiri tidak menyertakan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh MS Word, salah satunya adalah automatic table of contents, yaitu fasilitas membuat daftar isi secara otomatis tanpa diketik. Masalah muncul ketika akan memformat otomatis table of contents hasilnya berantakan (coba unduh dan edit link yang saya berikan di muka, dan set nomor halaman terlebih dahulu untuk mengikuti panduan di postingan ini).

Untuk menyelesaikan masalah itu, cukup lama mengutak-atik. Kadang ada masalah—masalah yang dijumpai ketika kita studi lanjut. Masalah yang memperlama lulus, he he. Mudah-mudahan postingan ini bermanfaat bagi yang menjumpai masalah serupa. Pertama-tama sorot TOC yang baru saja dibentuk (tekan di bagian pojok kiri atas). Pastikan TOC sudah berubah warna.

Kemudian pada bagian pembuatan TOC yaitu di menu referensi pada Word dipilih “Custom TOC”.

Setelah masuk ke jendela custom, untuk memperbaiki ke TOC normal cukup dengan memilih format “Classic”, dilanjutkan dengan memilih “…..” sebagai penghubung antara Sub-bab dengan halaman yang ditujunya.

Setelah menekan “OK” kita diminta konfirmasi apakah akan menimpa TOC sebelumnya? Tekan saja OK dan format TOC standar akan ditampilkan. Mudah saja ternyata.

Hanya saja ada masalah di halaman bernomor huruf (I, ii, iii, dst) yang seharusnya huruf kecil malah tercetak huruf besa

ri. Masuk ke “Modify” setelah muncul jendela Style masuk lagi ke “Modify” dan jangan centang “All Caps”.

Setelah ditekan “OK” maka pastikan halaman bernomor jenis “huruf” menjadi huruf kecil sesuai dengan nomor halaman yang memang kita set ke huruf kecil. Tapi sepertinya template-nya tidak menggunakan titik-titik untuk nomor halamannya, dan bab dengan angka 1, 2, dst.

Komputer dan Data Spasial

Postingan kali ini saya mengangkat topik hubungan komputer dengan data spasial. Hal ini karena kemarin, tanggal 10 Agustus 2017 telah diadakan seminar nasional “smart city” di Unversitas Gunadarma tentang “Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah Mewujudkan Smart City”yang diseponsori juga oleh asosiasi perguruan tinggi komputer (APTIKOM). Silahkan unduh materi yang menarik di situs resminya.

Ngomong-ngomong tentang “city” berarti bercerita tentang lokasi geografis, alias data spasial. Pentingkah aspek geografis? Untuk menjawabnya cukup dengan satu aksioma mengenai letak geografi: “banyak hal penting namun letak geografis sangat menentukan”. Kalo tidak percaya silahkan main-main deket suriah, atau jadi tetangga negara konflik, pasti merasakan dampak “letak geografi”. Jadi untuk rekan-rekan yang sedang mencari “masalah” alias proposal untuk riset (master/doktor) bisa coba masuk ke data spasial.

Saat mendaftar kuliah doktoral saya mengajukan tema e-learning dengan bantuan soft-computing. Tetapi selama perjalanan waktu ternyata hibah-hibah saya tentang data spasial yang dipadu dengan soft-compting banyak yang lolos/didanai. Akhirnya saya beralih dari e-learning ke data spasial, walaupun promotor saya menolak, ‘I don’t understand spatial data, please go to Prof …’. Akhirnya saya menghadap ke profesor yang direkomendasikannya, dan alhasil saya nebeng di jurusan Remote Sensing and Geographic Information System (RS-GIS).

Topik-topik Disertasi TI dan Data Spasial

Pada materi seminar dibahas juga konten yang membedakan jurusan komputer yang beragam. Dari teknologi informasi, sistem informasi, sistem komputer, manajemen informatika, teknik komputer, hingga komputer akuntansi mengharuskan pelajaran “rekayasa perangkat lunak” alias mengerti seluk beluk produksi software. Ribet juga pembagiannya. Saya pribadi berpendapat jurusan komputer hanya dua saja: “ilmu komputer murni” dan “ilmu komputer terapan”. Itu menurut pengalaman saya pribadi lho.

Terus terang saya termasuk orang yang “terlempar” dari ilmu komputer murni dan beralih ke yang terapan. Untungnya berkah bagi saya karena terlempar, kuliah jadi lancar. Bagaimana tidak lancar, lha wong tinggal menemukan metode yang pas untuk diterapkan di bidang tertentu, untuk kasus saya data spasial berupa lokasi geografis. Teman-teman saya yang murni ilmu komputer saat ini sedang “panas” kepalanya memikirkan menemukan metode komputasi terbaru sementara saya sedang “panas” mengetik laporan ..he he. Tapi itu untuk universitas di luar negeri, kalau di dalam negeri sepertinya ilmu komputer murni masih boleh ke arah terapan (info dari teman). Tentu saja, algoritma baru atau metode baru ilmu komputer dapat ditemukan ketika riset terapan. Tapi biasanya sih sulit menemkan metode baru, tapi tetap lulus juga sih karena kan terapan, beda kalau memang ilmu murni yang harus menemukan.

Silahkan baca jurnal-jurnal terkini mengenai data spasial, baik di jurnal komputer maupun jurnal geografi dan lingkungan. Tentu saja jika ingin publish di bidang itu harus mengikuti gaya selingkung mereka, jangan ngotot atau memaksa. Ingat, ilmu komputer itu pelayan, seperti komputer server dimana server berarti pelayan. Saat seminar proposal, pengalaman yang unik adalah hal-hal sepele jadi sulit karena istilah yang tidak familiar baik bidang mereka atau pemahaman mereka terhadap bidang kita, jadi sabar-sabar saja. Menjengkelkan juga ketika tahu jawaban tetapi tidak mengetahui istilah-istilah Inggris dari jawaban itu seperti semak belukar, batu kerikil, dan istilah lain yang asing bagi ilmu komputer. So, buka kamus dan persiapkan jawaban ketika seminar proposal.

Aplikasi-aplikasi online saat ini banyak berkutat dengan data spasial, baik dari sisi optimasi, kecepatan akses, dan sejenisnya. Pertarungan antar aplikasi (grab, gojek, uber, dll) sangat mengandalkan temuan-temuan baru ilmu komputer. Silahkan nimbrung ke sana, bukan hanya data mining terhadap data spasial saja. Sekian dulu, semoga bias menginspirasi.

Menukar dan Mengganti Key Pada Keyboard

Apa-apaan ini? Mungkin pembaca bertanya maksud dari postingan ini. Atau jangan-jangan bermaksud mau iseng aja, alias ngerjain laptop orang. Seperti biasa, kalau tidak butuh/perlu mungkin kita tidak membutuhkan fasilitas tukar menukar ini, tetapi saya ada sedikit masalah pada keyboard saya. Perhatikan gambar berikut ini.

Konyol juga saya, tiap kali mau mengetik huruf besar (menekan Shift kanan) ternyata malah menekan “PgUp” yang kursornya langsung pindah ke atas. Hal ini karena rumah jari kelingking kanan adalah di “;” (kalo sepuluh jari lho ngetiknya). Mungkin pihak “Lenovo” harus segera menyelesaikan masalah sepele ini, atau memang konsumennya harus “Lengovwo” ? Kasus lain, banyak juga rekan-rekan yang salah menekan tab dengan “Capslk”, tetapi saya sih untungnya tidak mengalami masalah ini.

Setelah searching di google, saya menemukan situs ini yang menyarankan mengunduh aplikasi bernama SharpKeys (semoga bukan virus). Jika tertarik silahkan unduh dan instal di laptop kita.

Mudah, tinggal tekan “Next>” saja hingga selesai. Ternyata bisa diinstal juga di windows 10. Karena mengutak-atik Registry, beberapa kali Windows meminta konfirmasi.

Setelah itu kita coba gunakan dan bagaimana efeknya. Pertama-tama anda diminta menambahkan key mana saja yang mau dikonversikan. Untungnya ada fasilitas “menekan tombol” karena sulit mencari nama resmi tombol di keyboard.

Jika sudah kita coba jalankan dengan cara menekan “Write to registry”. Pastikan ada informasi bahwa registry telah terupdate. Berikutnya kita diminta merestart laptop karena memang ketika saya coba belum berubah.

Ok, kalau begitu saya restart dulu laptop ini. <Setelah restart> Misal saya menulis: “Rumah Adat Dayak” .. dan ternyata OK, tidak salah ketik (“R”, “A”, dan “D”), karena saya tinggal menekan “PgUp+R” berarti sama dengan “Shift+R” yang dulu. Oiya, jangan lupa, kalau mau menekan panah “PgUp” harus diganti dengan “Shift”. Selamat mencoba semoga bermanfaat .. dan jangan buat iseng-isengan ya.

Melihat Rangking Jumlah Publikasi Jurnal Internasional Peneliti Indonesia

Akhir-akhir ini ada broadcast di grup whatsup bahwa peringkat publikasi Indonesia naik dan mengalahkan Thailand maupun Viet Nam. Iseng-iseng lihat di link berikut ini ternyata masih di bawah Thailand, meskipun di atas Viet Nam. Mungkin maksudnya jumlah jurnal Indonesia yang terindeks scopus barangkali.

Selisihnya pun cukup jauh yaitu hampir 1/3 thailand dan ¼ Malaysia. Namun dengan jumlah peneliti yang jauh lebih banyak dari negara-negara kecil di Asia Tenggara harusnya negara kita bisa mengungguli mereka. Terbukti China yang menyalip Jepang karena banyaknya jumlah peneliti, walaupun h-index (jumlah pensitasi) masih kalah dari Jepang (sekitar ¾ -nya). Sepertinya data itu kurang akurat mengingat beberapa peneliti dari Indonesia memakai afiliasi di luar Indonesia, terutama yang riset atau kuliah di kampus luar.

Bagaimana melihat rangking institusi di Indonesia? Caranya mudah, yaitu dengan Scopus (www.scopus.com) tetapi harus berlangganan scopus terlebih dahulu (link berikut).

Peringkat pertama masih ITB dan disusul dengan UI, UGM, IPB, ITS dan kampus-kampus negeri ternama tanah air lainnya. Bagaimana dengan Jakarta, Bandung, dan wilayah tertentu? Mudah, tinggal klik saja “City” dilanjutkan dengan “Limit to”.

Untuk pengindeks Ristek-dikti, Sinta Score, sepertinya UGM dan IPB masih mengungguli dari ITB dan UI. Sinta masih terus berbenah dan diharapkan menjadi standard untuk kinerja peneliti di Indonesia. Juga memacu jumlah publikasi internasional. Yuk yang belum daftar, segera registrasi (lihat caranya).