Studi Literatur

Walaupun riset sudah selesai dan tinggal pulang ke tanah air, mumpung masih bisa menggunakan perpustakaan (baca di tempat karena sudah tidak boleh meminjam), iseng-iseng mereview apa yang telah saya lakukan selama riset kurang lebih 3 tahun lamanya. Saya menemukan buku tentang studi literatur. Tujuan utama membaca topik itu aslinya untuk evaluasi ke depan. Apakah studi literatur yang telah saya jalankan sudah benar, efisien, dan sesuai dengan tujuan riset.

Buku karangan Lawrence A. Machi dan Brenda T. McEvoy itu cukup padat, sehingga dapat dibaca hanya beberapa menit saja. Intinya ada enam tahap dalam studi literatur, antara lain:

  1. Memilih topik
  2. Mencari literatur
  3. Mengembangkan Argumen
  4. Survey terhadap literatur
  5. Memberikan kritik terhadap suatu literatur, dan
  6. Menulis review

Postingan ini hanya akan membahas yang unik dari buku tersebut yaitu memilih topik, mencari litertur, dan mengembangkan argumen.

Memilih Topik

Ini merupakan pangkal utama dari riset, sekaligus biang keladi kuliah tidak lulus-lulus. Buku tersebut menyarankan untuk mengambil topik dari keseharian. Maksudnya adalah hal-hal real yang spesifik. Jangan asal mencari pertanyaan, misalnya: “mengapa sekelompok siswa sulit memahami penjelasan guru?”. Tentu saja pertanyaan ini terlalu general dan sulit dikerjakan karena tidak jelas.

Mencari Literatur

Mencari literatur yang efisien adalah internet dan perpustakaan. Baca cepat sekilas saja terlebih dahulu (skimming). Langkah saya membuat pengelompokan ternyata sudah benar waktu itu. Hanya saja ternyata ada teknik pengelompokan yang lebih ok, bukan hanya pengelompokan terhadap suatu ide/teknologi/metode, melainkan juga pengelompokan kontribusi pengarang. Misal definisi sustainability oleh siapa saja, dll. Dengan bentuk tabel, kita mudah mengingatnya. Terkadang walau tidak berusaha mengingat, jadi ingat sendiri (dikemukakan oleh siapa dan pada artikel apa).

Mengembangkan Argumen

Suatu argumen adalah mencari alasan yang tepat untuk suatu jawaban yang biasanya kesimpulan riset. Jadi satu argumen terdiri dari bermacam-macam alasan:

Argumen = alasan1 + alasan 2 + …

Sebelum masuk ke argumen yang rumit, ada baiknya membahas terlebih dahulu argumen sederhana. Argumen sederhana terdiri dari: klaim, kejadian dan jaminan (warrant). Contohnya adalah:

  • Klaim: “kamu seharusnya jangan menyeberang jalan”
  • Kejadian (evident): “lampu penyeberangan berwarna merah”
  • Jaminan: “Aturan memberlakukan bahwa lampu merah artinya berhenti”

Klaim

Klaim di sini adalah representasi argumen. Klaim mengarahkan argumen. Menurut referensi lain, Chris Hart, ada lima jenis klaim yaitu: Fact, worth, policy, concept, dan interpretation. Penjelasannya tidak jauh dari arti kelima istilah itu.

Kejadian (Evidence)

Kejadian beda dengan data. Kejadian lebih spesifik dari data, yaitu untuk kepentingan tertentu. Jadi kejadian adalah bahan baku dari pembuktian terhadap klaim kita. Jadi untuk memperkuat klaim, diperlukan data dan metode yang relevan, yang kemudian mentransformasikan data itu menjadi evidence.

Jaminan (Warrant)

Jaminan ini adalah hubungan antara kejadian dan kesimpulan. Hubungan di sini menyiratkan adanya pengorganisasian yang logis, sehingga memperkuat argumen. Kembali ke contoh menyeberang jalan. Ketika ada kejadian lampu menyala merah (evidence), dan adanya klaim (agar berhenti), perlu adanya jaminan. Kalau tidak, maka klaim Anda kurang kuat. Dalam kasus ini, jaminan yang diusulkan adalah karena aturan, yaitu ketika lampu menyala merah maka harus berhenti (tidak menyeberang jalan). Silahkan mencari jaminan lain sesuai dengan bidang ilmu yang kita miliki.

Teettttt .. alarm perpustakaan berbunyi, ternyata sudah jam 10 malam dan perpustakaan akan ditutup. Survey, kritik, dan review mungkin lanjut lagi nanti. Semoga postingan ini sedikit-banyak bisa mencerahkan. Selamat mencoba.

Iklan

Sustainable Urban Form

Riset tata kota fokus ke bentuk urban yang mendukung pembangunan berkelanjutan, pembangunan yang bukan hanya memenuhi kebutuhan generasi sekarang, melainkan juga generasi yang akan datang (Steiner, 2008). Banyak sekali perdebatan mengenai bentuk urban yang cocok dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Di sini saya ingin memperkenalkan bentuk-bentuk sustainable urban yang diusulkan oleh peneliti.

Penelitian oleh (Jabareen, 2006) menjelaskan beragam bentuk urban yang sustainable. Berikut contoh-contohnya.

1. Neotraditional Development

Jika kita perhatikan kota Jakarta, terjadi perubahan dari urbanisasi menjadi kebalikannya, dikenal dengan istilah “post-suburbanization” (Firman, 2004; Firman & Fahmi, 2017). Maka para pakar urban berusaha mengurangi dampaknya dengan konsep tersebut, yaitu bagaimana menjaga penurunan penduduk “inner city” dan membangun juga kota-kota penyangga.

2. Urban Containment

Munculnya daerah-daerah “Sprawl” baru (saat ini Meikarta contohnya) membuat khawatir pemerhati tata kota akan dampaknya. Di Amerika konsep urban containment dimaksudkan untuk menghindari proses “sprawl” yang tidak baik. Walaupun ada juga sprawl yang baik, misalnya daerah industri khusus yang jauh dari pemukiman.

3. Compact City

Kota kompak (compact city) disukai oleh penata kota dari Eropa dan Amerika karena dapat mengurangi dampak negatif dari transportasi. Kota yang kompak membuat jarak tempuh menjadi rendah dan penggunaan kendaraan berpolusi menjadi berkurang. Bahkan orang cenderung berjalan kaki karena jarak antara satu tempat dengan tempat penting lainya dekat.

Kota kompak mengharuskan diversifikasi, artinya harus ada variasi dalam satu lokasi. Misalnya harus ada sekolah, pasar, tempat ibadah, dll. Jadi orang cukup berjalan kaki sudah bisa sampai ke lokasi tujuan. Bentuk-bentuk segregasi, misalnya kompleks khusus agama tentu, dll sebaiknya dihindari.

4. Eco City

Bentuk kota ini berpatokan dengan konservasi alam, ekologi, dan juga aspek sosial. Biasanya diterapkan di negara maju yang kesadaran warga dan keseriusan pemerintahnya tinggi akan faktor lingkungan. Walaupun demikian sebaiknya negara-negara yang kurang maju, atau ga maju-maju (berkembang terus), tetap mencontoh jenis kota ini mengingat makin puaanas aja tempat tinggal kita, contohnya saya yang di Bekasi. Semoga bermanfaat.

Referensi

Firman, T. (2004). New town development in Jakarta Metropolitan Region : a perspective of spatial segregation, 28, 349–368. http://doi.org/10.1016/S0197-3975(03)00037-7

Firman, T., & Fahmi, F. Z. (2017). The Privatization of Metropolitan Jakarta’s (Jabodetabek) Urban Fringes: The Early Stages of “Post-Suburbanization” in Indonesia. Journal of the American Planning Association, 83(1), 68–79. http://doi.org/10.1080/01944363.2016.1249010

Jabareen, Y. R. (2006). Sustainable Urban Forms: Their Typologies, Models, and Concepts. Journal of Planning Education and Research, 26(1), 38–52. http://doi.org/10.1177/0739456X05285119

Steiner, F. (2008). The living landscape – An Ecological Approach to Landscape Planning – Second Edition. Washington DC: ISLAND PRESS.

 

Istilah Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Istilah Pembangunan Berkelanjutan menurut informasi dari beberapa buku masih simpang siur dan penuh teka-teki (Muschett, 1997). Untuk pengertian Pembangunan Berkelanjutan oleh beberapa pakar bisa lihat link ini. Hal ini terjadi karena perkembangan ilmu yang kian menuju spesialis, padahal masalah-masalah tertentu malah men-general. Forum terkenal yang membahas istilah ini adalah konferensi dunia PBB tentang lingkungan dan pembangunan di Rio (UNCED) tahun 1992. Ada dua komponen utama hasil dari konferensi itu, yaitu:

  • Prinsip #3: karakteristik Pembangunan Berkelanjutan yaitu keseimbangan antara pembangunan dengan kelestarian lingkungan dan juga keseimbangannya untuk generasi yang akan datang.
  • Prinsip #4: Untuk mencapai Pembangunan Berkelanjutan seharusnya memasukan faktor-faktor Pembangunan Berkelanjutan dalam proses pembangunan.

Ada unsur “fairness” dalam Pembangunan Berkelanjutan, baik antara pembangunan (ekonomi, fisik, dll) dengan kelestarian lingkungan (polusi, masalah sosial, dll). Selain itu, Pembangunan Berkelanjutan harus dilibatkan dalam proses pembangunan, dan bukan dibuat terpisah, atau hanya sebagai alat untuk menyelesaikan dampak yang terjadi.

Pembangunan Berkelanjutan juga bukan hanya melibatkan ekonomi dan lingkunan saja, melainkan juga seluruh aspek yang terlibat seperti sosial, budaya, teknologi, dan lain-lain yang membutuhkan studi yang multi-disiplin (lihat pembahasan masalah multi-disiplin). Secara ringkas komponen dari Pembangunan Berkelanjutan adalah sebagai berikut (Muschett, 1997):

  • Kestabilan populasi
  • Teknologi (transfer teknologi) baru
  • Efisiensi dalam menggunakan sumber daya alam
  • Pengurangan sampah dan pencegahan polusi
  • Solusi saling menguntungkan (“win-win” situations)
  • Sistem manajemen lingkungan yang terintegrasi
  • Menentukan batas kemampuan lingkungan
  • Memperbaiki (refine) ekonomi pasar
  • Pendidikan
  • Persepsi dan perubahan tingkah laku (paradigm shift)
  • Perubahan perilaku sosial dan budaya

Sedikit Ilustrasi Sejarah

Di jaman romawi, ada suatu daerah di Afrika Utara yaitu Carthage (sekarang Tunisia). Tunisia oleh penguasa Romawi menjadi daerah penghasil bahan makanan. Roma memaksa agar Carthage mensuplai bahan makanan sebanyak mungkin, hingga melewati batas daya dukung tanahnya. Akhirnya produksi turun dan tanah jadi rusak dan tandus. Bahkan pemaksaan untuk menanam di dataran tinggi mengakibatkan longsor dan erosi yang merusak tanah secara permanen.

Di jaman Cleopatra, mesir menggunakan pertanian berbasis Pembangunan Berkelanjutan , dengan prinsip banjir dan surut di sungai Nil. Namun sangat ironis, ketika di abad 20 dibangun bendungan (Aswan), kestabilan ekosistem rusak, hingga tanah yang tidak subur lagi.

Walaupun sejarah telah mengajarkan, tetapi dunia modern masih terus berusaha mencari konsep Pembangunan Berkelanjutan yang baik. Sayangnya konsep-konsep yang diberikan belum sampai tahan aksi. Tiap negara memiliki pandangan dan konsep sendiri. Di negara kita, undang-undang sudah dibuat yaitu dalam GBHN (TAP MPR No.II/MPR/1993). Namun pelaksanaan butuh kerja ekstra, mengingat negara Indonesia sedang mengejar ketertinggalannya dari negara lain.

Referensi:

Muschett, F. D. (1997). Principles of Sustainable Development. United States: St. Lucie Press.

 

Menghapus dan Memasukan Artikel di Daftar Google Scholar

Oiya, sudah daftar Sinta kan? (Untuk yang belum). Banyak yang protes karena Sinta menggunakan Google scholar sebagai salah satu faktor perhitungan Sinta selain Scopus. Salah satunya adalah karena Google scholar serampangan memasukan suatu tulisan/artikel ke akun Google scholar kita. Namun karena Google scholar metodenya self assesment, ada baiknya kita menghapus dan mendaftarkan tulisan-tulisan kita secara mandiri. Postingan ini terinspirasi dari tulisan rekan saya waktu mengajar di satu kampus di jalan Fatmawati dulu (lihat di sini).

Setelah login di google scholar, masuk ke profile kita. Di bagian atas kiri ada simbol “wisuda” yang artinya profile kita. Klik untuk masuk ke dalam dan melakukan manajemen artikel milik kita.

Pilihlah tulisan-tulisan yang bukan tulisan kita. Kemudian tekan “DELETE” agar dibuang dari daftar tulisan kita. Misalnya “klasifikasi lovebird ..” (hmm sejak kapan saya nulis klasifikasi burung bercinta).

Kemudian akan muncul informasi jurnal tersebut. Berikutnya tinggal menekan simbol “tempat sampah”. Artinya kita membuang tulisan tersebut dari daftar tulisan kita.

Oiya, jangan sedih. Kan bukan tulisan kita. Tapi lama-lama repot juga kalo google “nyepam” terus suatu tulisan ke akun Google scholar kita, capek juga sih menghapusnya. Untungnya bobot Google scholar jauh di bawah Scopus yang memang “screening”nya bagus. Hanya saja masih jarang dosen-dosen di tanah air yang sudah punya ID scopus.

Berikut kalau ingin menambahkan artikel, tinggal tekan simbol “+”. Ada dua pilihan tambah artikel (manual atau otomatis). Untuk yang otomatis searching nama kita di kolom “searching” lalu tekan simbol kaca pembesar. Sementara kalau yang manual tinggal isi informasi tulisannya.

Oiya, jangan asal masukin tulisan orang. Semoga postingan ini bermanfaat.

Linearitas vs Multi/Inter-disiplin Ilmu

Ketika mengajukan beasiswa S3 ke kopertis IV, bagian staf penerimaan beasiswa langsung menanyakan ijasah S2, jika tidak serumpun maka tidak akan diproses pengajuannya. Kebetulan waktu itu sama-sama ilmu komputer (computer science), jadi lolos. Namun ketika pelaksanaan kuliah, ternyata konsep kampus-kampus saat ini (biasanya luar negeri) kebanyakan multidisiplin/interdisiplin ilmu. Maksudnya adalah suatu riset yang melibatkan beberapa cabang ilmu yang berbeda. Misalnya ilmu komputer, penginderaan jarak jauh (PJJ) dan sistem informasi geografis (SIG) dan ilmu lingkungan untuk optimisasi penggunaan lahan suatu wilayah.

Beberapa pemerhati masalah pendidikan tidak setuju dengan konsep kaku linearitas karena fenomena disrupsi yang terjadi saat ini. Suatu institusi yang tidak menggabungkan berbagai bidang ilmu dalam inovasinya akan hancur dan dikalahkan oleh institusi yang melibatkan bermacam cabang ilmu. Silahkan dapatkan informasinya dari link ini. Oiya, sepertinya buku itu memiliki hak cipta (bukan open access). Tetapi untuk baca-baca sepertinya ada manfaatnya.

Transdisiplin Ilmu

Ternyata ada konsep lain yaitu transdisiplin yang melibatkan bukan hanya berbagai macam bidang ilmu tetapi melibatkan praktisi-praktisi yang berkontribusi terhadap penerapan suatu inovasi. Ada aspek kewirausahaan dalam penelitian yang bertipe trandisiplin ilmu. Dalam referensi pada link tersebut disebutkan bahwa terciptanya facebook, instagram, dan aplikasi-aplikasi startup lainnya melibatkan trandisiplin ilmu, misalnya bukan hanya IT tetapi juga aspek psikologi. Pencetus facebook sendiri dulunya mengambil S1 bidang psikologi.

Nasib Monodisiplin Ilmu

Tentu saja monodisiplin masih dibutuhkan untuk tetap memperkuat dasar keilmuannya. Jujur saja untuk S3 yang monodisiplin sangat sulit mengingat metode-metode saat ini yang sudah “established”. Hanya tambahan-tambahan kecil dalam bentuk parameter-parameter atau penggabungan-penggabungan yang mungkin ditemukan dalam suatu penelitian. Tentu saja untuk jenjang S1 dan S2 sepertinya masih diperlukan.

Ketika saya mengikuti seminar tentang standar kompetensi, waktu itu geomatika, saya sempat bertanya kepada pengelola sertifikasi tersebut yang mengharuskan sertifikat untuk yang mengambil sertifikat geomatika harus jurusan S2 dan S3 yang sama (PJJ dan SIG) untuk level Madya ke atas. Saya mengatakan bahwa rekan-rekan kuliah S3 saya yang bukan PJJ dan SIG banyak yang penelitiannya tentang geomatika dan mereka sangat mahir melakukan manipulasi-manipulasi dasar dan lanjut bidang PJJ dan SIG. Misalnya bidang Agriculture, Water Management, dan IT yang ber-interdisiplin dengan PJJ dan SIG. Pengelola sertifikasi itu menerima masukan dan akan mengkaji lagi syarat harus mengambil kuliah jurusan tersebut untuk sertifikasi keahlian geomatika. Terus terang sangat jarang mahasiswa SIG sendiri yang murni meneliti tentang SIG (proyeksi, web-gis, satellite, dll) tanpa adanya interaksi jurusan lain.

Referensi:

Update: 7 Jan 2018

Ternyata sejak 2014 Dikti sudah menganut konsep linearitas yang interdisiplin, yaitu mengajar di kampus yg sebidang ilmunya, tidak harus si pengajar s1 linear dengan S2 atau S3:

Revisi Lagi .. LiDAR vs RADAR

Kejadian tahun lalu terulang lagi dimana ketika asyik liburan ada tulisan yang harus direvisi. Kalau dulu artikel di jurnal internasional, kali ini disertasi yang dicek oleh external examiner, yaitu profesor dari luar kampus. Lumayan banyak, walaupun secara keseluruhan disetujui (satisfactory and meets the normal requirements for a doctoral dissertation), tetapi ada hal-hal yang perlu pemikiran karena bukan bidang saya.

Sebagai contoh, pada revisi keenam diminta menjelaskan maksud LiDAR (light Imaging Detection and Ranging) “more accuracy and wider range” dibanding RADAR (Radio Detection and Ranging). Sebenarnya saya mensitasi dari text book, tetapi ternyata tidak hanya mensitasi, harus tahu juga maksudnya. Untungnya banyak referensi yang beredar.

Panjang Gelombang RADAR dan LiDAR

LiDAR dikatakan lebih akurat dibanding RADAR karena bisa mendeteksi obyek yang kecil karena penggunaan spektrum panjang gelombang yang lebih pendek (short wavelength). Gambar di bawah saya unduh dari sini, lumayan jelas perbandingan antara microwave yang digunakan RADAR dengan infra-red yang digunakan LiDAR.

Jika microwave jangkauannya dari 1 mm hingga 1 meter, ternyata infra merah lebih pendek lagi yaitu antara 1 mikrometer hingga 1 mm, artinya lebih pendek dari microwave yang digunakan RADAR. Sementara maksud “wider range” artinya pandangan yang lebih luar (large field of view) yang dimiliki LiDAR: lebih lebar dari RADAR. Informasi ini saya ambil dari situs ini.

Yah, begitulah, ikuti saja, namanya IT kan pensuport bidang lainnya. Terkadang ke GIS, environment, hingga penginderaan jarak jauh (remote sensing). Ada informasi ternyata RADAR dan LiDAR sedang berkompetisi untuk digunakan oleh mobil tanpa awak, dimana Tesla dengan RADAR sementara Google dengan LiDAR walau dipasang juga RADAR karena mampu menembus kabut (Jadi inget waktu kuliah 6 tahun di mesin UGM dulu).

Tip n Trik Publikasi Jurnal

Tip n Trik bisa berarti taktik dan strategi. Mirip dengan permainan catur. Jika strategi adalah rencana garis besar, taktik adalah rencana yang detil. Biasanya strategi dijalankan ketika lawan yang sedang “jalan”, sementara taktik ketika kita yang sedang “jalan” dan harus melangkah. Di saat liburan ini dapat diibaratkan kita tidak dipaksa melangkah, jadi sebaiknya berfikir strategi. Ketika piknik, jalan-jalan, tidak ada salahnya membiarkan fikiran bebas mengatur strategi. Begitu juga tugas-tugas penelitian dan publikasinya, baik yang didanai (hibah) maupun yang mandiri.

Strategi

Terkadang strategi yang tepat hasilnya optimal. Pemilihan jurnal tujuan, penggunaan alat-alat bantu penulisan artikel (mendeley, grammarly, google, dan lain-lain). Tidak jarang tulisan yang baik tidak lulus tetapi tulisan yang biasa-biasa saja diterima (accepted) karena memilih jurnal sasaran yang tepat. Tulisan mungkin sudah berbobot, tetapi jurnal sasaran permintaannya lebih berbobot lagi, alhasil tidak/belum diterima. Mengevaluasi bobot tulisan terkadang penting juga, dan di sini pengalaman dalam publikasi menentukan kemampuan tersebut.

Taktik

Taktik di sini berupa langkah-langkah detil, prosedural dan biasanya linear. Pemahaman terhadap proses publikasi (submit, editorial, review process, dan decision) sangat perlu. Terutama proses berapa lama antara submit dengan publish karena ada jurnal yang sampai 2 tahun (bahkan ada yang 9 tahun) proses hingga publish. Di sini letak proses pembuatan manuskrip artikel yang akan dikirim. Ada baiknya artikel ditulis bersamaan dengan proses penelitian, jangan ditunda sampai penelitian selesai.

Research Camp

Terkadang ikut grup Whatsapp bermanfaat juga. Banyak ilmu yang dishare di sana, walaupun terkadang ada juga hal-hal yang tidak penting, bahkan cenderung memprovokasi tema-tema tertentu yang berkaitan dengan politik. Tetapi asal kita ambil yang baiknya saja, sepertinya tidak masalah dan bermanfaat. Salah satunya adalah research camp tentang publikasi ilmiah. Berikut ini adalah tip n trik yang dishare. Sayang tidak ada nama pembuatnya, semoga yang bersangkutan mendapat pahala karena pengalaman yang diberikan lewat slide ini:

Khusus mengenai SCIHUB, yang menyediakan jurnal-jurnal gratis, sepertinya agak ilegal. Banyak cara lain, yaitu dengan meminta share dengan pengarang aslinya lewat “researchgate”, atau memesan ke teman yang studi lanjut, yang biasanya kampusnya berlangganan. Sekian semoga berfaedah.