Membuat Video Tutorial dengan Mobizen pada Android

Untuk sarana pendukung pertemuan kuliah terkadang penjelasan dalam bentuk video pembelajaran perlu juga. Bentuknya bisa power point atau capture dari laptop dengan aplikasi tertentu, misalnya screen-O-matic yang gratis. Jika materi dalam bentuk power point tidak masalah. Lain halnya jika penjelasan berupa rumus-rumus matematika yang dijelaskan seperti pada white board di kelas.

Banyak cara, salah satunya adalah dengan membeli pen-drive, dengan pena dan tatakan elektronik yang mampu menulis lewat screen komputer. Tapi harganya lumayan juga. Dengan sedikit berfikir, saya melihat samsung galaxy note 2014 edition saya dahulu yang sudah error tombol chargernya, tetapi sebenarnya masih ok baik layar maupun pena stylusnya. Dan setelah menanyakan anak saya yang SD ternyata katanya ada aplikasi untuk capture screen di android, namanya Mobizen. Alhasil, saya langsung ke Bekasi Cyber Park untuk service tombol charger samsung saya, dan normal kembali dengan hanya mengeluarkan dana Rp 100 ribu saja (ganti tombol usb untuk charger di tablet). Kuat juga ternyata samsung, 4 tahunan masih OK. Berikut tampilannya, tapi ntah mengapa di bagian tengah voice hilang berganti dengan suara pulpen stylush, mungkin ada yang tertekan. Sekian, selamat mencoba aplikasi tersebut.

Sepertinya lebih baik menggunakan microphone dari headset, hasilnya lebih jernih seprti berikut ini.

Kode Warna HTML

Banyak referensi kode warna dijumpai di internet. Saya sendiri memerlukan referensi tersebut sewaktu-waktu. Terkadang repot juga ketika butuh, tidak ada catatan tentang kode tersebut. Terpaksa buka internet. Salat satu kode yang akurat adalah dari situs ini karena beragam warna tersedia.

Perhatikan, dengan mngklik warna hijau di pallete, langsung Color code muncul: #2EFE2E. Tapi untuk warna dasar bisa menggunakan kode berikut, sekaligus sebagai contekan jka sewaktu-waktu butuh:

  

  Nama Warna HEX RGB
 
Alice Blue #F0F8FF rgb(240, 248, 254)
 
Antique White #FAEBD7 rgb(251, 235, 217)
 
Aqua #00FFFF rgb(0, 255, 254)
 
Aquamarine #7FFFD4 rgb(115, 255, 216)
 
Azure #F0FFFF rgb(239, 255, 255)
 
Beige #F5F5DC rgb(245, 245, 223)
 
Bisque #FFE4C4 rgb(255, 227, 200)
 
Black #000000 rgb(0, 0, 0)
 
Blanched Almond #FFEBCD rgb(255, 234, 208)
 
Blue #0000FF rgb(0, 0, 255)
 
Blue Violet #8A2BE2 rgb(138, 43, 226)
 
Brown #A52A2A rgb(165, 42, 42)
 
Burly Wood #DEB887 rgb(222, 184, 135)
 
Cadet Blue #5F9EA0 rgb(95, 158, 160)
 
Chartreuse #7FFF00 rgb(127, 255, 1)
 
Chocolate #D2691E rgb(210, 105, 30)
 
Coral #FF7F50 rgb(251, 127, 80)
 
Cornflower Blue #6495ED rgb(100, 149, 237)
 
Cornsilk #FFF8DC rgb(225, 248, 220)
 
Crimson #DC143C rgb(220, 20, 60)
 
Cyan #00FFFF rgb(62, 254, 255)
 
Dark Blue #00008B rgb(0, 0, 139)
 
Dark Cyan #008B8B rgb(29, 139, 139)
 
Dark Golden Rod #B8860B rgb(184, 134, 11)
 
Dark Gray #A9A9A9 rgb(169, 169, 169)
 
Dark Green #006400 rgb(19, 100, 0)
 
Dark Khaki #BDB76B rgb(189, 183, 107)
 
Dark Magenta #8B008B rgb(139, 0, 140)
 
Dark Olive Green #556B2F rgb(85, 107, 47)
 
Dark Orange #FF8C00 rgb(251, 140, 1)
 
Dark Orchid #9932CC rgb(153, 50, 204)
 
Dark Red #8B0000 rgb(139, 5, 0)
 
Dark Salmon #E9967A rgb(233, 150, 122)
 
Dark Sea Green #8FBC8F rgb(143, 188, 144)
 
Dark Slate Blue #483D8B rgb(72, 61, 139)
 
Dark Slate Gray #2F4F4F rgb(47, 79, 79)
 
Dark Turquoise #00CED1 rgb(48, 206, 209)
 
Dark Violet #9400D3 rgb(148, 0, 211)
 
Deep Pink #FF1493 rgb(249, 19, 147)
 
Deep Sky Blue #00BFFF rgb(43, 191, 254)
 
Dim Gray #696969 rgb(105, 105, 105)
 
Dodger Blue #1E90FF rgb(30, 144, 255)
 
Fire Brick #B22222 rgb(178, 34, 33)
 
Floral White #FFFAF0 rgb(255, 250, 240)
 
Forest Green #228B22 rgb(34, 139, 35)
 
Fuchsia #FF00FF rgb(249, 0, 255)
 
Gainsboro #DCDCDC rgb(220, 220, 220)
 
Ghost White #F8F8FF rgb(248, 248, 255)
 
Gold #FFD700 rgb(253, 215, 3)
 
Golden Rod #DAA520 rgb(218, 165, 32)
 
Gray #808080 rgb(128, 128, 128)
 
Green #008000 rgb(27, 128, 1)
 
Green Yellow #ADFF2F rgb(173, 255, 48)
 
Honey Dew #F0FFF0 rgb(240, 255, 240)
 
Hot Pink #FF69B4 rgb(240, 255, 240)
 
Indian Red #CD5C5C rgb(205, 92, 92)
 
Indigo #4B0082 rgb(75, 0, 130)
 
Ivory #FFFFF0 rgb(255, 255, 239)
 
Khaki #F0E68C rgb(240, 230, 140)
 
Lavender #E6E6FA rgb(230, 230, 250)
 
Lavender Blush #FFF0F5 rgb(254, 240, 245)
 
Lawn Green #7CFC00 rgb(124, 252, 2)
 
Lemon Chiffon #FFFACD rgb(255, 250, 205)
 
Light Blue #ADD8E6 rgb(173, 216, 230)
 
Light Coral #F08080 rgb(240, 128, 128)
 
Light Cyan #E0FFFF rgb(224, 255, 255)
 
Light Golden Rod Yellow #FAFAD2 rgb(250, 250, 210)
 
Light Gray #D3D3D3 rgb(211, 211, 211)
 
Light Green #90EE90 rgb(144, 238, 144)
 
Light Pink #FFB6C1 rgb(252, 182, 193)
 
Light Salmon #FFA07A rgb(251, 160, 122)
 
Light Sea Green #20B2AA rgb(40, 178, 170)
 
Light Sky Blue #87CEFA rgb(135, 206, 250)
 
Light Slate Gray #778899 rgb(119, 136, 153)
 
Light Steel Blue #B0C4DE rgb(176, 196, 222)
 
Light Yellow #FFFFE0 rgb(255, 255, 224)
 
Lime #00FF00 rgb(63, 255, 0)
 
Lime Green #32CD32 rgb(50, 205, 50)
 
Linen #FAF0E6 rgb(250, 240, 230)
 
Magenta #FF00FF rgb(249, 0, 255)
 
Maroon #800000 rgb(128, 4, 0)
 
Medium Aqua Marine #66CDAA rgb(102, 205, 170)
 
Medium Blue #0000CD rgb(0, 0, 205)
 
Medium Orchid #BA55D3 rgb(186, 85, 211)
 
Medium Purple #9370DB rgb(147, 112, 219)
 
Medium Sea Green #3CB371 rgb(60, 179, 113)
 
Medium Slate Blue #7B68EE rgb(123, 103, 238)
 
Medium Spring Green #00FA9A rgb(62, 250, 153)
 
Medium Turquoise #48D1CC rgb(72, 209, 204)
 
Medium Violet Red #C71585 rgb(199, 21, 133)
 
Midnight Blue #191970 rgb(25, 25, 112)
 
Mint Cream #F5FFFA rgb(245, 255, 250)
 
Misty Rose #FFE4E1 rgb(254, 228, 225)
 
Moccasin #FFE4B5 rgb(254, 228, 181)
 
Navajo White #FFDEAD rgb(254, 222, 173)
 
Navy #000080 rgb(0, 0, 128)
 
Old Lace #FDF5E6 rgb(253, 245, 230)
 
Olive #808000 rgb(128, 128, 1)
 
Olive Drab #6B8E23 rgb(107, 142, 35)
 
Orange #FFA500 rgb(252, 165, 3)
 
Orange Red #FF4500 rgb(250, 69, 1)
 
Orchid #DA70D6 rgb(218, 112, 214)
 
Pale Golden Rod #EEE8AA rgb(238, 232, 170)
 
Pale Green #98FB98 rgb(152, 251, 153)
 
Pale Turquoise #AFEEEE rgb(175, 238, 239)
 
Pale Violet Red #DB7093 rgb(219, 112, 147)
 
Papaya Whip #FFEFD5 rgb(254, 239, 213)
 
Peach Puff #FFDAB9 rgb(253, 218, 185)
 
Peru #CD853F rgb(205, 133, 63)
 
Pink #FFC0CB rgb(252, 192, 203)
 
Plum #DDA0DD rgb(221, 160, 221)
 
Powder Blue #B0E0E6 rgb(176, 224, 230)
 
Purple #800080 rgb(128, 0, 128)
 
Rebecca Purple #663399 rgb(102, 51, 153)
 
Red #FF0000 rgb(255, 0, 0)
 
Rosy Brown #BC8F8F rgb(188, 143, 142)
 
Royal Blue #4169E1 rgb(65, 105, 225)
 
Saddle Brown #8B4513 rgb(139, 69, 19)
 
Salmon #FA8072 rgb(250, 128, 114)
 
Sandy Brown #F4A460 rgb(244, 164, 95)
 
Sea Green #2E8B57 rgb(46, 139, 87)
 
Sea Shell #FFF5EE rgb(255, 245, 238)
 
Sienna #A0522D rgb(160, 82, 45)
 
Silver #C0C0C0 rgb(192, 192, 192)
 
Sky Blue #87CEEB rgb(135, 206, 235)
 
Slate Blue #6A5ACD rgb(106, 90, 205)
 
Slate Gray #708090 rgb(112, 128, 145)
 
Snow #FFFAFA rgb(255, 250, 250)
 
Spring Green #00FF7F rgb(63, 255, 128)
 
Steel Blue #4682B4 rgb(70, 130, 180)
 
Tan #D2B48C rgb(210, 180, 140)
 
Teal #008080 rgb(26, 128, 127)
 
Thistle #D8BFD8 rgb(216, 191, 216)
 
Tomato #FF6347 rgb(250, 99, 71)
 
Turquoise #40E0D0 rgb(64, 224, 208)
 
Violet #EE82EE rgb(238, 130, 238)
 
Wheat #F5DEB3 rgb(245, 222, 179)
 
White #FFFFFF rgb(255, 255, 255)
 
White Smoke #F5F5F5 rgb(245, 245, 245)
 
Yellow #FFFF00 rgb(255, 255, 0)
 
Yellow Green #9ACD32 rgb(154, 205, 49)

 

Referensi:

  • dianagung.com
  • html-color-codes.info/
  • w3schools.com/cssref/css_colors.asp

 

Error mclmcrrt7x.dll pada Hasil Kompilasi Matlab

Lanjutan dari postingan yang lalu tentang instal Matlab yang digunakan untuk kompilasi program, banyak di internet pertanyaan mengenai setelah kompilasi sukses dikerjakan tetapi executable program tidak berjalan dengan semestinya dan muncul pesan kesalahan di bawah ini.

Banyak komentar yang menjawab masalah-masalah tersebut, dari yang ilmiah hingga yang aneh-aneh. Setelah membaca kilat komentar-komentar yang kebanyakan dengan bahasa Inggris tersebut ada satu komentar yang cukup OK, yaitu RESTART. Gitu saja, kebanyakan, termasuk saya, malas kalau me-reset komputer sehabis menginstall. Maklum laptop tua yang kalau restart lama banget. Akibatnya ketika menjalankan program hasil kompilasi tersebut tidak dijumpai dll yang memang terisi setelah restart. Masalah ini mirip menjalankan program aplikasi Matlab pada komputer yang tidak terinstal Matlab di dalamnya. Program exe tidak bisa dijalankan terlebih dahulu kecuali menjalankan exe paket yang diperoleh ketika kompilasi (cukup besar juga sekitar ratusan Mb). Paket tersebut menginstall dll Matlab yang gratis diinstall pada komputer target.

Saat ini saya masih menghadapi problem di Matlab 2013 dan 2014 yang gagal dalam mengkompilasi m-file menjadi exe. Anehnya pada Matlab 2015 berjalan, walau ada sedikit masalah ketika melakukan kalkulasi.

Masalah Lisensi yang Expired pada Matlab

Saat ini beberapa Matlab versi jadul dipaksa memperbaharui lisensinya, kalau tidak, aplikasi tersebut tidak dapat digunakan. Taktik ini cukup berhasil dan banyak yang terpaksa membeli versi student Matlab dengan harga lisensi sekitar Rp 2 jt-an (tanpa toolbox). Sayangnya untuk versi student tidak disertai dengan fasilitas kompilasi menjadi executable program.

Tetapi jangan khawatir, Matlab jadul, misalnya 2007a dan masih dapat digunakan. Saya sendiri terkadang menggunakannya untuk mengkompilasi M-file. Kebanyakan berhasil dengan baik. Untuk mengatasi problem lisensi dapat menggunakan taktik berikut:

  • Gunakan vmware tanpa koneksi internet dan instal Matlab di dalamnya
  • Mundurkan tahun pada tanggal komputer. Sesederhana itu dan Matlab 2007a, 2008b atau sebelumnya siap digunakan.

Mengapa saya suka Matlab 2007a? ternyata untuk jaringan syaraf tiruan versi inilah yang terbaik dibanding dengan 2008b (lihat post yang lalu). Cukup uji saja dengan training dan testing logika XoR. Semoga bermanfaat.

[Update: 29.4.2018]

Iseng-iseng mengaktivasi ulang Matlab 2008b dengan lisensi 2013b ternyata bisa juga. Akhirnya bisa beraktivitas lagi dengan Matlab versi 2008b yang cepat.

Problem pada Edit Menu dan Sidebar Menu di OJS 3.1

Ada sedikit masalah ketika menambahkan satu menu baru di bawah about misalnya “editorial team”. Beberapa user bisa tetapi ada satu user yang tidak berhasil menambahkan menu tersebut. Kuncinya ternyata di menu terdiri dari dua jenis:

  • User Menu, dan
  • Primary Menu

Video berikut memperlihatkan tampilannya. Perhatikan jika tidak muncul, tinggal drag saja unassigned menu ke kiri agar tampak. Gunakan primary menu agar tampil di menu khusus jurnal yang dilihat (jila lebih dari satu jurnal dalam situs OJS).

Side Bar Menu

Ada lagi masalah dalam OJS 3.1 yaitu tidak bisa mengupload suatu gambar. Misalnya di sidebar (menu yang ada di sisi kanan OJS) akan ditayangkan “indexed by” dengan tampilan logo Google Scholar dan Sinta, ternyata tidak bisa upload gambar. Solusi sementara sebelum menemukan jawaban pastinya adalah dengan mengarahkan gambar ke sumber lain. Lihat video berikut. Sekian semoga sedikit banyak bermanfaat.

Instruksi Keluar dari Kalang (Loop) pada Matlab

Beberapa hari ini ada sedikit masalah ketika mengkonversi program yang dibuat dengan M-file menjadi berbasis Graphic User Interface (GUI). Program tersebut mengkalkulasi secara serial beberapa lahan yang akan dioptimasi. Ketika tidak semua lahan dioptimasi, tentu saja ketika sampai ke lahan terakhir, program harus keluar dari proses kalkulasi dan merangkum hasilnya.

Instruksi GOTO

Untuk rekan yang pernah belajar bahasa pemrograman jadul (BASIC, Fortran, dan sejenisnya) pasti mengenal instruksi GOTO tersebut. Matlab tidak menyediakan instruksi tersebut, tetapi beberapa volunteer berhasil membuat fungsi goto() yang mengarahkan urutan program ke lokasi tertentu (berbasis nomor baris atau dalam bentuk string label). Silahkan kunjungi situsnya, dan jalankan beberapa sample programnya.

Example 22:

  • a = 0;
  • 2-
  • goto([6,6,6,6,6,6,9])
  • return
  • 5-
  • 6- a = a + 1;
  • 7- goto(‘End’)
  • 8- return
  • 9- msgbox(num2str(a))
  • 10-
  • 11- % LABEL End

Tampak instruksi goto mengarahkan ke baris perintah 6,6,6,6,6,6, dan terakhir 9. Perhatikan juga selain dengan baris instruksi, goto juga bisa mengarahkan ke label ‘End’ di akhir program. Instruksi goto di berbagai bahasa pemrograman sudah jarang dipakai dan sangat tidak disarankan untuk digunakan.

Break, Return, dan Continue

Tadinya lumayan lega setelah mengunduh fungsi goto(). Tetapi ternyata bermasalah ketika jalan di GUI, entah mengapa. Akhirnya, setelah sedikit mengutak-atik struktur program digunakanlah satu dari tiga fungsi penghentian proses, yaitu continue. Sebenarnya fungsi ini telah saya kenal lama, tetapi jarang dipakai. Namun ketika diterapkan di fungsi serial tersebut, tidak bisa karena bukan instruksi kalang/loop.

Ternyata jawabannya sederhana. Buat saja kalang dengan iterasi berjumlah satu. Ketika dijumpai kondisi tertentu, gunakan continue untuk keluar dari kalang tersebut. Misalnya dengan instruksi berikut.

  • JPLnew=JPLnew-1
  • if JPLnew == 0
  • continue
  • end

Misalnya saya ada 10 proses dan user hanya meminta 5 saja secara berurutan, maka tiap proses harus berkurang 1 dan ketika ditemui nilai nol, program harus loncat keluar 10 proses tersebut (hanya diminta lima). Agar keluar dari kalang, gunakan saja kalang dengan satu iterasi sebelum proses.

  • iteratian=1
  • JPLnew=JPL
  • for i=1:iteration
  • …….

Perhatikan perbedaan break, return dan continue dengan cara mengetik help break/return/continue pada command window. Sekian, semoga bermanfaat.

 

Strategi Pembelajaran Daring (Online)

Dalam menghadapi era revolusi 4.0 dan university 5.0 pemerintah mencetuskan GEN-RI 4.0 yang salah satunya adalah dengan menarapkan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA). Kendala tentu saja akan dihadapi ketika menerapkan sistem pembelajaran daring tersebut. Beberapa literatur di internet banyak mengupas hal tersebut, salah satunya dari situs ini.

Daring vs Tatap Muka

Pembelajaran tatap muka sudah dilaksanakan sejak taman kanak-kanak. Guru atau dosen datang, melaksanakan rutinitas seperti biasa, memperkenalkan diri, mengecek absensi, mengeluarkan lelucon tertentu yang membuat siswa tertarik, dan sebagainya. Peserta didik pun melakukan hal yang sama, berusaha memahami tujuan pembelajaran, mempersiapkan materi, berusaha datang tepat waktu, dan dapat mengikuti pelajaran yang diajarkan. Bagaimana dengan perkuliahan daring?

Perkuliahan daring menimbulkan masalah bukan hanya siswa tetapi pengajar (tutor) pun mengalami hal yang sama. Fokus utama tentu saja kepada peserta didik yang menjadi sasaran pembelajaran. Ibarat mengajari berenang, siswa dipaksa terjun ke kolam tanpa terlebih dahulu diberi teknik/teori dasarnya. Hal ini terkadang membuat siswa frustasi. Banyak siswa mengalami ketidakjelasan terhadap materi yang diajarkan. Materi datang dan pergi begitu saja tanpa ada bekas di benak peserta didik.

Tiga Strategi Pembelajaran Daring

Strategi di sini hanya berupa hal-hal yang perlu disadari oleh pengajar online (tutor) ketika memulai perkuliahan daringnya. Hal-hal tersebut adalah aspek-aspek yang membedakan kuliah daring dengan tatap muka, baik dari sisi kelemahan maupun kelebihannya.

  • Pembelajaran daring bukan hanya berkutat dengan internet, melainkan aspek penting yaitu “lebih aman (safer)”. Kita mengenal Learning Management Systems (LMS) sebagai komponen penting e-learning. Akhir-akhir ini aksi “bulying” kerap terjadi ketika proses pembelajaran. Dengan LMS, peserta didik dengan nyaman berinteraksi dengan tutor-nya tanpa khawatir dicemooh oleh peserta lainnya. Di sinilah letak “safe” tersebut. Intinya, peserta didik bebas mengekspresikan ide-idenya.
  • Pembelajaran daring memperluas komunitas pembelajaran. Memperluas di sini karena antara satu siswa dengan siswa lainnya memiliki akses komunikasi yang lebih baik dibanding diskusi tatap muka yang terbatas oleh ruang dan waktu. Bahkan diskusi tatap muka yang sudah baik pun masih memiliki kendala dimana ada kecenderungan siswa kurang peduli terhadap apa yang dikatakan oleh rekannya. Mungkin karena akibat dia sendiri sedang berjuang memahami konsep-konsep di benaknya. Selain itu, kebanyakan perkuliahan tatap muka hanya menjadi ajang kontes kecanggihan profesor pengajar saja, padahal harusnya berfokus ke perkembangan intelektual peserta didik.
  • Menemukan ritme. Hal terakhir ini salah satu kendala utama pembelajaran daring. Ketika kita terbiasa dengan jadwal yang pasti, urutan proses perkuliahan yang runtun, pada perkuliahan online peserta didik harus mengatur sendiri jadwal yang optimal kapan dia belajar dan harus keluar dari zona nyamannya yang biasa mereka lakukan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi (tatap muka yang teratur). Jika tidak diantisipasi, dapat dipastikan siswa akan lalai dalam mengatur waktunya. Tetapi jika siswa mampu mengetahui kapan waktu-waktu optimalnya akibat kebebasan dalam belajar daring, banyak keutamaan-keutamaan yang diperoleh dari perkuliahan online.

Itulah tiga hal yang harus disadari oleh tutor online. Ada baiknya tutor memastikan peserta didik cepat mencapai zona nyamannya dalam kuliah daring. Tentu saja tiap siswa berbeda, namun demikian pada umumnya perbedaan-perbedaan yang ada memiliki keunggulan tersendiri. Postingan ini disarikan dari tulisan pada referensi berikut. Sekian semoga bermanfaat.

Referensi:

Era University 5.0

Untuk menghadapi era revolusi 4.0, ristek dikti mencanangkan GEN-RI 4.0 (post yang lalu). Sementara itu saat ini kabarnya kita siap menghadapi era university 5.0. Sebelum masuk ke era tersebut, ada baiknya membahas era-era sebelumnya.

University 1.0

Ada sedikit perbedaan antara satu sumber dengan sumber lainnya mengenai pembagian era university. Situs berikut menjelaskan saat ini adalah era pendidikan tinggi (higher education) 3.0, sementara situs lainnya versi 5.0. Jika diambil dari rujukan yang terakhir, university 1.0 adalah pendidikan yang ditujukan untuk para kaum elit/bangsawan.

University 2.0

Munculnya era revolusi industri memaksa perubahan paradigma pendidikan. Pendidikan tidak hanya untuk kaum elit saja.

University 3.0

Setelah perang dunia kedua, semua negara fokus untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. University berperan dalam melakukan inovasi-inovasi dalam rangka meningkatkan daya saing.

University 4.0

Era ini ditunjukan dengan perubahan sosial dimana wanita berperan juga dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Era ini sekitar tahun 60-an hingga 70-an.

University 5.0

Pada era ini pendidikan tinggi dituntut mampu mengikuti perkembangan globalisasi ditandai dengan pesatnya perkembangan telekomunikasi dan perubahan budaya era modern. Sebenarnya siapakah konsumen university 5.0 ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah generasi z.

Generasi Z

Generasi Z merupakan penerus generasi sebelumnya (millenials dan baby boomers). Generasi ini (saat ini berusia 7 – 23 tahun) yang ditandai dengan “melek internet” memiliki ketabahan dan tangguh dalam mencapai sesuatu (Grit). Karakter-karakternya antara lain:

  • Ingin unggul dibanding rekan-rekannya
  • Ingin menguasai dunia dengan kegiatan suka rela
  • Percaya bahwa tiap aksi pasti ada hasil nyata
  • Melihat aspek sosial ketika memilih bekerja di suatu institusi
  • Beberapa ingin bekerja yang memiliki dampak terhadap dunia sekitar
  • Gemar membagi (share) ilmu lewat dunia maya
  • Percaya bahwa dunia online bisa membantunya menggapai keinginan
  • Percaya bahwa apapun memiliki kemungkinan untuk diraih
  • Lebih pragmatis dibanding generasi sebelumnya. Mereka terkadang menghargai orang biasa dibanding selebritis terkenal
  • Menghargai nilai kejujuran
  • Sangat memperhatikan keseimbangan dunia kerja dengan kehidupan
  • Sangat menghargai uang, terkadang pandai berhemat tetapi terkadang membeli hal-hal tertentu yang unik (“cool product” dari pada “cool experience”).

Tuntutan Generasi Z terhadap University 5.0

Oleh karena hal-hal di atas, generasi Z membutuhkan kampus-kampus sebagai berikut:

  • Kampus yang akuntabel yang bisa menjangkau semua golongan (inclusive)
  • Value Oriented. Generasi Z harus melihat manfaat dari kampus tempat dia kuliah.
  • Interaktif. Generasi ini menuntut jawaban segera ketika menjumpai masalah.
  • Berdasarkan kenyataan. Kampus harus bisa membuktikan diri bahwa institusinya layak dipilih oleh mereka
  • Fleksibel. Kampus harus mampu beradaptasi terhadap perkembangan jaman yang cepat.
  • Personal. Tidak ada kampus yang memiliki strategi yang tepat untuk semua mahasiswa generasi Z yang beragam karakternya. Mereka ingin diperhatikan personal yang berbeda dengan rekan-rekannya.

Referensi:

Beralih dari Program Berbasis Konsol ke Graphic User Interface (GUI) pada Matlab

Berbasis konsol atau yang dikenal dengan istilah teks merupakan pemrograman tertua. Sebelum ada pemrograman visual, pemrograman teks menjadi andalan para programmer dalam membuat suatu aplikasi. Pada Matlab, pemrograman berbasis teks masih digunakan dalam bentuk command window dan m-file.

Command Window

Command Window merupakan dasar pemrograman pada Matlab. Matlab menyediakan m-file, yaitu suatu file yang berisi kode program. Ada dua jenis yaitu script dan function. Biasanya yang digunakan adalah function. Sementara itu command window digunakan untuk menguji apakah suatu kode dapat berjalan dalam m-file. Diibaratkan pelukis yang akan menggambar sebuah lukisan, command window adalah plat yang digunakan pelukis untuk mengecek warna sebelum dituangkan ke lukisan. Pada Matlab, sebelum seorang pemrogram menulis kode di m-file editor (editor yang disediakan Matlab untuk mengetik program), sebaiknya diuji dahulu di Command Window. Jika di Command Window berjalan dengan baik, maka di m-file biasanya berjalan dengan baik juga.

Graphic User Interface (GUI)

Pertama kali Matlab diluncurkan, tidak disertai dengan pemrograman visual. Walaupun demikian, beberapa pemrogram bisa menciptakan GUI dengan kode-nya. Namun agak merepotkan. Akhirnya di versi-versi berikutnya, toolbox GUIDE dibuat, yaitu toolbox untuk merancang input-output dalam sebuah jendela program. Ketika GUI mudah dibuat, kemampuan Matlab dalam komputasi sedikit terbantu, yaitu dari sisi user friendly program yang dibuat programmer.

Kendala-Kendala

Beberapa masalah muncul ketika beralih dari konsol ke GUI. Bagi pengguna yang biasa menggunakan visual basic, delphi, dan pemrograman visual lainnya, sedikit heran dengan format GUI pada Matlab. Bentuk antar fungsi Matlab sepertinya sudah berbasis object, sehingga ada sedikit aturan yang harus diikuti programmer. Untungnya Matlab menyediakan bantuan (sekadarnya). Contohnya adalah teknik menangkap masukan, serta mengkonversinya menjadi numerik (jika yang ditangkap angka). Di bagian atas fungsi terdapat bantuan kode yang bisa dicopas.

Perhatikan “Hint” di atas yang saya copy ke kode yang dibuat (jumlahPL). Ada sedikit metode penanganan object (diistilahkan dengan “handles”). Supaya tidak bingung, ikuti saja penamaannya (yaitu dengan istilah “handles”) walaupun sebenarnya bisa diganti.

Ketika riset, saya menggunakan konsol untuk optimasi penataan wilayah. Program berjalan dengan baik (lihat artikel tersebut di jurnal internasional, dan conference), tetapi ketika coba dijalankan dengan GUI beberapa fungsi seperti type, dan pareto diblok Matlab karena merupakan fungsi bawaan Matlab (padahal ketika dijalankan pada konsol (Command Window) berjalan dengan baik. Akhirnya dengan susah payah saya ganti dengan nama lain yang belum dimiliki Matlab. All in all .. sepertinya beralih ke GUI menjadi keharusan karena dapat memudahkan user memakainya, apalagi saat ini sudah terkoneksi dengan sistem database dengan mudah. Sekian, semoga bermanfaat.

Menyederhanakan Alamat Link dengan Bit.ly

Memang ketika membagi alamat situs yang berisi data selayaknya ditulis lengkap dengan menyertakan nama domainnya. Tetapi terkadang dengan menuliskan secara lengkap, ketika berbagi data dengan rekan tim jika ditulis terlalu panjang sedikit merepotkan, ditambah lagi dengan link yang berisi kode-kode tertentu yang tidak “human readable“. Salah satu situs terkenal yang memberikan layanan penyederhanaan alamat situs yang di-share adalah bit.ly.

Manfaat yang saya rasakan dengan situs ini adalah mudah dalam mengingat alamat situs yang dibagikan dari/ke orang lain, terutama ketika menginfokan sesuatu secara ofline (bukan dengan WA, facebook, dan sejenisnya). Dengan format “bit.y/(keterangan)” maka orang lebih mudah mengingat/mencatat “keterangannya” dan terhindar dari salah tulis. Berikut ini langkah-langkah penggunaannya:

Mendaftar/Sign-up

Pertama kita diminta untuk mendaftar di bit.ly. Tekan tombol “Sign Up” untuk mendaftar. Jika malas mengisi data, bisa dengan sign up dengan facebook.

Menyederhanakan Link dengan Bitlink

Misalkan ada link seperti ini: https://drive.google.com/file/d/0BzvQ5rbP5stZUHRmMU1oTnJDOVVOOVRfRWZtNm8yeUdwamlz/view?usp=sharing

yang harus di share. Tentu saja sulit diingat, kecuali memang dengan cara copas. Dengan bit.ly kita tinggal memasukan ke isian link yang akan disederhanakan setelah menekan Create Bitlink dilanjutkan dengan mengeditnya. Misalnya saya edit menjadi: “10-tips-penulisan” yang tentu saja mudah diingat dan ditulis/diketik. Tekan Save dan alamat yang sudah disederhanakan siap dipakai.

Bandingkan link sebelumnya yang panjang dan disederhanakan menjadi: http://bit.ly/10-tips-penulisan saja. Mudah diingat bahkan jika ingin mengeshare secara lisan dapat dilakukan dengan kata “10-tips-penulisan” dengan alamat depan “bit.ly” yang juga mudah diingat. Sekian semoga bermanfaat.

Mencoba Open Journal System (OJS) Versi 3.1.0.0

Oleh: Herlawati

Ketika memberi pelatihan OJS 3 di kampus UNISMA Bekasi, ada beberapa hal baru yang dapat dibagikan di sini. Pertama-tama ternyata OJS saat ini masuk versi 3.1.0.0 dengan tampilan yang lebih “smooth” dibanding versi 3.0. Berikut beberapa hal spesifik yang menjadi kendala saat itu:

Role “jurnal manager”

Jurnal menager memiliki hak akses untuk melakukan beberapa aksi seperti mempublish artikel baru. Tetapi beberapa role harus diset di level di atasnya (admin) dan tidak mengikuti default-nya. Sebab jika mengikuti aturan default dari bawaan OJS3 memiliki banyak keterbatasan, terutama bagi pengelola jurnal baru yang harus mengupload edisi-edisi cetak lawas yang harus dionline-kan. Tentu saja jangan disamakan level jurnal manager dengan admin karena khawatir pengelola jurnal merusak e-journal (berisi beberapa jurnal di suatu institusi). Uniknya akun yang sudah dibuat default tidak bisa diedit, dan harus dibuatkan akun baru dengan hak akses yang tidak default. Terpaksa membuat akun-akun baru jurnal manager dengan hak akses yang tidak default (dengan fasilitas khusus).

Menu tambahan

Beberapa peserta berhasil menambahkan menu tambahan, tetapi ada satu jurnal yang tidak bisa ditambahkan menu tertentu seperti “Editorial Team” yang berisi nama-nama pengelola suatu jurnal. Kasus ini agak rumit karena hanya satu jurnal yang bermasalah sementara jurnal-jurnal lainnya oke.

Upload Gambar

Ketika menambahkan teks statis di bar vertikal kanan, dan akan memasukan logo/gambar ternyata tidak bisa upload gambar. Tetapi dengan menggunakan gambar/logo dari link sumber lain ternyata bisa. Sepertinya masih harus diteliti masalah upload gambar di OJS 3.1.0.0 ini.

Masih banyak hal-hal teknis yang perlu dibenahi. OJS buatan PKP ini pun terus membenahi diri dengan mempermudah penggunaannya. Maklum tidak semua pengguna memiliki background komputer. Oiya, silahkan berkunjung ke jurnal yang diutak-atik barusan di link berikut ini. Sekian semoga bermanfaat.

Pelatihan OJS3

Update: 24 Februari 2018

Info dari pertemuan antar pengelola jurnal di LIPI bahwa migrasi dari OJS 2 ke OJS 3 harus hati-hati mengingat tiap artikel yang dipublikasi memiliki Digital Object Identifier (DOI) yang unik dan ketika migrasi harus dipastikan tidak berubah. Sementara info dari PKP, perancang OJS, menyebutkan versi 3 memiliki keunggulan lebih dinamis, mudah dikustomisasi, dan theme yang lebih menarik. Silahkan lihat di link resminya.

Omong-omong Tentang Nasionalisme

Waktu itu ada kejadian di kampus tempat saya kuliah di Thailand. Mirip sekali dengan kejadian di kampus ketika saya ambil S1 di Jogja, yaitu maling yang tertangkap. Kalau di Jogja maling motor di tempat kosku habis dihajar massa, beda dengan kejadian di Thailand. Postingan ini sekadar obrolan ringan tentang nasionalisme dari pengalaman singkat di negeri orang.

Asrama di Thailand dihuni oleh kebanyakan mahasiswa non-Thai seperti India, Pakistan, China, dan salah satunya Indonesia. Ketika nongkrong dengan rekan dari Jogja, tiba-tiba istrinya yang baru tiba di dormitory khusus yang bawa keluarga menelepon karena kaget ada orang Thai yang masuk ke rumah. Ketika ditegur, orang itu bilang sedang memperbaiki listrik. Curiga bertambah ketika istrinya menanyakan apakah teman saya itu “request” perbaikan listrik dan jawabannya “tidak”. Kontan, teman saya yang sedang asyik ngopi ngacir pulang.

Kecurigaan bertambah ketika salah satu keamanan asrama memberitahu bahwa ada maling yang tertangkap, dan coba mengecek siapa tahu ada barang-barang yang disita dari tangan maling tersebut, salah satunya mata uang rupiah. Alhasil, jadilah rekan saya itu saksi di kepolisian Thailand. Setelah jadi saksi di kantor polisi, panas, dan lama, akhirnya teman-teman yang melapor kapok berurusan dengan polisi. Sedikit kecewa karena si maling hanya ditahan beberapa hari saja.

Nasionalisme Tetangga Kita

Ketika mengambil course work, yaitu tahapan sebelum riset, saya cenderung “dekat” dengan siswa Thailand. Dekat di sini karena menurut saya mereka sangat kompak, punya data-data materi kuliah, termasuk soal-soal ujian tahun lalu beserta tip dan triknya. Hasilnya selain nilai yang lumayan, saya bisa mengenali karakter mereka yang selalu mensuport rekannya yang senegara dengannya. Ketika melihat polisi yang terkesan membela si maling karena senegara, tentu saja akan membela rekannya yang bukan maling. Teman kuliah saya yang dari Bandung pun menyadari perbedaan perlakuan dosen yang berkebangsaan Thai dengan siswa Thai dan non-Thai. Menurut saya sih wajar saja, walau tidak se-ekstrim dengan negara kita. Perhatikan kejadian beberapa waktu yang lalu ketika maling yang tertangkap dan dibunuh beramai-ramai dengan cara dibakar, seperti hewan saja, padahal senegara dengan yang menangkapnya yang terkadang bukan selaku korban yang barangnya dicuri. Atau tengok saja sikap orang-orang kita terhadap lainnya yang sebangsa, hanya karena perbedaan “kulit terluar” seperti pilihan partai, calon kepala daerah, gubernur dan lainnya bisa lupa kalau sama-sama sebangsa dan setanah air.

Bagaimana dengan negara lainnya selain Thailand? Sepertinya tidak jauh berbeda, kecuali mungkin negara-negara berakhiran “-tan”. Baru pulang dan lulus kuliah, ketika kembali ke negaranya tiba-tiba ada kabar tewas dibunuh. Saya sempat bertanya ada apa di sana? Ternyata kabarnya harga nyawa terlampau murah. Orang dengan mudah membunuh hanya dengan bayaran sedikit saja (entahlah itu salah satu jawaban dari rekan yang tinggal di sana, mungkin saja tidak benar). Lucunya saya sempat ngobrol bertiga dengan teman India dan Pakistan. Ketika saya bertanya mengapa mereka terpisah menjadi dua negara? Padahal hanya beda agama saja. Mereka terdiam, saya jadi menyesal juga melontarkan pertanyaan iseng itu, untungnya tuan rumah yang berkebangsaan Pakistan langsung menawarkan Teh “Cai” yaitu teh dengan susu, suasana jadi hangat kembali. Memang ada isu-isu sensitif yang tidak boleh dibahas. Salah satunya adalah masalah darurat militer di Thailand. Ketika saya duduk berdua dengan seorang rekan dari Thailand dan menanyakan masalah itu, raut mukanya langsung pucat dan terdiam. Sepertinya generasi mudah negara itu khawatir akan bahayanya membahas perbedaan dalam politik. Mereka lebih suka membahas yang menurut mereka bernuansa hiburan, atau setidaknya hal-hal yang sehobi dan ada unsur kesamaannya bukan perbedaan.

Nasionalisme di Negara Indonesia

Cukuplah sila ketiga “Persatuan Indonesia” yang menggambarkan nasionalisme kita. Sukarno mengatakan kita sebangsa karena satu sejarah. Walaupun dengan Malaysia serumpun karena beda sejarah, kita bukan bangsa yang sama dengan mereka. Entah apakah masih relevan di era globalisasi ini statement Sukarno di buku karangannya (dibawah bendera revolusi) tersebut?. Misal dengan Timor Leste apakah kita satu sejarah? (satu dijajah Belanda satunya Portugis). Tetapi ketika ngobrol dengan teman dari Timor leste sepertinya saya merasa senegara. Ah entahlah, mungkin itu semua karena politik, yang membuat saya khawatir nanti ketika ngobrol dengan rekan dari Ambon, Aceh, atau Kalimantan, bukan senegara lagi. Jangan sampai lah.

So, kalau ada rekan senegara berprestasi, ikut banggalah. Kalau ada yang kurang, maklumin saja, toh dia rekan kita.

Beralih dari GUI ke Kode Program Pada Matlab

Graphic User Interface (GUI) atau yang sering diistilahkan dengan pemrograman visual saat ini menjadi keharusan suatu program komputer. Dengan GUI, pengguna mendapatkan kemudahan dalam menggunakan program yang dibuat. Sehingga tingkat keinginan penggunaan dalam menggunakan aplikasi tersebut menjadi tinggi (attitute toward usage). Maka tuntutan programmer terhadap bahasa pemrograman yang mudah dalam pembuatan GUI sangat tinggi saat ini. Matlab sendiri memiliki kemudahan tersebut. Berikut ini kemudahan-kemudahan yang disediakan Matlab.

Menambahkan Komponen-Komponen

Matlab memiliki banyak komponen-komponen untuk membantu dalam pembuatan GUI seperti tombol button (pushbutton), edit text, dan lain-lain. Pembuatannya sederhana, yaitu hanya dengan drag dengan mouse.

Beralih ke Kode

Untuk beralih dari jendela GUI ke pemrograman (coding) pada Matlab tinggal klik kanan pada komponen yang kita tambahkan di rancangan GUI. Pilih view callback lalu pilih salah satu pilihan, misalnya Callback, maka akan muncul jendela kode. Tentu saja harus disimpan terlebih dahulu project yang dikerjakan.

Silahkan masukan kode program di M-file editor yang baru dibuka. Cukup mudah, hanya saja untuk input teks agak sedikit ribet yaitu saat menangkap dengan membuat objek. Untungnya ada bantuan dari M-file untuk menangkap inputan.

Debug

Ketika uji coba program yang baru saja dibuat, terkadang dijumpai kesalahan-kesalahan sintaks. Matlab memberitahu lokasi baris tempat kesalahan. Cara mengetahuinya adalah dengan mengklik “line” di command window yang berwarna merah.

 

Open Journal System (OJS) Versi 3

Oleh: Herlawati, S.Si., M.M., M.Kom. (STMIK Bina Insani)

Open Journal System (OJS) adalah aplikasi gratis untuk mengelola jurnal. Aplikasi ini dibuat oleh Public Knowledge Project (PKP), silahkan kunjungi situsnya. Saat ini OJS sudah versi 3 dengan tambahan utama misalnya ORCID ID terlihat, serta tahapan proses publikasi lebih singkat dibanding OJS versi sebelumnya (versi 2). Selain itu tampilan lebih halus, bentuk sitasi yang kustom, dan lain-lain.

Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi tim Relawan Jurnal Indonesia (RJI). Beberapa waktu yang lalu, sebagai contoh perguruan tinggi Bina Insani mengadakan pelatihan OJS tersebut. Postingan tentang pelatihan kustomisasi OJS 3 dan MOU dengan pihak Relawan Jurnal Indonesia (RJI) korda Jakarta dapat dilihat link berikut ini.

Salah satu kustomisasi adalah mengaktifkan plugin. Plugin ini berfungsi untuk menseting komponen-komponen tertentu di OJS, seperti menambah focus and scope, peer review, template, alamat redaksi, stats counter, dan lain-lain. Silahkan video tutorialnya berikut.

Setelah diaktivasi, untuk menambah salah satu komponen, misalnya stats counter, akan dilanjutkan pada postingan lainnya.

Era Revolusi Industri 4.0

Dulu di bangku sekolah kita diperkenalkan dengan istilah revolusi industri di Inggris tahun 1760. Tiba-tiba muncul informasi dari sharing di grup WA revolusi industri versi 4.0. Ada baiknya kita melihat kembali ke belakang perkembangan revolusi industri yang terjadi hingga saat ini.

Revolusi Industri 1.0

Ini merupakan revolusi industri pertama yang ditujukan untuk mematahkan teori Robert Maltus akan kekhawatiran jumlah penduduk yang jauh lebih tinggi pertumbuhannya (deret ukur) dibanding pertumbuhan kebutuhan pokok (deret hitung). Penemuan mesin-mesin yang meningkatkan efisiensi dan jumlah produksi memicu revolusi industri pertama. Ditunjang pula oleh patent act yang membuat para ilmuwan berminat untuk menemukan mesin-mesin atau alat-alat baru.


Revolusi Industri 2.0

Rusaknya lingkungan membuat negara-negara industri berfikir keras menciptakan terobosan-terobosan baru tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Revolusi industri 2.0 dicetus oleh penemuan-penemuan di bidang kelistrikan.

Revolusi Industri 3.0

Tidak lama setelah perkembangan kelistrikan, ditemukan pula alat-alat elektronika dan telekomunikasi yang menciptakan temuan-temuan baru di bidang teknologi informasi dan elektronika. Revolusi industri 3 tidak berlangsung lama karena kemunculannya teknologi digital.

Revolusi Industri 4.0

Revolusi ini ditandai dengan era disrupsi, yaitu kemunculan industri-industri yang berbasis online (digital). Bukan hanya komputer, teknologi mobile sudah mewabah dan hampir semua orang terhubung secara online. Dalam revolusi ini peran inovasi menjadi penentu daya saing suatu produk di pasaran. Dan ternyata ada kesenjangan antara industri yang bergantung dengan inovasi dengan kesiapan tenaga kerja. Banyak penyedia lapangan kerja kesulitan mencari sumber daya manusia yang selain memiliki kemampuan literasi (baca, tulis, dan hitung) juga literasi data (big data), literasi teknologi (coding, dan pemahaman terhadap AI) dan literasi manusia (humanities, komunikasi dan disain).

industrial rev

Silahkan lihat power point menarik berikut ini:

Bagaimana mengatasinya? Jawabannya adalah pendidikan yang berkaitan dengan revolusi industri 4.0.

GEN-RI 4.0

GEN-RI 4.0 singkatan dari General Education + Revolusi Industri 4.0. Prinsipnya adalah literasi dari general education berkolaborasi dengan literasi data dan teknologi dalam kurikulum. Selain itu ada teknik baru dalam menghadapi perkembangan iptek yang sangat cepat, yaitu konsep belajar sepanjang hayat (life long learning). Peserta didik diharapkan terus mengupdate ilmunya mengikuti perkembangan IPTEK terkini.

Negara kita sedang mencoba menggabungkan belajar konvensional dengan online, yang dikenal dengan istilah blend learning yang difasilitasi oleh Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) dan jaringan IdREN (backbone). SPADA menerapkan banyak metode-metode baru yang berkaitan dengan pembelajaran online seperti:

  • Hybrid Credit Transfer
  • Rintisan Cyber University
  • Regulator dan penjaminan mutu PJJ (online learning)
  • Innovative-based learning
  • Flip learning (lihat post terdahulu tentang flip learning)
  • Dan Super Faculty.

Saya sedikit mendeteksi adanya “sesuatu” yang berefek terhadap dosen-dosen di tanah air, tapi belum begitu jelas, mungkin pembaca memiliki “penerawangan” yang tajam, dan bisa di share di komentar. Yang jelas, konsep belajar seumur hidup mengharuskan dosen belajar seumur hidup. Sekian, semoga bermanfaat.

Referensi

Praseyono, Agus Puji. 2017. https://ristekdikti.go.id/revolusi-industri-ke-4-dan-integrasinya-dalam-tata-kelola-negara/

Ahmad, Intan. 2018. Medan. https://drive.google.com/file/d/1nFR_Ap679jSPHPTkvYvWIGdPYsxRLnMn/view?usp=sharing

https://www.facebook.com/judianto/videos/10211421680240473/