Digitalization dari Peta Manual

Terkadang instansi yang kita minta datanya hanya memiliki data cetakan biasa, sehingga untuk melakukan analisa diperlukan konversi ke data digital. Misalnya kita akan mendigitalisasi wilayah hutan di kota Bekasi dengan data hutan jawa barat. Scan peta manual tersebut dengan resolusi yang tinggi karena kita hanya menggunting pada wilayah tertentu saja yang kecil, misalnya kota bekasi.

Atau kalau mau enak gambarnya dicrop aja sebesar kota bekasi. Klik kanan di menu dan aktifkan menu georeferencing. Minimal dua pasangan titik bisa membuat referensi geografis dari gambar/image tersebut. Pasangan pertama merupakan titik gambar dan titik shapefile yang sudah terproyeksi, begitu juga pasangan titik kedua. Perlu dua titik karena jika hanya satu titik, Arcgis tidak sanggup mengakuratkan hasil karena ukuran/skala yang biasanya kacau.

Kalo sudah selesai maka buat shapefile baru dengan tipe polygon untuk membuat area ruang terbuka yang nantinya menjadi dasar dalam membuat analisa suitability.

Atur dulu proyeksinya samakan dengan proyeksi kota yang telah diset sebelumnya. Setelah itu mulai proses penggambaran. Lakukan proses menggambar polygon dengan mencontek dari peta cetak yang sudah digeoreferencing, hasilnya adalah data ruang terbuka yang berada tepat di kota bekasi (berwarna biru muda).

Membuat Peta Jalan dari Open Street Map

Data merupakan aset yang sangat berharga. Dengan mengolah data kita bisa memetik keuntungan dan manfaat dari data tersebut. Menyadari hal itu banyak orang yang butuh data mengeluarkan kocek yang besar untuk mendapatkan data. Akibatnya penyedia data terkadang merahasiakan data yang dimilikinya. Hal ini bisa menguntungkan bisa juga merugikan. Terlepas dari hal itu, karena data geografis menyangkut hajat hidup orang banyak, sangat dibutuhkan data yang dapat diakses oleh semua orang, salah satunya adalah peta jalan. Sebenarnya sudah banyak aplikasi baik desktop, web-based, atau android yang dapat mengakses peta jalan ini, tetapi peneliti membutuhkan peta tematik tertentu yang akan digunakan untuk analisa spasial. Ok, langsung saja buka ArcGis, dan tambahkan satu basemap dengan nama Open Street Map.

Cukup banyak data yang tersedia, baik topography peta satelit, laut, dan sebagainya. Di sini saya akan mencoba membuat peta jalan. Jika Anda telah memiliki peta jalan, dapat Anda tambahkan di ArcMap, jangan lupa samakan terlebih dahulu proyeksinya, lihat postingan sebelumnya. Data jalan sebenarnya bisa dibeli di Bakosurtanal untuk negara Indonesia, sayangnya berbayar (ada perpres nya). Akan tetapi beberapa blogger telah memiliki data tersebut dan dengan baik hati menshare. Masalahnya adalah datanya tidak Uptodate. Contohnya adalah kota Bekasi, tampak fly over yang mengarah ke sumarecon belum digambar, oleh karena itu saya akan mencoba menggambarnya.

Klik kanan pada layer Jalan – Edit Fiture – Start Editing. Jika belum muncul juga jendela Create fiture, klik editor, masuk ke Editing Windows dan klik Ceate features.

Dobel klik pada objek Jalan, yang merupakan objek polyline (garis/lengkungan). Ternyata ada sedikit masalah yaitu pesan berikut ketika selesai membuat satu polyline.

Sepertinya ArcMap tidak sanggup memetakan garis tersebut. Oleh karena itu kita kembali selidiki shapefile jalan yang telah kita proyeksikan sebelumnya. Ternyat koordinat belum ada ukurannya:

Lalu apa yang harus dilakukan? Tentu saja harus mengisi koordinat yang sesuai pada layer Jalan tersebut. Cara penyelesaian saya adalah dengan mengekspor fitur ke file lainnya dengan mengklik kanan layer Jalan – Data – Export Data, dan pilih this layer source data, isi nama file baru hasil export tersebut. Hasilnya harus seperti berikut ini dimana polyline baru berhasil ditambahkan, karena banyak harus yang saya tambahkan, capek dan membosankan, teruskan sendiri ya.

Mengatasi Problem Koordinat dan Proyeksi di ArcGIS

ArcMap adalah salah satu fasilitas yang tersedia di ArcGis. Fungsinya mirip ArcView yang merupakan versi lawas dari ArcGis. Ketika menambah satu layer di ArcMap terkadang muncul pesan berikut ini:

Atau mungkin pesan lain yang mengatakan koordinat belum teridentifikasi dengan jelas. Tentu saja kita bisa mengklik ‘OK’ dan peta tampak di ArcMap. Masalah akan muncul jika ArcMap kita terdiri dari lebih dari satu shapefile yang beda koordinat dan proyeksinya. Untuk pesan di atas kita diminta menyamakan proyeksi shapefile tersebut. Cara yang terstruktur adalah dengan membuka Arc Catalog, dan cari file yang akan disamakan proyeksinya tersebut.

Klik kanan dan masuk ke propertis. Samakan proyeksinya dengan layer BaseMap seperti pada gambar di atas. Apa itu BaseMap, akan dijelaskan pada postingan berikutnya. Samakan seperti pada gambar di bawah ini:

Di sini saya menggunakan WGS 1984 UTM Zone 48S yang merupakan wilayah jabotabek. Jika berhasil, maka Anda akan melihat dua layer yang sekarang memiliki proyeksi yang sama. Atur susunan layer karena jika dua poligon saling berimpit, salah satunya akan tertutup. Akhirnya tampak seperti gambar di bawah ini:

Selamat mencoba, atau mungkin ada teknik lain yang lebih ok, tolong dishare.