Sustainable Development

Istilah sustainable development belakangan ini sering muncul setelah isu global warming sepertinya menjadi kenyataan. Istilah ini sebenarnya sudah muncul lama ketika munculnya World Commission on Environment and Development (dikenal dengan istilah Brundtland Commission) yang menerbitkan laporannya berjudul “Our Common Future (masa depan kita)” pada tahun 1987 (dikenal dengan istilah WCED 1987) dan memunculkan definisi terkenal dari sustainable development yaitu “development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs (perkembangan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang memenuhi kebutuhannya)” (Steiner, 2008, Leitmann, 1999, Curwell, 2005).

Definisi tersebut ketika pertama kali membaca sangat membingungkan bagi saya dan belum begitu jelas. Ternyata bukan saya saja, ketika definisi tersebut dicetuskan, banyak ketidaksetujuan dari saintis yang menekuni bidang urban/city planning karena memang saat itu masih banyak yang beranggapan bahwa kota atau daerah urban adalah musuh dari lingkungan (Curwell, 2005,p.22). Menghabiskan banyak sumber daya, membuang banyak limbah, merusak lingkungan, dan tuduhan-tuduhan yang terelakan lainnya. Memang waktu itu komisi dikuasai oleh para pakar lingkungan yang dunia terpolarisasi, yang satu berusaha memakmurkan desa (rural) dan satunya lagi mengatasi masalah-masalah daerah urban (city). Akhirnya saya iseng-iseng ke perpustakaan, maklum orang yang sempat 6 tahun kuliah mesin dan dua tahun kuliah IT, mana ngerti masalah seperti itu. Akhirnya dapatlah dua buku yang habis saya lahap dalam dua hari.

Akhirnya muncul konverensi di Rio de Jeneiro Brazil tahun 1992, yang dikenal dengan Earth Summit (UNCED 1992). Dimunculkanlah istilah Agenda 21 “Policy plan for environment and sustainable development in the 21st Century”. Jadi 21 itu ternyata maknanya abad 21. Tetapi tetap saja kritik tetap saja bermunculan (ternyata tidak hanya ke Jokowi saja kritik). Kritiknya adalah Agenda 21 terlalu berfokus pada manusia (Curwell, 2005).

Ok, lama-lama juga paham. Tadinya saya fikir sustainable development itu suatu wilayah harus mampu mensuplai sendiri kebutuhannya baik pangan (dengan agriculture), energi (pembangkit listrik), dan membuang/mengolalah sampai yang dihasilkan dari proses kesehariannya (dibakar, diolah, atau dijadikan pupuk). Tetapi, kian lama, dan diperkirakan di tahun 2050, seluruh bagian di dunia 80% adalah kota atau daerah urban. Maka mau tidak mau perhatian utama haru tertuju ke daerah perkotaan, disamping memang kebanyakan muncul masalah di sana, tetapi kota adalah tempat dimana perekonomian, pendidikan, dan pengambil keputusan berada sehingga harus diberdayakan dengan baik. Jadi konsep urban tidak hanya dibatasi secara geografis di daerah urban saja, melainkan daerah pinggirannya baik rural maupun peri-urban. Misal Jakarta, tentu saja tidak bisa menghasilkan beras, buah dan sayur-sayuran sendiri, melainkan harus menjamin pasokannya dari daerah sekitar. Sampah harus diatasi, jangan sampai laju angkutan ke TPA bantar gebang terganggu, dan lain-lain. Singapura misalnya, masalah polusi, air bersih, energi dan sebagainya, untuk mencapai kondisi sustainable mau tidak mau harus menekan polusi, memiliki kilang minyak (yang katanya lebih banyak dari Indonesia), menjaga suplai air bersih dari Malaysia, dan lain-lain yang dengan teknik terkenalnya, yaitu fine policy (kebijakan denda berat). Seperti jantung di tubuh kita, agar bisa sustainable maka pasokan makanan dari darah harus terjamin, pengeluaran kotoran ke ginjal lewat pembuluh balik dan suplai oksigen dari paru-paru lewat darah juga harus terjaga. Gituuuu …

NB: Oiya, ada istilah Urban Oktober. Dirayakan tiap senin pertama bulan Oktober, tahun ini bertema public space for all, selengkapnya lihat situs ini.

Iklan

One thought on “Sustainable Development

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s