Do It Yourself

Manusia adalah makhluk pembelajar. Bahkan kitab suci umat islam, Al-Quran, pertama kali menurunkan ayat tentang membaca (iqra). Sementara hadits-nya menyebutkan agar belajar dari lahir hingga liang kubur. Sangat sederhana pesannya: “jangan bodoh!”.

Ketika TK dan SD kita diajarkan untuk melakukan hal-hal yang orang dewasa lakukan seperti disiplin, memakai sepatu, baju, menulis, membaca, memasak, dan lain-lain. Ketika sekolah menengah, kita diajarkan dasar-dasar keahlian yang minimal untuk bekerja, seperti pekerjaan kantor, mereparasi piranti elektronik, dan sejenisnya. Dengan kata lain dari TK hingga proses wajib belajar, SMA, dilatih untuk melakukan hal-hal penting secara mandiri. Istilah yang saya lihat di page yang banyak dishare di facebook, “do it yourself”. Berikutnya saya singkat menjadi DIY.

Mengamati riwayat pendidikan saya dahulu dan pendidikan anak-anak saya kini, sepertinya ada pergeseran prinsip DIY. Era 80-an dan 90-an sepertinya era dimana anak-anak waktu itu dipaksa untuk melakukan segala hal secara mandiri. Berbeda dengan saat ini dimana information technology (IT) sudah berkembang dengan pesat, membuat siswa terlampau manja karena banyaknya fasilitas bantuan (help). Bahkan ketika kuliah terakhir saya, laptop dan handphone merupakan barang terlarang ketika ujian. Karena dengan google, seluruh pertanyaan dapat dijawab. Bukan hanya bantuan IT, terkadang orang tua pun ikut serta memanjakan anak. Bahkan ada anekdot dan meme, jika dulu siswa nilainya buruk, orang tua akan memarahi si anak, tetapi sekarang malah si guru yang dimarahi. Ada kejadian ketika anak saya mendapat nilai buruk di mata pelajaran komputer. Tentu saja ibunya sewot, bagaimana mungkin si anak tidak bisa komputer padahal orang tuanya dosen komputer. Akhirnya iseng saya tes, ternyata ya ampun. Saya ingat ketika ikut pengabdian masyarakat yaitu mengajar pemilik yayasan panti anak cacat, mereka yang manula kesulitan memegang mouse dan keyboard. Begitulah anak saya yang kagok ketika menggunakan mouse dan keyboard. Wajar saja mendapat nilai jelek. Kalo menggunakan tablet atau joystick sih jago banget.

Bagaimana dengan pendidikan pasca SMA? Untuk D3, S1, dan S2 sepertinya tidak ada masalah. Mengapa? Karena semua materi ada rujukannya (buku, jurnal, website, dll). Tinggal tingkat ke-“kepo”-an kita saja yang menentukan, “bagaimana membuat ini?”,”bagaimana membuat itu?”. Semua ada jawabannya. Jika malas baca, tinggal liat video tutorial di youtube. Untuk S2 agak sedikit ribet karena harus membandingkan antara satu metode dengan metode lainnya. Nah, untuk yang S3 agak sulit. Karena selain harus membandingkan, harus pula menekuni satu metode untuk menemukan hal baru yang menambah kemampuan metode itu (parameter, hibrid dengan metode lain, and much more). Atau menggunakan satu metode dengan skala yang lebih luas atau di wilayah/domain baru (syukur-syukur bisa menemukan metode baru). Rujukan pun tidak ada karena hal yang baru (mungkin di belahan dunia lain sedang dikerjakan juga pada saat yang sama oleh siswa S3/peneliti lain).

Nah, untuk yang saat ini sedang ingin lanjut ke S3, ingat pesan ini, “do it yourself”, alias bekerja/riset mandiri. Dosen pembimbing pun tidak memiliki jawaban, dia hanya bisa mengarahkan dan memperkenalkan senjata-senjata apa yang dibutuhkan untuk mengupas nanas agar menjadi rujak .. lho kok?

Iklan