Curve Fitting dengan Matlab

Curve fitting artinya membuat sebuah kurva dari rentetan titik. Kurva yang dihasilkan berupa persamaan linear ataupun non linear (matlab menyediakan quadratic hingga polinomial pangkat sembilan). Silahkan lihat post sebelumnya untuk membedakannya dengan interpolasi. Biasanya dijumpai ketika praktikum yang menguji satu variabel dengan perbedaan perlakuan tertentu. Saya sendiri menjumpai pertama kali kasus ini ketika praktikum fisika dasar di tingkat pertama kuliah. Hasilnya pun hanya dengan menarik garik lurus (linear) terhadap serangkaian titik hasil uji coba tersebut.

Matlab menyediakan toolbox dengan nama “cftool” yang dapat diakses dengan mengetik fungsi tersebut di command window. Misalnya kita memiliki serangkaian data sebagai berikut:

  • data =
  • 19.8960
  • 16.9290
  • 15.6660
  • 19.8870
  • 17.9100
  • 18.4260
  • 18.9570
  • 18.7710
  • 15.4860
  • 17.1510
  • 15.3210
  • 18.2580
  • 17.8860
  • 13.7100
  • 17.6040
  • 16.7610
  • 15.8880
  • 16.6200

Langkah pertama adalah memasukan data tersebut ke dalam cftool. Tekan tombol “data” untuk memunculkan jendela data.

 

Karena data hanya satu seri, isi dengan data x atau data y. Saya coba keduanya ternyata hasilnya sama karena memang datanya hanya satu seri. Setelah menekan “create data set” maka toolbox akan terisi data tersebut. Kembali ke jendela “cftool” tekan “Fitting” untuk memulai proses curve fitting. Muncul jendala baru untuk mengisi parameter-parameter yang sesuai (linear / non linear).

Setelah memasukan jenis polinomialnya, lanjutkan dengan menekan “Apply“. Hasil polinomialnya tampak dalam kolom “Result” dan grafiknya dapat dilihat di jendela “Cftool“.

 

Hasil di kolom result dapat dilihat. Parameter yang dihasilkan adalah konstanta persamaan linear beserta parameter-parameter lainnya seperti Goodness of fit, SSE, R-square, dan lain-lain yang dapat dilihat dari pelajaran statistik. Silahkan coba untuk korelasi dua variabel.

  • Linear model Poly1:
  • f(x) = p1*x + p2
  • Coefficients (with 95% confidence bounds):
  • p1 = -0.1403 (-0.2877, 0.007083)
  • p2 = 18.62 (17.02, 20.21)
  • Goodness of fit:
  • SSE: 37.47
  • R-square: 0.2029
  • Adjusted R-square: 0.1531
  • RMSE: 1.53

Surat Ijin Kampus yang Tercabut

Unik juga, berita pencabutan ijin kampus tidak seheboh berita pencabutan ijin ormas tertentu di grup WA. Sepertinya rekan-rekan sesama pengajar lebih tertarik (terkadang merasa ahli) dengan perpolitikan dibanding pendidikan. Info dari link ini menyebutkan bahwa pencabutan ijin khusus perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan Permenristekdikti 100/2016: yakni untuk satu universitas minimal memiliki 10 prodi (6 eksakta dan 4 sosial). Untungnya ada opsi untuk merger agar tetap beroperasi. Apakah penutupan beberapa kampus nanti merupakan efek dari disruption? Judul dari buku yang saat ini sedang saya nikmati.

Jika pengelola taksi mengalami penurunan dan terancam bangkrut karena taksi online, sepertinya tidak untuk kampus. Kampus online pun belum bisa menyaingi, mungkin online-online lainnya yang mempengaruhi penurunan suatu kampus. Misalnya kemudahan seorang calon siswa mengakses kinerja suatu kampus lewat internet (akreditasi, dosen-dosen, alumni, dan sejenisnya). Tidak serta merta dengan plang yang indah, gedung yang mentereng, akan diminati oleh calon siswa jika akreditasi yang rendah, info tentang kasus tertentu dan kinerja buruk lainnya dapat dengan mudah dilihat secara online.

Sharing

Sharing ini sebenarnya inti dari bisnis-bisnis online yang banyak beredar. Sharing di sini bukan menggratiskan sesuatu, tetapi menggunakan suatu sumber daya dari orang lain sesuai kebutuhan dari pada tidak terpakai/menganggur. Misal konsumen butuh transport ke lokasi tertentu, seseorang memiliki kendaraan yang tidak selalu terpakai, dan aplikasi online menghubungkan keduanya (Grab/Uber/Gojek). Kasus lain, seorang ingin berwisata dan memerlukan tempat penginapan, orang lain memiliki kamar kosong di suatu lokasi pariwisata, dan aplikasi online menghubungkannya (AirBnB).

Kampus yang kritis karena kekurangan siswa dan akan dipaksa ditutup pada januari tahun depan memiliki beberapa aset yaitu gedung, dan sumber daya manusia (dosen, laboran, dan staf tata usaha). Sepertinya Ristek-dikti melihat “nganggur”-nya aset-aset tersebut. Kampus yang berlebihan siswa, butuh dosen, sementara ada kampus lain yang kelebihan pengajar dan gedung karena sepi mahasiswa. Di sini Ristek-dikti menerapkan prinsip ini (hanya dugaan sih) yakni mengakomodir dengan mengajurkan merger kedua institusi tersebut. Selain indeks publikasi penelitian negara kita yang terus naik (kini mengalahkan Thailand), sepertinya Ristek-dikti mengejar indeks kinerja kampus karena dua kampus yang merger diharapkan meningkatkan rangking gabungan kampus-kampus tersebut. Bandingkan negara kita (atau Jakarta saja) dengan Singapura yang hanya memiliki dua kampus negeri tetapi ranking dunianya tinggi (NUS dan Nanyang).

Kampus: Even Organizer Pendidikan

Ada calon siswa butuh pendidikan, ada pengajar yang bisa membagi ilmunya, lalu ada kampus yang mempertemukannya. Prof Rhenald Kasali membandingkan alur proses itu dengan even organizer. Even organizer yang baik bisa mempertemukan misalnya, seorang artis dengan penonton setianya. Ristek-dikti sepertinya menerapkan ini (hanya dugaan lagi sih) dengan rencana mengimpor profesor world class ke Indonesia. Perlu diketahui, beberapa negara maju saat ini kelebihan profesor sementara kebutuhan siswa malah terbanyak dari negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memang karena memiliki pertumbuhan penduduk yang tinggi. Bahkan kabarnya di Taiwan, jumlah siswa yang lanjut kuliah terus menurun dan butuh siswa dari negara lain, kata pemateri ketika saya ikut pelatihan bahasa sebelum berangkat studi.

Bagaimana dengan tri-darma lainnya: penelitian dan pengabdian masyarakat? Ristek-dikti di sini lagi-lagi melihat aspek online dari penelitian: Open Journal System (OJS). Bahkan OJS ini wajib dimiliki oleh kampus dengan E-ISSN nya. OJS menghubungkan peneliti dengan pembaca jurnal yang dapat diakses online. Mungkin suatu saat OJS bukan hanya hasil penelitian, melainkan juga penghubung peneliti dengan yang membutuhkan penelitian. Sementara itu, untuk pengabdian sudah mulai digagas informasi yang menghubungkan UMKM-UMKM di tanah air dengan para dosen yang siap membantu memberikan training tertentu.

Kalau kita amati sepertinya perkuliahan cukup melibatkan tata usaha, dosen dan siswa. Ketua jurusan, kaprodi, dan dekan hanya berfungsi sebagai legalitas saja (tanda tangan, wisuda, dan sejenisnya). Mirip dengan kampus-kampus di luar negeri. Hanya saja di sini aspek non-teknis sangat berperan (like or dislike), terutama saat penjadwalan. Kalau kita lihat aplikasi online yang mempertemukan driver dengan konsumen akan melihat jarak terdekat di antara mereka. Jika penentuan dosen berdasarkan like/dislike akan mengganggu perkualiahan seperti beban dosen yg berat, dan terkadang hingga sebulan siswa belum memiliki dosen, padahal dosen tertentu “nganggur” akibat tidak disukai si penentu dosen. Kalau di aplikasi online, siswa bakal memberi bintang tiga ke kampus itu. Atau jangan-jangan tata usaha dan para pejabat penentu dosen akan ter-disrupsi?

Terdisrupsi-kah Dosen?

Pertanyaan yang mengerikan. Untungnya yang terdisrupsi adalah penghubung konvensional antara konsumen dengan barang dan jasa. Pengelola taksi yang kalah dalam menghubungkan konsumen dengan driver, pengelola mall yang kalah dalam menghubungkan barang dengan pembeli dan sejenisnya oleh aplikasi online. Terkadang seolah-olah daya beli konsumen menurun padahal hanya berpaling dari konvensional ke online. Bahkan kebutuhan barang dan jasa transportasi meningkat ketika adanya aplikasi online. Sepertinya begitu pula dengan kebutuhan dosen yang terus meningkat. Sampai-sampai univ kependidikan terkenal oleh kepala evaluasi kinerja akademik (EKA) diduga ‘beternak doktor’.

Jika konsumen butuh barang, tentu saja yang terdisrupsi bukan barangnya melainkan institusi jadul yang menghubungkan barang ke konsumen. Jika siswa butuh dosen, tentu saja yang terdisrupsi institusi yang menghubungkannya, jika jadul dan tidak baik mengelolanya. Hanya saja jika sudah transparan dan online, siswa bukan hanya butuh dosen saja, melainkan dosen yang sesuai dengan “menu”-nya. Menu di sini adalah kepakaran, yang biasanya doktor atau memiliki lisensi-lisensi tertentu. Repotnya, pengelola kampus yang seperti pengelola bisnis lainnya memiliki kekhawatiran yang sama terhadap penurunan penghasilan apalagi sampai bangkrut sehingga membuat aturan-aturan mengikat terhadap para dosen supaya tidak kabur-kaburan (tapi malah kabur beneran).

Pertanyaan yang harus dijawab: bagaimana jika peran dosen digantikan dengan modul online atau self learning lainnya, e.g. computer based training (CBT), video tutorial, dll? Sepertinya sebagian, sementara mentoring masih perlu (praktek bedah, pilot, riset, dan sejenisnya).

Perhatikan SIM: Surat Ijin Mengemudi Mengajar

Teringat waktu krisis moneter akhir 90-an, sulit sekali mencari kerja. Terpaksa memanfaatkan ilmu yang ada dengan mengajar, ya hanya mengajar, selain itu, “there is nothing I can do”. Ketika selesai menguji tugas akhir siswa, rekan dosen berkata ke saya untuk mengambil secarik kertas surat tugas ngajar dan menguji. Bingung juga, untuk apa kertas itu? Dia menjelaskan untuk mengajukan kepangkatan, yang dia istilahkan dengan SIM tapi “M”-nya: mengajar. Akhirnya saya ikutin nasihat teman saya itu (tidak perlu disebutkan soalnya kalau dia baca bakalan Ge Er, hehe) untuk memperoleh pangkat pertama saya.

Ternyata kepusingan itu berlanjut, yaitu harus master untuk tetap jadi dosen. Doktor untuk lektor kepala (walaupun diturunkan syaratnya cukup jurnal internasional) dan guru besar. Dan yang heboh publikasi internasional untuk lektor kepala dan guru besar per tiga tahun. Ya, begitulah. Sebenarnya pentingkah itu semua? Bukannya siswa hanya butuh ilmunya? Ojek online aja butuh SIM C dan SIM A (untuk taksi online). Ibarat aplikasi online, semoga bisa menjadi dosen dan kampus bintang lima, bukan bintang tiga ke bawah yang terancam suspen.

Epoch, Iteration, dan Stop Condition

Perkembangan Soft-computing menciptakan istilah-istilah baru yang sebelumnya belum pernah ada. Hal ini terjadi karena soft computing mengadopsi istilah-istilah lain. Sebagai contoh dalam algoritma genetika, istilah-istilah mutasi, kromosom, dan istilah-istilah yang berasal dari teori genetik dan evolusi menjadi istilah dalam ilmu komputer. Bahkan algoritma yang sudah sejak lama digunakan sudah bergeser ke arah metode. Metode lebih general dibanding algoritma yang lebih spesifik dan penerapan khusus. Jika Anda perhatikan algoritma genetika, beberapa tulisan menulisnya dalam bahasa Inggris dengan Genetic Algorithms dengan tambahan “s” di belakang algoritma. Hal ini karena algoritma genetika melibatkan beberapa algoritma seperti roulette wheel, encoding ke bits string dan sebaliknya (decoding), dan lain-lain. Namun beberapa buku tidak menambahkan “s” di belakang algoritma (Genetic Algorithm) dengan anggapan bahwa algoritma genetika adalah satu metode.

Beberapa rekan menanyakan istilah terkenal dalam machine learning yaitu “Epoch”. Banyak yang mengartikannya dengan iterasi. Tetapi mengapa tidak mengambil istilah iterasi saja? Jawabannya berasal dari training artificial neural network. Salah satu metode training, yaitu propagasi balik (backpropagation), menggunakan istilah epoch karena ketika melakukan satu kali iterasi dilakukan dengan rambatan balik. Untuk gampangnya, misalnya satu iterasi melibatkan proses a-b-c-d, maka epoch dalam satu “iterasi”-nya (dengan istilah satu kali epoch) melibatkan a-b-c-d-c-b-a. Dua iterasi: a-b-c-d-a-b-c-d, sementara dua epoch: a-b-c-d-c-b-a-b-c-d-c-b-a. Atau gampangnya iterasi itu epoch tanpa rambatan balik (hanya maju saja).

Beberapa rekan juga menanyakan metode yang cocok untuk stop condition. Untuk iterasi, sejak dulu kita sudah mengenal dengan error atau delta error. Jika error antara satu iterasi dengan iterasi berikutnya cukup kecil maka proses perhitungan berhenti. Error yang saat ini sering digunakan adalah Mean Square Error. Silahkan gunakan metode lain, misalnya Gradient Descent dengan prinsip kemiringan. Kemiringan diambil dari posisi saat ini dibanding epoch maupun iterasi sebelumnya. Jika masih besar selisihnya berarti masih miring. Ibaratnya kendaraan beroda jika masih miring masih bergerak turun, sementara jika sudah tidak begitu miring jalanan-nya, kendaraan itu bergerak perlahan, dan walaupun belum berhenti, dalam komputasi sudah dihentikan demi efisiensi. Untuk prakteknya perhatikan grafik hasil pelatihan jaringan syaraf tiruan di akhir prosesnya. Teringat saya ketika presentasi hasil penelitian di kampus. Karena reviewer adalah doktor dari FAI mempertanyakan mengapa perlu “pelatihan” karena buang-buang waktu dan biaya (dikiranya pelatihan JST itu: pelatihan/kursus/workshop).

Menjadi Master ber-“Sumbu Pendek”

Setiap permulaan itu susah. Entah ada persiapan atau tidak, kesulitan tetap muncul. Begitu pula dalam belajar. Sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, pasti mengalami kesulitan-kesulitan. Bagaimana dengan pendidikan doktor, level terakhir suatu disiplin lilmu, sulitkah? Unik juga, walaupun sudah puluhan tahun kita belajar, tetap saja ketika menempuh pendidikan doktoral tak luput juga mengalami kesulitan-kesulitan, terutama di awal-awal dan bahkan berlanjut hingga akhir perkuliahan. Acara doctoral bootcamp yang diadakan baik dari pemerintah maupun inisiatif rekan-rekan dosen sepertinya bisa membantu, tetapi jangan hanya mengandalkan sarana tersebut karena memang acara itu untuk persiapan singkat saja. Padahal pendidikan doktor harus ditempuh selama tiga tahun hingga perpanjangan waktu yang tak pasti.

Silahkan bertanya dengan rekan-rekan yang sudah atau sedang kuliah doktoral. Banyak pengalaman-pengalaman yang bisa disharing. Tetapi jangan jadi patokan, karena kasus dia mungkin berbeda jauh dengan yang akan kita alami nanti. Misal saya bertanya dengan Prof. Habibie, dan jadi patokan saya, tentu saya akan stress duluan. Dua atau tiga orang Anda tanya, belum tentu juga bisa jadi patokan. Jangankan di kampus tempat kuliah yang berbeda, kampus yang sama pun pasti memiliki pengalaman yang berbeda.

Ketika pusing dan menjumpai jalan buntu, biasanya saya nongkrong dengan teman-teman se-negara, saling berbagi kesuksesan dan kesialan masing-masing. Bagi rekan kita mungkin sulit, tapi terkadang mudah bagi rekan yang lainnya. Ada yang bertahun-tahun tak kunjung terbit syarat jurnal internasionalnya, tetapi ada yang jurnal internasionalnya sudah diterima beberapa tahun yang lalu tetapi disertasi tak kunjung selesai. Ada yang tiap dua minggu harus presentasi kemajuan disertasi, ada yang dalam satu semester hanya sekali atau dua kali ketemu pembimbing, dan riset harus dijalankan seorang diri. Ada juga yang terkendala dengan syarat IPK lebih dari 3.5 dan harus mengulang atau mengambil course tambahan sebelum diperbolehkan riset. Dengan kata lain “ada-ada saja masalah yang muncul”. Satu rekan saya memilih pulang saja dan tidak lanjut, dan satu orang rekan meninggal di kampus, sudah cukup memperkaya batin dan selalu bersyukur dengan yang telah dicapai sejauh ini, sekecil apapun.

Photo by: Mbak Iwul

Beberapa tahun menjalani perkuliahan doktoral biasanya tumbuh kesadaran bahwa kita manusia biasa, ada kelemahan dan ada kelebihan. Waktu melihat rekan-rekan yang masih master, terlihat energi mereka yang besar, meluap-luap, saya sampai harus mengalah. Tepat sekali dengan istilah master yang artinya “jago banget”. Sayang juga sih ketika melihat master yang sudah berkiprah bertahun-tahun tetapi tidak melanjutkan ke jenjang yang tinggal selangkah lagi. Beberapa memang trauma dengan pusingnya mengambil S2 dulu. Tetapi kabar baiknya adalah baik pusing ketika S2 maupun tidak, untuk doktoral tidak ada bedanya. Kabar buruknya: tetap saja pusing. Untuk itulah doctoral bootcamp terkadang penting sebagai pemicu. Jika ada seorang master bertipe “sumbu pendek”, dengan dipicu sedikit, langsung semangatnya meledak dan lanjut doktoral. Tetapi kebanyakan sumbu panjang, menyala terus tetapi tidak meledak-ledak, bahkan ada yang mati dan butuh dibakar lagi.

Seorang master yang bersumbu pendek, terkadang tidak perlu doctoral bootcamp. Melihat temannya yang masih unyu-unyu berangkat S3 saja sudah bikin meledak. Tetapi untuk meledak diperlukan syarat-syarat penting: bahasa Inggris (atau yang sesuai dengan negara tujuan), kemampuan membaca (tulisan ilmiah disertai dengan keingintahuan yang tinggi), mengasah lagi ke-master-annya dengan menulis artikel, seminar internasional, dan lain-lain sehingga siapa tahu diminati oleh calon supervisor. Untuk bahasa Inggris, yang utama adalah writing; untuk listening dan speaking yang penting nyambung saja (kecuali memang doktoralnya bidang sastra Inggris). Reading tentu saja harus bisa, hampir 50-an jurnal dibaca untuk proposal disertasi. Terkadang puluhan lainnya dibuang karena tidak relevan dengan judul yang diajukan.

Untukmu Yang Saat ini Sedang Menderita

“Ku mau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu “. Penggalan puisi Chairil Anwar ini sejalan dengan ungkapan Frederich Nietzsche: Penderitaan membuat kita kuat. Tapi lebih simpel lagi mbah Marijan, cukup dua kata: “roso .. roso” hehe. Yuk, para dosen dan pengajar, tetap semangat, tetap kuat, hadapi saja.

Belakangan ini banyak sekali keluhan-keluhan dalam dunia pendidikan. Mahasiswa yang mengeluh terhadap dosennya, terhadap institusinya, bahkan ada yang ingin meminta laporan keuangan kampus segala. Dosen yang mengeluh karena beratnya syarat-syarat naik pangkat, menerima tunjangan (lektor kepala dan guru besar), mengeluh karena Scopus, Sinta dan juga untuk memperoleh beasiswa (masalah kuota). Kampus yang mengeluh karena syarat Dikti berat, bahkan akreditasi C siswanya tambah dipersulit mencari pekerjaan. Pemerintah sendiri, dalam hal ini Ristek-Dikti mengeluh karena kinerja dosen yang lemah dalam hal riset, tingkat pendidikan yang stagnan di master/magister, dan kasus-kasus yang menimpa kampus (bukan hanya swasta, melainkan juga kampus negeri). Salahkah keluhan tersebut? Tentu saja tidak, lalu bagaimana penyelesaiannya?

Posisi Negara kita Dalam Hal Pendidikan Tinggi

Sempat terbaca dalam share WA di handphone puisi dari seorang dosen yang merasa tidak nyaman dengan paksaan Ristek-Dikti terhadap Scopus yang dianggap kapitalisme dalam dunia pendidikan. Karena fokus ke riset, menurutnya, pengajaran ke mahasiswa jadi terbengkalai. Walau sepertinya agak cenderung ke “keguruan”, mungkin ada baiknya didengarkan. Keluhan-keluhan atau protes yang mempertanyakan sesuatu biasanya menggunakan logika yang masuk akal. Tetapi di dunia yang “fuzzy” ini, kata Zadeh: tidaklah ada sesuatu yang mutlak 100% tepat atau 100% tidak tepat. Bagi yang memprotes mungkin saja benar, tetapi tetap saja tidak 100% benar, kalaupun benar 100%, itu untuk variabel tertentu. Tidak tepat juga kita menurunkan level seseorang yang menginginkan sesuatu yang ideal. Misal pendapat: “seorang dosen harus memetenkan karya ilmiahnya”. Tentu saja kita tidak serta merta membantahnya, karena memang idealnya begitu, terutama dari jurusan teknik/rekayasa.

Akhirnya, sambil menunggu kabar siapa profesor external untuk menguji disertasi saya (biasanya dari Jepang), akhirnya saya menemukan beberapa buku di perpustakaan kampus. Salah satunya adalah “Revitalizing Higher Education” karangan Salmi. Buku ini cocok untuk kondisi negara berkembang seperti Indonesia.

Memang benar, karakteristik perguruan tinggi di negara berkembang harus dilihat dari sejarah dan kondisi perekonomian, juga politik. Ringkasnya, disimpulkan bahwa level perguruan tinggi di negara berkembang sebaiknya mengarah ke perekonomian dan industri untuk mengejar ketertinggalan dengan negara maju (dari sisi perekonomian utamanya). Fokus PT masih di level menciptakan tenaga-tenaga ahli untuk memenuhi kebutuhan bursa kerja. Agak berat juga jika dipaksa menciptakan paten-paten, walaupun banyak juga yang tercipta saat ini, misalnya telur bebas kolesterol dan produk-produk pangan dan obat lainnya. PT hanya bisa mengajarkan kewirausahaan tetapi tentu saja jiwa kewirausahaan tidak bisa dipaksakan. Yang jelas, bonus demografi di tahun 2020-an dimana angkatan kerja kita sangat tinggi harus diantisipasi. Tidak bisa hanya menganjurkan mereka berwirausaha, harus dipersiapkan skill khusus agar bisa bersaing (butuh sertifikasi internasional seperti perawat, las, CCNA, dan sejenisnya, bukan hanya skill berkendara utk jadi driver ojek online). Bahkan ahli-ahli las di dunia banyak dari negara kita (silahkan yang berminat, terutama las dalam laut). Jangan lupa ajarkan “Wisdom”, “Creativity”, dan lain-lain yang tidak bisa dikerjakan oleh mesin/Artificial Intelligent ke anak-anak kita. Orang bijaksana dan kreatif biasanya ada saja cara untuk survive. Siapkan saja bekal, dan seperti kata Jack Ma: “jangan terlalu khawatir, tuhan pasti memberi karunia generasi masa depan potensi untuk bisa mengatasi problem-problem mereka di masa depan”. Sepertinya ada benarnya juga, percuma memaksakan suatu “jurus”, lingkungan mereka nanti berbeda dengan kita saat ini.

Posisi Pendidikan Tinggi di Negara Maju

Banyak yang protes bahwa publikasi di jurnal-jurnal internasional (atau juga seminar) cenderung mendukung sisi kapitalis mengingat pengelola jurnal atau pengindeks internasional menarik untung dari pihak-pihak yang ingin membaca atau mempublikasi artikel ilmiah. Ketemu juga buku yang membahas khusus masalah yang terkait hal tersebut yaitu “University Inc – Corporate corruption of Higher Education” karangan Washburn.

Buku ini membahas universitas-universitas terkemuka terutama di Amerika Serikat (big 5 atau bahkan big 10 ranking kampus dunia ada di sana). Amerika memang negara liberal dan kapitalis. PT di sana sudah maju dan jadi andalan perusahaan-perusahaan dalam hal riset. Ternyata, walaupun sudah maju, konflik muncul di sana. Beberapa perusahaan mengadakan kontrak dengan profesor (juga dengan bimbingannya yang biasanya mahasiswa doktoral) untuk riset perusahaannya. Kontraknya adalah untuk merahasiakan temuannya. Di situlah masalah muncul yakni peran PT yang tidak lagi independen (di negara kita lebih parah lagi, masih ada pengaruh politik, agama, dan lain-lainnya seperti almamater tertentu).

Sebenarnya peneliti yang mempublikasikan karyanya dia sedang mendermakan ilmunya untuk dipergunakan orang lain. Dan harus ada lembaga yang diakui untuk mempublikasikan karya ilmiah, yaitu pengelola jurnal. Jadi pengelola jurnal harus membayar ke penulis? Kalau dijawab “ya”, artinya ideal, seperti saya sebutkan di awal, seseorang yang memegang standar tinggi jangan kita paksa turunkan, biar saja karena itu bagus. Kenapa tidak kampus terkenal di dunia membuat jurnal dan membabaskan orang mengunduh dan mempublish karyanya? Mengapa harus perusahaan swasta? Baru baca beberapa halaman sudah tampak.

Beberapa universitas-universitas level atas bukan hanya profesor yang kerjasama dengan perusahaan, bahkan kampusnya pun bekerja sama, dengan kontrak-kontrak tertentu masalah kerahasiaan mengingat perusahaan itu sudah menggelontorkan “fulus” yang besar dan jangan sampai kompetitor ikut menikmatinya. Dan repotnya universitas-universitas itu kebanyakan disubsidi oleh pemerintah yang uangnya dari pembayar pajak. Repotnya di AS pembayar pajak memiliki kekuatan di dewan karena mereka perlu tahu uang itu lari ke arah yang sesuai, misal dalam hal pendidikan yaitu ke arah kemaslahatan bersama bukan menguntungkan perusahaan tertentu.

Ada suatu jawaban “trivial” masalah publikasi jurnal, silahkan pilih: (1) peneliti di PT boleh tidak mempublikasikan temuan dan memberikan hak pengelolaan ke perusahaan/merek dagang tertentu sehingga rakyat terpaksa membeli produk dan menguntungkan perusahaan dan peneliti tersebut atau (2) peneliti mempublikasikan temuannya yang bebas dimanfaatkan orang lain (atau perusahaan manapun) dan menguntungkan rakyat banyak, tetapi efeknya menguntungkan pula pengelola jurnal (misal grup Scopus). Kasus pertama yang heboh adalah penemuan vaksin polio oleh ilmuwan yang nekat mempublikasikan temuannya, walaupun tidak menguntungkannya, dari pada dimonopoli oleh perusahaan tertentu (akibatnya rakyat/negara banyak harus mengeluarkan dana ke perusahaan tersebut). Pasti ada yang menjawab dengan pilihan (3) peneliti bebas mempublikasikan temuannya tanpa kena biaya dan jurnal yang mempublikasikan membebaskan orang membaca tanpa harus membeli tulisannya. Kembali lagi, artinya ideal, seperti saya sebutkan di awal, seseorang yang memegang standar tinggi jangan kita paksa turunkan, biar saja karena itu bagus. Silahkan pilih pilihan (3) tapi jangan berharap banyak, apalagi memaksa.

Membuat Indeks Publikasi Ilmiah Sendiri

Mungkin level PT kita belum menyamai the big 10 universitas-universitas di Amerika Serikat, atau bahkan di Asia, atau bahkan lagi di Asia Tenggara. Evaluasi diri penting juga sih. Saat ini Ristek-Dikti mulai membangun Sinta, indek kinerja penelitian (dosen, dan jurnal Indonesia). Semoga tidak ada yang tidak setuju untuk kemandirian ini. Bolehlah tidak setuju Scopus dimasukan dalam variabelnya (karena katanya kapitalis). Boleh juga tidak setuju dengan Google Scholar dimasukan dalam variabelnya karena dikatakan abal-abal. Unik juga, yang ketat dan akuntabel tapi seperti Scopus ditolak karena kapitalis (profit oriented), yang tanpa biaya ditolak karena abal-abal. Balik lagi ujung-ujungnya ingin yang ideal. Seperti disebutkan di awal boleh jadi pendapatnya 100% tepat, tetapi tepat terhadap variabel tertentu saja. Untuk yang ideal dan memegang standar tinggi, jangan dipaksa menurunkan standarnya, biar saja kan bagus. Walau kalau tidak nurut ya repot sendiri juga.

Presiden kampus saya sempat mengeshare email dari presiden Harvard university akan keberatan biaya yang mahal untuk langganan jurnal (bisa dibayangkan sekelas Harvard saja mengeluh). Pertanyannya mengapa sekelas Harvard (atau gabung dengan top university lainnya) tidak bisa mengelola jurnal yang tanpa bayar? Atau satu negara, misal Amerika Serikat, Jepang, atau China, mengapa tidak bisa menciptakan indexer sekelas Scopus yang rapih dan akuntabel? Jujur saja saya dan mungkin pembaca juga sulit menjawabnya. Indonesia harus bisa dong .. Ya, saya setuju saja sih (kembali lagi ke idealis). Tetapi, sebagai gambaran, lihat gambar berikut ini yang diambil dari link jepang.

Bandingkan dengan negara kita dkk (gambar bagian bawah), tertinggal 8 kali dan 10 kali dengan AS dan China. Mungkin bisa untuk evaluasi diri (sialnya kok kalahnya dengan Malaysia). Mungkin kita tidak setuju Kapitalis, tetapi tidak mau menjadi Sosialis apalagi Komunis. Ya sudah, buktikan saja dengan mengalahkan China dan Amerika Serikat (grafik di bawah). Semoga tidak mengeluh lagi, tetap nekat berjuang seperti kata Chairil Anwar: “Ku mau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu”.

Mudah untuk Copy-Paste, Mudah Pula Mengeceknya (Plagiarism atau tidak)

Menjadi pengajar/tutor e-learning memerlukan aspek-aspek khusus, salah satunya adalah otentifikasi tugas ataupun jawaban yang diberikan oleh peserta kuliah online. Walaupun aspek-aspek lain masih harus diverifikasi seperti apakah benar murni dari tulisan sendiri ataukah orang lain yang menulis. Otentifikasi biometrik sepertinya diperlukan. Setidaknya minimal tulisan yang dikirim terhindar dari plagiarisme yang merupakan salah satu aspek penting dalam dunia akademik.

Untuk mahasiswa yang malas, cara copy-paste terkadang menjadi jalan pintas yang murah. Sumber-sumber informasi bertebaran di internet. Dengan sekali googling, jawaban langsung ditemukan, bahkan kalau keywords yang diketik tepat hasilnya muncul di list teratas google. Namun ternyata mudah men-copas mudah pula mengeceknya. Apalagi saat ini bertebaran fasilitas-fasilitas gratis untuk cek plagiasi (lihat postingan tentang software plagiasi sebelumnya). Berikut contoh cek plagiasi terhadap tugas mahasiswa dengan smallseotools.

Lebih enak jika tugas dalam bentuk soft copy karena tinggal copas ke plagiarism checker dibanding jika mengumpulkannya dalam bentuk tulisan tangan. Tekan tombol “Check Plagiarsm” di bagian bawah dan tunggu beberapa saat.

Hasilnya sungguh mengesankan, 84% mirip dengan tulisan orang lain yang jika saya tekan salah satu tulisan berwarna merah tersebut, mengarahkan ke source aslinya (kebanyakan mahasiswa copas dari tulisan blog orang yg berbahasa Indonesia).

Tiap-tiap institusi berbeda-beda syarat maksimal persentasi similaritinya. Misal untuk serdos dipatok 50%, jurnal berstandard IEEE sebanyak 20%. Kampus saya kuliah 15%, dan lain-lain. Bagaimana jika dia mencontek jawaban temannya yang tidak dipublish di internet melainkan hanya dikumpulkan ke dosen. Salah satu software yang tepat sepertinya Plagscan. Software ini setelah login kita bisa memasukan naskah jawaban siswa dan jika ada naskah baru, dan discan similaritinya, plagscan juga mensearch dari naskah jawaban yang kita masukan walaupun belum dipublish. Jadi, untuk para mahasiswa, berfikir dua kali lah jika ingin menjiplak tulisan orang. Copas itu mudah, tetapi mudah pula mendeteksi kecurangannya. Selamat menjiplak .. ups, mencoba software cek plagiasi maksudnya.

Sains Harus Belajar dari Marketing

Sepintas sungguh aneh, bahkan bagi orang murni sains marketing dianggap bukanlah ilmu, setidaknya disebut “an oxymoron” alias retorika yang ambigu yang sering dipakai politisi kita (pro maupun kontra). Benarkah marketing itu bukan ilmu? Postingan kali ini terinspirasi dari buku web mining (lihat post yang lalu) yang akan segera saya kembalikan ke perpustakaan. Di buku tersebut di bab “Using Marketing Tests to Understand Customers” disinggung masalah ilmu unik marketing.

Power of Marketing

Sebelum lanjut, sepertinya kita sadari terlebih dulu kondisi aneh perusahaan-perusahaan saat ini dalam kaitannya dengan masalah disruption. Banyak perusahaan yang terkenal mapan langsung terpuruk karena fenomena tersebut. Salah satunya adalah ditinggalkan oleh konsumennya yang memilih produk lain yang dianggap memenuhi harapannya. Salah satu aspek terpenting suatu perusahaan adalah marketing karena merupakan sarana untuk menarik konsumen yang kemudian berdampak terhadap keuntungan. Tanpa keuntungan tentu saja tidak dapat membiayai ongkos-ongkos suatu perusahaan. Bolehlah teknik, riset, dan sejenisnya terhadap suatu produk atau manufaktur, tetapi tanpa melakukan riset dalam marketing, siap-siap mengambil resiko besar terhadap kerugian. Ipad waktu itu siap dipasarkan apple, tetapi bagian riset marketing ternyata melihat animo masyarakat terhadap Iphone lebih tinggi, padahal Iphone waktu itu belum siap publish. Dan benar, dengan menahan Ipad dan melapas Iphone terlebih dahulu, apple mendulang untung besar. Para pekerja aktif seperti perawat, dokter, dan sejenisnya lebih membutuhkan piranti cerdas mungil dibanding yang lebih besar.

Marketing & Sains

Apa itu sains? Sains intinya melakukan riset runtun yang berdasarkan tahapan-tahapan yang disebut metode ilmiah: hipotesa, disain eksperimen, eksperimen, analisa hasil, dan merevisi hipotesa. Tahapan-tahapan itu haris bisa ditiru oleh periset lain sehingga terbukti keandalan dan akurasi temuannya (confidence). Bagaimana dengan marketing? Tunggu dulu, dengan data yang ada sebelumnya ternyata hasil hipotesa tidak berlaku dengan kondisi yang ada sekarang. Jangankan data beberapa tahun yang lalu, data beberapa bulan yang lalu saja belum tentu akurat untuk diterapkan saat ini. Lalu bagaimana ini?

Buku rujukan web mining menjelaskan bahwa titik penting bagian riset di marketing adalah hipotesa. Hipotesa yang tidak tepat tentu saja tidak bermanfaat walaupun benar. Walaupun mengikuti metode ilmiah tetapi jika tidak menjawab persoalan utama, tentu saja tidak bermanfaat. Untuk itu saintis harus belajar bagaimana marketing menentukan hipotesa risetnya yang terkadang bagi ilmuwan kurang greget, kurang wah, kurang berbobot, tapi ternyata dampaknya besar. Berikut hal-hal yang bisa dipelajari dari marketing dalam penentuan hipotesa:

  • Kreativitas: dibutuhkan untuk menemukan hipotesa yang menarik
  • Skeptisme/keraguan: bukan hanya solve problem, ternyata meyakinkan suatu itu penting, terutama dengan pencarian dan perbandingan alternatif-alternatif.
  • Kepercayaan diri untuk maju berdasarkan hasil riset. Terkadang di kampus kita selalu menekankan hasil riset harus OK, model harus fit, dan sejenisnya. Parahnya siswa suka mengutak-atik data agar “cakep”. Ternyata bagi orang marketing, sejelek apapun data maupun hasil riset, bisa digunakan untuk move on (termasuk diterapkan bagi yg calonnya kalah pemilu).

Marketing untuk Dana Penelitian

Sering sekali teknik marketing saya gunakan untuk memperoleh hibah penelitian. Sebagian hibah penelitian sebenarnya berdasarkan proses marketing kita, baik ketika membuat proposal maupun saat presentasi. Tidak semua judul yang lolos di jurnal lolos pula di hibah (sepertinya sebaliknya juga berlaku). Kreativitas, keraguan, dan kepercayaan untuk maju yang telah dibahas di atas, sangat diperlukan. Keahlian dalam mengemas sesuatu yang biasa-biasa saja jadi berharga dan sesuatu yang sudah berharga dikemas agar terlihat bermanfaat sangat diperlukan untuk mendapatkan dana hibah. Ketika mengajukan proposal hibah terkadang saya sengaja membuat bimbang reviewer. Bolehlah dia marah-marah ketika presentasi, setidaknya saya telah membuat mereka bimbang untuk menolaknya disaat memutuskan lolos atau tidak. Sepertinya perlu postingan tersendiri untuk masalah hibah. Sekian semoga bermanfaat.

Reference

Linoff, G. S., & Berry, M. J. A. (2001). Mining the Web. United States of America: Wiley.

Bertanya atau Mempertanyakan?

Membaca judul postingan ini semoga pembaca bertanya apa maksud judulnya, bukan mempertanyakannya. Bahasa Indonesia memang unik, jika bertanya berarti ingin mengetahui sesuatu yang kurang jelas atau belum diketahui, mempertanyakan terkadang ada unsur protes di dalamnya. “Mengapa saya dapat C?”, “mengapa saya tidak lulus?”, dll memang bentuk pertanyaan yang biasanya diutarakan oleh siswa. Silahkan jawab, jika sampai berkali-kali tanya jawab dan disertai argumentasi, berarti bukan bertanya, melainkan mempertanyakan. Jadi ingat rekan saya yang menjawab siswa yang bertanya mengapa dapat C: “harusnya kamu itu D, saya bantu saja jadi C”.

Maraknya media sosial membuat siapa saja boleh mempertanyakan. Surat terbuka, surat dukung-mendukung di change.org misalnya bisa dibuat oleh siapa saja. Ketika p Gufron, pejabat ristek-dikti bagian SDM datang ke kampus UNISMA Bekasi, seorang rekan saya yang sudah senior bertanya mengapa aturan beasiswa dikti 50 tahun? Kenapa tidak dilebihkan saja padahal usia pensiun dosen, apalagi profesor, kabarnya diperpanjang (bahkan di range WHO saya masuk kategori usia setengah baya katanya .. he he). Logis juga menurut saya dan karena ditanyakan langsung ke yang bersangkutan, menurut saya ini masuk kategori bertanya. Walaupun jawabannya formal, yaitu UU dari menpan, sepertinya ada alasan lain yang tidak dibahas.

Dua pertanyaan yang muncul belakangan ini terkait dunia pendidikan adalah kuota beasiswa dan indeks Sinta. Untuk beasiswa, khususnya dalam negeri yang kuota-nya sepertinya berkurang belum ada tanggapan, walaupun surat terbukanya (kalau tidak salah dari kopertis 12) sampai ditujukan ke panglima tinggi, alias presiden. Sebenarnya kuota luar negeri masih kurang, tetapi khusus dosen senior sepertinya agak sulit untuk kuliah ke luar negeri, apalagi yang usianya antara 45 sampai 50, yang mau tidak mau hanya mengandalkan beasiswa dalam negeri. Permintaannya yang menginginkan semua pelamar diterima agak sulit, mengingat kasus satu kampus negeri di Jakarta mencuat gara-gara ada beberapa dosen yang membimbing dan meluluskan mahasiswa S3 hingga ratusan dalam setahun. Dengan kata lain, profesor pun memiliki kuota kewajaran. Menambah jumlah profesor sepertinya satu-satunya langkah yang masuk akal (impor world class profesor), juga pembimbing misalnya tidak harus dari kampus tempat mahasiswa S3 itu kuliah (sepertinya tidak boleh ya?). Untuk world class profesor lagi-lagi disialkan kasus seorang asisten profesor muda dari kampus ternama Belanda yang ternyata ketahuan masih berstatus mahasiswa seperti saya. Saya yakin ristek-dikti memiliki pengalaman-pengalaman pahit yang kadang mempengaruhi kebijakan-kebijakannya. Terkadang kenakalan-kenakalan segelintir orang mempengaruhi orang bener yang lain, seperti kasus pencairan beasiswa di awal-awal saya kuliah. Ok, kita tunggu apa respon pemerintah.

Mempertanyakan berikutnya adalah masalah Sinta yang berawal dari penentuan index Google scholar yang dibilang ironi dalam komentar tentang ranking sinta itu (oiya, yg belum daftar jangan lupa daftar dulu). Tetapi sebelum bertanya atau mempertanyakan terlebih dahulu baca penjelasannya dari LPPM univ sultan agung ini atau bahkan dari menteri-nya langsung di sini. Menurut saya sih Scopus yang jadi andalan, tetapi mengingat index ini berbasis jurnal/buku/seminar internasional yang berbahasa Inggris, sulit sekali ditembus oleh dosen-dosen kita yang berbasis bahasa lokal, bisa ga ada score-nya nanti sebagian besar dosen, padahal target akhir Sinta di versi 6 adalah digunakan untuk kepangkatan. Bisa pada ga naik pangkat nanti. Bagaimana dengan yang lain misalnya portal garuda yang berupa jurnal-jurnal nasional. Repotnya banyak juga jurnal yang tidak terdata di portal garuda akibat pengelola jurnal tidak mengirimkan sample jurnalnya ke LIPI. Nah satu-satunya yang lebih aman adalah Google scholar, bisa meng-cover dosen yang menulis di jurnal lokal dan bahkan yang jurnalnya tidak ada di portal garuda asal terdeteksi di Scholar. Toh, bobot Google scholar jauh di bawah Scopus untuk perhitungan rangking Sinta (saya lupa Google scholar 1/6 atau 1/12- scopus). Serba salah juga sih, Scopus beberapa waktu yang lalu diprotes katanya Kapitalis, sementara pakai Google yang free dianggap abal-abal. Kalau saya sih tetap mendukung Sinta yang memang prosesnya sedang “on going”, kalau tidak suka silahkan pakai yang lain, hanuman, rahwana, atau apalah. Semoga tulisan iseng di hari libur ini menghibur.

Unified Process (UP) dan Unified Modeling Language (UML)

Untuk UML kita sering mendengarnya, terutama bagi mahasiswa jurusan ilmu komputer, teknik informatika, ataupun sistem informasi. Sementara UP, sepertinya jarang terdengar, terkadang kurikulum pun tidak memasukannya. Biasanya UP dipisahkan dengan UML karena UP merupakan bagian dari proses perancangan perangkat lunak. Terkadang juga masuk dalam materi analisa dan disain sistem informasi.

Untuk informasi mengenai apa itu UP bisa dilihat di internet, misalnya wikipedia yang sepertinya akurat, sesuai dengan teori yang ada. Untuk yang ingin detilnya bisa lihat rujukan buku milik Jim Arlow (Arlow & Neustadt, 2005) atau karangan Craig Larman (Larman, 2005).

Lalu hubungannya apa UP dengan UML? Sebelumnya ada istilah Rational Unified Process (RUP) yang merupakan benchmark IBM untuk menggambarkan proses perancangan perangkat lunak. Untuk menghindari penamaan pabrikan/vendor, tri-amigos: Ivar Jacobson, James Rumbaugh dan Grady Booch menerbitkan buku khusus UP. Mereka merupakan para pencetus UML, tool untuk penggambaran dan pemodelan sistem berbasis obyek. Jadi UP itu pemodelan dan framework proses sementara UML hasil dari prosesnya (masih dalam bentuk blue-print).

UP bersifat iteratif yang tiap iterasi terdiri dari tahapan-tahapan sebagai berikut, untuk menghafalnya disingkat IEKT:

  • Incepsi: penentuan tujuan-tujuan (life cycle objectives)
  • Elaborasi: pembuatan arsitektur sistem
  • Konstruksi: kapasitas dan kemampuan sistem dibentuk
  • Transisi: produk siap uji

Buku Arlow membahas keempat tahapan UP tersebut yang dikombinasikan dengan waterfall (requirements, analisis, disain, implementasi dan testing, disingkat RADIT). Bentuknya di tiap-tiap RADIT ada IEKT dari UP. Namun ada juga yang sebaliknya, di tiap IEKT-nya UP ada RADIT. Namun yang dibahas di buku adalah yang bentuk pertama. Sementara itu ketika melihat buku Larman yang cukup tebal, ternyata UP hanya sampai Elaborasi. Tidak ada konstruksi dan transisi. Belum sempat saya baca sampai sana, hanya saja ada elaborasi-1, elaborasi-2. Bukunya cukup tebal dengan bahasa Java sebagai ilustrasinya.

Sempat saya baca juga dalam satu kolom khusus dalam buku Larman, bahwa tidak ada peluru perak (istilahnya senjata pamungkas pembunuh vampir) dalam bentuk tools atau teknik perancangan perangkat lunak, dikatakan oleh Dr. Frederick Brookes (lihat buku Mythical Man-month). Jadi kalau ada yang bilang suatu teknik itu ampuh untuk segala bentuk sistem, dipastikan tidak mungkin alias gombal, baik yg mengatakan itu dosen ataupun sales CASE (alat bantu pembuatan software). Tetap saja jika pengguna tidak memahami konsep Object Oriented akan kesulitan menggunakan CASE jenis apapun (dibahas di buku: “Death by UML Fever” karangan Booch). Seperti biasa, tiap buku berbeda-beda pahamnya, seperti post yang lalu bahwa beberapa buku analisa disain/rekayasa perangkat lunak (Pressman, 2001; Sommerville, 2007) masih mentolerir menggunakan non-object programming dengan UML. Tidak ada salahnya juga menggunakan model lain yg bukan standar UML untuk penggambaran sistem berbasis objek asal bermaksud memperjelas pembacaan model (Fowler, 2004). Tetapi alangkah idealnya jika sistem yg dirancang dengan UML berbasis object. Selamat ber-UML.

Reference

Arlow, J., & Neustadt, I. (2005). UML 2 and the Unified Process (Second). United States: Pearson Education Limited.

Fowler, M. (2004). UML Distilled (3rd ed.). United States: Pearson.

Larman, C. (2005). Applying UML and Patterns (3rd ed.). United States: Pearson.

Pressman, R. S. (2001). Software Engineering – A Practitioner’s Approach (Fifth Edit). New York: McGraw Hill.

Sommerville, I. (2007). Software Engineering – Eighth Edition. London: Pearson Education Limited.

 

Kepemimpinan dalam Pendidikan/Pengajaran

Gara-gara tulisan yang lalu menyebutkan bahwa mahasiswa PhD harus belajar juga kepemimpin terpaksa cari-cari buku tentang hal itu di perpustakaan kampus. Baru naik tangga sudah menemukan buku yang judulnya “The Art of Leadership” karya Manning dan Curtis dari universitas Kentacky.

Lumayan banyak isinya, dan saya langsung ke bagian-bagian akhir yang bercerita tentang kependidikan, yang cocok dengan background saya. Di paragraf awal bab itu diilustrasikan suasana kelas sekolah dasar yang menggambarkan seorang anak yang bingung dan serba salah. Repotnya lagi bukan teman sebangkunya saja yang menyalahkan, guru-nya pun bukan seorang pemimpin yang baik karena selalu menyalahkan. “Bukan disuruh menulis itu!”, “Tulis dengan pensil (karena anak itu menggunakan crayon)!”, “jangan berisik (karena ketika menulis sambil bersuara)!”, dan seterusnya. Di akhir cerita anak itu tidak mau masuk kelas lagi. Padahal anak tersebut hanya bingung, kenapa salah terus, dan sama sekali tidak ada tindakannya yang benar. Intinya adalah seorang pemimpin harus menghormati (respect) orang lain. Pasti ada sesuatu yang benar, tidak mungkin salah semua, seperti kisah berikut.

Bankir dan Pengemis

Seorang bankir ternama melewati seorang pengemis yang sedang duduk di pinggir jalan dekat bank. Pengemis itu duduk sambil iseng merakit pensil. Sambil memberi uang receh, bankir itu berkata ke pengemis itu bahwa uang itu untuk membeli pensil yang baru saja dibuatnya. Pengemis itu pun terlihat gembira dan memberikan pensil rakitannya. Tidak lama kemudian bankir itu tidak pernah menjumpai pengemis itu hingga suatu saat dia sedang membeli alat tulis dan berjumpa dengan pemilik toko alat tulis itu yang ternyata adalah pengemis yang di beri uang untuk jasa pensil-nya. Pengemis yang kini adalah pemilik toko itu menyampaikan bahwa ketika ia membeli pensil itu, sikap penghargaan atas jerih payah dan keahlianyalah yang memantik semangat di dadanya untuk tidak mengemis dan berdagang pensil. Bankir tersebut tidak menyalahkan pekerjaan mengemis, tetapi menghargai kreativitas membuat pensilnya. Selain menghargai, sifat pemimpin yang lain (hubungannya dengan pendidikan) adalah ikut berusaha meningkatkan kualitas orang lain seperti kisah pemain basket ini.

Michael Jordan dan Sang Pelatih

Kita mengenal Jordan adalah seorang pebasket ternama dari AS. Dengan keahliannya dalam mencuri bola dan memasukan ke keranjang, dia sejak awal disebut pemain berbakat. Seperti biasa, anak muda terkesan ingin dilihat dan menjadi pusat perhatian. Tetapi sang pelatih mengajarkan untuk ikut melatih rekan-rekannya dalam hal teknik bermain basket. Sepertinya Jordan sadar dan mengikuti arahan sang pelatih. Tidak lama kemudian hampir semua rekan-rekannya mengalami kemajuan dalam skill bermain basket. Tidak hanya Jordan yang kian terkenal, klubnya pun (Bulls) menjadi klub teratas yg pernah menjuarai NBA. Selain mengajarkan orang lain, belajar langsung dari master merupakan hal yang sering dijumpai, misalnya the Beatles yang belajar dari Chuck Berry, dan bintang-bintang lain yang tumbuh karena bimbingan bintang sebelumnya. Jadi terbayang bintang sepakbola Lionel Messi, yang timnya, Argentina, saat tulisan ini dibuat jangankan lolos, zona playoff pun tergusur oleh Peru (semoga tim favoritku ini lolos). Selain mengajari, seorang pemimpin pun harus terus belajar.

Thomas Watson dan IBM

Watson yang merupakan putra dari pendiri industri komputer IBM jadi serba salah dan merasa dibayang-bayangi oleh kehebatan, kecerdasan, dan kepemimpinan ayahnya. Ketika frustrasi meniru ayahnya, dia sadar bahwa tiap orang unik dan berbeda. Kemudian dia mulai menilai dirinya, dan sadar bahwa dia memiliki kecintaan dan keahlian dalah hal kedirgantaraan. Akhirnya dia menekuni hal itu, hingga menjadi pejabat di kantor pertahanan udara AS ketika perang dunia kedua. Setelah masa damai, dia menggantikan ayahnya memimpin IBM, dengan prinsip seperti dirinya bebas untuk terus belajar, terbukti perusahaan yang dipimpinnya bisa mengalahkan pesaing-pesaingnya di era itu dan tercatat dalam sejarah sebagai perusahaan yang paling banyak memberi keuntungan kepada pemegang sahamnya waktu itu.

Terus apalagi ya, maaf soalnya buku rujukannya sudah saya kembalikan. Mungkin itu saja yang berkaitan dengan pendidikan/pengajaran, yang lainnya berhubungan dengan permasalahan-permasalahan bisnis dan teknis seperti problem upah yang tidak seimbang dengan kinerja (kelebihan/kekurangan), juga apa pelatihan yang perlu dibuat untuk mencapai target tertentu …. ups itu pendidikan juga ya, tapi lupa-lupa ingat saya. Misalnya untuk meningkatkan penjualan (marketing), meningkatkan hasil (teknis), meningkatkan SDM (manajer SDM), dll, apa bentuk pelatihan yang tepat. Mungkin dilanjutkan di kesempatan lain. Semoga bermanfaat.

Update: 12 Okt 2017

Syukurlah kemarin ada kabar, Argentina lolos berkat hatrick messi ke gawang ekuador.

Membaca Lebih dari Satu Buku

Buku teks atau buku ajar ada bermacam-macam. Ada yang berupa kumpulan penulis-penulis yang membahas topik tertentu (book chapter atau book section), ada pula yang hanya beberapa penulis membahas seluruh topik di suatu buku (buku teks). Sementara itu kebanyakan buku teks dibuat dalam bentuk kompilasi, yaitu kumpulan informasi yang berasal dari beragam sumber buku. Nah, kompilasi ini yang kerap saya jadikan patokan untuk menulis buku, karena lebih mudah. Ada juga jenis buku yang lain yaitu buku terjemahan, yang isinya hanya mengalih-bahasakan dari bahasa asing (biasanya bahasa Inggris) ke bahasa Indonesia tanpa menambah atau mengurangkan isinya. Hak cipta pun masih dipegang oleh buku sumber.

Bacalah

Membaca memang menjadi keharusan seorang pengajar karena informasi selalu berubah, apalagi dunia IT. Dalam kesehariannya terkadang ada debat antara satu dosen dengan dosen lainnya mengenai topik tertentu yang terkadang berimbas kepada siswa yang menjadi bimbingan tugas akhir, skripsi, atau pun tesis. Korban utamanya adalah si mahasiswa yang bingung harus mengikuti siapa? Pembimbing ataukah penguji. Untuk itu sebaiknya berpatokan kepada standar yang ada. Postingan kali ini saya mencoba membahasnya dalam dunia rekayasa perangkat lunak, khususnya UML.

Konflik Akademik

Sering saya menjumpai dosen-dosen yunior yang memang kebanyakan ahli dalam coding atau programming. Mungkin karena kesehariannya berasal dari instruktur lab yang naik pangkat jadi dosen. Terus terang ada manfaatnya karena mereka lebih mengetahui seluk beluk dan kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa yang kuliah IT. Masalah muncul ketika memasuki dunia akademis yang penuh dengan ilmu-ilmu baru yang selalu berkembang. Dosen yunior itu harus mempelajari perkembangan yang terjadi saat ini dan tidak kaku dan bersikukuh dengan bahasa pemrograman atau metode perancangan program yang dikuasainya. Lebih parah lagi, banyak juga yang merasa lebih jago dalam programming sehingga menganggap para dosen senior tidak tahu menahu prakteknya. Boleh saja beranggapan seperti itu, dan saya pun senang belajar dari mereka para dosen junior (sering disebut generasi milenial/generasi y). Sebenarnya malah menguntungkan para dosen-dosen senior.

Terus Membaca dan Belajar

Membaca buku-buku UML terkadang tidak ada habisnya. Muncul buku-buku baru yang terkadang membuat pusing jika kita tidak mampu memfilter-nya. Namun hanya membaca satu buku juga berbahaya karena membuat pembaca berfikiran sempit dan hanya memandang kebenaran dari satu sudut pandang saja, yaitu buku yang dia baca.

Misalnya pertama kali saya membaca satu buku yang khusus membahas UML, seluruh diagram dibahas. Namun di buku yang lain, dikatakan tidak semua developer menggunakan diagram UML, misalnya hanya diagram kelas, object, dan sequence. Tetapi buku yang lain yang berorientasi analisa disain menganggap diagram kelas dan use case lah yang penting, karena tidak semua stakeholder memahami pemrograman yang cocok dengan diagram sequence. Bahkan saya membaca satu buku khusus yang hanya membahas style yang baik dalam menggambar UML, misalnya ketika menggambar use case diagram, user di sebelah kiri dan admin di sebelah kanan dengan di tengah-tengahnya use case, unik juga. Tetapi bermanfaat juga sih, mengingat banyak siswa yang menggambar use case diagram acak adut, walaupun benar tetapi sulit dicerna.

Ribut terus berlanjut ketika ada yang membaca satu buku pemrograman berorientasi obyek yang menganggap UML harus diterapkan dalam pemrograman berbasis obyek saja. Pemrograman tanpa kelas tidak boleh menggunakan UML. Korbannya tidak lain adalah mahasiswa yang menjadi bimbingannya yang terkadang harus mengikuti outline yang disediakan kampus. Jika dosen itu membaca buku yang lain, dia mungkin akan berubah fikiran karena UML tidak harus untuk pemrograman berorientasi obyek, walaupun memang idealnya untuk berbasis object. Bahkan UML sendiri tidak melarang menggunakan diagram-diagram lainnya selama menambah kejelasan rancangan yang dibuatnya, terutama dalam komunikasi dengan user ataupun stakeholder.

Membaca Buku dengan Tema yang Berbeda

UML sangat berkaitan dengan tema-tema lainnya seperti rekayasa perangkat lunak dan analisa dan disain sistem. Beberapa buku rujukan utama software engineering uniknya sampai saat ini masih mengajarkan metode waterfall yang oleh kebanyakan pengembang saat ini banyak kelemahannya. Tetapi tetap saja 40% metode yang dipakai saat ini oleh pengembang menggunakan waterfall yang lebih mudah walaupun beresiko. Memang struktur yang jelas waterfall cocok dengan time frame perkuliahan. Namun, metode terkini yang bercirikan iterasi dan agile/extreem harus juga diperkenalkan.

Banyak hal-hal lain yang bisa kita pelajari dengan membaca lebih dari satu buku baik tema yang sejenis maupun tema lain yang memang saling berkaitan, misalnya pemrograman berorientasi obyek, rekayasa perangkat lunak, analisa dan disain sistem, pemrograman terstruktur, dan lain-lain. Untuk dunia akademik sendiri mau tidak mau harus menyampaikan seluruh informasi kepada siswa didik. Misalnya, untuk UML sebaiknya tidak hanya diagram-diagram yang sering digunakan di industri, melainkan wajib memberikan informasi secara total, walaupun terkadang membuat pusing baik mahasiswa maupun dosen (biasanya dilimpahkan pusingnya lewat tugas mahasiswa). Juga terkadang harus menghindari produk-produk dari vendor tertentu saja. Menggunakan software open source bisa jadi alternatif. Juga, antara dosen junior dan senior sebaiknya kompak dan saling bekerja sama sehingga bisa memberi ilmu dengan baik kepada siswa didik dan juga meningkatkan kinerja risetnya yang saat ini kita sudah berhasil mengalahkan Thailand dan sedikit lagi Singapura. Selanjutnya tinggal menghadapi Malaysia yang hampir dua kali jumlah publikasinya.

Sengaja saya tidak memberikan sitasi postingan ini karena memang untuk contoh kasus saja yang kemungkinan terjadi untuk tema perkuliahan yang lain. Mungkin pembaca, yang lebih senior dan expert, tidak sependapat dan bisa berbagi pengalaman. Semoga bermanfaat.

Aplikasi anti plagiarisme, free dan yang Berbayar.

Dalam dunia akademik, plagiasi merupakan suatu pelanggaran serius. Belakangan karena maraknya kasus plagiasi di suatu kampus memaksa pemerintah mengganti rektornya. Agar kejadian ini tidak terulang lagi, alangkah baiknya suatu institusi memiliki fasilitas untuk mengecek suatu tulisan apakah mencontek karya orang lain. Dengan demikian tiap karya yang dipublikasikan benar-benar murni tulisan si penulis. Sepertinya teknologi web-mining diterapkan dalam aplikasi-aplikasi anti plagiarisme ini (lihat pembahasan mengenai web mining)

Selain untuk mencegah, ternyata alat bantu cek plagiasi bisa membantu mahasiswa untuk mengetahui apakah tulisannya pernah ditulis orang lain. Terkadang si mahasiswa memang benar-benar menulis sendiri tulisannya, tetapi ternyata kebetulan sama dengan tulisan yang telah dipublikasikan orang lain. Di sinilah fungsi lain dari plagiarism checking tool tersebut, yaitu membuat suatu tulisan berbeda dengan karya orang lain.

1. Aplikasi anti plagiarisme yang terkenal adalah Turnitin. Hanya saja aplikasi ini tidak gratis dan harus berlangganan. Tetapi bagi suatu institusi sepertinya tidak masalah, mengingat manfaat yang diberikan tool ini. Salah satu aspek penting dari alat bantu ini adalah adanya bukti otentik bahwa suatu tulisan orisinal. Biasanya suatu kampus mensyaratkan prosentasi tertentu, misalnya di tempat saya tingkat kemiripannya kurang dari 15%. Selain itu jika ada sumber lain yang mirip, maksimal 5% kemiripannya dengan satu sumber itu. Berikut tampilan setelah Log-in.

Seperti biasa, jika ada yang berbayar maka ada juga yang menyediakan fasilitas yang gratis. Namun demikian belum tentu benar-benar akurat dan harus diuji. Tetapi tidak ada salahnya menggunakannya. Berikut ini adalah beberapa yang bisa dicoba.

2. PlagScan. Tool ini mirip seperti turnitin, login terlebih dahulu. Namun ada kolom khusus bisa mengecek tulisan tanpa login. Misal saya ambil contoh dari paper terdahulu saya.

Ternyata hasilnya benar-benar akurat, yakni 99% menyontek. Dengan kata lain memang benar bahwa itu tulisan saya yang dulu. Jika ada orang lain yang copy paste bisa terdeteksi. Lumayan untuk mengoreksi tugas-tugas mahasiswa apakah menyontek atau tidak. Tetapi di sini menyontek dengan tulisan yang sudah dipublikasi, kalau menyontek temannya belum tentu ketahuan (tapi tentu saja dosennya tahu, tinggal tuduh saja yang mengumpulkan belakangan berarti nyontek).

3. Smallseotools. Mirip dengan plagscan, kita diminta register terlebih dahulu. Tetapi bisa juga tanpa register dengan limit 1000 kata. Saya ambil contoh mirip dengan kasus sebelumnya. Hasilnya tingkat kemiripan 92%, sepertinya lebih akurat Plagscan. Terlihat juga proses smallseotools ini lebih lama dibandingkan plagscan.

Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah smallseotools menjamin tulisan yang ingin dicek tidak diambil mereka. Tiap selesai proses data langsung dihapus. Tetapi tetap saja saya masih ragu-ragu.

4. Duplichecker. Mirip dengan plagscan dan smallseotools (jadi mikir jangan-jangan mereka pakai engine yang sama). Tetapi antara plagscan dengan smallseotools terbukti berbeda hasilnya, jadi disimpulkan sementara memakai mesin yang berbeda. Oke, kita coba dengan tulisan yang sama dengan sebelumnya. Sama dengan smallseotools, maksimal 1000 kata. Upps.. ternyata salah, harusnya 100% plagirized.

Ketika saya mau tes lagi ternyata harus signup dulu karena melebihi limit (sekali cek). Menurut saya aplikasi ini tidak recomended. Walaupun harus diuji lagi setelah Sign-up masih salah apa tidak (silahkan coba).

Sepertinya plagscan lebih bagus di antara ketiga plagiarism checker gratisan tersebut. Namun demikian perlu diuji lagi untuk tulisan yang banyak dengan naskah “gado-gado”, apakah bisa mendeteksi atau seperti yang terakhir, “no plagiarism detected”, padahal pakai tools yang lain “plagiarized”.

Satu hal yang ditakutkan adalah ketika kita memasukan suatu naskah ke plagiarism checker yang mencuri naskah tersebut. Tetapi kalau memang sudah pasti segera dipublikasikan ya tidak masalah, toh kalau dipublikasi sudah tentu dibaca semua orang. Bagi pengelola jurnal yang penting pastikan Google scholar minimal mendeteksi suatu tulisan resmi yang dipublish sehingga jika ada yang menyontek pasti terlambat karena Google sudah mendeteksi terlebih dahulu naskah aslinya. Sedikit banyak semoga postingan ini bermanfaat.

Update: 8 Februari 2018

Ternyata software anti plagiarisme sangat dibutuhkan untuk dosen yang ingin naik pangkat ke lektor kepala atau guru besar. Surat pemberitahuannya sudah diedarkan oleh Dikti sebagai berikut:

Update: 22 Juli 2020

Untuk kenaikan jabatan fungsional dosen, software plagiarisme yang resmi adalah Turnitin dan Ithenticate. Karena kebanyakan naskah sudah terpublish maka ketika cek plagiarisme harus di-exclude agar tidak terdeteksi plagiarisme di artikel sendiri yg sudah publish.

Perubahan Paradigma Pendidikan di Dunia: Sarjana, Master, Doktor, Post-Doc

Pada postingan yang lalu sudah dibahas istilah “disruption” dari Prof. Rhenald Kasali. Apakah fenomena yang meruntuhkan pemain-pemain bisnis ternama itu mengancam juga dunia akademik seperti universitas, politeknik, maupun institute? Wow ternyata iya, mengerikan, Prof. Rhenald membahasnya pula di tulisan lanjutannya, “meluruskan pemahaman soal disruption”. Disruption tidak melulu hanya yang berbasis online (seperti taksi online, ojek online, dll) melainkan seluruh aspek bisnis karena disruption merombak total proses bisnis, dari teknologi hingga budaya suatu perusahaan. Sayang tulisannya masih berlanjut nanti, yaitu tentang bagaimana mengetahui ciri-ciri suatu perusahaan yang mulai terdisrupsi.

Tahun 2006 ada paper yang membahas masalah paradigma pendidikan di dunia yang sepertinya mulai berubah. Silahkan kunjungi link-ini untuk membacanya. Sangat panjang bahasannya yang melibatkan survey di belahan dunia. Untuk itu saya sederhanakan untuk kasus khusus saja yakni apa kira-kira yang diperlukan dalam pendidikan tinggi di semua tingkat.

Efek Globalisasi

Globalisasi berarti lintas negara dan batasan geografis lainnya. Pertukaran ilmu tidak selalu dengan cara mendatangkan atau mengirimkan periset ke suatu negara. Ternyata terjadi pergeseran pemain utama riset dari negara Eropa dan AS ke asia (Turki, India, Jepang, China, dan Taiwan) dan amerika latin (Brazil). Efek globalisasi juga dibarengi dengan pertumbuhan populasi di negara berkembang seperti negara kita, sementara negara-negara Eropa cenderung statis bahkan menurun. Terkadang untuk memenuhi kebutuhan mahasiswanya mereka mendatangkan dari negara-negara yang membutuhkan pendidikan, seperti negara kita. Saat ini bahkan lembaga-lembaga riset sudah lintas negara (non-national) akibat kolaborasi yang terjadi. Saat ini poros ilmu yang dimotori US sepertinya mulai diambil alih oleh pendatang-pendatang baru Asia yang cenderung kompak menghadapi dominasi AS, yang oleh paper itu diistilahkan “a common enemy unifies“.

Pendidikan Sarjana dan Pos-Doctoral

Unik juga mengapa paper itu menyetarakan sarjana dengan post doktoral. Padahal dari sisi jenjang sangat jauh berbeda. Satu hal yang membuat kedua jenjang itu sama adalah spesialisasi dan peningkatan kualitas individu. Jika para sarjana diajarkan untuk mengetahui disiplin ilmu itu sendiri, rumus, teori, terapannya, dan lain-lain, post doctoral juga melakukan hal yang sama. Terkadang kerja lab menjadi makanan sehari-hari sarjana dan post doctoral. Tetapi itu untuk kondisi khusus, yaitu post-doctoral untuk junior researchers yang usianya di bawah 30 tahun .. (ternyata saya sudah tua). Selain itu post doctoral yang dimaksud adalah yang benar-benar menjalankan fungsinya karena banyak kasus, mahasiswa posdoc diberi tugas yang diistilahkan “mission impossible” dari supervisornya.

Pendidikan Doktor

Ternyata justru yang bermasalah adalah jenjang doktoral. Perkembangan ilmu yang cepat dengan teknologi yang sangat memudahkan siswa untuk menggali ilmu membuat tuntutan berat bagi mahasiswa doktoral yang jika dilakukan sendiri sepertinya sulit. Jadi saat ini doktoral student cenderung melakukan riset secara multidisiplin dengan topik-topik yang meluas (wide). Sangat sulit menemukan metode-metode baru di dunia yang sudah established seperti saat ini. Selain itu ada tuntutan ganda dari seorang PhD (double function) yaitu: akademik dan non akademik. Akibatnya berikut adalah skill yang perlu dimiliki oleh seorang doktor:

  • Manajerial dan kepemimpinan
  • Komunikasi publik
  • Membuat relasi/network
  • Mengatur proyek
  • Mengerti dunia politik
  • Kemampuan negosiasi
  • Dan Pemahaman budaya

Oiya, bagaimana dengan master? Ada dua kemungkinan, master yang ikut gabung ke sarjana atau master yang langsung lanjut doktor. Sepertinya di dunia internasional master itu tanggung, harus lanjut ke doktoral jika ingin ke dunia akademik, kecuali yg berkarir di dunia profesional non akademik. Mungkin sekian dulu tulisan ini, masih banyak sepertinya yang bisa dibahas dari paper yang saya jadikan referensi tersebut. Mengenai masalah disruption, mungkin video penjelasan dari christensen ini bisa membantu.

Reference

Melin, G., & Janson, K. (2006). What skills and knowledge should a PhD have? Changing preconditions for PhD education and post doc work. Wenner Gren International Series, 105–118. Retrieved from http://www.portlandpress.com/pp/books/online/fyos/083/0105/0830105.pdf

Update: 19 Okt 2017

Lanjuta pembahasan disruption, termasuk efeknya terhadap dunia akademik bisa dilihat di link kompas: http://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/18/060000426/inilah-pekerjaan-yang-akan-hilang-akibat-disrupt

Sedekah dengan Harta yang Berharga: Pengalaman

Ketika Prof. Dr. BJ Habibie ditanya oleh wartawan, lebih pintar mana, dalam hal industri kedirgantaraan, dirinya dengan putranya, Ilham. Waktu itu dia menjawab bahwa dirinya lebih berpengalaman dalam industri pesawat terbang. Pengalaman tidak dapat dipelajari, melainkan dilalui. Saya lupa kapan televisi menayangkan wawancara itu, yang jelas ketika diperkenalkannya pesawat bermesin jet N2130. Yup, setuju sekali walaupun terkadang kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Tentu saja merasakan sendiri pengalaman, artinya memperoleh dari tangan pertama lebih berkesan, baik kesan menyenangkan maupun menyakitkan, yang menambah kualitas kita.

Tiap Orang Berpengalaman

Kita kagum dengan tokoh-tokoh terkenal yang ada di sekitar kita. Tetapi terkadang hanya melihat dari sisi yang menyenangkan saja, yaitu kesuksesannya. Padahal, dalam mencapai suksesnya itu, terkadang ada air mata dan penderitaan yang menyertainya yang terkadang luput dari pantauan orang lain. Begitu juga kita, terkadang terlalu fokus dengan kegagalan, kesedihan, kekurangan, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya sehingga lupa bahwa ada kesuksesan-kesuksesan yang telah kita raih, sekecil apapun. Sepintar apapun pak Habibie, anda mungkin lebih hebat memasak, lebih pintar dribling, lebih merdu suaranya, dan keahlian-keahlian lainnya yang terbentuk dari pengalaman kita.

Pengalaman dari Masa Lalu

Berbagi pengalaman menurut saya merupakan karakter bangsa kita yaitu gotong-royong (baca tulisannya Prof. Rhenald Kasali ini tentang gotong-royong). Bayangkan 200-an juta penduduk jika saling berbagi pengalaman, pasti akan menghasilkan pendekar-pendekar baru di bidang tertentu. Kesuksesan-kesuksesan yang terjadi seperti era Majapahit dan Sriwijaya tidak mustahil terulang lagi. Saya ingat cerita silat tutur tinular, dimana pembuat pedang Naga puspa sampai dibajak kerajaan China. Walaupun cerita fiksi, kisah-kisah kesaktian para pendekar jaman dulu sepertinya tidak jauh berbeda, dari keris empu gandring, hingga diakalinya pasukan Tar-tar dari kerajaan Kubilai khan di era Singasari. Masuknya penjajah sepertinya memudarkan kegotong-royongan yang diakibatkan juga oleh politik pecah belah Belanda. Untungnya dengan pendidikan muncul anak-anak muda yang dipelopori oleh Budi Utomo segera men-share ke para “Jong” daerah lain di seluruh Hindia Belanda. Sejarah sendiri merupakan media ampuh untuk berbagi pengalaman dari para pendahulu kepada generasi muda. Seperti kata Soekarno, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.

Senang juga melihat informasi dari kementerian ristek-dikti bahwa 109 orang terpilih menerima beasiswa saat ini (uniknya kebanyakan wanita). Mereka adalah anak-anak muda yang akan menuntut ilmu dan setelah itu membagikan ilmu dan pengalamannya ke tanah air. Hal lain yang menggembirakan adalah Ristek-dikti terus berbenah dan dari tahun ke tahun terus meningkat pelayanan terhadap pengembangan SDM, terutama dari sisi studi lanjut. Terbukti, lembaga ini belajar dari pengalaman-pengalaman yang lalu (termasuk rumitnya menangani generasi saya, hihi).

Pengalaman itu Menular

Ada sedikit pengalaman yang saya tangkap mengenai studi lanjut. Saya sendiri bingung waktu itu, ketika sadar tau-tau sudah berada di negara asing untuk belajar, kok bisa begini? Sementara di sisi lain, senior-senior yang lain belum juga tugas belajar dan tenang-tenang saja. Setelah difikir-fikir ternyata ada unsur sharing pengalaman dari pendahulu-pendahulu saya tentang pengembangan diri. Pernahkah Anda sadari, asisten-asisten dosen biasanya mengikuti seniornya untuk memperoleh pendidikan terakhir (doktor)? Walaupun saya bukanlah asisten dosen, tetapi setelah lulus master saya kerap diajak dosen pembimbing dulu untuk mengajar mahasiswanya, dan juga proyek-proyek lainnya seperti penelitian dan menulis buku. Hampir buku-buku yang saya tulis kebanyakan atas “paksaan” dia. Hanya buku terakhir yang saya buat sendiri karena beliau sudah dipanggil tuhan. Sangat sulit menyuruh orang studi lanjut ternyata, saya sendiri sebenarnya tidak ada niat, hanya karena melihat dosen saya yang doktor dan selalu bersama beberapa waktu, cukup membuat saya tertular virus akademiknya, yang tidak bisa dipelajari dari buku atau seminar, kecuali kalau dipaksa seperti kasus dosen harus S2 minimal. Bahkan doktoral bootcamp yang diadakan belakangan hanya sedikit membantu karena waktu yang singkat. Tetapi hanya dengan saya berangkat studi lanjut, tidak lama kemudian rekan-rekan saya yang lainnya ikut, termasuk para senior-senior yang tangguh, yang tak mengenal usia. Diskusi lewat media sosial sepertinya ampuh saat ini, rekan saya yang ber-toefl 300-an sepertinya jadi bersemangat dan dengan tekat yang kuat bisa menembus 550 sehingga bisa berangkat kuliah S3. Terakhir rekan saya yang selalu bertanya dan berdiskusi masalah proposal doktoral akhirnya lolos dan siap berangkat ke ITS.

Jangan berharap ada Jawaban jika tak ada Pertanyaan

Kita memiliki keunggulan dari jumlah penduduk, harusnya bisa dimanfaatkan. Sebenarnya banyak pengalaman-pengalaman yang bisa di-sharing, tetapi tanpa adanya yang bertanya, sepertinya akan sia-sia. Saya lupa berapa kali saya ikut pelatihan statistik (SPSS), dan setelah selesai seperti angin lalu saja, tidak ada yang masuk ke otak. Bukan karena materinya kurang bagus atau pengajarnya kurang pintar, tetapi karena saya ikut pelatihan itu di kampus. Walaupun gratis, karena tidak butuh dan tidak ada “pertanyaan” di kepala saya akhirnya sia-sia. Saya terkadang enggan melaksanakan pelatihan-pelatihan seperti itu kecuali memang beberapa orang butuh dan ingin berdiskusi bersama-sama, hasilnya lebih optimal. Saya kagum juga semangat para ibu-ibu dosen di daerah Karawang yang main ke kampus untuk belajar Matlab di Bekasi (percayalah, Bekasi deket lho). Dan ternyata tujuan utama adalah seluk beluk riset doktoral, sementara Matlab menurut saya salah satu sarana paling mudah untuk doktoral yang ingin mendalami simulasi berbagai disiplin illmu.

Terkadang ada hal-hal unik. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang teramat sulit bagi saya dari rekan-rekan, tetapi ternyata mudah sekali jawabannya. Gimana caranya? Saya lempar saja ke rekan saya yang lain. Saya adalah orang Information Management yang percaya tiap orang memilihi harta tak ternilai, yaitu informasi. Saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sulit itu, tetapi saya tahu orang-orang yang bisa menjawabnya, beres sudah, bungkus. Ketika ada yang bertanya layak atau tidaknya suatu proposal doktoral, saya baca dan pusing karena bukan bidang saya, langsung saya tanyakan saja dengan teman kuliah di bidang yang sama dengan rekan yang bertanya, beres sudah tugas saya, seperti Iniesta tinggal memilih mengarahkan bola ke Messi atau Neymar (waktu belum pindah). Tetapi kalau kita masih ribut karena beda agama, suku, dan pilihan politik, sulit sekali bisa sharing pengalaman. Mungkin tulisan di hari libur yang tidak terlalu serius ini bisa bermanfaat.