Jangan Hilang Fokus Ya …

Fokus ibarat sasaran anak panah atau permainan dart. Tanpa fokus akan bingung akan diarahkan ke mana anak panah. Tapi, walau fokus ada terkadang si pemain lupa dengan fokus sasaran tersebut. Akibatnya panah tidak kunjung menancap ke sasaran. Begitu juga dengan sasaran-sasaran lainnya, misalnya untuk dosen yaitu ingin studi lanjut ke S3.

Kampus negeri biasanya sudah terpola dengan jelas tangga karirnya, beda dengan kampus swasta yang mengharuskan dosen kreatif, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun dalam menaiki tangga ke jenjang yang lebih tinggi (pangkat/golongan dan pendidikan). Apalagi jika kampus swasta tersebut bukan kampus kelas atas yang memang memacu dosen-dosennya untuk meningkatkan jenjang karirnya. Berikut hilang fokus yang menurut pantauan saya biasa terjadi.

Kepangkatan

Dosen memiliki jenjang kepangkatan: tenaga pengajar (tanpa pangkat), asisten ahli, lektor, lektor kepala (assoc. profesor) dan profesor. Pangkat tersebut tidak diperoleh dengan otomatis mengikuti masa kerja tetapi harus mengumpulkan poin yang dikenal dengan istilah KUM. Ketika saya pindah dari satu kampus yang memperhatikan pangkat dengan kampus baru yang kurang memperhatikan pangkat tampak nuansa yang berbeda. Kaget juga saya yang kerja sambil ngajar memiliki pangkat asisten ahli melihat dosen di kampus baru saya yang kebanyakan masih berstatus tenaga pengajar. Yang anehnya banyak yang masih S1, padahal saya melihat kualitas mereka lebih baik dari kampus saya sebelumnya. Ketika melihat ekspresi mereka yang biasa-biasa saja tanpa beban sepertinya mereka tidak melihat fokus ke depan (jenjang karir). Barulah ketika pemerintah mengharuskan dosen S2, ditambah adanya sertifikasi dosen, baru mereka panik dan memperhatikan pangkat dan pendidikan lanjut.

Pendidikan Doktor

Ini lebih berat dari kepangkatan, karena membutuhkan dana, fokus, dan terkadang ada sesuatu yang dikorbankan (waktu dengan keluarga, mengajar, kehilangan tunjangan serdos, dan lain-lain). Namun melihat paniknya dosen-dosen senior yang berusia di atas 50 tahun karena tidak diperkenankan lagi memperoleh beasiswa, sepertinya ada yang tidak beres. Sebenarnya logis saja, ketika S2 saja enggan, apalagi berfikir untuk S3 yang membutuhkan energi lebih. Menurut saya, lagi-lagi biang keroknya kehilangan fokus.

Banyak usaha-usaha dilakukan untuk meningkatkan dosen-dosen S3, salah satunya misalnya doctoral bootcamp. Tetapi walaupun bagus juga, mengasah fokus, tetapi setelah acara selesai, kebanyakan peserta kehilangan fokus lagi dan asyik dengan kesehariannya (mengajar, riset, dan mengurus kampus). Untungnya beberapa dosen yang tidak kehilangan fokus dan berhasil studi lanjut, bisa memicu fokus rekan-rekannya untuk studi lanjut, apapun caranya.

Problem Usia 50 Untuk Beasiswa

Di grup WA banyak protes ke pemerintah karena dibatasinya usia untuk memperoleh beasiswa. Pada dasarnya pemerintah tidak melarang usia di atas 50 untuk studi lanjut, hanya beasiswa saja yang tidak boleh lagi mengajukan. Info dari pewawancara yang saya ikuti, katanya itu aturan dari menteri pendayagunaan aparatur negara. Selain alasan-alasan lainnya yang tidak saya mengerti.

Prinsip life long learning sepertinya tidak menghalangi orang untuk belajar, termasuk mengambil kuliah doktoral, umur berapapun. Hanya saja jangan lupa faktor-faktor lain yang menyertai usia tua, salah satunya adalah kesehatan. Bukan menakuti-nakuti, tetapi cerita berikut bisa diambil hikmahnya untuk persiapan bagi yang ingin kuliah di usia mendekati 50 tahun.

Ketika itu saya mengunjungi rekan saya yang divonis kanker stadium akhir. Suaminya bercerita bahwa memang ada riwaya dari keluarga. Tetapi kejadian muncul tiba-tiba ketika baru saja ambil S3 dan dosen-nya termasuk dosen “ribet”. Beberapa kali bolak-balik revisi disertasi/risetnya dengan jarak yang cukup jauh (bekasi – bandung). Ditambah lagi anak yang harus diurus, membuat beban fikiran bertambah. Mungkin itu penyebab penyakitnya tumbuh. Walaupun umur di tangan Allah, tetapi jangan lupa kesehatan, dan meninggalnya orang yang sedang belajar pasti akan dibalas ganjaran setimpal oleh Allah s.w.t. Sedih juga ketika melayat ke rumahnya, semoga amal ibadanya diterima Allah .. amiin. Usia beliau tidak jauh berbeda dengan saya, mendekati 40 ketika kuliah.

Berikutnya rekan kuliah saya yang “pas” 50 tahun. Aturan di kampusnya, akan dibiayai kuliah asal usia tidak melebihi 50 tahun. Beasiswa yang diperoleh dari kampus asal karena beasiswa pemerintah untuk kuliah luar negeri tidak boleh lebih dari 45 tahun. Akhirnya rekan saya bisa berangkat. Hanya saja masalah muncul, yaitu kesehatan. Darah tinggi yang sudah lama diderita, muncul di saat kuliah. Ditambah lagi obat-obatan yang lupa dibawa memicu “stroke” yang mengharuskan opname 2 minggu sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Namun banyak juga yang berhasil lulus di usia 50-an, tetapi kebanyakan dengan susah payah (termasuk saya .. ). Semoga bagi rekan-rekan yang ingin lanjut S3 tidak kehilangan fokus., bisa studi lanjut, lulus, dan toga “strip 3” bisa dikenakan.

Sebenarnya kehilangan fokus tidak masalah karena mudah sekali menemukan fokusnya lagi asal ada yang mengingatkan (rekan dosen lainnya dan pimpinan), beda dengan yang gagal fokus ..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s