Efek Rasa Syukur

Bersyukur terkadang mudah diucapkan tetapi sulit diterapkan. Terkadang pula mulut kita mengucapkan syukur (ketika beribadah) tetapi hati belum tentu menerima kondisi yang ada. Mungkin pembaca pernah membaca buku “the secret” atau “quantum ikhlas” yang membahas kekuatan dari hati dan fikiran dalam lancar dan suksesnya kehidupan. Di sana disebutkan juga manfaat hati yang “lega/nyaman” ketika melaksanakan/mengerjakan aktivitas sehari-hari. Hasil akan terasa jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Pertahanan Terbaik

Tidak semua hal berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Terkadang plan A tidak berjalan dan memaksa kita untuk mengeksekusi plan B. Tanpa hati yang ikhlas dan legowo, ketika plan A tidak berjalan akan kesulitan menjalankan plan B, diakibatkan terlalu lama berkeluh-kesah dan kecewa dengan plan A yang gagal.

Sedikit berbagi pengalaman ketika kuliah dulu mengenai manfaat rasa syukur. Syarat untuk menjadi kandidat doktor di tempat kuliah dulu adalah IPK di atas 3,50. Nilai segitu termasuk cukup tinggi, walaupun relatif, terkadang mudah terkadang susah. Sangat jarang mahasiswa yang lancar dalam satu tahun memperoleh skor IPK sebanyak itu. Rata-rata ada yang mengulang karena satu saja mata kuliah jatuh akan menjatuhkan total skor IPK. Bayangkan jika diperoleh IPK semester awal 2,4. Satu kata yang terucap ke pembimbing waktu itu adalah “apakah saya masih bisa lanjut?”, dan jawabannya “bisa”. Satu jawaban itu dengan satu rasa syukur sudah cukup menjadikan pertahanan terbaik saya. Ditambah rincian-rincian syukur lain yang saya kumpulkan untuk menumpuk kekuatan. Lalu apa yg terjadi? Dalam 2 tahun akhirnya IPK tepat berada di posisi 3,50 pas. Angka yang pas menunjukan berapapun nilai yg dosen berikan sangat berharga, kurang lebihnya.

Bekerja dengan Nyaman

Ketika plan A gagal, tidak serta merta plan B dieksekusi. Ternyata butuh syarat penting lain sebelum menjalankannya walaupun sudah ada schedule-nya, yaitu “hati yang nyaman”. Kecuali memang urgen dan mendesak, harus dilaksanakan realtime. Jika ada jeda waktu cukup, ada baiknya membuat hati nyaman terlebih dahulu. Banyak caranya, bisa meditasi, berdoa, maupun cara yang gampang, yaitu bersyukur. Syukuri saja apa yang ada saat ini walaupun sederhana, misalnya kita masih diberi nafas (ups .. sepertinya itu bukan sederhana, melainkan sapu jagad).

Ada satu mekanisme yang dinamakan “daya tarik” dengan prinsip sesuatu akan cenderung berada sesuai dengan yang mirip dengan sesuatu itu. Jika kita marah, biasanya kondisi akan mudah membuat kita marah. Nah, jika kita nyaman dulu, maka kondisi akan cenderung mengikuti kenyamanan. Ada energi-energi lain yang membantu, orang-orang/tim yang kompak, pihak lawan yang tidak terlalu menyerang, dan lain-lain. Sudahkah anda “nyaman” hari ini? Ngopi dulu lah.