Mendata Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan (Land Use) sangat sulit diklasifikasi secara otomatis lewat citra satelit karena Land Use menggambarkan pengunaan lahan oleh manusia untuk tujuan khusus yang tidak bisa digambarkan dari bentuk bangunan. Bisa saja sebuah gedung berfungsi sebagai sekolah yang sama bentuknya dengan rumah sakit, kantor, mall dan lain-lain. Oleh karena itu pendataan Land Use mau tidak mau dilaksanakan secara manual. Pos kali ini sekadar berbagai bagaimana mendatanya.

Instal Google Earth Pro

Google Earth menawarkan secara gratis aplikasi dekstop untuk melihat map seluruh negara di dunia (bahkan planet Mars pun didata). Silahkan unduh di link resminya. Untuk lebih jelas lokasi yang akan didata, buat shapefile-nya dengan GIS tool yang tersedia, misalnya ArcGis. Impor dari Google Earth pro agar batas lokasi tergambar dengan jelas di Google Earth.

Ketika mencari file jangan lupa memilih ekstensi yang sesuai (*.shp) karena secara default hanya *.txt. Cari shapefile yang diinginkan. Ketika tombol OK ditekan Google Earth langsung mengarahkan ke lokasi yang dituju, sesuai shapefile yang dipilih. Agar area Google Earth dalam study area tidak tertutup pilih hollow (tanpa warna).

Template Google Map Pada Google Earth Pro

Agak sulit memang melihat citra satelit. Ada baiknya kita menambahkan file KML yang ditempelkan ke Google Earth. Silahkan unduh file kml-nya, bisa disimpan atau langsung di-run dengan Google Earth Pro yang baru saja diinstal. Silahkan pilih yang sesuai saja karena akan berat kalau diaktifkan semua (diceklis). Berikut tampilan Google Earth setelah ditempel KML tersebut.

Sumber Data Lain

Banyak sumber data yang bisa dijadikan patokan Land Use, salah satu yang baik dan general adalah Street Directory. Misalnya untuk wilayah Bogor Barat dapat diakses di link berikut ini. Dikatakan general karena di dalamnya terdapat sekolah, daerah komersial, industri, rumah sakit dan sebagainya. Tentu saja jika ingin jelas silahkan buka sumber data yang spesifik (lihat pos yang lalu). Sekian semoga postingan singkat ini bermanfaat.

Fikiran .. Pedang Bermata Dua

Untuk Anda yang mengagung-agungkan fikiran, waspadalah karena fikiran sepertinya membantu Anda dalam keseharian tetapi bisa juga seperti pedang bermata dua yang melukai si pemilik. Hal ini terjadi karena yang seharusnya fikiran berfungsi sebagai alat tetapi beralih fungsi menjadi si majikan. Bagi tradisi kuno Hindu dan Budha fikiran sangat berbahaya karena bisa membuat seseorang hanyut dalam fikirannya. Fikiran yang tak terkendali, diibaratkan sebagai “monyet” yang bergerak loncat ke sana ke mari.

Kisah Imam Malik dan Imam Syafii

Tradisi Islam dahulu kala sering terjadi silang pendapat, karena fikiran. Imam Malik, sang guru, pernah berbeda pendapat dengan Imam Syafii, imam yang paling banyak pengikutnya di Indonesia. Imam Syafii tidak sependapat dengan Imam Malik yang mengatakan cukup dengan tawakal, rejeki akan tiba. Imam syafii berpendapat tidak mungkin tanpa usaha, rejeki akan tiba, seperti burung yang tidak keluar sarang mencari makan tidak akan memperoleh makanan. Begitulah sifat fikiran yang masih mengenal dualitas (atas bawah kiri kanan, suka duka, beanar salah, dan lain-lain). Perbedaan pendapat sejatinya tidak melepas/memutus ikatan pertemanan, apalagi murid dan guru, apalagi hanya dalam hal tetek bengek yang tidak penting, misalnya pileg, pilgub, pilpres, dan pil-pil lainnya.

Pulang dari berguru, Imam Syafii melihat orang-orang yang ramai memanen anggur. Terbesit ide untuk membantu memanen, dan benar dugaannya, selesai memanen Imam Syafii mendapat upah anggur yang banyak. Setelah memperoleh upah, beliau mendatangi lagi gurunya guna membuktikan kebenaran pendapatnya. Sang guru membenarkan pendapatnya, tetapi dengan santai ia mengambil anggur pemberian Imam Syafii, sambil mengatakan beberapa waktu yang lalu, dia kepingin sekali makan buah anggur, dan dengan doa dan tawakal, anggur yang banyak tiba di hadapannya. Mereka akhirnya tertawa.

Mindfulness/Kesadaran

Kesadaran yang berarti menyadari apa yang terjadi dalam fikiran dan perasaan merupakan inti dari meditasi, yang dalam istilah bahasa pali-nya, “sati”. Silahkan coba, tapi tidak berhenti sampai sati saja, melainkan mempelajari. Jika sudah terlatih sadar, seseorang akan memahami mengapa sebuah fikiran muncul, dari mana asalnya dan merembet ke mana. Akibatnya akan muncul kebijaksanaan dengan ciri khas, ego yang tidak mendominasi. Ego yang berada di fikiran akan membuat fikiran menjadi raja sementara diri kita budaknya. Akibatnya banyak orang-orang terpelajar yang di mata orang awam “error”. Konon, pembunuh salah satu khalifaturrasyiddin, Ali bin Abi Thalib, adalah Ibnu Muljam yang cerdas, berilmu, hafal Alquran dan Alhadits, yang sepertinya tidak mungkin terjadi pembunuhan itu jika ego dalam fikiran membuat seseorang menjadi budaknya.

Bahayanya Merasa Benar

Ketika lulus S1 dan menjadi dosen, saya menguji tugas akhir siswa tentang jaringan. Siswa mengatakan bahwa pewarnaan dalam kabel jaringan mempengaruhi nyambung atau putusnya koneksi, selain urutan kabelnya. Sementara saya ngotot, tidak, asalkan ujung ke ujungnya sesuai pin, urutan warna tidak pengaruh. Selang beberapa semester, saya bekerja sebagai staf IT pada bank nasional dan mengalami kondisi yang membuat saya merasa bersalah. Ceritanya sebuah vendor kabel disewa untuk memasang kabel jaringan di cabang dekat asam reges, Jakarta. Warnanya acak, walaupun ujung ke ujung (pin) tepat “lurus/straight“. Sempat jaringan berfungsi normal ketika menggunakan IBM pentium III, tetapi kebetulan ada pergantian PC ke HP Pentium IV, satu pun tidak ada PC baru yang berjalan jaringannya. Dimintalah saya datang ke sana, ternyata saya cek urutan kabelnya tidak standar (bukan: putih-orange, orang, putih-hijau, biru, putih-biru, hijau, putih-coklat, coklat). Akhirnya saya berfikir jangan-jangan siswa saya benar, urutan warna harus standar, akhirnya saya coba satu titik, ternyata benar. Dipanggilah vendor yang memasang kabel kemarin, mirip sidang tugas akhir saya dulu saling ngotot (walaupun untungnya, siswa tersebut saya luluskan). Vendor tersebut membuktikan dengan tester jaringan yang menunjukan “OK”. Akhirnya, saya putuskan menunjukan ke mereka pada satu titik koneksi dengan memasang ulang dengan warna standar, dan terbukti “OK” dengan PC yang baru. Karena takut kasus saya follow-up ke atas, mereka setuju memasang ulang seluruh kabel jaringan. Mudah-mudahan siswa yang saya uji hampir 17 tahun yang lalu itu membaca postingan ini, dan menerima permintaan maaf saya, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin.