Kita dan Dagangan Kita

Beberapa hari yang lalu ada pelantikan dekan di kampus tempat istri bekerja. Seperti biasa, umumnya pengangkatan penjabat diwarnai dengan suka, tidak suka, setuju, tidak setuju dan lain-lain, terutama dari kubu-kubu yang calonnya gagal. Mirip dengan drama pilpres di tanah air. Namun terlepas dari itu semua, sebaiknya tidak mempengaruhi kinerja personil dalam institusi tersebut. Kata dagangan di sini hanya kiasan saja, tidak berarti merendahkan apapun profesi kita.

Organisasi pasti ada yang memiliki, entah perorangan ataupun organisasi. Pemilik ini tentu saja ingin organisasi yang dimilikinya maju, berkembang, diakui di masyarakat, dan menghasilkan keuntungan yang tidak hanya sesaat tetapi bisa terus menerus (sustainable) sesuai dengan visi dan misinya. Pegawai yang bekerja di sisi lain berperan menjalankan fungsinya sesuai dengan standar operasional yang sudah didefinisikan dalam peraturan internal kepegawaian.

Entah apapun jenis organisasi, baik yang real maupun jasa, karyawan yang bekerja di perusahaan itu sebenarnya menawarkan jasanya kepada perusahaan. Seorang staf tata usaha menawarkan kemampuannya mengelola administrasi, seorang dosen yang menawarkan keahliannya mengajar dan mengelola kelas, jabatan tertentu seperti ketua program studi, dekan, hingga rektor pun tidak jauh berbeda. Tinggal bagaimana caranya seorang pegawai meningkatkan skill dan keahliannya sesuai dengan bidang spesialisasinya.

Ketika bekerja, dicatat atau tidak sebenarnya ada rekaman terhadap kinerja kita. Mirip rapor tidak tertulis. Terkadang pengalaman pekerjaan sebelumnya menjadi bahan penilaian untuk pekerjaan di perusahaan yang baru, atau untuk naik ke level jabatan di atasnya. Jadi apapun posisi kita dan tugas kita saat ini sebenarnya hasilnya tidak hanya dihargai dengan gaji tapi rekaman yang akan dilihat oleh pihak yang memperkerjakan kita nanti.

Bagaimana jika kita sudah bekerja setengah mati tetapi tidak berhasil juga diangkat? Mengajar bertahun-tahun tapi tidak pernah diminta menjadi pejabat, seperti kepala lab, sekretaris jurusan, atau ketua jurusan. Sederhana saja, sesuai judul saya di atas, sesunggunya kita memiliki satu dagangan yang kita tawarkan oleh orang yang mempeperjakan kita. Ketika proses seleksi untuk promosi, secara sederhana kita sesungguhnya hanya menawarkan barang dagangan kita yang berupa beberapa keahlian tertentu. Tidak perlu berkecil hati jika tidak dipilih, ibarat menawarkan barang, konsumen tentu saja bebas memilih barang yang diinginkan. Terkadang konsumen memilih hal-hal tertentu yang diinginkan, misalnya untuk pimpinan di kampus yaitu kemampuan mengelola departemen, memiliki kemampuan riset yang tinggi dan sebagainya. Atau tidak dipilih mungkin karena justru calon tersebut memiliki kemampuan di atas level yang ditawarkan. Jika kita sadar hal ini, tidak akan ada yang sakit hati, konspirasi untuk menjatuhkan, dan hal-hal negatif lainnya yang mengganggu roda organisasi yang seharusnya bertarung dengan organisasi pesaing tetapi malah ribut sendiri di dalam.

Jika pemimpin menyadari hal ini maka disadari atau tidak, akan mengumpulkan pundi-pundi kekuatan tim-nya agar berdaya saing tinggi, bukannya fokus ke kelemahan dan kejelekannya. Siapa yang tidak mengenal kualitas Lionel Messi di Barcelona. Dagangan yang ditawarkannya sangat menggiurkan klub-klub eropa lainnya ketika dia sudah merasa dagangannya tidak dihargai dan menawarkan ke klub-klub lain. Sekian, semoga bisa menghibur.

Jadi Pembicara Sekaligus Reuni

Beberapa minggu yang lalu, kampus tempat saya mengambil pascasarjana mengundang saya menjadi pembicara mengenai tips untuk studi lanjut agar lancar dan hari ini jam 09.00 – 12.00 WIB acara berlangsung. Acara tersebut cukup bermanfaat terutama bagi rekan-rekan yang sedang studi lanjut, khususnya pascasarjana. Hadir pula tamu khusus bapak Dr. Sunu Wibirama, M.Eng yang memang sering membahas bagaimana melakukan riset dan menulis jurnal yang baik. Satu lagi yang hadir adalah rekan kuliah saya yang dulu, Taqwa Hariguna, PhD yang membicarakan aspek non-kognitif yang dapat membantu kelancaran studi lanjut. Berikut ini kira-kira ringkasan yang dibahas oleh para narasumber.

Mas Sunu

Satu hal penting yang dibahas oleh mas Sunu adalah apa saja tips yang harus dilaksanakan agar studi lanjut berjalan dengan baik, dari penjadwalan hingga bagaimana mengatur ponsel kita agar tidak mengganggu aktivitas riset/penelitian. Sebelumnya dibahas pula tipe-tipe fokus pada riset dari improvement metode, penerapan untuk memecahkan masalah, dan aspek-aspek lainnya. Yang penting adalah ada hal-hal baru yang berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

Rahmadya

Saya membahas aspek-aspek non-teknis, terutama bagaimana tetap fokus dan termotivasi selama kuliah, dari evaluasi diri dalam menentukan konsentrasi, menemukan sosok figur lewat asistensi, proyek, seminar, dan aktivitas keilmuan lain, juga dibahas apa saja yang dipersiapkan jika ingin lanjut ke studi doktoral.

Pa Taqwa

Rekan seangkatan saya di S2 ini banyak membahas bagaimana agar lolos ketika apply studi lanjut, termasuk memperoleh beasiswa yang tidak hanya uang kuliah dan uang hidup, yaitu bantuan disertasi dari LPDP. Dijelaskan juga bagaimana caranya agar lulus cepat (kurang dari 3 tahun).

Sesi tanya jawab tak kalah menarik, terutama pertanyaan-pertanyaan mengenai multi disiplin dan mahasiswa yang berasal dari non-komputer dalam risetnya. Link youtube berikut ini mungkin bisa dilihat jika ada waktu luang. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Menyelesaikan Masalah ala Orang IT

Penelitian dalam bahasa Inggris adalah research yang berasal dari kata search yang artinya mencari. Kata “re” di depannya berarti mengulang kembali. Sehingga dapat diartikan mencari kembali. Jadi memang pada prinsipnya tidak ada yang diciptakan oleh manusia melainkan hanya menemukan sesuatu yang memang dari dahulu kala sudah ada di alam. Yang kita ciptakan hanya memanfaatkan fenomena-fenomena yang disediakan alam.

Sebagian Besar Sudah Ada Jawaban

Pertanyaan-pertanyaan yang kita jumpai merupakan bahan bakar utama dari penelitian yang tujuannya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebagian besar pertanyaan sudah ada jawabannya baik dari buku, jurnal, dan lain-lain yang tersedia di internet. Nah, untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya hingga saat ini maka pertanyaan tersebut bisa dikatakan pertanyaan penelitian asal jawabannya nanti berkontribusi terhadap suatu cabang ilmu, baik ilmu murni maupun terapan.

Internet dan Forum Diskusi

Kita sering mendengar slogan “tanya saja mbah Google”. Hal ini terjadi karena kemampuan Google menemukan jawaban dari kata kunci yang kita berikan di situs no. 1 paling banyak dilihat tersebut. Ada bagusnya, walau terkadang membuat kita malas mengingat-ingat sesuatu. Misal kita ingin mengetahui bagaimana me-remove kata-kata yang ada dari hasil scrapping Twitter.

“[‘Yesterday I had the honour of speaking about the #Free struggle at the #BlackLivesMatter rally in… https://t.co/DLKQInfsCT’]”,

Tampak ada simbol-simbol seperti URL, kurung kotak dan sejenisnya yang mengganggu proses Text Mining. Bagaimana cara memperoleh informasi tips dan trik membersihkan hasil scrapping tersebut? Mudah saja, ketikan saja kata kunci yang menggambarkan keinginan kita, sebaiknya gunakan bahasa Inggris agar banyak yang diperoleh.

Saya menggunakan kata kunci “erase tags python” dan muncul beberapa hasil. Yang teratas untuk coding biasanya situs “stackoverflow.com” yang memang berisi diskusi-diskusi tentang pengkodean untuk berbagai bahasa pemrograman.

Pertanyaan-pertanyaan Lain Muncul Kemudian

Banyak jawaban-jawaban yang diberikan belum sesuai dengan keinginan. Terkadang perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya. Misalnya ketika dicoba saran dari situs diskusi tersebut tidak cocok dengan kasus kita.

Ternyata dengan mengetik TypeError di atas di mesin Google, banyak sekali jawaban-jawaban yang muncul. Tapi sebenarnya kode di atas jalan asal variable “text” berformat string, ketika berasal dari file CSV oleh Python dianggap object. Jadi sebagian menyarankan mengkonversi variabel “text” menjadi string terlebih dahulu. Barulah setelah itu, kode di atas dapat berjalan normal. Perhatikan hasil uji tipe data yang tadinya ‘numpy.ndarray’ menjadi ‘str’ yang berarti string.

Saling Berbagi

Tentu ketika kita memiliki pertanyaan pasti mengharapkan adanya jawaban. Nah, orang yang punya hati pasti tidak merasa pelit untuk berbagi karena kesuksesan tidak lepas dari kontribusi pihak-pihak yang membantu menjawabnya. Oleh karena itu luangkan sedikit waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang yang membutuhkan jawaban. Saya teringat pernah bertemu dengan pemilik salah satu penerbit buku, dia meminta saya naskah buku yang ingin dia cetak. Kata-katanya sederhana, “untuk bantu anak-anak kita Pa”. Walau terlihat sederhana, ada muatan nasionalisme di sana, dibanding hanya mengagung-agungkan buku luar negeri yang “wah”, tapi banyak buku-buku saya yang dibutuhkan di belahan timur sana agar cepat mengejar ketertinggalannya dari wilayah barat. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Ketua Program Studi

Perguruan tinggi swasta, apalagi swasta yang tidak berasal dari organisasi besar, memiliki masalah yang berbeda dengan perguruan tinggi negeri/swasta besar dimana sudah mapan ditambah lagi dukungan finansial baik dari pemerintah maupun lembaga lainnya. Mungkin banyak yang belum tahu kondisi prodi di kampus swasta yang merupakan mayoritas di Indonesia namun kebanyakan “terasa tapi tak terdengar”. Poin-poin dalam postingan ini siapa tahu bermanfaat dan menjadi gambaran kerjaan ketua prodi di luar SOP resminya.

Umpan Balik

Sebagai seseorang yang sempat mengalami ditolak bekerja di mana-mana, saya tentu saja senang ketika ditunjuk atau disuruh mengerjakan sesuatu. Salah satunya memimpin sebuah program studi. Mungkin seperti mayoritas prodi-prodi di kampus swasta, terkadang kerjaannya mirip musisi “organ tunggal”, alias apa saja dilakoni, dari drum keyboard, bas, gitar, bahkan terpaksa sambil nyanyi. Umpan balik merupakan satu-satunya andalan karena dapat menjadi alat agar melangkah sesuai dengan visi-misi, walau terkadang jalannya agak sempoyongan (apalagi saat COVID-19 saat tulisan ini dibuat).

Umpan balik terkadang menyakitkan, minimal bikin “gerah”. Ketika kelas 5 SD saya ditunjuk ikut lomba lari tapi disuruh juga oleh guru lain lomba keagamaan. Setelah saya pertimbangkan, saya pilih yang kedua. Keesokannya ketika bertemu teman, dia mengatakan bahwa guru olah raga agak kecewa dengan saya yg tidak bersedia ikut lomba lari, di depan kelas (saya tidak ada di kelas krn ikut lomba) katanya saya terlalu “letoy”. Walau tensi naik, tetapi itu tetaplah informasi berharga bagi saya, sebagai umpan balik utk memutuskan beralih ke bidang yang sesuai dengan bakat saya.

Saking pentingnya umpan balik, saat ini akreditasi kampus tidak perlu dijalankan tiap kurun waktu tertentu kecuali atas permintaan kampus itu sendiri dan jika ada laporan dari masyarakat agar kampus tersebut di audit lewat mekanisma akreditasi dari pemerintah/asosiasi. Laporan di sini tentu saja dapat dikatakan umpan balik.

Mengenal Stakeholder

Terkadang sebal juga dengan statement mahasiswa yang memandang rendah dosen dengan alasan dia yang membayar gaji mereka lewat SPP. Pendidikan disamakan dengan “jual-beli”. Tetapi secara bisnis tidak dapat dipungkiri karena tanpa mahasiswa tidak ada uang untuk menghidupi pegawainya, pemerintah pun memberi tunjangan dengan syarat adanya “pengajaran” yang membutuhkan mahasiswa. Kecuali mungkin untuk kampus negeri dan dosennya berstatus PNS atau DPK PNS yang berada di kampus swasta.

Berbeda dengan dosen biasa yang sekedar mengajar dan membimbing mahasiswa, ketua program studi paling banyak berhubungan dengan stakeholder, salah satunya adalah orang-orang tua yang menitipkan anak-anaknya untuk kuliah. Ketika pertemuan dengan orang tua mahasiswa baru, ketua program studi-lah yang ditugasi. Melihat wajah-wajah yang penuh harap, tidak mungkin ketua program studi tidak memiliki ikatan batin dengan mereka. Tiap ada kasus, ketua prodi pasti menjadi tameng. Pasti ada beban di hati ketika orang tua siswa, apalagi keduanya (bapak dan ibu) menghadap dan menanyakan mengapa prestasi si anak “ancur-ancuran”. Banyak ucapan-ucapannya yang membuat hati saya ikut “ancur”, misalnya: ” si X kuliah di sini karena engkongnya memaksa kami agar X kuliah di sini”. Ada lagi anaknya yang hampir 8 tahun tidak lulus-lulus dan ketika saya tawarkan pindah orang tuanya yang datang menghadap mengatakan, “bukan masalah lulus saja, saya ingin anak saya lulus di sini seperti saya” (ternyata bapaknya alumni).

Visi Misi, Tujuan dan Sasaran

Visi misi dan sejenisnya biasanya dibuat ketika evaluasi diri. Harapannya agar proses (dari mahasiswa masuk hingga lulus) sesuai dengan tujuan pendidikan. Paling gampang penerapannya mengikut bentuk “north-star” metrik ala gojek. Misalnya ketika problem di prodi hasil akreditasi adalah masa studi yang lama (kebanyakan pada telat lulus) maka ketika ada “sesuatu” yang menghambat siswa cepat lulus, maka bagaimana caranya di “kepala” seluruh pihak yang terlibat di prodi mengeluarkan “sinyal warning”. Uniknya kebanyakan “sinyal warning” bukan dari pihak luar, melainkan internal kampus sendiri. Misalnya ketika proses pembelajaran sudah ok dan beberapa mahasiswa mulai menunjukan progres “lulus tepat waktu” tiba-tiba aturan dari atas membuat mereka “ngerem”.

Terkadang para kaprodi harus siap dituduh menyerang pihak rektorat, dianggap provokator ketika tidak sangup meredam aksi demo mereka, atau turun derajatnya karena menjadi master/doktor yang ribut dengan tata usaha ketika menghadapi birokrasi yang kurang sinkron dengan visi misi prodi (terkadang hal ini menjadi pertimbangan utk mencari “rumah baru”).

Keluarga Kedua

Ada yang mengatakan banyak pemimpin baik ditemui, tetapi pemimpin besar selalu loyal. Ini juga dapat menjadi sedikit bocoran untuk pemilik (owner) kampus dalam menentukan pemimpin kampusnya. Ciri khas mereka adalah menjadikan divisinya sebagai keluarga kedua. Kemana-mana selalu memakai bendera lembaga yang dipimpinnya. Seperti biasa, ributnya keluarga tidak seperti ribut antar suporter bola. Tidak sampai 3 hari (batas ribut dalam Islam), mereka akur lagi. Apalagi kalau selalu ada acara makan-makan/jalan-jalan. Sekian tulisan iseng ini, siapa tahu ada yang berminat jadi ketua program studi, dan semoga bermanfaat.

Makhluk Emosional yang Logis

Era industri 4.0 salah satu cirinya adalah penerapan Artificial Intelligence (AI) di segala bidang. AI merupakan teknik yang meniru kecerdasan manusia untuk diterapkan ke alat. Beberapa psikolog ternyata menyebutkan ada banyak kecerdasan, salah satunya adalah kecerdasan emosi (emotional intelligence).

Pembaca mungkin pernah merasakan sakit hati, marah, benci dan sejenisnya yang melibatkan emosi. Rasa nyerinya sepertinya tidak jauh berbeda dengan nyeri fisik. Bahkan sebagian ketika tidak sanggup mengatasinya melakukan bunuh diri. Tidak perduli orang secerdas Alat Turing pun tidak sanggup mengatasi hal itu. Di sisi lain, ada beberapa kejadian ketika mencegah dampak negatif dari stres dan depresi atau perilaku negatif lainnya dengan cara operasi, tetapi dampak negatifnya tidak jauh berbeda ketika otak emosinya dihilangkan. Walau kecerdasan tidak mengalami penurunan, tetapi tanpa emosi banyak hal-hal sepele yang mengganggu kerja karena tidak ada unsur emosi. Terkadang masalah sepele, seperti harus memilih warna, kehilangan penjepit kertas, dan tetek bengek lainnya bisa menghambat tugas utama.

Jika otak logis diibaratkan supir yang mengemudikan mobil, maka otak emosi adalah penumpangnya. Saya dan kita semua terkadang memiliki masalah tidak sinkronnya supir dengan penumpang. Supir terkadang mengetahui jalur tercepat, tetapi penumpang ingin menikmati keindahan jalan. Ketika kita melihat orang yang sedang marah-marah maka ada ketidaksinkronan antara logic dengan emosinya, ibarat penumpang yang kecewa diajak sopir melewati jalan yang tidak diinginkannya.

Walau logis ternyata otak logis tanpa panduan otak emosional terkesan bodoh. Okelah Anda hebat menghitung akar ratusan dengan cepat, tetapi otak emosi akan bertanya, kenapa mau saja disuruh orang menghitung itu? Silahkan searching di internet nasib orang tercedas di dunia, yang miris akhirnya memilih menjadi pegawai rendahan yang kerjanya rutinitas sederhana saja. Entah apapun agama kita, pasti diperintahkan untuk menyadari bahwa kita adalah makhluk logis yang memiliki aspek emosional.

Salah satu aspek penting dari otak emosional adalah “harapan” yang berasal dari keinginan dan cita-cita. Presiden pertama RI pernah mengatakan agar menggantungkan cita-cita setinggi langit karena bagi otak emosional konsep tersebut tidak terikat oleh waktu, dahulu, saat ini atau nanti. Beberapa pemerhati psikologi menganjurkan untuk merasakan hal-hal yang diinginkan terlebih dahulu agar meresap ke otak emosional. Jika sudah meresap akan mudah tercapai karena otak emosional tidak mengenal waktu, jika Anda ingin menjadi seorang profesor misalnya, ketika sudah meresap ke otak emosional kemungkinan tercapainya tinggi, walau otak logis menolak karena mengenal konsep waktu.

Cara mudahnya mengetahui otak emosional yang sudah sinkron dengan otak logis adalah kenyamanan ketika mengerjakan sesuatu. Salah satu metode, quantum ikhlas, menganjurkan jangan mengerjakan sesuatu ketika hati tidak nyaman. Buat nyaman terlebih dahulu, barulah bekerja agar kedua belah otak bekerja dengan sinkron dan saling mendukung. Sekian, semoga bermanfaat.

Upgrade Skill Pemrograman Android

Ketika tidak mengajar, hal paling mengasyikan bagi dosen adalah pelatihan, terutama dari program studi diploma dan vokasi. Program studi jenis ini mengharuskan dosen memiliki ketrampilan yang bisa dibagikan kepada mahasiswa walaupun tentu saja tidak mungkin seorang dosen menguasai seluruh bidang yang ada, salah satunya adalah pemrograman mobile berbasis Android.

Cara paling praktis adalah saling berbagi ilmu oleh dosen-dosen yang ada. Beberapa hari yang lalu diadakan pelatihan mobile programming dengan Android Studio. Bahasa yang digunakan adalah Java disertai dengan Web Service berbasis CodeIgniter. Web service ini berfungsi menghubungkan aplikasi Android dengan sistem basis data, misalnya MySQL.

Ternyata banyak elemen-elemen yang perlu dikuasai untuk membuat aplikasi untuk handphone itu. Dari pembuatan layout, Grader Script, hingga pembuatan menu-menu lanjut seperti masukan berupa tanggal, combo, hingga upload image ke server. Bahkan instalasi software Android Studio pun butuh waktu. Tips dan Trik banyak diberikan terutama untuk mempercepat proses pembuatan aplikasi, misalnya penggunaan Genymotion yang menggantikan emulator bawaan Android Studio yang berat.

Sangat perlu untuk mengetahui teknik-teknik pembuatan praktis dan bagaimana beberapa paket dimanfaatkan yang berhubungan dengan user interface dan koneksi ke DBMS, misalnya dengan library volley. Rencananya akan dilanjutkan dengan pelatihan-pelatihan sesuai dengan peminatan seperti android yang menggunakan artificial intelligence, networking, hingga sistem informasi management (SIM). Dari semua itu, yang terpenting adalah kebersamaan antar dosen terutama dalam mengikuti visi misi tujuan dan sasaran (VMTS) prodi teknik komputer yang fokus salah satunya ke pemrograman berbasis network dan artificial intelligence pada perangkat embedded, yang kali ini diwakili oleh aplikasi mobile/gadget.

Ngobrolin Teknologi Pemrograman Mobile

Bagi Anda yang sudah lama berkecimpung di dunia teknologi informasi, teknologi mobil merupakan teknologi baru yang sedang booming saat ini. Pengguna ponsel cerdas saat ini diprediksi sudah sampai 1 milyar sehingga sebagian besar proses bisnis beralih dari konvensional menjadi online berbasis aplikasi. Postingan ini sekedar men-share webinar yang dilakukan oleh jurusan teknik komputer Universitas Islam “45” Bekasi dengan pembicara saya dan bpk Malikus Sumadya, S.Si, M.T., dosen pengajar mata kuliah pemrograman mobile yang saat ini tinggal merampungkan disertasi doktor ilmu komputer-nya di Universitas Indonesia.

Inti dari webinar ini sebenarnya mengenalkan beberapa pilihan teknologi dalam membuat aplikasi, khususnya berbasis Android yang jumlah penggunanya lebih banyak dari iOS (apple). Dimulai dari yang berbasis tanpa kode (no coding) hingga yang rumit, misalnya Android Studio serta framework dengan Web Service, baik yang berbasis PHP maupun Python. Manfaat lain acara webinar ini salah satunya adalah ajang bertemu dengan pihak-pihak yang berminat dengan pemrograman mobile baik dari pelajar, guru, maupun mahasiswa ilmu komputer, khususnya program teknik komputer (D3 maupun Vokasi). Berikut link youtubenya, kurang lebihnya mohon maaf, semoga bermanfaat.

Menjadi Orang yang Biasa Saja

Ketika sekolah menengah pertama (SMP) saya sering mampir ke perpustakaan sekolah. Ruangan yang lebih cocok disebut gudang itu terletak di pojok, sebelum WC guru. Tidak ada penjaga perpus dan selalu dibuka ketika jam istirahat. Walau siswa dibebaskan masuk dan membaca buku-buku yang ada tetapi hanya segelintir saja. Terkadang hanya saya yang di ruangan setelah teman yang saya ajak (dengan sedikit paksaan) tidak bisa menemani saya lebih lama.

isaac_newton_1689_painting_sir_godfrey_kneller_public_domain_via_wikimedia_commons

Salah satu buku-buku favorit saya waktu itu adalah biografi ilmuwan-ilmuwan jaman dulu seperti Isac Newton, Albert Einstein, dan kawan-kawan. Saking asyiknya terkadang saya tidak memperdulikan gosip yang mengatakan banyak makhluk halusnya di situ, yang kadang terasa tapi tak terlihat. Lalu apa hubungannya dengan judul postingan ini? Tentu saja ada. Para ilmuwan-ilmuwan terkenal itu dari biografi yang saya baca ternyata diawali dari keadaan yang oleh lingkungannya dianggap biasa saja. Malah banyak yang ditolak oleh masyarakat karena dianggap tertinggal, seperti Edison dan Einstein. Saking biasanya, Newton konon menemukan teori gravitas yang membuat kagum penemu komet (bernama Halley), ketika asyik bertani. Contoh yang jelas, Nabi Muhammad SAW, merupakan remaja yatim piatu penggembala biasa saat itu di Makah. Tidak ada cita-cita menjadi orang luar biasa, tapi justru mampu mengubah dunia, yang oleh M. Hart dimasukan sebagai orang no.1 yang berpengaruh terhadap sejarah.

filsafat book

Salah satu filsuf terkenal yang menjadi guru para filsuf adalah Socrates. Salah satu fikiran sederhananya adalah pernyataan bahwa yang dia tahu hanyalah bahwa dia tidak tahu apa-apa. Intinya dia ingin mengajak orang berfikir sebab ketika merasa sudah tahu apa-apa, orang tidak akan berfikir lagi. Beruntunglah ketika merasa tidak tahu, karena secara alamiah Anda akan mencari tahu. Namun, jangan mencari cara bagaimana membuat diri, entah lewat mekanisme hypnoterapy dan bantuan motivator-motivator, membuat diri merasa super, tahu segala hal, selalu benar, dan sejenisnya yang berakibat berhenti berusaha meningkatkan kualitas.

Di pertengahan tahun 90-an ketika akhir SMA, saya pernah bimbingan belajar oleh pengajar yang biasa saja, tidak memiliki tip dan trik mengerjakan cepat dengan rumus-rumus kilat yang saat itu sedang tren. Terus terang yang saya dapat dari tutor itu adalah bimbingan psikis dan nasihat-nasihat membangun. Secara sederhana dia mengatakan kepada saya yang ingin lolos masuk UGM, “jika kamu bisa menjawab tiap soal-soal yang orang lain bisa jawab, maka pasti lolos ujian masuk”. Nasihat yang sangat sederhana dan ‘biasa-biasa saja’ tetapi dalam pelaksanaannya butuh kemampuan mengetahui apa yang tidak/belum kita ketahui. Setelah saya jalani ternyata ringan juga, walau ketika hari ‘H’ saya merasa masih banyak materi sulit yang belum saya kuasa tetapi materi-materi yang orang lain bisa saya sudah bisa dan akhirnya lolos juga.

Untuk rekan-rekan dosen seprofesi, biasa saja, jangan merasa super, paling benar dan tetap menjaga hati jangan sampai tercemari konsep/prinsip yang menghalangi untuk terus belajar. Jangan ingin segera jadi nomor satu, jadi profesor kilat, biasa saja, meneliti, kolaborasi dan mencoba riset sesuai bidangnya. Jika tidak menjadi no.1 tidak apa yang penting usaha sendiri. Teringat beberapa tahun yang lalu karena kesulitan bahasa Inggris mencoba daftar pelatihan bahasa tiga bulan dari DIKTI di UGM Jogja. Pelan-pelan, IELTS bisa tembus 6.0, lalu mencoba mengajukan beasiswa DIKTI, sempat ditolak sekali, kemudian mengajukan ulang, toh tembus juga. Ketika kuliah pun, sempat kewalahan karena saingan yang ketat, tetapi dengan belajar normal-normal saja toh bisa lulus duluan. Padahal riset hanya lewat email-emailan, ketemuan hanya laporan progress. Kalu difikir-fikir mirip mahasiswa yang belajar di kondisi COVID-19 sekarang. Jadi, untuk mahasiswa, jangan lupa kata “maha” di depan siswa ya, kata ampuh yang  bisa berarti: ‘jago mencari jalan-jalan alternatif menuju Roma’. Jujur saya lebih khawatir dengan siswa (kelas I sd XII) dibanding mahasiswa saat kondisi adaptasi kebiasaan baru ini. Sekian, tentu saja Anda boleh tidak setuju dengan tulisan singkat ini.

Webinar Systematic Literature Review (SLR) Untuk Skripsi dan Tugas Akhir

Setelah hampir lima tahun kuliah dan kembali lagi mengajar ternyata tidak ada perubahan yang signifikan dari kemampuan mahasiswa menulis tugas akhirnya. Gaya copy-paste masih kerap dilakukan, terutama pada bab studi/kajian pustaka. Referensi hanya berupa buku saja, tidak ada jurnal terkini. Memang mahasiswa D3/S1 hanya menerapkan ilmu yang didapat, belum sampai tahap membandingkan apalagi menemukan hal-hal baru (novelty). Untuk mengatasi hal tersebut, fakultas teknik Universitas Islam “45” Bekasi mengadakan pelatihan kepada para mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Kebetulan saya mendapat tugas sesi-1 tentang Systematic Literature Review (SLR) sebelum sesi-2 tentang kiat-kita merampungkan tugas akhir/skripsi.

Memang tujuan utama SLR adalah untuk memperoleh rujukan-rujukan yang tepat dalam menjawab permasalahan tugas akhir/skripsi. Namun di sisi mahasiswa D3/S1 kebanyakan untuk menghindari plagiasi, terutama mencontek isi naskah skripsi/TA kakak-kakak seniornya. Dengan SLR ditambah keunikan-keunikan judul-judul baru yang ditujukan untuk tugas akhir mahasiswa, diharapkan mampu menghilangkan perilaku negatif mencontek mahasiswa-mahasiswa kita.

Ristek-Brin menganjurkan kampus untuk membuat roadmap penelitian yang kemudian dijalankan oleh dosen-dosennya. Jadi bagi mahasiswa sekarang, mencari permasalahan penelitian tidak serumit mahasiswa era 90-an, karena dosen sudah memiliki roadmap-nya. Tinggal bertanya maka si dosen pembimbing akan memberi judul atau permasalahan skripsi/tugas akhir yang harus diselesaikan dengan cepat. Berikut link youtubenya, semoga bermanfaat.

Aplikasi Online Pembuat Android App Sederhana

Banyak aplikasi pembuat aplikasi mobile berbasis Android yang mudah untuk digunakan, beberapa di antaranya tersedia secara online, antara lain: MIT App Inventor, AppyPie, AppYet, AppsGeyser, dan Andromo. Google juga menyediakan aplikasi untuk mengelola excel via android dengan nama Appsheet (lihat pos yang lalu)

MIT App Inventor

Aplikasi ini dibuat oleh kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang berbasis web, atau diistilahkan dengan cloud-based. Untuk memulai cukup mudah. Buka saja situsnya lalu klik “Start Now”.

Ada empat point yang perlu diketahui antara lain. 1) Instruksi setup yang berisi empat mode ketika perancangan aplikasi dari laptop ke handphone, antara lain: via wifi, via chrome book, via emulator, dan via kabel USB. 2) Editor blok dan disain yang berisi jendela App Inventor Designer dan App Inventor Block Editor. 3) Tutorial untuk pemula yang berisi video belajar. 4) Pemaketan dan sharing via APK agar bisa diinstal di sembarang hp android.

Aplikasi Sederhana Pertama

Banyak di point 3 yang berisi sampel cara pembuatannya, misalnya aplikasi sederhana membunyikan suara. Silahkan lihat sambil membuka panduannya, buka jendela Create Apps di bagian atas kiri.

Kita akan diminta log in via Google. Masukan saja akun Gmail kita.

Berikutnya muncul jendela Term of Service yang cukup jlimet. Silahkan baca, atau langsung saja tekan “I accept the terms of service!”. Ternyata ada pilihan tutorial-tutorialnya, misalnya “Hello Purr” berikut ini.

Bagaimana proses pembuatannya? Buat saja project baru, siapkan satu gambar (jpg) dan satu suara (mp3), ikuti langkah-langkah di panduan ini.

Untuk menjalankannya masuk ke menu Build untuk membuat file APK agar bisa diinstal di HP kita.

Saya tertarik dengan App via QR Code. Kita coba saja dengan mengklik pilihan tersebut. Tunggu progress hingga selesai, dan hasilnya adalah QR code berikut ini.

Link tersebut (http://ai2.appinventor.mit.edu/b/4e7a) ketika diklik akan mengarahkan ke APK yang dihasilkan. Namun hanya bisa dipakai maksimum 2 jam. Atau pilihan kedua saja bisa unduh langsung (file APK). Kalau ingin serius silahkan gunakan Android Studio, Kotlin, Dart, Flutter, dan lainnya. Sekian, semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

Tips Ringan Untuk Dosen yang Sedang Bosan dan Jenuh

Manusia dianugerahi tuhan akal/fikiran yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi selama hidup di dunia. Hampir sebagian besar masalah dapat diselesaikan oleh manusia dengan bantuan akal baik itu yang sederhana dari menyelesaikan tugas harian hingga menemukan temuan baru (inovasi). Sayangnya sebagian besar dari kita karena menganggap hal itu biasa saja sehingga tidak menyadari anugerah yang diberikan tersebut. Akibatnya malas dan bosan hinggap ketika kita mengerjakan hal-hal yang rutin, alias “business-as-usual”. Postingan ini semoga bisa memacu semangat pembaca yang sedang jenuh, terutama ketika “work from home” akibat pandemi COVID-19. Langkah-langkah berikut selalu jadi andalan.

1. Bersyukurlah Terhadap Jalan Yang Ada

Tips pertama adalah melihat kerjaan peneliti. Oiya, tidak semua dosen benar-benar meneliti dalam artian menemukan hal-hal baru yang memiliki kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Sebagian besar menjalankan aktivitas mengikuti SOP yang ada. Alias sudah ada jawabannya. Bandingkan saja dengan seorang peneliti yang menjalankan fungsinya mencari jawaban hal-hal yang belum ada jawabannya. Betapa sulitnya seorang mahasiswa yang sedang riset ketika mentok karena tidak tahu apa langkah yang harus ditempuh untuk menjawab problem riset karena merupakan hal baru (original). Terkadang dosen pembimbing hanya bisa memberi saran-saran atau sekedar menyemangati. Jadi bersyukurlah ketika kita bisa mengerjakan hal-hal yang sudah ada jawabannya baik dari buku maupun dari internet.

2. Do Something

Pernah saya diajak rekan keluar jalan-jalan. Karena sedang suntuk saya menolak, akibat kerjaan kampus yang ga beres, jadinya bosan dan jenuh, bawaannya tidur. Tapi dengan sedikit paksaan, akhirnya dengan enggan saya mau juga berangkat. Ketika sampai di tempat tujuan, yaitu pasar malam di sekitar kampus, tiba-tiba bosan dan jenuh hilang karena menemukan hal-hal baru yang unik yang tidak diketahui sebelumnya. Jadi prinsip “do something” ini ampuh juga mengusir rasa jenuh. Edison pun melakukan uji coba temuannya berkali-kali tanpa rasa bosan dengan prinsip tersebut. Saya teringat ketika bekerja sebagai staf IT di sebuah bank yang bertanggung jawab terhadap operasional di beberapa cabang. Bos saya selalu mengatakan “do something” ketika berada di lokasi, seperti mengecek update antivirus, bertanya problem-problem yang ada kepada pengguna, melihat jaringan kabel apakah ada masalah, dan lain-lain. Beberapa buku sudah saya buat karena terinspirasi oleh rekan kerja saya yang “biasa-biasa” saja bisa mempublikasikan buku padahal tidak memiliki komputer apalagi laptop. Hanya mengandalkan komputer kantor atau kelas dan sebuah usb flashdisk. Ketika selesai mengajar dan masih ada waktu dia mengetik materi dan di akhir perkuliahan jadilah satu buku. Untuk mahasiswa yang mentok ketika menjawab problem-problem yang ada, “do something”, datang ke perpustakaan, diskusi dengan teman, dosen, asisten dosen, dan lain-lain terkadang jawaban muncul tiba-tiba dari mana saja.

3. Upgrade

TIdak ada hal yang tidak berubah di dunia ini. Ketika kita merasa bosan, tidak ada hal baru, sebenarnya kita bisa diibaratkan sebagai produk yang kalah bersaing dengan produk lain yang lebih menarik, dan kita menyadari itu. Untung saja kita manusia, sebagai subjek, masih bisa bertahan. Bayangkan kita adalah alat seperti disket yang tergantikan flashdisk, kamera kodak yang tergusur kamera HP digital, dan lain-lain, kita bisa tergusur oleh pesaing-pesaing yang melakukan inovasi. Jadi ketika kita jenuh, itu-itu saja (bahasa jawanya ngono-ngono thok), itu tanda-tanda kita ibarat produk yang akan tergusur (istilah sekarang terdisrupsi). Kalau percaya dengan adanya tuhan, itu adalah sinyal dari Allah, Sang Hyang Widi, atau apapun namanya. Melangkah ke tangga yang lebih tinggi terkadang bisa menghilangkan bosan yang ada, seperti studi lanjut, mengurus kepangkatan, dll. Tapi kalau malas dan bosan bagaimana? Do something (step-2 di atas), siapa tahu menemukan hal baru yang menarik. Jika tidak juga menemukan hal yang menarik tapi malah melelahkan bagaimana? Bersyukurlah terhadap jalan yang ada (step-1 di atas), toh ada SOP yang tinggal diikuti, tidak serumit peneliti-peneliti yang bertugas mencari jawaban hal-hal yang belum ada penyelesaiannya. Sekian, semoga bisa men-charge rekan-rekan yang sedang bosan dan jenuh.

Mahasiswaku – “How Do You Do”

Ungkapan formal yg mirip artinya dengan “hello” ini mengandung kata kerja “do” yang artinya melakukan/mengerjakan. Hal ini menyiratkan karakter barat yang selalu mengkaitkan seseorang dengan pekerjaan. Sepertinya di negara kita juga tidak jauh berbeda. Seseorang tidak lepas dari apa yang dikerjakannya saat ini, apakah itu seorang guru, karyawan swasta, PNS, polri, tentara, hingga ibu rumah tangga.

Ketika menjadi seorang mahasiswa yang baru lulus di awal milenium (tahun 2001) seperti biasa, saya bergabung dengan tim pencari kerja alias pengangguran. Teman saya yang belum lulus mengabari bahwa dia ditanya oleh pembimbing skripsi saya dulu yang sekarang sudah almarhum mengenai pekerjaan saya. Ketika teman saya mengatakan “masih nganggur”, beliau langsung berkata “waduh” sambil memegang kepala. Dari situ saya tahu, ketika mahasiswa lulus, hubungan dengan dosen, apalagi dosen pembimbing tidak akan putus sampai di situ. Secara diam-diam seorang dosen akan “kepo” dengan kondisi ex siswanya. Untunglah ada Facebook, Instagram, dan sosmed lainnya yang bisa mengetahui tanpa langsung bertanya.

Tidak lama kemudian, ternyata saya menggantikan peran dosen-dosen saya dahulu. Banyak kesan yang terekam di kepala, baik kesan baik maupun kesan buruk berikut ini (namun kebanyakan sih kesan yang baik).

Waktu itu teringat ketika sidang tugas akhir, salah seorang siswa mempresentasikan hasil karyanya berupa sistem pendeteksi penyusup. Ketika seseorang memasuki suatu ruangan yang dipasang sistem tersebut, webcam menangkap gambar dan menyimpan (capture) gambarnya di cloud dan mengirim pesan ke bagian keamanan. Beberapa hari kemudian di sebuah kampus negeri di daerah Karawang ada undangan lomba pemrograman khusus aplikasi berbasis webcam dan CCTV. Langsung saja siswa tersebut ikut dan ternyata menang dengan mudah. Saat ini mahasiswa tersebut menjadi ASN di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang kantornya di ragunan, Jakarta.

Cerita berikutnya sedikit menjengkelkan, ketika di awal-awal menjadi dosen. Pertemuan terakhir perkuliahan saya seperti biasa membagi kuesioner pembelajaran. Kebetulan kelas itu termasuk kelas yang sedikit brutal, maklum teknik komputer, 90% cowok. Karena saya melihat oleh mereka tidak disebar ke teman-temannya, iseng saya lihat isinya. Dan sepertinya dia pun ingin saya membaca kuesioner yang dia isi, yg harusnya rahasia itu. Kuesionar itu ternyata diisi orang yang sama, tepatnya si biangkerok itu. Tentu saja saya tahu dari tulisan tangannya. Isinya pun seluruhnya sama, meminta lembaga untuk memecat saya jadi dosen. Uniknya setahun kemudian ketika acara sidang tugas akhir, si biangkerok itu sesuai jadwal, saya yang menjadi penguji sidang. Hampir setengah jam kami menungu di ruang sidang tapi dia tidak muncul juga. Sempat saya intip, di luar dia jalan mondar-mandir tidak jelas dan tidak berani masuk. Rekan saya yang memang tidak mengenal mahasiswa tersebut sempat ngomel-ngomel karena lama tidak muncul-muncul. Karena paham kondisi, akhirnya saya menghadap panitia sidang untuk mengganti saya dengan orang lain sebagai pengujinya. Dan benar, setelah ditempel perubahan penguji sidang di papan pengumuman, si biangkerok itu berani masuk ke ruang sidang. Oiya, pandangan mahasiswa mungkin hanya melihat si dosen saja, tetapi dosen melihat juga orang tua, keluarga dan teman-temannya.

Sebagai penutup postingan ini, Renald Kashali dalam bukunya “disrupsi”, mengatakan kampus tidak lama lagi akan menghadapi gelombang disrupsi. Apalagi kini dipercepat oleh pandemi COVID-19. Tidak ada lagi yang bisa membantu selain peran masyarakat, terutama bantuan dari alumni. Tidak ada alumni yang ingin kampusnya hancur. Bahkan jasa yang utama pengajar bukan sekedar ilmu yang diberikan melainkan inspirasi pengajar ke mahasiswa yang mampu merubah mental dan pribadi sesuai cita-citanya. Sebaik-baiknya pemasaran adalah dari hal-hal baik yang diceritakan oleh para alumninya, misalnya alumni teknik komputer, salah satu jurusan unik bidang informatika dan komputer berikut ini.

 

Era Metakognitif Sudah Mulai

Seorang siswa minta tanda-tangan untuk pengajuan judul tugas akhir. Anak tersebut memiliki bakat di bidang pemrograman. Karakteristik mahasiswa vokasi adalah skill yang dimiliki sudah nampak sebelum dia lulus sehingga banyak yang sudah bekerja duluan.

“kerja di bagian apa?”, tanyaku. Dia menjawab terkadang membuat web, kadang-kadang juga aplikasi Android. “Biasanya bahasa yang digunakan apa?”, tanyaku. “Tergantung Pa, paling mudah sih flutter, tapi ukuran yang dihasilkan besar. Lebih ringan Dart. Tetapi ketika ada project membutuhkan barcode, library tidak ada, jadi terpaksa menggunakan Kotlin”, jawabnya.

Nah, dari perbincangan tersebut saya yakin dia tidak mempelajari informasi tersebut dari bangku kuliah. Dia menggunakan salah satu kemampuan yang dimiliki oleh manusia, yaitu metakognitif. Istilah ini mengacu kepada kesadaran yang dimiliki oleh seseorang dalam menilai kemampuan intelektual diri. Apa yang dia tahu, dan apa yang dia tidak tahu, dan butuh mengetahui. Maaf, di sini tahu berarti pengetahuan ya, bukan tahu sumedang ..

Beberapa pakar e-learning sedang mengembangkan metode dimana siswa dibantu meningkatkan metakognitif dalam pembelajaran. Manfaatnya adalah proses belajar lebih cepat karena siswa hanya mempelajari hal-hal yang dia tidak kuasai akibat metakognitif-nya yang sudah jalan. Manfaat lain adalah siswa tidak menjadi bosan dan mengganggu siswa lainnya karena tidak perlu mempelajari lagi sesuatu yang dia sudah ketahui/kuasai.

Metakognitif juga berkaitan dengan bloom taxonomy yang terdiri dari empat tingkatan pengetahuan yaitu: 1) mengingat, 2) memahami, 3) menerapkan, dan 4) menganalisa, sintesa dan mengevaluasi. Kembali ke siswa saya tadi yang sepertinya memiliki ciri-ciri tersebut. Mereka mengetahui apa yang mereka tidak tahu, mencari tahu lewat beragam media, mempelajari yang dibutuhkan, mencari alternatif-alternatif dan lain-lain. Istilah sederhana mereka adalah “kepo-in ajah”.

Untuk generasi “old”, seperti saya, wajib memiliki kemampuan metakognitif seperti anak-anak milenial yang kreatif ini, jika tidak ingin tergusur. Sekian semoga bisa menginspirasi.

Artikel Riset vs Laporan Proyek

Ketika submit artikel waktu kuliah dulu, hasil review menolak tulisan saya karena artikel hanya sekedar laporan proyek, bukan masuk kategori artikel jurnal.

Jika ditolaknya saat ini sepertinya tidak ada masalah. Repotnya naskah itu ditolak ketika membutuhkan publikasi sebagai syarat lulus S3. Sulit diungkapkan dengan kata-kata bagaimana kecewanya. Tapi ya bagaimana lagi, harus mencoba lagi kalau mau merampungkan kuliah. Bagi mahasiswa S3, meleset satu atau dua tahun itu sudah biasa.

Laporan Proyek

Ok kita mulai terlebih dahulu mengenai laporan proyek karena ini merupakan jenis pekerjaan yang paling banyak kita jumpai di kampus. Banyak yang menyamakan dengan riset, padahal sangat berbeda.

Perhatikan pekerjaan kita sehari-hari, misalnya seorang dosen. Ketika mengajar satu mata kuliah, maka dia memiliki langkah-langkah rinci yang jelas dan sudah rutin dilakukan. Langkah-langkah tersebut jelas dari A sampai Z, dari menyiapkan materi, membagi menjadi beberapa pertemuan, menguji dan memberi nilai. Biasanya jika dari awal hingga ujung sudah kelihatan dengan jelas, maka sudah dipastikan bahwa itu masuk kategori proyek. Biasanya mahasiswa S1 atau diploma/vokasi diwajibkan menyelesaikan tugas akhir dan/atau skripsi yang tentu saja masuk kategori proyek. Ketika membuat alat, merancang sistem, dan sejenisnya dosen pembimbing bisa melihat langkah-langkah dari awal hingga selesai dengan jelas. Jika disubmit ke jurnal internasional tanpa ada suatu hal yang baru (novelty, originality, dan kontribusi) pasti ditolak, kecuali memang jurnal kampus yang khusus mewadahi skripsi mahasiswanya.

Artikel Riset

Artikel jenis ini harus didekati secara filosofis. Di luar negeri, lulusan s3 biasanya diberi gelar “doctor of philosophy” (PhD) karena memang diharuskan menggunakan aspek tersebut dalam risetnya. Terutama ketika menilai sebuah karya apakah memiliki unsur originality, novelty, dan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Seseorang yang belum doktor seharusnya riset bersama dengan seorang/beberapa orang mentor yang biasanya sudah doktor. Tidak serta merta hanya dengan studi literatur dapat menemukan originality, novelty dan kontribusi. Terkadang diperlukan seorang pakar (expert). Biasanya pakar yang mereview sebuah artikel dalam peer review. Walaupun kita sudah membuktikan dengan studi literatur yang banyak tetapi terkadang seorang pakar menolak tulisan kita memiliki novelty, originality, dan kontribusi. Novelty, originality dan kontribusi sulit dievaluasi, hanya peer review- lah yang bisa menjawabnya. Jadi tidak perlu studi literatur? Ya harus lah, sudah melakukan systemmatic literature study pun terkadang masih saja “mis” apalagi tidak sama sekali.

Kebaruan (Newness) & Kontribusi

Yang termasuk kebaruan adalah novelty, originality dan creativity. Jika novelty mengharuskan sesuatu ide/konsep belum pernah diutarakan atau dilaksanakan oleh orang lain, originality menggabungkan/sintesa ide/konsep orang lain (lihat info link ini). Beberapa peneliti mengusulkan teknik-teknik dalam mengukur sebuah novelty (lihat link springer ini).

Gambar di atas memperlihatkan sebuah paper X yang mensitasi artikel sebelumnya (1,2,..N) dan disitasi oleh artikel berikutnya. Ini merupakan teknik pengukuran berdasarkan sitasi. Dikatakan Novelty jika artikel-artikel lain (1,2,..M) mensitasi paper X dan sedikit mensitasi (1,2, …N). Jika tidak, maka paper X tersebut hanya mediasi saja (membantu menyebarkan ide 1,2, ..N). Seorang reviewer akan mengetahui apakah paper X nanti akan banyak disitasi langsung walaupun belum dipublikasi.

Kontribusi terkadang secara refleks ada karena tentu saja aneh jika penelitian menghasilkan novelty dan originality tetapi tidak ada sumbangsihnya bagi knowledge. Oiya, kontribusi tentu harus bisa diukur, misalnya meningkatkan kepuasan pelanggan, meningkatkan akurasi/performa/efisiensi, dan bukan terhadap masyarakat/lingkungan yg masuk kategori manfaat penelitian dan bukan kontribusi, apalagi dengan argumen kontribusinya membantu orang tua karena dengan selesainya tulisan, cepet lulus, dan tidak perlu bayar kuliah lagi .. hehe.

Konversi Laporan Proyek ke Artikel Ilmiah

Untuk merubah artikel dari report menjadi artikel ilmiah perlu dicari novelty, originality, dan kontribusinya. Untuk bidang informatika ada sedikit perbedaan antara ilmu komputer/teknik informatika (metode) dengan sistem informasi (domain penelitian). Jadi, jika tidak ditemukan novelty di sisi ilmu komputer, cari saja di sisi domain penelitian (kedokteran, bisnis, akuntansi, dan lain-lain).

Contohnya adalah multi-criteria optimization dan teknik GIS yang saya gunakan untuk kasus optimalisasi penggunaan lahan urban. Jadi, hasil dan pembahasan harus mengarah ke domain penelitian, bukan ke metode (lihat pembahasan pada pos sebelumnya). Ketika mahasiswa doktoral sudah menerima kabar naskah publikasi sebagai syarat lulus accepted dengan revisi minor, biasanya bayangan wisuda sudah di depan mata. Penulisan laporan disertasi ratusan halaman tidak jadi masalah karena sudah jelas alur dari A sampai Z nya, beda ketika baru proposal, tahu awal tapi tidak jelas bagaimana mencapai ujungnya. Sekian semoga bermanfaat.

Yuk Ikut Standar dalam Perancangan Sistem

Salah satu yang membuat jengkel mahasiswa ketika mengerjakan skripsi/tugas akhir adalah tidak adanya standar yang harus diikuti, terutama tema-tema perancangan sistem dan pemrograman. Tetapi saat ini sepertinya mulai berkurang karena era online sudah merambah ke semua lini. Sumber-sumber informasi mudah dijumpai lewat variasi-variasinya seperti dalam bentuk blog, video, ebook, milis, grup dan lain-lain. Akibat tidak adanya standar, sering dijumpai perdebatan yang tidak perlu ketika sidang skripsi. Bahkan ada yang curhat ketika seorang mahasiswa dibimbing oleh dua pembimbing berbeda yang tidak seia-sekata. Disuruh oleh pembimbing A merubah mengikuti petunjuknya tetapi oleh pembimbing B diminta hal sebaliknya.

Khusus analisis dan disain basis data sudah dibahas pada postingan sebelumnya, yakni mencari sumber informasi tentang rancangan yang sudah sering dibuat orang. Pola-pola disain pun sudah umum ditemui, kita tidak perlu menemukan ide baru kecuali jika rancangan yang ingin dibuat khusus dengan karakteristik tertentu.

Standar Pemodelan Sistem

Sejak dulu, standar yang digunakan dalam pendidikan adalah buku referensi. Ketika beragumen, sebuah buku dijadikan rujukan akan kebenaran sebuah konsep. Masalah muncul ketika sebuah buku dianggap “kurang tepat” oleh pihak tertentu. Untuk cara aman biasanya akademisi menggunakan buku berstandar internasional. Hanya saja buku-buku jenis tersebut sulit dipahami oleh mahasiswa-mahasiswa kita, terutama para milenial-milenial yang lebih suka hal-hal yang praktis. Mereka butuh contoh-contoh kasus yang khusus yang ada di negara kita. Mau tidak mau buku-buku panduan berbahasa Indonesia yang ringkas sangat dibutuhkan. Masalah muncul ketika buku tersebut agak “kurang standar” walaupun sangat mudah dipahami. Oleh karena itu sebaiknya mahasiswa diajarkan melihat bentuk-bentuk standar resmi, misalnya untuk pemrograman berorientasi objek dapat dijumpai pada situs UML berikut.

Memang tidak ada orang yang memiliki pengetahuan lengkap akan suatu topik tertentu. Namun di era online, kita harus memanfaatkan fasilitas online tersebut. Amat disayangkan banyak dijumpai di jurnal-jurnal nasional penulisan diagram UML yang tidak mengikuti standar yang ada, padahal rancangannya bagus, hanya presentasi saja yang tidak mengikut standar. Bahayanya adalah, artikel tersebut dijadikan sitasi dan referensi sehingga artikel yang lain pun menjadi tidak mengikuti standar.

Contoh Kasus

Salah satu diagram UML yang paling banyak dibuat adalah diagram kelas dan use case. Bahkan saking seringnya use case digunakan ada istilah use case-driven. UML.org menyediakan unduhan versi terbaru untuk melihat standar yang ada. Standar di sini merupakan kesepakatan dari Object Management Group (OMG) dengan vendor-vendor perangkat lunak seluruh dunia. Jadi, jika kita berpatokan dengan situs resminya, pegangan kita menjadi kuat, jauh lebih kuat dibandingkan hanya berpegang pada buku referensi.

Gambar di atas merupakan salah satu contoh yang dibahas dalam UML.org yang dijumpai ketika membahas use case di halaman 643. Saya sendiri baru tahu kalau ada multiplicity dalam use case yang biasanya dijumpai pada diagram kelas. Perhatikan kesederhanaan yang ditampilkan. Sesuai fungsinya, use case memang diperuntukan sebagai penjelasan “apa” yang dilakukan sistem, bukannya “bagaimana”. Jadi jika rancangan use case kita berupa alur “bagaimana”, sudah dipastikan tidak sesuai dengan fungsi utama use case. Use case menggambarkan kewajiban apa saja yang harus diselesaikan programmer pada program yang diusulkan.

Contoh di atas mengharuskan programmer membuat fungsi-fungsi (dikenal dengan istilah functional requirement) dalam diagram use case di atas antara lain withdraw, transfer, deposit, register ATM, dan Read Log. Bagaimana dengan login? Silahkan tambahkan tapi jangan sampai berubah menjadi alur proses mendaftar Deposito dari login, registrasi, dll yang ujung-ujungnya ribet dan use case tidak memiliki fungsi utamanya. Silahkan jelaskan dengan diagram UML lainnya jika ingin detil, misalnya sequence atau activity diagram. Mungkin kita memiliki bentuk yang sedikit berbeda, misalnya tanpa multiplicity 0..1, 0..*, dll, tapi format garis tanpa anak panah perlu menjadi perhatian mengapa tidak ada panah di sana.

Perhatikan contoh lain bagaimana merinci suatu aktivitas dengan activity diagram di atas. Bagaimana fork dan join diimplementasikan dalam diagram aktivitas sebaiknya tetap mengacu standar. Sekian, silahkan kunjungi situs standar UML tersebut, semoga bisa membantu melerai pertengkaran di meja sidang skripsi/tugas akhir.