Berhubung telah habis masa kontrak (bulan Mei 2009) dan yang mengontrak akan pindah ke Jawa, maka untuk keperluan merenovasi rumah baru, kami berencana menjualnya dengan harga 60 juta – “nego”. Surat-surat lengkap SHM.
Rumah ini tipe aslinya 21/60, tetapi telah direnovasi menjadi 50/60 dengan lantai keramik, satu kamar tidur dan satu kamar mandi, dengan satu ruang tamu tentunya. Ada satu lahan, cukup untuk parkir motor (atau dimasukan ke kamar tamu untuk lebih amannya).
Tampilan Depan
Kelebihan tinggal di sini adalah daerah yang tinggi dan bebas banjir. Dalam waktu setahun (biasa datang saat nagih uang kontrakan) ternyata sudah banyak penduduk yang bermukim di sana. Bahkan sudah ada fasilitas umum (lapangan badminton) 10 langkah dari rumah tersebut (bisa juga untuk lapangan futsal anak-anak).
Fasilitas Umum
Kelemahannya cuma satu, yaitu jalan di depan rumah jalan kecil, so … ga bisa parkir mobil, apalagi truk atau bis (ya iya .. lah).
Listrik 900 watt dengan sanyo cukup memadai (dibanding pln sekarang yang baru dengan sistem pulsa, ngeribetin). Untuk anak bermain, lumayan lega, apalagi di depan ada taman kecil, lumayan bisa neduh.
Tempat Neduh + Ngegosip
Silahkan bagi yang berminat (di-posting juga di : http://www.rumah.com) dulu-duluan. Berikut ini kalo ada yang ingin tahu bagian dalamnya.Untuk info di sana hubungi RT setempat, jangan nanya yang ngontrak, soalnya sudah habis kontrak sejak Mei + utangnya 1,5 juta. Okeh
Ruang Tamu
Informasi Lokasi: Dukuh Zamrud P18 20
Tembok: Renovasi dengan Batu Bata
Kamar: 1, Dapur 1, Ruang Tamu Luas, Kamar Mandi 1, Air Pompa
Setelah memakai hampir 3 bulan, berikut saran yang mungkin berguna bagi pemakai awal:
1. Saat inreyen, sebaiknya oleh orang yang sering menggunakan matic, kebetulan sy dulunya memakai thunder, jadi hasil inreyen kurang bagus. Atau coba dulu motor matic temen sebelum inreyen motor matic baru kita, supaya hasilnya bagus.
2. Ganti tubeless roda belakang jangan kebesaran, efeknya motor jadi berat. Kebetulan motor sy depan 80 blk 110. Pakai yg lebih kecil aja, dijamin ga bakal disalip mio or vario.
3. Ntah kenapa, motor sy ga cocok pake pertamax? Sekarang pake premium, soalnya make pertamax motor jadi liar, efeknya vbelt berbunyi (suara tikus) saat tarikan mendadak. Tetapi begitu ganti premium udah ga berbunyi lagi.
Setelah hampir sebulan naik skywave (lihat about my skywave) dan sudah servis sekali (km 500) berikut kesan-kesannya.
Pertama kali sy ga percaya saat di millis ada yang nulis konsumsi bbm skywave 1:40. Ternyata setelah sy hitung, memang benar segitu (heran juga sy). Masak lebih boros mio ya? Tapi itu pertamax, dan saat ini sy coba pake premium dan tercatan km=684, isi 20.000, kita lihat apakah pas habis kmnya=828, semoga (kyknya ga sih, soalnya bukan pertamax).
Istri komentar, “kok kyk ngeden mesinnya?”. Bener sih, saat kecepatan <40 Km/jam, motor seperti berat, tetapi saat di atas 40 km/jam, seperti naik motor listrik, ampir ga ada getaran. Tarikan awal kalah sama mio cs. Terus terang sy ga brani sampai kecepatan 100 km/jam. Kayaknya sih bisa, soalnya 80 km/jam, tetap ga getar, masih halus.
Bagaimana kalo speed dibawah <40 km/jam dipaksa? Muncullah suara “ngorok” dari super CVT. Why? Setelah konsultasi dengan R. Bagus, M.Si., super CVT pada skywave dipasang agar campuran bensin dan udara tetap dalam takarannya saat kecepatan tinggi. Maklum makin tinggi rpm, kecepatan hisap udara oleh piston kalah oleh kecepatan piston. Jadi glagepan istilahnya, nah tabung udara super CVT dimaksudkan untuk suplai udara saat kecepatan tinggi. Jadi saat kecepatan tinggi, konsumsi BBM tetap konstant, beda dengan yang tanpa super CVT dimana saat speed tinggi kadar oksigen kurang sehingga boros.
Pernah sy baca di millis bahwa ban dalam skywave kerap rusak. Repotnya jarang tukang tambal yang punya stok ring 16, walaupun untuk darurat bisa dipaksa dengan ban dalam ring 17. Setelah sy teliti ternyata rusaknya ban dalam kemungkinan tidak tahan menerima panas pelek roda yang menyatu dengan mesin (kalo bebek biasa terpisah dengan rantai). Apalagi, rata-rata pengguna skywave ngebut (ga peduli cewek, cowok atau orang tua sekalipun) akibatnya panas akibat rem belakang . Penyelesaiannya gampang: beli ban tubeles! Saya beli di kebon jeruk jakarta, ring 16, swallow 100/80 abis 225 rb + pentil 10 rb. Ban belakang pindah ke depan, wow jadi tambah gagah.
Terakhir, yang agak jadi ganjalan adalah: Bagaimana cara memasang box dengan dudukan yang kuat? Kuat di sini maksudnya dengan empat jepitan, bukan dua jepitan. Kalo motor-motor lain kan bisa, tapi bgmn dengan skywave? Please, beri pencerahan dong…
Waktu itu sore-sore, karena rambut sudah agak panjang saya pergi ke tukang cukur. Dekat sih, nempel di belakang rumah. Ternyata ngantri, satu orang. Bapak-bapak. “Apa yang dicukur ya?”, tanya saya dalam hati. Rambutnya udah ubanan, tipis dan atasnya .. ah jadi ga enak ngomongnya.
Saya ambil koran, tidak ada berita yang menarik, isinya cuma oknum anggota DPR yang ditangkap KPK. Memang di Indonesia tidak ada instansi yang buruk. Tidak ada polisi, jaksa, DPR, guru dan lain-lain yang buruk yang ada oknum polisi, oknum jaksa, oknum DPR, oknum guru dan lain-lain. “Silahkan …”, kata tukang cukur. “ah selesai juga akhirnya si bapak ini”, kataku.
Karena sudah langganan, sy tidak perlu menyuruh model tertentu. Asal jangan seperti saat sy tinggal di priok, yang nyukur orang padang, saat sampai di rumah keponakan sy yang masih SD nyeletuk, “Om, kok cukurannya kaya Shincan sih?”. Sy kaget, dan saat liat di cermin, iya, bener juga kayak Shincan,”sialan”.
Di sini kebetulan yang nyukur enak. Seperti biasa, di tempat cukur ini selalu mendengarkan radio dakta, dan yang menarik adalah kisah tentang seorang yahudi dan office boy hotel di Mesir.
Suatu ketika seorang yahudi baru saja check out dari sebuah hotel besar di Mesir. Dia meminta seorang office boy, warga Mesir, untuk mencegat sebuah taxi. Suatu ketika lewatlah sebuah taxi, dan langsung si office boy melambaikan tangannya dengan maksud menyetop taxi tersebut. “Jangan yang itu”, kata si yahudi. “Oh, mungkin taxinya jelek”, kata si office boy. Tidak lama kemudian lewat lagi taxi yang lain, saat si office boy akan menyetopnya, dicegah oleh si yahudi, “jangan yang ini”, katanya lagi. Terus, dan terus hingga taxi yang kesepuluh baru si yahudi setuju office boy menyetop taxi tersebut. “Dasar orang yahudi, aneh”, kata si office boy. Naiklah si yahudi tersebut ke Taxi itu.
Beberapa waktu kemudian yahudi itu menginap lagi di hotel tersebut. Melihat orang yahudi itu, si office boy yang waktu itu membantu menyetop taxi menghampiri si yahudi tersebut lalu menanyakan mengapa waktu itu dia menyetop taxi sampai taxi yang kesepuluh? Dan ternyata jawabannya sederhana, “Saya tidak mau naik taxi selain taxi yang perusahaannya milik orang yahudi juga”.
Sungguh mengejutkan, ternyata selama ini saya sudah salah membelanjakan uang saya, makanan, minuman dan barang kebutuhan hidup lainnya saya beli dari perusahaan-perusahaan milik yahudi. Dan hasil keuntungannya dipergunakan untuk membantu menyerang warga palestina di jalur gaza dan menewaskan ribuan warga tak berdosa. Ya Allah, ampuni dosaku. Saat pisau cukur akan memotong cabang rambut saya, saya jadi takut, mungkin pisau api neraka jauh lebih tajam dari pisau cukur ini.
Setelah keluar dari IT Service Delivery Bank Danamon, mobilitas saya naik motor mulai berkurang. Bekasi – Jakarta pun seminggu tidak lebih dari 2x, jadi ada niat untuk membeli motor yang tidak capek. Tadi rencananya sih, beli motor yang isteri juga bisa make, tapi sepertinya bahaya juga sih, soalnya naik motor di jalan raya bukan cuma sekedar menjalankan motor.
MIO
Pilihan pertama adalah yamaha mio seperti yang digunakan mertua saya, terutama yang warnanya putih, ada gambar bunganya. Selain tarikan dan responnya ok, mio juga bisa untuk berdiri anak saya di depan. Setelah saya pikir-pikir, kebetulan saat jalan bareng mertua yang pake mio, saya naik motor di belakangnya dan tiap ada polisi tidur dan mio ditarik, seperti ada suara tikusnya, ciit … ciit. Ada apa sebenarnya ya? Masalah lainnya adalah, mio sering banget ngisi bensin, mungkin karena tangki bensinnya kecil atau boros? Banyak yang bilang sih boros. Selain itu, karakter saya adalah tipe orang yang lain dari yang lain. Sedangkan mio sudah banyak yang punya, katanya sih kalo banyak yang memiliki, spare part, modifikasi, lebih murah karena banyak tersedia di pasaran. Tetapi saya tetap ingin beda, toh waktu saya beli thunder keluaran pertama (non-kick starter) akhirnya banyak juga yang beli sekarang.
SPIN
Saat parkir di kampus, saya melihat motor suzuki spin-125. Saya perhatikan sejenak, modelnya bagus juga kaya mio. Terutama bagian depannya lega, bisa naro karung di depan. Saat adu balap di jalan baru bekasi (o iya, hati-hati lewat jalan itu di atas jam 1 malam) ternyata tarikan awal spin kalah dengan mio, tetapi lama-lama kesusul (mungkin karena cc spin lebih besar kali). Setelah nyoba, ternyata spin posisi duduknya kurang nyaman, apalagi kalo dipakai jauh, bisa sakit pinggang nanti. Walaupun mobilitas saya sekarang jarang jalan jauh, tetap saja ada ngajar dan kuliah di Jakarta.
BEAT
Teman isteri saya kebetulan suaminya kerja di oto finance bagian persetujuan kredit. Dia menawarkan honda beat. Ditanggung beres ga ada acara survey-surveyan, kalo mau sore langsung di antar (busyet). Hampir aja setuju. Kebetulan di carrefour ada stand honda. Saya amati sebentar honda beat yang dipajang. Sempit banget ya. Kalo naik sendirian sih ok. Tapi kalo boncengan, kasian banget. Saat di jalan pas pulang, saya ada di belakang honda beat yang lagi boncengan, kasian si ibu yang bawa anak di belakang sampe duduk di atas besi belakang jok. Udah gitu cc-nya kecil, kalo dibawa ke Jakarta kasian juga.
VARIO
Lama-lama habis juga nih pilihan. Tinggal dua, vario dan skywave. Satu-satunya pemilik vario yang saya kenal adalah bibi saya. Pada dasarnya sih Ok banget, cuma ada komplain masalah radiator sama bodinya yang bongsor (tidak bagus untuk cewek, soalnya saat naik dipaksa “ngangkang” terus). Harga jual honda pun di atas rata-rata, cuma harganya yang menurut saya kurang imbang. Kenapa ga pasang sok breaker dua? Kenapa cc-nya cuma 110-an? Kalo alasannya supaya lebih irit kayaknya kurang pas ama bodinya yang bongsor. So, menurut saya sih kemahalan. Saya kenal skywave saat ngobrol dengan rekan thunder di UNISMA, katanya dia mau jual motor thundernya lalu beli skywave-125.
SKYWAVE-BURGMAN
Akhirnya saya teliti di internet, pertama-tama sih yang saya liat skywave-600 dan skywave burgman. Wiih .. bagus banget, terutama disain bagian depannya. Setelah sy searching dengan benar, muncullah skywave-125. Ternyata bagian depannya, agak mirip sama versi mahalnya. Saya teliti lagi milis-milisnya, ternyata keluhannya cuma suara ngorok katanya. Yang membuat saya tertarik adalah cc-nya yang imbang dengan bodinya. Terus, joknya panjang, cocok untuk boncengan ditambah lagi doble shock di belakang. Tidak salah lagi, saya langsung memilih motor ini. Tinggal masalah warna aja yang agak bingung. Karena saya penggemar warna hitam, nah .. Ternyata suzuki menyediakan seri: night rider. Langsung saja saya pilih night rider SR terbaru.
SKYWAVE-125
Saat, inreyen, busyet, enak banget. Biasa pake thunder, pake matic, tinggal gas rem. Begitu di tarik langsung ngebut, ga ada jeda untuk pindah gigi. Saat dibandingkan dengan mio dan spin, masalah tarikan urutannya adalah: mio – spin – skywave. Tapi di kecepatan tinggi, urutannya berubah: skywave – spin – mio. Kl masalah “ngorok” kayaknya skywave tidak cocok untuk dipaksa narik awal. Jadi anjuran saya, tarik pelan – pelan, saat speed di atas 30 baru tarik.. dijamin bisa ngalahin bebek bergigi. Nouvo? Sorry, ga pernah nyoba, setahu saya sih itu merek sabun.
Oiya, untuk yang ingin melihat jenis matic suzuki yang baru, sky drive, klik di sini.
Inilah kendaraan kedua saya setelah jupiter-z. Saat mengendarai jupiter-z dulu, saat membawa barang berat (tas besar) yang diletakkan di antara kaki, ternyata nyaman saat bermanuver. Muncullah fikiran untuk mengendarai motor “lelaki” yang berat di tengah (karena tanki bensin). Setelah dicari-cari, ternyata yang paling murah adalah thunder-125. Alhasil, terbelilah thunder -125 versi lama (non-kick starter) tahun 2004.
Berikut ini kelebihan thunder-125:
Untuk jarak jauh, tidak capek dan stabil. Apalagi motor saya sudah ganti stang (milik tril – yamaha) dan ditambah “riser” (alat untuk menambah tinggi dudukan stang).
Irit. Antara shogun dan spin, ternyata thunder paling irit (asal belom di “otak-atik”).
Body OK. Walaupun murah, ternyata struktur rangka, body, assesoris tidak “murahan”. Terbukti sanggup menahan bobot berat. Padahal motor saya di bagian belakang dipasang box, temen-temen sy nyebutnya “magic jar”. “jangan-jangan si …. muat di box lu, mat”, kate temen ane. “ya iyalah muat, asal dipotong-potong dulu, he he he…”. Coba bandingkan, diameter, ukuran, panjang dsb dengan motor saingan (bajaj xcd-125 ato megapro) lebih besar.
Tanki besar. Cocok untuk para pencinta modif (jadi sport ok, jadi touring ok). Tapi kayaknya sih cocok untuk modif jenis touring.
Bandel. Ini bukan monopoli thunder. Sepertinya, seluruh merk suzuki bandel (kalo nggak rusak parah, masih bisa jalan). Ukuran mesin suzuki yang lebih besar memberikan toleransi antar komponen menjadi besar (tetapi resikonya kurang efisien/boros) sehingga lebih “bandel” , karena kerusakan satu part tidak menulari yang lain, beda dengan honda yang kecil dan efisien/irit, tapi resikonya satu part rusak bisa menulari yg lain/merembet.
Pelek racing. Untuk jalan jauh, jalan malem, jalan ancur, cocok. Tentu saja asalkan ban sudah diganti tubeless. Alhamdulillah, sampai saat ini ga pernah dorong. Bahkan kalo kena paku, sempet nunda besok nambelnya (sy jadi punya langganan tukang tambal khusus).
Komunitas yang baik. Walupun sy tidak pernah masuk ”club” krn dilarang istri, tetap saja kalo di jalan suka ”di sapa” para bro – bro thunder lainnya. Tapi ruginya ya itu, kurang informasi sehingga banyak ketipunya (bengkel nakal).
Banyak komponen alternatifnya. Karburator bisa diganti punya King, bohlam lampu punya vespa. Klakson, sy ganti punya mercedes.
Bagaimana kelemahannya?
Kapasitas mesin kecil (125 cc). Ini mah semua orang tau. Tapi, rasio transmisinya lumayan baik untuk tarikan, walaupun untuk top speed kalah sama spin (kaya peluru larinya). So, sebaiknya di modif touring (aspek kenyamanan yang utama, bukan speed). Tapi, thunder sepertinya dirancang untuk RPM tinggi agar bisa lari lebih kencang. RPM tinggi berarti kerja mesin lebih berat, efeknya panas dan dapat dilihat, sirip thunder panjang-panjang dibanding motor lain. Tapi sy sih ga pernah make RPM > 5 (di atas 60 km/jam), karena selain getarannya terasa banget (apalagi ga diservis-servis) ya .. boros.
Ga ada engkol. Tapi itu kan versi yang lama. Untuk versi berikutnya ternyata ada engkol (walaupun kata temen sy yg punya, tidak pernah dipake). Tetapi tetap saja harga jual untuk yang ga ada engkolnya turun deh.
Harga jual jatuh. Walaupun masih di atas king, tetap saja harga jual thunder (khusus yang ga ada engkol jatuh) terjun bebas. Untungnya belom ada peraturan pemerintah yang melarang orang beli motor bekas.
Butuh perawatan kelistrikan. Saya sudah ganti spul (dinamo yang tugasnya ngisi aki) dan kiprok (regulator yang ngatur arus bolak-balik dari dinamo menjadi arus searah ke aki). Waktu itu gara-gara ga pernah ngecek air aki, aki jadi rusak. Kiprok ikut rusak gara-gara akinya saya ganti aki kering. Akhirnya saya balik ke aki basah lagi (o iya, aki thunder 125 kapasitasnya di atas aki tiger lho – 8ah).
Body (bagian plastik) mudah retak karena benturan. Tapi jangan takut, bisa di-replace. Sy sudah ganti tutup kiri (untuk angin), abis 50 ribu, dan bagian belakang sudah retak gara-gara dudukan box bawaan. Akhirnya sy dateng ke las khusus motor (di deket saya ada khusus las tiger) jadi kokoh sekarang (abis 150 ribu). Walaupun harus ijin kantor karena datengnya hari biasa (soalnya hari minggu/libur ga kebagian, maklum, khusus tiger coy).