Mengawali Tahun Baru 2021 di Masa Pandemi

Jika tahun lalu tahun baru diwarnai dengan banjir, kali ini diawali dengan pandemi COVID-19 yang sedang tinggi-tingginya angka kasus harian di Indonesia. Dampaknya sungguh luar biasa, terutama yang bekerja di sektor bisnis, maupun karyawan harian yang perusahaannya terdampak pandemik. Selain itu, bidang lain seperti pendidikan pun ikut terdampak. Terjadi penurunan mahasiswa yang masuk maupun yang registrasi ulang.

Di sisi lain, komunitas dijital sangat ramai, baik dalam bentuk meeting online, transaksi online, dan sejenisnya. Apalagi media sosial yang dibanjiri oleh sharing informasi-informasi yang up-to-date. Banyak informasi tersebut yang baik, namun banyak pula yang menurut saya kurang baik, atau setidaknya bisa mempengaruhi kita secara negatif. Postingan ini sedikit berbagi bagaimana menyikapi informasi-informasi tersebut.

Syukuri Yang Ada

Ada yang mengatakan bahwa jika Anda hari ini masih punya pekerjaan, punya uang, bisa makan dan diberi kesehatan berarti Anda termasuk orang yang beruntung. Begitulah, banyak orang yang baru merasakan nikmat pekerjaan ketika di phk, nikmatnya makan ketika kesulitan makan (baik karena sakit atau ga punya duit), atau terpaksa hutang ke sana-sini.

Memang normal, kita cenderung merasa kurang ketika membandingkan dengan orang yang lebih dari kita. Banyak informasi di grup (facebook, whatsapp, dll) yang jika tidak kita saring akan ‘mengganggu’ kinerja kita di tahun ini. Dari provokasi untuk demo (bagi buruh), maupun sekedar minta diperhatikan (bagi guru, dosen, dan pengajar lainnya). Terkadang kita perlu menjadi orang lain agar bisa merasakan bagaimana kesulitan mereka, tidak hanya menjadi diri kita saja dengan tuntutan-tuntutannya. Memang, ada hak-hak yang harus diperjuangkan, tetapi kondisi seperti ini ada baiknya kita sedikit “mengerem”. Bahkan sampai-sampai di grup alumni kampus besar dibahas gaji dosen swasta yang menurut mereka “miris” karena tidak sebanding dengan biaya kuliah yang rata-rata dosen lewat biaya mandiri. Dalam kondisi normal sih boleh-boleh saja, tetapi di kondisi saat ini, kampus swasta mengalami kondisi sulit, baik dalam pendanaan, infrastruktur, dan lain-lain akibat kondisi yang dipaksa online. Menghadapi tuntutan mahasiswa yang keras saja sudah sulit, apalagi jika pengajarnya pun ikut keras menuntut.

Sabar dan Tawakal

Info bahwa antivirus COVID-19 sudah tiba di tanah air cukup membantu meningkatkan asa kita dalam menghadapi musibah pandemik. Seharusnya tidak ada alasan lagi untuk memacu kinerja di tahun yang oleh orang Tionghoa dinamakan kerbau logam ini. Memang banyak problem yang harus diselesaikan, namun ada baiknya fokus ke yang urgen, penting, dan harus segera diselesaikan. Jika fokus ke problem-problem remeh, kita bakal kewalahan. Apalagi jika termasuk kategori pseudo-problem, alias bukan urusan kita, jika ikut difikirkan bisa sakit pusing dan emosi (oiya, kabarnya dua hal tersebut masuk gejala COVID-19).

Beberapa tradisi, seperti India, mengatakan beberapa tahun ke depan masuk kategori tahun Syiwa yang bercirikan penuh godaan untuk berbuat jahat. Balasan untuk kejahatan pun disebutkan berlipat-lipat dari tahun biasa. Entah tahun apapun jenisnya, ya jangan sampai berbuat jahat. Ada baiknya mengikuti nasehat Ranggawarsita untuk jangan ikutan edan. Sebenarnya logis, ucapan sederhana yang menyinggung saat ini, dalam kondisi semua orang sedang susah, rasa yang diterima oleh orang yang tersinggung terasa beberapa kali lipat lebih menyakitkan dari kondisi normal. Nah, kabar baiknya, jika kita berbuat kebaikan walau sedikit, bagi orang yang menerima sangat terasa dampaknya. Terkadang hal-hal sederhana, seperti menjawab pertanyaan dari siswa lewat WA atau email, terasa sangat berarti bagi mereka yang kebingungan dibanding dalam kondisi normal. Terkadang ada pula komplain pedas oleh mahasiswa, BAHKAN DENGAN TULISAN HURUF BESAR SEMUA SEPERTI INI, sikapi saja dengan sabar, dan minta maaf saja jika ada salah, selesai sudah. Terkadang jika saya bayangkan di posisi mereka, di kondisi online seperti ini memang ilmu yang diberikan kurang optimal, khususnya materi-materi praktik.

Mungkin itu saja pandangan pribadi saya, mungkin pembaca ada lainnya. Dua hal yang dibahas di atas, Sabar dan Syukur, merupakan dua hal yang menurut Imam Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumiddin” seperti dua sisi mata uang. Sekian, semoga bisa menjadi inspirasi.

Belajar Pengolahan Citra dari Sumber-Sumber di Internet

Mempelajari hal-hal baru, tidak hanya pengolahan citra, dapat dilakukan dengan memanfaatkan internet. Terlebih ketika kondisi pandemik seperti saat ini dimana perkuliahan dilaksanakan secara daring. Praktikum yang biasanya dilaksanakan secara offline di laboratorium, terpaksa memanfaatkan fasilitas pribadi milik mahasiswa, yakni laptop yang dilaksanakan secara online. Untungnya, salah satu bahasa pemrograman, yakni Python, diadposi oleh Google dengan meluncurkan aplikasi onlinenya untuk pemrograman, yakni Google Colab (silahkan lihat infonya di sini).

Semenjak kemunculannya, banyak peneliti, kampus, dan pemerhati artificial intelligent membagi kodingannya via Google Colab. Dengan menggunakan kata kunci: “Google Colab” <topik>, kita dapat menemukan sumber informasi yang diinginkan. Kalau pun tidak berupa link Google Colab, biasanya dalam situsnya disertakan juga link Google Colabnya. Nah, di situlah kita bisa belajar hal-hal yang terkait dengan teknologi yang kita inginkan.

Ada juga kontroversi terkait dengan belajar instan lewat internet, salah satunya adalah masalah ilmu dasar yang kurang diperhatikan mengingat biasanya hanya untuk aplikasi-aplikasi siap pakai saja. Menurut saya wajar, karena memang kaum milenial memiliki karakter “instant” yang harus dipenuhi oleh pengajar. Sebenarnya cukup membalik dari teori dan aplikasi menjadi aplikasi dan teori sudah mampu menarik minat mereka. Kalaupun ingin menerapkan teori dulu baru aplikasi, sebaiknya jangan terlalu panjang jedanya, syukur-syukur di pertemuan yang sama.

Beberapa dosen tidak menganjurkan menggunakan bahasa pemrograman dalam bentuk paket atau library-library seperti misalnya OpenCV untuk pengolahan citra. Alasannya tidak mendidik mahasiswa memahami dasar-dasar ilmu pengolahan citra. Mereka cenderung menggunakan Bahasa C++ dalam perkuliahan. Menurut saya baik, tetapi untuk mengejar ketertinggalan teknologi dengan negara-negara lain ada baiknya mengikuti trend teknologi terkini, apalagi jika mahasiswa ingin bekerja pada vendor/perusahaan yang memang cenderung menerapkan teknologi terkini baik dari bahasa, library, dan tools lainnya. Pembuat library pun menyediakan dasar-dasar ilmunya yang dapat diakses di situs resminya, misalnya OpenCV di link https://opencv.org/ atau pada dokumentasinya di sini, seperti contoh filter 2d dibahas pula dasar-dasar teorinya.

Tentu saja kita harus membaca buku teks standar pengolahan citra atau dasar-dasar matematika seperti kernel, matriks, dan lain-lain. Jika di era 90-an kita belajar ilmu dasar tanpa melihat langsung penerapannya, saat ini siswa lebih mudah melihat langsung penerapan ilmu dasar yang diajarkannya. Silahkan lihat video berikut untuk mengakses topik tertentu di Google Colab.

Mengetahui Kekuatan Kita

Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sangat sulit karena menyangkut sesuatu yang sulit diukur. Namun demikian tetap harus diketahui karena terkait dengan tujuan jangka panjang. Bagi peneliti adalah roadmap penelitian, atau bagi mahasiswa berupa proposal penelitian yang akan disusun. Postingan kali ini sedikit berbagi apa saja yang harus diperhatikan dalam memahami kekuatan kita.

Meningkatkan Kekuatan vs Mengurangi Kelemahan

Namanya manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan. Untuk pelajar yang masih fresh, baik meningkatkan kekuatan dan mengurangi kelemahan dua-duanya penting dan menjadi fokus utama, walau ketika beranjak dewasa terkadang di negara maju sudah mulai fokus meningkatkan bakat yang ada, apakah sepak bola, tenis, peneliti atau penyanyi, pelukis dan spesialis-spesialis lainnya. Nah, untuk dosen-dosen seusia saya jika fokus mengurangi kelemahan, dikhawatirkan tidak ada waktu tersisa untuk meningkatkan kekuatan yang dimiliki.

Dalam suatu organisasi, misalnya kampus terkadang pimpinan tidak mampu mengumpulkan pundi-pundi kekuatan dari SDM yang ada. Bahkan dalam perputaran organisasi, para staf cenderung melihat kelemahan yang memang mudah dilihat, sementara kelebihan-kelebihan kurang di-ekspos. Saling menjatuhkan, intrik-intrik politik dalam satu organisasi terkadang lupa bahwa seharusnyalah bersaing dengan organisasi lain yang terus berbenah, apalagi di era disrupsi dan pandemi COVID-19. Hal ini terkadang lumrah dijumpai, kita cenderung kurang menghargai prestasi bangsa sendiri, terlepas dari sukses atau gagal. Di Jepang, pesumo walaupun kalah tetap dihormati dan mendapat bayaran yang tinggi. Untuk yang dekat dengan Indonesia, misalnya Thailand dan Malaysia, mereka sangat menghormati atlit-atlit yang membela bangsanya. Tampak yel-yel “don’t be sad, its ok” bergemuruh dari suporternya ketika Malaysia kalah di final memanah dengan Indonesia. Atlit-atlit Thailand, misalnya, disambut di bandara oleh para penggemarnya menang atau kalah. Untungnya saat ini negara kita mulai menghargai atlit-atlitnya yang berprestasi.

Jebakan “Iklan”

Iklan di sini maksudnya hal-hal yang menarik perhatian saat ini. Misalnya, ketika tren “machine learning”, semua pada fokus ke machine learning, tidak perduli cocok atau tidak, perlu atau tidak. Bahkan ada anekdot yang ditujukan orang yang baru belajar machine learning yang nyinyir dengan rekannya yang belajar statistik atau matematika.

Saya teringat rekan saya yang jago di satu bidang, tetapi karena godaan bidang lain akhirnya meninggalkan bidang yang dikuasainya dan beralih ke bidang baru yang lebih diminati walau dari nol lagi. Hal ini terkadang wajar, dan mirip “jebakan batman”. Ibarat anak yang sudah jago satu hal, terkadang jika tidak ada lawan sebanding akan bosan juga. Merasa keahliannya yang sebenarnya sudah tinggi, dianggap olehnya biasa-biasa saja, sehingga bosan dan berusaha mencari bidang lain yang menurutnya lebih menarik. Bayangkan, misalnya Anda menguasai Java, jika orang lain sanggup menyelesaikan satu problem dalam satu minggu, Anda sanggup mengerjakannya beberapa jam saja, maka itulah kekuatan Anda yang sebenarnya. Tapi karena bosan Anda beralih misalnya ke Python, dan Anda mengerjakan satu problem selama satu minggu, padahal orang-orang bisa dalam beberapa jam saja. Anda tidak akan dilirik orang.

Terlalu Asyik Mengerjakan Rutinitas

Beberapa rekan saya, karena asyik menjalankan rutinitas jadi kurang meningkatkan kekuatannya. Dalam satu seminar internasional, saya kebetulan satu meja makan dengan mereka. Kebetulan mereka ibu-ibu yang saya faham banyak kegiatan rumah tangga yang menyita. Saya dengan jujur berkata bahwa kalian sadar atau tidak kalau kualitas di atas rekan-rekan lain yang baru. Mereka malah tersenyum, dan mengatakan kalau saya hanya memuji. Saya malah balas berkata bahwa apa untungnya bagi saya mengatakan demikian. Eh, tidak lama kemudian mereka terkejut ketika namanya disebutkan di forum sebagai salah satu “best paper”.

Nah, bagaimana dengan kelemahan? Tentu saja harus diatasi dan dikurangi, terutama yang mengganggu jalannya kinerja. Namun jika susah, ya fokus saja ke kelebihan/kekuatan. Tidak mungkin memaksa menjadi penulis buku jika lambat mengetik, atau menjadi motivator tetapi sulit pidato. Mungkin cocok di laboratorium, atau selalu menang hibah. Kolaborasi saat ini menjadi satu keharusan. Satu kelemahan bisa diisi oleh kelebihan rekan kita. Dalam pembukaan rakornas asosiasi perguruan tinggi infokom (APTIKOM), ketua aptikom menganjurkan kita fokus ke kekuatan yang ada di kita sekarang daripada menunggu yang tidak/belum ada. Yuk, kita mulai fokus ke kekuatan kita dan berkolaborasi.

Problematika Kuliah Pemrograman

Salah satu skill yang harus dimiliki oleh mahasiswa jurusan yang berhubungan dengan komputasi (ilmu komputer, sistem informasi, sistem komputer, dll) adalah pemrograman. Saat ini bahasa pemrograman yang beredar sangat beragam, dari yang berbasis desktop, web, android/ios, hingga IoT. Tentu saja tidak semua bahasa harus dikuasai oleh mahasiswa komputer. Beberapa buku teks menggunakan konsep pseudocode yang mirip program tetapi dengan bahasa yang dimengerti manusia dan bebas platform bahasa pemrograman. Namun demikian diharapkan mahasiswa mengerti minimal satu bahasa pemrograman dan menguasainya.

Bahasa pemrograman pun banyak tipenya, dari yang berfungsi alat bantu komputasi teknis, program bisnis, statistik, game, hingga mesin pembelajaran dan deep learning. Banyak style yang diterapkan dalam pembelajaran memrogram ini. Hal ini berkaitan dengan maksud dan tujuan pembelajaran pemrograman itu sendiri.

Pemilihan Bahasa Pemrograman

Beberapa dosen senior kebanyakan mengajarkan bahasa C++ sebagai bahasa utama belajar pemrograman. Wajar, bahasa ini sangat ampuh, cepat, dan merupakan bahasa pembentuk bahasa pemrograman lain, bahkan untuk membuat satu sistem operasi. Beberapa dosen yang agak muda menyarankan Java karena bahasa ini banyak digunakan dalam industri. Bahasa ini juga pembentuk bahasa pemrograman lain, misalnya untuk piranti mobile. Saat ini, Python merupakan bahasa yang paling banyak digunakan karena selain ringan, cepat, dan praktis, bahasa ini cocok untuk bidang yang saat ini sedang “in” yakni deep learning.

Style Pengajaran

Beberapa dosen sangat ketat dalam mengajarkan dalam artian, siswa harus mampu memrogram dengan bahasa yang murni. Ciri dosen ini adalah mengharamkan bahasa pemrograman yang sudah memiliki module atau toolbox yang berisi fungsi tertentu. Misal, alih-alih menggunakan fungsi, misalnya average utk rata-rata, mahasiswa diharuskan membuat formula perhitungan rerata sendiri. Jika siswa mampu mengikuti perkuliahan ini, dipastikan mampu berfikir logis. Namun ketika lulus harus cepat beradaptasi dengan bahasa-bahasa baru yang digunakan industri. Dosen dengan style ini sangat mengharamkan Matlab maupun OpenCV dalam pembelajaran. Saya sendiri sempat mempraktikan metode ini hanya untuk materi dasar seperti algoritma dan pemrograman. Itu pun mahasiswa agak kesulitan.

Dosen-dosen generasi 2000-an kebanyakan saat ini menggunakan bahasa Python. Saat ini Google mempermudah orang belajar Python karena menyediakan fasilitas “Google Colab”, yaitu pemrograman via browser. Mahasiswa tidak perlu menginstal Python, tinggal langsung mengetik http://colab.research.google.com maka langsung terhubung ke Google Colab. Bahkan Google menggratiskan GPU-nya untuk digunakan. Mungkin dosen-dosen senior agak keberatan karena dalam Python banyak fungsi-fungsi “instan” yang tidak mendidik para mahasiswa dalam memrogram tetapi dari diskusi-diskusi sesama pengguna banyak informasi-informasi mengenai struktur logika suatu fungsi tertentu. Pembuat fungsi/library pun menyediakan kode sumber yang dapat dilihat di situs resminya. Selain itu, sumber file dapat dilihat isinya misalnya salah satu fungsi m-file dalam Matlab yang bisa dilihat kode sumbernya. Tentu saja jika siswa diharuskan membuat dari “nol” agak berat, khususnya materi-materi yang melibatkan banyak komputasi seperti model-model deep learning. Ada baiknya mengikut perkuliahan Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang mengharuskan mahasiswa memahami struktrur program yang dia ketik. Tentu saja fungsi-fungsi tertentu seperti rata-rata, standar deviasi, dan sejenisnya dianggap siswa sudah memahaminya, terkadang tidak perlu mengkode ulang.

Share Kode (Github, Google Colab, dll)

Saat ini siswa mudah sekali mempelajari satu metode karena sudah banyak yang men-share kode sumber yang merupakan proyek risetnya. Termasuk buku-buku teks pun ikut juga men-share kode2nya, sekaligus promosi buku yang dijualnya. Kode-kode tersebut sangat membantu memahami konsep-konsep dasar komputasi, machine learning, data mining, dan sejenisnya karena langsung terlihat nyata. Hanya saja beberapa problem harus diselesaikan terkait kompatibilitas versi bahasa pemrograman, misalnya Google Colab yang menggunakan versi terkini Python dan library-library nya, seperti diskusi berikut ini.

Mencari Sumber Inspirasi

Saat ini sumber informasi tersedia bebas di internet. Beberapa peneliti dengan semangat berbagi yang tinggi kerap men-share kerjaannya baik lewat blog, github, google colab, dan aplikasi-aplikasi berbagi lainnya. Terkadang video pembelajaran bisa dilihat secara gratis di Youtube dengan kualitas yang jauh lebih baik dari dosen/guru pengajar di kelas. Apakah fenomena ini akan merubah peta pendidikan di dunia, mirip fenomena disrupsi yang saat ini masuk ke bidang ekonomi ditandai dengan tergusurnya bisnis konvensional dengan bisnis berbasis industri 4.0 dengan internet of thins-nya. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Apakah kita bisa berguru dengan sumber informasi seperti buku, ebook, website, google, dan sebagainya? Jawabnya tentu saja bisa. Karena entah itu guru atau murid tetap membutuhkan sumber informasi tersebut. Nah, kalau begitu apa gunanya institusi pendidikan? Untuk menjawabnya, paling gampang adalah mengevaluasi diri sendiri.

Tidak ada yang menyangkal bahwa manusia dari bayi hingga dewasa memiliki kemampuan meniru yang tinggi. Bahkan Jepang yang terkenal pencipta alat-alat teknik, menerapkan prinsip tiru dan modifikasi. Apa yang ditiru oleh bayi atau anak kecil? Tentu saja bukan bacaan, apalagi browsing di internet. Mereka lebih suka melihat langsung, berinteraksi, dan berbaur untuk melakukan peng-copy-an. Salah satu contoh menarik adalah akademi balap yang dibentuk oleh Valentino Rossi. Entah belajar teknik mengajar dari siapa, Rossi bisa menghasilkan pembalap-pembalap kelas dunia, salah satunya F. Morbidelli yang minggu lalu menjuarai seri Aragon 2020. Dengan sederhana, dari wawancara, dia menjelaskan apa yang diperoleh dari akademi balap milik Rossi tersebut. Dia mengatakan sebagian besar ilmu yang diperoleh dari Rossi adalah bukan dari wejangan dia di kelas, melainkan dari interaksi dengan sang legenda balap tersebut, dari bagaimana dia bersikap ketika ada masalah, bagaimana menjaga semangat juang, dan lain-lain yang tidak bisa diperoleh hanya dari video, apalagi tulisan.

Boleh saja e-learning menggantikan peran dosen pengajar, tetapi ada keinginan dari siswa untuk mempelajari sesuatu dari sumber inspirasi, yang tidak lain adalah pengajar dan jajarannya, termasuk instruktur di laboratorium. Terlebih jika siswa tersebut dikirim belajar ke negara lain untuk lebih banyak memperoleh pengalaman agar bisa diterapkan di negaranya. Jepang sebelum perang dunia 2 banyak mengirim anak-anak mudanya mempelajari ilmu permesinan di Jerman hingga akhirnya mampu memproduksi perlengkapan tempur baik senjata, mobil, pesawat dan kapal lautnya. Pengalaman berharga saya ketika studi lanjut dan bergabung dengan siswa-siswa dari negara lain adalah bahwa tidak ada yang layak untuk disombongkan, semua harus belajar. Uniknya, dosen selalu dihormati, tidak seperti di negara kita belakangan ini. Beberapa hari yang lalu saya menjenguk rekan saya yang dulunya dosen di tempat saya mengajar. Sebelum keluar, beberapa tahun yang lalu, para mahasiswa mendemo dengan alasan sepele, bahkan aksinya hingga memecahkan kaca jendela kelas. Saya pun pernah, bahkan sempat salah satunya orasi di depan kelas saat saya mengajar, yang traumanya lumayan, sampai-sampai hingga saat ini saya tidak lagi mau mengajar mahasiswa dari fakultas bernuansa agama itu. Waktu itu saya pos materinya di sini, dengan harapan beberapa tahun kemudian siapa tahu mereka melihat lagi materinya dan bermanfaat ketika sedang mengerjakan skripsi. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Paket Lengkap Praktikum: Google Colab, Gmail, Classroom

Mahasiswa angkatan saya ketika praktikum, rutinitasnya adalah bawa buku catatan, menuju ruang lab, mendengarkan arahan asisten dosen, mempraktekan materi yang diajarkan lalu kalau ada tugas dikumpulkan dan pulang. Kalau tidak bisa terkadang nanya teman-teman sebelum ke instruktur. Kampus menyediakan sarana prasarana berupa komputer, LCD proyektor, whiteboard, dan ruang ber AC.

Waktu terus berjalan hingga perkembangan teknologi yang cepat membuat beberapa kampus hanya menyediakan ruangan saja karena mahasiswa sudah memiliki laptop. Tentu saja perlu instalasi program yang akan dilatih. Untuk praktik pemrograman, yang sering diinstal adalah netbeans untuk java, php-mysql untuk web, dan android studio untuk mobile. Nah, untuk machine learning dan kawan-kawan, Python masih menjadi bahasa utama.

Google

Salah satu website no.1 di dunia adalah Google. Situs ini selain berfungsi sebagai mesin pencari ternyata memiliki fasilitas-fasilitas penting lainnya seperti email, penyimpanan, pengetikan, e-learning, pemrograman, online meeting, dan lain-lain. Jadi seluruh paket yang ada bisa dimanfaatkan baik yang berbayar maupun yang gratis.

Google Classroom

Ini merupakan senjata ampuh dosen yang di kampusnya tidak memiliki fasilitas e-learning. Tinggal login dengan Gmail, langsung bisa membuka kelas baru (untuk dosen) atau mengikuti kelas (untuk mahasiswa).

Google Colab

Ini merupakan fasilitas baru yang disediakan oleh Google untuk pemrograman secara interaktif. Bahasa yang dipilih adalah Python dengan versi Jupyter Notebook-nya. Selain menyediakan software, Google Colab juga menyediakan fasilitas GPU-nya yang powerful, cocok untuk rekan-rekan yang meramu Deep Learning.

Integrasi E-Learning dan Praktik

Untuk memberikan nilai, ternyata e-learning pada Google Classroom sudah menyediakan fasilitas-fasilitas seperti link Youtube, blog, dan yang terpenting untuk praktikum adalah link Google Colab untuk mengecek code yang dibuat mahasiswa. Bukan hanya berupa “capture-an” yang bisa diedit, di sini bisa dijalankan langsung oleh dosen penguji apakah programnya berjalan dengan baik atau masih ada error di sana sini. Sekian, siapa tahu bisa ikut mempraktekan.

Memantau Kinerja Dosen Lewat Asesor Serdos

Tak terasa sudah lebih dari setahun menjadi asesor sertifikasi dosen sejak pertama kali diajukan oleh universitas (lihat syarat-syarat menjadi asesor pada postingan yang lalu). Banyaknya asesor yang pensiun menuntut penambahan jumlah asesor serdos. Asesor serdos sangat diperlukan guna mengontrol validitas aliran tunjangan serdos. Praktiknya, antara satu LLDIKTI dengan LLDIKTI wilayah lainnya berbeda. Misalnya, LLDIKTI 4 sudah menggunakan konsep online, yang ternyata sangat cocok untuk kondisi pandemi seperti saat ini. LLDIKTI 3 baru memulai online, namun seperti halnya LLDIKTI 4 dahulu ketika memulai online, pasti banyak kendala-kendala yang dihadapi.

BKD Online LLDIKTI 4

LLDIKTI 4 sangat baik dalam menerapkan BKD dan LKD online (https://bkd.lldikti4.or.id/). Sangat baik di sini mampu menjabarkan alur sistem informasinya yang terdiri dari:

  • Dosen mengajukan kontrak BKD, validasi oleh kepala departemen
  • Dosen membuat laporan BKD, validasi oleh dua asesor serdos

Di sini terlibat tiga akun, yaitu akun dosen yang sudah serdos, akun asesor, dan akun kepala depertemen (ketua jurusan atau dekan). Selain itu kontrak BKD untuk semester yang akan dijalani, ketika semester berakhir secara otomatis menjadi laporan BKD dengan sedikit editing ketika ada perbedaan antara rencana (kontrak) dengan implementasinya.

BKD online tidak memerlukan tanda-tangan langsung oleh baik asesor maupun kepala departemen. Persetujuan tinggal meng-klik “approve” saja. Dan yang menurut saya cukup membantu adalah, asesor dapat melihat bukti kinerja yang diunggah oleh dosen yang mengajukan. Sangat efisien dan tidak terkendala dengan jarak dan waktu. Hanya saja di sini, LLDIKTI 4 menyarankan untuk asesor mengenal langsung dosen yang diasesori, dan menggunakan aplikasi tersebut untuk mempermudah saja.

BKD Online LLDIKTI 3

Karena berdekatan dengan LLDIKTI 3 maka beberapa dosen dari LLDIKTI 3 menunjuk asesor dari LLDIKTI 4. Nah, di sini ada sedikit perbedaan yang mencolok, terutama mengenai proses persetujuan. Di LLDIKTI 3 yang selama ini menggunakan aplikasi berbasis MS Access, kini diganti dengan online (https://bkd-lldikti3.kemdikbud.go.id/).

Beberapa kendala masih ada, seperti data yang diinput tidak tercetak. Mungkin di versi berikutnya akan diperbaiki seperti yang terjadi pada LLDIKTI 4 yang terus memperbaiki. LLDIKTI 3 prosesnya lebih sederhana:

  • Dosen mengisi laporan BKD dan memilih asesor yang ada di daftar
  • Dosen mencetak laporan BKD dan meminta tanda-tangan asesor yang dipilih
  • Dosen mengupload scan laporan BKD yang sudah dibubuhi tanda tangan

Seperti biasa, sebuah materai 6000 diperlukan pada kolom tanda tangan dosen yang mengajukan laporan BKD, berbeda dengan LLDIKTI 4 yang tidak memerlukan materai. Proses persetujuan tampak masih manual, dengan tanda tangan, sebelum diunggah. Namun ada satu keunggulan dibanding menggunakan MS Access yaitu karakteristiknya yang terintegrasi. Ketika ada asesor baru, bagian BKD online tinggal menambahkan asesor tersebut dalam list dan tidak perlu men-share MS Access yang berakibat ada kemungkinan ketidakseragaman karena dosen masih menggunakan versi yang lama.

Melihat Kinerja Dosen via BKD Online

Menjadi asesor mau tidak mau membaca berkas laporan kinerja. Dari situ bisa menilai kinerja-kinerja dosen yang ada, apakah serius atau hanya sekedar menjalankan kewajiban agar tunjangan serdos cair. Terkadang saya kagum dengan dosen yang dalam diam dan santainya ternyata memiliki output dan outcome yang di atas rata-rata. Nah, untuk dosen yang pasif ada baiknya kepala departemen mengecek kontrak BKD dosen di bawah departemennya apakah sudah baik atau sekedar “gugur tugas” saja. Terkadang kagum juga dengan mereka yang bisa mempublikasikan ke jurnal-jurnal yang berkualitas, terlihat dari laporan kinerja (LKD). Bahkan tidak jarang saya ikut membaca karena dapat dilihat dari berkas-berkas yang diunggah.

Kita dan Dagangan Kita

Beberapa hari yang lalu ada pelantikan dekan di kampus tempat istri bekerja. Seperti biasa, umumnya pengangkatan penjabat diwarnai dengan suka, tidak suka, setuju, tidak setuju dan lain-lain, terutama dari kubu-kubu yang calonnya gagal. Mirip dengan drama pilpres di tanah air. Namun terlepas dari itu semua, sebaiknya tidak mempengaruhi kinerja personil dalam institusi tersebut. Kata dagangan di sini hanya kiasan saja, tidak berarti merendahkan apapun profesi kita.

Organisasi pasti ada yang memiliki, entah perorangan ataupun organisasi. Pemilik ini tentu saja ingin organisasi yang dimilikinya maju, berkembang, diakui di masyarakat, dan menghasilkan keuntungan yang tidak hanya sesaat tetapi bisa terus menerus (sustainable) sesuai dengan visi dan misinya. Pegawai yang bekerja di sisi lain berperan menjalankan fungsinya sesuai dengan standar operasional yang sudah didefinisikan dalam peraturan internal kepegawaian.

Entah apapun jenis organisasi, baik yang real maupun jasa, karyawan yang bekerja di perusahaan itu sebenarnya menawarkan jasanya kepada perusahaan. Seorang staf tata usaha menawarkan kemampuannya mengelola administrasi, seorang dosen yang menawarkan keahliannya mengajar dan mengelola kelas, jabatan tertentu seperti ketua program studi, dekan, hingga rektor pun tidak jauh berbeda. Tinggal bagaimana caranya seorang pegawai meningkatkan skill dan keahliannya sesuai dengan bidang spesialisasinya.

Ketika bekerja, dicatat atau tidak sebenarnya ada rekaman terhadap kinerja kita. Mirip rapor tidak tertulis. Terkadang pengalaman pekerjaan sebelumnya menjadi bahan penilaian untuk pekerjaan di perusahaan yang baru, atau untuk naik ke level jabatan di atasnya. Jadi apapun posisi kita dan tugas kita saat ini sebenarnya hasilnya tidak hanya dihargai dengan gaji tapi rekaman yang akan dilihat oleh pihak yang memperkerjakan kita nanti.

Bagaimana jika kita sudah bekerja setengah mati tetapi tidak berhasil juga diangkat? Mengajar bertahun-tahun tapi tidak pernah diminta menjadi pejabat, seperti kepala lab, sekretaris jurusan, atau ketua jurusan. Sederhana saja, sesuai judul saya di atas, sesunggunya kita memiliki satu dagangan yang kita tawarkan oleh orang yang mempeperjakan kita. Ketika proses seleksi untuk promosi, secara sederhana kita sesungguhnya hanya menawarkan barang dagangan kita yang berupa beberapa keahlian tertentu. Tidak perlu berkecil hati jika tidak dipilih, ibarat menawarkan barang, konsumen tentu saja bebas memilih barang yang diinginkan. Terkadang konsumen memilih hal-hal tertentu yang diinginkan, misalnya untuk pimpinan di kampus yaitu kemampuan mengelola departemen, memiliki kemampuan riset yang tinggi dan sebagainya. Atau tidak dipilih mungkin karena justru calon tersebut memiliki kemampuan di atas level yang ditawarkan. Jika kita sadar hal ini, tidak akan ada yang sakit hati, konspirasi untuk menjatuhkan, dan hal-hal negatif lainnya yang mengganggu roda organisasi yang seharusnya bertarung dengan organisasi pesaing tetapi malah ribut sendiri di dalam.

Jika pemimpin menyadari hal ini maka disadari atau tidak, akan mengumpulkan pundi-pundi kekuatan tim-nya agar berdaya saing tinggi, bukannya fokus ke kelemahan dan kejelekannya. Siapa yang tidak mengenal kualitas Lionel Messi di Barcelona. Dagangan yang ditawarkannya sangat menggiurkan klub-klub eropa lainnya ketika dia sudah merasa dagangannya tidak dihargai dan menawarkan ke klub-klub lain. Sekian, semoga bisa menghibur.

Jadi Pembicara Sekaligus Reuni

Beberapa minggu yang lalu, kampus tempat saya mengambil pascasarjana mengundang saya menjadi pembicara mengenai tips untuk studi lanjut agar lancar dan hari ini jam 09.00 – 12.00 WIB acara berlangsung. Acara tersebut cukup bermanfaat terutama bagi rekan-rekan yang sedang studi lanjut, khususnya pascasarjana. Hadir pula tamu khusus bapak Dr. Sunu Wibirama, M.Eng yang memang sering membahas bagaimana melakukan riset dan menulis jurnal yang baik. Satu lagi yang hadir adalah rekan kuliah saya yang dulu, Taqwa Hariguna, PhD yang membicarakan aspek non-kognitif yang dapat membantu kelancaran studi lanjut. Berikut ini kira-kira ringkasan yang dibahas oleh para narasumber.

Mas Sunu

Satu hal penting yang dibahas oleh mas Sunu adalah apa saja tips yang harus dilaksanakan agar studi lanjut berjalan dengan baik, dari penjadwalan hingga bagaimana mengatur ponsel kita agar tidak mengganggu aktivitas riset/penelitian. Sebelumnya dibahas pula tipe-tipe fokus pada riset dari improvement metode, penerapan untuk memecahkan masalah, dan aspek-aspek lainnya. Yang penting adalah ada hal-hal baru yang berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

Rahmadya

Saya membahas aspek-aspek non-teknis, terutama bagaimana tetap fokus dan termotivasi selama kuliah, dari evaluasi diri dalam menentukan konsentrasi, menemukan sosok figur lewat asistensi, proyek, seminar, dan aktivitas keilmuan lain, juga dibahas apa saja yang dipersiapkan jika ingin lanjut ke studi doktoral.

Pa Taqwa

Rekan seangkatan saya di S2 ini banyak membahas bagaimana agar lolos ketika apply studi lanjut, termasuk memperoleh beasiswa yang tidak hanya uang kuliah dan uang hidup, yaitu bantuan disertasi dari LPDP. Dijelaskan juga bagaimana caranya agar lulus cepat (kurang dari 3 tahun).

Sesi tanya jawab tak kalah menarik, terutama pertanyaan-pertanyaan mengenai multi disiplin dan mahasiswa yang berasal dari non-komputer dalam risetnya. Link youtube berikut ini mungkin bisa dilihat jika ada waktu luang. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Menyelesaikan Masalah ala Orang IT

Penelitian dalam bahasa Inggris adalah research yang berasal dari kata search yang artinya mencari. Kata “re” di depannya berarti mengulang kembali. Sehingga dapat diartikan mencari kembali. Jadi memang pada prinsipnya tidak ada yang diciptakan oleh manusia melainkan hanya menemukan sesuatu yang memang dari dahulu kala sudah ada di alam. Yang kita ciptakan hanya memanfaatkan fenomena-fenomena yang disediakan alam.

Sebagian Besar Sudah Ada Jawaban

Pertanyaan-pertanyaan yang kita jumpai merupakan bahan bakar utama dari penelitian yang tujuannya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebagian besar pertanyaan sudah ada jawabannya baik dari buku, jurnal, dan lain-lain yang tersedia di internet. Nah, untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya hingga saat ini maka pertanyaan tersebut bisa dikatakan pertanyaan penelitian asal jawabannya nanti berkontribusi terhadap suatu cabang ilmu, baik ilmu murni maupun terapan.

Internet dan Forum Diskusi

Kita sering mendengar slogan “tanya saja mbah Google”. Hal ini terjadi karena kemampuan Google menemukan jawaban dari kata kunci yang kita berikan di situs no. 1 paling banyak dilihat tersebut. Ada bagusnya, walau terkadang membuat kita malas mengingat-ingat sesuatu. Misal kita ingin mengetahui bagaimana me-remove kata-kata yang ada dari hasil scrapping Twitter.

“[‘Yesterday I had the honour of speaking about the #Free struggle at the #BlackLivesMatter rally in… https://t.co/DLKQInfsCT’]”,

Tampak ada simbol-simbol seperti URL, kurung kotak dan sejenisnya yang mengganggu proses Text Mining. Bagaimana cara memperoleh informasi tips dan trik membersihkan hasil scrapping tersebut? Mudah saja, ketikan saja kata kunci yang menggambarkan keinginan kita, sebaiknya gunakan bahasa Inggris agar banyak yang diperoleh.

Saya menggunakan kata kunci “erase tags python” dan muncul beberapa hasil. Yang teratas untuk coding biasanya situs “stackoverflow.com” yang memang berisi diskusi-diskusi tentang pengkodean untuk berbagai bahasa pemrograman.

Pertanyaan-pertanyaan Lain Muncul Kemudian

Banyak jawaban-jawaban yang diberikan belum sesuai dengan keinginan. Terkadang perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan lainnya. Misalnya ketika dicoba saran dari situs diskusi tersebut tidak cocok dengan kasus kita.

Ternyata dengan mengetik TypeError di atas di mesin Google, banyak sekali jawaban-jawaban yang muncul. Tapi sebenarnya kode di atas jalan asal variable “text” berformat string, ketika berasal dari file CSV oleh Python dianggap object. Jadi sebagian menyarankan mengkonversi variabel “text” menjadi string terlebih dahulu. Barulah setelah itu, kode di atas dapat berjalan normal. Perhatikan hasil uji tipe data yang tadinya ‘numpy.ndarray’ menjadi ‘str’ yang berarti string.

Saling Berbagi

Tentu ketika kita memiliki pertanyaan pasti mengharapkan adanya jawaban. Nah, orang yang punya hati pasti tidak merasa pelit untuk berbagi karena kesuksesan tidak lepas dari kontribusi pihak-pihak yang membantu menjawabnya. Oleh karena itu luangkan sedikit waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang yang membutuhkan jawaban. Saya teringat pernah bertemu dengan pemilik salah satu penerbit buku, dia meminta saya naskah buku yang ingin dia cetak. Kata-katanya sederhana, “untuk bantu anak-anak kita Pa”. Walau terlihat sederhana, ada muatan nasionalisme di sana, dibanding hanya mengagung-agungkan buku luar negeri yang “wah”, tapi banyak buku-buku saya yang dibutuhkan di belahan timur sana agar cepat mengejar ketertinggalannya dari wilayah barat. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Ketua Program Studi

Perguruan tinggi swasta, apalagi swasta yang tidak berasal dari organisasi besar, memiliki masalah yang berbeda dengan perguruan tinggi negeri/swasta besar dimana sudah mapan ditambah lagi dukungan finansial baik dari pemerintah maupun lembaga lainnya. Mungkin banyak yang belum tahu kondisi prodi di kampus swasta yang merupakan mayoritas di Indonesia namun kebanyakan “terasa tapi tak terdengar”. Poin-poin dalam postingan ini siapa tahu bermanfaat dan menjadi gambaran kerjaan ketua prodi di luar SOP resminya.

Umpan Balik

Sebagai seseorang yang sempat mengalami ditolak bekerja di mana-mana, saya tentu saja senang ketika ditunjuk atau disuruh mengerjakan sesuatu. Salah satunya memimpin sebuah program studi. Mungkin seperti mayoritas prodi-prodi di kampus swasta, terkadang kerjaannya mirip musisi “organ tunggal”, alias apa saja dilakoni, dari drum keyboard, bas, gitar, bahkan terpaksa sambil nyanyi. Umpan balik merupakan satu-satunya andalan karena dapat menjadi alat agar melangkah sesuai dengan visi-misi, walau terkadang jalannya agak sempoyongan (apalagi saat COVID-19 saat tulisan ini dibuat).

Umpan balik terkadang menyakitkan, minimal bikin “gerah”. Ketika kelas 5 SD saya ditunjuk ikut lomba lari tapi disuruh juga oleh guru lain lomba keagamaan. Setelah saya pertimbangkan, saya pilih yang kedua. Keesokannya ketika bertemu teman, dia mengatakan bahwa guru olah raga agak kecewa dengan saya yg tidak bersedia ikut lomba lari, di depan kelas (saya tidak ada di kelas krn ikut lomba) katanya saya terlalu “letoy”. Walau tensi naik, tetapi itu tetaplah informasi berharga bagi saya, sebagai umpan balik utk memutuskan beralih ke bidang yang sesuai dengan bakat saya.

Saking pentingnya umpan balik, saat ini akreditasi kampus tidak perlu dijalankan tiap kurun waktu tertentu kecuali atas permintaan kampus itu sendiri dan jika ada laporan dari masyarakat agar kampus tersebut di audit lewat mekanisma akreditasi dari pemerintah/asosiasi. Laporan di sini tentu saja dapat dikatakan umpan balik.

Mengenal Stakeholder

Terkadang sebal juga dengan statement mahasiswa yang memandang rendah dosen dengan alasan dia yang membayar gaji mereka lewat SPP. Pendidikan disamakan dengan “jual-beli”. Tetapi secara bisnis tidak dapat dipungkiri karena tanpa mahasiswa tidak ada uang untuk menghidupi pegawainya, pemerintah pun memberi tunjangan dengan syarat adanya “pengajaran” yang membutuhkan mahasiswa. Kecuali mungkin untuk kampus negeri dan dosennya berstatus PNS atau DPK PNS yang berada di kampus swasta.

Berbeda dengan dosen biasa yang sekedar mengajar dan membimbing mahasiswa, ketua program studi paling banyak berhubungan dengan stakeholder, salah satunya adalah orang-orang tua yang menitipkan anak-anaknya untuk kuliah. Ketika pertemuan dengan orang tua mahasiswa baru, ketua program studi-lah yang ditugasi. Melihat wajah-wajah yang penuh harap, tidak mungkin ketua program studi tidak memiliki ikatan batin dengan mereka. Tiap ada kasus, ketua prodi pasti menjadi tameng. Pasti ada beban di hati ketika orang tua siswa, apalagi keduanya (bapak dan ibu) menghadap dan menanyakan mengapa prestasi si anak “ancur-ancuran”. Banyak ucapan-ucapannya yang membuat hati saya ikut “ancur”, misalnya: ” si X kuliah di sini karena engkongnya memaksa kami agar X kuliah di sini”. Ada lagi anaknya yang hampir 8 tahun tidak lulus-lulus dan ketika saya tawarkan pindah orang tuanya yang datang menghadap mengatakan, “bukan masalah lulus saja, saya ingin anak saya lulus di sini seperti saya” (ternyata bapaknya alumni).

Visi Misi, Tujuan dan Sasaran

Visi misi dan sejenisnya biasanya dibuat ketika evaluasi diri. Harapannya agar proses (dari mahasiswa masuk hingga lulus) sesuai dengan tujuan pendidikan. Paling gampang penerapannya mengikut bentuk “north-star” metrik ala gojek. Misalnya ketika problem di prodi hasil akreditasi adalah masa studi yang lama (kebanyakan pada telat lulus) maka ketika ada “sesuatu” yang menghambat siswa cepat lulus, maka bagaimana caranya di “kepala” seluruh pihak yang terlibat di prodi mengeluarkan “sinyal warning”. Uniknya kebanyakan “sinyal warning” bukan dari pihak luar, melainkan internal kampus sendiri. Misalnya ketika proses pembelajaran sudah ok dan beberapa mahasiswa mulai menunjukan progres “lulus tepat waktu” tiba-tiba aturan dari atas membuat mereka “ngerem”.

Terkadang para kaprodi harus siap dituduh menyerang pihak rektorat, dianggap provokator ketika tidak sangup meredam aksi demo mereka, atau turun derajatnya karena menjadi master/doktor yang ribut dengan tata usaha ketika menghadapi birokrasi yang kurang sinkron dengan visi misi prodi (terkadang hal ini menjadi pertimbangan utk mencari “rumah baru”).

Keluarga Kedua

Ada yang mengatakan banyak pemimpin baik ditemui, tetapi pemimpin besar selalu loyal. Ini juga dapat menjadi sedikit bocoran untuk pemilik (owner) kampus dalam menentukan pemimpin kampusnya. Ciri khas mereka adalah menjadikan divisinya sebagai keluarga kedua. Kemana-mana selalu memakai bendera lembaga yang dipimpinnya. Seperti biasa, ributnya keluarga tidak seperti ribut antar suporter bola. Tidak sampai 3 hari (batas ribut dalam Islam), mereka akur lagi. Apalagi kalau selalu ada acara makan-makan/jalan-jalan. Sekian tulisan iseng ini, siapa tahu ada yang berminat jadi ketua program studi, dan semoga bermanfaat.

Makhluk Emosional yang Logis

Era industri 4.0 salah satu cirinya adalah penerapan Artificial Intelligence (AI) di segala bidang. AI merupakan teknik yang meniru kecerdasan manusia untuk diterapkan ke alat. Beberapa psikolog ternyata menyebutkan ada banyak kecerdasan, salah satunya adalah kecerdasan emosi (emotional intelligence).

Pembaca mungkin pernah merasakan sakit hati, marah, benci dan sejenisnya yang melibatkan emosi. Rasa nyerinya sepertinya tidak jauh berbeda dengan nyeri fisik. Bahkan sebagian ketika tidak sanggup mengatasinya melakukan bunuh diri. Tidak perduli orang secerdas Alat Turing pun tidak sanggup mengatasi hal itu. Di sisi lain, ada beberapa kejadian ketika mencegah dampak negatif dari stres dan depresi atau perilaku negatif lainnya dengan cara operasi, tetapi dampak negatifnya tidak jauh berbeda ketika otak emosinya dihilangkan. Walau kecerdasan tidak mengalami penurunan, tetapi tanpa emosi banyak hal-hal sepele yang mengganggu kerja karena tidak ada unsur emosi. Terkadang masalah sepele, seperti harus memilih warna, kehilangan penjepit kertas, dan tetek bengek lainnya bisa menghambat tugas utama.

Jika otak logis diibaratkan supir yang mengemudikan mobil, maka otak emosi adalah penumpangnya. Saya dan kita semua terkadang memiliki masalah tidak sinkronnya supir dengan penumpang. Supir terkadang mengetahui jalur tercepat, tetapi penumpang ingin menikmati keindahan jalan. Ketika kita melihat orang yang sedang marah-marah maka ada ketidaksinkronan antara logic dengan emosinya, ibarat penumpang yang kecewa diajak sopir melewati jalan yang tidak diinginkannya.

Walau logis ternyata otak logis tanpa panduan otak emosional terkesan bodoh. Okelah Anda hebat menghitung akar ratusan dengan cepat, tetapi otak emosi akan bertanya, kenapa mau saja disuruh orang menghitung itu? Silahkan searching di internet nasib orang tercedas di dunia, yang miris akhirnya memilih menjadi pegawai rendahan yang kerjanya rutinitas sederhana saja. Entah apapun agama kita, pasti diperintahkan untuk menyadari bahwa kita adalah makhluk logis yang memiliki aspek emosional.

Salah satu aspek penting dari otak emosional adalah “harapan” yang berasal dari keinginan dan cita-cita. Presiden pertama RI pernah mengatakan agar menggantungkan cita-cita setinggi langit karena bagi otak emosional konsep tersebut tidak terikat oleh waktu, dahulu, saat ini atau nanti. Beberapa pemerhati psikologi menganjurkan untuk merasakan hal-hal yang diinginkan terlebih dahulu agar meresap ke otak emosional. Jika sudah meresap akan mudah tercapai karena otak emosional tidak mengenal waktu, jika Anda ingin menjadi seorang profesor misalnya, ketika sudah meresap ke otak emosional kemungkinan tercapainya tinggi, walau otak logis menolak karena mengenal konsep waktu.

Cara mudahnya mengetahui otak emosional yang sudah sinkron dengan otak logis adalah kenyamanan ketika mengerjakan sesuatu. Salah satu metode, quantum ikhlas, menganjurkan jangan mengerjakan sesuatu ketika hati tidak nyaman. Buat nyaman terlebih dahulu, barulah bekerja agar kedua belah otak bekerja dengan sinkron dan saling mendukung. Sekian, semoga bermanfaat.

Upgrade Skill Pemrograman Android

Ketika tidak mengajar, hal paling mengasyikan bagi dosen adalah pelatihan, terutama dari program studi diploma dan vokasi. Program studi jenis ini mengharuskan dosen memiliki ketrampilan yang bisa dibagikan kepada mahasiswa walaupun tentu saja tidak mungkin seorang dosen menguasai seluruh bidang yang ada, salah satunya adalah pemrograman mobile berbasis Android.

Cara paling praktis adalah saling berbagi ilmu oleh dosen-dosen yang ada. Beberapa hari yang lalu diadakan pelatihan mobile programming dengan Android Studio. Bahasa yang digunakan adalah Java disertai dengan Web Service berbasis CodeIgniter. Web service ini berfungsi menghubungkan aplikasi Android dengan sistem basis data, misalnya MySQL.

Ternyata banyak elemen-elemen yang perlu dikuasai untuk membuat aplikasi untuk handphone itu. Dari pembuatan layout, Grader Script, hingga pembuatan menu-menu lanjut seperti masukan berupa tanggal, combo, hingga upload image ke server. Bahkan instalasi software Android Studio pun butuh waktu. Tips dan Trik banyak diberikan terutama untuk mempercepat proses pembuatan aplikasi, misalnya penggunaan Genymotion yang menggantikan emulator bawaan Android Studio yang berat.

Sangat perlu untuk mengetahui teknik-teknik pembuatan praktis dan bagaimana beberapa paket dimanfaatkan yang berhubungan dengan user interface dan koneksi ke DBMS, misalnya dengan library volley. Rencananya akan dilanjutkan dengan pelatihan-pelatihan sesuai dengan peminatan seperti android yang menggunakan artificial intelligence, networking, hingga sistem informasi management (SIM). Dari semua itu, yang terpenting adalah kebersamaan antar dosen terutama dalam mengikuti visi misi tujuan dan sasaran (VMTS) prodi teknik komputer yang fokus salah satunya ke pemrograman berbasis network dan artificial intelligence pada perangkat embedded, yang kali ini diwakili oleh aplikasi mobile/gadget.

Ngobrolin Teknologi Pemrograman Mobile

Bagi Anda yang sudah lama berkecimpung di dunia teknologi informasi, teknologi mobil merupakan teknologi baru yang sedang booming saat ini. Pengguna ponsel cerdas saat ini diprediksi sudah sampai 1 milyar sehingga sebagian besar proses bisnis beralih dari konvensional menjadi online berbasis aplikasi. Postingan ini sekedar men-share webinar yang dilakukan oleh jurusan teknik komputer Universitas Islam “45” Bekasi dengan pembicara saya dan bpk Malikus Sumadya, S.Si, M.T., dosen pengajar mata kuliah pemrograman mobile yang saat ini tinggal merampungkan disertasi doktor ilmu komputer-nya di Universitas Indonesia.

Inti dari webinar ini sebenarnya mengenalkan beberapa pilihan teknologi dalam membuat aplikasi, khususnya berbasis Android yang jumlah penggunanya lebih banyak dari iOS (apple). Dimulai dari yang berbasis tanpa kode (no coding) hingga yang rumit, misalnya Android Studio serta framework dengan Web Service, baik yang berbasis PHP maupun Python. Manfaat lain acara webinar ini salah satunya adalah ajang bertemu dengan pihak-pihak yang berminat dengan pemrograman mobile baik dari pelajar, guru, maupun mahasiswa ilmu komputer, khususnya program teknik komputer (D3 maupun Vokasi). Berikut link youtubenya, kurang lebihnya mohon maaf, semoga bermanfaat.

Menjadi Orang yang Biasa Saja

Ketika sekolah menengah pertama (SMP) saya sering mampir ke perpustakaan sekolah. Ruangan yang lebih cocok disebut gudang itu terletak di pojok, sebelum WC guru. Tidak ada penjaga perpus dan selalu dibuka ketika jam istirahat. Walau siswa dibebaskan masuk dan membaca buku-buku yang ada tetapi hanya segelintir saja. Terkadang hanya saya yang di ruangan setelah teman yang saya ajak (dengan sedikit paksaan) tidak bisa menemani saya lebih lama.

isaac_newton_1689_painting_sir_godfrey_kneller_public_domain_via_wikimedia_commons

Salah satu buku-buku favorit saya waktu itu adalah biografi ilmuwan-ilmuwan jaman dulu seperti Isac Newton, Albert Einstein, dan kawan-kawan. Saking asyiknya terkadang saya tidak memperdulikan gosip yang mengatakan banyak makhluk halusnya di situ, yang kadang terasa tapi tak terlihat. Lalu apa hubungannya dengan judul postingan ini? Tentu saja ada. Para ilmuwan-ilmuwan terkenal itu dari biografi yang saya baca ternyata diawali dari keadaan yang oleh lingkungannya dianggap biasa saja. Malah banyak yang ditolak oleh masyarakat karena dianggap tertinggal, seperti Edison dan Einstein. Saking biasanya, Newton konon menemukan teori gravitas yang membuat kagum penemu komet (bernama Halley), ketika asyik bertani. Contoh yang jelas, Nabi Muhammad SAW, merupakan remaja yatim piatu penggembala biasa saat itu di Makah. Tidak ada cita-cita menjadi orang luar biasa, tapi justru mampu mengubah dunia, yang oleh M. Hart dimasukan sebagai orang no.1 yang berpengaruh terhadap sejarah.

filsafat book

Salah satu filsuf terkenal yang menjadi guru para filsuf adalah Socrates. Salah satu fikiran sederhananya adalah pernyataan bahwa yang dia tahu hanyalah bahwa dia tidak tahu apa-apa. Intinya dia ingin mengajak orang berfikir sebab ketika merasa sudah tahu apa-apa, orang tidak akan berfikir lagi. Beruntunglah ketika merasa tidak tahu, karena secara alamiah Anda akan mencari tahu. Namun, jangan mencari cara bagaimana membuat diri, entah lewat mekanisme hypnoterapy dan bantuan motivator-motivator, membuat diri merasa super, tahu segala hal, selalu benar, dan sejenisnya yang berakibat berhenti berusaha meningkatkan kualitas.

Di pertengahan tahun 90-an ketika akhir SMA, saya pernah bimbingan belajar oleh pengajar yang biasa saja, tidak memiliki tip dan trik mengerjakan cepat dengan rumus-rumus kilat yang saat itu sedang tren. Terus terang yang saya dapat dari tutor itu adalah bimbingan psikis dan nasihat-nasihat membangun. Secara sederhana dia mengatakan kepada saya yang ingin lolos masuk UGM, “jika kamu bisa menjawab tiap soal-soal yang orang lain bisa jawab, maka pasti lolos ujian masuk”. Nasihat yang sangat sederhana dan ‘biasa-biasa saja’ tetapi dalam pelaksanaannya butuh kemampuan mengetahui apa yang tidak/belum kita ketahui. Setelah saya jalani ternyata ringan juga, walau ketika hari ‘H’ saya merasa masih banyak materi sulit yang belum saya kuasa tetapi materi-materi yang orang lain bisa saya sudah bisa dan akhirnya lolos juga.

Untuk rekan-rekan dosen seprofesi, biasa saja, jangan merasa super, paling benar dan tetap menjaga hati jangan sampai tercemari konsep/prinsip yang menghalangi untuk terus belajar. Jangan ingin segera jadi nomor satu, jadi profesor kilat, biasa saja, meneliti, kolaborasi dan mencoba riset sesuai bidangnya. Jika tidak menjadi no.1 tidak apa yang penting usaha sendiri. Teringat beberapa tahun yang lalu karena kesulitan bahasa Inggris mencoba daftar pelatihan bahasa tiga bulan dari DIKTI di UGM Jogja. Pelan-pelan, IELTS bisa tembus 6.0, lalu mencoba mengajukan beasiswa DIKTI, sempat ditolak sekali, kemudian mengajukan ulang, toh tembus juga. Ketika kuliah pun, sempat kewalahan karena saingan yang ketat, tetapi dengan belajar normal-normal saja toh bisa lulus duluan. Padahal riset hanya lewat email-emailan, ketemuan hanya laporan progress. Kalu difikir-fikir mirip mahasiswa yang belajar di kondisi COVID-19 sekarang. Jadi, untuk mahasiswa, jangan lupa kata “maha” di depan siswa ya, kata ampuh yang  bisa berarti: ‘jago mencari jalan-jalan alternatif menuju Roma’. Jujur saya lebih khawatir dengan siswa (kelas I sd XII) dibanding mahasiswa saat kondisi adaptasi kebiasaan baru ini. Sekian, tentu saja Anda boleh tidak setuju dengan tulisan singkat ini.