Berfikir Dalam vs Multitasking

Ketika sosial media bermunculan di tahun 2000-an awal yang dipelopori aplikasi-aplikasi chatting di internet, serta aplikasi-aplikasi di smartphone membuat perubahan pola fikir di masyarakt. Postingan ini terinspirasi dari artikel di the New York Times berikut ini yang membicarakan efek dari sosmed yang mengurangi kemampuan kita dalam berfikir dalam (deep thinking).

Intinya adalah adalah pengganggu kerja (work distraction) saat ini jauh melebihi era-era sebelumnya. Saya teringat ketika kerja kelompok waktu kuliah. Agar mempermudah komunikasi, dibuatlah grup di Facebook. Tidak beberapa lama kemudian, ternyata satu orang tidak update (offline) sehingga mau tidak mau kopi darat. Ketika ditanya kenapa dia tidak online ternyata jawabannya di luar dugaan. “Saya kewalahan, karena seharian tidak bisa kerja akibat mainan facebook”, katanya dengan logat Rusia yg kental.

Intro

Saat ini kita cenderung berfikir dangkal (shallow think), misalnya membaca email, melihat pesan masuk, mengupdate status, atau hal-hal multi-tasking lainnya. Ternyata ketika beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya ada ketidakefisiensian yang diberi istilah attantion residue. Every time you switch your attention from one target to another and then back again, there’s a cost.Ketika dari satu aktivitas kembali ke aktivitas utama ternyata membutuhkan usaha yang lebih sehingga ibarat kendaraan, bensin jadi boros. Berikut tip dan trik dari artikel tersebut agar bisa berfikir dalam di era yang banyak sekali gangguan seperti notifikasi email, whatsapp, line, dan sejenisnya.

Bekerja Mendalam (Work Deeply)

Prinsip ini mirip prinsip 90 menit perhari untuk mahir sesuatu yang tidak boleh diinterupsi. Begitu juga dengan bekerja mendalam, kita diharapkan tidak menunggu waktu luang untuk menyelesaikan sebuah tugas. Butuh usaha untuk meluangkan waktu agar hasil selesai sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Merangkul Kebosanan (Embrace Boredom)

Teknik yang unik. Intinya adalah jangan bermusuhan dengan kebosanan karena jika dianggap musuh maka biasanya kita akan melawan dengan aktivitias-aktivitas yang tidak pro berfikir mendalam seperti lihat-lihat Facebook, update status, dan lain-lain. Jika kita sedang mengerjakan sesuatu dan muncul rasa bosan di dalamnya dan kita lawan dengan hal-hal sederhana di atas maka otak kita akan muncul mekanisme yang diberi istilah Pavlovian. Makin sering dituruti maka ketika muncul kebosanan saat mengerjakan pekerjaan penting otak tidak mentolerirnya sehingga konsentrasi terpecah ke aktivitas-aktivitas yang katanya “anti kebosanan” tapi membahayakan itu.

Sunyikan Sosial Media

Riuhnya pilpres di tanah air tidak lepas dari peran sosial media. Aplikasi ini memang memiliki manfaat tetapi juga bisa berbahaya, khususnya terkait dengan kinerja berfikir mendalam kita. Jika dirasa manfaat yang diperoleh tidak signifikan, ada baiknya berhenti total dari bermain sosial media seperti Facebook, Twitter, dan kawan-kawan. Saat ini kemampuan fokus menjadi barang yang langka karena orang cenderung berfikir “enak” tanpa ingin mendalam. Terkadang kita jadi malas mengingat karena ada Google, misalnya.

Mungkin pembaca tidak sepenuhnya setuju. Memang dari pada fokus kepada hal-hal yang mengganggu alangkah baiknya fokus ke manfaat yang didapat ketika fokus ke hal-hal utama dan berfikir dalam tentangnya. Oiya, tulisan di blog pada postingan ini kayaknya masuk kategori shallow think yang membuat jadi lupa bikin buku teks .. hehe. Sekian, semoga bisa membantu mengatasi hambatan rekan-rekan pembaca yang tesis, disertasi, laporan, dan sejenisnya (butuh deep thinking) yang ga jadi-jadi.

Ilustrasi: Woman Fide Master (WFM) Alexandra Botez

Daftar Menjadi Member IEEE

Selain Scopus, IEEE merupakan salah satu pengindek sekaligus menyimpan data riset dalam bentuk digital library. Organisasi yang menaungi listrik, elektronika dan komputasi ini singkatan dari Institute of Electrical and Electronics Engineers. Postingan ini sedikit sharing cara mendaftarnya.

Membuat Akun

Untuk membuat akun di IEEE.org tidak perlu isian yang panjang. Cukup mengisi nama dan biodata singkat, kita langsung memiliki akun di IEEE. Tapi tentu saja belum menjadi member. Apa saja yang diperoleh dengan mendaftakan akun scara free ini dapat dilihat di email konfirmasi setelah create account. Atau langsung kllik JOIN MEMBER saja karena nanti diminta mendaftar akun.

Membuat akun wajib jika ingin menjadi member. Kalau pun tetap mengklik JOIN MEMBER, ketika belum login kita diminta mendafta akun.

Join Member

Setelah cek login akun IEEE, berikutnya jika tertarik menjadi member IEEE silahkan mengklik join member pada tombol di sebelah kanan. Sebagai informasi, biaya member adalah pertahun yang akan habis pada bulan Desember. Jadi daftar di bulan Januari sedikit lebih lama jika daftar di bulan berikutnya. Tapi biasanya ada diskon-diskon di bulan tengah, misalnya Maret ini.

Ada dua pilihan yaitu profesional dan student, dengan harga yang tentu saja student lebih murah. Tetapi karena bulan ini ada diskon dari $78 menjadi $42 karena Indonesia masuk kategori negara berkembang, akhirnya coba daftar.

Mengisi Biodata

Seperti biasa, yang paling melelahkan adalah mengisi profil/biodata.

Bagian yang ber-bintang merah wajib diisi. Setelah itu baru kita memilih apa saja yang akan dibeli.

Item Pembelian

Gambar di bawah adalah item-item yang bisa dipilih untuk masuk ke keranjang belanja (apa saja yang didaftar). Mudahnya, pilih saja yang sesuai dengan bidang kita, syukur-syukur gratis.

Tekan salah satu, misalnya Women in Engineering, dan ketika diklik pastika di “chart” muncul. Sebelumnya jendela harga muncul terlebih dahulu untuk konfirmasi.

Berikutnya adalah format langganan, cetak, elektronik, atau digital. Biasanya diskon pada eletronik dan digital.

Jika sudah, cek kembali keranjang belanja sebelum melakukan pembayaran.

Pembayaran

Pembayaran seperti biasa ketika membeli online. Pilihannya Credit Card, Pay Pal, dan sejensinya. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kita akan terus berlangganan atau tidak. Jika iya, centang persetujuan automatic renewal process. Jika tidak cukup klik “No Thanks”, karena jika kelupaan, bayaran akan jalan terus tiap tahun.

 

Membuat Email Resmi IEEE

Manfaat pertama jadi member IEEE adalah memiliki email resmi (official) dengan at: ieee.org. Kapasitas drive nya juga lumayan besar, sekitar 30 Gb. Masuk ke bagian kiri IEEE.org pada menu: Personalize your IEEE experience. Pilih GoogleApps@IEEE account. Isi email format IEEE yang Anda inginka, mudah-mudahan belum ada yang punya.

Setelah memasukan password, maka akun email @ieee.org akan siap satu jam kemudian.

Kapasitas yang tersedia pun lumayan besar. NOTE: IEEE akan menawarkan login dengan email yang baru, jika tidak maka tolak saja permintaan system tersebut. Jika menerima email ieee.org sebagai akun login, maka akun email yang lama tidak bisa digunakan lagi.

Media Penyimpanan Data

IEEE menyediakan fasilitas penyimpanan data penelitian sebesar maksimal 2 TB, hmm lumayan besar. Silahkan masuk ke fasilitas IEEE DataPortTM tersebut, tentu saja harus menjadi member IEEE dahulu. Sekian, semoga bermanfaat.

Yuk Mereview Artikel …

Salah satu kerjaan sosial para peneliti adalah mereview artikel suatu jurnal. Disebut kerjaan sosial karena hampir semuanya tanpa dibayar. Tetapi namanya peneliti yang juga penulis artikel, pasti senang membaca artikel ilmiah. Seperti seorang penulis novel yang pasti gemar membaca novel, kecuali anekdot Cak Lontong yang ketika temannya mengkritik dia yang berniat menulis buku padahal tidak bisa baca, berkata “kan saya menulis, orang lain yang baca”, hehe. Kebetulan postingan ini sedikit membagi pengalaman mereview, kebetulan akhir-akhir pekan cenderung dihabiskan untuk membaca-baca artikel atau buku ilmiah.

Menjadi Reviewer

Menjadi seorang reviewer biasanya lewat undangan dari pengelola jurnal berdasarkan kepakaran peneliti. Bisa juga lewat rekomendasi reviewer lain. Kepakaran di sini terkadang sangat spesifik, misalnya seorang doktor informatika akan memiliki kepakaran yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Ada yang fokus ke machine learning, big data, perolehan informasi dan lain-lain. Biasanya editor memilih reviewer yang memiliki makalah yang banyak disitasi sebagai indikator kepakaran dan ketersebaran ilmu si calon reviewer. Tentu saja calon reviewer itu boleh menolak, karena yang tahu kemampuan adalah reviewer yang bersangkutan (bila revewer yg ditunjuk merasa kurang ‘pede’. Disamping masalah beban kerja calon reviewer tersebut yang mungkin sangat sibuk.

Tipe-tipe Artikel Ilmiah

Artikel kebanyakan hasil penelitian. Hanya beberapa yang merupakan studi literatur penullis tentang tema yang sedang “in” saat ini. Biasanya ditulis oleh tokoh yang diakui keilmuannya di bidang tersebut, dan tentu saja tulisannya baik dan mengikuti kaidah ilmiah. Dari sisi penerbitan, ada jurnal, seminar, maupun book chapter. Walaupun ada istilah jurnal nasional dan internasional, di postingan ini yang dimaksud adalah internasional karena kebanyakan jurnal nasional tidak melewati tahap review, atau setidaknya hanya formalitas saja, kecuali untuk jurnal-jurnal nasional yang terakreditasi yang proses review nya bisa beberapa ronde.

Hal-hal Yang Direview

Kebanyakan aspek yang dinilai adalah kebaruan (novelty) karena inti dari riset adalah menemukan hal-hal baru. Jika mengulang sesuatu yang sudah dilakukan/direset orang lain maka tidak dapat dikatakan sebagai riset. Masalah di kampus adalah kebanyakan riset mahasiswa S1 hanya menerapkan teori yang didapat, atau membuat alat/aplikasi tanpa ada sentuhan hal-hal yang baru. Jika dikirim ke jurnal internasional pasti ditolak. Tugas berat dari si pembimbing menambahkan hal baru agar bisa dipublikasikan bersama mahasiswanya.

Tiap jurnal/prosiding memiliki point-point tertentu yang sedikit berbeda. Berikut ini contoh ilustrasi kriteria yang muncul saat mereview.

Beberapa seminar biasanya menggunakan sistem review free yang banyak beredar seperti easychair. Format evaluasinya seperti soal pilihan berganda dengan bobot angka yang nantinya dikalkulasi score-nya.

Ada juga EDAS yang berbayar tetapi cukup baik dalam mengelola naskah, apalagi kabarnya saat ini disertai dengan cek plagiarisme. Jurnal-jurnal ternama biasanya menggunakan sistem buatan sendiri seperti Elsevier di atas.

Beberapa manfaat yang didapat ketika mereview sebuah artikel antara lain:

  • Meningkatkan kualitas penulisan
  • Meningkatkan kecepatan membaca
  • Meningkatkan kemampuan bahasa Inggris ilmiah
  • Mengetahui perkembangan IPTEK lebih cepat karena naskah otentik langsung dari peneliti
  • Bisa menemukan ide-ide baru dari naskah yang direview
  • Mendapat pengakuan kepakaran (sertifikat, dan sejenisnya)
  • Memperlebar jaringan antar peneliti, dll

Yah, jika tidak dibayar jangan khawatir, pahala mengalir terus, apalagi jika naskah yang kita review banyak dilihat orang di seluruh dunia. Selamat mencoba.

Update: 27 Maret 2019

Selesai mereview, sebagai ucapan terima kasih, pihak pengelola jurnal biasanya mengirimkan sertifikat bahwa kita telah mereview, contohnya Elsevier yang mengirimkan sertifikat tidak sampai seminggu setelah submit hasil review.

sertifikat review_001

Kalimat Ampuh “What Do You Want?”

Kalimat sederhana di atas merupakan kalimat penting yang diucapkan oleh wakil rektor urusan kemahasiswaan di tempat saya kuliah dulu. Waktu itu karena berbagai sebab saya menghadap ke rektor yang kebanyakan tugasnya menghadapi mahasiswa-mahasiswa bermasalah seperti saya, baik dari sisi akademik, keuangan, dan masalah-masalah lainnya. Tentu saja masalah-masalah saya tersebut tidak dapat saya ungkap di sini, tetapi intinya adalah ketika diskusi tidak berjalan dengan mulus sementara waktu terus berjalan, kata pamungkas dari si profesor wakil rektor itu adalah “what do you want?”. Satu kata yang membuat saya “mematung” karena tersadar tujuan saya mendiskusikan hal tersebut dengan beliau yang jadi merembet ke lain-lain. Cukup sederhana, waktu itu saya menginginkan segera diijinkan melaksanakan riset, mengingat sudah 1.5 tahun kuliah doktoral berjalan, dan juga “argo” terus berjalan.

Mungkin sudah budaya di Indonesia yang gemar “menutupi” segala hal yang kita inginkan. Berbeda dengan budaya luar, khususnya dunia barat yang cenderung to the point. Ada kalanya memang baik karakter menutupi tersebut untuk menjaga perasaan orang. Tapi repot juga kan menahan lapar gara-gara ketika ditanya apakah mau makan kita bilang “terima kasih tadi sudah (padahal belum)”.

Banyak berita yang dishare di media sosial yang jika saya baca intinya sederhana jika diekstrak dengan pertanyaan “what do you want” tersebut. Tidak ada yang salah dengan info-info tersebut (kecuali yang hoax tentu saja). Rata-rata berita itu cukup panjang dengan berbagai macam alasan ampuh yang diberikan oleh penulis yang intinya sebenarnya bisa diekstrak menjadi satu atau dua kalimat saja apa sebenarnya yang diinginkan. Bisa saja intinya: “saya ingin lektor kepala (atau bahkan profesor) tapi tidak perlu menulis artikel apalagi buku”, “saya ingin menulis artikel ilmiah tapi tidak perlu indeks-indeksan, apalagi Scopus dan Web of Science, “saya ingin beasiswa S3 walau usia di atas 50 tahun”, dan lain-lain. Tapi tentu tidak ada salahnya kan? Namanya juga keinginan, mudah-mudahan bisa mencerahkan dan tidak tersinggung.


Skripsi – Apa & Untuk Apa

[riset.ti|r.408|pert.1]

Skripsi dikenal juga dengan nama Final Project untuk jenjang Strata 1 (S1). Untuk jenjang diploma diberi nama tugas akhir. Skripsi terkadang menjadi momok yang menakutkan bagi para mahasiswa yang terkadang pula menyebabkan tidak selesainya perkuliahan seorang mahasiswa. Hal ini terjadi karena memang skripsi seperti layaknya sebuah proyek membutuhkan perencanaan yang matang, dengan tujuan tertentu dengan waktu yang jelas dan realistis dengan sumber daya yang terbatas (keuangan dan peralatan).

Manfaat Skripsi/Final Project

Terlepas dari penting atau tidaknya skripsi, ada manfaat yang bisa dipetik dari pelaksanaan skripsi:

  • Belajar lebih dalam. Ada peluang dengan skripsi seorang mahasiswa terpaksa belajar lebih dalam dibanding materi perkuliahan.
  • Langkah awal sebelum bekerja. Skripsi mempersiapkan mahasiswa untuk terjun dalam kehidupan/problem nyata dengan mempraktekan keahlian/skill yang diterima selama perkuliahan.
  • Mempersiapkan kelanjutan studi. Skripsi juga sebagai persiapan seorang mahasiswa jika ingin lanjut ke jenjang yang lebih tinggi dengan lebih mengeksplor permasalahan serta belajar melakukan proses-proses penelitian.

Atau dengan bahasa yang sederhana, skripsi memiliki dua tujuan utama yaitu dari sisi edukasi (critical thinking, kemampuan bekerja independen, kemampuan menerapkan metode ilmiah, dan kemampuan mengungkapkan ide baik lisan maupun tulisan) dan aspek penelitian dimana mahasiswa turut berkontribusi mengembangkan IPTEK dengan mengisi gap penelitian (research gap) yang ada. Poin penting adalah pada critical thinking yang mengharuskan mahasiswa tetap berfikir logis dan sistematis.

Aktor yg Terlibat

Pemain utama skripsi adalah mahasiswa yang bersangkutan. Berikutnya adalah dosen pembimbing (supervisor) dan dewan penguji (examiner). Interaksi yang positif diantara ketiganya dapat meningkatkan kualitas dari skripsi yang dilaksanakan. Tentu saja ada aktor-aktor tambahan lain yang mendukung seperti laboran, research collaborator, research participants, dll.

Proses Penelitian

Ada banyak variasi proses pengerjaan skripsi. Biasanya langkah awal adalah masalah administratif yang merupakan otonomi kampus masing-masing. Namun secara garis besar tahapan-tahapan yang selalu dilalui antara lain:

  • Menyusun proposal
  • Mendeskripsikan permasalahan
  • Mengikuti tujuan/objektif skripsi
  • Mengumpulkan dan menganalisa data
  • Membuat kesimpulan dan merancang/mengidentifikasikan riset ke depan
  • Mempresentasikan hasil penelitian dan mempertahankan ide di sidang secara lisan
  • Menyusun dan merevisi laporan akhir/final

Kriteria Keberhasilan

Keberhasilan sebuah final project sangat tergantung dari standar kampus masing-masing. Namun ada kriteria-kriteria standar yang biasanya selalu ada pada tiap-tiap institusi. Yang pertama adalah secara umum, hasil penelitian suatu mahasiswa:

  • Memiliki topik riset yang relevan
  • Topik yang orisinil
  • Temuan yang signifikan
  • Hasil pekerjaan si mahasiswa adalah yang utama

Hasil laporan juga merupakan kriteria penting baik atau buruknya sebuah skripsi:

  • Presentasi hasil yang jelas dan dapat diklarifikasi
  • Tiap bagian report konsisten
  • Argumentasi yang dipilih tepat
  • Mampu secara jelas memisahkan ide sendiri dengan ide orang lain (sitasi)
  • Mampu meramu pustaka dan sitasi
  • Gaya penulisan yang menarik

Selain itu mempertahankan sebuah ide/gagasan merupakan salah satu kriteria keberhasilan pula.

  • Ketepatan berargumentasi
  • Mampu mendiskusikan hasil sebagai respon terhadap permasalahan yang diangkat

Juga hal-hal lain yang tak kalah pentingnya bisa menjadi kriteria sukses atau tidaknya final project¸ seperti:

  • Bagaimana bersikap terhadap pihak yang tidak sependapat
  • Memenuhi tenggak waktu (deadline) dan persyaratan-persyaratan lain yang harus dipenuhi

Demikian pengantar bagi adik-adik yang sedang berjuang dalam kegalauan, siapa tahu bisa membantu untuk segera mempersiapkan diri.

Mereview Artikel Ilmiah

Mereview artikel baik yang akan diterbitkan di jurnal maupun seminar merupakan suatu keharusan bagi tiap peneliti. Dari sisi finansial sepertinya kalah jauh dengan mengajar, menjadi asesor kompetensi, dan kegiatan-kegiatan lain yang sering dilakukan oleh dosen. Tetapi dari sisi ilmu, manfaat yang diperoleh dari proses mereview artikel ilmiah sangatlah besar. Kita bisa mengetahui trend perkembangan ilmu terkini melebihi jurnal yang telah dipublikasi. Mengapa? Karena jurnal yang telah dipublikasi memakan waktu dari beberapa bulan hingga tahunan. Jadi jika membaca artikel yang sudah dipublikasi kita terlambat beberapa waktu, bahkan bisa beberapa tahun. Berbeda ketika mereview artikel dimana tulisan tersebut baru saja dibuat selepas peneliti melaksanakan penelitiannya. Postingan ini bisa juga dijadikan rujukan bagaimana naskah kita diterima (accepted) dengan cara melihat dari sudut pandang reviewer. Juga pos ini lanjutan dari postingan yang lalu.

Format Standar

Beberapa penyelenggara seminar menggunakan aplikasi review yang gratis, misalnya easychair. Kandidat lainnya adalah EDAS yang berbayar dengan paket tertentu yang amat menarik, seperti cek plagiarisme sekaligus mereview. Untuk jurnal menggunakan Open Journal System (OJS) yang saat ini sudah versi 3. Tetapi jurnal-jurnal ternama (ber-impak tinggi) biasanya memiliki sistem informasi review sendiri.

Biasanya isian yang harus diisi oleh reviewer adalah novelty, research method, research question, Finding & discussion, English Writing, Overall Evaluation, serta Reviewer’s Confidence. Yang terakhir menggambarkan seberapa ahli reviewer terhadap isi dari artikel yang direview. Terkadang memang editor menduga seorang reviewer pakar di bidang tersebut, tetapi ternyata setelah membaca, terkadang reviewer merasa tidak “PD” dengan materi yang dibacanya. Biasanya hal tersebut menjadi bahan pertimbangan reviewer untuk memutuskan diterima atau tidaknya suatu artikel ketika kondisi fivety-fivety. Untuk jurnal internasional bereputasi (impak dan nilai scimago yang tinggi) novelty merupakan penentu utama diterima atau tidaknya sebuah naskah yang diajukan. Tapi terkadang untuk jurnal-jurnal nasional apalagi lokal, ada sedikit kemudahan mengingat jika disyaratkan mengikuti standar internasional, banyak yang ditolak/reject yang mengakibatkan para dosen di tanah air lebih enggan menulis.

Alur Review

Ketika pelatihan menulis artikel ilmiah di kopertis 4 beberapa tahun yang lalu, seorang profesor dari ITB mengajari untuk menulis tidak runtut dari judul, abstract, pendahuluan, dan seterusnya hingga kesimpulan, melainkan hasil terlebih dahulu. Masuk akal, karena hal ini bisa membuat produksi tulisan menjadi lebih cepat. Tidak perlu berpusing-pusing mengerjakan hal yang bukan utama karya kita. Pendahuluan kebanyakan memang dari literatur review naskah lain, sementara judul dan abstrak menyesuaikan dengan hasil penelitian kita.

Nah, untuk mereview tentu saja tidak bisa langsung ke hasil, karena memang pe-review tidak tahu menahu hal apa yang akan disajikan tulisan tersebut. Reviewer hanya mengandalkan judul dan abstrak ketika ingin mengetahui/menebak isi naskah (brainstorming). Selain reviewer, editor juga bisa menebak suatu jurnal banyak disitasi ketika melihat judul dan abstrak. Jadi ketika judul dan abstrak, ok, maka jika naskah ditolak itu kemungkinan besar karena reviewer. Tentu saja jika editornya rajin, bisa ditolak terlebih dahulu apalagi yang memahami bidang ilmu naskah usulan tersebut. Oiya, novelty bisa langsung ditebak dari abstrak, karena abstrak yang baik merangkum secara padat isi artikel seluruhnya dari masalah, metode, hasil dan pembahasan, dan diakhiri dengan kesimpulan.

Untuk mengetahui seberapa kuat penelitian tersebut, bagian pendahuluan akan menjadi fokus utama reviewer. Flow/aliran suatu tulisan menjadi sangat penting. Kita memang telah menyediakan referensi-referensi yang banyak dan tepat, tetapi kebingungan dalam meramunya menjadi satu tulisan yang runtun. Terkadang penulis hanya menampilkan referensi-referensi seperti ‘daftar belanja’ yang membosankan. Bahkan ada yang membuat bullet/numbering yang terlarang dalam suatu artikel pada jurnal/conference. Referensi-referensi tersebut harus bisa diramu secara runtut dari yang dasar hingga mengarah ke pertanyaan penelitian (research question) sekaligaus menjawab mengapa riset ini penting dilakukan. Kegagalan dalam pendahuluan berakibat reviewer tidak menangkap kebaruan dan pertanyaan riset yang dibuat. Repotnya kalau reviewer, yang biasanya “late night rider”, jengkel karena literatur review yang melompat-lompat tanpa arah, terkesan sekedar menambah referensi saja.

Padahal suatu artikel jika dilihat polanya sangat sederhana, dan begitu-begitu saja. Dimulai dari pendahuluan yang membahas masalah yang ada saat ini di dunia di bidang tertentu, hingga perlu dilakukan penelitian dengan metode-metode baru/perbaikan metode yang lama yang diuji di wilayah/kasus tertentu. Setelah diuji memiliki hasil yang lebih baik dari metode lain sebelumnya sehingga disimpulkan sangat dianjurkan untuk diterapkan/dikembangkan oleh peneliti lain, dan jika judul dan abstrak sesuai dengan isi dan data dan alat ujinya “ok”, maka naskah diterima dan jika ada sedikit kesalahan, perlu direvisi beberapa ronde.

Jurnal Lokal/bukan Internasional

Jika jurnal internasional sudah baku, jurnal lokal agak sedikit kendor syaratnya. Biasanya cek plagiasi menjadi fokus utama, mengingat plagiarisme masih menjadi musuh utama artikel ilmiah di Indonesia. Mungkin karena jurnal lokal merupakan hasil karya mahasiswa yang hampir kebanyakan menggunakan jurus yang menurut mereka ampuh: “copas”.

Masalah lain adalah tidak adanya kebaruan. Memang kebanyakan karena merupakan hasil skripsi/tesis, biasanya tidak ada metode baru/ modifikasi yang ditawarkan. Hanya menggunakan metode yang ada saja atau sekedar membandingkan dengan yang lain. Jadi mau tidak mau fokus jurnal lokal adalah penyebaran hasil karya saja dengan harapan pembaca, yang biasanya mahasiswa menjadikan artikel tersebut rujukan untuk membuat aplikasi/menggunakan metode skripsi/tesisnya, yang jika diajukan ke jurnal internasional bereputasi terkadang langsung “mental” di tangan editor (belum sampai ke reviewer) selain tentu saja karena masalah bahasa Inggrisnya. Sekian, lain kali kita lanjut membicarakan salah satu darma perguruan tinggi ini, semoga bermanfaat.

Jangan Kau Halangi Dia yang Ingin Studi Lanjut

Studi lanjut, khususnya jenjang doktoral saat ini merupakan hal yang mendesak, khususnya bidang-bidang yang dibutuhkan di era “internet of things” (IoT) ini. Berbeda dengan S2 yang kesannya “terpaksa”, untuk S3 sepertinya banyak hal yang menghalangi dosen melanjutkan ke S3. Mungkin postingan ini sharing sedikit mengenai plus-minus kebijakan yang banyak diterapkan di beberapa institusi di tanah air.

Urut Kancing

Ini adalah istilah antri berdasarkan aspek tertentu seperti senioritas, kebutuhan suatu jurusan akan adanya tenaga pengajar, dan lain-lain. Perhatikan saja suatu antrian, misalnya di “customer service” sebuah bank, ketika ada satu antrian yang lama maka antrian berikutnya akan terhambat. Banyak hal yang membuat lamanya antrian, khususnya jika dipilih yang senior terlebih dahulu. Seperti banyak terjadi, para senior cenderung mencari kampus yang dekat dengan tempat kerja. Masalah meninggalkan keluarga, keuangan (ingin tetap mengajar), dan sejenisnya merupakan hal-hal yang biasa menjadi batu hambatan. Sementara beberapa dosen middle dan terkadang juga junior sudah siap baik dari sisi akademik maupun hal-hal lain (apalagi yang belum berkeluarga). Jadi, pimpinan harus mengamati ketika suatu jurusan tidak ada yang berangkat, kemungkinan ada hambatan dari ijin senior terhadap yuniornya.

Masa Mengabdi

Ada hal lain yang membuat beberapa dosen tidak ingin melanjutkan. Beberapa kampus menerapkan aturan setelah menyelesaikan studi S2 diharuskan balik ke kampus untuk mengamalkan ilmunya terlebih dahulu. Lamanya bahkan ada yang mengikuti aturan ikatan dinas (5 hingga 7 tahun). Akibatnya ketika masa mengabdinya selesai, walaupun diminta oleh institusi melanjutkan kuliah, mereka cenderung enggan karena berbagai hal. Hal yang utama adalah terputusnya riset ketika S2 dulu karena lama-nya menunggu, ditambah lagi aktivitasnya tidak mengarah ke riset dan cenderung administratif. Padahal riset harus diikuti baik dari riset sendiri maupun membaca jurnal-jurnal internasional yang ketika lulus aksesnya biasanya distop sementara kebanyakan kampus kecil di tanah air tidak berlangganan, walaupun bisa saja dengan cara minta tolong rekan lain yang memiliki akses ke jurnal untuk diunduhkan (atau situs bajakan). Ada sedikit cerita rekan saya dari Jawa Timur yang selesai S2, balik ke kampus setahun mengabdi. Tapi selama setahun itu sudah intensif bimbingan dosen pembimbingnya ketika master untuk S3 walau belum terdaftar. Minimal konsultasi masalah tema riset S3. Nah, ketika setahun terlewati lalu mendaftar di kampus tersebut (tentu saja diterima karena sudah komunikasi dengan calon promotor) risetnya cepat sekali, bahkan lulus 2 tahun 9 bulan. Jadi untuk yang master jangan terlalu lama, khawatir akan malas lagi untuk studi lanjut.

Perang Doktor

“Lihat ijasah S2-nya!”, kata si mba staf di kopertis 4 (sekarang namanya lldikti4) ketika mengajukan ijin lanjut S3 dulu. Saya heran dan bertanya mengapa kok langsung di “skak” dengan pertanyaan itu? Ternyata ada instruksi jika S3 tidak linear harus ditolak pengajuan ijin beasiswanya. Ternyata ada maksudnya.

Kuliah S3 bukanlah waktu yang singkat. Jika selesai dan ternyata tidak sesuai dengan linearitas keilmuwan akan mubazir. Ada teman yang mengambil S3 yang berbeda jauh dengan S2 dan risetnya. Alhasil agak kesulitan naik pangkat mengingat harus ada linearitas S3 dengan riset-riset terdahulu yang jauh berbeda dengan S2-nya. Bagaimana jika sudah S3 dan linear dengan riset-risetnya? Berikutnya adalah perang doktor. Di sini perang yang dimaksud adalah persaingan dari sisi Tri Darma. Pengajaran dan pengabdian sepertinya tidak begitu bersaing, nah yang penelitian lah yang bersaing. Untuk meningkatkan kinerja kampus, pimpinan universitas (yang serius memperhatikan tri-darma) akan memacu dosen-dosennya untuk mempublikasikan artikel ilmiah. Nah, doktor tanpa publikasi tentu saja akan kalah “perang” dengan yang banyak publikasinya. Sebagai juri/wasit-nya biasanya menggunakan indeks-indeks yang terpercaya seperti Scopus dan di Indonesia ada Sinta (dengan kata lain Ristek-Dikti jurinya). Silahkan salahkan kedua pengindeks tersebut, itu hak Anda. Tapi perlu diingat, tanpa ada juri/wasit bagaimana mungkin pertandingan dilaksanakan.

Apakah Riset Seperti Sinterklas?

Lihat apa yang kita gunakan saat ini yang membantu aktivitas kita, misalnya komputer. Alat ini tidak diciptakan setahun atau beberapa tahun yang lalu. Sejak arsitekturnya yang dikenalkan oleh John Von Neumann, baru penggunaannya tampak nyata setelah Alan Turing memperkenalkan metode komputasi untuk membongkar mesin enkripsi buatan Jerman di perang dunia II. Atau contoh lain kendaraan, misalnya mobil. Alat transportasi ini menerapkan siklus otto buatan Nikolaus Otto (bensin) maupun atau Diesel oleh Rudolf Diesel (solar) yang ketika teknik itu diriset, dunia masih menyiksa binatang untuk kendaraan. Untungnya jaman itu jumlah “penyinyir” sedikit. Bisa dibayangkan si otto yang asyik riset dinyinyirin: “apa manfaatnya siklus itu bagi kami para petani?” dan diharapkan harus berkontribusi langsung, jika tidak, tidak akan didanai.

Pendidikan tinggi di Indonesia menganut tridarma yang terdiri dari pengajaran, penelitian, dan pengabdian. Ketiganya saling terkait, walaupun dalam prakteknya tidak tampak hubungannya. Yang satu asyik mengutak-atik jaringan wireless dari GPRS, 2G, 3G, 4G, hingga 5G, yang satu lagi mengembangkan teknologi mobile, serta lainnya Big Data. Ketika digabungkan jadilah aplikasi Grab, Gojek, dan sejenisnya yang ternyata merubah peta bisnis para era disrupsi ini.

Problem yang saat ini muncul terkait dengan publikasi yang wajib dilaksanakan oleh seorang dosen. Banyak kampus yang berlomba-lomba publikasinya dengan bantuan pengindeks internasional, Scopus. Kekhawatirannya agak beralasan mengingat hasil risetnya yang tidak berdampak langsung saat ini. Tetapi apakah memang harus berdampak langsung? Masih ingatkah hasil publikasi tentang dampak tsunami gunung merapi yang sudah diriset beberapa tahun sebelum kejadian di Banten dua bulan lalu? Tidak berdampak langsung sih … bagi yang enggan membaca.

Jangan lupa, penelitian berbeda dengan pengabdian. Walaupun bisa saja penelitian dan pengabdian yang berjalan seiringan. Tetapi beberapa riset dasar agak sulit jika langsung diterapkan ke masyarakat tanpa adanya campur tangan penelitian lain. Tapi bisa kan? Ya kalau dibilang bisa ya tentu saja bisa. Seperti aplikasi NELPIN untuk membantu para nelayan mencari ikan. Bagaimana dengan Scopus? Ternyata aplikasi tersebut dipublikasikan pada jurnal internasional dan terindeks Scopus. Toh bisa juga riset dan pengabdian berjalan berirama, dan tentu tidak saling memaksakan penelitian yang harus mengabdi secara langsung. Oiya, silahkan baca artikel jurnal internasional tersebut.

Apakah hanya fokus ke publikasi itu buruk? Untuk menjawabnya silahkan baca buku “University Inc.” dimana kampus cenderung mengembangkan riset berdasarkan pesanan industri. Bahkan sudah menyasar ke profesor-profesor agar riset sesuai dengan permintaan industri (obat-obatan, keteknikan, dan lain-lain). Untuk menghindari hal itu, memaksa agar hasil riset dipublikasi agar terbaca oleh khalayak ramai menurut saya sangat bermanfaat. Terkadang ada yang jago menemukan tetapi kurang luwes dan lincah memanfaatkannya, atau memang membutuhkan peneliti bidang lain yang telah membaca hasil publikasinya. Tebarkanlah hasil riset sebanyak-banyaknya, biasanya ada beberapa yang bisa dimanfaatkan oleh peneliti lain, bukannya membatasi hanya pada penelitian yang bermanfaat saat ini saja, karena belum tentu yang tidak bermanfaat saat ini tidak bermanfaat di masa yang akan datang. Sayang kan jika tidak dipublikasi dan tersimpan di gudang padahal belum tentu tidak bermanfaat nanti. Ingat, De Morgan dan George Boole yang dibilang “kurang kerjaan” di jamannya ketika utak-atik logika tatkala komputer belum ada. Yuk, perbanyak publikasi … kalau bermanfaat kan katanya pahala mengalir terus walau yang bersangkutan wafat.

Dear SISTER …

Sabtu ini masuk kerja dalam rangka pelatihan pengisian BKD online dan aplikasi SISTER. Sudah lama tidak ada acara di kampus pada hari sabtu. Untuk BKD online sepertinya tidak ada masalah karena sudah hampir satu semester ini menggunakannya dan fine-fine saja. Nah yang SISTER baru kali ini bisa dicoba, dan baru kali ini juga server sudah terpasang, dan repotnya baru hari itu juga instal ulang ke versi yang baru. Tapi salut juga dengan tim IT UNISMA yang bekerja cepat dan profesional.

Memang aplikasi-aplikasi buatan Ristekdikti memiliki nama-nama yang unik dan mudah dihafal, misalnya SINTA, ARJUNA, SIMLITABMAS, SISTER, yang sering diledek: “SINTA … RAMA-nya mana? Kok malah ARJUNA?” Btw, pinter juga tim Ristekdikti utak-atik singkatan. Oiya, untungnya Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi disingkat Kementerian “Ristekdikti”, bukan “Kemriting”. Nah, ini lagi .. SIM akademik kampus kami bernama SIMAK yang mirip kata Si Emak, he he.

Registrasi SISTER

SISTER diambil dari singkatan kata Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi yang isinya mengintegrasikan seluruh aspek yang ada pada seorang dosen. Dari profil homebase, pengajaran, BKD, kepangkatan, dan upload-upload data penting lainnya. Sistem kerjanya adalah tiap kampus besar harus menyediakan server dengan spesifikasi tertentu, menginstal aplikasi, serta ada admin yang mengelola. Karena sifatnya yang tidak online murni, admin bertugas mensinkronkan database di kampus dengan Dikti (pusat). Di sini dikatakan kampus besar karena jika kampus kecil maka bisa “nebeng” di LLDIKTI di wilayahnya. Langkah awal bagi seorang dosen agar bisa menjalankan aplikasi SISTER adalah membuka alamat sister kampusnya, misalnya untuk UNISMA adalah link berikut ini. Cara registrasinya mirip dengan registrasi SINTA yaitu mendaftarkan email untuk login. Jika sudah, maka diminta membuka email.

Setelah membuka email maka ada link untuk aktivasi yang jika diklik maka akan diarahkan lagi ke aktivasi SISTER. Pastikan akun sudah aktif agar bisa digunakan sebagaimana mestinya.

 

Manfaatnya lagi adalah cepatnya proses pengajuan kepangkatan (PAK) dosen karena bisa lewat jalur online yang tidak perlu berkas-berkas yang berat. Setelah aksi foto-foto dengan pemateri dari LLDIKTI, acara selesai, dan foto berikut kudapan favorit tiap diadakan pertemuan dari tim serdos. Sekian catatan harian ini, semoga bisa mengingatkan rekan-rekan dosen akan adanya aplikasi SISTER dari Ristekdikti.

Prinsip Ketidakseimbangan 80/20

Alam semesta (nature) menurut buku “the 80/20 principle” menerapkan prinsip ketidakseimbangan antara sukses dan gagal. Oiya, prinsip 80/20 adalah prinsip yang diperkenalkan oleh Vilfredo Pareto, dimana 20% faktor menentukan 80% hasil. Alam semesta tidak memberlakukan prinsip seperti peluang koin yang dilempar yang sebesar 50/50. Ada sedikit yang kontroversial dan mungkin saja sebagian besar tidak setuju. Postingan ini sedikit mengulasnya.

Spesialisasi

Di era disrupsi tampak peran dari para generalis dominan. Bahkan beberapa pengusaha top seperti pemilik Microsoft, Facebook, Mac, dan lain-lain cenderung berkarakter generalis. Tapi di buku itu ternyata diminta fokus untuk menjadi para spesialis. Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya adalah efek 20% elemen yang menghasilkan efek 80% dari hasil (profit, kinerja, dan sejenisnya). Jadi jika prinsip 80/20 sudah disadari keberadaannya maka para manajer, direktur, atau pemilik perusahaan akan fokus ke 20% pegawai yang memiliki sumbangsih tinggi terhadap hasil dan keuntungan. Tentu saja mereka adalah para spesialis-spesialis yang sangat efisien dalam bekerja, yang pada kenyataannya jumlahnya bisa saja jauh di bawah angka 20%, bahkan bisa 5% saja. Makin tidak terpakai saja orang-orang dengan keahlian biasa-biasa saja. Prinsip 80/20 muncul karena tuntutan pasar yang menginginkan produk yang dihasilkan dari proses yang efektif dan efisien karena berpengaruh terhadap harga yang murah tapi berkualitas, atau yang memanjakan konsumen.

Globalisasi

Globalisasi menggunakan prinsip pasar. Nah disinilah letak permasalahannya yakni pasar yang menuntut tinggi suatu produk. Tanpa memeriksa faktor 20% yang paling berpengaruh terhadap kinerja industri maka tuntutan pasar tidak terpenuhi. Sementara dengan adanya globalisasi mencari faktor 20% tersebut (spesialis-spesialis yang bekerja dengan efektif dan efisien) lebih mudah. Dampak negatifnya adalah kian tersingkirnya 80% pekerja-pekerja yang kurang efisien dan minim kontribusinya terhadap hasil/kenerja.

Menipisnya Kelas Menengah

Ada kabar bahwa di negara-negara maju, kelas menengah mulai menyusut. Karena jarang yang berpindah ke kelas 20%, maka sebagian besar terdepak ke 80% pekerja yang kurang berefek/berkontribusi terhadap output. Sebagian dosen di negara kita adalah kelas menengah. Nah, repot juga kalau sebagian besar terdepak ke kelas baru yang merupakan 80% kurang berpengaruh. Ditambah lagi peran teknologi informasi dengan Massive Open Online Courses (MOOCs) yang meminimalkan peran pengajar. Saat ini aturan baru cenderung mempermudah, misalnya jumlah minimal dosen homebase suatu jurusan yang tadinya enam menjadi hanya lima saja. Juga bisa berbagi (share) dosen homebase dengan kampus lain asal ada bukti kerja sama antar dua institusi tersebut. Ada sedikit kekejaman akibat prinsip 80/20 ini dimana yang makmur/terkenal/berperan semakin makmur/terkenal/berperan dan begitu juga sebaliknya bagi yang kurang makmur/kurang terkenal/kurang berperan. Jadi jangan heran misalnya ada pakar/ahli/pembicara yang antri diundang sementara yang lain banyak yang menganggur. Yuk, segera masuk ke 20% pekerja yang menentukan hasil dengan meningkatkan skill yang dibuktikan sertifikat-sertifikat atau ijasah.

Note: Wah ternyata ini postingan saya yang ke-1000 .. semoga bisa terus iseng menulis

Samurai Tak Bertuan

Ternyata istilah Ronin, alias samurai tak bertuan, berlaku juga untuk bidang lain di luar dunia persilatan Jepang. Bidang-bidang yang mengharuskan seseorang bekerja untuk orang lain dengan mengandalkan keahlian yang dimilikinya masuk juga kategori samurai. Termasuk staf pengajar (dosen dan guru).

Samurai terkenal sangat setia dengan tuannya, tetapi terkadang bisa saja berganti tuan. Begitu juga dosen, ada istilah lolos butuh ketika ada pergantian pemakai dosen dari satu institusi ke institusi lainnya (pindah homebase). Pindah homebase sudah biasa terjadi, tetapi untuk kasus-kasus tertentu sedikit rumit seperti dosen yang beralih dari swasta (PTS) ke negeri (PTN) dan kejadian yang terjadi di institusi saya, yaitu alih kelola dari pemilik lama ke yang baru.

Setengah Ronin

Ada satu masa transisi dimana pemilik lama telah memberi uang kompensasi (pesangon) dan pemilik baru belum memiliki akses karena dari sisi legal belum terpenuhi. Munculah para ronin yang bekerja berdasarkan tugas dan misi tertentu yang harus diselesaikan, tanpa memperdulikan siapa tuannya. Karena itulah dikatakan full ronin tidak juga, karena institusi masih eksis. Dikatakan seratus persen samurai, tidak juga karena belum tentu daimyo (tuan) baru mengangkatnya menjadi samurai, disamping banyak juga yang tidak bersedia karena masa kerja yang direset menjadi nol tahun.

Samurai Tak Bertuan yang Marhaen

Marhaen adalah istilah yang diperkenalkan oleh Soekarno yang ditujukan ke golongan kecil yang memiliki sumber daya ekonomi (misal sepetak sawah) mengolah lahan tersebut sendiri tanpa bos/juragan, tapi hanya mampu untuk menghidupi diri sendiri. Kalau yang sekarang terjadi adalah para ojek online, khususnya driver yang memiliki motor/mobil sendiri dengan hasil untuk mencukupi kehidupan sendiri, walaupun sebagian hasil usaha digunakan untuk sewa aplikasi (wajar layaknya ongkos yg lain seperti: bensin/solar, pajak kendaraan, dll). Dosen selama ini membutuhkan wadah berupa institusi pendidikan untuk memanfaatkan skill-nya layaknya sopir taksi yang membutuhkan perusahaan taksi. Nah kalau kejadiannya mirip-mirip banget, tidak tertutup kemungkinan di masa depan seorang dosen menjadi samurai tak bertuan yang marhaen. Sekian tulisan iseng ini, siapa tahu ada yang senasib.

Dosen Itu Peneliti

Salah satu aspek yang membedakan seorang dosen dengan guru atau tutor adalah keharusan seorang dosen untuk melakukan penelitian. Jika tidak maka tunjangan serdos tidak turun karena tidak mungkin mempublikasikan artikel ilmiah tanpa melakukan penelitian lebih dahulu. Lho, bukannya bisa saja menulis artikel ilmiah tanpa melakukan riset? Postingan ini bermaksud menjawabnya, disertai sedikit membahas penggalan hidup peneliti di Indonesia, maaf, maksudnya di Bekasi.

Jenis Artikel Ilmiah

Untuk menjawab pertanyaan di atas ada baiknya membedakan jenis-jenis artikel ilmiah. Walaupun sulit mengklasifikasikan jenis artikel, tetapi saat ini hanya ada dua jenis artikel ilmiah yaitu yang berasal dari riset (research article) dan yang berasal dari review artikel-artikel dengan topik tertentu (review article). Lihat pembahansannya di pos yang terdahulu. Review artikel biasanya dilakukan oleh expert atau minimal reviewer. Tidak mungkin melakukan review suatu topik tetapi belum pernah melakukan riset dengan topik tersebut.

Saya sempat diminta rekan dosen untuk mempublikasikan artikelnya tetapi isinya materi kuliah. Tentu saja bukan itu yang dimaksud dengan artikel ilmiah. Mungkin itu yang membedakan seorang pengajar dengan peneliti. Artikel ilmiah di jurnal seharusnya memang hasil penelitian yang merupakan sebuah pengembangan perbaikan atau temuan yang memperbaiki suatu sistem yang ada dan diterapkan saat ini. Mungkin agak sulit untuk mahasiswa S1 jika skripsi-nya akan dimasukan dalam suatu jurnal karena kebanyakan merupakan terapan suatu teknik/metode. Beberapa mahasiswa menambahkan aspek lain seperti penelitian tambahan yang menguji tingkat penerimaan sistem yang dibuat terhadap lokasi penelitian atau membandingkan dengan metode-metode lainnya, agar bisa dipublikasikan sebagai artikel ilmiah.

Transisi Pengajar ke Dosen

Dalam perkuliahan, dosen memang mengajarkan metode-metode yang saat ini telah digunakan (untuk materi terapan) dan ilmu-ilmu dasar pendukung metode (untuk materi dasar umum). Selama proses pengajaran terkadang dosen pengampu melakukan modifikasi-modifikasi untuk meningkatkan kinerja suatu metode. Terkadang modifikasi-modifikasi tersebut tidak diajarkan dalam silabus karena memang belum teruji dan khawatir jika langsung diajarkan ke mahasiswa akan berbahaya. Mungkin setelah dipublikasikan dalam suatu jurnal dan telah menempuh proses review dan kritik dalam bentuk sitasi oleh artikel lain dan masuk ke lecture note barulah bisa diajarkan dan sudah masuk dalam buku teks/ajar.

Sedikit sharing informasi, dosen S2 saya dulu programmer Java di perusahaan (saat ini seprtinya serius mengajar). Ada kebingungan darinya mengenai tema S3 yang akan ditempuh, khususnya programmer. Waktu itu saya sendiri bingung. Memang kebanyakan tema riset banyak mengandalkan alat statistik seperti AMOS, SPSS, Lisrel, dan lain-lain. Membuat alat atau menerapkan metode yang ada (bahkan sekedar membandingkan) sulit tembus ke jurnal internasional. Waktu berjalan dan ketika kuliah lanjut, banyak informasi beberapa programmer yang S3 membuat bahasa pemrograman sendiri (misalnya ruby) atau jenis no-SQL seperti MonggoDB yang diutak-atik dari MySQL. Saat ini saya mengajar teknik kompilasi, dengan membuat parser sendiri sepertinya layak dipertimbangkan membuat interpreter sendiri agar meningkatkan performa bahasa yang ada (PHP dkk), atau bahkan mengganti dengan bahasa sendiri.

Sinta

Kalau diikuti terus perkembangannya, Sinta cukup berkembang pesat dibanding ketika pertama kali dibuat. Namun kritik pedas pun sering bermunculan baik di grup-grup WA atau di situs internat, bahkan dari luar negeri (walau penulisnya orang Indonesia). Termasuk salah satu kritikannya adalah terhadap komunitas KO2PI dengan artikelnya yang disitasi 42 kali walau beberapa tidak ada kaitannya, kata si penulis. Tiap kritikan terhadap indeks buatannya, pemerintah malah memakai SINTA sebagai penentu penerimaan proposal hibah yang merupakan sumber tenaga dosen dalam melakukan darma penelitian. Tanpa ada ID Sinta maka seorang dosen tidak bisa mengajukan proposal di link SIMLITABMAS. Kabar terakhir dari penelitian, pencairan luaran tambahan jurnal nasional terakreditasi cukup melampirkan link hasil publikasi di jurnal-jurnal yang terindeks Sinta. Jadi, makin didemo, makin Sinta digunakan sebagai penentu yang mengeliminir dosen-dosen tidak ber-Sinta (jangan-jangan yang Demo anti Sinta & Scopus memiliki indeks Sinta bahkan Scopus yang baik .. wah, mengurangi saingan). Ada baiknya Sinta juga mengakomodir saran-saran dari peneliti sehingga tercipata alat indeks yang demokratis.

Esensi Riset

DIKTI mengharuskan dosen penerima hibah penelitian untuk mempublikasikan hasil penelitiannya ke jurnal, baik lokal, nasional, mapun internasional. Jadi, penelitian harus dipublikasikan? Tentu saja tidak dipaksa (kecuali ada kontrak-nya), apalagi memang yang mendanai pihak tertentu yang hasilnya dirahasiakan. Tetapi jika dananya dari rakyat, sudah tentu harus dipublikasikan agar manfaatnya terasa oleh rakyat. Repotnya, publikasi yang open access berbayar, sementara yang gratis tidak bisa dibaca oleh orang yang tidak berlangganan jurnal tempat penelitian itu dipublikasikan. Di sinilah polemiknya, ada yg bilang jurnal sebaiknya tidak bayar (tetapi yang membaca harus bayar atau membajak) atau bisa diakses orang banyak tetapi berbayar karena publisher butuh biaya untuk mempublishnya.

Riset seyogyanya merupakan perbaikan sistem/metode yang ada saat ini. Biasanya karena ada akibat/dampak negatif dari sistem/metode tersebut. Sebagai contoh menarik adalah riset tentang e-commerce yang saat ini menjamur. Ada jeda waktu antara metode/produk yang saat ini eksis, misalnya GRAB, GOJEK, UBER dan sejenisnya, dengan riset ke depan, misalnya metode yang ramah lingkungan (sustainable) karena meningkatnya e-commerce meningkatkan pula penjualan yang pada akhirnya membutuhkan transportasi yang lebih banyak dari sebelumnya. Jika dengan bahan bakar fosil, maka akan mempengaruhi polusi udara. Selain itu sampah kemasan, misalnya plastik, tentu akan lebih banyak karena jumlah pemesanan yang meningkat (silahkan buka paket online, pasti sulit karena dibalut plastik yang banyak). Ke depan, sepertinya ada teknik-teknik untuk mengurangi polusi (dengan kendaraan listrik atau kemasan yang bio-degradable). Mengajar mungkin bisa digantikan dengan aplikasi e-learning, youtube, dan learning management system (LMS) lainnya, sementara riset hanya manusia yang bisa melakukan. Sekian, semoga bisa menjadi bahan diskusi bersama.

Pengurangan Jumlah SKS

Kabar gembira untuk mahasiswa yang tidak suka ber banyak-banyak SKS. Oiya, di sini SKS maksudnya Satuan Kredit Semester bukan “Sistem Kebut Semalam”. Info-nya (semoga bukan hoax) total SKS S1 dan D3 akan dikurangi. Silahkan penjelasannya baca di situs republika. Seperti biasa, setiap kebijakan ada pro dan kontranya. Rektor IPB misalnya setuju dengan kebijakan menteri dalam memangkas SKS dengan harapan mahasiswa bisa mengembangkan hal-hal lain di luar perkuliahan. Tetapi rektor ITS tidak setuju jika kebutuhan lulusan belum sesuai dengan industri dan malah seharusnya ditambah jumlah SKS-nya.

SKS di Indonesia

Sebagai dosen biasa yang mengelola jurusan, itu pun D3, saya tentu sudah seharusnya mengikuti aturan pemerintah. Ada sedikit pengalaman yang bisa dishare. SKS di negara kita sedikit berbeda dengan di luar negeri yang hanya berfokus ke kompetensi lulusan. Tidak ada mata kuliah yang tidak berhubungan langsung dengan kompetensi, seperti agama, kewarganegaraan, dan sejenisnya di tingkat universitas. Mungkin di level SMA ke bawah ada. Dan anehnya ketika saya mengambil mata kuliah 12 SKS (empat mata kuliah) entah mengapa saya kewalahan kalau tidak dibilang babak belur. Dan ketika semester berikutnya ambil 9 SKS (tiga mata kuliah) ternyata tidak ada masalah. Jika dilihat aturan main yang diberikan pemerintah tentang SKS (teori dan praktek) di luar negeri sama dengan kita, bedanya pada pelaksanaannya di luar negeri memang benar-benar dilaksanakan jumlah jam-nya. Misal 3 SKS dengan 2 teori dan 1 praktek, jumlah jam praktek-nya cukup menguras waktu. Silahkan baca perbandingan dengan Thailand, Jepang dan Eropa di slide ke-7 link ini. Oiya, di Indonesia 1 SKS berarti per minggu 50 menit tatap muka, 50 menit kegiatan terstruktur dan 60 menit kegiatan mandiri, jika dihitung-hitung normalnya minimal seorang mahasiswa ambil 16 SKS, maksimal 20 SKS yang berbeda dengan negara-negara lain tentunya.

SKS di Mata Dosen

Salah satu maksud menristek-dikti mengurangi SKS adalah agar dosen bisa lebih fokus ke aspek lain dari tri-darma selain dari pengajaran, yaitu penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Terus terang saya dan banyak rekan saya dulu merupakan dosen yang di awal berstatus dosen honorer (bahkan tanpa homebase). Beberapa saat ini sudah mulai melakukan tri-darma, terutama yang kerja utamanya mengajar, bukan praktisi. Namun masih banyak yang hanya mengandalkan mengajar sebagai aktivitas utama. Alasannya banyak dari yang memang kesulitan dalam melaksanakan riset (butuh kompetensi dan dana), atau alasan lainnya misal tidak ingin menelantarkan para mahasiswa karena dosennya sibuk riset … cieee. Ya, silahkan jalankan yang menurut kita benar. Jadilah dosen ideal yang murni dan tulus mengajar misalnya. Namun kondisi di era disrupsi cukup cepat berubah. Dosen butuh kepastian penghasilan, bahkan guru honorer pun saat ini mulai resah, untungnya ada tunjangan sertifikasi dosen. Dengan jumlah SKS yang kian menipis, sementara status yang walaupun ber-homebase tapi mengandalkan gaji dari jam mengajar. Tentu saja penghasilan akan berkurang signifikan karena para dosen lain yang berstatus tetap (bukan sekedar homebase) membutuhkan sekali jam mengajar karena tuntutan serdos.

SKS di Mata Institusi Pendidikan

Jangan lupa, era disrupsi yang telah banyak meminta korban saat ini mulai bergerak secara perlahan tapi pasti ke dunia pendidikan. Mahasiswa dapat mengakses media pembelajaran dari bermacam media, tidak harus dari dosen, walaupun untuk keterampilan tertentu tidak bisa hanya lewat aplikasi/media pembelajaran. Walau beberapa perusahaan raksasa dunia merekrut karyawan tidak lagi dengan kualifikasi akademik, melainkan skill, toh standar tetap diperlukan, alias institusi pendidikan tetap dibutuhkan. Bayangkan mengobati orang sakit, membangun gedung, jembatan, mengemudikan pesawat, dan keterampilan penting lainnya tidak ada standarisasi, tentu akan banyak mudharatnya. Untungnya selain pembelajaran, dua aspek lain tri-darma (penelitian dan pengabdian) sepertinya sulit ter-disrupsi. Tanpa ada penelitian, materi pembalajaran tidak akan berubah sejak jaman kuda gigit besi sampai sekarang, dan karena aktor yang meneliti hanyalah manusia maka tidak akan tergantikan dengan mesin artificial intelligent, bahkan mesin tersebut akan mensuport dan mempermudah peneliti baik dari sisi komputasi maupun pertukaran informasi (sepertinya untuk pengabdian juga). Belum lagi adanya Massive Open Online Course (MOOC) serta blended learning dan flipped learning yang maju mundur dan masih malu-malu, namun siap bergerak cepat ketika infrastruktur siap. Untungnya kunci menghadapi era disrupsi dan industri 4.0 sudah diketahui yaitu ada pada otomatisasi, efisiensi, dan pelayanan yang baik terhadap konsumen dengan literasi digital dan data (Big Data). Jadi nggak perlu khawatir … walau deg-degan juga sih.

Persamaan Persepsi Dosen

Selain mendengar dari orang lain, saya mengalami sendiri konflik yang terjadi antara satu dosen (bahkan satu grup dosen) dengan yang lain. Korbannya sudah dipastikan mahasiswa, khususnya ketika menyelesaikan tahap akhir penyelesaian skripsi/tugas akhir mereka. Biasanya terjadi karena ego antar dosen selain tentu saja beda pemahaman terhadap suatu konsep dan aturan-aturan yang memang ada hak independen dari sisi pengajar dalam berfikir ilmiah. Untuk masalah ego memang sedikit rumit, apalagi ada unsur-unsur konflik pribadi antar dosen. Postingan ini sedikit menggambarkan kondisi ini dari pengalaman pribadi.

Persamaan Persepsi

Untuk bidang tertentu yang skripsinya mirip-mirip antara satu sama lain dengan metode-metode yang sudah baku, sebuah pertemuan yang mengundang para dosen sangat penting. Manfaatnya untuk membuat standar yang baku dan adil terhadap mahasiswa. Misalnya topik-topik apa saja yang masuk wilayah domain jurusan dengan bentuk laporan skripsinya. Hal ini agar tidak membuat siswa bingung karena oleh satu dosen di suruh begitu, oleh dosen pembimbing yg lain disalahkan, kan kasihan. Juga dengan pertemuan itu, diharapkan kemampuan pembimbing bisa bertambah, minimal tidak jomplang satu dengan lainnya, apalagi jika disertakan dengan pelatihan/seminar oleh dosen yang dianggap pakar di bidangnya. Atau bisa mengundang pakar dari institusi lain.

Standar Tingkat Kesulitan

Sudah pasti tingkat kesulitan antara mahasiswa D3, S1, S2 dan Doktoral berbeda. Repotnya beberapa dosen guna mengejar publikasi menyamakan level D3, S1 dan S2 terhadap mahasiswanya. Melihat mahasiswa D3 yang diminta menganalisa antara satu metode dengan metode lainnya oleh dosen pembimbing kasihan juga. Walaupun ada baiknya tetapi tidak sesuai dengan tujuan D3 yang memang ketika bekerja hanya diminta menyelesaikan pekerjaan dengan metode tertentu yang diperintahkan oleh atasannya, harus selesai dengan baik dan cepat. Jika ngotot dan protes kalau metodenya kalah dengan yang lain bakal dipecat nanti. Jadi fokus ke skill pada level vokasi diutamakan. Level S1 pun berbeda dengan S2 yang mencoba ada aspek analisa satu metode dengan lainnya. Bukan hanya apa yang harus dilakukan tetapi juga mengapa suatu konsep diperlukan dan lebih baik dari konsep dan metode lainnya. Untuk mahasiswa doktoral terlepas dari pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana, aspek kebaruan sangat mutlak, walau pun sederhana/kecil. Silahkan membimbing mahasiswa doktoral jika ingin publikasinya banyak dan jangan memaksa mahasiswa S1 apalagi D3 untuk bisa mempublikasi di jurnal internasional yang memang dituntut state of the art.

Standar Internasional

Terkadang walaupun sudah ada persamaan persepsi antara satu dosen dengan lainnya, ketika implementasi di lapangan, ada hal-hal tertentu berbeda pemahamannya karena memang topik yang luas yang tidak bisa selalu disamakan. Jika terjadai ada baiknya menggunakan dasar dan rujukan yang baik dan benar. Untungnya saat ini sebagian besar sudah ada standarnya, misal UML, ERD, dan lainnya. Jadi tidak elok jika memaksakan metode sendiri (tidak standar). Salah satu contoh kasus di bawah ini, tentang ERD.

ERD di atas merupakan standar dari Chen (1976) dan karena sekedar contoh, tidak semua atribut ditulis. Tetapi yang jelas ERD merupakan diagram konsep. Ada polemik mahasiswa yang menggambar diagram di atas disalahkan oleh pembimbing (biasanya praktisi/programmer) karena diagram di atas tidak bisa dijalankan di aplikasi. Tentu saja, karena itu masih konsep dan perlu konversi menjadi tabel, dan ada teorinya (weak entity, many to many, dan lainnya untuk dikonversi menjadi tabel). Silahkan menggunakan beragam standar/jenis model ERD lain (crow foot) atau dengan class diagram UML berstandar internasional. Baik perancang sistem maupun programmer harus bisa bekerja sama bukan malah mengagung2kan bidangnya apalagi menjelek-jelekan bidang lain. Mungkin itu sekadar contoh, semoga bisa menjadi bahan evaluasi bersama.

Sumber Belajar Pemrosesan Teks dan Perolehan Informasi

Saat ini informasi sangat mudah didapat karena era Big Data dengan konsep 5V-nya (Velocity, Veracity, Volume, Value, dan Variability). Walaupun bagi praktisi Big Data ada konsep “data yang buruk lebih baik daripada tidak ada data” tetapi bagi pelajar dan mahasiswa, dibutuhkan sumber-sumber yang memang dibutuhkannya. Banyak ebook-ebook berkualitas baik banyak dijumpai di internet baik lewat situs sharing ataupun via media sosial seperti Whatsapp. Namun toh, para mahasiswa kurang begitu berminat membacanya (bahkan saya pun agak malas ..). Tapi ya, kalo bisa sih dibaca sampai habis.

Untuk pemrosesan teks, text mining, atau perolehan informasi salah satu buku andalannya adalah terbitan MIT press (C. Manning) dengan teori-teori dasarnya. Ada juga buku karangan Banch tentang Text Mining dengan praktek aplikasinya dengan Matlab. Kebanyakan karena saking “dasanya” jadi sulit untuk diterapkan langsung seperti bagaimana implementasinya di search engine seperti Google atau Bing.

Berbicara mengenai search engine, bagi mahasiswa atau saya juga, yang ingin belajar cepat sekelebat karena limit waktu yang terbatas, Google dkk menjadi andalan utama setelah situs-situs diskusi di internet. Modal dasar yang harus dimiliki tentu saja kemampuan berbahasa Inggris. Walaupun ada translate google, tetap harus bisa bahasa Inggris jika tidak ingin repot bolak-balik buka kamus.

Ada proyek-proyek online yang beredar di internet, salah satunya adalah situs ini yang menyediakan contoh sample data yang akan diolah.

Bagaimana cara mengolahnya? Silahkan download buku Text Mining with Matlab karya Banch, atau datang ke situs-situs diskusi, misalnya tentang pembuatan model bahkan membuat mesin yang bisa membuat sebuah kalimat dengan beberapa kata kunci.

Saya sempat mencobanya. Pertama-tama dengan Matlab 2008. Ternyata dengan versi tersebut banyak masalah yang dijumpai karena sudah tertinggal jauh. Silahkan gunakan yang terkini. Beberapa fungsi m-file perlu diunduh agar bisa berfungsi, dan lumayan bisa dipakai untuk mengutak-atik teks. Mungkin pembaca punya alternatif lain yang lebih baik, silahkan ber-komentar. Yuk, belajar text mining.