Jawaban Tugas Komputer II

Berikut penjelasan dari materi sebelumnya. Setelah mendownload file rth3, coba buka dengan Microsoft excel 2007. Coba isi kolom berwarna dengan cara berikut ini:


Kolom NAMA, nilai, IPK dan Dosen Wali berasal dari sheet DATA. Sedangkan max sks yang bias diambil menggunakan logika dengan rincian sebagai berikut:

IP > max mengambil 24 sks, IP 2.5 – 3 max mengambil 21 sks, ip 2– 2.5 max mengambil 18 sks, ip 1.5 – 2 max mengambil 15 sks dan dibawah 1.5 max mengambil 12 sks.

Pertama-tama kita harus membuat variable dari table, caranya pada sheet DATA, blok seluruh isian, kemudian beri nama “data” di atasnya, perhatikan gambar di bawah ini.


Selanjutnya variable “tabel” ini akan digunakan untuk operasi “Vlookup” yang akan diisi pada sheet KHS berikut ini. Kembali ke Sheet KHS, arahkan mouse pada cell nama untuk mengisikan nama secara otomatis berdasarkan NPM yang dipilih.

Perhatikan !! Ada dua notasi pecahan di dunia, yaitu dengan koma dan titik. Jika komputer Anda menggunakan koma sebagai pecahan, maka seluruh instruksi harus mengganti koma dengan “titik koma“. Standar itu dapat Anda ganti dengan mengklik – Excel Option – Advance.


Buang centang pada “use system separators” kemudian ganti decimal separator dengan thousands separator sesuai dengan standar yang dipakai. Jika sudah klik “Ok”.


Berikut penjelasan “Vlookup”. Disini b5 merupakan cel dari NPM yang menjadi patokan nama. Oleh karena itu ketik b5 setelah kurung buka. Setelah diketik ” ,” selanjutnya Excel akan meminta rangkaian table yang dijadikan arah “Vlookup”. Karena kita telah membuat variable bernama “tabel” yang merupakan arahan “vlookup” tersebut, maka ketik “tabel” setelah “,”. Dan terakhir, excel akan meminta kolom yang menjadi isian fungsi “vlookup”, dank arena nama merupakan kolom kedua dari, “tabel” maka isi dengan angka “2”. Dengan cara yang sama, isi juga nilai, ip, dan dosen wali. Coba cek, jika NPM diganti, Nama, nilai, ip dan dosen wali harus berubah mengikuti table yang ada pada Sheet “DATA”.


Perhatikan, IPK harus diturukan menjadi dua digit di belakang koma. Untuk gambar di atas buat menjadi “2.22” saja. Dan terakhir kita membuat formula “Max SKS yang bias diambil =” dengan menggunakan fungsi “If “.

Untuk perintah if ketik:
=IF(G12>3;24;IF(G12>2,5;21;IF(G12>2;18;IF(G12>1,5;15;12))))

Misal sulastri, IP 2,2 maka max sks yang bisa diambil = 18. Jika tidak jalan, berarti Anda harus mengganti titik koma dengan koma dan pecahan dengan titik, menggantikan koma. Selamat mencoba, semoga bermanfaat, baik mahasiswa UNISMA ataupun kampus/sekolah lain, mohon maaf jika kurang berkenan, Salam


Rahmadya Trias Handayanto


 

Membuat Jaringan Syaraf Tiruan (JST) di Matlab

Beberapa literatur banyak kita jumpai baik terbitan lokal maupun internasional yang membahas mengenai JST. Teknik yang merupakan salah satu dari sekian banyak teknik dalam Soft Computing. Ada baiknya kita membaca landasan teori mengenai JST pada salah satu buku itu, bila perlu buat ulang dari algoritma yang tersedia dengan bahasa pemrograman yang Anda kuasai seperti C++, Pascal atau Java. Matlab menyediakan toolbox yang dapat kita lihat struktur programnya. Misal kita ingin tahu bagaimana Matlab membuat JST. Ketik saja di command window: >> edit newff. Maka kita dapat melihat alur program M-File yang merupakan fungsi untuk merakit JST.

Misalnya kita memiliki tiga buah masukan dan satu keluaran. Keluaran yang dihasilkan akan kita arahkan ke sasaran tertentu. Teknik ini sering dikenal dengan nama Supervised Learning. Misal kita memiliki tiga buah sampel yang masing-masing menyatakan kurang, baik, dan cukup. Katakanlah sampel itu A, B, dan C. A=[0; 0; 1], B=[1; 0; 1] dan C=[1; 1; 1]. Perhatikan, di Matlab vektor kita nyatakan dengan matriks kolom. Berikutnya, karena bertipe pembelajaran terpandu, kita harus membuat target, T=[1 5 10]. Perhatikan, untuk target matriks dibuat dengan vektor baris. Artinya jika ada masukan seperti A, keluarannya harus mendekati target=1, jika masukan B, keluaran harus mendekati 5, dan begitu pula untuk masukan C. Untuk pembelajarannya, JST melakukan secara simultan A, B dan C. Jadi input untuk pembelajarannya: Input = [A B C] yang sama dengan, Input =[0 1 1; 0 0 1; 1 1 1] yang merupakan matriks tiga baris dan tiga kolom. Jika seluruh matriks sudah diinput pada command window, maka kita sudah siap untuk merakit JST. Ketik “nntool” pada Comand Window.

Klik Import, pilih variabel input pada workspace untuk input dan T pada workspace untuk target. Klik OK saat Anda diminta konfirmasinya. Jika sudah berarti kita telah memberikan masukan dan target pembelajaran. Tinggal kita merakit JST, klik “New” dilanjutkan dengan melakukan setting di Toolbox. Pilih masukan dan targetnya (Input dan T). Secara default, jumlah neuron per layer adalah 10 (layer tersembunyi). Di sinilah letak kelemahan JST. Jika Anda gunakan neuron terlalu banyak, jangan heran jika ada pesan kesalahan “Out of Memory”.


Jika sudah OK, pada nntool, dobel klik network1. Tentu saja Anda boleh merubah nama network1 menjadi nama lain sesuai selera. Lakukan proses pembelajaran dengan mengklik “Train”. Kembali kita diminta memilih Input dan Target. Jika sudah klik “Train Network”.


Selamat, Anda telah berhasil membuat JST sekaligus melakukan pembelajaran terhadap JST tersebut dengan tiga masukan tersebut. Kembali ke nntool, langkah terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah mengeksport JST itu ke workspace dengan mengklik tombol “Export”. Pilih salah satu saja yaitu network1, karena akan kita gunakan untuk menguji masukan tertentu apakah masuk kategori kurang(1), cukup(5) atau baik(10).

Untuk mengujinya, pada command window, jika anda ketik sim(network1,A), anda harus menemukan jawaban= 1. sim(network1,B), jawabannya harus 5, begitu juga yang C, jawaban harus 10. Coba misalkan ada data baru D=[1; 1; 0], cenderung masuk kelas baik, cukup atau kurang? Ketik saja sim(network1,D). Jawabannya adalah 10, berarti dia masuk kelas “Baik”. Mudah bukan? Tinggal tugas Anda adalah membuat tampilan visualnya (GUI) agar pengguna mudah memakai program JST yang baru saja Anda hasilkan lewat console. (Note: untuk yang ingin mengetahui competitive network, lihat posting berikutnya). Siapa tahu ada yang ingin melihat penerapan JST di identifikasi pola, lihat di sini. Atau jika ada yang tertarik untuk menerapkan JST untuk peramalan, bisa lihat di sini.


Rahmadya Trias Handayanto


Seputar Jaringan Syaraf Tiruan

Jaringan Syaraf Tiruan (JST) merupakan salah satu teknik dalam Soft Computing yang bermaksud meniru mekanisme otak biologi. Otak biologi yang terdiri dari Neron dengan Axon dan Dendritnya ditiru oleh JST berupa pembobotan pada neuronnya. Bobot dapat berisi penguatan ataupun pelemahan dengan fungsi yang berbeda-beda seperti linear, sigmoid, tangen sigmoid, dan fungsi matematis lainnya. Untuk merubah bobot agar sesuai dengan yang diharapkan perlu dibuat mekanisme pembelajaran. Salah satu teknik pembelajaran yang terkenal adalah perambatan balik (backpropagation).

Matlab menyediakan toolbox yang lengkap untuk membuat sistem JST, baik berupa fungsi ataupun layanan GUI-nya. Untuk yang gemar mempelajari Algoritma, ada baiknya Anda membaca algoritma dari M-File yang ada pada Source Code Matlab. Karena beberapa dosen tidak menyukai Matlab untuk pembelajaran karena khawatir mahasiswanya tidak berfikir tentang Algoritma pemrograman dan cenderung tinggal pakai. Sebenarnya banyak situs-situs yang menyediakan source code dengan bahasa C++ untuk sistem JST (atau mungkin Java). Akan tetapi jika anda sudah familiar dengan algoritmanya, dan ingin membangun aplikasi dengan cepat dan berpenampilan visual yang menarik, tentu saja pilihan kita jatuh ke software yang mendukung untuk itu, salah satunya adalah Matlab.

Salah satu yang kerap mengganggu saya untuk membuat aplikasi berbasis JST adalah kendala pembelajaran (learning). JST sangat membutuhkan sumber daya RAM yang tinggi, kerap kali jika neuron terlalu banyak, Matlab terkadang memunculkan pesan Out of Memory. Salah satu contohnya adalah saat saya membuat klasifikasi dari grafik yang diumpan oleh software “Wireshark” dengan target klasifikasi ke dalam kategori jaringan normal, padat ataukah tidak normal (ada virus, DOS, dan sejenisnya). Matriks gambar ukuran 200 x 300 harus sanggup saya konversi menjadi berukuran kecil bervektor kolom 100, dan tetap saja meminta saya menaikan RAM 3 Gb, padahal laptop saya memiliki RAM 2 Gb dan terpaksa saya perkecil lagi resolusinya menjadi vektor kolom 20 saja. Tentu saja akurasinya akan berkurang. Oleh karena itu saat pembelajaran sebaiknya pinjam saja komputer setara server dengan RAM yang besar dan Prosesor terbaru.


Aslinya gambar tersebut adalah grafik trafik jaringan dengan axis dan ordinat yang dibuang dengan fungsi “Imcrop” yang merupakan fungsi cropping suatu gambar untuk menghilangkan bagian lain yang diperlukan.


Pengolahan citra bermaksud mengkonversi gambar menjadi matriks dan vektor yang kemudian akan diolah oleh JST untuk keperluan pembelajaran ataupun klasifikasi ke dalam kelas tertentu. Sehingga saat dijalankan akan menghasilkan pesan tertentu.


Selamat mencoba


Rahmadya Trias Handayanto


 

Seminar Nasional Inovasi dan Teknologi (SNIT) 2011

Di hari rabu yang cerah tanggal 18 Maret 2011 dilaksanakan Seminar Nasional Inovasi dan Teknologi yang diselenggarakan oleh LPPM BSI di Jatiwaringin. Pemakalah utama antara lain Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit, Dr. Onno W. Purbo, Romi Satria Wahono, M.Eng dan M. Wahyudi, MM, MKom. Tema seminar ini adalah dengan inovasi dan kreativitas diharapkan mampu mengembangkan jiwa kewirausahaan.

Pemakalah utama pertama adalah seorang Profesor dari Perbanas yang juga ketua APTIKOM, Prof. R. Eko Indrajit. Banyak hal-hal menarik dan unik dari ceramahnya. Beliau baru tiba dari pemakalah di MIT Harvard Amerika Serikat. Sangat jarang orang Indonesia yang diminta untuk menjadi pembicara di kampus besar di negeri Paman Sam. Pertama-tama dia menyinggung tentang beda antara kreativitas dan inovasi dengan jiwa kewirausahaan. Perbedaannya adalah bahwa hasil inovasi dan kreativitas adalah ide, sedangkan jiwa kewirausahaan adalah menjadikan ide itu suatu keuntungan. Sebenarnya ada dua jenis manusia yang mengakses internet, yaitu produsen dan konsumen. Produsen menghasilkan profit, sedangkan konsumen cenderung terlilit hutang. Dengan sedikit menghibur, prof Eko mengatakan biarlah negara miskin yang penting rakyatnya kaya. Ada sebuat pertanyaan oleh pa Eko tentang ponsel. Kita selama ini mengetahui bahwa indikator adanya telpon masuk pada Handphone adalah suara (nada dering) dan getaran. “Coba cari teknik lain yang mungkin sebagai alternatif dari suara dan nada getar !!” tanyanya. Pertanyaan ini sebenarnya bermaksud memancing kreativitas dari audiens. Jawaban pun bermunculan dan beraneka ragam dari yang logis seperti lampu ruangan yang mati/redup, suara alarm, hingga yang agak konyol seperti bau, keluar asap, nyetrum, bahkan hilang (karena tiga kali bunyi tidak diangkat). Beliau mencontohkan lagi misalnya tentang asuransi, sering kita lihat orang-orang yang menawarkan asuransi dor-to-dor, yang sangat membuat frustasi. Kita tentu cenderung mengelak saat marketing asuransi menghampiri kita. Coba kalau kita kreatif sedikit. Negara lain membolehkan penumpang pesawat memainkan handphone baik telepon maupun SMS. Seandainya para marketingnya sedikit kreatif, kirimkan saja SMS ke penumpang pesawat. Perlu diketahui saat pesawat menabrak awan atau melewati hutan dengan kadar oksigen berfluktuasi akibat disedot oleh pohon, pesawat itu akan bergetar. Tentu saja di fikiran para penumpang adalah kekhawatiran tentang keselamatan. Saat cemas, jika ada pesan: “Anda mau asuransi, jika ya ketik 1 dst”, tentu saja kemungkinan lakunya lebih besar. “Tapi itu bisa saja kan nanti pihak asuransi kerja sama dengan pilot, dengan membuat pesawat goyang-goyang yang dibuat-buat”, yang disambut tawa oleh para audiens. Sedikit otokritik terhadap peneliti kita adalah, kita cenderung merahasiakan hasil penelitian kita yang terkadang dibawa hingga mati. Padahal jika disebarkan, mungkin bisa bermanfaat oleh orang lain, tentu saja saudara-saudara kita yang memiliki jiwa kewirausahaan. Lemahnya jiwa kewirausahaan kita tampak dari negara-negara tetangga kita yang mengakses digilib ITB lalu mengembangkannya hingga dihasilkan patent yang laku dijual. Sebenarnya, negara kita lebih diuntungkan karena alasaan banyaknya masalah, karena masalah dapat menciptakan kreativitas. Negara-negara maju lainnya, sangat sulit mengembangkan kreativitas diakibatkan karena kemapanannya. Sempat juga saya berfikir, kenapa istilah dunia maya sekarang diganti menjadi Cyber? Ternyata jawabannya adalah, bukan Cuma luna “Maya”, Cut Tari juga, dilanjutkan dengan gelak tawa para hadirin. Sayang waktu yang disediakan oleh beliau hanya kurang dari 15 menit yang dilanjutkan oleh “Paman-nya” (yang dimaksud adalah Dr. Onno W. Purbo).

Berikutnya tampil P Onno yang dengan gayanya yang kocak menampilkan teknologi baru yang mensharring harddisk ke switch dan memutarkan film/lagu dari komputer Client. Kacau juga, yang ditayangkan lagunya Shakira dengan goyanganya. Ternyata teknologi yang dirancang tersebut lebih laris dijual di luar negeri. Onno merupakan pensiunan dari dosen ITB dan katanya, bekerja di rumah saja. Dengan jumlah millist yang banyak sehingga beliau menerima ribuan email setiap hari, yang hanya dijawab ratusan saja. Seringkali pertanyaan tersebut berulang. Tetapi ada manfaat positifnya, kita jadi tahu trend apa saja yang diinginkan oleh konsumen kita. Dan ternyata kebanyakan dari teknologi internet dan wireless, kebanyakan pertanyaan hanya seputar, bagaimana caranya mendapatkan internet murah/gratis, telpon murah/gratis dan sejenisnya. Oleh karena itu kita sebaiknya mengganti pemasangan iklan lewat spanduk, karena jarang spanduk dilihat oleh orang-orang yang membutuhkan. Dengan masuk ke suatu millist, kita dipastikan bergabung ke dalam orang-orang yang membutuhkan terhadap topik dari millist tersebut. Beliau mencontohkan tentang teknologi yang beberapa waktu lalu sempat booming, yaitu teknologi wajan bolik dengan wajan yang disisipi wirless USB yang dapat menjangkau tempat yang cukup jauh (RT-RW net). Ternyata teknologi itu muncul dari hasil tanya jawab di millist yang prosesnya hampir 4 atau 5 tahun. Muncul pertanyaan, apakah keuntungan dari kita melakukan sharing ilmu pengetahuan di Internet secara gratis? Seperti jawaban Pa Eko yang menganalogikan dengan penyanyi dan nyanyian. Beri saja mereka nyanyian, toh yang menyanyikan adalah penyanyi. Seperti misalnya Ariel, tentu saja berbeda nilainya jika lagu Ariel dinyanyikan oleh Uya Kuya misalnya. Sebagai contoh, suatu kampus mensharring materi perkuliahannya secara gratis. Jika seseorang telah mengetahui konten suatu kampus, tentu saja dia lebih mudah mengambil kebijakan apakah kuliah di kampus tersebut atau tidak. Jadi dari sisi marketing pun lebih baik, bahkan jika konten bagus, dosen menjadi laris menjadi pembicara di mana-mana. Onno purba menjawab dengan jawaban yang tidak jauh berbeda. Beliau mengisahkan banyak dosen-dosen yang pelit, bahkan diktat pun dirahasiakan, sehingga diistilahkan dengan dosen “Diktator”. Pernah ada kejadian dosen yang pelit membagi ilmu yang suatu ketika terkena stroke sehingga seluruh memorinya hilang. Coba seandainya dia rajin menulis, tentu masih ada yang tersisa dari buah pikirannya, bahkan jika orang tersebut meninggal masih meninggalkan sisa. Karena seperti ungkapan prof Eko sebelumnya, ada dua orang yang bisa hidup 1000 tahun yaitu Chairil Anwar (lewat puisi Aku) dan … “drakula”. Beliau senang sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan baik dari millist maupun facebook. Tentu saja jika ada yang bertanya lewat email, cenderung akan diarahkan ke millist, karena email hanya penanya yang bersangkutan yang menjawab, berbeda dengan millist yang dilihat oleh anggota millist yang ribuan jumlahnya. Dia mengaku terkadang secara Cuma-Cuma melakukan sharing ilmu pengetahuan baik dari blog, maupun wikipedia. Jangan khawatir salah, toh nanti dari komentar ada yang membetulkan. Triknya adalah kita jangan menggurui, beri pernyataan yang jika salah tidak terlalu disalahkan, yakni berupa saran dengan kata kunci: “mungkin, barangkali, .. atau tolong perbaiki jika saya salah”. Oleh karena itu, kita sebaiknya membudayakan tulis-menulis, karena tulisan bisa berdampak sangat dahsyat.

Berhubung Pa Romi belum muncul juga, pembicara ketiga diisi terlebih dahulu oleh pembicara keempat yaitu Pa Wahyudi yang merupakan pembantu direktur I bidang Akademik BSI. Bapak tiga anak ini teman saya sewaktu masih ngajar di BSI dan Nusa Mandiri. Terkenal sebagai orang yang tegas, berwibawa dan selalu belajar, terutama tentang dunia IT. Memiliki sertifikat hacker dan IT Forensic. Dipandu oleh Kajur MI, Pa Ishak, beliau memaparkan tentang statistik dunia tenaga kerja di Indonesia yang cukup banyak penganggur karena tidak diserap oleh dunia kerja. Penganggur-penganggur itu hampir dipastikan kurang memiliki jiwa kreativitas dan inovasi. Karena kreativitas ternyata tidak selalu membutuhkan teknologi dan ilmu yang “Hi-tech”. Dengan bekal ilmu apapun yang ada pada kita, kita dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang menimpa kita. Ada sedikit tebak-tebakan mengenai gambar bintang yang tersembunyi di antara sekian banyak segitiga-segitiga. Kreativitas merupakan kemampuan fikir yang bersifat mencipta. Kreativitas dapat dimanfaatkan untuk apa saja, terutama yang membantu pekerjaan kita sehari-hari.

Pa Romi akhirnya tiba dengan sedikit lelah karena naik tangga dari bawah ke lantai lima. Kebetulan tiba setelah materi p Wahyudi hampir selesai. Seperti biasa, beliau menceriterakan mengenai kesalahan kurikulum yang banyak menimpa di perguruan-perguruan tinggi komputer di Indonesia. Beliau menyarankan untuk mengadopsi kurikulum internasional yang membagi wilayah-wilayah IT menjadi CE, IS, IT, SE (lihat: http://www.romisatriawahono.net). Cara gampangnya adalah, jika kita belum memiliki sumber daya dosen yang memadai, coba searching buku-buku terkini yang banyak digunakan, seperti untuk RPL bisa menggunakan Ian Sommerville dan lain-lain di Amazon. Beli satu buku, dan biasanya sudah lengkap berisi power point dan SAP. Dosen bisa belajar terlebih dahulu. Dengan tetap mengusung Enterpreneurship, beliau menayangkan tokoh-tokoh kreatif di cyberspace seperti Linus Torvald untuk Linuxnya, Jerry Yang dengan Yahoo, M Zukenberg untuk Fb, penemu google serta Mozzila yang cukup memberi inspirasi. Seperti misalnya penemu wordpress, di nekat memasarkan produknya yang dari sisi php sebenarnya sederhana. Sangat dianjurkan kita bisa “menjual diri” lewat internet. Kemampuan bicara dan menulis harus dipupuk dan diasah terus, belajar bicara, jika tidak ada yang diajak bicara, bicara saja dengan binatang (disambut tawa audiens).

Setelah makan siang, dilanjutkan dengan sesi presentasi para pemakalah dari BSI dan kampus-kampus lainnya. Bagaimanapun hasilnya tetap saja kita patut menghargai hasil tulisan para peneliti kita, terutama dari para dosen (yang oleh P Romi diistilahkan dosen beneran) yaitu tri darma (mengajar, meneliti dan pengabdian). Semoga seminar ini terus dilanjutkan ke depan. Sekitar beberapa bulan lagi akan ada seminar Internasional di Yogyakarta. Sepertinya harus ikut nih .. sekalian pulang kampung.

Pertemuan IX: Generalisasi dan Inheritance

Salah satu teknik pemrograman berbasis objek adalah generalisasi dan inheritance. Konsep ini dapat dianalogikan dengan induk dan anak dimana anak akan mewarisi sifat induknya. Untuk mempermudah pemahaman ada baiknya kita coba untuk mempraktekkannya dengan bahasa Java dengan IDE Netbeans.


Buat project baru dengan cara File – New Project. Pilih kategori Java dan pilih Java Application pada kolom yang kanan.


Anda akan diminta memberi nama serta lokasi tempat penyimpanan dengan cara mengklik “Browse“. Jika direktori tidak muncul klik “Desktop” agar memunculkan seluruh direktori yang ada di komputer.


Setelah diklik “Computer” akan terlihat seluruh direktori yang ada. Cari folder yang Anda inginkan. Jika sudah, beri nama project Anda, misalnya “Generalisasi“.


Setelah di klik “Finish” berarti Anda telah siap membuat project. Perhatikan Netbeans memberikan satu kelas secara default dengan nama “Main“. Berikutnya kita akan membuat dua kelas baru yaitu kelas persegiPanjang dan kelas Balok. Cara membuat kelas baru adalah sebagai berikut:


Pada paket “Generalisasi” klik kanan kemudian pilih New – Java Class. Beri nama “persegiPanjang“. Dengan cara yang sama buat juga kelas berikutnya yaitu kelas “Balok“.


Dobel klik kelas persegiPanjang dan tulis program yang menghitung luas persegi panjang dari masukan panjang dan lebar dengan cara objek. Walaupun beberapa literatur bisa juga membuat program Java secara terstruktur, alangkah baiknya Java dibuat dengan basis Objek. Perlu diketahui bahwa tiap objek memeliki nama, atribut dan operasi. Lihat listing persegiPanjang berikut ini.


Perhatikan, pada kelas persegiPanjang terdapat dua atribut yaitu panjang dan lebar yang bertipe double. Script baris ke 15 bermaksud merubah variabel panjang yang diterima lewat masukan tertentu (nanti menggunakan form) menjadi double, dilanjutkan dengan script ke 18 yang menangkap variabel itu ke kelas yang bersangkutan lewat mekanisme “this“. Diakhiri dengan methode getPanjang yang menginstruksikan Java bahwa variabel panjang harus disimpan. Penjelasan yang sama untuk setLebar dan getLebar. Operasi terakhir adalah getLuas yang memerintahkan Java untuk menyimpan hasil perkalian panjang dan lebar.


Berikutnya kita membuat kode program balok. Karena balok merupakan anak dari persegi panjang (Inheritance) maka pada awal program perlu ditambahkan extends dan dilanjutkan nama kelas induknya (lihat baris ke-12). Saat menghitung volume, kita tinggal memanggil “getLuas” dari induknya (persegi panjang) dengan mengetik instruksi “super“. Perhatikan, saat diketik titik, harusnya ada bantuan getLuas, jika tidak, mungkin Anda belum menulis “extends” di awal program, atau getLuas di persegiPanjang bertipe “private“, oleh karena itu ganti menjadi “public“.


Buat kelas baru dengan nama formBalok dengan tipe Jframe Form. Buat rancangan Graphic User Interface (GUI) seperti gambar di atas. Buat programnya dengan mendobel klik “Hitung“.


Perhatikan, baris pertama bermaksud membuat suatu instance baru bernama “b“. Instance adalah objek yang dibuat dari suatu kelas, dalam hal ini kelas “Balok“. Karena dibuat dari kelas balok maka seluruh operasi pada kelas balok diterapkan juga di objek “b” tersebut, seperti setPanjang, setLebar, dan setTinggi. Methode getText() sudah tersedia di Java, yang bermaksud menangkap text dari inputan pada Text Field (jTextField1, jTextField2, dan jTextField3). Disarankan untuk memberi nama baru pada variabel tersebut, karena nama tersebut merupakan nama bawaan Netbeans. Instruksi “setText” merupakan kebalikan dari getText, yaitu mengirimkan Text ke Text Field tertentu (dalam hal ini jTextField4). Klik kanan pada Form Balok, pilih Run File, hasilnya harus seperti ini.


Selamat Mencoba


Rahmadya Trias Handayanto

Instalasi Matlab

Matlab tersedia dalam dua pilihan, yakni untuk sistem operasi Windows dan Linux dan bahkan tersedia juga untuk komputer Machintosh. Untuk versinya, setiap tahun biasanya mengeluarkan versi terbaru, misal Matlab 2009, 2010, 2011, dan seterusnya. Misalnya saya akan menginstall versi 2010, sediakan terlebih dahulu source Matlabnya. Beberapa situs terkadang menyediakan file master yang disharing, misalnya www.avaxhome.ws. Masukkan pada kolom search: Matlab, maka akan ditampilkan baik software maupun ebook tentang Matlab. Atau coba Link ini. Biasanya dalam satu paket berisi file-file berikut ini:


Jika dalam bentuk CD biasanya langsung AutoRUN, atau klik saja file “setup”, maka Anda akan masuk ke proses instalasi Matlab 2010. Biasanya akan muncul instalasi Microsoft visual c++.


Yang dilanjutkan dengan mengkopi file-file yang dibutuhkan Matlab.


Saat akan menginstall matlab, diperlukan serial number, dan diakhiri dengan aktivasi setelah Matlab berhasil diinstall. Ada dua pilihan, yaitu Matlab Stand Alone dan Matlab network. Biasanya yang kita gunakan adalah Stand Alone. Untuk mudahnya baca readme di CD/File master Matlab 2010 dan ikuti saja langkah-langkahnya. Pilih install tanpa menggunakan internet saat muncul pesan di awal proses instalasi, lalu klik “Next>”.


Bacalah license agreement sebelum mengklik tomblo radio “Accept”. Matlab termasuk software mahal, akan tetapi untuk pendidikan memiliki harga khusus yang jauh lebih murah.


Berikutnya pada jendela File Installation key, pilih “I have the File Installation Key for my license ” jika sudah memiliki, dan masukan angkanya.


Klik “Next>” maka jendela berikutnya adalah pilihan instalasi. Pilih Typical saja dan biarkan default lokasi program di C:\ kecuali jika Anda ingin memindahkan letak folder instalasinya.


Setelah mengklik “Yes” maka Matlab akan membuatkan folder di C:\Program Files\MATLAB\R2010b\. Terakhir, sebelum proses instalasi, Matlab akan menampilkan fitur-fitur apa saja yang akan dipasang, pilih “Install” dan tunggu beberapa saat (tergantung kecepatan prosesor Anda) sampai proses instalasi selesai.


 Perhatikan dua tiga file pada source file, tampak satu buah file readme (txt) dan dua buah file aktivasi (dat) yang akan digunakan saat aktivasi.


Saat proses instalasi selesai, maka Anda diminta memilih menggunakan langsung Matlab yang baru diinstall itu, ataukah melakukan proses aktivasi. Jika Anda telah memiliki file Aktivasi, anda tinggal mengarahkan (Browse) ke file aktivasi pada komputer Anda. Untuk server, gunakan lic_server dan untuk standalone gunakan lic_standalone. Berikut ini cara penggunaannya. Jika Icon Matlab tidak muncul di Desktop, tidak berarti Anda gagal menginstall Matlab, coba cari dengan explore di lokasi: C:\Program Files\MATLAB\R2010b\bin. Anda akan menjumpai Matlab.exe, buat short cut ke dekstop dengan klik kanan – Send to – Desktop (Create Shortcut). Banyak software yang mirip dengan Matlab tetapi berbasis open source seperti Scilab, Octave, Euler Math Toolbox dan FreeMat. Namun, tentu saja sedikit kurang fleksibel dibanding Matlab. Jika dibuka, tampilan Matlab akan seperti gambari berikut ini.


[update:3.5.2018]

Beberapa versi Matlab lama sejak akhir 2017 diminta untuk aktivasi kembali. Jika tidak maka tidak bisa digunakan. Selain dengan mengundurkan “date and time” windows yang digunakan, cara lain adalah dengan menggunakan kode aktivasi versi terbaru, misal 2013 ke atas.