Memulai Quantum GIS Desktop (QGIS) Versi 2.6

Untuk memulai software ini ada baiknya kita sedikit membaca teori tentang Geographic Information System (GIS) yang banyak beredar di internet. Dimulai dari jenis data yang diolah oleh GIS (raster atau vektor), istilah-istilah yang digunakan seperti landuse, aspect, geospatial, dan sebagainya, harus benar-benar dipahami, minimal yang akan kita olah di GIS. Misalnya saya akan membuat informasi mengenai land use di daerah tertentu (misalnya pathumtani, Thailand). Untuk mengetahui bagaimana cara menginstall software GIS gratis ini dapat dilihat di post sebelumnya.

Figure 1 Mengeset Proyeksi

Langkah pertama adalah Anda masuk ke properties dan mengeset projection yang sesuai, di tempat kami adalah WGS84 UTM ZONE47N. Setelah itu coba mengenali icon-icon yang bertebaran di sekitar jendela QGIS. Setelah itu cari data yang Anda inginkan, bisa lewat internet, bisa juga dari instansi-instansi terkait. Di sini saya memiliki data wilayah, landuse, dan jalan, semuanya berupa shapefile (ekstensi *.shp).

Figure 2 Proyeksi yang Sesuai Wilayah

Berikutnya buat tiga layer yang berisi peta wilayah, landuse, dan jalan raya. Ekstensi yang dibuka adalah shapefile (shp). Tambahkan label untuk menunjukan nama suatu lokasi, jalan, atau pemanfaatan wilayah sesuai dengan data yang dimiliki.

Figure 3 Memilih Simbol yg Ditampilkan

Tentu saja kita harus memahami attribute yang ada di tabel. Biasanya instansi yang memiliki data tersebut menyediakan juga data dictionary yang menjelaskan maksud istilah-istilah tersebut. Jika sudah, coba anda buat versi siap cetak (berupa file pdf atau image). Lakukan langkah export seperti pada Arcview, dengan penambahan berupa judul, legend, skala, dan sebagainya. Berikut hasil export-nya, sorry, agak terburu-buru buatnya. Selamat mencoba.

Figure 4 Hasil Layout Keluaran (PDF)

Installing QGIS 2.6

Kita sudah lama mengenal Arcview, Arcgis, Arcinfo, dan sejenisnya yang merupakan produk dari ESRI. Software untuk mengolah data spatial itu merupakan software berbayar yang cukup ampuh dan sudah banyak digunakan baik oleh instansi pemerintah maupun swasta. Tapi dengan perkembangan kebutuhan yang pesat, pengguna menginginkan aplikasi yang cocok untuk kasus-kasus tertentu, untuk bidang yang lebih spesifik. Karena software berbayar tidak menyediakan source code maka agak kesulitan jika ingin membuat aplikasi khusus karena harus membuat code program terlebih dahulu. Beberapa pengembang menyadari hal ini dan membuatkan beberapa aplikasi untuk mengelola GIS dengan source code yang bebas digunakan dengan syarat tertentu (open source). Salah satu aplikasi yang terkenal adalah Quantum GIS atau sering disingkat QGIS.

Buka situs resmi Quantum GIS (QGIS) dan download versi terbarunya, jangan lupa sesuaikan pula dengan sistem operasi yang anda miliki, termasik 32bit atau 64 bit. Ketika selesai mendownload, anda diminta memilih desktop atau webgis.

Untuk tahap awal, install versi desktopnya dulu. Setelah itu Anda diminta dimana lokasi downloadnya. Pilih salah satu hingga tombol next muncul.

Terakhir kita diminta memilih paket mana saja yang akan kita install, perhatikan ada juga pilihan GRASS GIS. Paket ini sangat membantu jika Anda mempelajari remote sensing.

Klik “next” terus ketika diminta, dan beberapa kali kita diminta accept term dan kondisi, baca jika Anda sedang belajar bahasa Inggris.

Salah satu keunggulan software open adalah tersedianya sarana pembantu (help) yang biasanya sudah termasuk ketika kita menginstallnya. O iya, tanggal 2 Desember 2014 akan diadakan pertemuan dari pengembang-pengembang software GIS open di kampus AIT.

Cara kerja serta konsep-konsep yang ada di Arcview mirip dengan Qgis, mungkin beberapa istilah sedikit berbeda seperti Extensions pada Arcview, pada Qgis istilahnya Plugin.

Berikutnya adalah mempelajari cara kerja software ini agar dapat membantu kita menyelesaikan kasus-kasus yang berhubungan dengan spatial data. Jika pada tulisan yang dahulu pada digitalization kita menggunakan image dari foto, google, dan sejenisnya, hasilnya mungkin kurang tajam. Gunakan Open Street Map (OSM) yang dapat diakses dari situs ini.

Engkau Masih Tetap Guruku ..

Ketika SMP dulu guru saya sering bercanda kalau profesi pengajar itu pasti doanya baik. Semua guru katanya pasti bedoa agar anak didiknya pandai. Apakah semua profesi seperti itu? Ternyata katanya bisa saja tidak. Dokter misalnya, bisa saja doanya semoga banyak orang yang sakit. Saya cuma bisa senyum-senyum saja, toh kami sekelas hanya menganggapnya lelucon dan selingan ketika dia mengajar. Ada lagi yang mengatakan bahwa pengajar itu jika yang diajarkan tepat, mendapat dua pahala, tetapi jika kurang tepat akan mendapat satu pahala, jadi jangan takut mengajar, walaupun saya sempat dibilang “sotoy” di komentar, yang saya tanya temen2 artinya itu sok tahu. Yah .. ga papa lah.

Pahala yang mengalir terus

Saya sering mendengar hadits yang mengatakan bahwa ketika seorang wafat, putuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal: ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak yang sholeh/sholehah. Jadi status pahala pengajar itu akan mengalir terus walaupun yang mengajarkan sudah wafat, tentu saja ada kata “bermanfaat”, walaupun terkadang kita menganggap sepele dan tidak bermanfaat oleh kelompok lain ternyata sangat bermanfaat.

Tidak selalu kita belajar dari guru tentang ilmunya

Dari pengalaman saya sekolah dan kuliah, hingga saat ini sebagian ilmu yang diajarkannya tidak secara langsung saya manfaatkan. Bahkan sampai oleh rekan saya yang “keluar” dari profesi mengajar mengatakan ilmu itu tidak ada gunanya. Saya sedih sekali mendengarnya, apalagi keluar dari mulut teman yang pernah sama-sama mengajar. Tetapi benarkah demikian? Di salah satu grup facebook bahkan diupload gambar lucu yang berisi tulisan rumus-rumus integral kalkulus yang rumit-rumit, kemudia di bawahnya muncul tulisan: “jujur saja .. apakah yang kita pelajari kita gunakan saat ini?”. (source gbr 1).

Repotnya adalah negara kita menyukai segala sesuatu yang instan. Kurang menghargai proses, apalagi prosesnya panjang tak terlihat ujungnya. Kita gemar sekali protes dan mempertanyakan segala sesuatunya. Ada bagusnya menurut saya, tapi lebih baik lagi cari jawabannya sendiri, searching di internet, baca sejarah negara-negara yang maju, dan sebagainya. Guru itu paling capek dan sebelĀ  menjawab pertanyaan mengapa materi ini diajarkannya. Dengarkanlah keindahannya sampai selesai, jangan kau intrupsi orkestra indah yang sedang berjalan ini.

Namun kalau saya renungkan, hampir selalu saya meniru apa yang diajarkan guru kita terlepas dari materi/bahan ajar. Ketika guru matematika SMP saya mengecek jawaban secara bersama-sama, saya kagum ketika dia menghitung jawabnnya tanpa coret-coretan, alias di luar kepala. Bagaimana guru bahasa Indonesia SMA saya melakukan komposisi kalimat yang singkat, padat, dan mengena di satu kasus, dan melakukan komposisi yang indah penuh warna-warni di kasus yang lain. Atau ketika guru Fisika saya menjelaskan rumus reaksi nuklir yang rumit menjadi sangat sederhana. Bahkan di bangku kuliah, ada satu mata kuliah yang selalu mendapat nilai buruk, tetapi saya mengagumi cerita dia, bagaimana ketika dia bepergian dengan kereta dia melihat struktur sasis kereta, suspensi, sambungan, dan sebagainya dan ini mengajarkan kepada saya untuk selalu terus berfikir di mana saja.

Ikatan guru murid tak pernah putus

Di jaman internet dengan dibanjiri fasilitas social media membuat informasi sangat cepat bahkan tetap terjaga walau orang yang pernah bersama kita sudah jarang bertemu lagi. Tentu saja ada buruknya, tetapi kita ambil saja sisi positifnya. Terkadang ada rasa puas ketika melihat anak didik kita setelah lulus sukses menjalani karirnya. Dan sedih pula jika terjadi hal sebaliknya. Ketika saya mengajar menggambar dengan komputer, saya sempet bertanya dalam hati mengapa ada seorang siswa yang ikut belajar walaupun tidak terdaftar di absensi. Walaupun bisa saja saya mengusirnya, tetapi saya biarkan (hanya beberapa sesi ikutnya). Saya termasuk pengajar yang terlihat dari luar “cuek”, “masa bodoh”, apakah siswa itu mengerti atau tidak, tentu saja itu luarnya saja, he he. Tidak lama kemudian, rekan dosen yang lain ketika senggang mengatakan bahwa ada seorang siswa bimbingan tugas akhirnya yang ikut mata kuliah gambar saya, waktu itu memang saya mengajarkan menggambar meja dan bangku tiga dimensi ketika ada siswa tersebut. Ternyata siswa tersebut baru saja diterima bekerja sebagai drafter. Ketika ditest, kebetulan soalnya menggambar meja tiga dimensi, tentu saja dia bisa mengerjakan dan langsung bekerja di sana.

Jadi jangan liat dari luarnya saja, terkadang ada guru yang “sengaja” memperlihatkan kalau dia tidak menyukai/tidak puas dengan kita, padahal di dalam hatinya berbeda. Ketika SMA dulu, selepas pengumuman UMPTN pasti anak kelas III akan datang ke sekolah sekedar bersalam-salaman dengan guru-guru. Ada seorang guru yang ingin saya temui, ternyata sangat sulit dan sepertinya “ngumpet”. Akhirnya saya menduga dia tidak ingin pahalanya berkurang dengan munculnya ego bahwa saya bisa sukses karena didikannya.

Waktu kuliah, saya sempat bersungut-sungut ketika ditegur oleh dosen saya. Oiya, adakah dari pembaca yang “biasa-biasa” saja ketika diusir? Saya merasa dosen tersebut sama sekali tidak memperhatikan mahasiswanya dan terkesan cuek. Dan sialnya lagi .. eitt, saya harus stop di sini. Hingga lulus tidak ada kesan apapun terhadapnya. Waktu itu memang sedang krisis moneter, jadi saya kesulitan mencari pekerjaan. Karena kehabisan stok legalisir ijazah, berangkatlah saya ke Yogya dan numpang di kos-kosan sahabat baik saya yang belum lulus. Ketika ngopi sambil memandangi gunung merapi, dia mengatakan “eh .. tau nggak Pa “X” menanyakan ke saya, gimana? Si rahmadya udah kerja apa belum?”, teman saya mengatakan “katanya belum pa”, sambil menjelaskan ekspresi sedih dosen tersebut sambil mengusap kepalanya. Saya langsung terdiam ketika mendengarnya, mungkin teman saya melihat saya terdiam karena sedih belum bekerja, padahal saya terdiam karena kaget, dosen yang selama ini saya anggap “tidak perduli” ternyata diam-diam memperhatikan siswanya walaupun sudah lulus. Seandainya teman saya tidak menceritakan hal itu mungkin sampai sekarang saya masih menganggap dosen saya itu dosen yang “tidak perduli”.

Figure 2 Fakultas Teknik UGM (Source: klik di sini)

Update: 15 Oktober 2015

Tahun 2013 saya kedatangan temen satu angkatan t.mesin, waktu itu ngobrol sampai malam di AIT Thailand, termasuk ngobrolin dosen pembimbing saya dulu. Tahun 2014 ternyata beliau dipanggil Allah, Innalillahi wainailaihi roojiun, saya baru tahu ketika teman saya satu angkatan tersebut main lagi ke kampus tempat saya belajar (2015) .. Semoga diterima di sisi-Nya, spiritmu tetap hidup di jiwa muridmu ini

Edit Tabel pada GIS untuk Klasifikasi

Tabel dalam GIS selain berisi koordinat juga berisi atribut, misalnya kondisi tanah di suatu region. Berikut ini contoh melakukan konfigurasi ulang terhadap data yang ada karena akan dilakukan proses pencarian lokasi optimum untuk menanam padi. Data yang diperoleh adalah daerah Sakon Nakhon di Thailand.

Figure 1 Daerah Sakon Nakhon di Thailand

Untuk curah hujan, kita dengan mudah dapat membagi menjadi buruk, baik, sangat baik, dan seterusnya. Untuk tanah sedikit rumit karena untuk standard tanah yang baik tidak ada yang sama dengan kondisi riilnya. Untuk itu sedikit dilakukan modifikasi saat melakukan query terhadap lokasi-lokasi tertentu yang mirip. Misal untuk kondisi yang kurang cocok, tanah mengandung Loamy Sand (LS), Sandy Clay Loam, dan Sandy Loam (SL).

Figure 2 Alat bantu Query

Pertama-tama kita edit tabel dengan menambahkan satu field baru yang sesuai kriteria yang dipakai untuk pertimbangan lahan yang cocok. Dikumpulkan terlebih dahulu berdasarkan kriteria di atas setelah itu dilakukan classify berdasarkan output yang direncanakan.

Figure 3 Menambahkan Field Baru

Terakhir untuk mempermudah pembacaan kita melakukan geoprocessing untuk hanya menampilkan klasifikasi di tiap daerah dengan menggabungkan daerah yang memiliki klasifikasi yang sama. Jangan lupa tambahkan extension geoprecessing lewat menu arcview.

Figure 4 Hasil Reclassify

Gambar di atas memperlihatkan bahwa lokasi berwarna merah sangat cocok untuk ditanam padi berdasarkan kriteria kandukan mineral. Tentu saja kita akan mengintegrasikan pertimbangan tersebut dengan curah hujan, kemiringan lahan, lokasi arah matahari, dan sebagainya sesuai arahan dari Food and Aggriculture Organization (FAO). Gambar di bawah ini setelah proses aggregation terhadap daerah dengan attribut yang sama (proses dissolve).

Figure 5 Hasil Dissolve

Perlu sedikit keahlian menangani data, juga melakukan join terhadap data jika ada data lain yang akan dimerger terhadap suatu lokasi yang akan dianalisa. Jangan lupa praktek, karena terkadang ada hal-hal sepele yang muncul saat praktek, misalnya saat melakukan proses dissolve geoprecessing kita masih menyorot lokasi tertentu, maka hasil geoprocessing akan kacau (klik tombol unselect all terlebih dahulu). Jangan lupa save tiap kali melakukan proses editing.