Kesan Pertama All New Kia Rio 2014

tigerHari ini muncul wajah baru, sebuah sedan hatchback (orang sering nyebut sedan tepos) berwarna merah di tempat kami. Sayang saya sendiri tidak bisa langsung melihat karena sedang berada di negeri gajah. Mesin 4 silinder 1.4 Liter (1400 Cc) dengan transmisi otomatis pesanan istri sudah tiba. Wajahnya yang tampan sepertinya membuat istri saya jatuh hati.

Mungkin ada yang bertanya ini mobil apa? Silahkan googling sendiri di internet. Yang jelas mobil ini mendapat penghargaan disain terbaik. Terbaik di mana? Bekasi? Tentu saja dunia dong … Yang menjadi trade mark nya adalah Tiger Nose karya disainer Peter Schreyer pada grill pendingin udaranya.

Mengapa beli jenis kendaraan ini? Selera aja sih. Dari dulu kami memang lebih suka membeli kendaraan yang unik yang jarang dijumpai di jalan (bukan kendaraan sejuta umat). Bagaimana harga jualnya? Kalau ga ada yang mau beli nanti, ya dikasihkan saja, beres. Yang jelas niatnya sih untuk menunjang pekerjaan sehingga menambah pemasukan karena produktivitas dalam bekerja (anti hujan, aman dengan airbag dan ABS, irit biaya transportasi). Macet ? ya pastilah .. untungnya sudah jarang bertugas di Jakarta (sekitar planet bekasi saja).

dimas

Walaupun tidak seperti layaknya versi yang dijual di eropa dimana kontrol audio yang terletak di stir, atap yang bisa terbuka (sun roof), tetapi lumayanlah dengan harga segitu dapat hatchback kelas menengah. Yang terpenting tidak perlu keluar duit lagi untuk jok kulit, solar guard / kaca film, sensor parkir, talang air, mantel mobil, velg yg sudah 16″, fog lamp, dan tetek bengek lainnya, alias tinggal pakai.

my-rio2

Yang jelas, transmisi manumatic-nya (bisa manual, bisa matic) sangat membantu ibu-ibu yang maunya tinggal gas rem, dan bisa menurunkan gigi secara manual jika mau menyalip, terutama di tanjakan.

Update: 13 Januari 2015 (service 1000 km).

Ketika liburan saya pulang ke Bekasi dan mencoba si Rio. Kesan pertama tampilannya seperti ford fiesta, dan lebih besar dikit dari jazz milik adik ipar. Terasa gas dan rem sangat sensitif. Tidak ada ngelitik seperti keluhan Rio keluaran 2012.

Interior walaupun masih di bawah Jazz tetapi space duduk dan bagasi serta kursi yang ergonomic (pas di badan) cukuplah. Entah kenapa mesin agak berubah-ubah responnya, apa karena saya sering gantian nyetirnya (beda karakter).

Sepertinya cocok untuk pengguna dalam kota, apalagi ibu-ibu yang ingin nyaman. Dibandingkan dengan jazz saat menikung rio agak limbung. Sepertinya butuh tambahan batang stabilizer karena per yang sangat lembut.

rio1000km

Update 12 Juli 2015 (service 5000 km)

Berhubung belum ganti oli semenjak mobil datang, sekalian saja servis gratis kedua di bengkel resmi kia. Muncul masalah standar mobil dengan kompresi tinggi yaitu mesin yang mengelitik. Ketika tiba di bengkel, langsung saja “curhat” bahwa dengan bensin pertamax 92, mesin terkadang mengelitik ketika berakselerasi awal (rpm rendah). Memang sih jika tombol ECO mode dimatikan, ngelitik sedikit berkurang, tapi sayang jika fasilitas ECO mode tidak dipakai.

Update Engine Control Unit (ECU) mutlak harus dilakukan, mengingat untuk kompresi 10:1 mengharuskan octane tinggi, yaitu pertamax plus. Namun saya meminta untuk cocok dengan pertamax 92 saja, karena khawatir jika dicocokan timing pengapian dengan premium berefek pada borosnya bahan bakar, toh saya tidak menggunakan premium.

Setelah ganti oli dan update ECU, ngelitik bisa dihilangkan (dalam batas riding style normal). Terasa gas sedikit dalam, berbeda dengan setelah awal yang tersentuh sedikit saja gas, mesin bereaksi. Untuk konsumsi BBM yang menurut spesifikasi 14-18 km/liter di tol, ketika dicek menyentuh 100/7=14.3 km/liter. Masih dalam range-nya, walau di batas bawah (jauh di bawah 18 km/l). Lihat brosur yang baru, kaget juga harga rio yang dulunya 197 juta kini menjadi 223 juta untuk yg matic.

bensin_rio

Update 15 November 2015

Entah karena kebanyakan make AC dan radio dalam keadaan mesin mati, baru setahun aki (accu) sudah diganti karena pagi-pagi aki ga ngangkat. Terpaksa habis 900-an untuk aki baru (pesan di shop n drive).

Info terbaru, mungkin dampak dari kenaikan dollar, hampir kebanyakan pabrikan menaikan harga jual kendaraannya, KIA Rio pun dibandrol hingga 238 jutaan, gile. Oiya, jika ingin liat perbandingan dapat dibuka situs perbandingan hatchback ini, secara total dimenangkan Rio tapi tentu saja berbeda versi eropa dengan versi yang dijual di Indonesia.

Update 10 Mei 2017 (Kia Rio Model baru 2017)

Kia rio merilis model baru dengan Sun Roof yang terkesan mewah untuk hatchback harga 250-an juta. Silahkan simak plus minusnya di video ini. Siapa tahu ada yang mau merasakan seumur hidup punya mobil dengan sun roof .. he he.

Update 16 Maret 2018

Terus terang RIO saya gunakan saat kondisi tertentu, fisik kurang fit, hujan terus, siang yang panas atau mengendarai di malam hari yang dingin. Selebihnya saya lebih menggunakan motor karena ga tahan macet. Akibatnya servis rutin 20.000 km belum sempat tercapai km-nya. Paling jauh pun dipakai Bekasi – Bandung. Lumayan irit sih (terutama pas pulang karena turun). Transmisi yang otomatic membuat saya harus mengambil jarak dengan kendaraan di depan agar kanvas rem dan ban lebih irit. Uniknya sudah 4 tahun kondisi tetap seperti baru, hanya ganti aki saja yang sering (setahun sekali).

Update 16 Januari 2019

Pada 3 Januari yang lalu, servis 20.000 km terpenuhi. Lama juga, maklum jarak dekat terus. Entah mengapa setelah diservis terasa enaknya. Sebelumnya sepertinya tidak ada perbedaan, mungkin hanya ganti oli saja. Terasa pada bagian kaki-kaki yang lebih balance serta ngelitik yang hampir tidak ada lagi. Tak terasa mobil yang menemani istri ketika saya di Thailand akan lunas tahun ini. Ingin berganti, tetapi sepertinya mobil ini masih nyaman dan mudah dikendarai.

Update 02 Oktober 2019

Setelah kaki-kaki diganti dengan ban Turanza dari Bridgestone, suara aspal nyaris tak terdengar. Apalagi setelah sekalian di spuring, tangan jadi lebih santai karena balance (tidak lari kanan kiri). Sempat juga aki mati (sudah tiga tahun) dan terpaksa menelepon “shop n drive” untuk ganti aki baru, 1,5 jtan.

Yang lebih menyedihkan adalah mobil ditawar orang. Karena takut ada apa-apa kalau ada yg suka dengan mobil saya, dijual dah seharga 110jt. Trus naik apa dong? Lama juga mencari mobil yg senyaman Kia Rio saya, akhirnya ketemu juga: Mitsubishi Xpander.

Xpander

Alasannya, anak mulai besar2, butuh kursi yang lapang 7 penumpang. Suspensi ternyaman di kelasnya walaupun harus hati-hati karena beban shockbreaker jauh lebih berat. Kekedapan kabin mirip Kia Rio hanya saja body lebih tipis dibanding Kia Rio tapi selama menggunakan Kia Rio toh tidak terlalu signifikan tebal tipisnya body terhadap “fun to ride”. Tipe yg saya beli “Ultimate” dengan tambahan fitur “Cruise Control” dimana ketika di tol pada kecepatan tertentu jika diset cruise control maka kecepatan akan dijaga pada posisi tersebut tanpa kaki menginjak pedal gas, alias kaki anti pegal. Untuk mesin? Ternyata Mitsubishi lebih “garang” mesinnya dibanding Kia dan bahkan Toyota yang sudah cenderung ngeset keiiritan (dual VVTi).

Melihat Perubahan Lahan di Bekasi dengan GIS

Beberapa situs GIS gratis telah memberikan layanan cuma-cuma untuk memantau perkembangan lahan, kerusakan hutan dan sejenisnya. Salah satu situs terkenal yang memasang perubahan lahan dari tahun 1984 hingga saat ini adalah google earth engine. Buka situs ini dan arahkan pada lokasi Bekasi tercinta (klik Amazon deforestation terlebih dahulu). Perhatikan daerah yang berwarna hijau yang menandakan keberadaan pepohonan dan yang menyala terang yang menandakan keberadaan perumahan.

Untuk melihat perubahan lahan klik simbol segitiga di pojok kiri bawah yang akan mensimulasikan perubahan dari tahun 1984 hingga 2012. Ada sedikit gangguan karena mungkin pengaruh awan ketika satellite menangkap gambar di tahun-tahun tertentu. Akan tetapi karena ada range sekitar 29 tahun, kita dapat menerka daerah mana saja yang berubah. Perhatikan lokasi penambahan jumlah penduduk di daerah bekasi yang tentu saja merubah penggunaan lahan dari daerah serapan, sawah, rawa, dan sejenisnya menjadi perumahan penduduk. Untuk wilayah pantai, perhatikan di tahun 1986 (waktu itu lagi demam-demamnya Maradona – sampai saya waktu SD merengek minta dibelikan kaus Argentina no 10), tampak laut di atas Jakarta masih landai, dimana pantainya masih cukup indah dan jika di tahun itu Anda pernah main ke Ancol pasti melihat pantai yang seperti di Bali (wehh .. padahal saya sama sekali belum pernah ke Bali sampai saat ini).

Perhatikan gambar di atas di mana pada tahun 2010 lokasi laut utara Jakarta sudah tergerus, dan memang sudah tidak lagi dijumpai pantai yang landai karena ada bendungan yang menghalangi laut yang mulai maju ke wilayah daratan. Saya ingat waktu itu ditahun 90-an ketika laut pasang air laut di pantai Ancol masuk ke jalanan dan memaksa pengelola Ancol membendung pantai sehingga saat ini tinggal beberapa wilayah saja yang masih berpantai. Perhatikan juga daerah pantai di sebelah kanan atas elips yang pada tahun 1986 tampak tetapi di tahun 2010 sudah menghilang (terpancung) menjadi lautan. Berikutnya perhatikan panah ke bawah yang menandakan penambahan pemukiman di sekitar Bekasi. Untuk wilayah hijau, Anda amati saja sendiri dengan menggeser kotak waktu (time line), hanya saja perlu teliti karena terkadang di tahun-tahun tertentu wilayah itu terhalang awan atau kekurangakuratan pemotretan.

Kalo gambar di atas itu kerjaan orang-orang iseng yang menyindir kota Bekasi tercinta yang puaannass banget katanya, selain macet tentunya. Mudah-mudahan kota perjuangan ini mampu berkembang menjadi kota yang tertata dengan rapi dan lebih nyaman lagi untuk dihuni, minimal tetap senyaman saat ini (katanya ..).

Geoprocessing in Arcview

Geoprocessing is an operation used to manipulate the GIS data. The data can be got from secondary data from government or by directly surveying the location. Sometimes we only want to analysis a particular area but we have retrieved data beyond it. Therefore we need some operations to limit our analysis scope. For example we want to analysis a particular area of north-east Thailand, first the all data is retrieved into a theme. Do not forget to add the extensions, geoprocessing and other needed extensions such as spatial analysis, image analysis, etc.

Figure 1

Open its table and select the sub area that you want to analysis by clicking shift and left mouse in the same time. In the picture above we want to analyze only the red area. After finish selecting areas we continue to convert it into other shape files by clicking ThemeConvert to Shapefile. Click yes if you want to add this new shapefile to the view after giving a name for it. Try to integrate this new shapefile to other data such as road, elevation, etc. Use a geoprocessing wizard to manipulate this data because the road data we have already is for north-east area.

Use the clips technique which available in arcview and the result is our sub-region with the road inside it. Try to add some data such as elevation and try to play with spatial analysis e.g. reclassify.

See you ..

Digitalization

Digitalization is an activity to convert non digital map such as photo, conventional map, and other sources which is raster data type into digital data that contain both spatial and its attribute. We need image analysis tool in Arcview by adding image analysis facility in extensions.

Add the IMAGINE Image Support and JPEG (JFIF) Image Support as well. In our laboratory we have been served with an image of our university and we have to digitalize it. Add a new view with the theme is the image that we want to digitalize.

The digitalization process is trying to create a new map that contain vector data and its attribute in a table (in arcview the dbf file is created). By using the image, we simply create a new image by separating the building, road, river, etc in separate layer. There is three kind of vector data that arcview provided, point, line, and polygon. For a particular area we use point, line for roads, and polygon for buildings. We do not need to create new view, just add new theme for making a layer for building, road, river, etc.

For example we want to digitalize buildings, use polygon and draw again every building that we want to digitalize. Do not forget to start editing every the beginning of digitalization action. After all the building that we want to digitalize has finish, add an attribute to its table.

Add the field necessary to your attribute data such as name, description, etc. The final result is a digitalize map that contains a spatial and attribute data, and of course a raster data (main image) can be used as well. Use label for showing a particular object and then create a layout to accommodate this new digital map.

Submit Paper

Paper ilmiah merupakan sarana bertukar fikiran antara satu peneliti dengan peneliti lainnya di seluruh dunia. Peneliti yang handal akan memiliki paper yang dari sisi kualitas dan kuantitas akan baik pula. Jika ada peneliti yang tidak memiliki publikasi ilmiah dalam bentuk paper dapat dipastikan bahwa peneliti itu tidak melakukan penelitian atau menyembunyikan hasil penelitiannya. Peneliti yang baik tentu saja selain memiliki kemampuan akademik terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi terkini juga memiliki jiwa berbagi (sharing) yang tinggi.

Di Indonesia, paper kebanyakan hanya menjadi sarana pendidikan di perguruan tinggi ataupun syarat kenaikan pangkat bagi dosen. Dikti sudah mensyaratkan terhadap mahasiswa yang akan lulus dari perguruan tinggi untuk mempublikasikan hasil penelitiannya. Sungguh berat tetapi apa boleh buat, kita sudah tertinggal dari sahabat kita Malaysia dari sisi jumlah tulisan yang dipublikasikan.

Melihat grafik di atas pantas saja dirjen DIKTI Djoko Santoso mensyaratkan kelulusan perguruan tinggi yaitu publikasi ilmiah. Jumlah penduduk indonesia yang besar sudah selayaknya memiliki jumlah publikasi yang tinggi juga. Jangankan dengan Malaysia, dengan Vietnam saja kita masih kejar-kejaran. Belum lagi dengan negara-negara lain seperti Jepang atau negara-negara maju lainnya, Untuk melihat kinerja negara-negara terhadap publikasi ilmiahnya dapat diakses di sini.

Bagaimana Mempublikasikan Paper?

Jika kita sudah sadar dengan posisi negera kita yang lemah dari sisi publikasi ilmiah, muncul pertanyaan bagaimana cara mudah mempublikasikan paper kita? Cara paling sederhana adalah mensubmit paper, tentu saja jika kita punya paper. Jangankan menulis paper, membaca paper saja sudah pusing. Padahal kalau kita perhatikan satu naskah paper (perhatikan saja jangan dibaca, takut tambah pusing) ada referensi yang jumlahnya belasan hingga puluhan yang pasti telah dibaca oleh penulis paper tersebut. Sebanyak itukah paper referensi yang harus dibaca? Tentu saja tidak, pasti lebih banyak dari itu mengingat yang dicantumkan di dalam referensi adalah yang “beruntung” karena sesuai dan mendukung paper yang kita tulis, sementara yang “sial” lainnya tidak mendukung paper kita. Kata “sial” di sini adalah karena kita sudah capek-capek membaca, tapi tidak ada hubungannya dengan riset kita.

Publikasi ilmiah bisa berupa jurnal dan seminar (conference). Alangkah baiknya kita menoleh ke jurnal internasional atau seminar internasional mengingat ketertinggalan negara kita adalah di level internasional. Sangat disayangkan bila tulisan-tulisan kita yang cukup banyak hanya diterbitkan di jurnal lokal yang tidak terindeks di level internasional. Apakah indeks itu? Indeks itu seperti google, bedanya google akan mencari seluruh data di dunia yang berhasil dia tangkap, sementara indeks ini hanya data yang dia akui keberadaannya, misalnya google scholar, scopus, dll. Tentu saja kita memilih indeks yang diakui dunia seperti scopus, thomson, dan minimal diakui oleh DIKTI.

Beberapa rekan saya menanyakan bagaimana cara mudah mempublish paper kita? Saya sempat kaget juga karena yang bertanya adalah rekan dosen senior yang pangkatnya jauh di atas saya. Sebenarnya mereka sanggup membuat paper dan mempublishnya hanya saja ada beberapa kendala yang menghadang, terutama dari sisi bahasa dimana bahasa Inggris menjadi satu keharusan. Kendala lainnya adalah waktu dan mental. Untuk masalah waktu, sepertinya sudah tidak begitu menghambat mengingat pemerintah sudah menyadari hal itu dengan memberikan tunjangan profesi lewat sertifikasi dosen sehingga mengurangi dosen yang “ngajar sana ngajar sini” atau “proyek sana proyek sini” sehingga dapat fokus ke riset dan penulisan. Tinggal masalah mental yang menurut saya harus dibenarhi.

Saya sudah setahun lebih jadi gelandangan di negeri orang, mengais-ngais ilmu yang berceceran, dan cukup kaget dengan adanya perbedaan kultur antara negara kita dengan negara lain. Entah mengapa sesuatu yang sulit di negara kita menjadi mudah di negara lain. Mungkin bukan sulit, melainkan dipersulit. Ego para dosen di Indonesia sangat tinggi dengan tingkat subjektivitas yang kebangetan. Cerita dari rekan-rekan saya jika dua dosen (bahkan ada yang ditambah kata “kubu” di depannya) muncul persaingan atau perselisihan, yang jadi korban adalah mahasiswa bimbingan. Karena terjadi bertahun-tahun ada sedikit trauma barangkali sehingga jika ada sedikit “senggolan” langsung terasa “sakitnya itu di sini”. Oke, jangan ambil pusing .. itu obatnya.

Submit Paper itu Gratis !

Kata-kata penolakan bagi dosen/mahasiswa di negara lain merupakan kata yang biasa, tetapi bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia adalah kata yang “luar biasa” menyakitkannya. Akibatnya adalah kekecewaan yang mendalam dan menghalangi untuk mencoba kembali. Yang paling parah adalah melampiaskan kekecewaannya kepada yang lain (rekan dosen/mahasiswa), istilah yang terkenal “balas dendam”. Tapi jika diperhatikan dengan kepala dingin, apakah ketika submit paper kita keluar uang? Tentu saja tidak. Apakah penolakannya begitu saja? Tentu juga tidak, ada keterangan dan hal-hal yang harus diperhatikan. Ini kan ilmiah, bukan hal-hal lain di negara kita dimana kritik berupa hinaan dan cacian tanpa ada saran perbaikan.

We have now completed the review of your submission “A Web-GIS Based
Integrated Optimum Location Assessment Tool for Gas Station Using Genetic
Algorithms .” . We regret to inform you that your paper was not selected
for publications in …..

Kata-kata di atas merupakan kata standar untuk penolakan terhadap paper yang kita submit. Memang ketika membaca “sakitnya itu di sini”.. he he (makanya tulisan di atas saya buat format ‘center’ agar seperti puisi). Tapi jangan berhenti di situ, terus perhatikan di mana letak kesalahannya.

Too many grammatical mistakes. For example:
“Database is important to GIS because it store,
manage, process, and organize both raster data
(images) and vector data (points and lines). We use
postgresql with its relational characteristic and open
source.”

Tulisan di atas adalah hanya salah satu contoh dari reviewer kedua. Banyak lainnya yang kemudian saya perbaiki satu persatu. Kesalahan grammer yang menjadi kendala karena bukan bahasa asli kita sebenarnya dapat kita atasi dengan bertanya ke rekan kita yang lebih mahir. Jika semua telah diperbaiki coba submit lagi ke penerbit lainnya.

Based on the recommendations of the reviewers and the Program Committee, I am very pleased to inform you that your paper #1570036001 (‘A Web-GIS Based integrated Optimum Location Assessment Tool for Gas Station Using Genetic Algorithms’) for **** has been accepted

Jangan lupa untuk mengecek jurnal/conference yang dituju apakah terindeks di indexer terkenal agar memudahkan paper kita dicuplik (sitasi/cited) oleh penulis lain dan akhirnya meningkatkan kualitas paper kita (cited per document). Selamat mencoba !

How to Draw a Diagram using Draw IO?

Draw IO is a free web-based tool for drawing a model such as Entity Relation Diagram (E-R Diagram), Flow chart, Data Flow Diagram (DVD), Unified Modeling Language (UML), etc. You can access it at www.draw.io in start using it without installation. Immediately you will be asked the location for saving the xml file, for example you use your harddrive, so yo have to choose Device.

And please click the “create a new diagram” or “open existing diagram” if you want to open a xml file of your diagram that have drawn before. Before drawing, this application will ask you to create the name of your diagram.

And let your creativity flows, and for exercise, try to draw E-R diagram like this.

Save your figure by clicking the menu save and if you want to capture for your document (word, power point, etc) you have to download it into image, xml, and other file support. So far, I like to download as GIF than JPEG or others. Because it give a good resolution that you can see below. Ok .. good luck.

Learning Vector Quantization (LVQ)

LVQ is another kind of competitive network that uses competitive and linear layer together (see past posting for competitive network). The winning neuron of the first stage is become a subclass. Then the second layer combines it into a single class. Many researcher use this kind network for signature identification.

The learning of LVQ is supervised learning. It needs a target as a basis of learning process. Use this script (LEARNING VECTOR QUANTIZATION) to practice your matlab skill in creating a LVQ network. Try to understand the syntax of lvq function by typing “help newlvq” on command window.

The above picture shows matlab respons to our train script function. You can see the IW and LW part of LVQ network using this script.

>> samplelvq.iw{1,1}

ans =

-0.1259 -0.0280

0.0862 0.1584

-0.0351 0.0306

>> samplelvq.lw{2,1}

ans =

1 1 0

0 0 1