Metode Delphi dalam Penelitian Kuantitatif

Ketika riset tentang optimasi penempatan lahan, salah satu sumber referensi menggunakan satu metode untuk mengetahui kompatibilitas dan ketergantungan antara satu lahan dengan lahan lainnya. Metode tersebut dikenal dengan istilah Delphi. Entah mengapa diberi nama Delphi, yang saya tahu Delphi adalah nama bahasa pemrograman (dulu dikenal dengan istilah Pascal).

Prinsip Kerja

Metode Delphi sebenarnya mirip riset biasa yang menggunakan kuesioner dalam mengumpulkan data. Dengan skala Likert, responden diminta mengisi pertanyaan-pertanyaan. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang umum ditanyakan dan sudah ada yang meriset sebelumnya, metode biasa berhasil digunakan. Tetapi untuk kasus-kasus yang unik, belum ada sebelumnya, melibatkan pakar-pakar, dan hal-hal lain yang bersifat sangat subyektif, di sinilah peran metode Delphi.

Ciri khas metode Delphi adalah memiliki iterasi dalam setiap tahapannya. Iterasi tersebut dikenal dengan istilah ronde. Mendengar istilah “ronde” jadi teringat saat tulisan syarat lulus (di jurnal internasional) direview hingga tiga ronde, sampai babak belur, hehe. Bagan di bawah diambil dari riset (Skulmoski & Hartman 2007).

Ronde pertama responden diminta mengisi kuesioner berdasarkan pemahaman dan kepakarannya. Biasanya dihasilkan jawaban-jawaban yang sangat beragam karena memang kasusnya unik, jarang ada, dan subyektif. Dimungkinkan juga responden sulit memahami istilah-istilah yang bisa saja karena bidang yang berbeda karena memang kasusnya multidisiplin.

Setelah dirangkum, hasil survey diberitahukan ke seluruh responden. Dengan demikian mereka dapat melihat apakah jawabannya sama dengan rata-rata jawaban orang lain. Diskusi diadakan baik wawancara langsung ke responden yang memiliki jawaban “aneh”, atau bisa dalam bentuk panel (pertemuan untuk diskusi). Setelah itu ronde kedua dijalankan, yaitu mengirim kuesioner yang sama untuk responden yang sama juga. Biasanya ronde kedua dihasilkan jawaban-jawaban yang tidak terlalu kontradiktif. Ronde berikutnya bisa dilaksanakan untuk kasus-kasus yang sulit menemukan konsensus antar respondennya.

Jumlah Responden

Responden untuk metode Delphi tidak sebanyak responden untuk riset biasa. Di sini diperlukan pakar yang memahami di bidangnya, dan juga berpengalaman langsung. Puluhan responden biasa digunakan dengan maksimal sekitar seratus orang. Jumlah responden sangat menentukan ronde dari metode Delphi, karena akan makin sulit menemukan konsensus dari jawaban-jawaban survey.

Silahkan baca riset-riset ini yang banyak tersebar di internet (Su & Canavari 2018; Rosowsky et al. 2018; Li et al. 2019).

Referensi

  • Li, Y. et al., 2019. Establishment of Indexes System for Bookcases Ergonomic Evaluation Based on Delphi Method. In F. Rebelo & M. M. Soares, eds. Advances in Ergonomics in Design. Cham: Springer International Publishing, pp. 303–311.
  • Rosowsky, E. et al., 2018. A cross-validation Delphi method approach to the diagnosis and treatment of personality disorders in older adults. Aging & Mental Health, 22(3), pp.371–378. Available at: https://doi.org/10.1080/13607863.2016.1261796.
  • Skulmoski, G.J. & Hartman, F.T., 2007. The Delphi Method for Graduate Research. Journal of Information Technology Education, 6.
  • Su, J.Y. & Canavari, M., 2018. Delphi study on country-of-origin labelling for processed foods. Agricultural and Food Economics, 6(1).

     

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s