The Power of ‘Program Diploma’

Bagi rekan-rekan yang lulus pasca krisis moneter 1998 mungkin pernah mengalami masa menganggur seperti yang saya alami waktu itu. Gejala-gejalanya muncul ketika di akhir masa kuliah setelah krisis moneter banyak dosen baru di kampus. Ternyata korban PHK dari Astra Internasional yang memang mengalami pengurangan karyawan. Perusahaan kuat yang jadi primadona para mahasiswa teknik itu tak luput dari penurunan profit, dan terpaksa merumahkan banyak karyawannya. Maklum ketika ada kerusuhan, perusahaan itu banyak mengalami kerugian akibat penjarahan. Ketika lulus di awal milenium baru, walaupun kondisi agak pulih dan beberapa perusahaan mulai bangkit dari keterpurukan, banyak lowongan pekerjaan dibuka.

Mudahnya Mencari Pekerjaan bagi Para Ahli Madya

Diploma tiga, atau yang sekarang dikenal dengan vokasi, mengharuskan lulusannya memiliki keahlian praktis. Misalnya teknik mesin, maka harus mampu mengutak-atik mesin atau mampu menggunakan peralatan permesinan seperti las, bubut, cnc dan sejenisnya. Untuk teknik komputer bisa menangani jaringan, hardware dan software, serta perawatan perangkat komputasi.

Kembali ke cerita awal krismon, beberapa perusahaan memang membuka lowongan pekerjaan, tetapi sulit sekali masuk karena saingan yang memang banyak, sementara permintaan untuk sarjana (S1) tidak sebanyak D3 atau SMK. Ketika proses penerimaan sering berjumpa dengan rekan satu almamater dahulu, tetapi dari diploma tiga. Yang membuat saya sedih adalah mereka ketika mendaftar dalam keadaan status sudah bekerja. Jadi mereka hanya berpindah-pindah pekerjaan saja mencari yang lebih nyaman, stabil, prospeknya cerah, dan tentu saja ber-salary tinggi. Sementara saya sendiri masih nganggur yang mudah sekali gugur ketika permintaan “berpengalamann kerja” menjadi satu persyaratan. Mungkin karena D3 lebih siap kerja ditambah lagi salary yang tidak sebesar S1 membuat jenjang ini relatif lebih mudah mencari kerja dibanding S1. Bagaimana jika perusahaan merekrut S1 tapi dengan gaji D3? Silahkan saja, tapi kenyataannya anak-anak D3 lebih mudah bekerja karena memang ketika kuliah ditempa dengan praktek dan praktek.

Sekolah Sambil Bekerja

Di tempat saya mengajar beberapa mahasiswa sepertinya “menghilang” ketika dua atau tiga tahun kuliah. Usut punya usut ternyata mereka sudah bekerja dan tidak ada waktu luang lagi untuk melanjutkan kuliah. Sibuklah sebagai pengurus jurusan “mencari” mereka yang hilang itu. Beberapa memiliki aktivitas masing-masing, bisnis atau bekerja. Banyak juga yang menjalani kehidupan menjadi ibu rumah tangga seperti biasa. Kebanyakan mereka sepertinya ketika memiliki sedikit skill sudah langsung bisa dipraktekan baik membuka bisnis (website designer, mobile application, dll) maupun diterima bekerja di perusahaan-perusahaan.

Mengetahui hal tersebut langkah yang tepat adalah mengajak mereka mengambil tugas akhir di bidang yang mereka geluti, biasanya software engineering dan jaringan komputer. Khusus jaringan komputer biasanya berkecimpung dengan masalah yang terjadi di perusahaannya seperti load ballancing, backup server, analisa quality of service, dan lain-lain. Walau dengan susah payah, dan sepertinya ijasah tidak digunakan lagi karena sudah bekerja/bisnis, mereka puas juga bisa merampungkan kuliah yang bertahun-tahun itu. Itulah kondisi real di kampus-kampus swasta dengan program diploma. Jika pemerintah/ristekdikti bermain “tangan besi” yang kabarnya tidak membolehkan ijasah diploma 3 di atas 5 tahun (tidak diberi “Pin”), anak-anak itu akan kehilangan kesempatan menyelesaikan kuliahnya.

Sidang Akhir T. Komputer

Beratnya Mengajar Diploma Tiga

Berbeda dengan rekan-rekan lulusan doktor yang mengajar S1 bahkan S2 dan S3 (pascasarjana), saya masih tetap mengajar dan mengurusi D3. Mengajar jenjang ini diharuskan memiliki kompetensi praktis agar peserta didik bisa memiliki kemampuan kerja. Di situlah rumitnya. Berbeda dengan mengajar S1 dan pasca yang kebanyakan bermain-main di tataran konseptual dan analisa. Sepertinya serfitikasi seperti CCNA dan sejenisnya harus dimiliki, atau setidaknya sertifikasi kompetensi dari BNSP Indonesia.

Untungnya saya pernah lebih dari tiga tahun bekerja di bagian IT suatu bank berskalan nasional. Bank merupakan satu-satunya perusahaan yang memanfaatkan IT secara maksimal ketika era disrupsi sekarang ini belum muncul. Dari troubleshooting komputer, jaringan, hingga setting server dan router kerap jadi sarapan sehari-hari ketika bekerja di sana, hingga akhirnya berhenti karena fisik yang tidak kuat lagi bekerja seperti kuda (sempat sakit typhus). Jadi ketika mengajar D3 tidak kaget dan siap praktek bersama. Yuk .. kuliah vokasi. Mau jadi sarjana …? Lanjut kuliah sambal bekerja saja.

Pelatihan Oracle IT Danamon

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s