Membuat Form Input pada Microsoft Access

[basis.data|akuntansi|lab.software|pert.6]

Setelah sistem basis data terbentuk, tugas berikutnya adalah membuat interface pengguna dengan basis data. Salah satu mata kuliah pendukung interface tersebut adalah interaksi manusia dan komputer. Bentuk real-nya adalah Graphic User Interface (GUI). Untuk contoh kita ambil Form Data Mahasiswa dari tabel mahasiswa di bawah ini.

Merancang Interface

Microsoft Access menyediakan sarana pembuatan GUI dalam bentuk form. Cara yang termudah dalam pembuatan form adalah lewat wizard yang dapat diakses lewat menu Create From Wizard. Terlebih dahulu sorot dengan mouse tabel mahasiswa di sisi MS Access.

 

Langkah pertama adalah pemilihan tabel yang dalam contoh kasus ini adalah tabel mahasiswa. Pilih saja seluruh field yang diminta oleh wizard. Lanjutkan dengan menekan Next.

Tabel ini hanya sekedar contoh, untuk disain yang terbaik sesuaikan dengan kebutuhan sistem yang akan dirancang. Tahapan-tahapan dalam pembuatan basis data dapat diketahui dari berbagai macam referensi tentang database design.

Selanjutnya adalah pemilihan bentuk form (columnar, tabular, datasheet, dan justified). Untuk kali ini akan dicoba bentuk yang Columnar karena bentuk ini bentuk yang sering dipakai dengan tombol kontrol di bawahnya (simpan, tambah, maju, mundur, dan sejenisnya).

Akhiri dengan menekan tombol Finish yang kemudian memunculkan form yang dihasilkan. Untuk mendisain ulang dengan menambah kontrol, tekan di sisi kiri atas View Design View. Tambahkan di bagian Footnot GUI untuk menambahkan tombol kontrol New untuk menambah satu record.

Ada enam kontrol yang disediakan MS Access: Record Navigation, Record Operation, Form Operation, Report Operation, Application, dan Misceleneous. Lanjutkan dengan meneken Next karena jika menekan FINISH maka Access akan memberi simbul tambah dalam bentuk gambar. Dengan menekan Next maka kita bisa mengisi indikator di tombol tersebut sesuai dengan keinginan, misalnya “Tambah Data”. Tambahkan dengan tombol pasangan dari Tambah Data yaitu Save. Juga pilih kontrol Record Operation. Jalankan untuk menguji penambahan data yang baru saja dibuat. Selamat Mencoba.

 

 

Iklan

Deteksi Warna Komposit dengan Matlab

[peng.citra|t.kom|lab.hardware|pert.7]

Warna dasar RGB adalah Red, Green, dan Blue yang masing-masing menyatakan nilai maksimal komposisinya yaitu 255. Misalnya warna merah, maka matriks-nya sebesar [255 0 0], begitu juga untuk warna hijau dan biru, masing-masing [0 255 0] dan [0 0 255]. Bagaimana cara mendeteksi warna-warna komposit yang bukan merupakan warna dasar seperti kuning, jingga, dan lain-lain? Postingan kali ini sedikit menjelaskan cara mendeteksinya dengan menggunakan jarak Euclidean.

Standar Warna RGB

Standar warna RGB banyak diterapkan pada image processing. Standar ini menggunakan warna merah, hijau dan biru sebagai patokan warna-warna lainnya. Warna lainnya dapat dibuat dengan menggabungkan proporsi warna merah, hijau, dan biru tersebut. Berikut standar warna selain merah, hijau, dan biru.

Tabel di atas juga menyertakan paduan standar Cyan, Magenta, Yelow, dan Black (CMYK) dan HSV. Sebagai kelanjutan Pert 6 yang lalu, di sini kita menerapkan deteksi warna dengan jarak Euclidean.

Praktek dengan GUI

Tambahkan kode tambahan di tombol deteksi warna (Euclidean) karena bukan hanya R, G, dan B, melainkan beberapa warna lain misalnya kuning, oranye, dan hitam.

Tambahkan tiga jarak baru yaitu dY, dO, dan dK untuk jarak terhadap kuning, oranye dan hitam. Untuk memudahkan penentuan jarak terdekat gunakan fungsi min disertai dengan indeksnya. Indeks dapat diketahui dengan membuat sebuah vektor berisi warna-warna dari merah hingga hitam. Sehingga ketika nilai minimum diketahui, diketahui pula indeksnya. Warna dapat diketahui berdasarkan indeks-nya dari vektor warna.


  • dR=norm(warna-[255 0 0])
  • dH=norm(warna-[0 255 0])
  • dB=norm(warna-[0 0 255])
  • dY=norm(warna-[255 255 0])
  • dO=norm(warna-[255 127 0])
  • dK=norm(warna-[0 0 0])
  • hasil=[dR dH dB dY dO dK]
  • % mencari jarak terkecil
  • strwarna={‘merah’
    ‘hijau’
    ‘biru’
    ‘kuning’
    ‘jingga’
    ‘hitam’}

  • [minimum,indeks]=min(hasil)
  • outwarna=strwarna(indeks)
  • set(handles.edit4,‘String’,outwarna)

Coba uji dengan memasukan data sesuai warnanya, misalnya kuning, oranye dan hitam. Coba uji pula dengan warna yang tidak terlalu hitam (abu-abu), atau tidak terlalu kuning. Sistem akan mencoba mendekati dengan warna-warna standar yang ada (R,G,B, plus kuning, orange dan hitam). Semoga bermanfaat.

Mail Merge Untuk Surat Berantai

[komp.1|manajemen|lab.sainstech|pert.6]

Surat berantai adalah surat yang ditujukan untuk beberapa orang dengan isi yang sama. Biasanya surat undangan atau pemberitahuan. Surat tersebut hanya diketik sekali, tetapi Microsoft Word akan memberikan kepada/tujuan yang berbeda tiap kali surat tersebut dicetak. Misalnya akan dibuat surat undangan ke seluruh ketua jurusan sebanyak enam orang, maka dengan layanan mail merge dengan satu surat dihasilkan enam surat dengan tujuan yang berbeda. Postingan ini membahas bagaimana membuatnya.

Membuat Surat

Pertama-tama siapkan terlebih dahulu surat yang akan dikirim berantai (lihat pert 5 untuk jenis-jenis surat). Di bawah ini kosongkan tujuan, jabatan, serta alamatnya.

Membuat Daftar Penerima

Daftar penerima dapat dibuat dengan aplikasi Microsoft Excel. Buat daftar enam penerima tersebut berisi kolom panggilan, nama, jabatan, dan alamat. Di sini panggilan untuk membedakan bapak/ibu atau Dr/Prof.

Selanjutnya file Excel yang berisi nama penerima tersebut disimpan di folder yang sama dengan file word surat. Jika sudah, masuk ke menu Mailings Start Mail Merge Step-by-Step MM Wizard.

Perhatikan sisi kanan bawah. Tampak indikator langkah ke berapa. Lanjutkan hingga langkah ke enam, dimulai dari pemilihan file excel berisi penerima.

Di langkah ketiga Anda akan diminta memilih list. Arahkan ke file Excel yang baru saja kita buat.

Silahkan pilih siapa saja yang akan dikirim file-nya. Atau centang semua jika memang semua orang akan dikirim surat.

Tahap berikutnya mengisi field yang dituju dengan data penerima. Perhatikan penempatan mouse/kursor di tempat yang sesuai dilanjutkan menekan data isian.

Tahap kelima adalah memastikan tujuan surat sudah sesuai dengan yang diinginkan. Selamat mencoba.

Gaya Surat Menyurat

[komp.1|manajemen|lab.sainstech|pert.5]

Ada beragam style surat-menyurat dari yang jadul hingga yang modern. Namun demikian ada komponen yang sama antara lain: Kop Surat, no-lamp-hal, tanggal surat, tujuan/kepada, isi, dan penandatangan, serta tembusan dan inisial pembuat surat. Postingan sederhana ini membahas gaya-gaya surat yang biasa diterapkan di beberapa kantor/institusi.

Lurus Penuh (Full Block Style)

Bentuk ini paling mudah karena semua komponen diawali dari sisi kiri.

Lurus (Block Style)

Gaya surat ini mirip lurus penuh tetapi tanggal dan penandatangan berada di kanan seperti gambar di bawah ini.

Bentuk Paragraf Menggantung (Hanging Paragraf Style)

Bentuk ini mirip bentuk lurus, hanya saja paragraf isi menggantung (hanging) mirip dengan daftar pustaka sebuah jurnal.

Bentuk Lekuk (Indented Style)

Bentuk ini mirip gaya menggantung, hanya saja isi tiap paragraf maju beberapa spasi, mirip paragraf sebuah tulisan di buku. NOTE: Perhatikan format penulisan kepada/tujuan yang tiap baris menjorok beberapa spasi dari sebelumnya.

Bentuk Gaya Resmi Indonesia (Official Style)

Bentuk ini biasa diterapkan di departemen-departemen. Ada jenis yang lama, ada juga yang baru. Bentuk yang lama (kiri) di salam penutup dan NIP menjorok, sementara yang baru (kanan) rata sama dengan salam penutup dan nama penandatangan. Kepada/tujuan surat juga sedikit berbeda penempatannya. Salah satu yang membedakan dengan gaya surat-menyurat yang lain adalah margin kiri rata dengan awal isian no, lamp, dan hal, termasuk juga kepada/tujuan. Kecuali tembusan rata dengan no, lamp, dan hal. Sekian semoga bermanfaat.

Referensi:

  • surat.porosilmu.com

Instant Quiz dengan KAHOOT – Part 2

Jika sudah Sign Up dengan Kahoot berikutnya kita coba membuat quiz-nya. Sebenarnya Kahoot sekedar media/alat bantu membuat quiz instan. Tetap saja konten (learning management system) ditangan tutor. Ada contoh-contoh quiz bawaan Kahoot. Silahkan mencoba. Jika ingin membuat yang baru tekan Create yang berada di pojok kanan atas.

Ada empat pilihan soal: Quiz, Jumble, Discussion atau Survey. Di sini kita ambil contoh Quiz.

 

Ada soal/Question yang harus diisi dilanjutkan dengan mengisi pilihan jawaban. Untuk jawaban yang benar tekan simbol centang di samping answer. Tekan + untuk menambah soal baru hingga beberapa soal. Jika sudah tekan Save di pojok kanan atas.

Soal dapat di-share agar bisa digunakan oleh tutor-tutor yang lain. Cara memainkannya adalah dengan menekan tombol Plat It.

 

Ada dua pilihan yaitu player vs player atau team lawan team. Pilih saja misalnya player vs player. NOTE: Kahoot yang dishare tersebut berfungsi sebagai ADMIN yang mengatur jalannya quiz. Dengan kata lain untuk tutor/teacher, bukan untuk siswa yang akan mengikuti ujian/quiz.

Bertanding

Ketika dijalankan dengan menekan tombol Play It. Kahoot akan memberikan PIN secara random yang harus diisi oleh peserta quiz ketika menjalankan Kahoot (www.kahoot.it). Setelah memasukan PIN, maka player diminta mengisi identitas bebas. Peserta akan tampak di ADMIN.

Misalnya peserta bernama Yes dan No. Tunggu semua peserta daftar quiz. Jika sudah mulai tekan Start di sebelah kanan.

Di bagian ADMIN, soal akan tampak. Biasanya ditayangkan di LCD di depan kelas. Atau bisa juga dengan cara lain, misal ditulis di grup WA, Chat, dll. Soal berikutnya akan lanjut setelah ADMIN menekan tombol Next di sebelah kanan atas soal quiz.

ADMIN dapat memonitor jumlah peserta yang menjawab dengan benar dan salah. Jika peserta sudah siap dengan pertanyaan berikutnya, kembali ADMIN menekan tombol Next di pojok kanan atas. Jika sudah selesai, selain rangking terlihat, hasilnya bisa disimpan/download.

Untuk menyimpan di komputer kita, tekan Direct Download. File yang diunduh berformat Excel, berisi informasi jawaban peserta quiz.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam quiz dengan Kahoot antara lain dapat dirinci sebagai berikut:

  • Soal tidak tampak di peserta, hanya ADMIN. Biasanya di komputer yang ditayangkan di LCD kelas.
  • Soal dapat ditayangkan lewat cara lain, misalnya pesan di Whatsapp, Facebook, dan lain-lain. Oleh karena siswa butuh waktu untuk membaca dan membuka aplikasi pesan maka waktu disetel yang wajar, misalnya 2 atau 3 menit per soal mengingat default Kahoot adalah 20 detik. Bisa-bisa siswa belum baca soal waktu sudah habis.
  • Jika waktu habis, siswa yang belum menjawab dianggap salah menjawab soal yang bersangkutan.

Salah satu keunggulan quiz lewat aplikasi adalah rekap jawaban secara instan diperoleh dalam format Excel. Bahkan dapat diketahui dengan pasti jawaban siswa, seberapa cepat menjawab serta benar atau salahnya. Selamat Mencoba.

 

Instant Quiz dengan KAHOOT – Part 1

Ketika presentasi Revolusi Industri 4.0 di Munas APTIKOM 2018 Palembang, Prof. Eko Indrajit meluncurkan quiz dengan menggunakan aplikasi Kahoot. Dengan memasukan Game PIN seperti gambar di bawah maka akan ditampilkan empat pilihan jawaban, masing-masing dengan warna atau bentuk. Soal ditayangkan di layar LCD, biasanya di kelas. Siswa ketika menjawab tinggal menakan jawaban di handphone masing-masing setelah memasuki quiz via PIN tersebut. Bagaimana cara membuatnya? Postingan ini sekadar berbagi bagaimana membuat kuis instan ini.

Mendaftar/Signup Kahoot

Klik di sini untuk daftar (di bagian bawah kahoot). Untuk gratis, tekan saja Sign up for Free.

Ada empat pilihan, untuk guru, siswa, sosialita atau pekerjaan. Di sini saya ambil contoh sebagai teacher sesuai dengan profesi saya, dosen.

Berikutnya diminta cara sign up (ada tiga pilihan). Gunakan saja login with Google agar lebih cepat. Pilihan lainnya adalah Sign up with Microsoft, jika ingin.

Hanya butuh tiga isian dan satu checklist konfirmasi sebelum lanjut (joint Kahoot). Checklist terakhir ditekan jika ingin menerima informasi baru dari Kahoot.

Setelah itu schroll hingga ke bawah, pilih saja Basic Version for Teachers.

Selesai sudah daftar Kahoot. Pilih saja Personalize dengan beberapa isian baru agar sesuai dengan tema quiz. Atau jika tidak ingin, bisa pilih No Thanks.

Lanjut: Membuat Quiz

Tak Selamanya Efektif dengan Online

Saat ini sedang digalakan dilaksanakannya Massive Open Online Course (MOOCs) khususnya dari universitas-universitas favorit di tanah air seperti ITB, UGM, UI dan kawan-kawan. Sasaran utamanya adalah ilmu yang tersebar secara merata, gratis, dapat diakses siapapun dan kapanpun. Istilahnya sekali merengkuh dayung, satu dua pulau terlampaui.

Dari sisi skalabilitas, MOOCs unggul dalam menyebarkan IPTEKS. Terutama bidang-bidang yang memang cocok untuk dilaksanakan dalam format MOOCs, didukung dengan teknologi e-learning yang saat ini kian fleksibel dan user friendly. Bagaimana dengan kualitas? Nah masalah ini agak sulit untuk mengetahui/mengujinya. Diperlukan riset khusus agar mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat menyerupai bahkan melebihi kualitas dari perkuliahan offline alias tatap muka.

Sosialisasi

Sebenarnya baik itu pendidikan, kursus, dan hal-hal lain di luar pendidikan bisa juga menggunakan online. Misalnya seminar/pertemuan ilmiah yang semula pertemuan tatap muka, saat ini bisa juga dilaksanakan dalam bentuk webinar, alias seminar via web. Yah, walaupun sempat tertidur karena tidak ada cofee break.

Di situlah letak perbedaannya, sosialisasi. Memang kita mengenal “medsos: media sosial” tetapi, tentu saja tidak sama dengan sosialisasi. Medsos hanya merupakan jembatan informasi untuk sosialisasi, mirip dengan percakapan via chat, email, dan komunikasi elektronik lainnya. Di sinilah mengapa piknik, tur wisata, dan hal-hal lain masih laku dan tidak tergantikan dengan online, walaupun saat ini virtual reality (VR) kian canggih yang memberi sensasi semirip mungkin dengan yang real.

Saat ikut klinik kurikulum di munas APTIKOM, tutor memberi gambaran mengapa walaupun disiarkan online, tetap saja mahasiswa yang hadir di kuliah online di negara maju membludak. Ketika ditanya ke mahasiswa mengapa hadir padahal bisa saja mengikuti videonya di rumah. Mereka menjawab sederhana: “sosialisasi”, maksudnya bisa mengukur dengan rekan-rekannya. Jika rekan-rekannya dengan santai dan terlihat tanpa usaha ketika mengikuti kuliah sementara kita masih “mangap” (maksudnya berfikir keras memahami maksud si pembicara), berarti harus ekstra keras lagi belajarnya .. hehe, mirip yang pernah saya alami.

The Secret

Banyak hal-hal lain yang tidak bisa dituangkan dalam bentuk online. Khususnya hal-hal rahasia yang memang bersifat pribadi, atau tidak sesuai dengan alur/prosedur baku. Saya pernah ketika di Indonesia menanyakan via email apakah bisa regitrasi KRS semester pendek (tempat kuliah di LN) tetapi kuliah dari Indonesia karena SKS yang diambil hanya riset. Jawabannya tidak, tetapi ketika kongkow di warung kopi kampus bersama rekan yang sama pembimbingnya mengatakan jangan lewat email. Dan memang ketika meminta langsung/bicara dia setuju di semester pendek tahun berikutnya tanpa datang ke kampus. Email dan bentuk lain online bisa jadi barang bukti, terkadang beberapa advisor berhati-hati dalam menjawab via email, chat, dll. Memang seharusnya mahasiswa yang mengambil semester pendek berada di kampus. Lagi-lagi kongkow/nongkrong di warung kopi dan ngobrol langsung bisa lebih berkualitas dibanding chatting.

Satu hal yang sulit dilakukan online adalah bimbingan. Ketika revisi atau mendiskusikan suatu hal, sangat sulit dilakukan secara online. Bisa saja dilaksanakan via Skype, tetapi ketika ada hal-hal yang harus ditunjukkan, berkas-berkas, hitungan-hitungan dan sejenisnya sangat sulit. Beda dengan ketemu langsung, tinggal buka berkas, tunjukkan. Terkadang dicoret-coret sambil dibahas bersama di berkas tersebut. Itulah mengapa revisi jurnal oleh review bisa beronde-ronde, karena jawaban yang kita berikan dalam bentuk tulisan. Mungkin jika reviewer ketemu langsung bisa beres cepat, tapi tentu saja karena blind review tidak bisa dilakukan langsung.

Mungkin banyak contoh-contoh lain yang menggambarkan pentingnya ketemu langsung. Juga hal-hal lain terkait privasi yang memang tidak membolehkan adanya catatan dalam suatu pertemuan. Bayangkan pertemuan rahasia yang tidak dilakukan secara langsung (via online), sifatnya jadi tidak rahasia lagi karena online, walaupun ada jaminan keamanan dari sistem network, perlu ada jaminan tidak terekam.

Dosen saya yang terbuka dan apapun diberi jika diminta, ketika seorang mahasiswa kedapatan merekam perkuliahannya beliau marah (baru kali itu melihat dia marah). Ternyata marah karena rekannya yang di USA memberitahu kalau kuliahnya ada di Youtube. Ya, aspek kecepatan, variasi, dan jumlah memang ditawarkan oleh sistem online, tetapi jika ada hal-hal yang tidak butuh cepat, tidak butuh jumlah, dan tidak butuh variasi tetapi memerlukan hal-hal lain seperti negosiasi, motivasi, dan sejenisnya, tentu saja efektivitasnya harus disertai dengan offline, yang saat ini dikenal dengan istilah blendded learning, atau turunannya Flipped Learning. Selamat ber-kopi darat.