Bahasa Pemrograman Online

Terkadang ada mata kuliah tertentu yang memerlukan praktek pemrograman. Bahasa yang dipilih pun beragam seperti Java, C++, Python, Ruby, Matlab, dan lain-lain. Jika ingin dituruti maka lab atau laptop pengajar harus menginstall aplikasi-aplikasi yang berisi bahasa pemrograman tersebut. Hal ini tentu saja sangat mengganggu karena tiap instalasi memerlukan space harddisk. Belum lagi jika fasilitas lab tidak memadai dan tidak terinstal compiler dari bahasa pemrograman yang digunakan.

Bahasa Pemrograman Online

Salah satu jawaban untuk mengatasi hal tersebut adalah menggunakan bahasa pemrograman online. Dengan mengakses situs-situs penyedia bahasa pemrograman online kita dapat belajar memrogram tanpa terlebih dahulu instal compilernya. Sangat praktis, tapi tentu saja tidak untuk production. Hanya saja untuk latihan siswa cukup memadai.

a. Bahasa C++

Bahasa ini banyak digunakan dalam perkuliahan karena sangat powerful, sudah tua, dan pembuat bahasa-bahasa lainnya. Salah satu situs yang lumayan bagus adalah OnlineGdb. Untuk mengujinya kita coba dengan algoritma insertion yang diambil dari mata kuliah algoritma. Silahkan buka kodenya di situs berikut ini. Copas dan letakan di bagian kode. NOTE: perhatikan lagi struktur kode-nya soalnya ada angka yang ikut ter-copas.

Lumayan OK dalam mensortir angka di atas. Hanya saja ketika menginput angka yang akan disortir sepertinya terlalu lama “lag”-nya, mungkin karena berbasis web.

b. Java

Sebenarnya situs OnlineGdb di atas bisa untuk java juga. Tinggal klik language di bagian kanan atas dilanjutkan dengan memilih java. Tetapi situs lain mungkin bisa dipertimbangkan seperti
Jdoodle
. Atau jika ingin bisa mengunduh hasil kompilasinya bisa dengan situs CompileJava. Di bawah ini tampilan Jdoodle ketika copas insertion short in java dari Situs ini.

Perhatikan, setelah Execute ditekan maka Result … memunculkan hasil di atas. Lumayan praktis tanpa menggunakan compiler java beneran. Minimal bisa menerapkan algoritma dengan bahasa Java secara instan.

c. Python

Bahasa ini merupakan bahasa yang cukup terkenal, khususnya yang bermain dengan machine learning, data mining dan sejenisnya. Bisa diakses via situs
Tutorialspoint

ini. Situs ini hanya khusus untuk python, tidak ada pilihan bahasa lainnya. Kode diambil dari Github insertion. Hasilnya lumayan ok, letaknya di kanan, hanya saja ada iklan mengganggu di bagian result

hh

Untuk bahasa-bahasa lainnya seperti ruby, c#, bahkan assembler tersedia di OnlineGdb. Selamat mencoba.

Yuk .. Jadi Asesor BKD dan LKD

Beban Kerja Dosen dan Laporan Kinerja Dosen merupakan berkas wajib seorang dosen profesional. Jika BKD dan LKD sudah dibuat, maka dosen tersertifikasi berhak menerima tunjangan sertifikasi dosen (Serdos) sesuai dengan golongannya.

Persetujuan Asesor

BKD dan LKD yang dibuat harus mendapat persetujuan dari dua orang asesor. Untuk kopertis 4 (sekarang namanya LLDIKTI wilayah 4) sudah online. Di sini asesor 1 dan 2 memberikan persetujuan lewat aplikasi web BKD. Untuk LLDIKTI wilayah lainnya masih berupa berkas untuk ditanda tangani.

Penentuan Asesor

Asesor di awal serdos muncul dipilih di tiap kampus, agar merata. Tidak semua dosen dijadikan asesor BKD dan LKD oleh Dikti. Saat ini syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh calon asesor adalah:

  • Doktor dengan minimum pangkat Lektor
  • Magister dengan pangkat minimal Lektor Kepala
  • Ijin rektor/pimpinan tempat calon berada
  • Mengikuti Penyamaan Persepsi

Penyamaan Persepsi

Ketika lulus S3 secara kebetulan diadakan penyamaan persepsi calon asesor di LLDIKTI 4. Cukup banyak yang hadir dan membludak. Saya sendiri duduk di belakang, maklum jarak Bekasi – Bandung lumayan jauh dan lama karena macet di daerah Cikarang.

Pemberian Nomor Induk Registrasi Asesor (NIRA)

Lumayan lama sejak penyamaan persepsi yang dilaksanakan di akhir januari, selanjutnya LLDIKTI mengumumkan calor asesor yang siap diberi NIRA dengan terlebih dahulu rektor tempat calon asesor berada memberikan persetujuan. Lihat format pernyataannya. Rencananya calon asesor ini sudah dapat bekerja semester depan jika sudah memiliki NIRA.

Untuk yang tidak mengikuti penyamaan persepsi di wilayah LLDIKTI masing-masing, sepertinya tidak diperbolehkan menjadi asesor walaupun memenuhi syarat pangkat dan gelar. Saat ini memang kebutuhan asesor baru sangat tinggi mengingat banyak dosen-dosen penerima serdos yang baru lulus. Kelayakan Asesor adalah mengasesori 10 dosen, dan kabarnya saat ini tiap asesor sudah berlebih. Repotnya belum tentu tiap tahun dibuka pengajuan asesor baru. Yuk, jadi asesor BKD dan LKD walaupun imbalannya pahala saja. Hitung-hitung membantu sesama rekan-rekan senasib (dosen).

E-learning Instan dengan Edmodo

Orang-orang se-generasi dengan saya tidak begitu setuju dengan hal-hal yang serba instan, apalagi menyangkut hal-hal yang penting, seperti pendidikan, terutama para rekan yang idealis. Tetapi di era milenial dengan fenomena disrupsi sekarang ini, jika tidak bisa memberikan servis yang disertai kemudahan-kemudahan, maka dapat dipastikan akan tergerus bahkan hancur.

Waktu itu sekembalinya dari tugas belajar, saya mulai mempraktekan flipped learning yang meng-switch perkuliahan dengan pembelajaran di rumah. Jika selama ini perkuliahan tatap muka digunakan untuk transfer ilmu, maka metode ini membaliknya menjadi diskusi dan pengayaan. Di manakah letak transfer ilmu-nya? Jawabnya adalah sebaliknya, transfer ilmu dilakukan sepanjang waktu ketika siswa berada di luar kelas. Caranya bagaimana? Tentu saja e-learning salah satunya. Cara lainnya banyak: Whatsapp, Chating, Telegram, dan lain-lain. Namun masing-masing aplikasi yang memang pada dasarnya dibuat bukan untuk pembelajaran daring, maka memiliki beberapa keterbatasan seperti pembuatan soal, quiz, dan lain-lain. Whatsapp yang sempat saya gunakan karena kampus tidak mempersiapkan e-learning dengan cepat ada masalah ketika hp saya error dan data history hilang semua. Untuk komunikasi, WA dkk sepertinya dapat diandalkan, setidaknya sebagai pelengkap e-learning.

Mendaftar Edmodo

Edmodo dapat diakses di link resminya (edmodo.com). Ada tiga pilihan untuk login: teacher, student dan parent. Sign up saja dengan cepat via email Anda, atau bisa juga dengan “Continue with Google” di bawah “Continue with Office 365”.

 

Mengundang Mahasiswa Mengikuti Kelas

Setelah kelas dibentuk maka tutor dapat mengundang mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan. Caranya ada dua: 1) mengisi data-data si mahasiswa dan 2)menge-share kode kelas yang muncul di Edmodo. Masing-masing punya kelemahan dan kelebihan.

Cara Pertama: Memasukan Langsung

Masuk ke Member Options lalu pilih Add Students dilanjutkan dengan menambah siswa-siswa peserta kelas kita.

Unik juga, siswa tidak wajib memasukan e-mail. Perhatikan, ada tiga mahasiswa yang didaftar tanpa login email. Ketika Add Students ditekan, maka Edmodo akan meng-generate akun disertai passwordnya.

Jangan lupa menekan Download Instruction untuk memunculkan PDF akun dan passwod ketiga siswa di atas.

Ketika login pertama kali maka mahasiswa disarankan langsung mengganti password yang diberikan oleh Edmodo. Cara ini praktis juga karena siswa secara Instan bisa bergabung di kelas tanpa Sign Up di Edmodo. Caranya adalah masuk ke: https://www.edmodo.com/?show_login_modal=1 dengan account di atas:

Satu hal yang unik adalah Edmodo meminta email orang tua/parent untuk peserta. Walaupun tidak diwajibkan, mungkin maksudnya agar mudah dimonitor oleh orang tua, khawatirnya mereka mengikuti e-learning sesat … hehe. Gantilah password dengan masuk ke Setting dan masuk ke menu Password di kiri lalu ganti passwordnya.

Cara Kedua: Meminta Siswa Mendaftar/Join

Cara kedua lebih praktis, yaitu siswa diminta gabung setelah terlebih dahulu sign up di edmodo. Ketika ingin bergabung mereka diminta memasukan kode kelas yang telah kita bagikan sebelumnya. Di menu Classes tekan Joint a Class lalu di jendela Join Group masukan kode kelasnya. Tidak diperlukan parent di cara ini.

Tapi satu kelemahannya adalah jika kode kelas tersebar ke mana-mana maka semua orang bisa masuk ke kelas kita. Walaupun kita bisa me-remove yang bersangkutan, tetapi sangat merepotkan, terlebih jika kelasnya banyak, misalnya ratusan. Apalagi untuk masuk tidak perlu konfirmasi dari kita, alias langusng ikut.

Kelemahan Edmodo

Banyak hal-hal yang sifatnya tertutup ada kemungkinan terbuka keluar karena menggunakan aplikasi berbagi edmodo. Selain itu sistem darurat ini tidak bisa dijadikan hibah pembelajaran daring yang saat ini mulai digenjot oleh Kemristekdikti. Tetapi untuk kampus yang enggan menyiapkan e-learning, atau e-learningnya ingin sempurna sekali (walau entah kapan jadinya), aplikasi ini dengan mudah dapat dipakai. Sekian, siapa tahu bermanfaat.

Algoritma

[algoritma&pemrograman/TIF-1101/r-408]

Asal Usul

Algoritma merupakan ilmu yang spesifik untuk jurusan ilmu komputer dan turunannya (teknik informatika, sistem informasi, sistem komputer, dan lain-lain). Ilmu ini diambil dari nama seorang ilmuwan persia bernama “al-Khowarizmi” yang oleh lidah orang Eropa diucapkan menjadi “Algorithm”. Artinya adalah prosedur komputasi yang menghasilkan nilai tertentu dari suatu masukan. Prosedur tersebut berupa tahapan-tahapan komputasi.

Untuk yang SMA di tahun 90-an, biasanya sudah diperkenalkan Algoritma di mata pelajaran matematika, dengan satu bahasa pemrograman yang terkenal waktu itu: Basic. Algoritma sendiri telah dikembangkan jauh sebelum komputer ditemukan.

Algoritma merupakan Teknologi

Tidak hanya perangkat keras yang termasuk teknologi, algoritma juga bagian dari teknologi karena mengandung unsur efisiensi dan pemilihan metode yang cocok. Jujur saja, algoritma merupakan salah satu mata kuliah yang saya benci. Tapi ternyata merupakan salah satu bagian dari judul disertasi saya (hybrid multi-criteria evolutionary algorithms), unik juga.

Salah satu aspek teknologi adalah efisiensi. Berikut ini contoh perbandingan dua komputer yang menggunakan dua prosesor yang berbeda dengan algoritma pencarian (searching) yang berbeda pula. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  • Komputer A: Memiliki kecepatan 10 miliar instruksi per detik. Menggunakan algoritma insertion sort dengan T(n)=C1*n^2.
  • Komputer B: Memiliki kecepatan 10 juta instruksi per detik. Menggunakan algorithma merge sort dengan T(n)=C2*n*log(n).

Jika C1=2 dan C2=50 (waktu proses tiap prosesor dimana komputer B lebih lama dari komputer A). Jika kedua komputer diminta untuk mensortir 10 juta angka berapakah waktu yang dibutuhkan oleh komputer A dan B?

Jawab: Soal tersebut diambil dari buku “introduction to algorithms” karya Cormen. Dengan membagi jumlah instruksi dengan kecepatan prosesor maka diperoleh waktu yang diperlukan.

  • Komputer A membutuhkan waktu proses = 2*(10^7)^2 : 10^10 = 20 ribu detik (kira-kira 5.5 jam) sementara komputer B memiliki waktu proses 50*10^7*log(10)^7 : 10^7 = 350 detik (kira-kira 6 menit).

Bayangkan prosesor yang 1000 kali lebih cepat (komputer A) dikalahkan oleh komputer B karena menggunakan algoritma yang lebih efisien. Selain itu algoritma bisa bekerja sama dengan teknologi-teknologi lainnya:

  • Arsitektur komputer dan teknologi perakitan/pembuatan komponen
  • GUI yang intuitif, mudah dan praktis.
  • Sistem berorientasi objek
  • Teknologi web terintegrasi, dan
  • Jaringan cepat baik kabel dan nirkabel.

Demikian uraian singkat tentang pembuka mata kuliah algoritma. Siapa tahu ada yang berminat/tertarik dengan materi kuliah utama ilmu komputer ini.

Referensi:

Akhirnya Cetakan Kedua Terbit …

Ternyata untuk mencetak lagi, penerbit tidak asal mencetak. Biasanya dilakukan jika buku yang beredar memang benar-benar habis dan jika dicetak lagi diprediksi akan laris seperti sebelumnya. Biasanya penerbit jujur dalam masalah royalti (kecuali dibeli putus). Pihak penerbit yang datang dan presentasi di kampus sangat konsen masalah tersebut. Bahkan jika diam-diam penerbit mencetak tanpa melaporkan royalti ke penerbit, diistilahkan oleh mereka “membajak diri sendiri”. Mungkin postingan ini bisa menginspirasi pembaca untuk membuat buku juga, khususnya membuat cetakan kedua buku yang pernah publish.

Proses Penerbitan Edisi Kedua

Tadinya saya menginginkan istilah “edisi kedua” dalam buku yang dicetak ulang. Tapi penerbit lebih sreg dengan edisi revisi, mungkin itu sinyal tidak ada edisi ketiga dan seterusnya. Tidak apa, toh lebih baik buat buku baru lagi dari pada sekedar revisi.

Namanya revisi ternyata tidak cepat, mirip proses pembuatan baru lamanya. Beberapa bagian ada penambahan dan beberapa bagian diperbaiki jika ada kekeliruan. Setelah proses layout dilanjutkan dengan proses lain yang saya sendiri tidak tahu, lumayan lama juga. Mungkin ada cek-cek lain seperti plagiasi, komunikasi ke penerbit lain (menghindari diterbitkan oleh beberapa penerbit), dan lain-lain.

Royalti atau Beli Putus

Biasanya penerbit menggunakan prinsip royalti, yaitu dari satu buku yang dijual penerbit mendapatkan prosentase (rata-rata di Indonesia sebesar 10% dari harga eceran). Royalti mengedepankan prinsip laris untung sama-sama, rugi pun penulis bisa ga dapet apa-apa. Berbeda dengan penerbit yang membeli putus naskah tersebut. Resikonya pun ada, jika tidak laku penerbit rugi tetapi jika laku keras, penulis yang gigit jari. Biasanya royalti mencantumkan hak cipta pada penulis, sementara pembelian lepas hak cipta pada penerbit. Tapi toh untuk akreditasi suatu kampus dapat diakali dengan cara mendaftarkan ciptaan ke dirjen HKI (lihat post untuk daftar HKI). Toh di jaman pembajakan yang marak saat ini, berimbas ke nasib buku-buku laris, pada akhirnya penerbit memiliki kemampuan memprediksi harga suatu buku dan pembelian putus pun sudah biasa.

Tetap Berkarya

Sebenarnya penerbit butuh penulis, tetapi sangat jarang kita menulis, terutama dosen-dosen di tanah air yang super sibuk, baik urusan kampus, kejar setoran ngajar dan lain-lain. Sementara buku perlu kesabaran baik dari sisi produk maupun prosesnya. Selamat menulis. Oiya, numpang promosi ya …

Ikut Tes Kepribadian STIFIn

Ngomong-ngomong masalah psikologi, jujur saja saya tertarik. Bahkan ketika Ujian Masuk Perguruan Tinggi negeri di tahun 1995 dulu, saya memilih pilihan ketiga psikologi setelah teknik mesin dan teknologi hasil ternak, yang tentu saja membuat orang-orang psikologi geram karena diletakan di bawah peternakan, he he. Padahal psikologi merupakan sepuluh besar jurusan tersulit untuk dimasuki, khususnya bidang IPS. Untungnya saya diterima di mesin.

Tes STIFIn (singkatan dari sensing, thinking, intuiting, dan insting) bermaksud mengetahui otak dominan yang digunakan oleh manusia (kiri, kanan, tengah). Ketika sore-sore istri mengajak ikut tes STIFIN, saya sih setuju saja, toh tidak diambil darahnya, hanya sidik jari seluruh tangan dan informasi golongan darah saja. Hasilnya ternyata saya bertipe otak tengah, yaitu insting, disingkat In.

 

Otak tengah merupakan otak yang cepat dalam merespon, adaptif, dan menyukai kedamaian. Sedapat mungkin menghindari konflik. Sedikit banyak sepertinya ada benarnya, walaupun STIFIN hanya menebak 20% yang ada dalam diri kita dan sisanya 80% adalah lingkungan. Kemampuan adaptif insting karena mampu berperan sebagai tipe-tipe lainnya (sensing, thinking, intuiting, dan feeling) walaupun tidak bisa lama-lama dan hanya 50% katanya. Silahkan baca untuk tipe-tipe lainnya.

Katanya sih hubungan antar tipe “mesin kecerdasan” adalah tampak seperti gambar di atas. Ada yang mendukung, ada yang menaklukan. Bagi orang insting sepertinya tidak masalah karena toh ketika akan ditaklukan sensing, dia bisa berubah jadi intuiting karena sifatnya yang adaptif, ha ha. Bisa aja orang-orang psikologi ya.

Ganasnya Reviewer Jurnal ber-Impact Factor Tinggi

Bagi rekan-rekan seangkatan yang saat ini sudah menyelesaikan S3 dan ber-santai ria sejenak, pasti pernah merasakan ditolak tulisan ilmiahnya. Karena merupakan syarat kelulusan S3, penolakan tersebut artinya “menunda” kelulusan dalam waktu yang tak tertentu. Berbeda dengan rekan-rekan yang mengirim tulisan ilmiah hanya untuk kenaikan pangkat, luaran penelitian, atau syarat lektor kepala/guru besar, jika ditolak, kirim ke jurnal lain (biasanya yang levelnya di bawahnya) setelah memperbaiki mengikuti saran reviewer sebelumnya. Silahkan lihat tip n trik sederhananya di post yang lalu.

Pra Publikasi

Satu hal yang berbeda, untuk syarat lulus terkadang kampus mensyaratkan terlebih dahulu disetujui jurnal tujuan oleh senat akademik kampus. Biasanya jurnal yang berimpak factor (standar Web of Science) selalu disetujui.

Ada bagusnya juga sih form pengajuan tersebut, yakni sebagai bukti nanti ketika ternyata accept berarti berhak lulus. Kampus tidak bisa menolak karena sudah menyetujui. Sepertinya patut ditiru untuk Kemristek-Dikti karena banyak kasus dosen yang sudah publish di suatu tulisan tertunda lektor kepala atau guru besarnya karena beberapa tulisan tidak layak, padahal sudah butuh waktu untuk menulis dan proses review.

Submit Jurnal

Disertasi selalu lebih kompleks dari artikel di jurnal. Jadi mahasiswa doktoral bisa membuat lebih dari satu artikel jurnal untuk tiap makalah disertasinya. Yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh mensubmit jurnal yang sama untuk lebih dari satu jurnal. Artinya harus disubmit secara serial, jika jurnal A menolak, baru submit ke jurnal B dan tidak boleh ke A dan B secara bersamaan.

Proses Review

Di sinilah tahap krusial nasib artikel yang disubmit karena menentukan diterima atau tidak. Makin tinggi impact factor (atau nilai quartil), makin sulit lolosnya. Bahkan banyak yang ditolak oleh editor sebelum dikirim ke reviewer. Ketika pertama kali submit seminar internasional, proses review tidak terlalu njelimet. Tetapi ketika submit ke jurnal ternyata rumit juga. Contoh di bawah adalah reviewer ke tiga dari jurnal yang minor revision. Tadinya saya fikir minor revision hanya sederhana, tetapi ternyata proses review berjalan sampai tiga ronde, artinya tiga kali bolak balik (walaupun tidak semua reviewer sampai tiga ronde, hanya satu atau dua orang saja).

Untuk merespon reviewer bisa dilihat tekniknya pada postingan yang lalu. Jawaban sebaiknya disertakan perbaikannya di naskah, bukan sekedar jawaban di komentar saja.

Lama Proses Review

Biasanya antara satu tulisan dengan tulisan lainnya seragam waktu penerimaannya, kecuali jika “major revision”. Rekan saya sempat setahun proses review dan selama setahun itu tidak boleh dikirim ke jurnal lain. Kalau pun bisa dengan cara menarik, sebaiknya jangan dilakukan karena tidak etis mengingat proses review sudah berjalan. Editor sudah bersusah payah mencarikan reviewer dan reviewer juga sudah bersusah payah membaca naskah kita. Takutnya bisa kena “blacklist”. Untungnya rekan saya setelah setahun diterima. Bayangkan jika ditolak, repot juga mengingat waktu terbuang percuma setahun hanya ngurusi jurnal dan “argo” kuliah S3 terus berjalan. Untuk mencari proses publikasi yang cepat, trik yang bisa dilakukan adalah: 1) open access (jika diijinkan), 2) special issue, 3) prosidia (seminar yang layak dijurnalkan). Untuk yang ketiga saya mengalaminya, walaupun tetap saja prosesnya setengah tahun dengan tujuh reviewer (reviewer A sampai G, repotnya). Selamat mencoba, semoga naskahnya diterima (accepted).

Contoh Accepted:

Ditolak:

Untungnya punya pembimbing-pembimbing hebat yang terus menyemangati:

Dear Mr. Handayanto,

Sorry to hear this news. But please don’t be discouraged and find another chance.

Could you share the review report from peer-reviewer(s) with me?

Best regards,

So***

Bahasa Inggris memang jadi momok penulis pemula:

Dear Rahmadya:

It seems from the comments that the English needs urgently to be fixed. Some of the technical issues may be from this problem too simply because the referees couldn’t understand what you were trying to say.

The language center might check but it’s really not their job to correct line by line which is what might be needed. Just a suggestion which a couple of my students have followed: hire somebody (preferable a native speaker) and sit down with him/her while they correct so that you can clarify when they aren’t sure what you are trying to get across.

This costs a bit of money and takes some time but you need only one decent paper to graduate:-)

Best,

Sum****