Merdeka Belajar

Pulang sekolah bagi pelajar kelas 3 sekolah dasar seperti saya waktu itu merupakan saat yang paling menggembirakan. Setelah seharian digembleng ilmu yang tidak kami mengerti maksud & manfaat real-nya, kini bisa bermain dengan teman-teman sepermainan yang berbeda-beda “spesialisasinya”. Ada yang jago main gundu, main layangan, hingga jago ngadu ayam. Kami selalu membagikan temuan masing-masing, bahwa jika angin sangat kencang maka teknik “uluran” lebih baik dibanding “tarikan” ketika mengadu layang-layang. Rekan yang lain membagikan informasi membedakan ayam bangkok dengan ayam kampung biasa dan bagaimana caranya supaya kondisi ayam tetap fit untuk diadu. Atau berilah cabai ke jangkrik agar lebih liar dan ganas ketika duel. Walau ada teman yang ngaco juga, kalau mau kuat lari coba minum air garam, kata rekan saya yang ikut klub lari. Ketika diminum, rasanya tidak enak banget hingga mau muntah, dan akhirnya saya maki-maki dia keesokan harinya.

Nah, salah satu teman saya adalah “bisnis-child”, alias dagang apa saja. Tentu saja hal-hal yang baru akan menarik minat anak kecil yang haus hal-hal yang baru. Apalagi kabarnya bisa menghasilkan uang kertas, jenis uang yang jarang dipegang pelajar sekolah dasar di era 80-an, era dimana tatap muka masih merajai.

Udara cerah, dengan angin kencang yang mendinginkan udara siang yang panas membawa kami ke tempat teman yang sedang mengantri majalah, teka-teki silang, dan bacaan sejenisnya. Ternyata dia tidak membeli, melainkan membawa cukup banyak bacaan itu untuk dijual. Kami saling berpandangan, ketika rekan saya itu menawarkan ke si bos-nya agar kami ikut menjual. Tentu saja senang dengan tawaran tersebut. Salah satu hal yang membuat senang adalah kepercayaan yang diberikan. Berarti untuk menggerakan sesuatu butuh kepercayaan. Dengan modal kepercayaan tersebut, saya dan teman-teman yang memiliki spesialisasi masing-masing mulai menjalankan visi dan misi yang tidak perlu dirumuskan. Tawarkan bacaan tersebut ke sebanyak mungkin orang agar diharapkan beberapa yang tertarik membeli dengan harga minimal tertentu.

Masalah muncul ketika ada yang melaporkan kegiatan saya. Begitu tahu setelah sekolah ikut dagang majalah, dan sejenisnya, orang tua saya langsung melabrak. Mungkin ada rasa malu dan khawatir dibilang tidak mampu membiayai hidup keluarga, atau mungkin juga khawatir saya keluyuran lama dan tidak langsung belajar selepas sekolah, yang katanya agar pintar maka pelajaran yang baru dipelajari sebaiknya langsung diulang. Tentu saja membosankan sesuatu yang harus diulang-ulang bagi anak yang normal, apalagi mengingat hadiah “pentungan” dari guru yang baru saja kami terima ketika salah hitung, lupa, dan tidak mengerjakan PR. Padahal dengan mencoba berdagang, di situlah saya sadar betapa sulitnya mencari uang, menyimpan, menghitung, dan segala aspek bisnis lainnya.

Tetapi hebatnya pelajar-pelajar di jaman itu, tidak ada satu pun yang berani dan melawan guru, walaupun dilampiaskannya dengan melawan siswa-siswa lain dalam the real “MMA” battle, alias tawuran. Hanya saja sayangnya tidak ada kemerdekaan dalam belajar. Kemerdekaan yang saat ini menjadi jurus andalan mendikbud, Nadiem Makarim, untuk menyiapkan SDM yang bisa berbicara di kancah dunia. Kita lihat saja, semoga berhasil.