Mengedit Profil di Scopus

Scopus menjadi salah satu andalah pengindeks di Indonesia karena merupakan salah satu pengindeks yang konsisten dan ketat dalam menyeleksi naskah-naskah di seluruh dunia. Banyak naskah-naskah di tanah air baik dari jurnal maupun seminar sudah terindeks, tetapi beberapa penulis masih kebingungan cara mengetahui ID scopusnya (lihat link terdahulu cara mengetahui ID Scopus). Terkadang ketika sudah ada di Scopus, banyak penulisan nama dan afiliasi yang tidak sesuai. Hal ini terjadi biasanya karena salah pengisian data oleh pengelola jurnal/seminar. Postingan ini bermaksud sharing bagaimana merubah nama dan afiliasi. Dulu pernah posting seperti ini (klik di sini) tapi menggunakan ID Scopus berbayar, tetapi portingan kali ini akan kita gunakan ID Scopus yang gratis.

1. Sign Up

Langkah pertama adalah “Sign Up” ke Scopus. Apakah bayar? Ternyata Scopus telah membolehkan pengguna untuk daftar ke Scopus tanpa bayar. Tentu saja hanya untuk mencari afiliasi dan merubah/edit nama-nama di Scopus. Yang dapat dirubah hanya penulis yang tulisannya sudah terindeks Scopus. Jadi jika Anda belum memiliki tulisan yang terindeks di Scopus, tentu saja tidak bisa membuat ID Scopus sendiri.

Scopus menyebutnya fasilitas ini “Scopus Preview”. Hanya bisa mengutak-atik Author tetapi tidak bisa mencari dokumen yang terindeks scopus.

2. Pencarian Author

Di bagian atas ada menu “Author Search”. Coba klik dengan mouse Anda untuk masuk “Author Profile”. Pilih “Author Feedback Wizard” untuk mereview apakah ID Scopus kita berisi profil yang benar.

3. Mengedit Scopus Profile

Berikutnya mulai masuk ke menu editing. Di sini yang dapat diutak-atik adalah: 1) Preffered Name, 2) Merge Profiles, 3) Add and Remove Documents, dan 4) Update Affiliation.

Masukan nama Anda dan pastikan muncul di kolom pencarian. Gunakan minimal “Author last name” di isi, lebih lengkap dengan “first name” lebih baik.

Perhatikan ada 13 dokumen padahal saya sudah 14 dokumen. Kemudian afiliasinya “Islam 45 University” padahal di dokumen terakhir sudah saya tulis Universitas Islam 45 Bekasi, dan saya ingin namanya “Universitas Islam 45”, misalnya. Ikuti langkah-langkah yang diminta dimulai dari “Select Profile(s)”, “Review Documents”, “Review Affiliation”, hingga “Confirm and Submit”. Oiya, cheklist dahulu dengan mouse kotak di sebelah kiri nama Anda sebelum menekan “Review Documents” di bawah kanan. Pastikan nama sudah benar.

4. Review Dokumen

Masuk ke dokumen Anda yang di Scopus dan tambahkan dokumen lain yang tidak terdeteksi dengan menekan “Search Missing Documents”.

Banyak caranya baik dengan menekan Author, Title, dan DOI. Untuk mudahnya gunakan saja DOI jika sudah tahu. Perhatikan dokumen di bawah, tampak DOI yang tinggal dicopas ke “Search Dokuments” di atas.

Masukan ke isian “Search Documents”, jangan lupa di bagian kanan pilih “DOI”. Lanjutkan dengan menekan “Search”.

Pastikan dokumen ditemukan. Ceklis lingkaran di sebelah kiri dokumen dan tekan “Confirm Author” untuk melanjutkan nama Author yang akan diedit.

 

Pilih Author yang akan diedit. Perhatikan di sini seharusnya “Handayanto, Rahmadya Trias” tetapi dimasukan “Trias Handayanto, Rahmadya” oleh paper terakhir, oleh karena itu akan kita revisi. Tekan “Add Documents”.

Pastikan muncul satu dokumen baru tersebut dan lanjutkan dengan menekan “Review Affiliation”.

5. Review Afiliasi

Review afiliasi jika ada dokumen baru dengan afiliasi baru dan kita ingin mengikuti afiliasi tersebut. Terkadang afiliasi yang sama tetapi tulisannya ingin yang terbaru, misalnya “Islam 45 University” ingin saya ganti dengan standar terbaru “Universitas Islam 45” mengingat kampus bukan kata tetapi simbol seperti Merk yang tidak perlu diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Perhatikan kolom universitas bisa Anda piliah yang sesuai dengan menekan scroll panah bawah. Tentu saja Anda tidak bisa sembarangan mengisi nama di situ. Hanya dokumen yang sudah terindeks saja yang muncul.

6. Confirm & Submit

Terakhir adalah “Confirm & Submit”. Di sini kita meminta Scopus untuk merevisi Profile kita. Tentu saja bentuknya berupa proposal yang bisa saja ditolak oleh Scopus. Tetapi selama ini biasanya disetujui. Buka email yang digunakan untuk Login Scopus dan pastikan ada pemberitahuan mengenai proposal perubahan. Perlu diketahui bahwa langkah 1 sampai 6 di atas gratis (tidak berbayar). Tapi jika Anda punya akun Scopus berbayar bisa juga, bahkan sepertinya lebih baik.

Tunggu beberapa hari menunggu kabar dari Scopus mengenai perubahan yang diajukan. Sekian, semoga bisa sedikit membantu.

 

 

 

Membuat Web-GIS dengan Data Wrapper

Terkadang GIS tidak harus menampilkan letak geografis yang akurat mengikuti standar proyeksi lintang dan bujur. Pengguna mungkin hanya ingin mengetahui informasi sebaran data dengan melihat lokasi wilayahnya tanpa perlu detil peta. Selain itu kecepatan akses dibutuhkan oleh pengguna internet, sehingga beberapa atribut peta yang membutuhkan data besar bisa diminimalisir. Berikut penggunaan salah satu penyedia Web-GIS ringan dari datawrapper. Berikut ini adalah contoh tampilannya (klik Link ini). Hanya gambar karena blog ini tidak support “i-frame”.

Mulai membuat dengan menekan tombol “Start Creating” di bagian bawah. Data wrapper tidak perlu “sign up”, hanya saja ketika ingin mengambil peta “embedded” harus via email.

Tampak navigasi langkah-langkah yang diperlukan, antara lain: upload data, check and describe, visualize, dan publish & embedded. Pilih New Map di bagian atas.

Ketika masuk di bagian “Select your Map” pilih Indonesia, misalnya Provinsi. Jika kurang detil ada pilihan kabupaten/kotamadya.

Nah, di bagian value silahkan isi, misalnya kasus Corona berapa saja di provinsi tersebut. Selain itu bisa juga data lewat “import”. Copas saja ID dan Value tabel di atas dan paste ke Excel untuk menginput data secara offline. Nanti kalau sudah diisi tinggal diupload saja datanya.

Misalnya sudah diperoleh sebagai berikut. Simpan dalam bentuk CSV, misalnya “datacorona.csv”.

Tekan “Proceed” di sisi kanan tempat upload data.

Isi anotasi yang dibutuhkan, misalnya pembuat, sumber data, judul dan seterusnya.

Setelah menekan “Proceed” lanjutkan dengan “Publish”. Sekarang sepertinya harus menerima email jika ingin mengembed data. Tulis email Anda.

Jika ingin mencetak bisa langsung tanpa perlu menunggi email “embedded”nya. Sekian, semoga bermanfaat. Gunakan embedded code jika ingin ditempel di blog/situs seperti di awal tulisan. Buka email dan klik “Get my visualization” untuk membuka lagi peta Anda.

Selanjutnya peta Anda, dan lakukan proses data “embedded”nya.

Pentingnya Kampus Memiliki Jurnal

Ada postingan di grup bahwa lebih baik fokus dosen-dosen menulis di jurnal-jurnal dibandingkan mengelola jurnal sendiri. Alasannya kinerja kampus dipengaruhi oleh dosen-dosennya yang aktif memublikasi artikel ilmiahnya. Apalagi jika publish di jurnal internasional bereputasi. Postingan ini sedikit menjawab apakah benar statement tersebut?

Perhitungan Sinta

Apa itu Sinta? Silahkan baca post terdahulu mengenai pengindeks Indonesia tersebut. Sinta saat ini menjadi rujukan kinerja penelitian kampus. Bahkan pemeringkatan kampus di tanah air dapat dilihat di situs tersebut, hingga tulisan ini dibuat, tiga besar masih dipegang UI, ITB dan UGM.

Saya mencoba menghitung secara manual skor kampus saya, Universitas Islam 45 Bekasi yang dapat diakses di laman Sinta per 6 Maret 2020 akan dihitung secara manual.

Rinciannya adalah sebagai berikut, jurnal Q2 berbobot 40 ada 3 buah, Q3 berbobot 35 3 buah, Q4/non-Q yang berbobot 30 ada satu. Prosiding yang berbobot 15 ada 12 buah.

Selain dari sisi jumlah, sitasi pun dihitung. Ada 45 sitasi scopus yang berbobot 4. Untuk Google Scholar, Restek/BRIN membatasi maksimal sitasi 1000, sementara di UNISMA lebih dari 1000, dengan bobot 0,5. Terlihat jumlah sitasi di Scopus sebanyak 19 dengan bobot 4 sementara jumlah terindeks Google Scholar 3040 buah dengan bobot 0,5. Lengkapnya gambar di bawah ini. Jurnal yang terindeks Sinta ada 6 dengan bobot 15.

 

Untuk menghitungnya silahkan lihat di panduan yang ada di link Sinta berikut. Untuk versi 2.0 Sinta sudah memasukan faktor jurnal dalam perhitungan skor institusi.

Formula Sinta Score: Wa x A + Wb x B + Wc x C + Wd x D + We x E

Dengan A, B, C, D dan E berturut-turut adalah jumlah jurnal di Scopus, Non-jurnal di Scopus, Sitasi Scopus, Sitasi Google Scholar, jumlah artikel di jurnal terindeks Sinta, dan Jumlah jurnal terakreditasi sinta. Bobot dapat dilihat berikut, mengikuti Sinta.

Jika dimasukan dengan formula Sinta diperoleh hasil sebagai berikut:

SKOR = [40×3+35×3+30×1] + [15×12] + [63×4] + [1000×0,5] + [25×4+15×20+20×15] + [6×15] = 1977

Ada sedikit perbedaan sebesar 11 persen dibanding perhitungan Sinta yang sebesear 2237. Mungkin ada sedikit salah hitung dari saya.

Peran Jurnal Terakreditasi

Kembali ke topik semula, apakah ada manfaatnya kampus memiliki jurnal terakreditasi? Silahkan lihat perhitungan di atas. Walaupun sedikit bobotnya tetapi jurnal kampus menjadi andalan para dosen-dosennya, terutama yang membimbing skripsi/tugas akhir untuk mempublikasikan hasil penelitiannya. Oiya, jurnal kampus merupakan satu-satunya skor yang “abadi”, dibanding dengan dosen yang bisa pindah, pensiun, atau meninggal dunia. Silahkan kalau Anda sanggup mengikat dosen-dosen untuk tidak kabur ke kampus lain.

Sebagai ilustrasi, berikut contoh hitung2an jika tiap prodi di kampus saya (27 prodi) memiliki jurnal terakreditasi Sinta (misalnya S3 ke bawah). Akan ada tambahan 27×15 = 405 point. Otomatis peringkat naik, walau sedikit. Tentu saja bukan cuma dari skor jurnal, ada dampak tidak langsung dari dosen-dosen di 27 jurnal tersebut, karena biasanya lebih mengutamakan dosen-dosen internal yang menulis. Jika satu jurnal mempublish 5 tulisan dosen-dosennya, maka ada sekitar 27x5x15 = 2025 tambahan skor tiap edisinya. Jika per tahun dua kali publish maka ada tambahan 4050 !!! Silahkan kalau berani kampus Anda tidak memiliki jurnal ilmiah terakreditasi. Dapat dipastikan akan tergantung dengan kampus lain yang memiliki jurnal. Memang dalam prakteknya ada “barter” penulis jurnal antar kampus tapi tentu saja kampus A akan mikir-mikir jika kampus B mengirim paper ke A jauh lebih banyak dari kampus A ke kampus B. Jika kita lihat peringkat kampus, tampak tipis sekali bedanya, 405 point jurnal ditambah dosen-dosen yang menulis sudah cukup menggenjot peringkat kampus Anda.

Sebenarnya sasaran pemerintah adalah jangan sampai bergantung dengan Scopus. Tentu saja syarat yang harus dipenuhi adalah kualitas dan kuantitas jurnal yang ada di Indonesia harus diperkuat. Tanpa hal itu, beresiko jika mengatakan untuk tidak perlu menggunakan standar internasional (Scopus atau Web of Science) mengingat kampus merupakan organisasi yang berbasis kepercayaan publik. Oiya, yang penting untuk diperhatikan, tidak semua orang memiliki kemampuan sebagai editor yang harus sabar dan tekun mengikuti tren penelitian di dunia. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi dan tetap membangkitkan semangat kampus untuk meningkatkan kualitas jurnal-jurnalnya yang jujur saja kita kalah dengan negara-negara tetangga. Oiya, pemilik (owner) kampus tidak ada salahnya menyimak tulisan ini lho.

Yuk, Mulai Belajar Buat GUI di Jupyter Notebook Python

Jupyter notebook saat ini menjadi IDE andalan pengguna Python. IDE ini sangat membantu pengguna yang “alergi” bermain console. Dengan notebook masalah import library dapat mudah teratasi, yaitu lewat Anaconda Navigator. Nah, itu untuk kode, bagaimana untuk user? Agak kerepotan jika mereka ketika menjalankan sistem harus lewat kode. Di sinilah peran GUI diperlukan, yaitu bagaimana user tinggal memasukan data dan mengeksekusi/memproses data tersebut hanya dengan “single click”.

Salah satu library yang paling banyak digunakan untuk membuat GUI adalah Tkinter. Entah kenapa namanya kayak klub bola gitu. Lagi-lagi jika menggunakan paket Anaconda maka Tkinter bisa diimport. Coba buka Jupyter Notebook, dan jalankan kode sederhana berikut.

  • import tkinter as tk
  • window = tk.Tk()
  • greeting = tk.Label(text=”Hello, Tkinter”)
  • greeting.pack()
  • window.mainloop()

Jalankan (run). Oiya, untuk python versi 3 (terkini) harus menggunakan “t” kecil. Perhatikan ada jendela yang berisi teks “hello, Tkinter” yang merupakan contoh jendela GUI sederhana. Lihat link untuk belajar berikut ini.

Di jaman online, sangat mudah belajar programming. Atau coba link ini untuk yang ingin bahasa Indonesia, misalnya untuk tombol “push button” beserta inputnya. Dikombinasikan dengan Machine Learning maka GUI ini sangat ampuh.

Mengekspor dan Mengimpor BibTex Mendeley

Selain dengan memasukan langsung file pdf paper ke Mendeley, kita bisa juga memasukan paper yang akan disitasi lewat BibTex. File berekstensi *.bib biasanya disediakan oleh pengelola jurnal internasional. Kita tinggal unduh file tersebut dan pindahkan ke Mendeley, secara otomatis Mendeley akan mengeset referensi sesuai dengan style yang kita inginkan, misal IEEE, APA, Harvard, dan lain-lain. Terkadang jurnal-jurnal lokal di Indonesia tidak menyediakan BibTex, jadi mau tidak mau harus memasukan secara manual ke Mendeley. Postingan kali ini bermaksud memberikan alternatif selain input manual, yaitu lewat pembuatan BibTex dari paper yang tidak menyediakan file *.bib.

Membuat Template BibTex

Format BibTex mirip kode XML. Antara buku, jurnal, conference dan bentuk artikel lain berbeda satu sama lain. Hal ini terjadi karena tiap-tiap style membedakan penulisan buku, jurnal, prosiding, dan lainnya. Misalnya kita akan membuat template artikel jurnal. Klik kanan saja pada artikel di Mendeley dan pilih “Export”.

Simpan dengan nama yang kita inginkan, misalnya “Handayanto.bib”. Sebenarnya ada tiga pilihan yang tersedia yaitu BibTex, ris, dan EndNote XML.

Setelah disimpan, buka dengan “notepad” maka akan tampil format/kerangka BibTex yang dapat kita edit dengan paper lain. Pindahkan saja informasi artikel ke “handayanto.bib” yang telah dibuat sebelumnya. Isi point penting seperti author, title, volume, tahun dan lain-lain yang berada di dalam kurung kurawal ” { }”. Hapus informasi tentang file {} karena di sini kita tidak memasukan file.

Simpan dan coba drag ke Mendeley, pastikan dapat digunakan untuk referensi otomatis di naskah paper.

Uji dengan menginput ke naskah. Biasanya referensi terbentuk dengan baik sesuai style referensi yang diinginkan. Tentu saja ini khusus artikel yg tidak ada link download BibTex, kalau ada ya tinggal download dan ekspor ke Mendeley kita.