Era Metakognitif Sudah Mulai

Seorang siswa minta tanda-tangan untuk pengajuan judul tugas akhir. Anak tersebut memiliki bakat di bidang pemrograman. Karakteristik mahasiswa vokasi adalah skill yang dimiliki sudah nampak sebelum dia lulus sehingga banyak yang sudah bekerja duluan.

“kerja di bagian apa?”, tanyaku. Dia menjawab terkadang membuat web, kadang-kadang juga aplikasi Android. “Biasanya bahasa yang digunakan apa?”, tanyaku. “Tergantung Pa, paling mudah sih flutter, tapi ukuran yang dihasilkan besar. Lebih ringan Dart. Tetapi ketika ada project membutuhkan barcode, library tidak ada, jadi terpaksa menggunakan Kotlin”, jawabnya.

Nah, dari perbincangan tersebut saya yakin dia tidak mempelajari informasi tersebut dari bangku kuliah. Dia menggunakan salah satu kemampuan yang dimiliki oleh manusia, yaitu metakognitif. Istilah ini mengacu kepada kesadaran yang dimiliki oleh seseorang dalam menilai kemampuan intelektual diri. Apa yang dia tahu, dan apa yang dia tidak tahu, dan butuh mengetahui. Maaf, di sini tahu berarti pengetahuan ya, bukan tahu sumedang ..

Beberapa pakar e-learning sedang mengembangkan metode dimana siswa dibantu meningkatkan metakognitif dalam pembelajaran. Manfaatnya adalah proses belajar lebih cepat karena siswa hanya mempelajari hal-hal yang dia tidak kuasai akibat metakognitif-nya yang sudah jalan. Manfaat lain adalah siswa tidak menjadi bosan dan mengganggu siswa lainnya karena tidak perlu mempelajari lagi sesuatu yang dia sudah ketahui/kuasai.

Metakognitif juga berkaitan dengan bloom taxonomy yang terdiri dari empat tingkatan pengetahuan yaitu: 1) mengingat, 2) memahami, 3) menerapkan, dan 4) menganalisa, sintesa dan mengevaluasi. Kembali ke siswa saya tadi yang sepertinya memiliki ciri-ciri tersebut. Mereka mengetahui apa yang mereka tidak tahu, mencari tahu lewat beragam media, mempelajari yang dibutuhkan, mencari alternatif-alternatif dan lain-lain. Istilah sederhana mereka adalah “kepo-in ajah”.

Untuk generasi “old”, seperti saya, wajib memiliki kemampuan metakognitif seperti anak-anak milenial yang kreatif ini, jika tidak ingin tergusur. Sekian semoga bisa menginspirasi.