Pendidikan Tinggi Kita

Bulan Juli-Agustus merupakan bulan sibuk bagi orang tua yang anaknya akan melanjutkan ke bangku kuliah. Dimulai dari UTBK hingga ujian mandiri ditempuh calon mahasiswa agar mendapatkan pendidikan yang baik sebelum terjun ke masyarakat. Menteri pendidikan dan kebudayaan pun terus mengupayakan bagaimana cara meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air. Deddy Corbuzier pun turut mengkritiknya.

Jikalau fokus pendidikan hanya menyediakan tenaga kerja, ada benarnya video tersebut. Tapi jika mengikuti saran tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, ada banyak aspek pendidikan selain mensuplai tenaga kerja. Ada banyak prinsipnya, misalnya kemandirian, kebangsaan, inklusivitas, dan lain-lain yang bisa Anda googling sendiri.

Inklusivitas

Ketika mengajar AI, ada bab tentang etika AI, salah satunya adalah AI untuk semua. Konsepnya mengadopsi bidang lain karena AI merupakan bidang baru. Di sini baik AI maupun pendidikan tidak jauh berbeda dari sisi inklusivitas. Memang semua terkait, tidak hanya dilihat dari satu sisi. Misalnya sebuah perusahaan ketika merekrut pekerja hanya mengandalkan kepandaian, kecerdasan, keterampilan dan sejenisnya dapat dipastikan akan menerima pegawai dari kampus-kampus tertentu yang terkadang dari orang-orang yang mampu secara finansial. Misalnya Google atau industri IT membuka kampus yang kemungkinan tidak semua masyarakat bisa memasukinya berarti hanya mengambil orang-orang tertentu yang mampu saja.

Jadi kalau dari ujung (pengguna lulusan) sudah seperti itu, yang mungkin karena mereka butuh bersaing, sudah dipastikan ke bawah ujung-ujungnya anak-anak yang mampu saja dengan akses pendidikan yang baik. Lain cerita ketika perusahaan mencari pegawai untuk bersama-sama makmur, dengan keyakinan setiap orang punya hak yang sama memperoleh kehidupan layak, perlu diusahakan mendidik secara ‘gratis’ pegawainya di organisasinya.

Repotnya, saat ini dengan kampus negeri yang kian dituntut sebagai badan hukum, usaha mendapatkan dana perlu ditempuh. Kembali lagi keluarga yang mampu sudah pasti memiliki akses yang lebih baik, kecuali memang anak orang tak mampu yang sangat super, yang kadang terjadi ketika diterima tidak mampu bayar uang registrasi. Kapasitas kursi pun kian menyusut, berbeda dengan jaman saya dulu (era 90-an) yang murah meriah.

Indonesia Emas 2045

Salah satu visi jangka panjang adalah di tahun 2045 pendidikan kita unggul. Jika dihitung dari saat tulisan ini dibuat berarti butuh 22 tahun. Jika pemimpin di masa itu yang ideal adalah usian 45-50 tahun, maka generasi yang berusia 20 sampai 30 akan memimpin besok. Jadi, bukan SD, SMP, dan SMA, yang mendesak adalah mahasiswa. Tentu saja tidak mengecilkan arti pendidikan dasar dan menengah, tapi yang urgen adalah memang usia mahasiswa, karena jumlahnya di tahun itu adalah yang terbanyak (dibanding manula dan balita/remaja). Tanpa adanya usaha, mereka yang harusnya jadi tenaga pendorong, bisa jadi beban.

Jika Anda percaya 100% video di atas, maka Anda menyerahkan pimpinan ke generasi yang belajar otodidak, lewat apapun, tanpa perlu kuliah. Kalau pun itu berhasil, ibarat judi/gambling, karena tanpa adanya usaha/treatment resiko sangat besar. Manusia yang beragam seolah dikerucutkan jadi sejenis, misalnya extrovert saja, yang jago ngomong, buat podcast, stand up comedy, dan hiburan lainnya. Ada sepertiga hingga setengah dari total manusia adalah introvert (menurut buku Quite karya Susan) yang lebih tekun, detil, dan tidak menyukai keramaian.

Jangankan level dunia, di Asia Tenggara saja, misalnya dosen IT di Indonesia yang doktor IT hanya 4%, jauh dibandingkan Malaysia yang 90-an%. Kampus swasta, apalagi level menengah, saat ini kebanyakan mengalami kesulitan. Memang ‘menutup’ jurusan/prodi lebih mudah dari ‘membuka’-nya dengan ijin yang ketat. Jika memang dianggap salah kampus itu sendiri, jangan salahkan juga jika dosen-dosen yang berkualitas mengajar/bekerja di luar negeri. Semoga tulisan menjelang peringatan hari kemerdekaan ini bisa menginspirasi.

Membuat File EPub

Selama ini kita mengenal Pdf, Docx, dan file yang digunakan untuk mengelola dokumen atau dikenal dengan nama word processing, berbeda dengan Excel yang spreedsheet. Jika Anda penggemar Ebook, baik yang beli dari Kindle Amazon atau download dari internet, terkadang menemukan file ebook ber-ekstensi Epub, singkatan dari Elecronic Publication.

Ada banyak software free untuk membuat atau mengelola file EPub, antara lain Calibre, Kindle Create, dan lain-lain. Mungkin Anda masih suka membaca file Pdf, tidak ada salahnya mencoba membaca lewat e-reader dengan format EPub yang dengan Kindle secara otomatis dikonversi menjadi MOBI atau AZW.

1. Calibre

Aplikasi ini merupakan konverter dari docx atau pdf menjadi file EPub atau MOBI. Selain itu aplikasi ini bisa menyimpan langsung ke piranti kindle dengan cara menghubungkan via kabel USB to USB C laptop/komputer.

Dengan Calibre, aplikasi yang kita tambahkan Cover akan muncul secara cantik di pustaka Kindle cover tersebut (bukan hanya nama pustaka). Hanya saja aplikasi ini hanya converter, jadi jika ada format tertentu yang sedikit ‘mleset’ kita tidak dapat merubahnya.

Setelah disave, file EPub bisa juga kita upload lewat aplikasi send to kindle. Secara otomatis, akan dikonversi menjadi file Kindle (MOBI/EZW).

2. Kindle Create

Berbeda dengan Calibre yang hanya mengkonversi Pdf atau Docx ke EPub, Kindle Create bisa menjadi alat seperti MSWord, yakni mengetik buku elektronik selain hanya alat untuk konverter. Software ini pun free untuk didownload.

Mungkin salah satu kelemahannya adalah file yang akan dikonversi harus doc atau docx. Tentu saja hal ini karena fungsinya adalah untuk mengetik tulisan baru. Silahkan explore sendiri fasilitas-fasilitas yang ada, termasuk melihat tampilannya di Kindle.

Oiya, kenapa perlu e-reader? Silahkan lihat post yang lalu, cocok untuk yang gila membaca dan sayang dengan mata Anda.

Agustus .. Bulan Kemerdekaan

Satu hal yang pasti ada di bulan Agustus adalah umbul-umbul yang didominasi warna warni dan bendera merah putih, pertanda mulai dimeriahkannya tujuh belasan. Acara yang menjadi ritual di Indonesia, dari perlombaan, makan-makan, konser rakyat, hingga pembagian hadiah, khususnya panjat pinang.

Terlepas dari itu semua, ada baiknya kita membaca buku tentang perjuangan kemerdekaan bangsa kita, khususnya dari tokoh-tokoh pendiri bangsa. Karena orde baru yang sangat anti orde lama yang kebetulan bung Karno saat itu pemimpinnya, mau tidak mau peran bung Karno agak diredam. Buku-buku nya sangat jarang beredar. Membacanya pun sedikit hati-hati dan diam-diam.

Namun di Era Gus Dur dan Megawati, mulailah bacaan-bacaan karya bung Karno bebas beredar. Ternyata tulisan-tulisannya membuat kita bisa merasakan suasana era ketika beliau menulis itu. Biasanya berupa tulisan singkat, famplet yang diedarkan, berita di surat kabar, surat ke rekan sesama pejuang, hingga memang tulisan khusus tertentu yang akan dibuat menjadi buku. Selain di era sebelum merdeka yang kebanyakan di jilid 1 buku dibawah bendera revolusi (waktu itu memang dibawah ditulis ‘di’ menyambung dengan ‘bawah’), jilid 2 didominasi ketika Sukarno menjadi presiden dan dalam perang kemerdekaan. Saya memiliki buku asli jilid 1 warisan dari bapak saya yang ‘marhaen’, dan sudah saya baca hingga tuntas. Jilid 2 baru saya baca dan lebih ‘mengerikan’ lagi sikap Belanda. Maklum, negara pimpinan ratu Wilhelmina itu sedang ‘lapar-laparnya’ akibat penderitaan perang dunia 2, ditambah statusnya yang sebagai pemenang perang, membuat sedikit arogan.

Jika pada jilid 1 sebagian besar berisi pujian kepada pejuang-pejuang yang sama-sama bahu membahu seperti bung Hatta, Rasuna Said (yang ternyata seorang perempuan), dan lain-lain, pada jilid 2, bung Karno harus melawan serangan dari bangsa sendiri selain Belanda yang mencoba menjajah kembali, yang beliau sebut pemakan bangkai saudara, penjual bangsa, dan sebagainya. Maklum, kondisi sedikit berbeda dengan era sebelum perang dunia 2, penjajahan Jepang sangat membuat rakyat tidak berkutik, apalagi embargo Belanda yang bahkan sempat mem-bom kapal bantuan ke Indonesia, yang disebutnya ‘tidak sengaja’. Bahkan saking marahnya beliau mewanti-wanti jangan jadi bangsa kambing yang hanya mengembik saja.

Beberapa perjanjian yang pernah kita pelajari di buku sejarah ternyata hanya kulitnya saja, misalnya bagaimana perjanjian Linggar Jati ternyata ketika ditanda-tangani oleh kita, ternyata hanya ‘diparaf’ oleh wakil Belanda sehingga perlu tanda tangan resmi lagi di negeri kincir angin tersebut, setelah rapat di dewan sana. Uniknya, Indonesia sempat mengirim bantuan pangan ke India yang di tahun ’46 mengalami kelaparan.

Dulu saya pernah berfikir, bangsa kita adalah bangsa yang pemaaf. Dijajah portugis, spanyol, inggris dan belanda tapi tetap bersahabat baik saat ini seolah-olah tidak pernah ada pertikaian sebelumnya. Tapi sepertinya karena kita mungkin melupakan pesan bung Karno: “jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Ya, sejarah yang ditutup-tutupi plus mungkin budaya membaca dan critical thinking kita yang perlu diasah menjadi penyebab hal itu. Oke, jika kita memaafkan mereka, tetapi dengan membaca sejarah, kita jadi lebih menghargai generasi lampau yang dengan susah payah, luka dan bisa, hingga nyawa taruhannya, kepada pahlawan bangsa. Semoga di tujuh belas agustus ini, ditambah menjelang tahun politik, kian merapatkan persaudaraan dan persatuan Bangsa kita.

e-book Reader

Ketika berangkat kuliah saya pernah beli tablet Android yang lumayan keren, disertai pena stylus. Saat kuliah pun praktis tidak perlu membawa buku catatan yang berat. Selain mencatat bisa juga memotret tulisan di papan tulis. Salah satu yang tidak nyaman adalah dari sisi kesehatan mata, yang tidak bisa berlama-lama karena radiasi, terutama sinar biru, sehingga mata butuh limit untuk recovery, alias screen time. Bayangkan bagaimana perihnya mata ketika membaca ratusan halaman. Kalau cuma satu atau beberapa paper/artikel ilmiah sih tidak masalah tapi untuk yang buku, terasa juga di mata. Buku kertas saja sudah bikin mata ‘pegal’ apalagi buku elektronik/ebook.

Seperti biasa selepas ujian akhir saya pulang ke Indonesia. Di pesawat saya lihat bule cowok dengan kaos oblong antri masuk pesawat langganan, Air Asia. Sambil menunggu masuk terlihat dia membaca di alat mirip tablet yang berukuran lebih kecil dari tablet tetapi lebih besar dari handphone. Sepertinya beratnya tidak lebih berat dari smartphone. Yang uniknya, ketika dilihat ternyata seperti kertas buku. Waktu itu saya fikir mungkin itu hanya teknologi display yang menyerupak kertas dan tetap saja radiasinya berbahaya bagi mata.

E-Ink

Setelah lulus baru sadar ada teknologi yang saat ini sudah bebas Paten, yaitu E-Ink. Disebut bebas paten karena setelah paten sekitar tahun 95an berarti sekarang perusahaan bebas memakai paten yang sudah free tersebut. Berbagai vendor sudah berusaha memproduksi dengan teknik-teknik dan fasilitas baru yang memanjakan konsumen. Salah satunya adalah e-reader Android. Dahulu e-reader memang alat bantu Amazon untuk membaca e-book dengan produknya bernama Kindle. Namun, kelemahannya adalah tidak bisa membaca selain Amazon, seperti Gramedia Digital, i-pusnas, dan lain-lain.

Tadinya saya fikir ini merupakan versi sehat dari tablet dengan sinar yang ramah dengan mata. Tapi ternyata istilah e-ink adalah tinta yang berupa elektron statis di layar. Silahkan lihat video youtube ini jika ingin tahu prinsip kerjanya. Dalam kondisi tanpa daya pun tetap terlihat karena memang seperti tinta.

Selain bebas dari gangguan seperti notifikasi WA, email, dan godaan main game, membaca dengan e-reader mirip dengan membaca buku kertas. Bahkan seperti membawa perpustakaan di tangan. Karena prinsipnya seperti printing, tentu saja ada delay ketika refresh. Jangan harap bisa dipakai untuk main game, nonton film, dan sejenisnya.

Battery Life

Alat ini dibuat semirip mungkin dengan buku kertas, yaitu tidak terlalu membutuhkan daya/charge. Kindle yang saya miliki bisa seminggu baru dicharge jika dibaca terus. Kalau dibaca hanya untuk waktu luang tertentu saja bisa sampai sebulan. Kalau tablet karena ada OS yang memang bukan hanya untuk baca saja perlu membawa charger. Sangat merepotkan untuk orang yang suka bepergian. Saat ini untuk versi yang berwarna masih lumayan mahal, kira-kira dua kali lipat lebih mahal.

Untuk plus minus antara Kindle dan e-Reader Android (seperti gambar di atas) perlu pembahasan lebih lanjut. Tapi yang jelas, jika Anda tidak terlalu sering membaca maka membeli e-reader tentu saja mubazir, seperti banyak youtuber yang mengecam alat ini, yang membandingkan dengan tablet karena tidak bisa untuk ‘macem-macem’. Tapi untuk yang gila baca, silahkan dicoba ..

Krisis Doktor

Terkejut juga ketika mendengar rekan seperjuangan saya S3 di Thailand dikabarkan meninggal dunia. Masih muda, ketua program studi, usia tiga tahun di bawah saya. Yang sedang S3 pun tidak kalah beritanya, banyak juga yang telah pergi mendahului. Berita yang kian membuat para dosen-dosen baik junior maupun senior berfikir beberapa kali untuk lanjut kuliah ke jenjang tertinggi. Sebagai informasi, dari situs resmi pemerintah menunjukan dosen berpendidikan S3 masih seperempat dari dosen berpendidikan tertinggi S2.

Untuk berbicara di level dunia memang sangat sulit, bahkan di asia tenggara pun kita kalah dengan tetangga dekat (Lihat). Dibanding AS yang memiliki 9.850 per 1 juta orang, kita hanya 143 orang doktor/1 juta orang. Ok, lupakan semua itu, yang penting adalah bagaimana membuat semangat dosen-dosen muda kita kan.

1. Anggap saja Doktoral Main-Main

Sambil mendengarkan suara burung perkutut, sore itu seperti biasa saya nongkrong di warung kopi langganan para mahasiswa di tempat saya kuliah. Waktu ujian memang kurang menyenangkan karena wajah-wajah para mahasiswa tidak seperti biasanya. Wajah yang tegang, cemas, pasrah, dan sebagainya membuat kita ikut juga tertular. Termasuk rekan-rekan mahasiswa dari Indonesia. Namun beberapa ada juga yang santai, tidak terpengaruh hal tersebut.

Acara minum kopi merupakan sarana kumpul dan berbincang dengan teman seperjuangan. Terkadang solusi ditemukan saat itu, bukan saat duduk serius di meja belajar kamar. Bahkan solusi yang ‘strategis’ dan ‘illogical’ bisa muncul, yang bisa men-cut atau mem-bypass jalan menuju lulus. Nah, rekan saya merupakan mahasiswa jurusan mekatronika yang menurut saya cukup sulit, mengingat eksperimen membutuhkan alat-alat yang harus dibeli. Tidak seperti saya, eksperimen hanya menggunakan laptop subsidi kampus. Iseng saya bertanya, ‘sebenarnya yang dicari mahasiswa doktoral apa ya?’. Di luar dugaan, dia hanya menjawab riset S3 itu hanya main-main. Di sini main-main maksudnya adalah tidak serius. Jadi, jangan berfikir luaran S3 adalah paten, atau bahkan nobel prize. Walaupun kalau bisa ya hebat banget. Mirip pesan DIKTI ketika melepas para mahasiswa bahwa dana bagi negara kita sangat penting, jadi fokus saja lulus secepat mungkin. Bahkan beberapa referensi mengatakan bahwa disertasi kita seharusnya merupakan ‘tulisan terburuk’ kita. So, tulisan kita setelah lulus harus lebih baik lagi. Dan alasan berikut ini juga mendukung ‘main-main’ itu.

2. Paper Tidak bisa untuk naik Pangkat

Ini sedikit di luar nalar. Salah satu syarat lektor kepala ternyata paper yang bukan bagian dari disertasi. Banyak lulusan S3 yang sudah ‘kelelahan’ mengerjakan laporan dengan hasil paper ilmiah, ketika mau naik pangkat ditolak syarat khususnya karena bagian dari disertasi. Repot juga. Jadi info ini sangat mendukung point 1 di atas, alias ngapain serius banget kalau ujung-ujungnya harus riset yang 75% berbeda dari disertasi atau riset saat kuliah S3 dulu. Tapi, untungnya paper yang jadi syarat naik pangkat (syarat khusus) boleh jurnal nasional Sinta 2, tidak harus terindeks Scopus atau bereputasi, tentu saja khusus dosen yang sudah doktoral.

Kita sudah berbeda jaman dengan pendahulu-pendahulu kita, seperti di film Oppenheimer di jamannya mahasiswa doktoral adalah ‘ultimate’ ilmuwan yang bisa mendobrak jaman. Lanjut ke generasi berikutnya, jika Anda mengenal bahasa Rubi and Rails, itu merupakan karya disertasi mahasiswa S3, termasuk juga database no-sql ‘mongo-db’.

3. Santai

Berbeda dengan jaman dulu, justru saat ini mahasiswa tidak bisa santai padahal hiburan makin banyak, baik para ekstrovert, maupun introvert seperti saya tersedia juga hiburan. Orang jaman dulu mungkin hanya mengandalkan merokok sambil ngopi. Bahkan kabarnya mahasiswa di era 90-an yang kuliah di Thailand nonton McGyver di TV sambil mendengarkan radio karena di TV di dubbing bahasa Thailand, sementara bahasa Inggrisnya dari radio .. hehe. Ya, memang resikonya saya sudah beberapa teman kuliah dari negara lain mengatakan saya malas, tapi ya tetap santai, toh saya lulus duluan ujung-ujungnya.

Tanda Peringatan Dini Dari Artificial Intelligence

Tidak dipungkiri, Artificial Intelligence (AI) merupakan pendukung Industri 4.0. Manfaatnya sudah banyak terasa karena mempermudah pekerjaan manusia. Tapi berita berikut menunjukan hal yang lain, yaitu ‘warns of danger‘ dari AI.

Munculnya ChatGPT membuat Google khawatir, dan berusaha memasukan AI ke mesin pencarinya tersebut. Sebelumnya, kehadiran AI membuat dunia pendidikan sedikit kerepotan karena siswa terlihat cerdas secara instan, padahal meminta bantuan dari AI. Untuk plagiasi, saat ini sudah bisa dideteksi namun muncul kekhawatiran dari sisi penggunaan internet.

Mirip Alfred Nobel yang menemukan mesiu dan kecewa melihat dampak dari temuannya, ahli AI juga merasakan hal yang sama. Namun tidak dapat dicegah, “Jika saya tidak melakukannya, orang lain akan melakukannya,” kata Hinton, pionir kecerdasan buatan. Kekhawatiran merayapi banyak insider industri adalah bahwa mereka sedang melepaskan sesuatu yang berbahaya ke dunia. Kecerdasan buatan generatif saat ini bisa menjadi alat untuk penyebaran informasi yang salah. “It is hard to see how you can prevent the bad actors from using it for bad things,”, katanya lagi.

Ketika ChatGPT release, sekitar 1000 peneliti membuat moratorium agar perusahaan itu melakukan freeze terhadap pengembangan lebih lanjut. Gimana, Anda ikut pihak yang mana?

How to Fix ‘Zoom Failed to Save’ Issue

Ketika mengadakan acara via zoom terkadang ketika save ke local PC mengalami kegagalan. Salah satunya adalah ketika save zoom sebelumnya belum selesai sudah menyimpan yang baru. Namun jangan khawatir, postingan berikut ini mencoba share pengalaman yang terjadi menimpa saya yang sudah zoom 40-an menit (dibatasi karena gratisan).

When hosting an event via Zoom, sometimes there are failures when saving to the local PC. One of them is when trying to save a new Zoom session before the previous one has finished saving. However, don’t worry, the following post tries to share the experience that happened to me when I had been on Zoom for around 40 minutes (limited due to the free version).

Ok, buka lokasi zoom default, biasanya di /documents/zoom dan pastikan tanggal hari ini. Ternyata ada sekitar 500-an Mb yang minta dilakukan ‘double_click’ untuk mengkonversi menjadi file video/audio.

Ok, open the default Zoom location, usually in /documents/zoom, and make sure it’s the current date. Apparently, there are around 500 MB that need to be ‘double-clicked’ to convert them into video/audio files.

Setelah dobel klik, pastikan zoom mengkonversi menjadi file recording yang siap anda nikmati. Tunggu beberapa saat hingga selesai.

After double-clicking, make sure Zoom converts it into a recording file that you can enjoy. Wait for a few moments until it’s finished.

Akhirnya video bisa terekam dengan baik. Semoga postingan ini bermanfaat.

Finally, the video has been successfully recorded. May this post be useful.

Cara Mengunduh Audio Music Resolusi Tinggi – Dari Youtube

Tahukah Anda jika format MP3 menghilangkan sekitar 20% dari asilinya? Untuk yang seumuran dengan saya pasti pernah mengalami beli CD music dimana hanya sekitar 10 lagu saja, tiap lagu berukuran puluhan (hampir seratus) megabyte. Ketika mendengarkan MP3, jika telinga Anda tajam pasti tidak puas karena ada yang hilang dibandingkan format aslinya (biasanya WAV). Apalagi jika pernah mendengar dari kaset yang memang asli (tidak digital). Postingan ini mencoba membantu bagaimana mendapatkan format non-lossless yang dikenal dengan istilah FLAC, yang ekstensi filenya nanti *.flac.

Beberapa alat pengunduh, seperti https://ontiva.com/en/9f349 memiliki kemampuan mengunduh file FLAC. Caranya copas aja link dari Youtube, misalnya lagu cover aku takut repvblik berikut. Lalu paste di situs pengunduh tersebut.

Pilih AUDIO (jangan MP3) jika ingin tidak ada yang dihilangkan karena kompressi. Pilih HQ, misalnya FLAC. Pilihan lain, bisa Anda pilih, misalnya WAV. Lalu tunggu sesaat setelah tombol Download ditekan. NOTE: oiya, terkadang tidak tersedia audio HQ, pastikan unduh dari original channelnya, misal SONY, atau cannel resminya.

Tekan Download Now untuk mengunduhnya. Untuk AUDIO yang diunduh dari youtube tersebut ada sekitar 48 MB yang harus diunduh. Jadi pastikan kuota Anda cukup. Hasilnya, buka dengan pemutar, misalnya Winamp, ternyata Ok kualitas suaranya karena tidak ada yang dihilangkan akibat kompressi.

Tentu saja kalau ingin murni tanpa ada yang dihilangkan ya dengar lewat kaset atau piringan hitam. Tapi tentu saja ada noise yang ikut terekam. Silahkan dengarkan sambil mengendarai mobil setelah diunduh di flashdisk. Silahkan lihat video short berikut. Sekian semoga bermanfaat.

Belanja Doktor itu Perlu

Ada tiga akreditasi yang telah berlangsung di tempat saya mengajar, dua dari mesin dan satu sipil. Lima tahun yang lalu tidak ada masalah dan mendapat nilai yang baik, namun saat ini dikejutkan dengan kewajiban pada butir kualifikasi akademik DTPS dengan doktor maksimal ¼ dari total dosen homebase (4 dari 16 DTPS). Oiya, DTPS = Dosen Tetap Program Studi.

Yang uniknya adalah, rekomendasi tersebut diminta dipenuhi dalam waktu enam bulan. Jika hal-hal lain seperti kurikulum, alat praktikum, sepertinya tidak jadi masalah. Nah, untuk doktor bagaimana mungkin memenuhi hal tersebut dalam waktu enam bulan? Tidak ada cara lain selain membajak. Ini yang jurusan satunya lagi (2 dari 7 DTPS). Sementara satu lagi aman, karena Diploma 3. Ternyata tidak mensyaratkan doktor.

Tahun 2013 yang lalu di tempat saya terjadi pergantian rektor dengan programnya 9 doktor per tahun. Nah, karena ada program kerja tersebut lancarlah saya berangkat studi lanjut “walau halangan, rintangan membentang. Tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran” (kayak lagu kera sakti) halangan itu datang baik dari pihak DIKTI (wawancara pertama gagal) maupun penghalang di internal (siapa lagi kalau bukan temen sendiri).

Banyak sih kejadian-kejadian unik ketika itu. Misalnya, karena uang DIKTI belum cair, kampus meminjamkan uang 70jt yang langsung saya tukar dolar per dolar Rp 10.300,-. Berangkatlah saya ke kampus LN untuk bayar registrasi, dan ternyata untuk beasiswa DIKTI tidak perlu bayar dulu, bisa menyusul menunggu DIKTI cair, tentu saja tanpa bunga. Baliklah saya kembali ke Indonesia untuk urus visa pelajar, pembekalan, dan hal-hal wajib lainnya. Ternyata rupiah melemah, dalam waktu 2 minggu turun menjadi Rp 11.500,- per dollar. Ketika saya tukar kembali (waktu itu di depan hotel Horison Bekasi), dan ternyata jadi 78jt. Jadi dalam 2 minggu dapat duit ‘aneh’ Rp. 8 juta, (rejeki anak soleh).

Kejadian unik lainnya, atau lebih tepatnya ‘aneh’ adalah, si rektor digulingkan. Mungkin karena terlalu keras program-program kerjanya. Bagi yang santai tentu saja ‘gerah’. Akibatnya terjadilah kondisi seperti saat ini yang dipaksa menyediakan beberapa doktor dalam 6 bulan saja. Pengalaman memang harus dijalani, sempat berantakan di semester 1 saya pakai taktik catur dengan pindah jurusan dari computer science ke information management, soalnya males mengulang matkul dulu gara-gara telat sebulan tiba di kampus karena harus urus tetek bengek di Indonesia (visa, pembekalan, dan lain-lain).

Tahun 2010 ada film ‘Imaginarium of Doctor Parnassus’. Waktu itu tidak sengaja 1 fakultas nonton itu, dan lumayan menginspirasi. Ya, memang akademisi tidak bisa tidak harus mencapai level tertinggi dari bidang ilmu yang sesuai. Kata-kata berikut biasa diucapkan ketika rektor akan melantik/mewisuda mahasiswa doktoral.

“Doctoral is the highest academic degree that can be achieved by an individual in the world of education, where the individual makes original and significant contributions to knowledge in their chosen field through in-depth and critical research.”

Systematic Literature Review (SLR) for Dummy

Rekan yang sedang study lanjut sudah pasti mengenal Systematic Literature Review (SLR) karena memang diwajibkan. Sementara rekan dosen lainnya yang biasanya fokus ke ngajar sebagian besar tidak cukup waktu untuk menjalankan aktivitas ini saat dituntut riset demi cairnya tunjangan BKD/LKD. Nah, manfaat kata ‘systematic’ adalah untuk mempermudah melakukan studi pustaka. Postingan ini sedikit sharing tentang trik menggunakan scopus untuk SLR.

Hal yang utama untuk mencari paper yang relevan adalah kata kunci yang tepat untuk mensortir naskah artikel yang beredar. Misalnya saya butuh artikel tentang spectral feature analysis dan NDVI. Walaupun ada pilihan advanced search, untuk gampangnya langsung searching seperti Google, nanti baru dilanjutkan dengan secara bertahap mensortir.

Kalau langsung digunakan jumlahnya cukup banyak, yaitu 594 dokumen. Karena syarat jurnal kebanyakan riset 5 tahun terakhir, ditambah proses publikasi misalnya 1 atau 2 tahun (tergantung nasib), kita ambil rentang 2020 sampai sekarang saja. Makin baru, paper makin sulit dicari karena scihub biasanya paper beberapa tahun yang lalu saja. Jika sudah cukup, langsung saja mensortir. Bisa dari yang terkini, atau berdasarkan sitasi tertinggi.

Klik saja Sort on pilih Cited by (highest) agar urut berdasarkan sitasi tertinggi pada rentang tahun tersebut. Dari judul biasanya terlihat apakah topik sesuai dengan riset yang dijalankan, jika ragu-ragu bisa klik View abstract untuk melihat isinya. Tampak yang disorot kuning merupakan kata kunci yang digunakan di searching tadi.

Nah, tunjukan kemampuan/skill reading Anda. Tapi jika pusing, kelamaan buka kamus, tinggal pakai bantuan saja yang saat ini sedang tren: ChatGPT. Ketik ‘apa metode dan hasil artikel ini:’ dilanjutkan dengan paste dari abstrak. Bisa juga dengan kata lain, misalnya ‘artikel ini membahas apa:’ dan seterusnya.

Langkah terakhir adalah mencari naskah lengkapnya. Walaupun bisa juga bertanya kelemahan artikel, tapi masih prediksi saja. Perlu membaca hasil dan kesimpulan untuk mengisi tabel, misalnya seperti ini (sesuaikan dengan kebutuhan atau permintaan promotor).

No

Author

Metode

Hasil

Kelemahan

         

Jika ada rekan yang tidak punya scopus, bisa diprint pdf. Sebaiknya disertai abstrak agar cepat menentukan apakah relevan atau tidak. Nah, pada tabel di atas, mengisi author sebaiknya menggunakan Mendeley dengan terlebih dahulu mengunduh sitasinya seperti berikut.

Nah, file bib yang diunduh tinggal di drag ke mendeley.

Oiya, buat satu folder khusus agar tidak berantakan di Mendeley kita. Sekian, semoga bisa sedikit mencerahkan.

Aplikasi Quillbot Untuk Parafrase Gratis

Saat ini mahasiswa yang membuat tugas akhir/skripsi sudah diwajibkan untuk cek plagiarisme, misalnya dengan Turnitin atau sejenisnya. Terkadang terjadi kemiripan, biasanya antara laporan akhir dengan artikel ilmiah yang akan dipublikasi di jurnal. Nah, untuk mengatasi hal tersebut, mahasiswa diharuskan melakukan parafrase tulisan yang mirip tersebut. Namun, jika terkendala dengan waktu dan tenaga yang sudah habis bolak-balik revisi saat bimbingan, ada aplikasi yang membantu, yaitu quillbot (https://quillbot.com/). Ok, postingan ini akan kita uji coba dengan bahasa Indonesia, mengingat kebanyakan mhs menggunakan bahasa Indonesia untuk tugas akhir/skripsinya. Kalau sudah berbahasa Inggris, tinggal langsung pakai saja.

Kita ambil contoh tulisan saya di pos yang lalu tentang interpolasi, curve fitting, proyeksi dan prediksi.

Kita coba cek plagiarisme lewat situs gratisan ini (Smallseotools). Copas dan klik cek plagiarisme, dan hasilnya tentu saja 100% nyontek.

Selanjutnya kita masuk ke aplikasi Quillbot. Copas lagi dan klik Rephrase dan lihat, di sebelah kanan sudah dibuatkan prafrase-nya, hanya saja dalam bahasa Inggris. Tinggal translate saja dengann Google Translate atau ChatGPT.

Kita coba lagi dengan Smallseotools. Setelah saya translate dengan ChatGPT tampak hasilnya seperti di bawah ini. Wow .. 0% plagiarisme. Bermanfaat bukan untuk mahasiswa yang sudah pontang-panting membantu orang tua untuk menyelesaikan studi-nya. Sekian, semoga sedikit membantu.

Untuk jelasnya lihat video berikut:

Mendeteksi Naskah Apakah Dibuat dengan ChatGPT

Banyak kekhawatiran dari para pengajar karena siswa menggunakan ChatGPT untuk membuat karya tulis. Bagaimana tidak, akurasi penulisan ChatGPT sangat baik dan konsisten. Bahkan beberapa alat cek plagiarisme tidak menemukan adanya plagiarisme. Banyak tools yang membantu mengecek apakah seseorang menggunakan ChatGPT ketika menulis, namun di sini akan kita bahas bagaimana menggunakan ChatGPT untuk mengetahui apakah suatu tulisan meminta bantuan ChatGPT.

Misal saya bertanya ke ChatGPT untuk membuatkan dua paragraf tentang data mining. Hasilnya akan tampak dan cukup baik.

Bagaimana cara mengeceknya? Mudah saja, kopi saja tulisan itu dan tanya ke ChatGPT: “apakah ini tulisan Anda: <paste>. Dan ternyata ChatGPT menjawan “Ya, itu benar” dan mengaku telah menulisnya. Siap-siap Anda dipanggil kepala sekolah.

Sebagai contoh kita uji dengan tulisan buatan sendiri, atau paragraf pertama di pos ini saja, lalu tanya apakah tulisan tersebut milik ChatGPT? Dan beliau (eh .. bukan manusia ya) menjawab: “No, that is not my writing”. Alhamdulillah, kalau kita membuat tulisan sendiri, aman dari plagiarisme berbasis AI.

Apakah ketika ditanya lagi ChatGPT konsisten? Repot juga kalo tulisan kita direkam dia dan diaku jadi tulisannya. Coba tanya lagi tulisan hasil ketikan sendiri tadi (kopi saja pertanyaan sebelumnya).

Ternyata jawabannya konsisten: “Tidak, tulisan tersebut bukanlah tulisan saya” (kata maaf, salah menjawab mungkin karena sebelumnya menggunakan bahasa Inggris). Lihat, kita bisa mengetahui apakah suatu tulisan minta bantuan ChatGPT atau tidak. Selain cara tersebut, info dari ChatGPT sendiri ketika ditanya: “bagaimana cara mendeteksi apakah suatu tulisan dibuat dengan bantuan ChatGPT?”. Ada 3 cara mendeteksinya:

  • Akurasi tinggi yang konsisten (mirip Chess.com mendeteksi pemain pakai engine atau tidak)
  • Gaya bahasa yang berbeda dengan gayanya (tiap orang memiliki gaya bahasa sendiri).
  • Plagiarism Checker

Sekian, semoga kita terhindar dari godaan minta dibikinin ChatGPT.

Menyikapi ChatGPT

Beberapa media online mulai memberitakan kalau ChatGPT akan diblokir, alasannya karena belum terdaftar di sistem Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) Kominfo. Tapi sepertinya itu hanya masalah administrasi, bagaimana dari sisi konten? Apakah berdampak negatif?

Kalau kita lihat visi AI Indonesia 2045 tampak Etika dan Kebijakan sebagai landasar, infrastruktur & data dan pengembangan talenta sebagai pilar untuk menopang 4 area fokus dan 5 bidang prioritas AI.

https://ai-innovation.id/server/static/ebook/stranas-ka.pdf

AI Sebagai Senjata

Memang sudah ada kekhawatiran tentang dampak AI, bahkan sudah dibahas di PBB (link). Sebenarnya AI itu sendiri mirip dengan pertama kali diperkenalkannya komputer, dimana sekutu berhasil membongkar kode mesin enkripsi elektromekanis Jerman, Enigma, lewat tangan Alan Turing. Komputer yang dahulu sebagai alat support/pendukung sekarang sudah berubah menjadi IT yang berperan bak senjata agar unggul dalam persaingan. Industri 4.0 mulai memasukan AI sebagai komponennya.

AI Untuk Mengejar Ketertinggalan

Semua mengakui kita masih tertinggal dengan negara lain, bahkan di Asia Tenggara sekalipun. Jika ada ‘sepatu’ yang membuat kita berlari cepat menyusul negara-negara lain, terutama negara maju, bisa jadi namanya Artificial Intelligence (AI). Lihat 5 bidang prioritas AI di Indonesia gambar di atas. Jika ingin memanfaatkan ChatGPT guna mengetahui ‘hal-hal yang orang lain tahu’ tentu saja tidak ada salahnya, kecuali ‘hal-hal yang sebaiknya tidak boleh tahu’, yang ini jatuh di ranahnya kebijakan. Di mana-mana mengejar harus berlari, bahkan harus lebih cepat dari larinya sesuatu yang dikejar. Saya teringat ketika kuliah dulu, dosen bertanya ke mahasiswa Thailand, dapat materi variabel kompleks kapan? Dijawab ketika S1, begitu juga Indonesia dan negara asia tenggara lain, seperti Viet Nam dan Malaysia. Tapi ketika ditanya ke mahasiswa Perancis, ternyata sudah memperoleh dari bangku sekolah menengah atas. Jika ada sesuatu yang secara gratis dan mudah membuat orang tahu lebih cepat, sepertinya cocok untuk negara yang sedang berkembang, apalagi yang untuk makan saja butuh kerja keras (kecuali sebagian kecil rakyat seperti kasus viral gaya hidup mewah anak-anak pejabat saat ini). Untuk yang ingin melihat tanggapan para profesor bisa lihat youtube berikut.

Cari ‘Branding’ karena Great Things Take Time (Tidak Ujug-Ujug)

Saat ini hubungan antar manusia semakin erat, baik hubungan bisnis, pertemanan, hubungan internasional antar negara dan hubungan lainnya. Saat tulisan ini dibuat, mulai terjadi krisis di bank silicon valley (bsv), bank komersial yang berbasis di Amerika Serikat, didirikan pada tahun 1983 dan berkantor pusat di San Jose, California. Ternyata mulai merembet ke negara lain, misalnya, credit suisse. Credit Suisse adalah sebuah bank investasi global yang berkantor pusat di Zurich, Swiss, didirikan pada tahun 1856 (bank tertua di Swiss). Apakah merembet ke tanah air? Semoga tidak ya.

Tidak hanya perbankan, sejatinya kita saling terkait erat. Ketika Anda membaca tulisan ini, Anda terkait dengan saya sebagai penulis. Tidak memandang suku, ras, golongan, gaji, jabatan, dan lain-lain, kita terkait satu sama lain. Dengan siswa, guru, pedagang dan lain-lain, kita saling terkait. Era dimana hidup dalam kelompok-kelompok seperti jaman primitif dulu sudah berlalu. Kita mulai memasuki dunia yang selalu terkait satu sama lain. Kasus ‘Sambo’ yang mungkin di era sebelumnya tidak jadi masalah, tetapi di era yang ‘saling terkait’ ini terbongkar juga. Bagaimana seorang anak yang ‘menyiksa’ rekannya, karena anak pejabat di suatu institusi ‘basah’ mengakibatkan di auditnya rekan-rekannya di institusi tersebut.

Jika Anda memilih ‘uang’ dibanding ‘branding’, jangan salahkan musuh akan bermunculan satu persatu. Misal, jika kita dicap ‘tukang berkelahi’ dijamin orang mikir-mikir untuk bekerja sama, bank meminjamkan dana, tawaran kerjasama, dan sejenisnya.

Menarik untuk menyimak video Renald Kasali. Jika kita terlalu perhitungan, maka alam akan perhitungan juga dengan kita. Jika bekerja sesuai dengan ‘bayaran’ efeknya hanya dapat bayaran saja. Tentu saja membangun branding jangan melupakan bayaran juga. Tetapi jika bekerja sesuai kapasitas kita, dipastikan kita memperolah bayaran tidak sekedar uang. Jadi tinggal pilih: jalur ‘cari uang’ alias jalur komoditi, dan jalur cari nama, alias jalur ‘branding’. Yang paling ekstrem adalah skema Ponzi seperti kasus crazy rich bermasalah atau umroh kelewat murah yang ujung-ujungnya masuk bui, walau sadar nama hancur .. tetap embat saja agar kaya .. walau sesaat.

Untuk yang hanya memikirkan anak, saudara, dan yang terdekat saja, sebenarnya tidak ‘alami’, alias tidak sunnatullah. Silahkan Anda hitung sendiri, dari lahir sampai sekarang, banyak mana dibantu orang lain yang tidak Anda kenal atau hanya kerabat kita. Dari dilahirkan oleh dokter, bidan (atau dukun) yang mungkin baru kenal tidak sampai setahun, guru, dosen, hingga tukang ojek, kebanyakan tidak lama berkenalan. Presiden Anda sekarang, entah suka atau tidak, terikat dengan kita. Tinggal pilih, ingin bekerja sama, mencari sebanyak mungkin ‘bestie’ … atau bertempur seperti Rusia vs Ukraina.

AI and Neuro-Fuzzy Theory

Tahun 2014 saya pernah memperoleh kuliah Artificial Intelligence (AI) & Neuro-Fuzzy Theory. Ternyata materi ini sangat padat karena gabungan 2 mata kuliah yang saat ini saya ajar AI + Computational Intelligence (CI).

Neural networks atau jaringan saraf adalah sebuah konsep pemodelan matematis yang terinspirasi dari cara kerja otak manusia. Konsep ini telah ada sejak awal abad ke-20 dan telah mengalami banyak perkembangan sejak saat itu. Pada awalnya, konsep jaringan saraf digunakan untuk memodelkan bagaimana neuron-neuron dalam otak manusia berinteraksi satu sama lain. Namun, pada tahun 1940-an, para peneliti mulai menggunakan konsep ini untuk membangun mesin-mesin yang dapat melakukan tugas-tugas seperti mengenali pola pada gambar dan suara.

Pada tahun 1950-an, sebuah mesin jaringan saraf pertama kali dikembangkan oleh Frank Rosenblatt, yang dikenal sebagai “Perceptron”. Mesin ini dapat mengenali pola pada gambar dan mampu membedakan antara huruf “X” dan “O”. Namun, pada saat itu, mesin jaringan saraf masih sangat terbatas dan hanya mampu menangani masalah-masalah sederhana. Selain itu, kemampuan komputasi pada waktu itu juga masih terbatas dan membatasi perkembangan jaringan saraf. Meskipun begitu, konsep jaringan saraf tetap terus berkembang dan menjadi salah satu bidang yang paling menjanjikan dalam pengembangan kecerdasan buatan saat ini. Video berikut cuplikan kuliah tentang pentingnya AI dan NNs di awal ditemukan dengan praktik via Jupyter Notebook.