Systematic Literature Review (SLR) for Dummy

Rekan yang sedang study lanjut sudah pasti mengenal Systematic Literature Review (SLR) karena memang diwajibkan. Sementara rekan dosen lainnya yang biasanya fokus ke ngajar sebagian besar tidak cukup waktu untuk menjalankan aktivitas ini saat dituntut riset demi cairnya tunjangan BKD/LKD. Nah, manfaat kata ‘systematic’ adalah untuk mempermudah melakukan studi pustaka. Postingan ini sedikit sharing tentang trik menggunakan scopus untuk SLR.

Hal yang utama untuk mencari paper yang relevan adalah kata kunci yang tepat untuk mensortir naskah artikel yang beredar. Misalnya saya butuh artikel tentang spectral feature analysis dan NDVI. Walaupun ada pilihan advanced search, untuk gampangnya langsung searching seperti Google, nanti baru dilanjutkan dengan secara bertahap mensortir.

Kalau langsung digunakan jumlahnya cukup banyak, yaitu 594 dokumen. Karena syarat jurnal kebanyakan riset 5 tahun terakhir, ditambah proses publikasi misalnya 1 atau 2 tahun (tergantung nasib), kita ambil rentang 2020 sampai sekarang saja. Makin baru, paper makin sulit dicari karena scihub biasanya paper beberapa tahun yang lalu saja. Jika sudah cukup, langsung saja mensortir. Bisa dari yang terkini, atau berdasarkan sitasi tertinggi.

Klik saja Sort on pilih Cited by (highest) agar urut berdasarkan sitasi tertinggi pada rentang tahun tersebut. Dari judul biasanya terlihat apakah topik sesuai dengan riset yang dijalankan, jika ragu-ragu bisa klik View abstract untuk melihat isinya. Tampak yang disorot kuning merupakan kata kunci yang digunakan di searching tadi.

Nah, tunjukan kemampuan/skill reading Anda. Tapi jika pusing, kelamaan buka kamus, tinggal pakai bantuan saja yang saat ini sedang tren: ChatGPT. Ketik ‘apa metode dan hasil artikel ini:’ dilanjutkan dengan paste dari abstrak. Bisa juga dengan kata lain, misalnya ‘artikel ini membahas apa:’ dan seterusnya.

Langkah terakhir adalah mencari naskah lengkapnya. Walaupun bisa juga bertanya kelemahan artikel, tapi masih prediksi saja. Perlu membaca hasil dan kesimpulan untuk mengisi tabel, misalnya seperti ini (sesuaikan dengan kebutuhan atau permintaan promotor).

No

Author

Metode

Hasil

Kelemahan

         

Jika ada rekan yang tidak punya scopus, bisa diprint pdf. Sebaiknya disertai abstrak agar cepat menentukan apakah relevan atau tidak. Nah, pada tabel di atas, mengisi author sebaiknya menggunakan Mendeley dengan terlebih dahulu mengunduh sitasinya seperti berikut.

Nah, file bib yang diunduh tinggal di drag ke mendeley.

Oiya, buat satu folder khusus agar tidak berantakan di Mendeley kita. Sekian, semoga bisa sedikit mencerahkan.

Aplikasi Quillbot Untuk Parafrase Gratis

Saat ini mahasiswa yang membuat tugas akhir/skripsi sudah diwajibkan untuk cek plagiarisme, misalnya dengan Turnitin atau sejenisnya. Terkadang terjadi kemiripan, biasanya antara laporan akhir dengan artikel ilmiah yang akan dipublikasi di jurnal. Nah, untuk mengatasi hal tersebut, mahasiswa diharuskan melakukan parafrase tulisan yang mirip tersebut. Namun, jika terkendala dengan waktu dan tenaga yang sudah habis bolak-balik revisi saat bimbingan, ada aplikasi yang membantu, yaitu quillbot (https://quillbot.com/). Ok, postingan ini akan kita uji coba dengan bahasa Indonesia, mengingat kebanyakan mhs menggunakan bahasa Indonesia untuk tugas akhir/skripsinya. Kalau sudah berbahasa Inggris, tinggal langsung pakai saja.

Kita ambil contoh tulisan saya di pos yang lalu tentang interpolasi, curve fitting, proyeksi dan prediksi.

Kita coba cek plagiarisme lewat situs gratisan ini (Smallseotools). Copas dan klik cek plagiarisme, dan hasilnya tentu saja 100% nyontek.

Selanjutnya kita masuk ke aplikasi Quillbot. Copas lagi dan klik Rephrase dan lihat, di sebelah kanan sudah dibuatkan prafrase-nya, hanya saja dalam bahasa Inggris. Tinggal translate saja dengann Google Translate atau ChatGPT.

Kita coba lagi dengan Smallseotools. Setelah saya translate dengan ChatGPT tampak hasilnya seperti di bawah ini. Wow .. 0% plagiarisme. Bermanfaat bukan untuk mahasiswa yang sudah pontang-panting membantu orang tua untuk menyelesaikan studi-nya. Sekian, semoga sedikit membantu.

Untuk jelasnya lihat video berikut:

Mendeteksi Naskah Apakah Dibuat dengan ChatGPT

Banyak kekhawatiran dari para pengajar karena siswa menggunakan ChatGPT untuk membuat karya tulis. Bagaimana tidak, akurasi penulisan ChatGPT sangat baik dan konsisten. Bahkan beberapa alat cek plagiarisme tidak menemukan adanya plagiarisme. Banyak tools yang membantu mengecek apakah seseorang menggunakan ChatGPT ketika menulis, namun di sini akan kita bahas bagaimana menggunakan ChatGPT untuk mengetahui apakah suatu tulisan meminta bantuan ChatGPT.

Misal saya bertanya ke ChatGPT untuk membuatkan dua paragraf tentang data mining. Hasilnya akan tampak dan cukup baik.

Bagaimana cara mengeceknya? Mudah saja, kopi saja tulisan itu dan tanya ke ChatGPT: “apakah ini tulisan Anda: <paste>. Dan ternyata ChatGPT menjawan “Ya, itu benar” dan mengaku telah menulisnya. Siap-siap Anda dipanggil kepala sekolah.

Sebagai contoh kita uji dengan tulisan buatan sendiri, atau paragraf pertama di pos ini saja, lalu tanya apakah tulisan tersebut milik ChatGPT? Dan beliau (eh .. bukan manusia ya) menjawab: “No, that is not my writing”. Alhamdulillah, kalau kita membuat tulisan sendiri, aman dari plagiarisme berbasis AI.

Apakah ketika ditanya lagi ChatGPT konsisten? Repot juga kalo tulisan kita direkam dia dan diaku jadi tulisannya. Coba tanya lagi tulisan hasil ketikan sendiri tadi (kopi saja pertanyaan sebelumnya).

Ternyata jawabannya konsisten: “Tidak, tulisan tersebut bukanlah tulisan saya” (kata maaf, salah menjawab mungkin karena sebelumnya menggunakan bahasa Inggris). Lihat, kita bisa mengetahui apakah suatu tulisan minta bantuan ChatGPT atau tidak. Selain cara tersebut, info dari ChatGPT sendiri ketika ditanya: “bagaimana cara mendeteksi apakah suatu tulisan dibuat dengan bantuan ChatGPT?”. Ada 3 cara mendeteksinya:

  • Akurasi tinggi yang konsisten (mirip Chess.com mendeteksi pemain pakai engine atau tidak)
  • Gaya bahasa yang berbeda dengan gayanya (tiap orang memiliki gaya bahasa sendiri).
  • Plagiarism Checker

Sekian, semoga kita terhindar dari godaan minta dibikinin ChatGPT.

Menyikapi ChatGPT

Beberapa media online mulai memberitakan kalau ChatGPT akan diblokir, alasannya karena belum terdaftar di sistem Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) Kominfo. Tapi sepertinya itu hanya masalah administrasi, bagaimana dari sisi konten? Apakah berdampak negatif?

Kalau kita lihat visi AI Indonesia 2045 tampak Etika dan Kebijakan sebagai landasar, infrastruktur & data dan pengembangan talenta sebagai pilar untuk menopang 4 area fokus dan 5 bidang prioritas AI.

https://ai-innovation.id/server/static/ebook/stranas-ka.pdf

AI Sebagai Senjata

Memang sudah ada kekhawatiran tentang dampak AI, bahkan sudah dibahas di PBB (link). Sebenarnya AI itu sendiri mirip dengan pertama kali diperkenalkannya komputer, dimana sekutu berhasil membongkar kode mesin enkripsi elektromekanis Jerman, Enigma, lewat tangan Alan Turing. Komputer yang dahulu sebagai alat support/pendukung sekarang sudah berubah menjadi IT yang berperan bak senjata agar unggul dalam persaingan. Industri 4.0 mulai memasukan AI sebagai komponennya.

AI Untuk Mengejar Ketertinggalan

Semua mengakui kita masih tertinggal dengan negara lain, bahkan di Asia Tenggara sekalipun. Jika ada ‘sepatu’ yang membuat kita berlari cepat menyusul negara-negara lain, terutama negara maju, bisa jadi namanya Artificial Intelligence (AI). Lihat 5 bidang prioritas AI di Indonesia gambar di atas. Jika ingin memanfaatkan ChatGPT guna mengetahui ‘hal-hal yang orang lain tahu’ tentu saja tidak ada salahnya, kecuali ‘hal-hal yang sebaiknya tidak boleh tahu’, yang ini jatuh di ranahnya kebijakan. Di mana-mana mengejar harus berlari, bahkan harus lebih cepat dari larinya sesuatu yang dikejar. Saya teringat ketika kuliah dulu, dosen bertanya ke mahasiswa Thailand, dapat materi variabel kompleks kapan? Dijawab ketika S1, begitu juga Indonesia dan negara asia tenggara lain, seperti Viet Nam dan Malaysia. Tapi ketika ditanya ke mahasiswa Perancis, ternyata sudah memperoleh dari bangku sekolah menengah atas. Jika ada sesuatu yang secara gratis dan mudah membuat orang tahu lebih cepat, sepertinya cocok untuk negara yang sedang berkembang, apalagi yang untuk makan saja butuh kerja keras (kecuali sebagian kecil rakyat seperti kasus viral gaya hidup mewah anak-anak pejabat saat ini). Untuk yang ingin melihat tanggapan para profesor bisa lihat youtube berikut.

Cari ‘Branding’ karena Great Things Take Time (Tidak Ujug-Ujug)

Saat ini hubungan antar manusia semakin erat, baik hubungan bisnis, pertemanan, hubungan internasional antar negara dan hubungan lainnya. Saat tulisan ini dibuat, mulai terjadi krisis di bank silicon valley (bsv), bank komersial yang berbasis di Amerika Serikat, didirikan pada tahun 1983 dan berkantor pusat di San Jose, California. Ternyata mulai merembet ke negara lain, misalnya, credit suisse. Credit Suisse adalah sebuah bank investasi global yang berkantor pusat di Zurich, Swiss, didirikan pada tahun 1856 (bank tertua di Swiss). Apakah merembet ke tanah air? Semoga tidak ya.

Tidak hanya perbankan, sejatinya kita saling terkait erat. Ketika Anda membaca tulisan ini, Anda terkait dengan saya sebagai penulis. Tidak memandang suku, ras, golongan, gaji, jabatan, dan lain-lain, kita terkait satu sama lain. Dengan siswa, guru, pedagang dan lain-lain, kita saling terkait. Era dimana hidup dalam kelompok-kelompok seperti jaman primitif dulu sudah berlalu. Kita mulai memasuki dunia yang selalu terkait satu sama lain. Kasus ‘Sambo’ yang mungkin di era sebelumnya tidak jadi masalah, tetapi di era yang ‘saling terkait’ ini terbongkar juga. Bagaimana seorang anak yang ‘menyiksa’ rekannya, karena anak pejabat di suatu institusi ‘basah’ mengakibatkan di auditnya rekan-rekannya di institusi tersebut.

Jika Anda memilih ‘uang’ dibanding ‘branding’, jangan salahkan musuh akan bermunculan satu persatu. Misal, jika kita dicap ‘tukang berkelahi’ dijamin orang mikir-mikir untuk bekerja sama, bank meminjamkan dana, tawaran kerjasama, dan sejenisnya.

Menarik untuk menyimak video Renald Kasali. Jika kita terlalu perhitungan, maka alam akan perhitungan juga dengan kita. Jika bekerja sesuai dengan ‘bayaran’ efeknya hanya dapat bayaran saja. Tentu saja membangun branding jangan melupakan bayaran juga. Tetapi jika bekerja sesuai kapasitas kita, dipastikan kita memperolah bayaran tidak sekedar uang. Jadi tinggal pilih: jalur ‘cari uang’ alias jalur komoditi, dan jalur cari nama, alias jalur ‘branding’. Yang paling ekstrem adalah skema Ponzi seperti kasus crazy rich bermasalah atau umroh kelewat murah yang ujung-ujungnya masuk bui, walau sadar nama hancur .. tetap embat saja agar kaya .. walau sesaat.

Untuk yang hanya memikirkan anak, saudara, dan yang terdekat saja, sebenarnya tidak ‘alami’, alias tidak sunnatullah. Silahkan Anda hitung sendiri, dari lahir sampai sekarang, banyak mana dibantu orang lain yang tidak Anda kenal atau hanya kerabat kita. Dari dilahirkan oleh dokter, bidan (atau dukun) yang mungkin baru kenal tidak sampai setahun, guru, dosen, hingga tukang ojek, kebanyakan tidak lama berkenalan. Presiden Anda sekarang, entah suka atau tidak, terikat dengan kita. Tinggal pilih, ingin bekerja sama, mencari sebanyak mungkin ‘bestie’ … atau bertempur seperti Rusia vs Ukraina.

AI and Neuro-Fuzzy Theory

Tahun 2014 saya pernah memperoleh kuliah Artificial Intelligence (AI) & Neuro-Fuzzy Theory. Ternyata materi ini sangat padat karena gabungan 2 mata kuliah yang saat ini saya ajar AI + Computational Intelligence (CI).

Neural networks atau jaringan saraf adalah sebuah konsep pemodelan matematis yang terinspirasi dari cara kerja otak manusia. Konsep ini telah ada sejak awal abad ke-20 dan telah mengalami banyak perkembangan sejak saat itu. Pada awalnya, konsep jaringan saraf digunakan untuk memodelkan bagaimana neuron-neuron dalam otak manusia berinteraksi satu sama lain. Namun, pada tahun 1940-an, para peneliti mulai menggunakan konsep ini untuk membangun mesin-mesin yang dapat melakukan tugas-tugas seperti mengenali pola pada gambar dan suara.

Pada tahun 1950-an, sebuah mesin jaringan saraf pertama kali dikembangkan oleh Frank Rosenblatt, yang dikenal sebagai “Perceptron”. Mesin ini dapat mengenali pola pada gambar dan mampu membedakan antara huruf “X” dan “O”. Namun, pada saat itu, mesin jaringan saraf masih sangat terbatas dan hanya mampu menangani masalah-masalah sederhana. Selain itu, kemampuan komputasi pada waktu itu juga masih terbatas dan membatasi perkembangan jaringan saraf. Meskipun begitu, konsep jaringan saraf tetap terus berkembang dan menjadi salah satu bidang yang paling menjanjikan dalam pengembangan kecerdasan buatan saat ini. Video berikut cuplikan kuliah tentang pentingnya AI dan NNs di awal ditemukan dengan praktik via Jupyter Notebook.

Asesor BKD Ibarat ‘Keran’ Air

Beberapa penasihat keuangan membahas keunggulan dari pengusaha yang memberikan pekerjaan ke banyak orang. Bukan hanya si pegawai, melainkan juga keluarga di rumah. Namun sejatinya yang pengusaha gaji tentu saja karena memberikan keuntungan pada perusahaan tempat mereka bekerja. Hal unik terjadi kepada asesor, terutama asesor BKD. Mengapa membandingkan dengan pengusaha?

Setelah mengecek, terkadang membaca berkas yang diunggah, setelah meng-‘klik’ tidak lama kemudian tunjangan serdos cair. Jika pengusaha walaupun ‘memberi’ tapi ‘menerima’ terlebih dahulu (kalau perusahaannya tidak merugi), asesor tidak ‘menerima’. Nah, di sini ada sisi unik seorang asesor (termasuk reviewer juga), tidak ‘memberi’ dan tidak ‘menerima’. Tidak rugi dong? Betul, kalau waktu dan tenaga tidak dihitung.

Terkadang ada ucapan terima kasih dalam berbagai bentuk, tapi kebanyakan hanya doa saja. Jadi ibarat kran air, hanya meneruskan rejeki ke tangan rekan-rekan lainnya. Sama halnya dengan reviewer, sudah biasa hanya berupa sertifikat ‘recognition’. Beberapa memberikan akses gratis SCOPUS, sebuah indexer ternama di dunia. Bahkan dari kampus saya S3 karena masih anggota reviewer, dapat mengakses SCOPUS dengan cuma-cuma. Yang terpenting dari reviewer jurnal adalah memperoleh update ilmu terkini (sudah tahu walau belum dipublish).

Diperlukan jenjang doktor atau lektor kepala untuk menjadi seorang Asesor BKD, dengan terlebih dahulu mengikuti ujian. Kebetulan karena COVID-19 waktu itu ujian secara ONLINE. Jadi, tertarik jadi asesor?

Masih Rekrutmen Tanpa Ijazah?

Beberapa waktu yang lalu banyak beredar di medsos informasi bahwa perusahaan raksasa seperti Apple, Google, dll merekrut karyawan tanpa perlu menunjukan ijazah. Berita tersebut sangat menohok dan terkesan mengerdilkan institusi pendidikan. Memang ini salah kampus juga yang tidak bisa mengikuti kemauan pasar, yaitu organisasi pemakai lulusan. Namun informasinya institusi sekelas Google membutuhkan bukti tertentu kepada calon karyawan yang mendaftar tanpa ijasah.

Terkadang memang, programmer tertentu tidak memiliki pendidikan formal. Karena bakat, ketekunan, dan keingintahuannya bisa belajar dengan cepat, baik otodidak maupun kursus kilat yang banyak tersedia. Youtube, milist, Github, atau sekedar Googling dengan cepat mampu memahami bahasa pemrograman tertentu. Apalagi saat ini aplikasi berbasis AI seperti ChatGPT mampu ‘mengajari’ lewat chatting apa saja, khususnya pemrograman. Silahkan lihat video berikut bagaimana menjalankan Web-based Python lewat ‘chatting’.

Artificial Intelligence (AI) merupakan salah satu bidang standar minimal kompetensi S1 (sarjana). Diharapkan peserta didik mampu menerapkannya. Untuk S2 dan S3 mampu mengembangkan bidang tersebut. Nah, jika organisasi ingin mendapatkan keunggulan kompetitif pada sistemnya, tidak ada jalan lain untuk memanfaatkan AI yang mulai menyusup ke segala lini.

Pendiri Google kabarnya ‘turun gunung’ mengingat ancaman AI mulai terasa. Bahkan dengan jumlah 1 juta pengguna yang oleh Netflix butuh 3.5 tahun ternyata ChatGPT hanya butuh 5 hari (link).

Jika masih diam saja, servis-servis lain Google seperti mail, Youtube bisa saja dikalahkan pemain baru dengan kemampuan AI yang terintegrasi Chat dan sejenisnya. Dengan chat yang teks saja sudah begitu heboh apalagi dalam bentuk gambar dan video. Untuk itu diperlukan periset-periset tangguh yang tentu saja tidak bisa lagi merekrut ‘tanpa ijasah’, mutlak diperlukan peneliti-peneliti yang tidak hanya jago praktis, melainkan juga teoritis dan analitis. Yuk, mulai oprek-oprek AI.

 

Pendidikan dan Artificial Intelligence (AI)

Waktu kuliah Theory of Computing, ada materi tentang Grammer. Salah satu tokohnya adalah Noam Chomsky, ilmuwan keturunan Yahudi. Memang bahasa pemrograman ternyata tetap bahasa, dengan tata cara penggunaan dalam bentuk syntax. Jika salah dalam penggunaannya, biasa ada error: ‘syntax error’. Sialnya mata kuliah itu saya dapat C .. hehe.

Nah, munculnya ChatGPT ternyata ditentang oleh Noam Chomsky (lihat link ini atau majalah fortune). Khususnya pada saat membuat komposisi kalimat yang disebut olehnya dengan istilah plagiarisme dengan teknologi tinggi.

Para gamers sepakat, seseorang yang menggunakan teknik tertentu agar bisa menang disebut melakukan cheating. Seorang siswa yang menulis dengan bantuan ChatGPT ibarah main catur dimana ketika melangkah dibantu oleh engine catur. Beberapa waktu lalu sempat heboh ‘dewa kipas’ yang oleh chess.com di-‘banned’ karena dicurigai menggunakan engine. Akhirnya diadakanlah live duel dengan master catur Irene Sukandar.

Dalam pendidikan dan pengajaran ada proses ‘berlatih’ dimana peserta didik harus melakukan suatu proses dalam menghasilkan karya/output. Tidak hanya menghasilkan output tertentu saja. Jadi, pendekatan berbasis output belum tentu bagus juga ya.

Artikel Ilmiah

Kebetulan saya menjadi editor sebuah jurnal (berikut link-nya – sedikit promosi). Karena menggunakan bahasa Inggris, banyak author memanfaatkan Google Translate. Perlu melakukan revisi menyesuaikan tata bahasa yang tepat. Ketika ChatGPT muncul, problem tata bahasa dapat teratasi, tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak bisa di-akali dengan ChatGPT.

Gaya bahasa merupakan aspek yang perlu diperhatikan. Biasanya ada sedikit perbedaan antara style skripsi/tesis berbahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Misalnya kata ‘researchers’ yang artinya penulis.

Sehingga perlu memodifikasi istilah tersebut agar sesuai dengan style artikel ilmiah di jurnal (biasanya dengan kalimat pasif atau beberapa menggunakan aktif, misalnya: ” … we are expected to …”, tergantung style jurnal yang beberapa menghendaki kalimat pasif yang fokus ke objek bukan ke subjek.

Praktisi

Bagi praktisi, engineer/teknisi, dan pihak-pihak yang fokus ke aspek praktis, kemunculan ChatGPT sangat membantu. Ejaan yang salah (typo dan sejenisnya), tata bahasa yang tidak standar dapat diatasi. Praktisi memang tidak fokus ke bahasa sehingga mempercepat laporan/dokumentasi.

Kemunculan AI tidak bisa dihindari, apalagi terkait dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan pengusungnya, sekarang tergantung bagaimana kita menyikapinya saja. Jika ingin menguji kemampuan siswa membuat komposisi tinggal awasi saja di kelas, jangan sampai buka HP/laptop. Riset tentang cek plagiarisme terhadap penulis yang menggunakan bantuan AI perlu dilakukan. Sementara, ini jawaban jujur dari ChatGPT:

 

Memahami Level S1, S2, dan S3

Jenjang pendidikan selepas SMA jauh lebih rumit. Banyak variasi yang ada, baik itu dari sisi tipenya apakah vokasi atau akademik, hingga levelnya: Diploma (D1,D2,D3, Sarjana Terapan), Sarjana (S1), S2 hingga Doktoral. Di Indonesia sendiri aturan hukumnya sudah jelas di mana letak/posisi jenjang pendidikan tersebut, yakni:

  • Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), dan
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT).

Tanggung jawab unit pengelola sangat berat, tidak boleh melanggar aturan tersebut. Beberapa kampus negeri, misalnya ITS bahkan mempublish masalah tersebut (lihat link berikut).

Sampai-sampai ditulis ‘bukan sekedar berdasarkan persepsi individu’. Sepertinya banyak dosen-dosen yang memberi beban yang tidak/kurang tepat ke mahasiswanya. Biasanya memaksa siswa S1 melakukan riset dengan beberapa research question dengan harapan ada novelty, padahal standar minimal KKNI Sarjana adalah cukup bisa mengaplikasikan IPTEKS, menguasai teori, dan seterusnya. Walaupun boleh saja melebihi standar minimum, asalkan tidak memaksa khawatir melanggar UU. Kampus sekelas ITS saja masih menggunakan standar minimal.

Eksperimen

Untuk mahasiswa informatika, banyak sekali bahan eksperimen karena bisa menggunakan laptop. Kalaupun server, bisa juga di-remote, tidak perlu datang ke lokasi. Bahan eksperimen sangat banyak, dengan modul-modul untuk memahami konsep atau metode. Biasanya masuk dalam kurikulum yang diajarkan dalam laboratorium. Beberapa bahasa pemrograman, misalnya Python menyediakan IDE yang praktis, yaitu Google Colab. Biasanya dipakai untuk proses training, atau menguji dan membandingkan metode-metode tertentu, oleh mahasiswa doktoral untuk menguji metode usulan atau memperbaiki/meng-improve metode yang ada. Dalam perkuliahan S1 biasanya untuk eksperimen dimana suatu metode mampu menyelesaikan masalah.

Jika mahasiswa S1 hanya fokus ke Google Colab, dikhawatirkan kurang memahami standar minimal (menerapkan, menguasai teori, dll) di mana di dunia kerja yang dibutuhkan adalah menerapkan, misalnya membuat web, android, instalasi server, network, memantau security, dan sejenisnya. Kalaupun mau mengikuti standar S2 pun harus mampu mengembangkan. Jangan sampai ingin mengikuti standar S2 tetapi tidak ada yang dikembangkan, hanya memakai, tetapi masih berupa eksperimen di Google Colab, seperti tugas Lab. Akibatnya level S1 bukan .. S2 juga bukan. Termasuk keharusan menghasilkan pengakuan nasional dan internasional lewat jurnal pun agak berat bagi mahasiswa S1, kecuali mungkin jurnal nasional yang membolehkan tidak ada novelty.

Implementasi

Google colab sejatinya sangat bermanfaat, misal kita akan membuat mesin penerjemah sendiri, kita coba dengan google colab dan ternyata berhasil jalan dengan baik. Nah selanjutnya tugas mahasiswa S1 ya mengimplementasikan mesin penerjemah itu dalam suatu aplikasi misalnya web, android, ios, dan sejenisnya. Tapi kan susah? Tidak juga, sekarang kan sumber info sudah banyak, berikut video bagaimana mengutak-atik agar suatu metode bisa diimplementasikan.

Khusus aplikasi web, video short berikut yang merupakan kelanjutan video sebelumya mungkin bisa menginspirasi Anda. Terima kasih.

Aplikasi Scratch .. Melatih Berfikir Komputasi Pada Anak

Scratch adalah sebuah platform pemrograman visual yang dirancang untuk membantu anak-anak dan remaja belajar pemrograman dan keterampilan komputasi dasar dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Scratch menggunakan blok-blok kode yang dapat disusun bersama-sama seperti puzzle, sehingga memudahkan pengguna untuk memahami konsep pemrograman dasar seperti urutan, kondisi, dan pengulangan. Buka link Scratch.

Pilih “Create” untuk membuat proyek baru. Ada istilah ‘Sprite’ dan ‘Background’ yang beruturut-turut artinya aktor dan lingkungannya.

Pilih latar belakang untuk game Anda dengan mengklik ikon latar belakang di sudut kanan bawah layar. Bisa juga dengan memilih lingkungan yang tersedia.

Tambahkan karakter atau objek game dengan mengklik ikon “Sprite” di sudut kanan bawah layar. Bisa juga dengan upload gambar sendiri. Langkah yang penting adalah membuat kode dari blok yang tersedia. Kode berikut (dengan even, control, dan motion) menginstruksikan si ‘meong’ berputar terus (instruksi repeat) dan even ketika green flag ditekan.

Silahkan pelajari video tutorial yang tersedia dan explore fasilitas-fasilitas yang tersedia. Lihat ilustrasi video berikut.

Diploma

Waktu sekolah dasar, ibu pernah ‘gosip’ bahwa tetangga sebelah anaknya tidak lulus-lulus sarjana muda. Ada juga anak tetangga yang lain yang kembali lagi dari SMA khusus ilmu kimia ke SMA biasa, saya lupa namanya Lemia kalo ga salah. Sekarang namanya Lembaga Pendidikan Khusus Kimia (LPKK). Katanya sulit banget. Ada lagi yang ambil STM Telkom, sulit di mata pelajaran digital.

Waktu berjalan, setelah kuliah enam tahun lamanya, ternyata lulus diploma mudah sekali. Teringat dosen waktu S1 dulu bilang kalau kalian sudah lulus mata kuliah ‘merencana mesin’ berarti setara dengan D3. Padahal merencana mesin sendiri lebih sulit dari skripsi. Sialnya saya dapat ‘C’ karena komputer berisi gambar AutoCad dijual kakak saya.

Hingga saat ini saya pun masih berkecimpung mengajar di Diploma 3, program studi yang saat ini kian menyusut, karena tanggung, kalah bersaing dengan sarjana. Ketika Nadim menjadi mendikbud, usaha untuk membangkitkan Diploma terasa belum mampu, malah sarjana ikut men-take over jatah-jatah jurusan diploma, misalnya hibah. Banyak sih program-programnya, tapi ya itu .. kebanyakan ditolak proposalnya.

Uniknya alumni D3 ternyata banyak yang siap pakai. Bahkan beberapa menjadi pemiliki perusahaan, minimal CV. Memang, mahasiswa D3 sudah pasti mengenal ‘medan’ kerja mereka, dibanding S1 yang terkadang penuh dengan teori. Repotnya makin tinggi dosen (khususnya yang selesai studi lanjut) terkadang ‘lupa’ kalau yang diajar adalah mahasiswa diploma dan sarjana yang harusnya fokus ke aplikasi, bukan menemukan novelty. Kasihan juga lah. Dari pada menjalankan program di Google Colab untuk misalnya sentimen analysis, alangkah baiknya tugas akhir diarahkan menjalankan sentiment analysis dalam suatu framework PHP, misal CI, laravel, Node JS, dan sejenisnya. Skill tersebut yang dibutuhkan pengembang. Kalau Google Colab mungkin jika ingin fokus ke penemuan metode, yang biasanya cocok untuk mahasiswa S2 dan S3.

Namun, ibarat menemukan metode tertentu ya seharusnya memahami metode yang ada terlebih dahulu. Ibarat menemukan metode gali sumur yang terbaru, sudah pasti harus memahami teknik-teknik gali sumur terlebih dahulu. Nah video berikut membahas langkah awal praktik Artificial Intelligence dengan bantuan bahasa Python di Jupyter Notebook, Google Colab, hingga implementasi di PHP dan Flask. Semoga bermanfaat.

Perplexity – Ask Anything

Artificial Intelligence sudah merambah ke mana-mana, salah satunya adalah tools untuk tempat bertanya – Perplexity. Masukan hal yang ingin ditanyakan, misalnya “LSTM”.

Tidak hanya menjawab, situs ini memberikan referensi lanjut untuk mempelajari hal tersebut, misalnya referensi ke-5 d2l. Klik saja, langsung mengarah ke situs tempat referensi tersebut berada.

Untuk pertanyaan yang ‘to the point’ bisa menggunakan ChatGPT. Tentu saja untuk membuat artikel, referensi membutuhkan sumber tertentu, entah itu buku, jurnal, ebook, dan sejenisnya. Kemunculan AI membuat gaya belajar kita berbeda dengan sebelumnya. Kemampuan metakognitif sangat diperlukan oleh pelajar untuk secara cepat fokus ke hal-hal yang tidak dimengerti saja.

Hibah Matching Fund – Kedaireka

Pekerjaan dosen selain mengajar adalah meneliti. Hasil penelitian selanjutnya dipublikasikan agar bermanfaat bagi sesama. Beberapa dipatenkan agar memberikan manfaat ekonomis bagi penelitinya. Penelitian sendiri membutuhkan dana yang terkadang sulit ditentukan besar kecilnya.

Dana penelitian bisa berasal dari beragam sumber, salah satunya adalah dari pemerintah, lewat mekanisme hibah penelitian. Jenis-jenis hibah (sering diistilahkan skema) sangat banyak, dan yang saat ini termasuk baru adalah hibah matching fund. Hibah ini merupkan gabungan pendanaan dari pemerintah maupun mitra swaste. Silahkan kunjungi situsnya.

Pada situs tersebut dapat diunduh panduan yang menjelaskan langkah-langkah pengajuan proposalnya. Namun di sini saya hanya berbagi pengalaman, termasuk keluh kesah yang dialami.

1. Menemukan Mitra

Untuk menemukan mitra, mudah saja. Selain lewat MOU atau MOA dari kampus, bisa juga lewat situs kedaireka karena tiap mitra bisa mengajukan diri untuk bekerjasama. Tapi biasanya mitra yang sudah kenal lebih mudah, karena mereka sudah percaya dengan pengusul.

2. Seleksi Pitching

Sebelumnya ada seleksi proposal yang berisi upload-upload dokumen penting, dari proposal hingga surat-surat dengan tanda-tangan di atas materai, dimulai dari kesepakatan dengan mitra, pernyataan bahwa pengusul tidak sedang kuliah, dan lain-lain, yang jelas menghabiskan beberapa materi 10 ribu.

Ok, materai mungkin tidak jadi soal, yang jelas ada kegiatan baik silaturahmi antara mitra dengan pihak kampus pasti terjalin. Jelas, network sangat penting saat ini. Kampus saya sendiri mengirimkan hampir 10 proposal, namun hampir semuanya gagal di proses pitching, yaitu proses wawancara online (via zoom) dengan reviewer dari pemerintah. Mitra pun diwajibkan untuk hadir, kalau tidak sudah dipastikan gagal.

3. Proposal Lengkap

Jika pithcing lolos, selanjutnya ada beberapa tahap yang bisa dilihat dari panduan resminya. Salah satunya adalah proposal lengkap. Jika dulu kita langsung mengajukan proposal lengkap, sekarang sebelum proposal lengkap melewati berbagai tahapan. Bagi dosen atau kampus sepertinya tidak jadi masalah kalau ditolak. Toh, sudah kebal berkali-kali ditolak. Nah, kali ini agak sedikit sedih ketika mengabari mitra bahwa proposal ditolak, khususnya pada tahap pitching. Mereka yang sudah meluangkan waktu, bertemu berkali-kali meeting, terkadang menyusun proposal dan diskusi bareng ternyata tidak bisa lanjut. Apalagi jika ditanya ‘dimana letak gagalnya?’.

Berbeda dengan pejabat yang anaknya sliweran pakai jeep rubicon, atau perwira dengan ajudan yang banyak, seorang dosen hanya mengandalkan mengajar dan proyek-proyek di sela-sela kesibukannya. Keyakinan akan keberkahan saja yang membuat mereka tangguh. Untungnya saya hanya peserta yang tinggal mengajukan proposal, presentasi, dan menunggu hasil. Seandainya saya jadi reviewer, rasanya berat sekali menolak mitra dan peneliti yang sedang berusaha menjalin kerjasama. Sebagai penggembira, kami yang berasal dari kampus sederhana, turut bergembira memasarkan program kampus merdeka, dari menunggu lama saat mengantri wawancara, sampai unggah video ke Youtube .. agar kemdikbud terkenal di seluruh dunia. Saat tulisan dibuat, keesokan harinya ada sosialisasi, silahkan lihat link youtube, rekamannya.

Instal ChatGPT Desktop

Jika tertarik dengan ChatGPT tidak salahnya instal versi desktop. Link ini bisa jadi rujukan: https://github.com/lencx/ChatGPT. Oiya, sebagai informasi, syarat untuk ChatGPT adalah:

  • Email
  • No HP

Jika satu no HP digunakan untuk lebih dari satu akun gmail maka ada pesan/warning seperti berikut: ‘This phone number is already linked to the maximum number of accounts’.

Kecuali jika menggunakan fasilitas yang berbayar. Silahkan baca-baca dulu link di atas. Ada warning yang menyebutkan ada kasus hacker memodifikasi kode ini untuk kepentingan jahat. Oleh karena itu instal dengan kode sumber dari pembuat aslinya saja. Kalo sudah yakin, bisa unduh installernya.

 

Di sini hanya diberikan contoh untuk versi Windows-nya. Oiya, kabarin untuk yang versi Mac di kolom komentar ya jika ada yang memakai IOS.

Setelah mengarahkan lokasi instalasi program, tunggu hingga proses instalasi selesai dalam waktu kurang dari 1 menit.

Seperti versi web-nya, di sini kita diminta log in terlebih dahulu. Gunakan saja cara cepat log in dengan Googl (Continue with Google) setelah menekan tombol Log In.

Klik saja Next ketika muncul notice di awal penggunaan. Selanjutnya aplikasi ChatGPT versi desktop sudah kita gunakan. Silahkan gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat ya.