Diploma

Waktu sekolah dasar, ibu pernah ‘gosip’ bahwa tetangga sebelah anaknya tidak lulus-lulus sarjana muda. Ada juga anak tetangga yang lain yang kembali lagi dari SMA khusus ilmu kimia ke SMA biasa, saya lupa namanya Lemia kalo ga salah. Sekarang namanya Lembaga Pendidikan Khusus Kimia (LPKK). Katanya sulit banget. Ada lagi yang ambil STM Telkom, sulit di mata pelajaran digital.

Waktu berjalan, setelah kuliah enam tahun lamanya, ternyata lulus diploma mudah sekali. Teringat dosen waktu S1 dulu bilang kalau kalian sudah lulus mata kuliah ‘merencana mesin’ berarti setara dengan D3. Padahal merencana mesin sendiri lebih sulit dari skripsi. Sialnya saya dapat ‘C’ karena komputer berisi gambar AutoCad dijual kakak saya.

Hingga saat ini saya pun masih berkecimpung mengajar di Diploma 3, program studi yang saat ini kian menyusut, karena tanggung, kalah bersaing dengan sarjana. Ketika Nadim menjadi mendikbud, usaha untuk membangkitkan Diploma terasa belum mampu, malah sarjana ikut men-take over jatah-jatah jurusan diploma, misalnya hibah. Banyak sih program-programnya, tapi ya itu .. kebanyakan ditolak proposalnya.

Uniknya alumni D3 ternyata banyak yang siap pakai. Bahkan beberapa menjadi pemiliki perusahaan, minimal CV. Memang, mahasiswa D3 sudah pasti mengenal ‘medan’ kerja mereka, dibanding S1 yang terkadang penuh dengan teori. Repotnya makin tinggi dosen (khususnya yang selesai studi lanjut) terkadang ‘lupa’ kalau yang diajar adalah mahasiswa diploma dan sarjana yang harusnya fokus ke aplikasi, bukan menemukan novelty. Kasihan juga lah. Dari pada menjalankan program di Google Colab untuk misalnya sentimen analysis, alangkah baiknya tugas akhir diarahkan menjalankan sentiment analysis dalam suatu framework PHP, misal CI, laravel, Node JS, dan sejenisnya. Skill tersebut yang dibutuhkan pengembang. Kalau Google Colab mungkin jika ingin fokus ke penemuan metode, yang biasanya cocok untuk mahasiswa S2 dan S3.

Namun, ibarat menemukan metode tertentu ya seharusnya memahami metode yang ada terlebih dahulu. Ibarat menemukan metode gali sumur yang terbaru, sudah pasti harus memahami teknik-teknik gali sumur terlebih dahulu. Nah video berikut membahas langkah awal praktik Artificial Intelligence dengan bantuan bahasa Python di Jupyter Notebook, Google Colab, hingga implementasi di PHP dan Flask. Semoga bermanfaat.

Perplexity – Ask Anything

Artificial Intelligence sudah merambah ke mana-mana, salah satunya adalah tools untuk tempat bertanya – Perplexity. Masukan hal yang ingin ditanyakan, misalnya “LSTM”.

Tidak hanya menjawab, situs ini memberikan referensi lanjut untuk mempelajari hal tersebut, misalnya referensi ke-5 d2l. Klik saja, langsung mengarah ke situs tempat referensi tersebut berada.

Untuk pertanyaan yang ‘to the point’ bisa menggunakan ChatGPT. Tentu saja untuk membuat artikel, referensi membutuhkan sumber tertentu, entah itu buku, jurnal, ebook, dan sejenisnya. Kemunculan AI membuat gaya belajar kita berbeda dengan sebelumnya. Kemampuan metakognitif sangat diperlukan oleh pelajar untuk secara cepat fokus ke hal-hal yang tidak dimengerti saja.

Hibah Matching Fund – Kedaireka

Pekerjaan dosen selain mengajar adalah meneliti. Hasil penelitian selanjutnya dipublikasikan agar bermanfaat bagi sesama. Beberapa dipatenkan agar memberikan manfaat ekonomis bagi penelitinya. Penelitian sendiri membutuhkan dana yang terkadang sulit ditentukan besar kecilnya.

Dana penelitian bisa berasal dari beragam sumber, salah satunya adalah dari pemerintah, lewat mekanisme hibah penelitian. Jenis-jenis hibah (sering diistilahkan skema) sangat banyak, dan yang saat ini termasuk baru adalah hibah matching fund. Hibah ini merupkan gabungan pendanaan dari pemerintah maupun mitra swaste. Silahkan kunjungi situsnya.

Pada situs tersebut dapat diunduh panduan yang menjelaskan langkah-langkah pengajuan proposalnya. Namun di sini saya hanya berbagi pengalaman, termasuk keluh kesah yang dialami.

1. Menemukan Mitra

Untuk menemukan mitra, mudah saja. Selain lewat MOU atau MOA dari kampus, bisa juga lewat situs kedaireka karena tiap mitra bisa mengajukan diri untuk bekerjasama. Tapi biasanya mitra yang sudah kenal lebih mudah, karena mereka sudah percaya dengan pengusul.

2. Seleksi Pitching

Sebelumnya ada seleksi proposal yang berisi upload-upload dokumen penting, dari proposal hingga surat-surat dengan tanda-tangan di atas materai, dimulai dari kesepakatan dengan mitra, pernyataan bahwa pengusul tidak sedang kuliah, dan lain-lain, yang jelas menghabiskan beberapa materi 10 ribu.

Ok, materai mungkin tidak jadi soal, yang jelas ada kegiatan baik silaturahmi antara mitra dengan pihak kampus pasti terjalin. Jelas, network sangat penting saat ini. Kampus saya sendiri mengirimkan hampir 10 proposal, namun hampir semuanya gagal di proses pitching, yaitu proses wawancara online (via zoom) dengan reviewer dari pemerintah. Mitra pun diwajibkan untuk hadir, kalau tidak sudah dipastikan gagal.

3. Proposal Lengkap

Jika pithcing lolos, selanjutnya ada beberapa tahap yang bisa dilihat dari panduan resminya. Salah satunya adalah proposal lengkap. Jika dulu kita langsung mengajukan proposal lengkap, sekarang sebelum proposal lengkap melewati berbagai tahapan. Bagi dosen atau kampus sepertinya tidak jadi masalah kalau ditolak. Toh, sudah kebal berkali-kali ditolak. Nah, kali ini agak sedikit sedih ketika mengabari mitra bahwa proposal ditolak, khususnya pada tahap pitching. Mereka yang sudah meluangkan waktu, bertemu berkali-kali meeting, terkadang menyusun proposal dan diskusi bareng ternyata tidak bisa lanjut. Apalagi jika ditanya ‘dimana letak gagalnya?’.

Berbeda dengan pejabat yang anaknya sliweran pakai jeep rubicon, atau perwira dengan ajudan yang banyak, seorang dosen hanya mengandalkan mengajar dan proyek-proyek di sela-sela kesibukannya. Keyakinan akan keberkahan saja yang membuat mereka tangguh. Untungnya saya hanya peserta yang tinggal mengajukan proposal, presentasi, dan menunggu hasil. Seandainya saya jadi reviewer, rasanya berat sekali menolak mitra dan peneliti yang sedang berusaha menjalin kerjasama. Sebagai penggembira, kami yang berasal dari kampus sederhana, turut bergembira memasarkan program kampus merdeka, dari menunggu lama saat mengantri wawancara, sampai unggah video ke Youtube .. agar kemdikbud terkenal di seluruh dunia. Saat tulisan dibuat, keesokan harinya ada sosialisasi, silahkan lihat link youtube, rekamannya.

Instal ChatGPT Desktop

Jika tertarik dengan ChatGPT tidak salahnya instal versi desktop. Link ini bisa jadi rujukan: https://github.com/lencx/ChatGPT. Oiya, sebagai informasi, syarat untuk ChatGPT adalah:

  • Email
  • No HP

Jika satu no HP digunakan untuk lebih dari satu akun gmail maka ada pesan/warning seperti berikut: ‘This phone number is already linked to the maximum number of accounts’.

Kecuali jika menggunakan fasilitas yang berbayar. Silahkan baca-baca dulu link di atas. Ada warning yang menyebutkan ada kasus hacker memodifikasi kode ini untuk kepentingan jahat. Oleh karena itu instal dengan kode sumber dari pembuat aslinya saja. Kalo sudah yakin, bisa unduh installernya.

 

Di sini hanya diberikan contoh untuk versi Windows-nya. Oiya, kabarin untuk yang versi Mac di kolom komentar ya jika ada yang memakai IOS.

Setelah mengarahkan lokasi instalasi program, tunggu hingga proses instalasi selesai dalam waktu kurang dari 1 menit.

Seperti versi web-nya, di sini kita diminta log in terlebih dahulu. Gunakan saja cara cepat log in dengan Googl (Continue with Google) setelah menekan tombol Log In.

Klik saja Next ketika muncul notice di awal penggunaan. Selanjutnya aplikasi ChatGPT versi desktop sudah kita gunakan. Silahkan gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat ya.

Selamat Datang AI

Beberapa film menunjukan dampak positif dan negatif dari penggunaan AI di dunia. Dari film ‘AI’ dengan tokoh utamanya robot anak, robocop robot polisi, hingga yang membahayakan seperti David dalam film “Prometheus” (diberi kemampuan berkehendak, akhirnya merusak satu planet, hingga berambisi menjadi tuhan).


Banyak yang mengkhawatirkan masuknya AI tanpa adanya batasan. Mungkin karena bisa dimanfaatkan untuk kejahatan, atau bisa merugikan di kemudian hari walau saat ini mungkin belum terasa dampaknya. Salah satu AI yang cukup mengganggu misalnya engine pada catur (www.lichess.org atau www.chess.com), membuat wasit membutuhkan alat bantu apakah seseorang menggunakan engine atau tidak, hingga perlu AI juga untuk mendeteksi pemain menggunakan engine atau tidak.

Yang saat ini heboh adalah chatgpt (https://chat.openai.com/chat) dengan kemampuan seperti google tapi mampu berkomunikasi layaknya manusia. Beberapa waktu yang lalu saya memiliki masalah (vektorisasi data NLP dengan TF-IDF yang keluarannya tidak sesuai dengan jumlah record). Dengan google saya perlu mencari kasus-kasus yang mirip, dan mentok ke problem-problem yang sering terjadi saja.

Uniknya ketika masih mentok, belum ada jawaban yang fix, dia bertanya “bisa mengirim sample kode?”. Nah ketika saya paste potongan kode ke chatgpt, makhluk buatan ini langsung menjelaskan detil disertai revisi kodenya dimana [‘text_column’] harus ditambahkan, tidak hanya transform(db_df).

Bahkan Scopus sendiri memasukan ChatGPT sebagai Co-Author artikel ilmiah. Hal ini menyamakan level AI layaknya Co-Author saat ini (manusia). Kita tunggu saja apakah ChatGPT bisa sebagai First Author, dari merancang riset, menulis, submit dan lain-lain.

Aplikasi ini juga mengancam pengajar (guru dan dosen) dalam proses pembelajaran, terutama dalam tugas dan ujian. Mesin-mesin plagiasi perlu mencari cara apakah suatu tulisan dibuat manusia ataukah engine AI. Di Perancis, aplikasi ini dianggap ‘high risk’ dan diband (Link).

Bagaimana jika seorang teroris membuat ChatGPT palsu kemudian secara diam-diam chat dengan anak-anak muda dan melakukan doktrinasi ke remaja-remaja yang masih labil yang tanpa sadar si remaja itu chat dengan manusia yang menyamar sebagai engine dan mengajarkan hal-hal berbahaya.

Selama idola, fans, role model masih manusia, entah itu atlit, artis, guru dan dosen, keberadaan kita masih dibutuhkan. Guru dan dosen pun jadi sadar bahwa tidak hanya transfer ilmu dan skill saja yang diiperoleh dari institusi pendidikan melainkan akhlak, teladan yang baik, hingga bertambahnya network/jaringan/circle. Sekian, semoga bisa menginspirasi.

Mudahnya Membandingkan Metode LVQ, Naïve Bayes, SVM, dan Random Forest

Saat ini metode-metode machine learning sepertinya sudah established sehingga pengguna tinggal memilih metode apa yang cocok. Beberapa jurnal juga sudah menyediakan laporan tentang kinerja metode-metode yang ada termasuk bagaimana meng-improve nya.

Kalau dulu kita harus membuat kode, menyiapkan data latih, validasi, dan testing, sekarang data sudah tersedia, misal daya IRIS pada Python. Bagaimana dengan metode? Seperti postingan yang lalu, kita bisa gunakan Chat GPT.

A. LVQ

Linear Vector Quantization (LVQ) adalah salah satu jenis jaringan saraf buatan yang digunakan untuk klasifikasi. LVQ digunakan untuk mengklasifikasikan suatu data ke dalam kategori yang telah ditentukan sebelumnya. Masukan kata kunci: “bagaimana membuat lvq dengan contoh data iris python?”.

Kopi kode dengan mengklik pojok kanan atas. Lalu paste di Visual Studio Code (saya sarankan menggunakan editor praktis dan gratis ini).

Jika ada pesan No Module … berarti harus instal library dengan PIP. Lihat google bagaimana menginstal library tersebut. Setelah selesai, run visual studio code Anda. Oiya, instal dulu Python di visual studio code, buka terminal dan lihat hasil runnya.

Akurasi LVQ untuk dataset IRIS ternyata 86.67%. Berikutnya kita coba Naïve Bayes.

B. Naïve Bayes

Masukan kata kunci: “bagaimana klasifikasi naive bayes data iris python?” seperti sebelumnya, dengan mengganti LVQ dengan Naïve Bayes.

Algoritma Naive Bayes bekerja dengan menghitung probabilitas kelas target dari suatu data berdasarkan probabilitas masing-masing fitur yang terdapat pada data tersebut. Algoritma ini memiliki tiga jenis dasar yaitu Naive Bayes Gaussian (untuk data yang berdistribusi normal), Naive Bayes Multinomial (untuk data yang terdiri dari frekuensi hitung), dan Naive Bayes Bernoulli (untuk data biner).

Dengan cara yang sama, copas kode masukan ke Visual Studio Code, jalankan dan ternyata diperoleh akurasi di atas LVQ, yakni 96.67%.

C. Support Vector Machine (SVM)

SVM sangat terkenal karena keampuhannya, namun kurang disukai karena proses yang lambat. Support Vector Machine (SVM) adalah salah satu algoritma pembelajaran mesin yang digunakan untuk klasifikasi dan regresi. SVM bekerja dengan membuat sebuah hyperplane (bidang pemisah) yang dapat membedakan antara kelas-kelas data pada sebuah ruang fitur (feature space).

SVM bertujuan untuk mencari hyperplane yang optimal, yaitu hyperplane yang memberikan margin terbesar (jarak terbesar antara hyperplane dan data dari setiap kelas) antara kelas-kelas data. Margin adalah jarak antara dua hyperplane yang sejajar dan melewati data terdekat dari masing-masing kelas. Dalam hal ini, SVM mengambil data yang berada di dekat hyperplane untuk membuat keputusan kelas.

Ternyata akurasinya cukup ampuh, 100%. Jauh di atas Naïve Bayes, apalagi LVQ.

D. Random Forest (RF)

Ada satu model machine learning klasik yaitu Random Forest (RF) yang cukup terkenal. Random Forest (hutan acak) adalah salah satu algoritma pembelajaran mesin yang populer untuk masalah klasifikasi dan regresi. Algoritma ini menggabungkan konsep dari dua teknik pembelajaran mesin, yaitu pohon keputusan (decision tree) dan teknik bootstrap aggregating atau bagging.

Dalam algoritma Random Forest, beberapa pohon keputusan dibangun secara acak dengan menggunakan subset acak dari fitur-fitur dataset. Hal ini dilakukan untuk menghindari overfitting, yang dapat terjadi ketika sebuah pohon keputusan dibangun pada semua fitur.

Metode ini ternyata cukup akurat, sama dengan SVM, 100% akurat.

Bagaimana untuk publikasi jurnal? Tentu saja saat ini jurnal membutuhkan novelty atau kontribusi. Jika tulisan ini akan dipublish di jurnal internasional, pasti ditolak karena tidak ada kebaruan baik dari metode, maupun dataset implementasi.

Improve Metode vs Domain Implementation

Bagi peneliti ilmu komputer biasanya menemukan metode yang lebih baik dari yang ada sekarang, baik dengan murni baru atau hybrid/penggabungan dengan metode yang ada agar dihasilkan metode baru yang lebih cepat dan akurat.

Terkadang bidang tertentu, seperti kedokteran, SIG, keuangan dan lain-lain dapat menerapkan metode yang telah ada. Hal ini terkadang dianggap kontribusi, terutama pada bidang-bidang yang memang jarang disentuh Machine Learning.

Ditolak atau tidaknya naskah terkadang dilihat dari hal tersebut, jika fokus ke perbaikan metode, maka jika tidak ada model usulan, pasti ditolak. Tapi jika fokus ke domain implementation, jika pada pembahasan hanya membahas akurasi model maka dipastikan naskah tidak tepat, karena seharusnya pembahasan fokus ke domain implementation (impak terhadap domain baik dari sisi sistem atau kebijakan). Sekian semoga bermanfaat.

Kondisi Sudah Normal Kembali, Yuk Studi Lanjut

Berbeda dengan negara kita, negara lain sudah mulai memaksa dosen harus S3 (doktor). Repotnya generasi saya berbeda dengan generasi sekarang. Kalau reuni, ada yang unik, rombongan ‘menengah ke bawah’ dalam hal akademik seperti saya dan minoritas rekan2 lain, justru malah menjadi guru dan dosen. Rombongan cerdas malah cenderung bekerja di kantor/industri. Ada beberapa top 10 yang jadi dosen, itu pun sebelum lulus sudah dikader oleh kampus.

Mungkin ada kaitannya dengan gaji ketika cenderung berkarir di kantor/industri. Saya ingat ketika tahun kedua ada pengumuman ada ikatan dinas untuk menjadi dosen di kampus (untuk dosen D3) tidak ada yang berminat. Malah pada memilih pengumuman di atasnya, untuk mahasiswa IPK 3 ke atas masuk ke PT Astra tanpa tes. Kalau saya memang ketika melamar kerja, tidak ada yang menerima. Bisa jadi alasan pemerintah tidak memaksa S3 karena hal tersebut, untuk generasi saya jangankan S3, magister (S2) saja rasanya sudah berat.

Postingan Fesbuk dari P Munir, mungkin ada benarnya, karena sebagian besar yang ambil S3 di dalam negeri adalah generasi saya. Tapi untuk Anda generasi milenial, jangan terlalu dibaca serius ya postingan itu, karena beda jamannya. Saat ini profesi dosen bukan pilihan terakhir, sudah menjadi idola. Jadi tidak boleh menolak untuk lanjut ke S3. Coba peluang yang ada, perkuat bahasa Asing dan fokus ke riset, supaya bisa halan-halan sambil belajar.

Skill dasar yg kadang terlewati

Kita mengenal istilah hard skill dan soft skill yang artinya kemampuan teknis/kompetensi/skill dan kemampuan pendukung/komunikasi/sosialisasi/attitude. Terkadang kita melupakan soft skill dan menyerahkan pembelajaran ke orang yang bersangkutan. Nah, saat ini kemampuan tersebut mulai diperhatikan akibat dari banyaknya lulusan yang tidak siap kerja dan juga keluahan dari perusahaan-perusahaan terhadap karakter lulusan-lulusan yang baru bekerja tersebut. Postingan singkat ini sekedar menceritakan yang pernah saya alami.

A. Kemampuan Bertanya

Dari sekolah dasar hingga bangku kuliah kita selalu diajarkan menjawab pertanyaan. Ternyata membuat pertanyaan membutuhkan keahlian khusus. Satu atau dua minggu ketika baru tiba di negara lain dalam rangka studi lanjut, kebanyakan berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus saya berikan ke orang lain, dari menanyakan tempat/lokasi, prosedur, dan lain-lain.

Konon, A. Einstein ketika pulang dari sekolah orang tuanya selalu bertanya apa saja yang telah ditanyakan anaknya ke sang guru ketika belajar. Ternyata dari taksonomi bloom (remember, understand, apply, analyse, evaluate dan create) ketika kita bertanya level pembelajaran di atas level understand/memahami. Jadi kalau kita punya anak, berbahagialah jika dia selalu bertanya, walau kadang pertanyaannya membingungkan.

B. Berani Berinteraksi dengan Top Management

Ini mungkin sedikit aneh, tapi informasi ini banyak diinformasikan oleh pakar-pakar motivasi di Youtube, misalnya Renald Kasali. Hal-hal seperti ini terkadang memperlancar pekerjaan. Ini bukan berarti kita belajar kolusi, tetapi memang kondisi dunia saat ini yang memerlukan akses langsung top manajemen ke low level management. Gojek/Grab misalnya, pimpinan mereka harus segera mengetahui segala hal dari segala lini baik mitra yakni supir gojek/grab maupun konsumen. Jadi, saat ini top management wajib berinteraksi, tidak hanya melalui kertas laporan.

Ketika ijin belajar saya terhalang, saya langsung menghampiri rektor karena saya lihat di rencana strategis kampus salah satunya 9 doktor lulus per tahun, jadi tidak ada alasan pimpinan di bawahnya menghalangi. Begitu juga ketika ada masalah dengan jurusan waktu studi lanjut, saya langsung menghadapi vice president bidang akademik untuk mendiskusikan masalah. Sulit memang, tapi di sinilah seni dan kreativitas kita diuji.

Sehari yang lalu, seorang siswa saya lupa isi KRS dan saat ini sudah tutup. Selesai dia mengabari saya langsung kontak ke direktur layanan akademik, dan dia meminta si mahasiswa menghadap. Saya langsu kabari ke siswa tersebut bahwa maksimal hari ini menghubungi yang bersangkutan. Tapi di sore hari dia mengabarkan kalau KRS sudah tutup dan harus cuti. Ketika saya tanya apakah dia sudah menemui direktur layanan akademik yang sudah menunggu hari ini, dia menjawab tidak, dan hanya bertanya ke staf di loket, yang tentu saja jawabannya mengikuti prosedur (SOP).

Ini juga bisa jadi bahan masukan ke senat mahasiswa yang lebih suka mendidik adik-adiknya dengan karakter bergerombol yang padahal perlu skill individu agar berani single fighter dengan tetap menjaga sopan-santun, aturan, dan hal-hal lain ketika berhadapan dengan orang lain apalagi top management. Silahkan pembaca menambahkan hal-hal lainnya, semoga bermanfaat.

Dokumentasi dengan MkDocs

Dalam mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (Human Computer Interraction) ada satu bab tentang dokumentasi help. Salah satu dokumentasi penting adalah dokumentasi online yang menjelaskan suatu aplikasi yang dibuat. Kalau jaman dulu mungkin berupa berkas readme atau file pdf tata cara penggunaan. Namun saat dunia online seperti saat ini, mau tidak mau kemampuan mendokumentasi online mutlak diperlukan. Sayang kan kalau harus bayar ke orang untuk publish onlinenya. Server online pun banyak yang gratis kalo hanya untuk dokumen, misalnya yang terkenal Github.io (lihat post yg lalu).

Banyak aplikasi untuk membuat dokumentasi online misalnya document360, nuclino, Github, MarkdownPad, ProProfs, Read the Docs, Doxygen, dan lain-lain. Nah, postingan ini akan membahas MkDocs, sebuah alat membuat dokumentasi online berbasis Python.

MkDocs memiliki keunggulan, yakni cepat dan gratis. Salah satu problem utama adalah untuk yang belum pernah menggunakan Python, karena harus belajar sedikit. Kalau sudah pernah dengan mudah dapat menjalankannya. Alur untuk pembuatan dokumentasi online dengan MkDocs adalah:

  • Instal MkDocs
  • Mengunduh Template
  • Mengedit mkdocs.yml dengan editor
  • Mengedit index.md dengan editor
  • Menjalankan server lokal MkDocs
  • Mendeploy hasil edit
  • Mempublish online

Lumayan panjang, tapi tidak membutuhkan sumber daya yang besar. Semua dapat dibuka dengan cepat. Sedikit butuh kreativitas ketika mengedit mkdocs.yml dan index.md. Karena ketika kita menjalankan server MkDocs kita langsung melihat perubahannya, jadi mirip mengkustomasi wordpress misalnya.

Ada sedikit rancu bagi pengguna awal, di sini mkdocs server (dengan mengetik mkdocs serve) hanya berfungsi melihat hasil editan saja, kalau ingin publish misal di XAMPP perlu mendeploy lewat fungsi mkdocs gh-deploy yang akan menghasilkan folder yang siap diupload di folder docs.

Untuk jelasnya lihat video berikut ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Memilih Ekosistem yang Baik

Mungkin Anda pernah mendengar istilah ekosistem dalam biologi. Ternyata dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal juga ekosistem dalam arti lingkungan tertentu di sekitar kita. Ketika belajar di kampus kita memiliki ekosistem perkuliahan yang terdiri dari teman, dosen, tata usaha dan lain-lain. Namun jika dilihat walaupun kuliah di kampus yang sama, dua orang mahasiswa akan memiliki ekosistem yang berbeda. Ada yang suka belajar kelompok, ada yang suka demo, pacaran, luntang-lantung dan segala ekosistem yang dipilih oleh seorang mahasiswa.

Ada pepatah, jika Anda berteman dengan pedagang parfum, Anda akan terimbas wanginya. Silahkan pilih, dan saat ini tidak ada paksaan untuk masuk ke ekosistem tertentu. Tentu saja di awal, terkadang ketika sudah masuk, sulit untuk keluar. Nah, untuk para calon mahasiswa ada baiknya berhati-hati memilih ekosistem di kampus. Sesuaikan dengan minat dan niat yang baik karena terkadang ekosistem yang baik pun di dalamnya ada oknum-oknum yang menyesatkan.

Dalam dunia kerja ekosistem agak sedikit berbeda dengan ketika kuliah, karena persaingan sangat ketat. Memilih teman yang salah bisa berakibat fatal. Oleh karena itu kemampuan memilih rekan yang baik sangat penting. Beberapa pakar menyarankan menghindari ‘eneg’ alias energi negatif yaitu seseorang yang dapat melemahkan kinerja tim nya di suatu organisasi, misalnya selalu mengeluh, tidak puas, banyak tuntutan, memaksakan kehendak dan hal-hal lain yang seharusnya bisa Anda rasakan.

Bagaimana jika salah masuk? Di sini keberanian untuk hijrah sangat diperlukan. Menolak terkadang pekerjaan yang sulit tapi bisa jadi penyelamat Anda. Ekstrimnya, Anda harus berani keluar dari pekerjaan yang tidak cocok. Pernah beberapa tahun bekerja di bank, berangkat pagi pulang sore, menyelesaikan problem yang tidak ada habisnya. Mungkin cocok di awal, tetapi lama-kelamaan ketika tidak ada yang dilakukan lagi, mau tidak mau banting stir ke karir sebelumnya sebagai pengajar, walaupun tipe introvert seperti saya tidak cocok. Toh, keinginan untuk berbagi pengalaman dapat memperlancar proses transfer iptek dan pengalaman.

Bidang-bidang lain pun tidak jauh berbeda. Slash, gitaris Gun and Roses pun di akhir grup sebelum bubar merasakan kehampaan karena merasi ‘nothing I can do’. Atau gitaris deep purple yang bosan memainkan lagu jadul yang itu-itu saja. Puncaknya meninggalkan grupnya bahkan ketika sedang manggung.

Di era online saat ini, mencari ekosistem berupa komunitas mudah sekali dengan bantuan media sosial. Tetapi manusia ternyata memerlukan sumber inspirasi. Terkadang tuntutan kapitalis memaksa pendidikan menyediakan manusia instan yang hanya diajari satu aspek pekerjaan tertentu. Bahkan saat ini Google bisa melatih seseorang beberapa bulan setara dengan sarjana yang empat tahun. Mungkin saja, tetapi banyak hal-hal tertentu yang ‘dipotong’. Bisa jadi yang dipotong tersebut sangat dibutuhkan oleh peserta didik secara tidak langsung.

Ada satu cerita di amerika, seseorang wanita berkirim surat ke seorang aktor film star trek terkenal, James Doohan. Dia mengatakan berniat untuk bunuh diri. Si aktor memintanya ke tempat tertentu karena diundang di situ. Setelah pertemuan itu, si wanita tidak lagi berkomunikasi. Delapan tahun kemudian di luar dugaan si wanita itu berkirim kabar. Dia mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan hidupnya lewat pertemuan dulu, sekaligus mengabarkan kalau dia baru saja memperoleh master di bidang elektronika. Oiya, james doohan di star trek berperan sebagai ‘scooty’ sang kepala insinyur yang mungkin diidolakan oleh si wanita yang mau bunuh diri itu, yang ternyata mahasiswa elektro. Nah, ternyata selain belajar bidang tertentu, mahasiswa terkadang memerlukan sesosok figur yang bisa secara langsung berkomunikasi, bekerja sama, dan melihat langsung sepak terjang orang yang diidolakan, yang tidak dapat diperoleh lewat online atau program instan lainnya. Sekian, untuk para mahasiswa baru, selamat berjumpa dengan ekosistem yang baru.

The Simple Feynman

Seperti anak-anak yang lain, saya sempat khawatir dengan ujian akhir SMA (dulu namanya EBTANAS) dan saringan masuk PTN (dulu namanya UMPTN). Wajar, pengetahuan dari SD – SMA harus dikuasai sebanyak mungkin agar bisa menjawab soal-soal yang ditanyakan. Nah, momok terberat adalah fisika yang memang lingkup pertanyaan sangat liar. Dengan sedikit modifikasi narasi, terkadang siswa yg jago menghafal rumus pun kewalahan. Lalu bagaimana dong?

Di akhir orde lama, ada seorang fisikawan yang menerima hadiah nobel, bernama Richard Feynman. Dengan memperkenalkan sebuah fenomena fisik yang tadinya rumit menjadi serderhana lewat diagram Feynman. Ternyata selain konten dari temuannya, malah metode belajarnya yang banyak diikuti oleh para ilmuwan hingga saat ini.

Ternyata prinsip dasarnya adalah sederhana, yaitu menjelaskan dengan tepat. Ini merupakan skill dasar bagi seorang pengajar, entah itu guru maupun dosen. Contohnya, kita pernah membaca ayat suci, biasanya sulit dimengerti walaupun sudah baca artinya. Kalau pun mengerti, tidak lama lupa lagi. Bandingkan dengan kalau mendengar dari KH Zainuddin MZ, dengan penjelasan dan ilustrasi-ilustrasi yang kadang ‘mengocok perut’, sampai sekarang masih terngiang-ngiang. Yang paling ekstrem adalah Gus Dur dengan istilah-istilah simple-nya.

Saya pernah heran mengapa ketika kuliah tidak faham-faham satu bagian tertentu pelajaran, tetapi ketika lulus dan mengajar barulah mengerti. Hal ini karena ketika belajar saya harus bisa mengajarkan kembali. Di situlah peran ilmunya Feynman, bagaimana menjelaskan ke orang lain. Ketika kuliah dulu, memang sering saya jumpai dosen yang senang lihat siswanya pusing. Nah, karena pernah merasakan pusingnya masa kuliah, saya merasakan pentingnya memberikan penjelasan ke siswa dengan mudah.

Walau di era multimedia penjelasan dengan animasi, video dan suara dapat mempermudah pemahaman, tetapi tetap saja bahasa merupakan hal utama dalam menjelaskan satu konsep. Cara paling mudah belajar menjelaskan adalah menggunakan kalimat sendiri terhadap satu konsep tanpa menghapal buta. Mirip ketika menulis artikel ilmiah yang harus mem-parafase kalimat agar tidak terkena plagiarisme karena mirip dengan sumber lain.

Silahkan buat sesederhana mungkin, tetapi seperti kata Einstein, jangan menjadi terpotong yang hasilnya jadi tidak lengkap. So, fokus ke penjelasan se jelas-jelasnya yang bahkan ketika Anda jelaskan satu konsep, anak SD pun faham.

Kecerdasan Emosional Sang Penyelamat

Memang enak memiliki IQ yang tinggi seperti Prof. Habibie atau A. Einstein. Ada problem, dalam waktu sekejap dapat diselesaikan. Apalagi bagi pelajar dan mahasiswa. Tugas yang berat tidak terasa, hanya dalam sekejap selesai sudah, dan bisa lanjut nonton, jalan-jalan, atau mainan HP.

Itu yang saya rasakan ketika SMA dulu, terkadang iri dengan mereka yang ‘di atas rata-rata’, tanpa susah payah dalam memahami sesuatu. Nah, bagaimana menyikapi kecerdasaan yang rata-rata seperti saya contohnya?

Di atas langit ada langit. Itulah pepatah kuno yang kadang bisa membuat kita ‘pede’ ketika menghadapi orang ‘super’ di sekolah. Kalau saya kalah oleh yang lain, pasti ada saja saya yang menang dari yang lain. Tiap manusia ada kelemahan dan juga kelebihan. Beruntunglah jika diberi kesabaran, ketabahan, dan aspek kecerdasan emosi lainnya.

Mengapa tipe kecerdasan emosional tersebut penting? Sebagai contoh, jika mereka mampu memecahkan problem 1 jam, dan anda 3 jam atau bahkan seharian, tidak apa-apa, toh selesai juga. Nah, jika ada problem yang oleh orang-orang ‘super’ itu bisa dikerjakan dalam 3 jam tapi ketika jam ke-dua mereka menyerah, toh tidak ada gunanya kecerdasan yang padahal 1 jam lagi beres. Bahkan kalah oleh orang yang rata-rata yang beres dikerjakan dalam satu atau dua hari misalnya.

Bahkan ketika kelas 1 SMA karena pusingnya dengan mata pelajaran kimia, saya sempat utak-atik sampai pagi, padahal harus ke sekolah esoknya. Benar saja, si ibu guru menegur saya “ikut ronda ya?”. Toh, ujung-ujungnya hasilnya di atas mereka yang kecerdasannya di atas rata-rata.

Masa SMA yg singkat tapi paling berkesan

Bagaimana dengan studi doktoral? Nah, di sini kecerdasan emosional menentukan mengingat hampir semua problem mahasiswa doktoral itu tidak ada/belum ada yang menyelesaikan. Pembimbing pun kebanyakan tidak/belum menyelesaikan. Mereka hanya bisa memberi saran saja. Sangat penting untuk menjaga ‘ritme’ agar tetap fokus, menjalin komunikasi yang baik dengan promotor, termasuk juga hubungan dengan keluarga. Banyak mahasiswa yang bermasalah keluarganya ketika kuliah karena kurang menjaga hubungan dengan suami/istri, anak, dan kerabat lainnya.

Jangan bermimpi ketika mengambil doktoral anda melihat jawaban jelas di ujung. Ganti judul, tema, ganti metode, sudah hal yang lumrah ketika penelitian berjalan. Jika tidak tahan dan kurang sabar, pasti akan stress. Banyak rekan saya yang meninggal ketika pandemi karena kemungkinan besar sistem imun di tubuhnya menurun karena tuntutan riset doktoral. Sabar, mampu menunda kesenangan, dan tidak takut keluar dari zona nyaman mutlak diperlukan. Jika tidak mau berubah mana mungkin bisa berubah dari master menjadi doktor.

Kondisi ekstrem lain adalah walau otak kita tidak mampu terkadang, pihak-pihak, rekan sejawat, dan teman ngobrol/ngopi terkadang bisa membantu. Banyak mahasiswa doktoral yang lulus dengan bantuan orang lain, tentu saja sebagian, entah itu membantu mengolah data, penarikan sample, pembuatan program, model dan lain-lain. Hal itu lumrah dilakukan, yang penting konsep utama si mahasiswa mengerti. Nah, di sini saya sering melihat rekan-rekan yang awalnya biasa-biasa saja ternyata lulus dengan cepat, sementara yang ‘melejit’ di awal ternyata terbengkalai di akhir karena kurang ‘tahan’ atau tidak sabar.

Kadang ide berasal dari rekan di tempat ngobrol

Tentu saja tiap orang banyak kelemahan yang harus di atasi, seperti saya misalnya. Ada dua rekan saya dari negara lain yang mengatakan saya malas, lambat, dan sejenisnya. Tapi memang rata-rata orang Indonesia santai, mungkin sudah bawaan budaya kita, apalagi saya yang orang Jogja. Ketika sadar hal itu, maka saya mengambil sikap untuk lambat tapi terus menerus, hingga kagetnya ternyata lulus duluan (bersamaan dengan satu rekan saya yang lain). So, jangan berkecil hati.

Ucapan selamat dari pak atase kebudayaan Indonesia saat wisuda

Thanks to My Student

Every scientist should do a research. This activity is part of three main tasks of lecturer in Indonesia, called ‘Tri Darma’ beside other activities, i.e., the teaching and social service activity. There is a requirement in Indonesia that every research should be published in a journal or conference. This outcome is called ‘luaran’. Of course, there are many levels of publisher based on the quality of the journal/conference. In journal we have quartile in Scopus (Q1 to Q4) as well as impact factor in web of science (WoS). The minimum requirement is the publication in a national journal.

To do the research, a scientist need a lot of collaboration to another scientist that usually a lecturer or student. The ethic should be considered, for example, a student thesis in publication should be arranged where the student as first author. The lecturer if he/she want as the first author, he should do his/her own research or writing a review paper about his/her student research. If the lecturer find the improvement by compiling the results from previous student’s work he/she can publish a paper where he/she become a first author.

Publishing a paper is a hard work that need a lot of resources. Therefore, everyone should appreciate to another scientist result. And I respect to all my students that has successfully published our research. Thank you very much.

Kekalahan

Satu kata yang menjadi judul postingan ini sangat dihindari oleh kita. Namun sesungguhnya tanpa ada kata tersebut tidak ada lawan kata lainnya, yaitu kemenangan. Postingan ini sedikit membahas kondisi timnas Indonesia yang di leg 1 kalah 4 – 0 dari Thailand, setelah di awal-awal menunjukan kinerja yang menjanjikan, yaitu mengalahkan Malaysia dan imbang dengan Vietnam.

Thailand bagi saya tidak asing karena hampir 5 tahun tugas belajar di negeri gajah putih itu. Negeri kerajaan itu sangat berbeda dengan negara-negara asia tenggara lainnya. Perpaduan antara modernisasi dengan adat istiadat ternyata bisa melahirkan budaya kuat bagi rakyatnya.

Negara penganut Budha tersebut sangat menghormati biksu dan rajanya. Percaya dengan karma dimana perbuatan akan dibalas setimpal menyebabkan rakyatnya berfikir dua kali untuk berbuat jahat. Bahkan ketika kita menepuk nyamuk dengan amarah di depan mereka, tatapan mereka langsung terlihat kecewa, terutama di daerah pinggiran kota. Ketika berburu durian di pasar Thailand malam hari, tampak para pedagang lebih suka tidur dengan kelambu dari pada membakar obat nyamuk atau menyemprot pembasmi serangga.

Di bandara sering berjumpa dengan rombongan remaja Thailand yang menyambut para pemain yang mewakili negaranya, entah pertandingan apa. Tampak wajah sumringah para pemain ketika disambut. Saya yakin di dunia maya pun perlakuannya akan seperti itu. Para pemain yang mewakili negaranya, juga mewakili raja akan berjuang mati-matian. Ketika pulang pun akan disambut tidak perduli menang atau kalah.

Di berbagai bidang negara tersebut sebenarnya memiliki bibit yang tidak beda dengan negara kita. Namun keseriusanlah yang membedakan. Bayangkan saja, negara yang memiliki riwayat tanah yang kurang subur memiliki hasil bumi yang terkenal hasil utak-atiknya. Sampai-sampai istilah ‘bangkok’ menggambarkan buah yang super besar seperti jambu bangkok, pepaya bangkok, ayam bangkok dan lain-lain.

Untuk memulainya ada baiknya kita serius dalam segala hal. Bahkan sebagai suporter pun harus serius. Jangan sampai hanya mengagumi dikala menang saja. Saat terpuruk pun suporter harus sesuai dengan maknanya yaitu ‘pendukung’, bukan sebaliknya ‘pembully’.

Riset yang dilakukan Microsof mungkin ada benarnya, nitizen kita kerap kebablasan dalam memberikan komentar. Sanjungan setinggi langit bisa berbalik menjadi caci maki sejadi-jadinya. Bahkan media masa pun latah dan melihat peluang karakter pembully nitizen sehingga membuat konten ibarat menyiram api dengan minyak.

Tidak ada ruginya menghormati seseorang, apalagi bangsa sendiri. Semoga bangsa kita berjaya seperti era keemasan dulu. Yuk, kita dukung timnas sepakbola dan cabang olah raga lainnya. Udahan dulu ya, mau nonton final leg2 piala AFF . Semoga menginspirasi dan selamat tahun baru 2022.

Santai, Tapi Pertahankan Minat & Fokus

Berbeda dengan S2 yang tingkat kelulusannya di dalam negeri hampir 100%, S3 ternyata tidak semudah itu. Banyak rekan-rekan saya yang berguguran (bahkan dalam makna sebenarnya). Postingan ini sedikit memberi gambaran bagi Anda yang ingin melanjutkan ke jenjang terakhir keakademikan.

Melihat rekan-rekan banyak menjumpai hambatan ketika S3, seorang rekan saya bertanya. Pertanyaannya sederhana tapi ‘to the point’, yaitu ‘sanggupkah saya melanjutkan s3?’. Jawaban yang sulit.

Banyak webinar-webinar dan doctoral bootcamp yang membahas kiat-kiat studi lanjut. Berbeda dengan S2 yang hanya berkutat dengan adanya dana baik beasiswa maupun biaya sendiri, jenjang S3 mengharuskan calon mahasiswa memahami benar alur perjalanan seorang mahasiswa doktoral. Namun karena panjangnya alur tersebut, pada postingan ini akan berfokus pada mental.

Karena bukan psikolog, tulisan ini sekedar pengalaman pribadi. Benar atau tidaknya tergantung kondisi, bisa jadi sedikit berbeda dengan kondisi pembaca sekalian.

Biasa Saja

Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah ketika mengambil suatu pelatihan, pendidikan, upgrading, atau apapun sebutannya adalah adanya kebanggaan. Boleh saja, tetapi jangan terlalu lama, kembalilah berpijak ke bumi.

Ibarat dunia selfi yang cenderung foto makanan dulu sebelum dimakan, mulailah dengan langsung saja makan. Membaca atau mengetik, langsung saja lakukan. Dulu, guru Biologi saya pernah menyindir siswanya yang tidak paham2 dengan menyuruhnya ‘langsung membaca’ dan jangan menganggap membaca atau mengerjakan tugas dengan ritual yang perlu persiapan panjang seperti yasinan, atau malah membakar kemenyan, mandi kembang, dan sejenisnya.

Jangan Baper

Di sini baper artinya ‘bawa perasaan’ yang bukan hanya dari sisi negatif (sakit hati, emosi, tersinggung, dan lain-lain) melainkan juga yang positif (tertarik, semangat, dan berapi-api). Maklum, namanya ‘mainan’ baru cenderung melupakan yang lain yang bahkan lebih penting. Banyak teman-teman yang punya karakter ‘hangat-hangat tahi ayam’, alias semangat di awal saja. Melihat metode baru, software terkini, dan hal-hal wah lainnya terkadang latah. Skill yang kita miliki bertahun-tahun jangan sampai dilupakan, ingat ada prinsip 10000 jam untuk menjadi ahli. Bisa jadi kita melihat kita kurang ahli, padahal sesungguhnya menurut pandangan orang kita ahli. Mungkin ada kebosanan dan ingin hal-hal baru, padahal banyak hal-hal yang bisa kita kembangkan dari keahlian yang sudah dimiliki, dari pada mencari hal-hal baru dan mulai dari nol lagi, hanya karena Anda sangat bersemangat.

Steady State

Dalam dunia fisika ada istilah steady state atau kondisi tunak. Biasanya dialami oleh mahasiswa S3 ketika sudah proposal dan masa kondisi transient terlewati. Waktu yang lama dengan progress yang sepertinya tidak secepat kondisi transient (kuliah + membuat proposal) terkadang membuat kita lupa, tahu-tahu waktu sudah mendekati limit. Saya ingat rekan saya berkata disertasinya tidak ada manfaat dan kontribusi bagi lingkungan. Ya, namanya novelty terkadang terasa tidak ada manfaatnya, seperti De Morgan yang menemukan teori-teori logikanya tetapi oleh rekan-rekan jamannya dianggap ilmu yang tak berguna, bahkan dikira orang ‘sinting’. Ternyata ketika komputer ada, baru sadar logika-nya dapat diterapkan.

Oiya, banyak kerjaan-kerjaan mahasiswa S3 yang harus dikerjakan, bahkan tanpa kita yakin berhasil atau tidak. Namanya saja mencari kembali (research), kalau dalam pencarian tidak ketemu ya sabar saja. Ada juga kerjaan remeh temeh yang terpaksa dikerjakan walau tidak menarik. Nah, ini dia yang penting, ketika Anda santai mengerjakan sesuatu yang ‘garing’, ‘membosankan’, ‘ga keren’, atau istilah lain yang menggambarkan hal-hal yang membuat enggan melakoni, artinya Anda sudah siap menjadi mahasiswa doktoral. Banyak yang gagal karena enggan melepas kaki yang masih di dermaga (jabatan, tunjangan, proyek, dll) sementara kaki lain sudah di perahu (studi lanjut). Yuk .. lanjuuuut.