Menyederhanakan Alamat Link dengan Bit.ly

Memang ketika membagi alamat situs yang berisi data selayaknya ditulis lengkap dengan menyertakan nama domainnya. Tetapi terkadang dengan menuliskan secara lengkap, ketika berbagi data dengan rekan tim jika ditulis terlalu panjang sedikit merepotkan, ditambah lagi dengan link yang berisi kode-kode tertentu yang tidak “human readable“. Salah satu situs terkenal yang memberikan layanan penyederhanaan alamat situs yang di-share adalah bit.ly.

Manfaat yang saya rasakan dengan situs ini adalah mudah dalam mengingat alamat situs yang dibagikan dari/ke orang lain, terutama ketika menginfokan sesuatu secara ofline (bukan dengan WA, facebook, dan sejenisnya). Dengan format “bit.y/(keterangan)” maka orang lebih mudah mengingat/mencatat “keterangannya” dan terhindar dari salah tulis. Berikut ini langkah-langkah penggunaannya:

Mendaftar/Sign-up

Pertama kita diminta untuk mendaftar di bit.ly. Tekan tombol “Sign Up” untuk mendaftar. Jika malas mengisi data, bisa dengan sign up dengan facebook.

Menyederhanakan Link dengan Bitlink

Misalkan ada link seperti ini: https://drive.google.com/file/d/0BzvQ5rbP5stZUHRmMU1oTnJDOVVOOVRfRWZtNm8yeUdwamlz/view?usp=sharing

yang harus di share. Tentu saja sulit diingat, kecuali memang dengan cara copas. Dengan bit.ly kita tinggal memasukan ke isian link yang akan disederhanakan setelah menekan Create Bitlink dilanjutkan dengan mengeditnya. Misalnya saya edit menjadi: “10-tips-penulisan” yang tentu saja mudah diingat dan ditulis/diketik. Tekan Save dan alamat yang sudah disederhanakan siap dipakai.

Bandingkan link sebelumnya yang panjang dan disederhanakan menjadi: http://bit.ly/10-tips-penulisan saja. Mudah diingat bahkan jika ingin mengeshare secara lisan dapat dilakukan dengan kata “10-tips-penulisan” dengan alamat depan “bit.ly” yang juga mudah diingat. Sekian semoga bermanfaat.

Mencoba Open Journal System (OJS) Versi 3.1.0.0

Oleh: Herlawati

Ketika memberi pelatihan OJS 3 di kampus UNISMA Bekasi, ada beberapa hal baru yang dapat dibagikan di sini. Pertama-tama ternyata OJS saat ini masuk versi 3.1.0.0 dengan tampilan yang lebih “smooth” dibanding versi 3.0. Berikut beberapa hal spesifik yang menjadi kendala saat itu:

Role “jurnal manager”

Jurnal menager memiliki hak akses untuk melakukan beberapa aksi seperti mempublish artikel baru. Tetapi beberapa role harus diset di level di atasnya (admin) dan tidak mengikuti default-nya. Sebab jika mengikuti aturan default dari bawaan OJS3 memiliki banyak keterbatasan, terutama bagi pengelola jurnal baru yang harus mengupload edisi-edisi cetak lawas yang harus dionline-kan. Tentu saja jangan disamakan level jurnal manager dengan admin karena khawatir pengelola jurnal merusak e-journal (berisi beberapa jurnal di suatu institusi). Uniknya akun yang sudah dibuat default tidak bisa diedit, dan harus dibuatkan akun baru dengan hak akses yang tidak default. Terpaksa membuat akun-akun baru jurnal manager dengan hak akses yang tidak default (dengan fasilitas khusus).

Menu tambahan

Beberapa peserta berhasil menambahkan menu tambahan, tetapi ada satu jurnal yang tidak bisa ditambahkan menu tertentu seperti “Editorial Team” yang berisi nama-nama pengelola suatu jurnal. Kasus ini agak rumit karena hanya satu jurnal yang bermasalah sementara jurnal-jurnal lainnya oke.

Upload Gambar

Ketika menambahkan teks statis di bar vertikal kanan, dan akan memasukan logo/gambar ternyata tidak bisa upload gambar. Tetapi dengan menggunakan gambar/logo dari link sumber lain ternyata bisa. Sepertinya masih harus diteliti masalah upload gambar di OJS 3.1.0.0 ini.

Masih banyak hal-hal teknis yang perlu dibenahi. OJS buatan PKP ini pun terus membenahi diri dengan mempermudah penggunaannya. Maklum tidak semua pengguna memiliki background komputer. Oiya, silahkan berkunjung ke jurnal yang diutak-atik barusan di link berikut ini. Sekian semoga bermanfaat.

Pelatihan OJS3

Update: 24 Februari 2018

Info dari pertemuan antar pengelola jurnal di LIPI bahwa migrasi dari OJS 2 ke OJS 3 harus hati-hati mengingat tiap artikel yang dipublikasi memiliki Digital Object Identifier (DOI) yang unik dan ketika migrasi harus dipastikan tidak berubah. Sementara info dari PKP, perancang OJS, menyebutkan versi 3 memiliki keunggulan lebih dinamis, mudah dikustomisasi, dan theme yang lebih menarik. Silahkan lihat di link resminya.

Omong-omong Tentang Nasionalisme

Waktu itu ada kejadian di kampus tempat saya kuliah di Thailand. Mirip sekali dengan kejadian di kampus ketika saya ambil S1 di Jogja, yaitu maling yang tertangkap. Kalau di Jogja maling motor di tempat kosku habis dihajar massa, beda dengan kejadian di Thailand. Postingan ini sekadar obrolan ringan tentang nasionalisme dari pengalaman singkat di negeri orang.

Asrama di Thailand dihuni oleh kebanyakan mahasiswa non-Thai seperti India, Pakistan, China, dan salah satunya Indonesia. Ketika nongkrong dengan rekan dari Jogja, tiba-tiba istrinya yang baru tiba di dormitory khusus yang bawa keluarga menelepon karena kaget ada orang Thai yang masuk ke rumah. Ketika ditegur, orang itu bilang sedang memperbaiki listrik. Curiga bertambah ketika istrinya menanyakan apakah teman saya itu “request” perbaikan listrik dan jawabannya “tidak”. Kontan, teman saya yang sedang asyik ngopi ngacir pulang.

Kecurigaan bertambah ketika salah satu keamanan asrama memberitahu bahwa ada maling yang tertangkap, dan coba mengecek siapa tahu ada barang-barang yang disita dari tangan maling tersebut, salah satunya mata uang rupiah. Alhasil, jadilah rekan saya itu saksi di kepolisian Thailand. Setelah jadi saksi di kantor polisi, panas, dan lama, akhirnya teman-teman yang melapor kapok berurusan dengan polisi. Sedikit kecewa karena si maling hanya ditahan beberapa hari saja.

Nasionalisme Tetangga Kita

Ketika mengambil course work, yaitu tahapan sebelum riset, saya cenderung “dekat” dengan siswa Thailand. Dekat di sini karena menurut saya mereka sangat kompak, punya data-data materi kuliah, termasuk soal-soal ujian tahun lalu beserta tip dan triknya. Hasilnya selain nilai yang lumayan, saya bisa mengenali karakter mereka yang selalu mensuport rekannya yang senegara dengannya. Ketika melihat polisi yang terkesan membela si maling karena senegara, tentu saja akan membela rekannya yang bukan maling. Teman kuliah saya yang dari Bandung pun menyadari perbedaan perlakuan dosen yang berkebangsaan Thai dengan siswa Thai dan non-Thai. Menurut saya sih wajar saja, walau tidak se-ekstrim dengan negara kita. Perhatikan kejadian beberapa waktu yang lalu ketika maling yang tertangkap dan dibunuh beramai-ramai dengan cara dibakar, seperti hewan saja, padahal senegara dengan yang menangkapnya yang terkadang bukan selaku korban yang barangnya dicuri. Atau tengok saja sikap orang-orang kita terhadap lainnya yang sebangsa, hanya karena perbedaan “kulit terluar” seperti pilihan partai, calon kepala daerah, gubernur dan lainnya bisa lupa kalau sama-sama sebangsa dan setanah air.

Bagaimana dengan negara lainnya selain Thailand? Sepertinya tidak jauh berbeda, kecuali mungkin negara-negara berakhiran “-tan”. Baru pulang dan lulus kuliah, ketika kembali ke negaranya tiba-tiba ada kabar tewas dibunuh. Saya sempat bertanya ada apa di sana? Ternyata kabarnya harga nyawa terlampau murah. Orang dengan mudah membunuh hanya dengan bayaran sedikit saja (entahlah itu salah satu jawaban dari rekan yang tinggal di sana, mungkin saja tidak benar). Lucunya saya sempat ngobrol bertiga dengan teman India dan Pakistan. Ketika saya bertanya mengapa mereka terpisah menjadi dua negara? Padahal hanya beda agama saja. Mereka terdiam, saya jadi menyesal juga melontarkan pertanyaan iseng itu, untungnya tuan rumah yang berkebangsaan Pakistan langsung menawarkan Teh “Cai” yaitu teh dengan susu, suasana jadi hangat kembali. Memang ada isu-isu sensitif yang tidak boleh dibahas. Salah satunya adalah masalah darurat militer di Thailand. Ketika saya duduk berdua dengan seorang rekan dari Thailand dan menanyakan masalah itu, raut mukanya langsung pucat dan terdiam. Sepertinya generasi mudah negara itu khawatir akan bahayanya membahas perbedaan dalam politik. Mereka lebih suka membahas yang menurut mereka bernuansa hiburan, atau setidaknya hal-hal yang sehobi dan ada unsur kesamaannya bukan perbedaan.

Nasionalisme di Negara Indonesia

Cukuplah sila ketiga “Persatuan Indonesia” yang menggambarkan nasionalisme kita. Sukarno mengatakan kita sebangsa karena satu sejarah. Walaupun dengan Malaysia serumpun karena beda sejarah, kita bukan bangsa yang sama dengan mereka. Entah apakah masih relevan di era globalisasi ini statement Sukarno di buku karangannya (dibawah bendera revolusi) tersebut?. Misal dengan Timor Leste apakah kita satu sejarah? (satu dijajah Belanda satunya Portugis). Tetapi ketika ngobrol dengan teman dari Timor leste sepertinya saya merasa senegara. Ah entahlah, mungkin itu semua karena politik, yang membuat saya khawatir nanti ketika ngobrol dengan rekan dari Ambon, Aceh, atau Kalimantan, bukan senegara lagi. Jangan sampai lah.

So, kalau ada rekan senegara berprestasi, ikut banggalah. Kalau ada yang kurang, maklumin saja, toh dia rekan kita.

Beralih dari GUI ke Kode Program Pada Matlab

Graphic User Interface (GUI) atau yang sering diistilahkan dengan pemrograman visual saat ini menjadi keharusan suatu program komputer. Dengan GUI, pengguna mendapatkan kemudahan dalam menggunakan program yang dibuat. Sehingga tingkat keinginan penggunaan dalam menggunakan aplikasi tersebut menjadi tinggi (attitute toward usage). Maka tuntutan programmer terhadap bahasa pemrograman yang mudah dalam pembuatan GUI sangat tinggi saat ini. Matlab sendiri memiliki kemudahan tersebut. Berikut ini kemudahan-kemudahan yang disediakan Matlab.

Menambahkan Komponen-Komponen

Matlab memiliki banyak komponen-komponen untuk membantu dalam pembuatan GUI seperti tombol button (pushbutton), edit text, dan lain-lain. Pembuatannya sederhana, yaitu hanya dengan drag dengan mouse.

Beralih ke Kode

Untuk beralih dari jendela GUI ke pemrograman (coding) pada Matlab tinggal klik kanan pada komponen yang kita tambahkan di rancangan GUI. Pilih view callback lalu pilih salah satu pilihan, misalnya Callback, maka akan muncul jendela kode. Tentu saja harus disimpan terlebih dahulu project yang dikerjakan.

Silahkan masukan kode program di M-file editor yang baru dibuka. Cukup mudah, hanya saja untuk input teks agak sedikit ribet yaitu saat menangkap dengan membuat objek. Untungnya ada bantuan dari M-file untuk menangkap inputan.

Debug

Ketika uji coba program yang baru saja dibuat, terkadang dijumpai kesalahan-kesalahan sintaks. Matlab memberitahu lokasi baris tempat kesalahan. Cara mengetahuinya adalah dengan mengklik “line” di command window yang berwarna merah.

 

Open Journal System (OJS) Versi 3

Oleh: Herlawati, S.Si., M.M., M.Kom. (STMIK Bina Insani)

Open Journal System (OJS) adalah aplikasi gratis untuk mengelola jurnal. Aplikasi ini dibuat oleh Public Knowledge Project (PKP), silahkan kunjungi situsnya. Saat ini OJS sudah versi 3 dengan tambahan utama misalnya ORCID ID terlihat, serta tahapan proses publikasi lebih singkat dibanding OJS versi sebelumnya (versi 2). Selain itu tampilan lebih halus, bentuk sitasi yang kustom, dan lain-lain.

Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi tim Relawan Jurnal Indonesia (RJI). Beberapa waktu yang lalu, sebagai contoh perguruan tinggi Bina Insani mengadakan pelatihan OJS tersebut. Postingan tentang pelatihan kustomisasi OJS 3 dan MOU dengan pihak Relawan Jurnal Indonesia (RJI) korda Jakarta dapat dilihat link berikut ini.

Salah satu kustomisasi adalah mengaktifkan plugin. Plugin ini berfungsi untuk menseting komponen-komponen tertentu di OJS, seperti menambah focus and scope, peer review, template, alamat redaksi, stats counter, dan lain-lain. Silahkan video tutorialnya berikut.

Setelah diaktivasi, untuk menambah salah satu komponen, misalnya stats counter, akan dilanjutkan pada postingan lainnya.

Era Revolusi Industri 4.0

Dulu di bangku sekolah kita diperkenalkan dengan istilah revolusi industri di Inggris tahun 1760. Tiba-tiba muncul informasi dari sharing di grup WA revolusi industri versi 4.0. Ada baiknya kita melihat kembali ke belakang perkembangan revolusi industri yang terjadi hingga saat ini.

Revolusi Industri 1.0

Ini merupakan revolusi industri pertama yang ditujukan untuk mematahkan teori Robert Maltus akan kekhawatiran jumlah penduduk yang jauh lebih tinggi pertumbuhannya (deret ukur) dibanding pertumbuhan kebutuhan pokok (deret hitung). Penemuan mesin-mesin yang meningkatkan efisiensi dan jumlah produksi memicu revolusi industri pertama. Ditunjang pula oleh patent act yang membuat para ilmuwan berminat untuk menemukan mesin-mesin atau alat-alat baru.


Revolusi Industri 2.0

Rusaknya lingkungan membuat negara-negara industri berfikir keras menciptakan terobosan-terobosan baru tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Revolusi industri 2.0 dicetus oleh penemuan-penemuan di bidang kelistrikan.

Revolusi Industri 3.0

Tidak lama setelah perkembangan kelistrikan, ditemukan pula alat-alat elektronika dan telekomunikasi yang menciptakan temuan-temuan baru di bidang teknologi informasi dan elektronika. Revolusi industri 3 tidak berlangsung lama karena kemunculannya teknologi digital.

Revolusi Industri 4.0

Revolusi ini ditandai dengan era disrupsi, yaitu kemunculan industri-industri yang berbasis online (digital). Bukan hanya komputer, teknologi mobile sudah mewabah dan hampir semua orang terhubung secara online. Dalam revolusi ini peran inovasi menjadi penentu daya saing suatu produk di pasaran. Dan ternyata ada kesenjangan antara industri yang bergantung dengan inovasi dengan kesiapan tenaga kerja. Banyak penyedia lapangan kerja kesulitan mencari sumber daya manusia yang selain memiliki kemampuan literasi (baca, tulis, dan hitung) juga literasi data (big data), literasi teknologi (coding, dan pemahaman terhadap AI) dan literasi manusia (humanities, komunikasi dan disain).

industrial rev

Silahkan lihat power point menarik berikut ini:

Bagaimana mengatasinya? Jawabannya adalah pendidikan yang berkaitan dengan revolusi industri 4.0.

GEN-RI 4.0

GEN-RI 4.0 singkatan dari General Education + Revolusi Industri 4.0. Prinsipnya adalah literasi dari general education berkolaborasi dengan literasi data dan teknologi dalam kurikulum. Selain itu ada teknik baru dalam menghadapi perkembangan iptek yang sangat cepat, yaitu konsep belajar sepanjang hayat (life long learning). Peserta didik diharapkan terus mengupdate ilmunya mengikuti perkembangan IPTEK terkini.

Negara kita sedang mencoba menggabungkan belajar konvensional dengan online, yang dikenal dengan istilah blend learning yang difasilitasi oleh Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) dan jaringan IdREN (backbone). SPADA menerapkan banyak metode-metode baru yang berkaitan dengan pembelajaran online seperti:

  • Hybrid Credit Transfer
  • Rintisan Cyber University
  • Regulator dan penjaminan mutu PJJ (online learning)
  • Innovative-based learning
  • Flip learning (lihat post terdahulu tentang flip learning)
  • Dan Super Faculty.

Saya sedikit mendeteksi adanya “sesuatu” yang berefek terhadap dosen-dosen di tanah air, tapi belum begitu jelas, mungkin pembaca memiliki “penerawangan” yang tajam, dan bisa di share di komentar. Yang jelas, konsep belajar seumur hidup mengharuskan dosen belajar seumur hidup. Sekian, semoga bermanfaat.

Referensi

Praseyono, Agus Puji. 2017. https://ristekdikti.go.id/revolusi-industri-ke-4-dan-integrasinya-dalam-tata-kelola-negara/

Ahmad, Intan. 2018. Medan. https://drive.google.com/file/d/1nFR_Ap679jSPHPTkvYvWIGdPYsxRLnMn/view?usp=sharing

https://www.facebook.com/judianto/videos/10211421680240473/

Buku Teks vs Buku Elektronik dan Online

Media cetak dikabarkan mulai terdisrupsi dengan media elektronik dan online. Surat kabar-surat kabar mulai ditinggalkan dan pengguna cenderung lebih suka membuka website ketika ingin melihat berita. Media online lebih disukai karena sifatnya yang hampir realtime, dibanding misalnya surat kabar yang harus menunggu esok hari untuk melihat berita hari ini. Tetapi bagaimana dengan buku teks pelajaran?

Beberapa buku sudah saya coba terbitkan (terakhir database pada Matlab). Selain dari sisi materi (royalti), ada hal-hal lain yang dapat saya pelajari dari sudut pandang penerbit. Salah satunya adalah bagaiman mereka bisa eksis hingga saat ini, yang katanya masuk dalam era “disrupsi”. Mungkin beberapa aspek luput dari pantauan saya, tetapi beberapa point berikut mungkin bisa jadi bahan referensi.

Tuntutan Referensi

Selama masih ada orang yang kuliah, menulis tugas akhir/skripsi/disertasi, dan kegiatan akademik lainnya, tuntutan buku referensi pasti ada. Bahkan beberapa buku yang sudah saya publikasikan, habis dan harus dicetak ulang. Walaupun blog, youtube, dan instagram sedang “trend”, tetap saja tidak bisa dijadikan bahan rujukan resmi.

Perkembangan Teknologi yang Pesat

Beberapa ilmu, misalnya teknologi informasi, perkembangannya sangat pesat. Satu buku yang membahas suatu metode terkini, beberapa tahun kemudian akan jadi usang. Maka tuntutan buku panduan yang baru terus ada. Jika dulu buku referensi biasanya kampus mensyaratkan lima tahun terakhir, ternyata buku yang saya tulis 2015 sudah habis di tangan penerbit. Bagaimana jika dicetak lagi? Sepertinya masuk akal, tetapi penerbit lebih suka melakukan revisi (edisi kedua, tiga, dst) dibanding sekedar mencetak ulang. Hal ini karena pasti ada perkembangan baru selama buku tersebut beredar di pasaran yang harus di-update. Juga masalah pembajakan membuat penerbit terpaksa mencetak hal-hal baru.

Kewajiban Menulis bagi Pengajar

Ini merupakan pemicu tetapi hanya untuk pengajar yang produktif saja. Walau dipaksa jika pengajar tersebut enggan menulis tetap saja tidak tercipta satu karya. Namun dengan aturan, biasanya akan jalan juga, mirip kasus dosen harus S2. Rekan-rekan saya yang malas studi lanjut terpaksa kuliah lagi, atau menyelesaikan kuliah S2-nya yang terbengkalai bertahun-tahun.

Lebih Nyaman Membaca Buku Tercetak

Tidak disangkal buku dalam format PDF banyak dijumpai di internet. Terkadang jumlahnya sangat banyak, hingga bingung dan satu pun tidak ada yang dibaca. Ingat era “big data”, bahwa mencari informasi berharga sama beratnya dengan membuang informasi yang tidak berharga. Bill gates sendiri menyarankan kita membaca buku teks dibanding online. Memang beberapa pemerhati lingkungan mengatakan buku menghabiskan kayu di hutan, tetapi membaca online membutuhkan listrik yang diambil dari sumber yang belum tentu “green”, misalnya solar, bahkan nuklir. Server Google sendiri (ditambah server-server online lainnya) membutuhkan air berkubik-kubik untuk media pendingin padahal beberapa daerah di belahan dunia kekurangan air.

Harga Buku Bersaing

Ketika melihat buku karangan sendiri di toko buku, tampak kertas yang kualitasnya rendah. Tapi harganya yang murah membuat orang lebih baik membeli asli dibanding memfoto kopi sendiri karena selisihnya yang tidak terlalu signifikan. Pembajakan pun akhirnya sedikit banyak dapat diatasi. Tapi jumlah penduduk negara kita yang banyak, jumlah kampus dan perpustakaan yang kabarnya lebih banyak dibanding negara RRC membuat permintaan buku tetap ada, tinggal memasyarakatkan budaya membaca saja. Maklum budaya membaca negara kita sangat lemah (maksudnya membaca tulisa utuh, bukan status di medsos, atau baca judul informasi yang dishare orang saja).

Banyak Toko Online

Mungkin orang malas ke toko buku, tetapi dengan adanya toko online mereka dengan mudah memesan buku yang harganya jauh lebih murah dari beli ke toko buku. Sudah biasa saat ini, penulis ikut juga menjual bukunya, dengan harga jauh lebih murah. Rekan saya yang diwajibkan “stor buku” saat wisuda pun sempat kewalahan karena “jatah buku” yang harus disetor tidak ada di pasaran (sudah habis). Namun ternyata dengan memesan langsung ke penulis akhirnya dapat juga.

Sepertinya masih banyak faktor-faktor pendukung lainnya. Aspek online yang tadinya tantangan bagi buku ofline terkadang bisa membantu juga, seperti sistem searching yang memudahkan penulis mencari informasi baru, sistem anti plagiasi yang mudah bekerja karena segalanya tersedia online dan lainnya. Jadi memang mudah mencontek, tetapi mudah pula mengecek seseorang plagiasi atau tidak. Hal ini memaksa pengajar menulis tulisan original sendiri. Malu kalau ketahuan copas sana sini. Sekian … semoga menginspirasi.

 

Perbedaan Artikel Riset dan Artikel Review

Ternyata artikel (paper) dalam jurnal ada dua jenis, yaitu artikel riset yang merupakan laporan hasil penelitian dan artikel review yang berisi pembahasan terhadap trend perkembangan riset penulis-penulis lainnya. Walaupun artikel review hanya membahas/me-review artikel-artikel riset peneliti lain, tetapi sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang ingin memulai penelitian, biasanya para mahasiswa, terutama program master atau doktoral. Artikel review juga memiliki keunggulan dari sisi jumlah sitasi yang biasanya banyak. Berikut perbedaan-perbedaan antara dua jenis artikel tersebut.

Tujuan Artikel

Artikel riset membahas laporan riset yang menjawab pertanyaan riset penulis. Keoriginalitasan dan keunikan menjadi penentu kualitas tulisan. Sementara artikel review mengkritisi tulisan orang lain (kelemahan dan kelebihan). Artikel review membutuhkan artikel yang banyak untuk dikritisi. Pengalaman penulis terkadang menentukan kualitas artikel review.

Basis Tulisan

Artikel riset berasal dari hasil penelitian yang original seorang penulis. Oleh karena itu sering disebut sumber tulisan primer. Sementara itu artikel review berasal dari tulisan orang lain (bukan original). Walaupun demikian tetap saja tulisan jenis ini dibutuhkan karena memberikan informasi-informasi penting terkait dengan trend terkini suatu penelitian.

Cara Penulisan

Artikel riset menulis berdasarkan pertanyaan penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data dan tahapan-tahapan riset lainnya (dari analisis hingga kesimpulan). Berbeda dengan artikel riset yang berdasarkan pertanyaan penelitian, artikel review berdasarkan pemilihan penulis terhadap topik khusus yang akan dibahas dilanjutkan dengan menampilkan overview dari artikel-artikel yang diteliti.

Apa yang Dilaporkan

Artikel riset menulis abstrak, hipotesa, background study, metodologi, hasil dan interpretasi temuan hingga hasil, temuan, dan riset yang akan datang. Sementara itu pada artikel review penulis mendeteksi variasi-variasi antara satu artikel dengan artikel lainnya. Terkadang terjadi konflik antara satu artikel dengan artikel lainnya. Penulis kemudian mendeteksi mengapa terjadi kontradiksi pada tulisan-tulisan tersebut berdasarkan riset yang dilaporkan tulisan tersebut.

Panjang Tulisan

Artikel riset (3000-6000 halaman, bahkan ada yang 12000) umumnya lebih panjang dibanding artikel review (3000-5000). Artikel riset memiliki tujuan lainnya yaitu agar riset dapat diduplikasi/diulang oleh peneliti lain, sehingga butuh informasi lengkap mengenai data dan metodenya.

Artikel review memiliki tiga bentuk yaitu naratif, sistematik dan meta-analysis. Bentuk naratif berisi penjelasan suatu artikel yang dipublikasikan. Sementara itu, sistematik lebih mendalam dari sisi pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dalam suatu riset. Meta-analysis membandingkan dan mengkombinasikan temuan-temuan artikel-artikel riset. Agar artikel review bisa “accepted” di journal internasional perlu terlebih dahulu memperhatikan kelayakan tulisan kita untuk dipublikasikan. Beberapa kampus yang membuka program doktoral yang mensyaratkan publikasi jurnal tidak mengakui artikel review sebagai syarat lulus. Oleh karena itu tidak disarankan bagi mahasiswa doktoral menulis jenis artikel review ini. Sekian semoga bermanfaat.

Referensi:

Steganografi Untuk Menyembunyikan Pesan

Steganografi adalah teknik menyisipkan pesan ke dalam suatu media agar kerahasiaan pesan tersebut terjaga. Berbeda dengan kriptografi yang tampak ada pesan yang ditutupi, pada steganografi bahkan orang lain tidak tahu kalau ada pesan yang dirahasiakan karena menempel pada suatu media, misalnya gambar, musik, dan lain-lain.

Untuk mencoba fungsi steganografi pada Matlab, silahkan unduh M-file dari situs berbagi fungsi di sini. Sebaiknya login terlebih dahulu jika ingin mengunduh file lengkapnya. Jika tidak punya akun, bisa signup terlebih dahulu dengan mengisi data. Jika sudah diunduh, siapkan dua gambar, satu gambar rahasia dan sisanya untuk penutup (cover). Gunakan imresize terlebih dahulu agar kedua gambar berukuran sama.

Untuk menerapkan ada baiknya menggunakan citra hitam-putih, sebab jika menggunakan RGB harus dimodif m-filenya agar ukuran matriksnya MxN tanpa ada tambahan MxNxt. Gambar kiri adalah gambar penutup, sementara yang kanan yang akan disembunyikan.

Selanjutnya gambar 2 (kanan) akan disisipkan ke dalam gambar 1 agar gambar tanda tangan tidak tampak. Perhatikan gambar berikut yaitu gambar yang berisi tanda-tangan di dalamnya.

Pada gambar di atas tidak tampak gambar tanda-tangan, padahal jika gambar tersebut diekstrak (dikurangkan dengan cover image) akan menghasilkan ekstrak gambar seperti di bawah ini.

Siapa sangka gambar foto saya memiliki gambar rahasia (tanda tangan) di dalamnya. Sekian semoga bermanfaat.

Menyimpan Data dalam Bentuk Struktur (Struct)

Ketika mengimpor data dari sistem basis data (biasa atau spasial), biasanya berbentuk struktur. Misalnya mengimpor data spasial dari sebuah shapefile berikut ini.

>> a=shaperead(‘Commercial.shp’)

a =

344×1 struct array with fields:

Geometry

X

Y

Id

Name

Untuk melihat isi dari “Name” cara melihatnya adalah dengan titik antara nama struktur (“a”) dan nama field-nya.

>> [a.Name]

ans =

Kimia FarmaBlue Bird PoolPusat Arsip JAMSOSTEKBaliku Agung PerkasaSiantar ….. dst

Sedikit berbeda dengan tabel, struktur memiliki bentuk sebaliknya, yaitu baris untuk field dan kolom untuk record. Jadi jika ingin “mengutak-atik” perlu dilakukan proses transpose terlebih dahulu.

Menyimpan Data dalam Format Struktur

Untuk mengetahui caranya, silahkan mengetik “help save” di command window. Di bagian bawah ada penjelasan bagaimana membuat file mat dengan tipe struct (struktur). Coba saja “copas” kode berikut ini:

s1.a = 12.7;

s1.b = {‘abc’, [4 5; 6 7]};

s1.c = ‘Hello!’;

save(‘newstruct.mat’, ‘-struct’, ‘s1’);

Perhatikan di folder, muncul satu file baru bernama ‘newstruct.mat’ yang berisi tiga variabel yaitu a, b, dan c. Bagaimana memanggilnya? Mudah saja ketik di command window “load newstruct”. Beberapa function membutuhkan bentuk struktur ini, so semoga bermanfaat.

Update: 14/2/2018

Ternyata bisa juga dengan format:

save(‘newstruct.mat’,’s1′)

Standar Penulisan Gelar Akademik

Penulisan gelar akademik yang benar dan mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia sangat penting terutama pada bagian tenaga kependidikan (TU, SDM, dan pendukung bidang akademik lainnya). Banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi. Biasanya adalah tidak disertakannya titik “.” antara kata pertama dengan kedua, misalnya seharusnya S.T. tetapi ditulis ST saja tanpa titik. Saya sendiri sering salah menulis “Ph.D” tanpa titik setelah “D”, sementara berdasarkan kaidah bahasa Indonesia menggunakan titik “Ph.D.”.

Banyak situs-situs di internet yang menguraikan bagaimana penulisan yang tepat. Cara mengetahui penulisan yang tepat ada baiknya melihat surat-surat yang dibuat oleh lembaga resmi negara, misalnya di bawah ini, yaitu lampiran undangan peserta calon asesor beban kerja dosen (BKD) dari kopertis IV Bandung.

Oiya, kebetulan lampiran peserta tanggal 1 februari ini tidak ada profesor yang standarnya adalah ditulis “Prof.” Silahkan lihat lampiran yang ada profesornya di link ini sebagai rujukan bagaimana menulis gelar yang tepat. Memang gelar tidak dibawa mati, tetapi dengan gelar kita jadi banyak mengajar dan ilmu yang diajar takkan putus oleh kematian.

Konversi UTM ke Latitude – Longitude (Terapan)

Ada tugas revisi buku, dan rencananya ada tambahan di bagian implementasi Matlab dengan sistem basis data (Access dan MySQL) yaitu data spasial dan pemrosesan teks. Cukup menarik ternyata Matlab memiliki banyak fasilitas, bahkan sistem informasi geografis (SIG) pun dilayani. Postingan singkat ini (lanjutan dari post yang lalu) menggambarkan bagaimana mengutak atik SIG dengan Matlab.

Salah satu komponen penting dari SIG adalah proyeksi. Salah satu proyeksi yang terkenal adalah Universal Transverse Mecartor (UTM) yang membagi bumi menjadi zona-zona. Untuk komputasi lebih mudah menggunakan jenis koordinat desimal ini, dibanding dengan jam, menit, detik atau lintang dan bujur. Repotnya ketika selesai melakukan kalkulasi dengan Matlab terkadang untuk menampilkan ke SIG berbasis web (Web SIG) perlu dikonversi ke latitude (lintang) dan longitude (bujur).

Setelah searching seharian dari situs yang remeh temeh hingga yang serius, ternyata situs Matlab sudah menyediakannya (lihat link ini). Karena tidak tersedia di instalasi Matlab, mau tidak mau harus membuat M-file yang dikopi dari situs tersebut. Untuk teori dasar silahkan lihat link ini (sebaiknya jangan deh, ntar pusing he he).

Jadi prinsipnya setelah matlab mengolah data spasial, kemudian hasilnya sebelum dikirim ke Web SIG dikonversi terlebih dahulu dari UTM ke lintang bujur karena Google Map API (lihat caranya) memerlukan data lintang bujur bukan UTM (kabarnya ada juga gmap4 yang bisa menggunakan UTM). Walau singkat semoga bermanfaat.

Program Kuliah Doktoral yang Keras

Lihat di grup masjid kampus, cukup terenyuh oleh pamitnya rekan senior padahal belum selesai studinya. Teringat bantuan dan arahan yang dulu diberikan karena memang dia seorang Teaching Assistant (TA). Ketika saya telat datang, dia yang berkebangsaan negara di Asia Selatan, dengan suka rela memberikan satu CD berisi software ubuntu yang wajib digunakan dalam perkuliahan Web Programming (dengan ruby and rails). Setelah hampir sepuluh tahun kuliah doktoral, sepertinya dia harus pulang, entah alasan apa yang membuatnya tidak meneruskan kuliah, yang jelas saya dulu banyak dibantu olehnya.

Lengkap sudah saya kenal dengan rekan kuliah yang tidak selesai, pertama pulang karena alasan keluarga (tidak bisa ditinggal jauh), kedua meninggal, dan yang terakhir kelamaan kuliah. Dulu pun saya pernah mendengar cerita-cerita kegagalan mahasiswa doktoral, termasuk dosen saya waktu kuliah S1 dulu, tapi itu hanya dari mulut ke mulut. Berbeda dengan saat ini yang mengetahui langsung, bukan saja cerita tapi ikut merasakan kesulitan ketika bersamanya. Mungkin hal-hal berikut yang bisa “mengganggu” mahasiswa doktoral, bahkan menjadi penyebab kegagalan:

Syarat Course Work yang Berat

Tidak semua kampus mensyaratkan ikut kuliah dulu sebelum riset, tapi kebanyakan mensyaratkannya. Bahkan di Eropa ada gelar M.Phil. yang diberikan oleh mahasiswa doktoral yang tidak berhasil lolos ujian menjadi calon doktor (Ph.D.). Saya sendiri mengalami kesulitan karena memang background yang bukan dari jurusan sesungguhnya (multidisiplin). Repotnya terkadang kuliah digabung dengan mahasiswa master dan nilainya distribusi normal. Nilai bagus akan jadi buruk jika yang lain lebih bagus. Ditambah tugas project yang bareng dengan mahasiswa master yang kebanyakan malas karena bagi mereka c+ pun sudah lulus, dan hampir lulus semua. Sementara mahasiswa doktoral wajib minimal B+ atau total IPK = 3.5. Untungnya setelah mati-matian saya memperoleh 3.5 (A, A, B+, B, B, B+). Benar-benar mujur, pas, kalau tidak harus mengulang lagi dengan ancaman tidak dicover dari beasiswa jika melewati masa “jatah” beasiswa.

Ujian Kandidasi / Komprehensif

Setelah kuliah selesai, ada ujian yang menentukan berikutnya yaitu kandidasi, atau ujian menjadi calon doktor. Ketika awal kuliah sempat juga down, ternyata mahasiswa doktoral yang baru masuk statusnya adalah calon kandidat doktor. Jadi jangan sekali-sekali menyebut “calon doktor”, sering disingkat Dr.(c), kepada mahasiwa doktoral baru. Rekan saya yang di Taiwan lebih berat lagi, syarat kandidasi adalah 20 sks kuliah dan dua jurnal internasional diterima. Untungnya tidak ada syarat Impact Factor (IF), yang penting terindeks (biasanya Scopus). Untuk dalam negeri saya belum begitu mengerti, tapi proposal dibuat di tahun kedua, mungkin itu kandidasinya.

Tidak ada Progress

Walau tiap semester harus buat laporan kemajuan, tetapi biasanya terkesan formalitas, win-win solution antara pembimbing dengan mahasiswa. Tetapi repotnya tanpa progress sudah pasti kerjaan tidak selesai-selesai, karena kebanyakan pembimbing enggan menurunkan objektif sesuai yang dijanjikan proposal. Penyebab utama biasanya mahasiswa doktoral yang tidak “pure” kuliah, alias masih bekerja. Banyak rekan saya yang orang lokal (thailand) yang lama lulusnya karena mereka tidak 100% kuliah, alias sambil bekerja. Walaupun ada kebijakan kampus untuk mahasiswa tersebut (waktu D.O yang lebih lama) yang diistilahkan dengan “non-stay” student. Tetapi siapa juga mahasiswa yang ingin lulusnya lama?

Bagaimana dengan di Indonesia? Ternyata kondisi lebih buruk lagi. Banyak rekan saya yang pindah kampus karena tidak selesai-selesai di kampus lamanya dengan berbagai alasan. Sempat saya menjadi asisten dosen waktu kuliah master di Indonesia dan bertemu dengan dosen doktoral UI. Saya menanyakan mengapa mahasiswanya lulus lama? Dengan santai dia menjawab, sebenarnya dia sudah menurunkan standar tetapi siswanya tetap sulit mengikuti, bahkan bertemu pun mereka jarang dengan alasan kesibukan bekerja. Ini saya alami sendiri ketika riset, kebanyakan memang saya di tanah air, tetapi jika dibandingkan sebulan di Indonesia itu kualitasnya sama dengan seminggu di Thailand karena memang di sana dari mata melek hingga merem (tidur) langsung mengerjakan disertasi. Paling nongkrong sambil ngopi di pinggir danau kampus dengan teman senasib.

Syarat Publikasi

Ini merupakan kendala utama yang tidak bisa diganggu gugat. Ini pula yang merupakan kontrol kualitas lulusan doktor suatu universitas. Tanpa publikasi, lulusannya masih diragukan kadar keilmuwannya. Rata-rata publikasi internasional menganut peer review dan author tidak bisa memaksakan agar tulisannya lolos. Sialnya di kampus saya mensyaratkan impact factor di atas atau sama dengan satu. Sulit dan lama untuk jurnal kategori tersebut (rata – rata masuk kategori Q2). Dengan syarat publikasi ini, pembimbing pun tidak bisa membantu kelulusan siswanya jika memang belum publish/accepted jurnalnya. Rekan saya yang bertahun-tahun belum publish pun ketika bertemu pembimbing, dia hanya bisa mendoakan saja. Gawat. Sebagai panduan untuk amannya suatu topic disertasi adalah: kesimbangan antara mudah dikerjakan dengan kemungkinan diterima di jurnal internasional ketika mengajukan proposal disertasi. Jika proposal mudah dikerjakan, biasanya sulit diterima di jurnal berimpact di atas satu, tetapi jika proposal sulit dikerjakan biasanya kemungkinan besar lolos di jurnal berimpact > 1 (paling kalau ditolak salah pilih domain jurnal atau masalah bahasa Inggris yang berantakan) tetapi bahayanya karena terlalu sulit jadi ga selesai-selesai.

Mungkin itu saja sedikit gambaran. Jika ingin lebih jelas, silahkan alami sendiri ya. Sebenarnya ada tahapan lain seperti pengecekan disertasi oleh external examiner (profesor dari luar kampus) dan sidang terbuka. Tetapi itu sepertinya hanya formalitas, biasanya dapat dilalui oleh mahasiswa doktoral. Sekian semoga postingan ini bermanfaat.

Tim Nongkrong (Ph.D., D.Eng, and D.Tech.Sc. Students)

Final Defense (Committees : Prof. Guha, Prof. Nitin, Dr. Kim)

Metode Increment dan Iterasi dalam Penulisan

Tiap orang memiliki gaya masing-masing dalam membuat tulisan (proposal, tesis, disertasi, dan sebagainya). Selain dalam menulis, ketika me-manage pun berbeda-beda. Salah satu gaya yang saya sukai adalah tipe increment dan iterasi, mirip perancangan perangkat lunak. Untungnya pembimbing juga memiliki tipe yang sama, jadi bisa klop dan proses penulisan jadi cepat.

Bagaimana bisa tahu pembimbing bertipe increment atau tidak? Saya peroleh informasi senior yang mengajukan bab 1, bab 2, dan seterusnya, ternyata tidak terlalu direspon. Repot juga kalau begitu, bisa nggak selesai-selesai kalo tipenya waterfall begitu. Akhirnya saya coba nekat dikit, karena waktu yang mepet, saya coba waktu itu proposal hanya 5 lembar. Terlihat “gila”, tetapi isinya lengkap bab I sampai bab IV hingga daftar reference. Dengan dijilid steples pula .. hehe.

Proposal 5 lembar ini sebaiknya jangan ditiru karena kerjaan orang nekat dan kepepet deadline. Hal ini terjadi karena datang ke kampus telat dari Indonesia, masalah administrasi yang ribet, ditambah advisor pertama yang menolak membimbing karena tidak begitu menguasai data spasial, dan masalah-masalah lainnya. Ketika melihat dia merespon, memperbaiki judul dan mengusulkan anggota pembimbing, dapat disimpulkan dia juga tipe yang sama. Tentu saja saya diminta revisi proposal tersebut (25 – 30 halaman).

Dalam waktu beberapa hari yang terbatas, tulisan bisa dikembangkan menjadi 25 halaman. Seperti biasa, corat-coret dan minta ditambahkan hingga 35 – 40 halaman. Dan dalam waktu beberapa hari jadi juga 31 halaman, walaupun kurang dari yang diminta (35-40 halaman).

Akhirnya jadi juga proposal sekitar 35 halaman yang kemudian diuji dalam sesi yang dikenal dengan istilah ujian Candidacy (perubahan status dari “calon kandidat doktor” menjadi “kandidat doktor”). Lumayan berat karena sifat riset yang multidisiplin dengan para pembimbing yang berasal dari bidang computer science, urban environment, dan remote sensing – GIS, serta saya sendiri dari information management. Advisor pun ternyata mempelajari gaya saya yang jika diberi instruksi berupa range, misal 25 sampai 30 halaman, saya cenderung membuat “tarif bawah”, lama-lama dia menginstruksikan angka pasti, misal “buat 50 slide”, yang mau tidak mau saya memilih 50 slide. Postingan ini hanya pengalaman pribadi yang tentu saja terkadang tidak cocok dan tergantung dari style masing-masing dan juga dosen pembimbing. Semoga bermanfaat.

Object Not Found – Error 404 pada XAMPP

XAMPP merupakan paket berisi Apache server dengan PHP dan MySQL untuk membuat pemrograman web. Keunggulan paket aplikasi ini adalah sifatnya yang ringan karena server hanya aktif ketika Apache server di jalankan (running). Jika tidak dijalankan maka server tidak aktif sehingga meminimalkan penggunaan memori, biasanya jika dijalankan di laptop dan hanya untuk testing program.

Karena sifatnya yang aktif jika dijalankan, maka perlu setting khusus ketika beralih dari satu folder ke folder lainnya. Oiya, XAMPP berbasis folder dimana untuk mematikan dan menghidupkan server Apache dengan cara mengklik xampp_start dan begitu pula untuk mematikannya (xampp_stop). Masalah yang dijumpai ketika berganti folder adalah “Object Not Found” seperti tampilan di bawah ini.

Prinsip dari kesalahan ini adalah server Apache tidak berhasil menemukan “Link” yang dituju, biasanya index.php jika ada. Jika tidak ada index.php biasanya akan menampilkan folder-folder yang berada di folder htdocs. Folder ini merupakan folder induk php ketika server (localhost) dijalankan. Biasanya kasus ketika fodler XAMPP dipindah ke folder lain dan “xampp_start” hanya dijalankan tanpa diset ulang. Untuk mengeset ulang perlu dilakukan dengan menekan setup_xampp.bat.

Oiya, jangan lupa dimatikan dulu server Apache jika sekiranya masih hidup. Pilih (1) dilanjutkan dengan menekan sembarang tombol ketika diperintahkan.

Sekarang refresh browser yang sebelumnya error. Pastikan aplikasi berjalan, minimal menampilkan folder kosong jika tidak ada index.php di dalam folder tersebut seperti tampilan di bawah ini. Sekian, semoga bermanfaat.