Buku Teks vs Buku Elektronik dan Online

Media cetak dikabarkan mulai terdisrupsi dengan media elektronik dan online. Surat kabar-surat kabar mulai ditinggalkan dan pengguna cenderung lebih suka membuka website ketika ingin melihat berita. Media online lebih disukai karena sifatnya yang hampir realtime, dibanding misalnya surat kabar yang harus menunggu esok hari untuk melihat berita hari ini. Tetapi bagaimana dengan buku teks pelajaran?

Beberapa buku sudah saya coba terbitkan (terakhir database pada Matlab). Selain dari sisi materi (royalti), ada hal-hal lain yang dapat saya pelajari dari sudut pandang penerbit. Salah satunya adalah bagaiman mereka bisa eksis hingga saat ini, yang katanya masuk dalam era “disrupsi”. Mungkin beberapa aspek luput dari pantauan saya, tetapi beberapa point berikut mungkin bisa jadi bahan referensi.

Tuntutan Referensi

Selama masih ada orang yang kuliah, menulis tugas akhir/skripsi/disertasi, dan kegiatan akademik lainnya, tuntutan buku referensi pasti ada. Bahkan beberapa buku yang sudah saya publikasikan, habis dan harus dicetak ulang. Walaupun blog, youtube, dan instagram sedang “trend”, tetap saja tidak bisa dijadikan bahan rujukan resmi.

Perkembangan Teknologi yang Pesat

Beberapa ilmu, misalnya teknologi informasi, perkembangannya sangat pesat. Satu buku yang membahas suatu metode terkini, beberapa tahun kemudian akan jadi usang. Maka tuntutan buku panduan yang baru terus ada. Jika dulu buku referensi biasanya kampus mensyaratkan lima tahun terakhir, ternyata buku yang saya tulis 2015 sudah habis di tangan penerbit. Bagaimana jika dicetak lagi? Sepertinya masuk akal, tetapi penerbit lebih suka melakukan revisi (edisi kedua, tiga, dst) dibanding sekedar mencetak ulang. Hal ini karena pasti ada perkembangan baru selama buku tersebut beredar di pasaran yang harus di-update. Juga masalah pembajakan membuat penerbit terpaksa mencetak hal-hal baru.

Kewajiban Menulis bagi Pengajar

Ini merupakan pemicu tetapi hanya untuk pengajar yang produktif saja. Walau dipaksa jika pengajar tersebut enggan menulis tetap saja tidak tercipta satu karya. Namun dengan aturan, biasanya akan jalan juga, mirip kasus dosen harus S2. Rekan-rekan saya yang malas studi lanjut terpaksa kuliah lagi, atau menyelesaikan kuliah S2-nya yang terbengkalai bertahun-tahun.

Lebih Nyaman Membaca Buku Tercetak

Tidak disangkal buku dalam format PDF banyak dijumpai di internet. Terkadang jumlahnya sangat banyak, hingga bingung dan satu pun tidak ada yang dibaca. Ingat era “big data”, bahwa mencari informasi berharga sama beratnya dengan membuang informasi yang tidak berharga. Bill gates sendiri menyarankan kita membaca buku teks dibanding online. Memang beberapa pemerhati lingkungan mengatakan buku menghabiskan kayu di hutan, tetapi membaca online membutuhkan listrik yang diambil dari sumber yang belum tentu “green”, misalnya solar, bahkan nuklir. Server Google sendiri (ditambah server-server online lainnya) membutuhkan air berkubik-kubik untuk media pendingin padahal beberapa daerah di belahan dunia kekurangan air.

Harga Buku Bersaing

Ketika melihat buku karangan sendiri di toko buku, tampak kertas yang kualitasnya rendah. Tapi harganya yang murah membuat orang lebih baik membeli asli dibanding memfoto kopi sendiri karena selisihnya yang tidak terlalu signifikan. Pembajakan pun akhirnya sedikit banyak dapat diatasi. Tapi jumlah penduduk negara kita yang banyak, jumlah kampus dan perpustakaan yang kabarnya lebih banyak dibanding negara RRC membuat permintaan buku tetap ada, tinggal memasyarakatkan budaya membaca saja. Maklum budaya membaca negara kita sangat lemah (maksudnya membaca tulisa utuh, bukan status di medsos, atau baca judul informasi yang dishare orang saja).

Banyak Toko Online

Mungkin orang malas ke toko buku, tetapi dengan adanya toko online mereka dengan mudah memesan buku yang harganya jauh lebih murah dari beli ke toko buku. Sudah biasa saat ini, penulis ikut juga menjual bukunya, dengan harga jauh lebih murah. Rekan saya yang diwajibkan “stor buku” saat wisuda pun sempat kewalahan karena “jatah buku” yang harus disetor tidak ada di pasaran (sudah habis). Namun ternyata dengan memesan langsung ke penulis akhirnya dapat juga.

Sepertinya masih banyak faktor-faktor pendukung lainnya. Aspek online yang tadinya tantangan bagi buku ofline terkadang bisa membantu juga, seperti sistem searching yang memudahkan penulis mencari informasi baru, sistem anti plagiasi yang mudah bekerja karena segalanya tersedia online dan lainnya. Jadi memang mudah mencontek, tetapi mudah pula mengecek seseorang plagiasi atau tidak. Hal ini memaksa pengajar menulis tulisan original sendiri. Malu kalau ketahuan copas sana sini. Sekian … semoga menginspirasi.

 

Perbedaan Artikel Riset dan Artikel Review

Ternyata artikel (paper) dalam jurnal ada dua jenis, yaitu artikel riset yang merupakan laporan hasil penelitian dan artikel review yang berisi pembahasan terhadap trend perkembangan riset penulis-penulis lainnya. Walaupun artikel review hanya membahas/me-review artikel-artikel riset peneliti lain, tetapi sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang ingin memulai penelitian, biasanya para mahasiswa, terutama program master atau doktoral. Artikel review juga memiliki keunggulan dari sisi jumlah sitasi yang biasanya banyak. Berikut perbedaan-perbedaan antara dua jenis artikel tersebut.

Tujuan Artikel

Artikel riset membahas laporan riset yang menjawab pertanyaan riset penulis. Keoriginalitasan dan keunikan menjadi penentu kualitas tulisan. Sementara artikel review mengkritisi tulisan orang lain (kelemahan dan kelebihan). Artikel review membutuhkan artikel yang banyak untuk dikritisi. Pengalaman penulis terkadang menentukan kualitas artikel review.

Basis Tulisan

Artikel riset berasal dari hasil penelitian yang original seorang penulis. Oleh karena itu sering disebut sumber tulisan primer. Sementara itu artikel review berasal dari tulisan orang lain (bukan original). Walaupun demikian tetap saja tulisan jenis ini dibutuhkan karena memberikan informasi-informasi penting terkait dengan trend terkini suatu penelitian.

Cara Penulisan

Artikel riset menulis berdasarkan pertanyaan penelitian yang kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data dan tahapan-tahapan riset lainnya (dari analisis hingga kesimpulan). Berbeda dengan artikel riset yang berdasarkan pertanyaan penelitian, artikel review berdasarkan pemilihan penulis terhadap topik khusus yang akan dibahas dilanjutkan dengan menampilkan overview dari artikel-artikel yang diteliti.

Apa yang Dilaporkan

Artikel riset menulis abstrak, hipotesa, background study, metodologi, hasil dan interpretasi temuan hingga hasil, temuan, dan riset yang akan datang. Sementara itu pada artikel review penulis mendeteksi variasi-variasi antara satu artikel dengan artikel lainnya. Terkadang terjadi konflik antara satu artikel dengan artikel lainnya. Penulis kemudian mendeteksi mengapa terjadi kontradiksi pada tulisan-tulisan tersebut berdasarkan riset yang dilaporkan tulisan tersebut.

Panjang Tulisan

Artikel riset (3000-6000 halaman, bahkan ada yang 12000) umumnya lebih panjang dibanding artikel review (3000-5000). Artikel riset memiliki tujuan lainnya yaitu agar riset dapat diduplikasi/diulang oleh peneliti lain, sehingga butuh informasi lengkap mengenai data dan metodenya.

Artikel review memiliki tiga bentuk yaitu naratif, sistematik dan meta-analysis. Bentuk naratif berisi penjelasan suatu artikel yang dipublikasikan. Sementara itu, sistematik lebih mendalam dari sisi pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dalam suatu riset. Meta-analysis membandingkan dan mengkombinasikan temuan-temuan artikel-artikel riset. Agar artikel review bisa “accepted” di journal internasional perlu terlebih dahulu memperhatikan kelayakan tulisan kita untuk dipublikasikan. Beberapa kampus yang membuka program doktoral yang mensyaratkan publikasi jurnal tidak mengakui artikel review sebagai syarat lulus. Oleh karena itu tidak disarankan bagi mahasiswa doktoral menulis jenis artikel review ini. Sekian semoga bermanfaat.

Referensi:

Steganografi Untuk Menyembunyikan Pesan

Steganografi adalah teknik menyisipkan pesan ke dalam suatu media agar kerahasiaan pesan tersebut terjaga. Berbeda dengan kriptografi yang tampak ada pesan yang ditutupi, pada steganografi bahkan orang lain tidak tahu kalau ada pesan yang dirahasiakan karena menempel pada suatu media, misalnya gambar, musik, dan lain-lain.

Untuk mencoba fungsi steganografi pada Matlab, silahkan unduh M-file dari situs berbagi fungsi di sini. Sebaiknya login terlebih dahulu jika ingin mengunduh file lengkapnya. Jika tidak punya akun, bisa signup terlebih dahulu dengan mengisi data. Jika sudah diunduh, siapkan dua gambar, satu gambar rahasia dan sisanya untuk penutup (cover). Gunakan imresize terlebih dahulu agar kedua gambar berukuran sama.

Untuk menerapkan ada baiknya menggunakan citra hitam-putih, sebab jika menggunakan RGB harus dimodif m-filenya agar ukuran matriksnya MxN tanpa ada tambahan MxNxt. Gambar kiri adalah gambar penutup, sementara yang kanan yang akan disembunyikan.

Selanjutnya gambar 2 (kanan) akan disisipkan ke dalam gambar 1 agar gambar tanda tangan tidak tampak. Perhatikan gambar berikut yaitu gambar yang berisi tanda-tangan di dalamnya.

Pada gambar di atas tidak tampak gambar tanda-tangan, padahal jika gambar tersebut diekstrak (dikurangkan dengan cover image) akan menghasilkan ekstrak gambar seperti di bawah ini.

Siapa sangka gambar foto saya memiliki gambar rahasia (tanda tangan) di dalamnya. Sekian semoga bermanfaat.

Menyimpan Data dalam Bentuk Struktur (Struct)

Ketika mengimpor data dari sistem basis data (biasa atau spasial), biasanya berbentuk struktur. Misalnya mengimpor data spasial dari sebuah shapefile berikut ini.

>> a=shaperead(‘Commercial.shp’)

a =

344×1 struct array with fields:

Geometry

X

Y

Id

Name

Untuk melihat isi dari “Name” cara melihatnya adalah dengan titik antara nama struktur (“a”) dan nama field-nya.

>> [a.Name]

ans =

Kimia FarmaBlue Bird PoolPusat Arsip JAMSOSTEKBaliku Agung PerkasaSiantar ….. dst

Sedikit berbeda dengan tabel, struktur memiliki bentuk sebaliknya, yaitu baris untuk field dan kolom untuk record. Jadi jika ingin “mengutak-atik” perlu dilakukan proses transpose terlebih dahulu.

Menyimpan Data dalam Format Struktur

Untuk mengetahui caranya, silahkan mengetik “help save” di command window. Di bagian bawah ada penjelasan bagaimana membuat file mat dengan tipe struct (struktur). Coba saja “copas” kode berikut ini:

s1.a = 12.7;

s1.b = {‘abc’, [4 5; 6 7]};

s1.c = ‘Hello!’;

save(‘newstruct.mat’, ‘-struct’, ‘s1’);

Perhatikan di folder, muncul satu file baru bernama ‘newstruct.mat’ yang berisi tiga variabel yaitu a, b, dan c. Bagaimana memanggilnya? Mudah saja ketik di command window “load newstruct”. Beberapa function membutuhkan bentuk struktur ini, so semoga bermanfaat.

Update: 14/2/2018

Ternyata bisa juga dengan format:

save(‘newstruct.mat’,’s1′)

Standar Penulisan Gelar Akademik

Penulisan gelar akademik yang benar dan mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia sangat penting terutama pada bagian tenaga kependidikan (TU, SDM, dan pendukung bidang akademik lainnya). Banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi. Biasanya adalah tidak disertakannya titik “.” antara kata pertama dengan kedua, misalnya seharusnya S.T. tetapi ditulis ST saja tanpa titik. Saya sendiri sering salah menulis “Ph.D” tanpa titik setelah “D”, sementara berdasarkan kaidah bahasa Indonesia menggunakan titik “Ph.D.”.

Banyak situs-situs di internet yang menguraikan bagaimana penulisan yang tepat. Cara mengetahui penulisan yang tepat ada baiknya melihat surat-surat yang dibuat oleh lembaga resmi negara, misalnya di bawah ini, yaitu lampiran undangan peserta calon asesor beban kerja dosen (BKD) dari kopertis IV Bandung.

Oiya, kebetulan lampiran peserta tanggal 1 februari ini tidak ada profesor yang standarnya adalah ditulis “Prof.” Silahkan lihat lampiran yang ada profesornya di link ini sebagai rujukan bagaimana menulis gelar yang tepat. Memang gelar tidak dibawa mati, tetapi dengan gelar kita jadi banyak mengajar dan ilmu yang diajar takkan putus oleh kematian.

Konversi UTM ke Latitude – Longitude (Terapan)

Ada tugas revisi buku, dan rencananya ada tambahan di bagian implementasi Matlab dengan sistem basis data (Access dan MySQL) yaitu data spasial dan pemrosesan teks. Cukup menarik ternyata Matlab memiliki banyak fasilitas, bahkan sistem informasi geografis (SIG) pun dilayani. Postingan singkat ini (lanjutan dari post yang lalu) menggambarkan bagaimana mengutak atik SIG dengan Matlab.

Salah satu komponen penting dari SIG adalah proyeksi. Salah satu proyeksi yang terkenal adalah Universal Transverse Mecartor (UTM) yang membagi bumi menjadi zona-zona. Untuk komputasi lebih mudah menggunakan jenis koordinat desimal ini, dibanding dengan jam, menit, detik atau lintang dan bujur. Repotnya ketika selesai melakukan kalkulasi dengan Matlab terkadang untuk menampilkan ke SIG berbasis web (Web SIG) perlu dikonversi ke latitude (lintang) dan longitude (bujur).

Setelah searching seharian dari situs yang remeh temeh hingga yang serius, ternyata situs Matlab sudah menyediakannya (lihat link ini). Karena tidak tersedia di instalasi Matlab, mau tidak mau harus membuat M-file yang dikopi dari situs tersebut. Untuk teori dasar silahkan lihat link ini (sebaiknya jangan deh, ntar pusing he he).

Jadi prinsipnya setelah matlab mengolah data spasial, kemudian hasilnya sebelum dikirim ke Web SIG dikonversi terlebih dahulu dari UTM ke lintang bujur karena Google Map API (lihat caranya) memerlukan data lintang bujur bukan UTM (kabarnya ada juga gmap4 yang bisa menggunakan UTM). Walau singkat semoga bermanfaat.

Program Kuliah Doktoral yang Keras

Lihat di grup masjid kampus, cukup terenyuh oleh pamitnya rekan senior padahal belum selesai studinya. Teringat bantuan dan arahan yang dulu diberikan karena memang dia seorang Teaching Assistant (TA). Ketika saya telat datang, dia yang berkebangsaan negara di Asia Selatan, dengan suka rela memberikan satu CD berisi software ubuntu yang wajib digunakan dalam perkuliahan Web Programming (dengan ruby and rails). Setelah hampir sepuluh tahun kuliah doktoral, sepertinya dia harus pulang, entah alasan apa yang membuatnya tidak meneruskan kuliah, yang jelas saya dulu banyak dibantu olehnya.

Lengkap sudah saya kenal dengan rekan kuliah yang tidak selesai, pertama pulang karena alasan keluarga (tidak bisa ditinggal jauh), kedua meninggal, dan yang terakhir kelamaan kuliah. Dulu pun saya pernah mendengar cerita-cerita kegagalan mahasiswa doktoral, termasuk dosen saya waktu kuliah S1 dulu, tapi itu hanya dari mulut ke mulut. Berbeda dengan saat ini yang mengetahui langsung, bukan saja cerita tapi ikut merasakan kesulitan ketika bersamanya. Mungkin hal-hal berikut yang bisa “mengganggu” mahasiswa doktoral, bahkan menjadi penyebab kegagalan:

Syarat Course Work yang Berat

Tidak semua kampus mensyaratkan ikut kuliah dulu sebelum riset, tapi kebanyakan mensyaratkannya. Bahkan di Eropa ada gelar M.Phil. yang diberikan oleh mahasiswa doktoral yang tidak berhasil lolos ujian menjadi calon doktor (Ph.D.). Saya sendiri mengalami kesulitan karena memang background yang bukan dari jurusan sesungguhnya (multidisiplin). Repotnya terkadang kuliah digabung dengan mahasiswa master dan nilainya distribusi normal. Nilai bagus akan jadi buruk jika yang lain lebih bagus. Ditambah tugas project yang bareng dengan mahasiswa master yang kebanyakan malas karena bagi mereka c+ pun sudah lulus, dan hampir lulus semua. Sementara mahasiswa doktoral wajib minimal B+ atau total IPK = 3.5. Untungnya setelah mati-matian saya memperoleh 3.5 (A, A, B+, B, B, B+). Benar-benar mujur, pas, kalau tidak harus mengulang lagi dengan ancaman tidak dicover dari beasiswa jika melewati masa “jatah” beasiswa.

Ujian Kandidasi / Komprehensif

Setelah kuliah selesai, ada ujian yang menentukan berikutnya yaitu kandidasi, atau ujian menjadi calon doktor. Ketika awal kuliah sempat juga down, ternyata mahasiswa doktoral yang baru masuk statusnya adalah calon kandidat doktor. Jadi jangan sekali-sekali menyebut “calon doktor”, sering disingkat Dr.(c), kepada mahasiwa doktoral baru. Rekan saya yang di Taiwan lebih berat lagi, syarat kandidasi adalah 20 sks kuliah dan dua jurnal internasional diterima. Untungnya tidak ada syarat Impact Factor (IF), yang penting terindeks (biasanya Scopus). Untuk dalam negeri saya belum begitu mengerti, tapi proposal dibuat di tahun kedua, mungkin itu kandidasinya.

Tidak ada Progress

Walau tiap semester harus buat laporan kemajuan, tetapi biasanya terkesan formalitas, win-win solution antara pembimbing dengan mahasiswa. Tetapi repotnya tanpa progress sudah pasti kerjaan tidak selesai-selesai, karena kebanyakan pembimbing enggan menurunkan objektif sesuai yang dijanjikan proposal. Penyebab utama biasanya mahasiswa doktoral yang tidak “pure” kuliah, alias masih bekerja. Banyak rekan saya yang orang lokal (thailand) yang lama lulusnya karena mereka tidak 100% kuliah, alias sambil bekerja. Walaupun ada kebijakan kampus untuk mahasiswa tersebut (waktu D.O yang lebih lama) yang diistilahkan dengan “non-stay” student. Tetapi siapa juga mahasiswa yang ingin lulusnya lama?

Bagaimana dengan di Indonesia? Ternyata kondisi lebih buruk lagi. Banyak rekan saya yang pindah kampus karena tidak selesai-selesai di kampus lamanya dengan berbagai alasan. Sempat saya menjadi asisten dosen waktu kuliah master di Indonesia dan bertemu dengan dosen doktoral UI. Saya menanyakan mengapa mahasiswanya lulus lama? Dengan santai dia menjawab, sebenarnya dia sudah menurunkan standar tetapi siswanya tetap sulit mengikuti, bahkan bertemu pun mereka jarang dengan alasan kesibukan bekerja. Ini saya alami sendiri ketika riset, kebanyakan memang saya di tanah air, tetapi jika dibandingkan sebulan di Indonesia itu kualitasnya sama dengan seminggu di Thailand karena memang di sana dari mata melek hingga merem (tidur) langsung mengerjakan disertasi. Paling nongkrong sambil ngopi di pinggir danau kampus dengan teman senasib.

Syarat Publikasi

Ini merupakan kendala utama yang tidak bisa diganggu gugat. Ini pula yang merupakan kontrol kualitas lulusan doktor suatu universitas. Tanpa publikasi, lulusannya masih diragukan kadar keilmuwannya. Rata-rata publikasi internasional menganut peer review dan author tidak bisa memaksakan agar tulisannya lolos. Sialnya di kampus saya mensyaratkan impact factor di atas atau sama dengan satu. Sulit dan lama untuk jurnal kategori tersebut (rata – rata masuk kategori Q2). Dengan syarat publikasi ini, pembimbing pun tidak bisa membantu kelulusan siswanya jika memang belum publish/accepted jurnalnya. Rekan saya yang bertahun-tahun belum publish pun ketika bertemu pembimbing, dia hanya bisa mendoakan saja. Gawat. Sebagai panduan untuk amannya suatu topic disertasi adalah: kesimbangan antara mudah dikerjakan dengan kemungkinan diterima di jurnal internasional ketika mengajukan proposal disertasi. Jika proposal mudah dikerjakan, biasanya sulit diterima di jurnal berimpact di atas satu, tetapi jika proposal sulit dikerjakan biasanya kemungkinan besar lolos di jurnal berimpact > 1 (paling kalau ditolak salah pilih domain jurnal atau masalah bahasa Inggris yang berantakan) tetapi bahayanya karena terlalu sulit jadi ga selesai-selesai.

Mungkin itu saja sedikit gambaran. Jika ingin lebih jelas, silahkan alami sendiri ya. Sebenarnya ada tahapan lain seperti pengecekan disertasi oleh external examiner (profesor dari luar kampus) dan sidang terbuka. Tetapi itu sepertinya hanya formalitas, biasanya dapat dilalui oleh mahasiswa doktoral. Sekian semoga postingan ini bermanfaat.

Tim Nongkrong (Ph.D., D.Eng, and D.Tech.Sc. Students)

Final Defense (Committees : Prof. Guha, Prof. Nitin, Dr. Kim)

Metode Increment dan Iterasi dalam Penulisan

Tiap orang memiliki gaya masing-masing dalam membuat tulisan (proposal, tesis, disertasi, dan sebagainya). Selain dalam menulis, ketika me-manage pun berbeda-beda. Salah satu gaya yang saya sukai adalah tipe increment dan iterasi, mirip perancangan perangkat lunak. Untungnya pembimbing juga memiliki tipe yang sama, jadi bisa klop dan proses penulisan jadi cepat.

Bagaimana bisa tahu pembimbing bertipe increment atau tidak? Saya peroleh informasi senior yang mengajukan bab 1, bab 2, dan seterusnya, ternyata tidak terlalu direspon. Repot juga kalau begitu, bisa nggak selesai-selesai kalo tipenya waterfall begitu. Akhirnya saya coba nekat dikit, karena waktu yang mepet, saya coba waktu itu proposal hanya 5 lembar. Terlihat “gila”, tetapi isinya lengkap bab I sampai bab IV hingga daftar reference. Dengan dijilid steples pula .. hehe.

Proposal 5 lembar ini sebaiknya jangan ditiru karena kerjaan orang nekat dan kepepet deadline. Hal ini terjadi karena datang ke kampus telat dari Indonesia, masalah administrasi yang ribet, ditambah advisor pertama yang menolak membimbing karena tidak begitu menguasai data spasial, dan masalah-masalah lainnya. Ketika melihat dia merespon, memperbaiki judul dan mengusulkan anggota pembimbing, dapat disimpulkan dia juga tipe yang sama. Tentu saja saya diminta revisi proposal tersebut (25 – 30 halaman).

Dalam waktu beberapa hari yang terbatas, tulisan bisa dikembangkan menjadi 25 halaman. Seperti biasa, corat-coret dan minta ditambahkan hingga 35 – 40 halaman. Dan dalam waktu beberapa hari jadi juga 31 halaman, walaupun kurang dari yang diminta (35-40 halaman).

Akhirnya jadi juga proposal sekitar 35 halaman yang kemudian diuji dalam sesi yang dikenal dengan istilah ujian Candidacy (perubahan status dari “calon kandidat doktor” menjadi “kandidat doktor”). Lumayan berat karena sifat riset yang multidisiplin dengan para pembimbing yang berasal dari bidang computer science, urban environment, dan remote sensing – GIS, serta saya sendiri dari information management. Advisor pun ternyata mempelajari gaya saya yang jika diberi instruksi berupa range, misal 25 sampai 30 halaman, saya cenderung membuat “tarif bawah”, lama-lama dia menginstruksikan angka pasti, misal “buat 50 slide”, yang mau tidak mau saya memilih 50 slide. Postingan ini hanya pengalaman pribadi yang tentu saja terkadang tidak cocok dan tergantung dari style masing-masing dan juga dosen pembimbing. Semoga bermanfaat.

Object Not Found – Error 404 pada XAMPP

XAMPP merupakan paket berisi Apache server dengan PHP dan MySQL untuk membuat pemrograman web. Keunggulan paket aplikasi ini adalah sifatnya yang ringan karena server hanya aktif ketika Apache server di jalankan (running). Jika tidak dijalankan maka server tidak aktif sehingga meminimalkan penggunaan memori, biasanya jika dijalankan di laptop dan hanya untuk testing program.

Karena sifatnya yang aktif jika dijalankan, maka perlu setting khusus ketika beralih dari satu folder ke folder lainnya. Oiya, XAMPP berbasis folder dimana untuk mematikan dan menghidupkan server Apache dengan cara mengklik xampp_start dan begitu pula untuk mematikannya (xampp_stop). Masalah yang dijumpai ketika berganti folder adalah “Object Not Found” seperti tampilan di bawah ini.

Prinsip dari kesalahan ini adalah server Apache tidak berhasil menemukan “Link” yang dituju, biasanya index.php jika ada. Jika tidak ada index.php biasanya akan menampilkan folder-folder yang berada di folder htdocs. Folder ini merupakan folder induk php ketika server (localhost) dijalankan. Biasanya kasus ketika fodler XAMPP dipindah ke folder lain dan “xampp_start” hanya dijalankan tanpa diset ulang. Untuk mengeset ulang perlu dilakukan dengan menekan setup_xampp.bat.

Oiya, jangan lupa dimatikan dulu server Apache jika sekiranya masih hidup. Pilih (1) dilanjutkan dengan menekan sembarang tombol ketika diperintahkan.

Sekarang refresh browser yang sebelumnya error. Pastikan aplikasi berjalan, minimal menampilkan folder kosong jika tidak ada index.php di dalam folder tersebut seperti tampilan di bawah ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Biaya Studi Doktoral

Iseng-iseng buka Sistem Informasi Akademik (SIS) kampus tempat kuliah, mumpung masih bisa buka. Terutama di bagian tagihan (SPP, listrik, dan kos). Ternyata lumayan juga, dari tahun 2013 hingga Januari 2018 ternyata menghabiskan dana hampir 700 juta (kalau hanya uang kuliah sebesar Rp. 600 juta). Lumayan juga.

Ketika saya ngobrol sambil ngopi dengan teman yang juga kuliah di sana, dari Dep. Pertanian, ternyata saya lupa, itu belum biaya hidup yang sebulanya dari pemerintah sekitar $600 (Rp. 8,4 juta utk kurs $1= Rp. 14.000). Jika dihitung selama 4 tahun (48 bulan) maka menghabiskan sekitar Rp. 400 juta. Jadi total pemerintah menganggarkan untuk satu mahasiswa doktoral sebesar Rp. 1 Milyar. Angka yang cukup besar. Itu Thailand, bagaimana dengan negara lain? Mungkin rekan-rekan yang studi di Eropa, Jepang, dan Australia bisa memberi gambaran. Sebagai informasi, waktu pelatihan bahasa di UGM sebelum berangkat (tahun 2011) diberitahu kalau pemerintah menganggarkan Rp. 2 Milayar untuk mahasiswa doktoral di Australia, hampir 2 kali lipat Thailand ternyata.

Karena hanya dibiayai 4 tahun, maka harus self support satu semester karena molor (4,5 tahun) dan harus ditanggung sendiri (belasan juta rupiah). Untungnya biaya hidup murah meriah di sana dan kampus masih membiayai lewat gaji bulanan. Info dari teman kuliah yang dibayarin kampus kalau molor kabarnya tiap semester kampus mengirimkan bantuan hampir Rp. 1 Milyar mahasiswanya yang tersebar di seluruh dunia karena melewati batas beasiswa. Jadi wajar jika ikatan dinas sebesar 2n+1 untuk mahasiswa luar negeri, dibanding dalam negeri yang hanya n+1 (dengan n adalah masa studi). Oiya, uang itu dari pajak (uang rakyat), maka harus bermanfaat untuk negara.

Problem Batas Usia Studi Lanjut

Setelah kehilangan teman kuliah karena memaksakan diri kembali ke tanah air tanpa menyelesaikan studinya, ada kabar mengejutkan lagi dari teman satu negara dengan saya. Waktu itu ujian mid semester (UTS) sedang berlangsung, di jurusan food engineering. Kebetulan teman tetanggo kos teman beliau. Dia mengabarkan bahwa sebelum UTS berlangsung, teman kami ijin sebentar ke kamar kecil, tetapi tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri. Kontan, kampus tempat saya kuliah heboh, bahkan UTS pun ditunda karena kejadian tersebut. Segera beliau dilarikan ke rumah sakit yang memang bersebelahan dengan kampus (thammasat hospital). Namun setelah kira-kira dua mingguan, nyawanya tidak tertolong karena stroke.

Batas Usia Studi Lanjut Luar Negeri

Ketika meninggal rekan saya berusia 50 tahun dan beberapa bulan lagi menginjak 51 tahun. Kampus di tempatnya bekerja, PTN di wilayah timur Indonesia memang mensyaratkan batas maksimal 50 tahun untuk memperoleh beasiswa S3. Memang peraturan terbaru menurunkan batas maksimal studi lanjut khusus luar negeri dari 50 tahun menjadi 47 tahun, seperti aturan berikut ini (unduh versi lengkapnya):

Ristek-DIKTI memang terkenal ketat dalam hal syarat administratif, seperti kasus batas usia di atas. Ada kejadian aneh ketika saya mengikuti proses seleksi penerimaan beasiswa, yaitu wawancara ulang. Beberapa rekan yang mengikuti wawancara ulang kebanyakan karena kurang syarat tertentu, misalnya surat kesanggupan perguruan tinggi tempatnya mengajar untuk membiayai tahun keempat. Ada rekan yang usianya di atas 47 (di bawah 50), sebelumnya memenuhi syarat usia (max 50 tahun) untuk studi luar negeri. Namun ketika wawancara ulang ada aturan baru, yaitu tidak perlu surat kesanggupan membiayai tahun keempat dari PT asal (banyak yang bersorak gembira waktu dibreafing sebelum wawancara), sialnya syarat batas usia diturunkan, ada dua orang yang tidak lolos karena batas usia (padahal wawancara beberapa bulan yang lalu masih memenuhi syarat – max 50 tahun). Apa boleh buat, jika syarat TOEFL bisa diasah lewat kursus/bimbingan, LoA conditional bisa dinego ke kampus tujuan agar unconditional, tetapi bagaimana bisa mengakali usia yang sudah lewat?

Melihat kasus rekan saya yang meninggal, sepertinya alasan pemerintah masuk akal juga, walaupun namanya ajal tidak melihat usia, di bawah atau di atas 50 tahun bisa saja meninggal jika Allah menghendaki. Tetapi sepertinya pemerintah memiliki alasan lain, misalnya karena mendekati masa pensiun (padahal doktoral biasanya molor, lebih dari 3 tahun), dan lain-lain yang jujur saya tidak mengerti. Info dari pewawancara ketika breafing karena syarat dari MENPAN yang bahkan lebih rendah lagi (42 tahun untuk studi ke luar negeri), jadi syarat 45 tahun (waktu itu) tersebut sudah diringankan DIKTI.

Batas Usia Studi Lanjut Dalam Negeri

Ketika Dirjen SDM (Pak Ghofar) datang ke kampus saya memberikan seminar, ada penanya yang mempertanyakan mengapa ada syarat usia untuk studi lanjut. Pak dirjen hanya bisa menjawab karena aturan. Benar juga, mengingat banyaknya kasus-kasus beratnya kuliah di usia lanjut. Ada contoh kasus lain, seperti kasus rekan saya yang meng-cancle beasiswa karena sakit (sudah berjalan kira-kira kurang dari dua tahun). Sebagai seorang ibu dengan dua anak, studi lanjut membutuhkan stamina ekstra, apalagi jarak kuliah yang jauh, ditambah dosen yang sulit diajak kompromi. Memang jika kondisi tidak fit, penyakit mudah datang. Rekan saya akhirnya tidak kuat, karena kanker yang tiba-tiba singgah. Setelah mengundurkan diri, Alhamdulillah sakitnya mulai mereda. Aturan DIKTI untuk usia max beasiswa pendidikan di dalam negeri (2017) adalah 50 tahun seperti berikut ini (unduh versi lengkapnya di sini):

Semoga tulisan ini tidak mengendurkan semangat pembaca yang ingin studi lanjut, tetapi jangan khawatir, “what doesn’t kill us, make us stronger”. Jangan lupa evaluasi diri, menganalisa kelebihan dan kelemahan kita. Saya sendiri berprinsip seperti binatang hyena, akan bertarung jika sekiranya peluang menangnya besar. Memang status rekan-rekan kita di facebook, bikin “ngiler”, tetapi itu yang tampak. Padahal hal-hal lain tidak tampak (walau kadang ada), seperti stress, under pressure, begadang semalaman, dan lain-lainnya. Sekian, semoga bermanfaat dan jangan menyerah dulu.

Membuat dengan Cepat Konten Pembelajaran (tes.com)

Salah satu komponen Flipped Learning adalah mekanisme bagaimana siswa belajar di luar jam pelajaran sekolah. Selama ini yang jadi andalah adalah buku beserta soal-soal latihan. Namun tidak semua siswa memiliki gaya belajarnya yang cocok dengan reading. Bagi yang bertipe Auditory sepertinya tidak ada masalah, tetapi bagi yang verbal dan kinesthetic tentu saja akan kesulitan. Beberapa alat bantu dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya akan dibahas pada postingan ini.

Konten merupakan komponen penting dalam proses belajar mengajar. Beberapa tahun yang lalu konten menjadi beban ketika seorang dosen diminta mengajar. Namun belakangan ternyata konten dapat diperoleh dengan mudah secara online. Kejadian ketika seorang murid memiliki informasi ilmu yang belum diketahui oleh seorang pengajar sudah menjadi biasa saat ini. Sehingga peran pengajar saat ini yang tepat adalah sebagai katalisator dalam proses belajar mengajar.

Untuk membuat dengan cepat bahan ajar, banyak alat bantu yang bisa dimanfaatkan, salah satunya adalah test.com, suatu situs yang menyediakan sarana untuk mengajar online. Bentuknya yang tinggal drag konten yang dicari dengan alat bantu “searching” memudahkan pengajar untuk menyediakan sarana belajar ke mahasiswa. Masuk ke menu pembuatan session perkuliahan dapat diakses di page berikut.

Ada beragam bentuk dari sesi pembelajaran yaitu tulisan (reading), video, dan suara. Ketiga bentuk pembelajaran tersebut bisa mengakomodir tipe belajar siswa (verbal, auditory, dan kinesthetic). Banyak situs di youtube yang membantu bagaimana menggunakan fasilitas tes.com tersebut seperti berikut ini.

Sebelum perkuliahan dimulai, flipped learning menganjurkan untuk men-share materi belajar dengan bantuan tools tertentu seperti tes.com di atas. Selanjutnya ketika perkuliahan, diskusi diberikan sekaligus penilaian oleh dosen dengan cara lisan (tanya jawab). Metode belajar ini memanfaatkan waktu di luar perkuliahan untuk seolah-olah dalam kelas. Sekian, semoga bermanfaat.

 

Kuesioner (Questionnaire) untuk AHP

Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan teknik untuk membandingkan satu pilihan dengan pilihan lainnya. Sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan. Vendor terkenal yang serius mengenai hal ini adalah expert choice, yang juga menyediakan software berbayarnya. Lihat post sebelumnya. Postingan kali ini mencoba sharing tentang kuesionar yang diperlukan untuk mengisi data sebelum diolah oleh AHP yang dicetuskan pertama kali oleh L. Saaty (Saaty, 2008).

Pairwise Comparison

Terus terang saya malah belum pernah mendapatkan kuesioner dalam bahasa Indonesia. Dalam jurnal-jurnal internasional, yang sering disebutkan adalah pairwise comparison survey, yang isinya membandingkan antara satu pilihan dengan pilihan lainnya.

Survey dapat dilakukan dalam bentuk lembaran kertas ataupun online. Biasanya menggunakan Google Form, dengan tampilan yang menarik, serta mudah untuk direkap via Ms Excel. Jumlah koresponden karena ini membutuhkan pakar (expert) maka tidak perlu banyak-banyak, dan bisa di bawah sepuluh orang.

Memulai

Ada baiknya menjelaskan terlebih dahulu secara singkat masalah yang akan disurvey. Jangan lupa data tentang koresponden sangat penting untuk diketahui. Berikut tampilan awalnya.

Bagian Inti

AHP membutuhkan perbandingan satu pilihan (choice) dengan lainnya. Ada enam pilihan dengan tingkat paling rendah hingga tinggi, berturut-turut: less, equal, moderate, strong, very strong, dan extreme. Berikut contohnya:

AHP mengharuskan kondisi dimana tingkat konsistensi harus kurang dari 0.1. Ini penting untuk menjaga keanehan-keanehan dalam perbandingan. Misal tikus takut kucing, kucing takut dengan seorang ibu, dan seorang ibu takut tikus. Pada contoh di atas, Physical Health akan dibandingkan dengan Psychological Condition, Social Relationships, Environment, Economic Condition & Development, dan Access to Facilities & Services. Berikut contoh survey yang pernah saya sebar.

Minta Contoh Penulis Jurnal

Terkadang ada baiknya meminta contoh kuesioner dari seorang penulis jurnal, baik nasional maupun internasional. Walau terkadang tidak dibalas, tetapi banyak juga yang membalas dan memberikan respon. Setidaknya jika tidak memberikan sample dia menjelaskan apa isinya saja. Contoh di atas saya peroleh ketika meminta dari jurnal internasional ini (Bhatti, Tripathi, Nitivattananon, Rana, & Mozumder, 2015). Silahkan baca sumber referensi tentang AHP dari Springer ini.

Referensi:

Bhatti, S. S., Tripathi, N. K., Nitivattananon, V., Rana, I. A., & Mozumder, C. (2015). A multi-scale modeling approach for simulating urbanization in a metropolitan region. Habitat International, 50, 354–365. http://doi.org/10.1016/j.habitatint.2015.09.005

Saaty, T. L. (2008). Decision making with the analytic hierarchy process. International Journal of Services Sciences, 1(1), 83. http://doi.org/10.1504/IJSSCI.2008.017590

Link dari Google

 

Pindah Homebase Dosen

Beberapa waktu yang lalu ada kabar kepindahan rekan dosen ke kampus lain. Kasus pindahnya seorang dosen ke kampus lain banyak alasannya, dari alasan lokasi kerja yang jauh, tidak cocok dengan lingkungan dan gaji/insentif, hingga diterima menjadi ASN (departemen atau kampus negeri). Dari sisi internal, banyak ragam menyikapinya, dari yang oke-oke saja, hingga yang menggerutu. Banyak pula yang bertanya, bisa kah seorang dosen pindah ke kampus lain? bagaimana caranya? Apakah sulit dan lama prosesnya? Postingan kali ini berusaha menjelaskan prosesnya, tentu saja dari pengalaman diri sendiri dan orang lain, yang mungkin saja berbeda kasusnya.

Proses Pindah Homebase

Prinsipnya tiap dosen boleh pindah dari satu kampus ke kampus lainnya. Tetapi ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Ada baiknya membaca informasi dari kopertis, contohnya kopertis XII yang rajin menginformasikan suatu prosedur-prosedur, silahkan berkunjung ke situ. Aturan resminya dapat dilihat dari link berikut ini.

Ada dua jenis perpindahan yaitu antar kopertis, atau beda kopertis. Tapi tunggu dulu, ketika tulisan ini dibuat ada perubahan struktur yaitu kopertis yang berubah menjadi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLPT) yang menangani bukan hanya PTS tetapi PTN juga. Mungkin ada perubahan. Prinsipnya adalah jika dalam satu kopertis, surat pengantar perpindahan hanya di kopertis yang bersangkutan, tetapi jika beda kopertis harus melibatkan dua kopertis (tujuan dan asal) surat keterangannya. Yang terpenting adalah surat lolos butuh yang dikeluarkan oleh institusi asal.

Langkah terakhir dan penting adalah bagian PDPT kampus asal dan tujuan melakukan proses lolos butuh secara online. Caranya bisa dilihat di link ini, tentu saja tidak semua orang bisa mengaksesnya. Banyak kejadian, surat sudah beres tetapi karena bagian PDPT (sering disebut EPSBED) tidak memroses, maka tidak bisa pindah homebasenya.

Pengalaman Pribadi

Waktu itu saya dosen honorer di salah satu PTS di Jakarta. Ketika mendaftar jadi dosen tetap ternyata ditolak dengan alasan background pendidikan saya yang kurang OK untuk ngajar jurusan teknik informatika dan sistem informasi. OK-lah, akhirnya tetap ngajar tapi dosen honorer (sambil kerja utak-atik IT di bank). Tidak lama kemudian, ada rekan saya yang menawarkan menjadi dosen di tempat saya singgah sekarang, bukan hanya honorer, tetapi dosen tetap. Entah mengapa ada keinginan kuat untuk bekerja di sana walaupun gajinya hampir 1/3 dari kerjaan saya waktu itu di divisi IT sebuah bank nasional (pegawai kontrak). Karena memang saya yang “tidak diinginkan” di tempat saya mengajar honorer, mudah saja memperoleh surat lolos butuh. Dengan surat lolos butuh itu, kampus baru langsung mengurusnya, dua surat keterangan diperlukan yaitu dari kopertis 3 (asal) dan kopertis 4 (tujuan/baru). Selesai sudah. Tentu saja surat lolos butuh dikeluarkan dengan melihat apakah ada hutang, ikatan dinas, dan lain-lain yang bersifat legal/perdata.

Terus terang kepindahan saya karena merasa tertantang bahwa saya tidak memiliki skill yang cukup untuk mengajar di IT. Setelah mengambil S2, saya lanjut ke S3 (beasiswa DIKTI) dan ternyata bisa lulus di jenjang tertinggi IT, uniknya saya lulus tercepat seangkatan. Tentu saja secepat-cepatnya S3 ya lama juga (4 tahunan). Tadinya sih niatnya cuma penasaran saja apa benar saya tidak mampu mengikuti ilmu informatika, ternyata malah keasyikan di bidang itu.

Kepindahan Dosen Merugikan/Menguntungkan?

Sudah ada dua kali rekan saya yang pindah karena diterima mengajar di kampus negeri. Apakah merugikan? Tentu saja tidak. Justru malah itu membuktikan divisi SDM kampus sudah bekerja baik dan berhasil mendapatkan SDM-SDM yang berkualitas, terbukti diterima di PTN (PNJ dan POLBAN). Lagi pula keberadaannya walau beberapa saat sangat membantu dan menjadi “pelumas” kinerja dosen-dosen lainnya. Hanya saja SDM harus bekerja mencari dosen lagi, itu saja (kasihan kan kalau tidak ada kerjaan). Bagaimana supaya dosen betah? Ya kurangi kesenjangan dengan kampus lain (gaji, fasilitas, suasana, dan lain-lain). Toh secara default, dosen malas pindah-pindah kalau memang tidak kepepet buuaaanget. Menurut saya sih ..

Update: 2/2/18

Berikut link aturan (2016) untuk tatacara perpindahan dosen:

Update: 6/3/19 – Contoh Kasus

Kebetulan beberapa hari yg lalu rekan saya ingin pindah dari satu kampus ke kampus lainnya. Dia masih berstatus kontrak 3 tahun di kampus lama. Ketika mengundurkan diri dan ingin mencabut homebase-nya, kampus lama meminta menghabisi hingga kontrak selesai (untungnya hanya tinggal sekitar 5 bulan). Walaupun ada klausul mengganti biaya/pinalti, kebanyakan kampus menolak menerima pinalti, melainkan meminta untuk menghabisi sisa kontrak (dengan ancaman surat lolos butuh tidak dibuat tentu saja). So, ketika ingin menandatangani kontrak di atas materai, perhatikan dan baca dengan teliti klausulnya, jika berat kompromikan atau jika mentok, pilih waktu kontrak yang tidak terlalu lama, dan jika mentok terus cari kampus lain saja .. bumi Allah luas.

Gaya Belajar

Nemu buku lama di perpustakaan yang berisi gaya belajar pada anak dan bagaimana caranya untuk menghilangkan hambatan-hambatannya. Karena keburu tutup perpustakaannya jadi tidak sempat mencatat judul dan pengarangnya. Mudah-mudahan bisa menemukan informasi tersebut nanti.

Di awal diceritakan kisah-kisah anak yang mengalami hambatan dalam belajar. Misalnya seorang anak yang pintar bicara, ternyata tidak bisa mengikuti pembelajaran karena gurunya cenderung memperlakukan siswanya untuk diam dan diminta membaca. Tentu saja siswa yang memiliki karakter verbal tersebut kesulitan mengikuti pelajaran. Uji coba dilakukan ke siswa berkarakter verbal yaitu menghapal puisi dengan mengingat tanpa bicara dan mengingat dengan mengucapkan lantang. Ternyata lebih mudah mengingat sambil membaca bersuara untuk anak yang berkarakter verbal.

Begitu pula dengan dua karakter belajar lainnya yaitu auditory dan kinesthetic yang artinya berturut-turut berbasis pendengaran dan gerakan fisik. Misalnya, anak yang berkarakter kinesthetic akan sulit membaca dalam waktu lama tanpa jeda. Mereka lebih suka membaca dengan jeda yang sering, kecuali jika bacaannya ada alur action-nya, barulah mereka bisa terus membaca dengan nyaman. Suruh anak yang memiliki karakter auditory untuk mendengarkan perkuliahan, dia akan mudah menangkapnya dibanding diminta membaca.

Untuk mengetahui anak kita atau anak didik kita berkarakter belajar verbal, auditory, ataukah kinesthetic dapat dengan rincian di bawah ini.

Visual Strength

  • Dapat merakit sesuatu dari gambar
  • Menutup mata ketika mengingat
  • Sangat teliti dalam detil sesuatu
  • Baik bekerja dalam memecahkan puzzle
  • Waktu luang lebih suka nonton televisi atau main game
  • Suka melihat untuk belajar
  • Memiliki ingatan terhadap pengalaman/kejadian
  • Menggunakan pakaian yang matching sangat penting menurutnya
  • Dapat memahami sesuatu dengan membaca dan mendengarkan
  • Sangat kalem, malas menjawab kalau tidak ditanya
  • Berfikir cara terbaik lewat gambar (penglihatan)
  • Suka mencatat ketika kuliah/belajar

Auditory Strenths

  • Mengingat iklan
  • Menggunakan kata2 yang berirama
  • Berbicara ketika menyelesaikan permasalahan
  • Mendengarkan arahan secara oral
  • Lebih mudah memahami materi yang didengarkan dari pada yang dibaca
  • Sering membaca dengan keras
  • Kesulitan membaca diagram atau peta tanpa ada yang menjelaskannya
  • Mudah berekspresi secara verbal
  • Suka berkomunikasi lewat telepon
  • Pandai membedakan dan mencocokan suara

Kinesthetic Strength

  • Sulit fokus ke bacaan kecuali jika berisi alur action di dalamnya
  • Suka olah raga dan bermain di luar
  • Memiliki energi yang besar
  • Ketika kecil suka menyentuh ketika mengamati
  • Berekspresi (marah, dll) cenderung dengan body language
  • Mudah belajar dengan pengalaman praktek
  • Mudah bergerak mengikuti musik
  • Lelah ketika duduk dalam waktu lama
  • Ketika berhitung terkadang seperti menulis di udara
  • Susah mengikuti atau mengingat arahan secara verbal

Tentu saja ada kemungkinan penggabungan karakter pembelajaran pada seorang anak, misalnya selain mendengar dia juga melihat (auditory + visual), mendengar dan aksi (auditory + kinesthetic), atau bahkan penggabungan ketiganya. Oiya, disebutkan pula, untuk seorang anak terkadang karakter tertentu memang belum berkembang tetapi hanya telat, dan bisa saja berkembang pesat di masa yang akan datang melebihi karakter saat ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Update: 22 January 2018

Akhirnya ketemu juga refrensinya, yaitu:

Fuller, Cheri (1994). Unlocking your child’s Learning Potential. Singapore: The Navigators