Omong-omong Tentang Nasionalisme

Waktu itu ada kejadian di kampus tempat saya kuliah di Thailand. Mirip sekali dengan kejadian di kampus ketika saya ambil S1 di Jogja, yaitu maling yang tertangkap. Kalau di Jogja maling motor di tempat kosku habis dihajar massa, beda dengan kejadian di Thailand. Postingan ini sekadar obrolan ringan tentang nasionalisme dari pengalaman singkat di negeri orang.

Asrama di Thailand dihuni oleh kebanyakan mahasiswa non-Thai seperti India, Pakistan, China, dan salah satunya Indonesia. Ketika nongkrong dengan rekan dari Jogja, tiba-tiba istrinya yang baru tiba di dormitory khusus yang bawa keluarga menelepon karena kaget ada orang Thai yang masuk ke rumah. Ketika ditegur, orang itu bilang sedang memperbaiki listrik. Curiga bertambah ketika istrinya menanyakan apakah teman saya itu “request” perbaikan listrik dan jawabannya “tidak”. Kontan, teman saya yang sedang asyik ngopi ngacir pulang.

Kecurigaan bertambah ketika salah satu keamanan asrama memberitahu bahwa ada maling yang tertangkap, dan coba mengecek siapa tahu ada barang-barang yang disita dari tangan maling tersebut, salah satunya mata uang rupiah. Alhasil, jadilah rekan saya itu saksi di kepolisian Thailand. Setelah jadi saksi di kantor polisi, panas, dan lama, akhirnya teman-teman yang melapor kapok berurusan dengan polisi. Sedikit kecewa karena si maling hanya ditahan beberapa hari saja.

Nasionalisme Tetangga Kita

Ketika mengambil course work, yaitu tahapan sebelum riset, saya cenderung “dekat” dengan siswa Thailand. Dekat di sini karena menurut saya mereka sangat kompak, punya data-data materi kuliah, termasuk soal-soal ujian tahun lalu beserta tip dan triknya. Hasilnya selain nilai yang lumayan, saya bisa mengenali karakter mereka yang selalu mensuport rekannya yang senegara dengannya. Ketika melihat polisi yang terkesan membela si maling karena senegara, tentu saja akan membela rekannya yang bukan maling. Teman kuliah saya yang dari Bandung pun menyadari perbedaan perlakuan dosen yang berkebangsaan Thai dengan siswa Thai dan non-Thai. Menurut saya sih wajar saja, walau tidak se-ekstrim dengan negara kita. Perhatikan kejadian beberapa waktu yang lalu ketika maling yang tertangkap dan dibunuh beramai-ramai dengan cara dibakar, seperti hewan saja, padahal senegara dengan yang menangkapnya yang terkadang bukan selaku korban yang barangnya dicuri. Atau tengok saja sikap orang-orang kita terhadap lainnya yang sebangsa, hanya karena perbedaan “kulit terluar” seperti pilihan partai, calon kepala daerah, gubernur dan lainnya bisa lupa kalau sama-sama sebangsa dan setanah air.

Bagaimana dengan negara lainnya selain Thailand? Sepertinya tidak jauh berbeda, kecuali mungkin negara-negara berakhiran “-tan”. Baru pulang dan lulus kuliah, ketika kembali ke negaranya tiba-tiba ada kabar tewas dibunuh. Saya sempat bertanya ada apa di sana? Ternyata kabarnya harga nyawa terlampau murah. Orang dengan mudah membunuh hanya dengan bayaran sedikit saja (entahlah itu salah satu jawaban dari rekan yang tinggal di sana, mungkin saja tidak benar). Lucunya saya sempat ngobrol bertiga dengan teman India dan Pakistan. Ketika saya bertanya mengapa mereka terpisah menjadi dua negara? Padahal hanya beda agama saja. Mereka terdiam, saya jadi menyesal juga melontarkan pertanyaan iseng itu, untungnya tuan rumah yang berkebangsaan Pakistan langsung menawarkan Teh “Cai” yaitu teh dengan susu, suasana jadi hangat kembali. Memang ada isu-isu sensitif yang tidak boleh dibahas. Salah satunya adalah masalah darurat militer di Thailand. Ketika saya duduk berdua dengan seorang rekan dari Thailand dan menanyakan masalah itu, raut mukanya langsung pucat dan terdiam. Sepertinya generasi mudah negara itu khawatir akan bahayanya membahas perbedaan dalam politik. Mereka lebih suka membahas yang menurut mereka bernuansa hiburan, atau setidaknya hal-hal yang sehobi dan ada unsur kesamaannya bukan perbedaan.

Nasionalisme di Negara Indonesia

Cukuplah sila ketiga “Persatuan Indonesia” yang menggambarkan nasionalisme kita. Sukarno mengatakan kita sebangsa karena satu sejarah. Walaupun dengan Malaysia serumpun karena beda sejarah, kita bukan bangsa yang sama dengan mereka. Entah apakah masih relevan di era globalisasi ini statement Sukarno di buku karangannya (dibawah bendera revolusi) tersebut?. Misal dengan Timor Leste apakah kita satu sejarah? (satu dijajah Belanda satunya Portugis). Tetapi ketika ngobrol dengan teman dari Timor leste sepertinya saya merasa senegara. Ah entahlah, mungkin itu semua karena politik, yang membuat saya khawatir nanti ketika ngobrol dengan rekan dari Ambon, Aceh, atau Kalimantan, bukan senegara lagi. Jangan sampai lah.

So, kalau ada rekan senegara berprestasi, ikut banggalah. Kalau ada yang kurang, maklumin saja, toh dia rekan kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s