Algoritma Genetik dengan Toolbox Matlab

Salah satu hal yang tersulit dari algoritma genetik adalah menentukan persamaan tujuan (objective function). Baik buruk model yang kita buat tergantung dari persamaan tujuan ini. Sebagai contoh ingin menentukan letak terjauh dari beberapa titik tetapi tetap berada di sepanjang jalan tertentu, misalnya untuk menentukan letak optimal SPBU. Setelah kita merancang Sistem Informasi Geografis (SIG) berikutnya kita menentukan layer-layernya, yaitu layer raster data (peta) layer persamaan jalan, layer lokasi-lokasi vital yang harus sejauh mungkin dari SPBU, dan terakhir letak optimal SPBU. Berikut ini contoh penerapannya.

Pada Matlab, untuk membuat model algoritma genetik sangat mudah karena sudah disiapkan toolbox yang dapat dibuka lewat start – toolboxes – dan seterusnya. Cari optimasi toolbox, dan Anda pilih GA toolbox. Ada sedikit pemanggilan fungsi, pertama pada jendela toolbox GA Anda memanggil fungsi tujuan, sementara pada fungsi tujuan, Anda memanggil fungsi jalan. Fungsi jalan adalah persamaan matematis yang mewakili garis jalan, persamaan ini sangat sulit saya kerjakan, tetapi dengan merubah menjadi orde -1, sedikit lebih mudah, walaupun hasilnya jalan menjadi segmen patah-patah.

Selain untuk mencari letak optimal SPBU, GIS yang terbentuk bisa digunakan untuk menentukan letak optimal lainnya yaitu persawahan, perumahan, perkebunan, perkantoran, hingga mendeteksi sebaran penyakit. Tentu saja sekali lagi, persamaan tujuan menjadi penentu baik buruk hasil optimasi.

Mengaktifkan Save Mode Windows 8

Kemarin karena menginstall plugin untuk mempercantik tampilan windows bernama valentin pack yang ternyata untuk windows 7, ketika login, laptop istri saya hang dengan tampilan layar hitam dan mouse yang memang berubah menjadi gambar love. Untuk memperbaikinya tentu saja meng-uninstall aplikasi tersebut, tapi bagaimana? Ketika start windows langsung mengakitfkan plugin tersebut.

Salah satu caranya adalah dengan masuk ke save mode, kemudian menguninstallnya. Oke, langsung saja, untuk masuk ke pilihan Save Mode, windows 8 mengharuskan kita menekan Shift + F8. Beberapa kali ketika saya pandu istri saya terlambat menekan dan masuk ke menu login windows lagi, oleh karena itu harus diulang dengan restart. Jika berhasil (biasanya ada pesan waiting ..), maka Anda akan masuk ke menu sebagai berikut:

Pilih saja See andvanced repair options. Pilih yang tengah, troubleshoot.

Berikutnya akan muncul tampilan menu di bawah ini:

Untuk lanjut ke Save Mode, dapat anda tekan Windows Startup. Untuk kasus istri saya, cara termudah adalah masuk ke System Restore dan memilikih set point waktu yang lampau. Jika dijalankan akan meng-uninstall beberapa program yang diinstall setelah waktu set point. Satu kali istri saya gagal (ada pesan bahwa system restore tidak berhasil). Itu mungkin karena waktu setpoint yang dipilih terlalu lama. Akhirnya setelah memilih set point pada waktu yang tidak jauh dari saat ini, berhasil dan plugin yang terinstall dan menyebabkan windows 8 error berhasil di-uninstall. Ok, jika akan masuk ke Save Mode, pilih saja Windows Startup Settings. Pada beberapa versi windows sedikit berbeda, ada yang langsung restart, ada pula yang diminta setelah restart menekan tombol F1 – F9. Pilihan untuk save mode adalah F4. Jadi ketika restart, Anda harus siap-siap menekan save mode.

Restart, dan Anda siap masuk save mode.

Problem Error Controller Create di Rails 4 (ActiveModel::ForbiddenAttributesError)

Lagi asyik mengikuti tutorial pembuatan simple application di rails, tiba-tiba saat dirunning, ada masalah. Sudah saya teliti, tidak ada sintax yang error, hampir saja saya putus asa dan meninggalkan kerjaan saya. Untungnya saya iseng searching di google, dan ternyata ada yang bernasib sama dengan saya. Ternyata masalah muncul perbedaan kompatibilitas antara rails yang lama dengan yang terbaru. Berikut problema yang terjadi ketika melakukan proses penambahan record dengan controller method create. Jika script ini dijalankan:

def create

    @movie = Movie.new(params[:movie]) dst

Muncul error yang menunjuk pada baris kode tersebut. Ternyata solusinya berdasarkan yang saya searching adalah untuk rails 4 tidak bisa dengan menggunakan params seperti itu. Ganti dengan seperti ini:

@movie = Movie.new(movie_params)

Tetapi harus didefinisikan di bawah end method dengan baris seperti ini (bullets tidak ikut diketik):

  • private
    • def movie_params
    • params.require(:movie).permit(:title, :year)
    • end

Ketika dijalankan langsung, OK.

Rails on Windows .. Layak kah?

Ingin sekali saya mengembangkan Ruby on Rails (RoR) setelah saya selesai kuliah di sini karena karakternya yang cocok dengan materi yang sering saya ajar yaitu “Pemrograman Berorientasi Obyek”. Biasanya saya menggunakan Java sebagai bahasa untuk prakteknya, tetapi saya memiliki kesulitan ketika membuat koneksi antara kelas dengan sistem basis data yang berkarakter non obyek.

Berbeda dengan PHP yang sangat kompatibel dengan windows walaupun lebih cocok dengan linux, RoR sangat disarankan menggunakan linux. Tetapi untuk meningkatkan jumlah penggemar jenis bahasa baru ini mau tidak mau harus menggandeng windows mengingat jumlah pengguna windows yang masih menggurita di Indonesia. Berikut ini pengalaman saya menggunakan RoR yang berbasis windows.

Pertama-tama kita harus berkomunikasi dengan situs resmi RoR untuk memperoleh informasi dan software open source-nya. Untuk yang berplatform Windows kita dapat mengunduh dari: http://railsinstaller.org/en. Klik pada link download untuk Windows:

Jika Anda masih pemula, jangan khawatir dengan link-link di bawahnya karena dengan mengunduh Windows Ruby 1.9 Anda berarti mengunduh semua perlengkapan di bawahnya tersebut. Setelah di download, Anda tinggal mengekstrak dan menginstall dengan single click ala Microsoft, di mana untuk instalasi tinggal mengklik langsung jadi. Beda jika Anda menginstall lewat ubuntu misalnya. Anda harus menginstall apache dulu, menginstall postgresql atau mysql dulu, tetapi dengan download untuk windows, Anda tinggal menjalankan saja.

Saya sudah mencobanya, sedikit ada masalah ketika melakukan proses routing. Routing adalah proses yang mengarahkan suatu page ke arah tertentu. Misalnya Anda membuka situs http://rahmadya.com, maka Anda akan diarahkan ke mana oleh route aplikasi tersebut. Ternyata routing tidak berjalan, setelah saya selidiki ternyata Anda harus mengupgrade ke Rails versi terakhir (ketika saya buat tulisan ini masih berversi 4.0.0). Untuk apgrade, hubungi situs resmi rails yang menyediakan GEM. Gem adalah fasilitas rails seperti library di Windows. Situsnya: http://rubygems.org/gems/rails. Search saja di kolom searching, isi dengan kata kunci “rails”, maka Anda akan menjumpai rails versi terakhir. Ikuti cara downloadnya.

Ternyata ada rails terbaru versi 4.0.1. Untuk mengecek versi rails Anda, masuk ke command promt (Start – run – cmd), ketik saja ‘rails –v‘.

Ternyata versi rails saya masih 4.0.0. Anda tidak diharuskan mengupgrade, tetapi ada baiknya diupgrade untuk memperoleh hasil yang maksimal dari RoR. Untuk menginstallnya ada dua pilihan:

  1. Pada command windows ketik: ‘gem install rails’
  2. Pada Gemfile yang terletak di <folder_project>, tambahkan: ‘gem “rails”, “~> 4.0.1”

Tampak proses upgrade dari rails 4.0.0 ke rails 4.0.1. Berikutnya kita tinggal membuat aplikasi dengan rails, sangat mudah dan tidak membutuhkan banyak waktu.

Kuliah Lagi ..

Ketika SMA saya merupakan siswa yang lumayan, maksudnya lumayan bagus nilai mata pelajarannya. Bukan karena cerdas, tetapi karena serius dan belajar dengan tekun. Beda dengan teman-teman saya yang lain yang memang cerdas bawaan lahir, dengan belajar sedikit, langsung memahami. Sementara saya harus begadang semalaman untuk memahami suatu materi, apa boleh buat. Tidak apa, toh itu membuahkan hasil, hingga saya lulus UMPTN dan masuk di jurusan Teknik Mesin, jurusan yang sulit menurut saya. Buktinya saya butuh waktu enam tahun untuk memperoleh gelar sarjana teknik.

(Tak disangka yang saya salami itu, alumni AIT juga)

Ternyata wisuda merupakan kebahagiaan sesaat karena hampir setahun saya menganggur, ditolak ketika melamar di sana sini, maklum tidak jauh tahunnya dari krisis moneter waktu itu. Akhirnya karena kepepet, saya ditawari mengajar oleh sepupu saya di salah satu kampus di Jakarta. Jurusan yang saya ajar pun jauh dari jurusan saya ketika kuliah, yaitu jurusan Teknik Komputer. Terus terang, saya di sana bukan ngajar, tapi belajar, apa boleh buat. Dengan berbekal dengkul, saya bekerja dengan menaiki beberapa angkutan umum.

Karena tuntutan profesi, saya mencoba untuk kuliah S2 di UI, mengambil jurusan Teknik Mesin, seperti jurusan S1 saya, dan Alhamdulillah diterima. Tetapi ketika melihat uang kuliah sebesar 11 juta rupiah di awal, saya langsung berfikir, keluarga yang baru saja saya jalani, mau tidak mau harus berfikir ulang untuk mengeluarkan uang sebesar itu. Akhirnya saya lepas kuliah di UI dan uang tersebut kami gunakan untuk mengkredit rumah BTN. Sedih juga, tapi apa boleh buat, hidup itu pilihan.

Tetapi di saat bersamaan, di tempat saya mengajar dibuka kelas S2, dan saya walaupun tidak gratis mendapat potongan yang lumayan besar jika kuliah di sana. Akhirnya saya ambil kuliah tersebut dengan jurusan ilmu komputer (M.Kom). Dengan mudah saya jalani kuliah tersebut dan lulus tepat waktu (1,5 tahun). Ternyata dari studi tersebut saya memperoleh banyak manfaat, mulai dari banyaknya jam mengajar hingga saya memperolah sertifikasi dosen, dimana mensyaratkan strata 2 jika ingin mendapatinya. Dan satu hal yang terpenting adalah dengan gelar S2 itu saya diterima di kampus Asian Institute of Technology (AIT) thailand (www.ait.ac.th) pada jurusan Computer Science program Ph.D, tentu dengan beasiswa (BPPLN Dikti), karena tidak mungkin saya dan kampus saya membiayai uang kuliah yang hinggu lulus sekitar setengah milyar. Ternyata AIT merupakan kampus andalah beasiswa sejak lama, walaupun sempat terkena banjir, tetapi perlahan-lahan mulai bangkit dan peminatnya mulai bertambah.

Kampus tersebut dari sisi ranking memang tidak begitu menonjol, tetapi alumninya banyak tersebar di seluruh dunia, karena kampus itu masuk kategori kampus internasional, hampir semua mahasiswanya adalah penerima beasiswa (maklum uang kuliahnya hampir dua kali kampus terkenal seperti Mahidol dan lain-lain). Salah satu alumni dari Indonesia yaitu Prof. Joko Santoso, yang pernah menjadi rektor ITB dan UI, dan saat tulisan ini dibuat merupakan dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI). Dan beliau menjadi alumni kehormatan AIT, beserta putri raja Thailand dan beberapa alumni dari berbagai negara yang lain.

(Prof. Joko Santoso. Sumber: Wikipedia)

Selain itu, yang mengejutkan saya, mantan rektor UGM, yaitu Prof. Sudjarwadi, yang ketika saya wisuda bersalaman dengannya juga S2 di tempat saya saat ini mengambil S3.  Begitu pula, salah satu rekan kerja saya yang sekarang sudah dipanggil Allah sebulan yang lalu, Bpk Soedarmin, ternyata sempat beberapa bulan kursus di sana, dan banyak menceritakan kehidupan di sana. Sayang ketika beliau dipanggil saya tidak sempat ke rumahnya karena sudah berangkat ke Thailand, semoga damai di alam sana.

(Bersama Alm Soedarmin, ketika mengecek alat uji tekan beton di lab Sipil)

Sungguh hidup itu berputar-putar saja, tidak jauh dari yang pernah menghampiri kita walau sesaat. Tinggalah saya, alumni mesin yang sedang mengemban tugas berat menaklukan degree tertinggi Computer Science, semoga berhasil. Amiin.

Screen Record Free dengan Microsoft Expression 4

Sehubungan dengan presentasi penelitian yang harus dilaksanakan, mau tidak mau harus merekam running programnya dengan bentuk video layaknya youtube. Namun saya tidak memiliki software untuk merekam, kalaupun ada itu bajakan. Namun untungnya windows menggratiskan salah satu software untuk merekam aktivitas kita di sistem operasinya yaitu Microsoft Expression 4. Untuk mendownloadnya dapat Anda buka situs resminya: http://www.microsoft.com/expression/eng/

Tentu saja ketika download, windows Anda sebaiknya bukan windows bajakan, karena sama saja dengan lapor diri. Jika sudah selesai mendownload, Anda tinggal mengklik ganda file sumber, tinggal ikuti perintahnya. Oiya, ketika ditanyakan serial number, lewati saja, karena tidak apa-apa tanpa mengisi kode sumber. Karena free kita hanya diperbolehkan merekam selama 10 menit, tetapi tidak apa-apa, karena 10 menit lumayan lama menurut saya.

Selain merekam gambar, dengan menekan icon mic, kita dapat merekam suara juga, tentu saja harus tersedia mic (biasanya tiap laptop ada). Ketika tombol merah (record) ditekan, Anda diminta membuat range yang akan direkam pada layar monitor Anda. Setelah itu dengan sekali tekan tombol record lagi Anda siap merekam apapun yang terjadi di layar. Berikut ini contoh hasil rekam saya yang saya upload di Youtub. http://www.youtube.com/watch?v=XFTOnXSR3eg

Lika-liku Mencari Beasiswa

Tidak dapat dipungkiri, biaya pendidikan saat ini tidak bisa dibilang murah lagi. Ketika tahun 1995 dulu saya kuliah di UGM, SPP bersih masih Rp. 250 ribu saja, tak perduli fakultas teknik atau kedokteran. Tetapi saat ini dengan adanya jalur mandiri, biaya masuk untuk fakultas kedokteran gigi saja sudah hampir mencapai 200-an juta rupiah, sungguh biaya yang fantastis. Bagaimana dengan sekolah menengah? Ternyata tidak jauh berbeda. Masuk sekolah negeri malah lebih mahal dari pada sekolah swasta, tentu saja negeri yang memiliki standar internasional yang sering dikenal dengan istilah RSBI. Untung saja pengadaan program tersebut dianggap salah oleh Mahkamah konstitusi sehingga harus dihapus. Bagaimana dengan calon siswa atau mahasiswa yang pintar tetapi kurang mampu? Tentu saja salah satu andalannya adalah beasiswa. Bagaimana dengan kampus negeri yang tidak melewati jalur khusus dan ikut saringan masuk seperti sipenmaru, UMPTN, SNMPTN, atau apalah namanya yang berubah terus itu? Ternyata informasi yang saya baca dari surat kabar, ada keluhan dari beberapa calon mahasiswa yang tidak sanggup membayar uang masuk yang standar tetapi sebesar 5 jutaan. Akhirnya calon mahasiswa tersebut mengundurkan diri. Sungguh sangat disayangkan.

Sebenarnya pemerintah menyediakan beasiswa kepada para mahasiswa yang disalurkan melalui kampus masing-masing. Misalnya kampus tempat saya mengajar menyediakan beasiswa yang membebaskan biaya SPP selama setahun kepada mahasiswa yang layak menerima beasiswa. Ada dua jenis biasanya yaitu bagi yang tidak mampu dan bagi yang memiliki keunggulan dari sisi akademis. Bagaimana dengan mahasiswa yang tidak sanggup dari awal? Jangan khawatir, ada jenis beasiswa lain yaitu beasiswa Fullbright yang akan membebaskan mahasiswa dari membayar kuliah sejak awal. Beasiswa jenis ini ditujukan kepada lulusan SMA yang diundang oleh kampus kami untuk diwawancara. Untuk jurusan komputer sangat disayangkan dua calon penerima beasiswa fullbright mengundurkan diri karena diterima di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan memilih untuk masuk UNJ walaupun tidak beasiswa.

Bagaimana dengan dosen dan karyawan? Jangan khawatir, ada jenis beasiswa lainnya yang siap menanti. Untuk karyawan ada beasiswa sebagai tenaga kependidikan. Sayang, beasiswa jenis ini ditujukan untuk karyawan di kampus negeri. Terpaksa beberapa karyawan di kampus kami (non dosen) kuliah dengan biaya mandiri. Dan bagi dosen, tentu saja harapan satu-satunya adalah beasiswa mengingat saat ini mengambil S2 dan S3 tidak murah lagi. Jangankan uang pribadi, kampus saja sangat keberatan untuk membiayai dosennya kuliah lagi. Apalagi saat ini tuntutan studi lanjut tidak dapat dihindarai, yakni dosen harus S2 dan jika ingin naik pangkat menjadi lektor kepala harus memiliki jenjang pendidikan S3.

Beasiswa Program Pascasarjana Dalam Negeri

Beasiswa ini adalah beasiswa andalan para dosen karena kampus yang dituju adalah kampus dalam negeri sehingga tidak mengganggu aktivitas mengarjar (asal kampus tujuan tidak terlalu jauh) dan keluarga. Beasiswa ini mudah didapat asalkan kita diterima di kampus tujuan dan syarat-syarat administrasi lain memenuhi, dengan syarat utama adalah Nomor Induk Dosen (NIDN).

Karena banyak yang menginginkan beasiswa dalam negeri maka kapasitasnya menjadi sangat terbatas. Apalagi ketika syarat S2 dan S3 terhadap dosen diterapkan oleh DIKTI. Untuk S2 sedikit lebih mudah karena memang kapasitasnya bisa ditingkatkan di kampus tujuan beasiswa. Tetapi untuk program S3 sangat sulit mengingat keterbatasan profesor pembimbing. Untuk ilmu komputer UI saja, antrian sudah panjang dimana tiap profesor sudah membawa calon kandidat doktor masing-masing. Jangan harap calon mahasiswa yang datang tiba-tiba bisa diterima menjadi calon mahasiswa S3. Dan salah satu yang terberat adalah ketika wawancara terkadang kita diminta menunjukan publikasi karya ilmiah kita di jurnal internasional.

Beasiswa Program Pascasarjana Luar Negeri

Untuk yang malas menembus kampus dalam negeri yang persaingannya ketat, ada baiknya mencoba mendaftar di luar negeri. Biasanya jika mendengar luar negeri para dosen langsung lemas mengingat syarat yang ketat, terutama kemampuan bahasa. Belum lagi masalah lainnya yaitu harus meninggalkan keluarga bagi yang sudah memiliki anak dan istri.

Untuk dosen sebenarnya dari ketika sebelum menjadi dosen harus sudah mempersiapkan sendiri kemampuan berbahasanya, terutama bahasa Inggris. Banyak kursus-kursus yang bertebaran yang membantu kita dari speaking, listening, reading, hingga writing. Sebaiknya memang kampus memberikan bantuan kursus, pelatihan, dan sejenisnya kepada dosennya agar siap untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Oiya, selama tulisan ini dibuat, syarat Toefl yang berlaku adalah minimal 500 dan toefl ITP, bukan prediksi (yang harganya sekitar 200/300 ribu rupiah). Untuk kampus negeri sepertinya studi lanjut ke luar negeri menjadi satu keharusan, karena kualitas kampus di luar negeri berbeda dengan kampus dalam negeri terutama dari sisi publikasi karya ilmiah. Walaupun UI, UGM, ITB, dan kampus lapis atas memiliki rangking di atas beberapa kampus luar negeri. Tetapi tentu saja agak janggal jika dosen UI kuliah di UGM atau ITB. Berbeda jika dosen UI studi lanjut di MIT misalnya.

Bagaimana jika kemampuan berbahasa sudah terpenuhi? Langkah selanjutnya adalah mendaftar ke kampus luar negeri. Di sinilah seninya, karena tiap kampus berbeda baik dari sisi waktu pendaftaran maupun sistemnya. Tetapi kebanyakan kampus luar negeri, khususnya yang studi S3, harus mencari profesor yang siap menjadi supervisor / advisor kita. Terkadang mereka memberikan suatu tugas/pertanyaan yang harus kita jawab dan terkadang walaupun supervisor sudah ok, kita diharuskan berangkat ke sana untuk tes masuk. Untungnya beberapa kampus tidak mengharuskan kita ikut test ke kampus tujuan (ke luar negeri), tetapi hanya menyerahkan sertifikan GMAT/GRE yang mirip dengan Test Potensi Akademik (TPA). Bahkan beberapa kampus membebaskan test masuk jika memang kita sudah memiliki banyak tulisan di jurnal-jurnal bertaraf internasional, syukur-syukur terindeks di scopus, ieee, thomson, dan index internasional lainnya.

Jika kita sudah diterima dan dibuktikan dengan surat tanda terima (letter of acceptance) yang tanpa syarat, maka kita siap mendaftar beasiswa baik ke DIKTI maupun beasiswa lainnya, misalnya LPDP dari kementrian keuangan. LOA yang tanpa syarat, sering diistilahkan dengan, LOA unconditional, menjadi syarat mutlak, karena pemerintah akan memberikan bantuan beasiswa ke calon mahasiswa yang sudah pasti akan berangkat jika didanai. Jika masih ada satu syarat tertentu (di luar syarat keuangan) maka dikhawatirkan ketika pemerintah menyetujui pencairan beasiswa, calon mahasiswa itu ditolak kampus tujuan karena tidak memenuhi kondisi yang diminta oleh pemberi LOA. Mengapa demikian? Karena saya sendiri mengalami hal seperti ini, yaitu harus meminta lagi kampus tujuan LOA yang tanpa syarat. Biasanya akan diberikan ketika kita memunuhi syarat yang diminta.

Untuk beasiswa DIKTI, syarat terberat sebenarnya adalah wawancara. Karena ini merupakan penentu apakah kita disetujui atau tidak untuk diberi beasiswa. Karen sifatnya wawancara, maka aspek subjektif menjadi sangat menentukan. Saya termasuk korbannya. Sebagai dosen fakultas teknik, saya termasuk tipe yang sulit dalam berbicara. Dalam bahasa Indonesia saja masih sulit, apalagi bahasa Inggris. Walaupun IELTS saya 6.0 tetapi pada wawancara pertama, bahasa Inggris saya dianggap kurang. Akhirnya saya ikut wawancara ulang. Dan anehnya, ketika diwawancara oleh pewawancara yang lain, saya dinyatakan tidak ada masalah dengan bahasa Inggris saya. So, berdoalah semoga mendapat pewawancara yang baik. Dari sekitar 6 pewawancara ada beberapa yang kerap tidak meluluskan calaon penerima beasiswa. Saya masih ingat wajah-wajahnya, terkadang geram juga sih. Tetapi mereka sebenarnya menerima beban yang cukup berat dari negara. Untuk yang dosen swasta, bersiap-siaplah Anda bertarung dengan dosen-dosen negeri yang merupakan dosen pilihan. Tentu saja tidak perlu rendah diri bagi dosen-dosen swasta, santai saja.

Wawancara

Beberapa pertanyaan yang muncul dalam sesi wawancara kebanyakan tidak jauh berbeda antara satu calon dengan calon lainnya. Apalagi untuk pewawancara yang sama. Tetapi jika pewawancara yang berbeda tentu saja beda pertanyaannya. Ciri khas ketika wawancara adalah, ketika dua orang pewawancara mewawancarai kita, salah satunya adalah yang aktif dan seperinya penentu kelulusan. Tentu saja tidak bisa saya sebutkan di sini. Ada cerita lucu juga ketika calon dari makasar mendapat giliran dan ketika tahu bahwa sekarang giliran dia, dia enggan masuk (karena tahu yg mewawancara “killer”), sampai petugas administrasi memaksa dia masuk. Jika dia menolak berbahaya juga, karena saya berikutnya. Akhirnya saya dipanggil untuk wawancara di meja sebelahnya yang lebih lunak dan kabarnya banyak meluluskan. Ciri khas pewawancara yg masuk kategori “baik” adalah ketika menolak, walaupun tidak diumumkan saat itu, dia memberikan alasan yang kuat atas penolakannya. Alasannya pun logis dan kebanyakan diterima oleh calon yang diwawancarai, dimana setelah wawancara si calon akan berusaha memenuhi persyaratan yang kurang tersebut.

Berikut ini tips yang mungkin bisa jadi pegangan.

Pewawancara adalah manusia biasa, jadi jangan buat dia kesal, sebal, dan terlalu banyak mencari alasan. Ketika datang hormatilah dia sebagai orang yang diberi tanggung jawab oleh negara memilih calon penerima beasiswa yang jika ditotal untuk S3 berkisar antara setengah hingga dua millyar hingga lulus. Oiya, wawancara dengan bahasa Inggris, lebih sulit dari test Speaking IELTS karena di sini selain bahasa Inggris yang baik, harus juga sesuai dengan isinya. Sementara IELTS walaupun kita menjawab dengan bohong/ngarang, jika tata bahasa benar, tetap dianggap benar (hanya menguji bahasa bukan konten).

Khusus yang akan ambil S3, pasti akan ditanyakan tema/judul proposal disertasi dengan bukti email antara kita dengan supervisor. Bukan hanya sekedar supervisor kita setuju untuk membimbing kita melainkan juga komunikasi mengenai judul tersebut. Saya diserang di wilayah ini karena ketika calon supervisor setuju menurut saya sudah beres, tetapi ternyata harus berlanjut komunikasi tersebut mengenai tema proposal kita.

Untuk yang memiliki LOA masih condisional, saran saya adalah berdoa. Karena kalau kita lihat pengumuman hasil wawancara kebanyakan gagal yaitu LOA yang masih kondisional. Seharusnya kita memenuhi kondisi pada LOA, minimal tinggal masalah keuangan, karena DIKTI melihat jika syarat LOA masalah keuangan, DIKTI menganggap semua yg melamar beasiswa pasti minta ditanggung biaya kuliahnya (ditambah biaya hidup pula).

 Mungkin segini saja bagi-bagi ceritanya, jika masih belum jelas bisa email ke saya atau tulis komentar di bawah. Oiya, andalan beasiswa dikti saat ini yang saya tahu adalah DIKTI (untuk yg belum punya NIDN mendaftar di beasiswa unggulan, sedang yang sudah ada NIDN masuk ke BPPLN). Sementara LPDP (saya lupa situsnya, searching aja di GOOGLE) memiliki syarat usia yg ketat, yaitu 35 tahun, beda dengan BPPLN Dikti yang 45 tahun. Selamat mencoba, tidak ada salahnya, tidak ada suap menyuap untuk pendaftaran beasiswa.

Membuat Diagram Alir

Terkadang kita memiliki masalah ketika akan membuat diagram kita tidak memiliki software seperti vision, rational rose, dan sejenisnya. Untungnya saat ini kita bisa memanfaatkan fasilitas dari web yang menyediakan sarana untuk menggambar diagram tersebut, salah satunya adalah www.draw.io. Silahkan mencoba, hasilnya lumayan bagus dan dapat dikonversi menjadi xml, jpg, gif, dan lain-lain. Berikut ini contoh hasilnya:

Berikutnya tinggal klik File – Eksport – pilih filenya, jika kita akan melanjutkan gambar di lain waktu, simpanlah dalam format XML. Jika akan menjadikan picture di word, pilih JPG, GIF, dan file gambar lainnya. Berikut ini hasil create menjadi GIF.

Windows Surface RT

Beberapa bulan yang lalu kampus tempat saya belajar menawarkan sebuah tablet berbasis windows 8 dengan nama Windows Surface RT dengan discount hingga 50%. Tadinya berharga 12 ribu Baht menjadi 6000 baht saja. Dengan kurs 1 baht kira-kira Rp 370 rupiah, berarti harga satu buah tablet tersebut sekitar 2 jutaan dari yang seharusnya 4 jutaan. Selain itu ada tawaran keyboard portabel dan touch pad portable. Saya memilih keyboard karena lebih nyaman untuk mengetik karena fungsinya sama dengan laptop. Sementara touch pad agak sulit untuk mengetik walaupun lebih nyaman dibanding mengetik langsung di tablet dengan keyboard virtual. Harga satu keyboard untuk windows rt dibandrol dengan harga 3000-an baht, atau sekitar satu jutaan rupiah, lumayan mahal, apalagi keyboard tidak ikut diskon.

Setelah mengantri beberapa saat akhirnya berhasil juga transaksi pembayaran dengan kartu kredit, maklum kiriman DIKTI belum jelas. Setelah barang diterima saya langsung ke bagian pengecekan untuk dilakukan setting windows 8 pertama kali, pengisian nama tablet, pemasangan screen protector yang dihargai sekitar 250 baht (70-an ribu rupiah). Sampai di dorm, saya utak-atik, ternyata praktis juga. Saya salut juga ketika menjalankan aplikasi-aplikasi yang ada, mirip dengan laptop istri saya yang berbasis windows 8.

Satu hal yang membedakan dengan tablet yang saya beli sebelumnya adalah dalam hal asesoris tambahan. Ketika harddisk eksternal saya tancapkan di tablet, seluruh data saya langsung terbaca, berbeda dengan samsung sgt 10 saya yang lama, ada pesan error bahwa yang saya tancapkan adalah high power usb. Tentu saja samsung yang lama harus membeli konektor usb tambaha yang harga originalnya ratusan ribu rupiah. Ternyata usb bisa saya tancapkan mouse serta ketika saya tancapkan ke blackberry saya, langsung bisa terhubung dan memindahkan data dengan mudah, berbeda dengan samsung yang harus lewat mekanisme bluetooth.

Ketika mengetik tulisan ini, saya menggunakan tablet windows rt saya, ternyata mirip dengan mengetik lewat keyboard. Keyboardnya lumayan enteng di tekan. Ukurannya yang besar huruf-hurufnya menghindari saya dari salah tekan. Selain itu ketika selesai mengetik dapat saya langsung upload ke blog saya.

Aplikasi Firebug pada Mozilla

Bagi anda yang gemar mengutak-atik pemrograman berbasis web, alangkah baiknya Anda menginstall plugin firebug yang secara gratis dapat diunduh. Aplikasi ini membantu anda mencari letak kesalahan program yang telah Anda buat. Berikut ini contoh pencarian letak kesalahan aplikasi yang sedang saya test. Pemrogram yang saya buat menggunakan Ajax yang memasukan fungsi Autocompletion pada isian form. Ketika tombol search ditekan, tampak ada kesalahan pada salah satu koomponen ajax tersebut.

Tampak di bagian bawah browser muncul kolom yang menunjukkan letak kesalahannya. Searching saja di google jika Anda ingin memanfaatkan fasilitas gratis ini. Tersedia untuk beragam versi.

Membuat Database Objek dengan Scaffolding pada Ruby on Rails

Beberapa lama saya mencari cara untuk mengimplementasikan UML terutama masalah diagram kelas, dimana suatu kelas terdiri dari atribut, dan operation di dalamnya. Beberapa rekan mengatakan kelas dapat diwakili oleh tabel pada sistem database relasional. Tentu saja ini bertentangan dengan konsep UML yang berbasis objek. Tetapi dengan bahasa Ruby, hal ini dapat dibuat mudah, karena kita dapat membuat objek dengan mudah dan menghubungkannya dengan sistem database yang kita inginkan. Buka Ubuntu Anda, masuk ke Terminal (jika sulit mencarinya, ketik aja terminal di menu “search”):

Berikut ini akan kita ambil contoh membuat suatu objek daftar aktivitas (to do list) yang pernah dijadikan ujian Mid Term di kampus saya sekarang kuliah AIT Thailand. Baiklah, tidak perlu basa-basi kita buka saja Ruby on Rails (RoR). Pertama-tama kita buat terlebih dahulu suatu project, misalnya kita namakan todo, ketik pada console RoR:

$ rails new todo –d postgresql

Tampak RoR akan membuat (Create) file-file yang diperlukan dan diakhiri dengan Bundle Install. Setelah itu kita buat satu objek dengan nama task. Sebelumnya Anda harus terlebih dahulu masuk ke direktori project anda (dalam hal ini todo):

$ cd todo

Buka file Gemfile di /app dan hilangkan # pada therubyracer yang artinya, kita akan menggunakan fasilitas tersebut.

Lakukan bundle install

$ bundle install

Kita menggunakan sistem database postgresql, buka file /app/config/database.yml, edit super user yang akan mengakses (ada tiga editan). Jangan lupa menekan tombol save.

Jangan lupa siapkan databasenya dengan mengetik

$ rake db:create:all

Berikutnya adalah membuat objek task.

Di sini kita memanfaatkan fasilitas yang ada pada RoR yaitu Scaffold. Dimana instruksi ini akan membuat suatu objek dengan nama task dan atribut nama:string dan status boolean. Bagaimana dengan operation? Jangan khawatir, RoR akan membuatkan secara otomatis tujuh default operation yang dapat kita hapus beberapa dari operation itu jika kita tidak menginginkannya. Seperti biasa, lakukan migrasi, dimana objek yang dibuat dengan RoR dimigrasikan ke database dengan instruksi:

$ rake db:migrate

Sebelumnya buka file database.yml yang secara default akan dibuatkan user todo. Ganti dengan superuser yang pernah Anda buat. Dalam hal ini saya menggunakan user csim.

 

Sebenarnya masalah sudah selesai, tinggal melakukan sedikit seting pada route.rb yang terletak di folder /app/config. Tambahkan:

root to: “task#index”

Jangan lupa jalankan:

$ rake routes

Artinya saya akan mengarahkan server ke task#index tiap project todo dijalankan. Oleh karena itu rename folder index anda yang terletak di views dengan nama lain, karena tidak akan kita gunakan. Jalankan server:

$ rails s

Jangan khawatir, setelah server dihidupkan, tampak seperti Hang. Sebenarnya server sudah berfungsi dan sedang aktif. Buka browser, ketikan alamat server http://localhost:3000

Ternyata mudah. Tampak operation yang diberikan antara lain NewTask(), Show(), Edit(), Destroy(), dan lain-lain. Coba klik New Task, isi task baru. Maka akan muncul list task baru. Mudah bukan?

Lapor diri di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok

Setelah tertunda hampir beberapa minggu akhirnya saya berangkat juga ke KBRI untuk melakukan proses lapor diri. Lapor diri bermaksud memberitahukan ke perwakilan RI di luar negeri bahwa saya akan tinggal untuk jangka waktu tertentu di negara tersebut. Sangat bermanfaat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti di mesir dan syiria misalnya, kita dapat perlindungan dari KBRI. Untuk Thailand misalnya seperti banjir besar yang terjadi dua tahun yang lalu. Sebagian besar siswa Indonesia menumpang di KBRI Bangkok. Selain itu, lapor diri juga merupakan salah satu syarat untuk perpanjangan visa pelajar dari 90 hari menjadi satu tahun.

Kami berangkat bersama dengan rekan saya ditambah penunjuk jalan (mahasiswa senior) dengan MRT. Setelah memarkir sepeda di pintu keluar Asian Institute of Technology (AIT) kami langsung menstop van yang mengantarkan kami ke statiun Mon Chit. Biayanya cukup murah, 30 Baht. Anehnya lagi, tidak ada kondektur yang menagih, melainkan hanya berupa nampar yang diedarkan secara estafet dari kursi depan dan mengisi nampan itu dengan sejumlah uang. Jika hal itu diterapkan di Indonesia, bisa jadi di tengah jalan uang itu hilang, tapi di sini kejujuran warga Thailand patut diacungi jempol. Tidak begitu lama tibalah di MRT yang dijadikan studi banding oleh Gubernur Jokowi untuk diterapkan di Jakarta.

Tujuan pertama adalah Ratchadewi, yang terletak di Bangkok. Sedikit ada kebingungan mengenai prosedur pembelian tiket MRT karena swalayan dengan memasukan sejumlah coin. Untungnya ada loket yang menukarkan coin. Dua rekan saya sempat kebingungan karena dikira loket itu membeli tiket MRT langsung, padahal hanya menukarkan uang, walaupun terkadang ada yang diberikan tiket juga. Mungkin tergantung kondisi stok yang ada di loket itu. Biaya ke Bangkok adalah 37 Baht. Setelah naik, saya melihat suasana dalam MRT yang cukup bersih rapi, dan yang utama, sejuk. Tidak diperkenankan penumpang makan, apalagi merokok. Sepanjang perjalanan saya bisa melihat keindahan kota Bangkok dari atas MRT, dari bangunannya yang khas, hingga Victory Monumen di bundaran yang terletak di tengah Bangkok. Tidak lama kemudian, kami tiba di Stasiun Rathcadewi.

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya tiba juga di KBRI. Lumayan jauh letaknya dari stasiun Ratchadewi. Apalagi hari itu matahari terik. Sepanjang perjalanan banyak pedagang menjajakan perhiasan, dan buah-buahan. KBRI cukup luas, dibandingkan dengan kedutaan Thailand yang hanya diberikan sedikit oleh Indonesia. Kami langsung menuju loket lapor diri yang letaknya sama dengan pengurusan VISA dan konsulat. Setelah menelepon bagian penerimaan lapor diri, saya segera menghadap petugas tersebut dan menyerahkan pasport setelah mengisi biodata. Si petugas memberitahukan bahwa proses ini akan selesai jam dua siang, jadi kami diharap menunggu.

Sambil menunggu selesai diproses, kami sarapan di kantin KBRI yang letaknya berdekatan dengan sekolah TK, SD, SMP, dan SMA khusus warga negara Indonesia. Kantin letaknya di bagian belakang KBRI dan masuknya harus melalui pintu yang lain. Sedikit sulit masuk ke sana karena petugas yang berjaga adalah berkewarganegaraan Thailand yg tidak jelas berbicara Inggris. Untungnya ada petugas yang bisa berbahasa Indonesia yang meminta saya untuk menunggu penandatanganan SPPD hingga jam 12 siang. Kami tiba di kantin, dan langsung melihat orang-orang Indonesia di sana. Makanan khas Indonesia sepert nasi goreng, aneka sayur tersaji sudah. Sayangnya, harganya cukup mahal, lebih mahal dibanding makan di Cafetaria AIT. Setelah foto sebentar di depan KBRI kami keluar jalan-jalan sambil menunggu jam 2 siang.

Bangkok termasuk daerah yang padat dan jalanan dapat dikatakan macet di siang hari. Tapi berbeda dengan di Indonesia, di sana walaupun macet, tidak terdengar klakson yang memekakkan telinga. Mereka dengan sabar menikmati kemacetan itu. Walaupun penduduknya penganut budha yang taat, tetapi rekan senior saya menasehati tetap waspada terhadap kejahatan. Terkadang patung untuk sembahyang tersedia, dengan dupa, sesajen dan sejenisnya. Beberapa orang terlihat sembahyang sambil membaca doa yang bisa dibaca langsung di batu yang terletak di depan patung.

Kami mampir di beberapa Mall setelah menukar uang di penukaran uang dengan harga bersaing di penukaran uang bernama “Super Rich”. Super Rich merupakan andalah mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Thailand untuk menukar uang. Dibanding dengan bank SCB di AIT, di sini ketika saya menukar 200 dollar, saya bisa untung 60 baht dibanding di kampus saya. Akan tetapi, untuk menukar uang, kita diharuskan menunjukkan passport, padahal passport sedang diproses di kedutaan. Untungnya kami boleh menggunakan fotokopi passport.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 ketika tiba di satu Mall yang berdekatan dengan KBRI. Setelah membeli kalkulator sebagai perlengkapan ujian MID Term, kami bergegas ke KBRI. Alhamdulillah SPPD saya sudah ditandangani. SPPD ini harus dikirim ke DIKTI sebagai bukti bahwa saya telah menggunakan tiket pesawat yang dibelikan Dikti. Kami makan siang dengan masakan khas Indonesia, sayur lodeh, dan tempe. Tampak juga anak-anak Indonesia yang sekolah di sana dari TK – SMA makan juga di kantin itu.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya proses lapor diri selesai. Saya lihat di bagian endorsment Passport, sudah di cap oleh petugas KBRI. Akhirnya beres sudah tugas hari ini.

Kami pulang dengan membawa oleh-oleh Durian Montong yang ternyata tidak boleh dibawa ke dalam MRT. Setelah berfikir panjang, akhirnya bagian sekuriti membolehkan kami membawa durian montong itu asalkan dimasukan ke dalam tas. Karena tas saya terbesar, akhirnya masuk juga itu durian ke tas saya. Dan benar, walaupun tertutup rapat, aromanya tersebar ke mana-mana. Hmmmm .. inilah durian terenak yang pernah saya makan. Menurut teman saya, rasanya sama dengan durian asal Medan.

Membuat Aplikasi Authentikasi dengan Ruby and Rails – 1

Berikut ini sedikit tip n trik untuk membuat aplikasi Ruby and Rails (RoR) yang berjalan di platform Linux Ubuntu 13. Masuk ke Terminal:

rails new simple-auth -d postgresql

Maksudnya adalah membuat project baru RoR dengan nama simple-auth dan database postgresql. Jika selesai, nanti di folder /home akan muncul folder simple-auth. Masuk ke folder tersebut dengan mengetik:

cd simple-auth

Di sana anda akan menjumpai folder Gemfile yang harus sedikit diedit untuk mengaktifkan bahasa ruby. Cara mengaktifkannya adalah dengan menghapus symbol “#”.

SImpan dan jangan lupa setiap melakukan perubahan pada file Gem, kita harus melakukan bundle install. Masuk ke terminal, jalankan:

bundle install

Sekarang kita harus melakukan perubahan pada postgresql, yakni pada file database.yml yang terletak di folder Config pada folder aplikasi kita (Simple-Auth). Ganti seluruh user dengan nama superuser postgresql, misalnya csim. Setelah itu jangan lupa menekan tombol simpan ‘save’. (Note: ada tiga yang harus dirubah).

Jangan lupa setiap melakukan perubahan pada configurasi database.yml, lakukan rake:

rake db:create:all

rake db:migrate

Berikutnya kita akan membuat controller dengan nama ‘new’. Rails termasuk framework Model View Controller (MVC). Buat dengan cara mengetik:

rails g controller users new

Akan terbentuk controller dengan nama new. Begitu juga untuk model user, buat:

rails g model user email:string password_hash:string password_salt:string

Lakukan migrate database

rake db:migrate

Cari file UsersController di folder /app/controller. Ekstensinya adalah ‘.rb’. Isi program seperti contoh berikut ini:

Berikutnya masukan kode berikut untuk views pada new.html

  • <h1>Sign Up</h1>
  • <%= form_for @user do |f| %>
  • <% if @user.errors.any? %>
  • <div class=”error_messages”>
  • <h2>Form is invalid</h2>
  • <ul>
  • <% for message in @user.errors.full_messages %>
  • <li><%= message %></li>
  • <% end %>
  • </ul>
  • </div>
  • <% end %>
  • <p>
  • <%= f.label :email %><br />
  • <%= f.text_field :email %>
  • </p>
  • <p>
  • <%= f.label :password %><br />
  • <%= f.password_field :password %>
  • </p>
  • <p>
  • <%= f.label :password_confirmation %><br />
  • <%= f.password_field :password_confirmation %>
  • </p>
  • <p class=”button”><%= f.submit %></p>
  • <% end %>

Untuk masalah enkripsi, kita tinggal memakai bundel yang ada pada file Gem, buka kembali Gemfile, masukan gem “bcrypt-ruby”, :require => “bcrypt”

Jangan lupa, lakukan lagi bundle install setiap kali melakukan perubahan pada Gemfile.

bundle install

Buka file user.rb pada folder /app/models/ dan isikan kode berikut ini:

  • before_save :encrypt_password
  • def self.authenticate(email, password)
  • user = find_by_email(email)
  • if user && user.password_hash == BCrypt::Engine.hash_secret(password, user.password_salt)
  • user
  • else
  • nil
  • end
  • end
  • def encrypt_password
  • if password.present?
  • self.password_salt = BCrypt::Engine.generate_salt
  • self.password_hash = BCrypt::Engine.hash_secret(password, password_salt)
  • end
  • end

Tambahkan pula attribute berikut (dibawah before save):

  • attr_accessor :password
  • before_save :encrypt_password
  • validates_confirmation_of :password
  • validates_presence_of :password, :on => :create
  • validates_presence_of :email
  • validates_uniqueness_of :email

Hal yang berikut ini sangat penting, yaitu routing, di sini kita mengarahkan user ketika menekan tombol tertentu. Tambahkan code ini pada folder route.rb yang terletak di folder /app/models. Sisipkan di bawah get “users/new” tiga baris berikut ini:

Coba jalankan RoR dengan melakukan instruksi di bawah ini:

rails server

Biarkan console seolah-oleh hang, yang tandanya server sedang bekerja. Jika ingin mematikannya tinggal menekan Ctrl-C. Buka browser dan link pada http://localhost/3000

Coba klik Create user, lihat apa yang terjadi. Coba masuk ke database. Apakah sudah tersimpan? Misalnya saya masukan email: rahmadya@yahoo.com

Kuliah Web Application

Untuk jurusan Computer Science (Ilmu Komputer), tiap mahasiswa diwajibkan mengambil mata kuliah web application yang diasuh oleh Dr. Matthew M. Dailey. Doktor asal Amerika Serikat ini ahli di bidang pengembangan web.

Sempat ikut kuliah perdana, saya terpaksa harus kembali ke Indonesia karena tiap penerima beasiswa diwajibkan mengikuti serangkaian acara hingga penandatanganan kontrak dengan DIKTI. Dimulai dengan pengurusan Visa di kedutaan Thailand, dilanjutkan dengan Lokakarya pra keberangkatan yang dihadiri oleh hampir seratus orang. Setelah hampir 3 minggu menunggu SP Setneg, akhirnya dokumen selesai, ditandai dengan penandatangan kontrak di DIKTI, gedung D lt 4.

Setelah kembali ke AIT, saya dihadapkan dengan beberapa kesulitan akibat absen perkuliahan selama hampir sebulan. Beberapa dosen memberi keringanan, dari komposisi yang Mid : Final = 40 : 60 menjadi 20 : 80 hingga adanya kelas tambahan.

Berbekal tanya sana sini, akhirnya sedikit demi sedikit saya mampu mengikuti alur kuliah Web yang sangat ditakuti oleh sebagian besar mahasiswa CS di AIT. Terpaksa saya harus ikuti handout lab hingga yang saat ini dipelajari (Ajax). Cukup sulit, terutama karena laptop saya yang harus VMWare karena kapasitas C yang minim, sementara Laptop dari AIT belum tiba.

Diawali dengan install ubuntu 13, saya mulai mengeksplore bahasa yang baru saya kenal yaitu “Ruby on Rails (RoR)”. Bahasa ini lumayan ampuh dari security, terbukti telah digunakan di Yellow Page dan Twitter, dibanding PHP yang diterapkan di Facebook dan banyak di hack orang.

Masih ada waktu dua minggu untuk persiapan Mid Term. Semoga bisa mengikuti dan menjawab soal-soal yang diujikan, Amiiin.

Perkenalan dengan Para Senior Mahasiswa Indonesia di AIT

Mahasiswa Indonesia di AIT cukup banyak sekitar empat puluhan. Kebanyakan mengambil pascasarjana master, dan hanya beberapa yang doktoral, termasuk salah satunya saya. Banyaknya mahasiswa Indonesia di AIT salah satunya adalah adanya kerjasama dual degree antara Institute Tekhnologi Sepuluh november (ITS) dengan kampus ini. Tiap tahun ITS mengirim lebih dari 10 orang mahasiswanya yang melanjutkan sisa kuliah S2-nya di AIT.

Sore itu tiba-tiba rekan samping kamar saya yang juga mahasiswa Indonesia, memberitahukan bahwa ada pertemuan mahasiswa baru Indonesia dengan salah satu pengurus PERMITHA (Persatuan mahasiswa Indonesia di Thailand). Tadinya saya tidak ingin datang karena baru saja selesai kuliah Prof Guha yang bablas hingga jam 7 malam. Tetapi karena ajakan dua rekan saya yang baru masuk juga, akhirnya saya ikut juga pertemuan yang diadakan di gedung School of Engineering and Resources Departement.

Agenda pada malam itu adalah selain perkenalan dengan tiga belas mahasiswa baru juga membahas acara “welcome show”. Selain itu, para senior juga bersedia memperkenalkan diri. Untuk acara welcome show, sepertinya Indonesia kekurangan wakilnya, ditambah lagi tidak ada acara tari tradisional, yang ada hanya tari kontemporer.

Semoga ke depan ajang silaturahmi antar mahasiswa Indonesia di AIT berjalan dengan baik.