Memetakan Landuse dari Satelite

Untuk mengetahui landuse suatu wilayah kita bisa memesan dari instansi baik swasta maupun pemerintah yang bertanggung jawab menyediakan data-data geografis suatu wilayah, di Indonesia kita mengenal bakosurtanal (www.bakosurtanal.go.id) yang berada di Bogor. Tetapi masalahnya data yang diberikan hanya membedakan secara global seperti bangunan, pertanian, dan sebagainya. Jika kita ingin mengetahui apakah suatu bangunan itu perumahan, rumah sakit, sekolah, atau yang lainnya mau tidak mau kita harus mencari tahu sendiri. Cara mudahnya adalah dengan bantuan google baik google search ataupun google earth. Untungnya ArcGIS sudah menyediakan layanan online tersebut di dalam softwarenya.

Pilih imagery atau Imagery with labels. Sepertinya yang kedua lebih jelas, karena ada labelnya. Zoom ke arah lokasi yang akan dituju, misalnya kota bekasi.

Isi nama yang jelas agar mudah dicari ketika akan kembali lagi ke lokasi tersebut.

Pilih proyeksi sesuai dengan lokasi agar dapat diintegrasikan dengan shapefile lainnya. Klik kanan di peta dan pilih Data Frame Properties. Ini merupakan hal penting, lihat tulisan sebelumnya.

Pilih UTM zona jabotabek, yaitu di daerah S (south), atau sesuai dengan negara Anda tinggal. Ingat !!! bekasi di bumi .. bukan di planet lain.

Tambahkan peta patokan untuk memetakan landuse pertama misalnya residential/perumahan. Jangan lupa simpan terlebih dahulu project Anda untuk jaga-jaga agar jika ada masalah, data tersimpan. Zoom ke arah lokasi yang ingin dilihat:

Mulai menambah satu shapefile baru untuk landuse type resident. Buat dengan format vektor titik (point vector). Cara yang dianjurkan adalah dengan menambah satu file baru di catalog dengan nama dan jenis tertentu.

Beri nama sesuai

Klik Edit untuk mengeset proyeksi sesuai dengan proyeksi basemap dan kawan-kawan. Jika sudah maka satu map baru berformat titik muncul di Table of contents pada layer Anda. Karena saya menggambar lokasi yang berpopulasi rendah, maka saya harus mencari di area yang bisa ditambah perumahan di lokasi tersebut, biasanya di pinggiran kota. Lihat tulisan sebelumnya tentang menggambar polyline jika ingin mengetahui bagaimana menggambar polyline.

Biasanya harus menekan shapefile yang akan diedit agar pilihan menggambar titik muncul.

Karena terlalu banyak jika satu rumah untuk satu titik, maka bisa diwakilkan beberapa rumah untuk satu titik, di sini saya ambil kira-kira sepuluh rumah atau satu blok.

Jangan lupa menghentikan proses editing jika sudah selesai, dilanjutkan dengan menekan tombol simpan ketika muncul pesan untuk menyimpan hasil editing. Edit dengan simbol yang Anda inginkan. Selamat mencoba ..

Digitalization dari Peta Manual

Terkadang instansi yang kita minta datanya hanya memiliki data cetakan biasa, sehingga untuk melakukan analisa diperlukan konversi ke data digital. Misalnya kita akan mendigitalisasi wilayah hutan di kota Bekasi dengan data hutan jawa barat. Scan peta manual tersebut dengan resolusi yang tinggi karena kita hanya menggunting pada wilayah tertentu saja yang kecil, misalnya kota bekasi.

Atau kalau mau enak gambarnya dicrop aja sebesar kota bekasi. Klik kanan di menu dan aktifkan menu georeferencing. Minimal dua pasangan titik bisa membuat referensi geografis dari gambar/image tersebut. Pasangan pertama merupakan titik gambar dan titik shapefile yang sudah terproyeksi, begitu juga pasangan titik kedua. Perlu dua titik karena jika hanya satu titik, Arcgis tidak sanggup mengakuratkan hasil karena ukuran/skala yang biasanya kacau.

Kalo sudah selesai maka buat shapefile baru dengan tipe polygon untuk membuat area ruang terbuka yang nantinya menjadi dasar dalam membuat analisa suitability.

Atur dulu proyeksinya samakan dengan proyeksi kota yang telah diset sebelumnya. Setelah itu mulai proses penggambaran. Lakukan proses menggambar polygon dengan mencontek dari peta cetak yang sudah digeoreferencing, hasilnya adalah data ruang terbuka yang berada tepat di kota bekasi (berwarna biru muda).

Membuat Peta Jalan dari Open Street Map

Data merupakan aset yang sangat berharga. Dengan mengolah data kita bisa memetik keuntungan dan manfaat dari data tersebut. Menyadari hal itu banyak orang yang butuh data mengeluarkan kocek yang besar untuk mendapatkan data. Akibatnya penyedia data terkadang merahasiakan data yang dimilikinya. Hal ini bisa menguntungkan bisa juga merugikan. Terlepas dari hal itu, karena data geografis menyangkut hajat hidup orang banyak, sangat dibutuhkan data yang dapat diakses oleh semua orang, salah satunya adalah peta jalan. Sebenarnya sudah banyak aplikasi baik desktop, web-based, atau android yang dapat mengakses peta jalan ini, tetapi peneliti membutuhkan peta tematik tertentu yang akan digunakan untuk analisa spasial. Ok, langsung saja buka ArcGis, dan tambahkan satu basemap dengan nama Open Street Map.

Cukup banyak data yang tersedia, baik topography peta satelit, laut, dan sebagainya. Di sini saya akan mencoba membuat peta jalan. Jika Anda telah memiliki peta jalan, dapat Anda tambahkan di ArcMap, jangan lupa samakan terlebih dahulu proyeksinya, lihat postingan sebelumnya. Data jalan sebenarnya bisa dibeli di Bakosurtanal untuk negara Indonesia, sayangnya berbayar (ada perpres nya). Akan tetapi beberapa blogger telah memiliki data tersebut dan dengan baik hati menshare. Masalahnya adalah datanya tidak Uptodate. Contohnya adalah kota Bekasi, tampak fly over yang mengarah ke sumarecon belum digambar, oleh karena itu saya akan mencoba menggambarnya.

Klik kanan pada layer Jalan – Edit Fiture – Start Editing. Jika belum muncul juga jendela Create fiture, klik editor, masuk ke Editing Windows dan klik Ceate features.

Dobel klik pada objek Jalan, yang merupakan objek polyline (garis/lengkungan). Ternyata ada sedikit masalah yaitu pesan berikut ketika selesai membuat satu polyline.

Sepertinya ArcMap tidak sanggup memetakan garis tersebut. Oleh karena itu kita kembali selidiki shapefile jalan yang telah kita proyeksikan sebelumnya. Ternyat koordinat belum ada ukurannya:

Lalu apa yang harus dilakukan? Tentu saja harus mengisi koordinat yang sesuai pada layer Jalan tersebut. Cara penyelesaian saya adalah dengan mengekspor fitur ke file lainnya dengan mengklik kanan layer Jalan – Data – Export Data, dan pilih this layer source data, isi nama file baru hasil export tersebut. Hasilnya harus seperti berikut ini dimana polyline baru berhasil ditambahkan, karena banyak harus yang saya tambahkan, capek dan membosankan, teruskan sendiri ya.

Mengatasi Problem Koordinat dan Proyeksi di ArcGIS

ArcMap adalah salah satu fasilitas yang tersedia di ArcGis. Fungsinya mirip ArcView yang merupakan versi lawas dari ArcGis. Ketika menambah satu layer di ArcMap terkadang muncul pesan berikut ini:

Atau mungkin pesan lain yang mengatakan koordinat belum teridentifikasi dengan jelas. Tentu saja kita bisa mengklik ‘OK’ dan peta tampak di ArcMap. Masalah akan muncul jika ArcMap kita terdiri dari lebih dari satu shapefile yang beda koordinat dan proyeksinya. Untuk pesan di atas kita diminta menyamakan proyeksi shapefile tersebut. Cara yang terstruktur adalah dengan membuka Arc Catalog, dan cari file yang akan disamakan proyeksinya tersebut.

Klik kanan dan masuk ke propertis. Samakan proyeksinya dengan layer BaseMap seperti pada gambar di atas. Apa itu BaseMap, akan dijelaskan pada postingan berikutnya. Samakan seperti pada gambar di bawah ini:

Di sini saya menggunakan WGS 1984 UTM Zone 48S yang merupakan wilayah jabotabek. Jika berhasil, maka Anda akan melihat dua layer yang sekarang memiliki proyeksi yang sama. Atur susunan layer karena jika dua poligon saling berimpit, salah satunya akan tertutup. Akhirnya tampak seperti gambar di bawah ini:

Selamat mencoba, atau mungkin ada teknik lain yang lebih ok, tolong dishare.

Membuat Digital Elevation Model (DEM) dari Peta Kontur

Untuk menentukan lokasi yang tepat terkadang ada syarat yang mengharuskan kemiringan tertentu, misalnya lokasi sekolah, perumahan, dan lain-lain. Oleh karena itu dibutuhkan data layer yang digunakan untuk menentukan lokasi dengan syarat tersebut. Biasanya syaratnya tidak hanya slope, jarak tertentu dari jalan raya, polusi, daerah rawan bencana dan lain sebagainya. Untuk DEM sendiri biasanya data yang tersedia berupa kontur yaitu garis-garis yang merepresentasikan ketinggian tertentu. ArcGIS memiliki fasilitas topografi untuk membuat DEM yang bertipe raster agar lebih mudah di-overlay dengan kriteria-kriteria yang lain.

Buat project baru dengan nama misalnya dem, kemudian tambahkan shapefile peta kontur lokasi yang akan dibuat DEM-nya. Buka Arc Catalog, drag file shapefile ke Table of Contents.

Buka ArcToolbox, dan di 3D analysis tool di bagian raster interpolation pilih topo to raster yang akan mengkonversi topografi menjadi raster. Isi shapefile yang dibutuhkan, untuk extent keluaran bisa dibatasi untuk region tertentu. Isi nama file keluaran dari hasil proses interpolasi ini. Tunggu hingga ArcGIS menginformasikan berhasil atau tidaknya proses konversi dengan memunculkan pesan berikut di pojok kanan bawah komputer.

Jika silang merah, berarti ada yang salah dengan proses tersebut. Jika berhasil, DEM siap digunakan. Selamat mencoba.

 

Error 000824 the tool is not licensed

Mempelajari software baru sangat menjengkelkan tetapi menyenangkan. Kita bisa mengetahui kecanggihan hasil karya orang yang tidak jarang membuat kita takjub. Walaupun kita tidak boleh tergantung dari tools, tetapi untuk menuangkan ide tentu saja kita membutuhkan alat yang dapat merepresentasikan isi kepala kita dengan cepat dan gampang terlihat. Untuk masalah data spasial, ArcGIS menjadi andalan beberapa peneliti. Software buatan ESRI ini terus mengembangkan versi-versi terbarunya agar mudah dan nyaman digunakan, salah satunya adalah proses pembuatan model.

Lisensi ArcGIS cukup mahal, tetapi biasanya institusi-institusi pendidikan, pemerintah, dan instansi lain biasanya telah membeli lisensi. Walaupun sudah ada versi open source yang gratis, sepertinya ArcGIS masih menjadi andalan dan banyak dipakai oleh peneliti-peneliti. Paper-paper di jurnal-jurnal internasional banyak kita jumpai penerapan software ini. Kembali ke model, setelah berpusing-pusing ria dengan problem sistem koordinat dan proyeksi, muncul masalah baru ketika akan melakukan model suitability analysis yaitu error 000824 the tool is not licensed. Sungguh menjengkelkan, karena hari itu saya sudah jenuh membaca ketika melakukan searching di google. Akhirnya saya mencoba membuka youtube, karena tidak perlu membaca, tinggal mendengarkan sambil melamun 🙂.

Ternyata beres juga masalah tersebut, dengan caru masuk ke menu Customize – Extension, lalu centang fasilitas-fasilitas yang kita butuhkan. Atau centang saja semua, beres sudah masalah.

Menentukan Suatu Titik di Dalam atau di Luar Polygon

Setelah berhasil merancang algoritma yang berfungsi mengoptimasi beberapa lokasi landuse, berikutnya adalah merancang optimasi dengan batasan. Tidak ada gunanya merancang sistem yang mengoptimasi lokasi optimal tetapi tidak melibatkan batasan tertentu. Batasan di sini misalnya lokasi yang menjadi target lokasi optimal harus bebas banjir, tidak berbahaya, dan aspek-aspek suitability/kesesuaian sesuai jenis peruntukan lahannya (perumahan, kantor, komersial, dan lain-lain). Dengan demikian saat proses optimasi, harus terlebih dahulu dipastikan bahwa kandidat lokasi tersebut berada di dalam region yang diperbolehkan. Istilah untuk optimasi jenis ini adalah constraint optimization.

Ilmu yang mempelajari apakah satu titik berada di dalam dan di luar suatu polygon adalah computer graphic. Secara gampangnya, suatu titik berada di dalam suatu area apabila beririsan dengan garis/lengkungan area tersebut tepat satu kali, dimana garis itu ditarik dari titik yang akan diuji pada sumbu x atau sumbu y keluar/menjauh. Jika beririsan dua kali, atau tidak sama sekali, maka dipastikan titik tersebut berada di luar bidang area tersebut. Cukup sederhana tetapi prakteknya sangat sulit. Setelah searching di internet, ternyata sudah banyak yang membuat M-file dengan bahasa Matlab, salah satunya adalah pada link berikut ini.

Karena Area of Interest (AOI) riset saya adalah kota Bekasi, maka saya membutuhkan region kota Bekasi dalam format shapefile (*.shp). Data dapat diunduh (biasanya berupa data untuk seluruh kota di Indonesia). Lakukan proses clipping untuk menemukan region kota Bekasi saja. Setelah itu impor ke dalam workspace dengan instruksi:

  • data1=impor(‘bekasi_city.shp’);
  • y=transpose([data1.X;data1.Y]);
  • land=(y);

Fungsi impor saya buat sendiri, untuk mempermudah saja, yaitu fungsi shaperead, yang bisa Anda lihat dengan mengetik ‘help shaperead’ di command window untuk lebih jelasnya. Untuk melihat secara visual regionnya, gunakan ‘mapview’ dan buka file shapefile yang Anda miliki.

Letakkan kursor di dalam region kota Bekasi, catat koordinatnya, kemudian cek apakah berada di dalam kota Bekasi atau di luar kota Bekasi. Misalnya titik yang berada di dalam adalah (106.98, -6.27), ikuti instruksi berikut ini untuk mengecek apakah berada di dalam atau di luar.

  • p1=[106.98 -6.27]
  • p1 =
  • 106.9800 -6.2700
  • >> in=inpoly(p1,land)
  • in =
  • 1

Perhatikan, Matlab menjawab 1, yang berarti titik berada di dalam kota Bekasi. Bagaimana jika di luar kota Bekasi? Arahkan mouse di luar kota Bekasi, catat koordinatnya, misalnya (107, -6), test lagi:

  • p=[107 -6];
  • in=inpoly(p,land)
  • in =
  • 0

Matlab menjawab nol, yang artinya di luar region/area. Jadi kode teruji benar. Terjawablah sudah problem menentukan suatu titik di luar atau di dalam region yang nantinya akan diintegrasikan dengan algoritma optimisasi. Akhir kata, fungsi di atas juga bisa digunakan untuk deretan titik, tidak harus satu titik saja. Misalnya kedua titik di atas, titip pertama p dan titik kedua p1, akan dicek secara bersama, kita tinggal menggabungkan kedua titik tersebut menjadi variabel titik:

  • test = [p;p1]
  • test =
  • 107.0000 -6.0000
  • 106.9800 -6.2700
  • in=inpoly(test,land)
  • in =
  • 0
  • 1

Yang artinya titik pertama di luar dan titik kedua didalam. Selamat mencoba dan bermain-main dengan data spatial dengan Matlab.