Membuat Paragraf yang Baik

Paragraf, yang terdiri dari beberapa kalimat, merupakan miniatur dari sebuah komposisi tulisan. Butuh keahlian untuk menghasilkan sebuah paragraf yang baik. Paragraf yang baik harus memenuhi empat kriteria yaitu: unity, completeness, order, dan coherence. Menyusun sebuah paragraf lebih sulit dari pada menyusun sebuah kalimat.

Keutuhan (Unity)

Unity bisa diartikan sebagai kesatuan internal. Suatu paragraf yang baik, antara satu kalimat dengan kalimat lainnya harus memiliki satu maksud/tujuan yang sama karena jika tidak maka kalimat yang memiliki maksud/tujuan yang berbeda tersebut dapat merusak keutuhan paragraf itu. Untuk mudahnya, ciri-ciri paragraf yang baik adalah bahwa tiap-tiap kalimat harus mengembangkan kalimat utama (topic sentence). Perlu dilakukan penulisan ulang (rewriting) agar diperoleh paragraf yang utuh.

Lengkap (Completeness)

Lengkap atau tidaknya suatu paragraf sangat relatif. Tergantung dari seberapa banyak pembaca membutuhkan penjelasan terhadap suatu topik. Paragraf dapat dikatakan kurang lengkap jika pembaca masih membutuhkan penjelasan dari topic suatu paragraf. Biasanya kalimat yang menggambarkan sesuatu dengan nyata lebih disukai daripada yang abstrak.

Urutan (Order)

Urutan biasanya penting untuk paragraf panjang. Urutan juga tergantung dari jenis tulisan, apakah naratif, expository, atau argumentatif. Biasanya suatu tulisan menggunakan empat jenis urutan antara lain: 1) dari umum ke detil, 2) dari detil ke umum, 3) dari keseluruhan ke bagian-bagian, dan 4) dari pertanyaan ke jawaban (sebab akibat). Sangat panjang penjelasan keempat jenis urutan kalimat dalam paragraf di atas, tetapi gambar berikut (diambil dari buku McCrimmon) dapat mempermudah pemahaman.

Koheren (Coherence)

Untuk menghasilkan suatu paragraf yang antar kalimatnya saling bertautan, diperlukan kata-kata transisi. Postingan yang lalu bisa dijadikan rujukan untuk memilih kata transisi (signal words) yang sesuai.

Ada lima hal penting yang harus diperhatikan untuk menghasikan tulisan yang koheren. Pertama, penggunaan pronoun reference atau penggunaan kata ganti. Misal: Most people use a lot of words to express their ideas. They talk at us by the hour to explain just one thought. Perhatikan penggunaan kata “they” yang mengacu pada “most people”. Kedua, penggunaan repetisi (repetition) untuk menekankan suatu ide (lihat postingan tentang revisi tulisan). Ketiga, penggunaan perlawanan (constrast) yang biasanya diperlukan ketika membandingkan dua obyek. Perlu satu postingan khusus untuk membahas masalah ini. Keempat, sinyal transisi (transitional markers). Berikut ini sinyal transisi yang penting:

  • Memperkenalkan suatu ilustrasi: thus, for example, for instance, to illustrate.
  • Menambah hal lain dari suatu ide yang sama: secondly, in the second place, next, moreover, in addition, similarly, again, also, finally.
  • Menyatakan sebaliknya: on the other hand, nevertheless, despite this fact, on the contrary, still, however, conversely, instead.
  • Indikasi suatu kesimpulan: therefore, in conclusion, to sum up, consequently, as a result, accordingly, in other words.

Terakhir adalah koherensi antar paragraf. Ini agak rumit, tetapi gambar berikut (yang lagi-lagi diambil dari McCrimmon hal. 95) mungkin dapat membantu pembaca sekalian dalam membentuk koherensi antar paragraf dengan menggunakan kata-kata bantu yang tepat.

Semoga sedikit membantu bagi yang sedang menyusun tulisan. Selamat menulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s