Program “World Class Professor” Ristek-Dikti

Semenjak bergabungnya kementerian ristek dengan pendidikan tinggi (Dikti) banyak trobosan-trobosan dalam kementerian yang dipimpin oleh M. Natsir ini baik yang pro maupun yang kontra (lihat yang kontra di post terdahulu). Salah satu trobosan yang sepertinya masuk kategori “pro” adalah program profesor kelas dunia (world class professor). Program ini bermaksud mendongkrak publikasi ilmiah negara kita, mengingat data di tahun 2014 yang menyebutkan bahwa kita masuk rangking 52 dari sisi jumlah publikasi ilmiah terindeks Scopus, padahal jumlah penduduk kita nomor 4 di dunia. Silahkan baca presentasinya di link sumber daya dikti ini.

Scopus walaupun dikritik karena sifatnya yang profit oriented tetapi dijadikan patokan oleh kebanyakan kampus-kampus di seluruh dunia, terutama kampus berbasis riset (research university). Sementara itu program world class professor sendiri menargetkan untuk membentuk suatu research university (lihat gambar di atas). Sasaran utamanya adalah faculty members, yang tidak lain adalah dosen.

Program profesor kelas dunia ini merupakan pilihan dari tiga alternatif untuk meningkatkan rangking kampus di Indonesia. Alternatif pertama adalah membentuk universitas riset. Untuk membentuknya dibutuhkan dana dan dukungan yang besar dan sulit. Sementara itu alternatif kedua adalah dengan merubah/mengkonversi teaching-based university menjadi universitas riset. Cara ini ditempuh oleh Malaysia yang menghasilkan universitas riset lewat konversi 5 PTN dan 1 PTS. Pemerintahnya men-support penuh. Indonesia memilih alternatif ketiga yaitu dengan programnya: profesor kelas dunia.

Skema Program World Class Professor

Ada dua skema program tersebut yaitu skema A dan B. Skema A jika dibaca dari presentasi paparan program itu adalah membentuk suatu kerja sama dengan kampus lain, berupa pusat unggulan riset. Profesor dari kampus lain bisa berasal dari luar negeri, dan syaratnya lumayan “wah”, yaitu h-index lebih besar atau sebesar 25 (Scopus) dengan 150-an artikel. Sepertinya sulit juga mencarinya. Advisor saya saja h-index-nya sekitar 15. Skema B sedikit lebih mudah, tidak harus pusat unggulan riset dan profesor kelas dunia dengan h-index lebih besar atau sama dengan 5 dengan 50 artikel. Kegiatan “turunannya” sepertinya banyak jika dilihat dari paparan presentasi program ini. Baik skema A maupun B sepertinya menargetkan jurnal dengan kuartil Q1/Q2 atau setidaknya Q3. Q1, Q2, dan Q3 sendiri adalah peringkat jurnal yang dibuat oleh Scimagojr. Mungkin itu saja informasi tentang World Class Professor. Berikut ini cara untuk mengetahui rangking suatu jurnal, siapa tahu bermanfaat.

Mengetahui Rangking Suatu Jurnal Internasional

Untuk melihat kuartil suatu jurnal, buka link Scimagojr. Masukan nama jurnal yang Anda tuju. Misalnya publikasi saya sebagai contoh, berada di jurnal “sustainability”. Berapakah rangkingnya? Masukan saja di kolom “Searching” Scimagojr.

Tekan simbol “kaca pembesar”. Ternyata nama jurnal yang ada kata “sustainability” nya banyak juga. Sebaiknya gunakan ISSN agar lebih cepat.

Tinggal tekan jurnal yang dituju maka rangking jurnal diketahui. Pada gambar di bawah ini tampak kuartil berwarna kuning yang jika mouse diarahkan ke sana muncul “Q2” yang berarti masuk kuartil 2, lumayan bagus juga. Grafik-grafik lainnya merupakan rangking dengan skala lain yaitu impact factor (IF), SJR,h-index jurnal dan lain-lain. Untuk SNIP, Impact factor yang dinormalisasi, terpaksa harus membuka situs Scopus Elsevier untuk mengetahuinya.

Iklan

One thought on “Program “World Class Professor” Ristek-Dikti”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s