Paradigma Baru Universitas di Era Disrupsi

Tulisan ini kelanjutan dari masalah linearitas dan interdisiplin ilmu pada postingan yang lalu. Sumbernya adalah dari situs ini, yang dishare oleh kawan di facebook. Ternyata facebook bermanfaat juga, tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Paradigma Baru Pendidikan di Era Disrupsi

Masalah yang dialami dunia saat ini adalah buta secara vertical (vertical
literacy). Walaupun kesenjangan ilmu sudah hampir tidak ada (kecuali beberapa wilayah konflik dan yang masih primitif), ada kesenjangan jenis lainnya yang diberi istilah “knowing-doing gap”, yang artinya kesenjangan antara kesadaran kolektif kita tentang suatu hal dengan tindakan/aksi yang dilaksanakan. Vertikal di sini bermakna naik ke atas, jadi vertical development maknanya adalah perkembangan yang melepas masa lalu dan siap menyambut masa depan. Suatu institusi yang gagal melaksanakan vertical development akan dihajar oleh pesaing-pesaing di era disrupsi ini (banyak contoh kasus nyata yang sering kita lihat).

Jika diibaratkan seperti komputer, saat ini kita tidak hanya menginstal aplikasi-aplikasi baru melainkan mengupgrade sistem operasi kita, dalam rangka menyambut masa yang akan datang. Pendidikan harus di “reinvent” lagi. Perkataan seorang filsuf bernama Plutarch (2000 tahun yang lalu) bahwa pendidikan adalah aktivitas “menyalakan api” bukan “mengisi kapal” terhadap anak didik kita. Pendidikan di tahun ini sebaiknya mirip dengan tahun 1917 dimana terjadi vertical development.

Saat ini masalah-masalah yang harus diselesaikan dunia (radikalisme, terorisme, fundamentalisme, xenophobia, dan lain-lain) tidak bisa diselesaikan dengan “sistem operasi” yang lalu, harus dengan yang baru, ibaratnya harus diupgrade. Saat ini kita dihadapkan pada: “VUCA: volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity”. Kampus dituntut menyediakan tenaga-tenaga kerja yang siap menghadapi itu.

Kemampuan Vertical Literacy

Dulu mungkin buta huruf menjadi masalah di Indonesia, tetapi saat ini ketika rakyat sudah tidak buta huruf muncul masalah-masalah yang bisa menghancurkan suatu bangsa. Oleh karena itu vertical literacy menjadi penting. Dengan vertical literacy, seseorang memiliki kemampuan sebagai berikut:

  • Mahir dalam mendengar dan fikirannya terbuka
  • Merubah debat menjadi dialog yang menghasilkan
  • Merubah kompetisi menjadi ekosistem yang saling mendukung, dan
  • Menemukan hal-hal baru yang beroperasi secara sharing

Otto menlanjutkan dengan mengusulkan delapan prinsip yang harus dipegang oleh universitas “baru”, antara lain:

  1. Siswa sebagai inisiator perubahan
  2. Belajar bukan hanya di kampus, tetapi kehidupan nyata
  3. Menjadi orang yang berubah (be the change), dari kepala ke hati dan dari hati ke tangan (terapan)
  4. “Science 2.0”, banyak hal-hal yang harus diobservasi ulang
  5. “System Thinking”, siswa membuat sistem yang bisa menyelesaikan suatu hal
  6. “System Sensing”, mirip no.5 tetapi bisa men-sensor suatu hal
  7. Mudah mentransformasikan suatu sistem mengikuti society
  8. Memahami diri sendiri. Bukan hanya keingintahuan (sisi kognitif), melainkan juga hati yang terbuka (compassion) dan keinginan yang tulus (open will).

Silahkan lanjutkan baca di situs aslinya, yang ditulis oleh Otto Scharmer, Senior Lecturer, MIT; Co-founder u.lab, Presencing Institute. Semoga bermanfaat.

Ref

https://www.huffingtonpost.com/entry/education-is-the-kindling-of-a-flame-how-to-reinvent_us_5a4ffec5e4b0ee59d41c0a9f?ncid=engmodushpmg00000003

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s