Membuat dengan Cepat Konten Pembelajaran (tes.com)

Salah satu komponen Flipped Learning adalah mekanisme bagaimana siswa belajar di luar jam pelajaran sekolah. Selama ini yang jadi andalah adalah buku beserta soal-soal latihan. Namun tidak semua siswa memiliki gaya belajarnya yang cocok dengan reading. Bagi yang bertipe Auditory sepertinya tidak ada masalah, tetapi bagi yang verbal dan kinesthetic tentu saja akan kesulitan. Beberapa alat bantu dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya akan dibahas pada postingan ini.

Konten merupakan komponen penting dalam proses belajar mengajar. Beberapa tahun yang lalu konten menjadi beban ketika seorang dosen diminta mengajar. Namun belakangan ternyata konten dapat diperoleh dengan mudah secara online. Kejadian ketika seorang murid memiliki informasi ilmu yang belum diketahui oleh seorang pengajar sudah menjadi biasa saat ini. Sehingga peran pengajar saat ini yang tepat adalah sebagai katalisator dalam proses belajar mengajar.

Untuk membuat dengan cepat bahan ajar, banyak alat bantu yang bisa dimanfaatkan, salah satunya adalah test.com, suatu situs yang menyediakan sarana untuk mengajar online. Bentuknya yang tinggal drag konten yang dicari dengan alat bantu “searching” memudahkan pengajar untuk menyediakan sarana belajar ke mahasiswa. Masuk ke menu pembuatan session perkuliahan dapat diakses di page berikut.

Ada beragam bentuk dari sesi pembelajaran yaitu tulisan (reading), video, dan suara. Ketiga bentuk pembelajaran tersebut bisa mengakomodir tipe belajar siswa (verbal, auditory, dan kinesthetic). Banyak situs di youtube yang membantu bagaimana menggunakan fasilitas tes.com tersebut seperti berikut ini.

Sebelum perkuliahan dimulai, flipped learning menganjurkan untuk men-share materi belajar dengan bantuan tools tertentu seperti tes.com di atas. Selanjutnya ketika perkuliahan, diskusi diberikan sekaligus penilaian oleh dosen dengan cara lisan (tanya jawab). Metode belajar ini memanfaatkan waktu di luar perkuliahan untuk seolah-olah dalam kelas. Sekian, semoga bermanfaat.

 

Iklan

Kuesioner (Questionnaire) untuk AHP

Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan teknik untuk membandingkan satu pilihan dengan pilihan lainnya. Sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan. Vendor terkenal yang serius mengenai hal ini adalah expert choice, yang juga menyediakan software berbayarnya. Lihat post sebelumnya. Postingan kali ini mencoba sharing tentang kuesionar yang diperlukan untuk mengisi data sebelum diolah oleh AHP yang dicetuskan pertama kali oleh L. Saaty (Saaty, 2008).

Pairwise Comparison

Terus terang saya malah belum pernah mendapatkan kuesioner dalam bahasa Indonesia. Dalam jurnal-jurnal internasional, yang sering disebutkan adalah pairwise comparison survey, yang isinya membandingkan antara satu pilihan dengan pilihan lainnya.

Survey dapat dilakukan dalam bentuk lembaran kertas ataupun online. Biasanya menggunakan Google Form, dengan tampilan yang menarik, serta mudah untuk direkap via Ms Excel. Jumlah koresponden karena ini membutuhkan pakar (expert) maka tidak perlu banyak-banyak, dan bisa di bawah sepuluh orang.

Memulai

Ada baiknya menjelaskan terlebih dahulu secara singkat masalah yang akan disurvey. Jangan lupa data tentang koresponden sangat penting untuk diketahui. Berikut tampilan awalnya.

Bagian Inti

AHP membutuhkan perbandingan satu pilihan (choice) dengan lainnya. Ada enam pilihan dengan tingkat paling rendah hingga tinggi, berturut-turut: less, equal, moderate, strong, very strong, dan extreme. Berikut contohnya:

AHP mengharuskan kondisi dimana tingkat konsistensi harus kurang dari 0.1. Ini penting untuk menjaga keanehan-keanehan dalam perbandingan. Misal tikus takut kucing, kucing takut dengan seorang ibu, dan seorang ibu takut tikus. Pada contoh di atas, Physical Health akan dibandingkan dengan Psychological Condition, Social Relationships, Environment, Economic Condition & Development, dan Access to Facilities & Services. Berikut contoh survey yang pernah saya sebar.

Minta Contoh Penulis Jurnal

Terkadang ada baiknya meminta contoh kuesioner dari seorang penulis jurnal, baik nasional maupun internasional. Walau terkadang tidak dibalas, tetapi banyak juga yang membalas dan memberikan respon. Setidaknya jika tidak memberikan sample dia menjelaskan apa isinya saja. Contoh di atas saya peroleh ketika meminta dari jurnal internasional ini (Bhatti, Tripathi, Nitivattananon, Rana, & Mozumder, 2015). Silahkan baca sumber referensi tentang AHP dari Springer ini.

Referensi:

Bhatti, S. S., Tripathi, N. K., Nitivattananon, V., Rana, I. A., & Mozumder, C. (2015). A multi-scale modeling approach for simulating urbanization in a metropolitan region. Habitat International, 50, 354–365. http://doi.org/10.1016/j.habitatint.2015.09.005

Saaty, T. L. (2008). Decision making with the analytic hierarchy process. International Journal of Services Sciences, 1(1), 83. http://doi.org/10.1504/IJSSCI.2008.017590

Link dari Google

 

Pindah Homebase Dosen

Beberapa waktu yang lalu ada kabar kepindahan rekan dosen ke kampus lain. Kasus pindahnya seorang dosen ke kampus lain banyak alasannya, dari alasan lokasi kerja yang jauh, tidak cocok dengan lingkungan dan gaji/insentif, hingga diterima menjadi ASN (departemen atau kampus negeri). Dari sisi internal, banyak ragam menyikapinya, dari yang oke-oke saja, hingga yang menggerutu. Banyak pula yang bertanya, bisa kah seorang dosen pindah ke kampus lain? bagaimana caranya? Apakah sulit dan lama prosesnya? Postingan kali ini berusaha menjelaskan prosesnya, tentu saja dari pengalaman diri sendiri dan orang lain, yang mungkin saja berbeda kasusnya.

Proses Pindah Homebase

Prinsipnya tiap dosen boleh pindah dari satu kampus ke kampus lainnya. Tetapi ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Ada baiknya membaca informasi dari kopertis, contohnya kopertis XII yang rajin menginformasikan suatu prosedur-prosedur, silahkan berkunjung ke situ. Aturan resminya dapat dilihat dari link berikut ini.

Ada dua jenis perpindahan yaitu antar kopertis, atau beda kopertis. Tapi tunggu dulu, ketika tulisan ini dibuat ada perubahan struktur yaitu kopertis yang berubah menjadi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLPT) yang menangani bukan hanya PTS tetapi PTN juga. Mungkin ada perubahan. Prinsipnya adalah jika dalam satu kopertis, surat pengantar perpindahan hanya di kopertis yang bersangkutan, tetapi jika beda kopertis harus melibatkan dua kopertis (tujuan dan asal) surat keterangannya. Yang terpenting adalah surat lolos butuh yang dikeluarkan oleh institusi asal.

Langkah terakhir dan penting adalah bagian PDPT kampus asal dan tujuan melakukan proses lolos butuh secara online. Caranya bisa dilihat di link ini, tentu saja tidak semua orang bisa mengaksesnya. Banyak kejadian, surat sudah beres tetapi karena bagian PDPT (sering disebut EPSBED) tidak memroses, maka tidak bisa pindah homebasenya.

Pengalaman Pribadi

Waktu itu saya dosen honorer di salah satu PTS di Jakarta. Ketika mendaftar jadi dosen tetap ternyata ditolak dengan alasan background pendidikan saya yang kurang OK untuk ngajar jurusan teknik informatika dan sistem informasi. OK-lah, akhirnya tetap ngajar tapi dosen honorer (sambil kerja utak-atik IT di bank). Tidak lama kemudian, ada rekan saya yang menawarkan menjadi dosen di tempat saya singgah sekarang, bukan hanya honorer, tetapi dosen tetap. Entah mengapa ada keinginan kuat untuk bekerja di sana walaupun gajinya hampir 1/3 dari kerjaan saya waktu itu di divisi IT sebuah bank nasional (pegawai kontrak). Karena memang saya yang “tidak diinginkan” di tempat saya mengajar honorer, mudah saja memperoleh surat lolos butuh. Dengan surat lolos butuh itu, kampus baru langsung mengurusnya, dua surat keterangan diperlukan yaitu dari kopertis 3 (asal) dan kopertis 4 (tujuan/baru). Selesai sudah. Tentu saja surat lolos butuh dikeluarkan dengan melihat apakah ada hutang, ikatan dinas, dan lain-lain yang bersifat legal/perdata.

Terus terang kepindahan saya karena merasa tertantang bahwa saya tidak memiliki skill yang cukup untuk mengajar di IT. Setelah mengambil S2, saya lanjut ke S3 (beasiswa DIKTI) dan ternyata bisa lulus di jenjang tertinggi IT, uniknya saya lulus tercepat seangkatan. Tentu saja secepat-cepatnya S3 ya lama juga (4 tahunan). Tadinya sih niatnya cuma penasaran saja apa benar saya tidak mampu mengikuti ilmu informatika, ternyata malah keasyikan di bidang itu.

Kepindahan Dosen Merugikan/Menguntungkan?

Sudah ada dua kali rekan saya yang pindah karena diterima mengajar di kampus negeri. Apakah merugikan? Tentu saja tidak. Justru malah itu membuktikan divisi SDM kampus sudah bekerja baik dan berhasil mendapatkan SDM-SDM yang berkualitas, terbukti diterima di PTN (PNJ dan POLBAN). Lagi pula keberadaannya walau beberapa saat sangat membantu dan menjadi “pelumas” kinerja dosen-dosen lainnya. Hanya saja SDM harus bekerja mencari dosen lagi, itu saja (kasihan kan kalau tidak ada kerjaan). Bagaimana supaya dosen betah? Ya kurangi kesenjangan dengan kampus lain (gaji, fasilitas, suasana, dan lain-lain). Toh secara default, dosen malas pindah-pindah kalau memang tidak kepepet buuaaanget. Menurut saya sih ..

Update: 2/2/18

Berikut link aturan (2016) untuk tatacara perpindahan dosen:

 

Gaya Belajar

Nemu buku lama di perpustakaan yang berisi gaya belajar pada anak dan bagaimana caranya untuk menghilangkan hambatan-hambatannya. Karena keburu tutup perpustakaannya jadi tidak sempat mencatat judul dan pengarangnya. Mudah-mudahan bisa menemukan informasi tersebut nanti.

Di awal diceritakan kisah-kisah anak yang mengalami hambatan dalam belajar. Misalnya seorang anak yang pintar bicara, ternyata tidak bisa mengikuti pembelajaran karena gurunya cenderung memperlakukan siswanya untuk diam dan diminta membaca. Tentu saja siswa yang memiliki karakter verbal tersebut kesulitan mengikuti pelajaran. Uji coba dilakukan ke siswa berkarakter verbal yaitu menghapal puisi dengan mengingat tanpa bicara dan mengingat dengan mengucapkan lantang. Ternyata lebih mudah mengingat sambil membaca bersuara untuk anak yang berkarakter verbal.

Begitu pula dengan dua karakter belajar lainnya yaitu auditory dan kinesthetic yang artinya berturut-turut berbasis pendengaran dan gerakan fisik. Misalnya, anak yang berkarakter kinesthetic akan sulit membaca dalam waktu lama tanpa jeda. Mereka lebih suka membaca dengan jeda yang sering, kecuali jika bacaannya ada alur action-nya, barulah mereka bisa terus membaca dengan nyaman. Suruh anak yang memiliki karakter auditory untuk mendengarkan perkuliahan, dia akan mudah menangkapnya dibanding diminta membaca.

Untuk mengetahui anak kita atau anak didik kita berkarakter belajar verbal, auditory, ataukah kinesthetic dapat dengan rincian di bawah ini.

Visual Strength

  • Dapat merakit sesuatu dari gambar
  • Menutup mata ketika mengingat
  • Sangat teliti dalam detil sesuatu
  • Baik bekerja dalam memecahkan puzzle
  • Waktu luang lebih suka nonton televisi atau main game
  • Suka melihat untuk belajar
  • Memiliki ingatan terhadap pengalaman/kejadian
  • Menggunakan pakaian yang matching sangat penting menurutnya
  • Dapat memahami sesuatu dengan membaca dan mendengarkan
  • Sangat kalem, malas menjawab kalau tidak ditanya
  • Berfikir cara terbaik lewat gambar (penglihatan)
  • Suka mencatat ketika kuliah/belajar

Auditory Strenths

  • Mengingat iklan
  • Menggunakan kata2 yang berirama
  • Berbicara ketika menyelesaikan permasalahan
  • Mendengarkan arahan secara oral
  • Lebih mudah memahami materi yang didengarkan dari pada yang dibaca
  • Sering membaca dengan keras
  • Kesulitan membaca diagram atau peta tanpa ada yang menjelaskannya
  • Mudah berekspresi secara verbal
  • Suka berkomunikasi lewat telepon
  • Pandai membedakan dan mencocokan suara

Kinesthetic Strength

  • Sulit fokus ke bacaan kecuali jika berisi alur action di dalamnya
  • Suka olah raga dan bermain di luar
  • Memiliki energi yang besar
  • Ketika kecil suka menyentuh ketika mengamati
  • Berekspresi (marah, dll) cenderung dengan body language
  • Mudah belajar dengan pengalaman praktek
  • Mudah bergerak mengikuti musik
  • Lelah ketika duduk dalam waktu lama
  • Ketika berhitung terkadang seperti menulis di udara
  • Susah mengikuti atau mengingat arahan secara verbal

Tentu saja ada kemungkinan penggabungan karakter pembelajaran pada seorang anak, misalnya selain mendengar dia juga melihat (auditory + visual), mendengar dan aksi (auditory + kinesthetic), atau bahkan penggabungan ketiganya. Oiya, disebutkan pula, untuk seorang anak terkadang karakter tertentu memang belum berkembang tetapi hanya telat, dan bisa saja berkembang pesat di masa yang akan datang melebihi karakter saat ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Update: 22 January 2018

Akhirnya ketemu juga refrensinya, yaitu:

Fuller, Cheri (1994). Unlocking your child’s Learning Potential. Singapore: The Navigators

Flipped Learning

Sehari setelah sidang akhir, advisor mengundang saya untuk mengikuti seminar fliped learning. Mungkin beliau tahu kalau saya dosen. Pembicaranya ternyata rekan dia dari India, Dr. Malay R Dave. Metode pembelajaran ini sedang dicoba untuk diterapkan karena memiliki manfaat yang bagus, terutama saat ini dimana gadget dan aplikasi-aplikasi online dan mobile banyak tersedia.

Konsepnya adalah memadukan antara belajar di kelas dengan diluar kelas. Flip di sini bukan berarti dibalik, tetapi tetap menjaga agar siswa belajar walaupun sudah tidak di kelas lagi. Di kelas terkadang hanya berisi diskusi tentang topik yang sama. Untuk penjelasan lengkapnya silahkan lihat link ini:

https://flippedlearning.org/wp-content/uploads/2016/07/FLIP_handout_FNL_Web.pdf

Selain karena perkembangan aplikasi online, munculnya sistem pembelajaran ini adalah karena tuntutan dunia kerja dimana bukan hanya kemampuan akademis tetapi juga kemampuan lainnya seperti komunikasi, menghargai orang, critical thinking, dan sebagainya juga sangat dibutuhkan. Kalau menurut saya, flipped learning ini termasuk pembelajaran yang nonstop. Ibarat aplikasi online yang bekerja 24 jam, flipped learning juga mirip, hanya saja waktu menyesuaikan dengan siswa, kapan nyamannya.

Perkuliahan diganti dengan video tutorial yang dapat diakses dan dilihat oleh seluruh siswa di luar kelas. Ketika selesai dilihat, saat dikelas dilakukan diskusi yang didampingi oleh tutor/pengajar. Tetapi harus dijalankan empat pilar berikut ini: flexible environment, learning culture, intention content dan professional educator. Kalau tidak lengkap pilar tersebut, maka bukan flipped learning, melainkan hanya flipped classroom.

Banyak aplikasi-aplikasi yang digunakan untuk membantu flipped learning ini. Salah satu contohnya adalah http://www.tes.com yang memudahkan pengajar dalam mempersiapkan materi pembelajaran. Oiya, saat ini konten ilmu sepertinya sudah gampang sekali ditemukan di internet. Hanya saja membutuhkan kemampuan dalam meramu sesuai dengan keinginan pengajar. Situs tersebut salah satunya. Silahkan lihat tutorial youtube di bawah ini. Sekian, semoga bermanfaat.

Memasukan Publikasi Buku pada SINTA

Selain kinerja penelitian, kampus, dan jurnal, ternyata SINTA juga menyediakan fasilitas untuk memasukan buku teks yang diterbitkan oleh seorang dosen/peneliti. Caranya adalah dengan login terlebih dahulu ke akun SINTA kita. Siapkan scan cover buku yang telah kita terbitkan.

Pertama akan diminta cari dulu berdasarkan ISBN-nya. Bagaimana jika tidak ditemukan? Ternyata setelah dicari tidak ada, muncul fasilitas input manual. Siapkan scan cover buku yang akan diinput.

Pastikan buku muncul di list SINTA. Coba log out dan cari buku tersebut tanpa login.

Klik menu BOOKS di SINTA dilanjutkan dengan mencari berdasarkan ISBN, judul buku, atau nama pengarang. Contoh di atas misalnya kita ingin mencari berdasarkan pengarang, tekan simbol kaca pembesar, dan jika ditemukan SINTA akan menampilkannya.

Tampak buku yang ditulis oleh pengarang yang bersangkutan. Sekian sekilas info tentang fasilitas baru SINTA. Untuk yang belum daftar SINTA segera daftar (lihat post yang lalu). SINTA berbasis evaluasi diri, jadi jangan sembarangan menginput yang tidak semestinya. Untuk mengetahui bagaimana menambah dan menghapus tulisan yang bukan milik kita silahkan lihat post sebelumnya. Sekian dulu semoga bermanfaat.

Studi Literatur

Walaupun riset sudah selesai dan tinggal pulang ke tanah air, mumpung masih bisa menggunakan perpustakaan (baca di tempat karena sudah tidak boleh meminjam), iseng-iseng mereview apa yang telah saya lakukan selama riset kurang lebih 3 tahun lamanya. Saya menemukan buku tentang studi literatur. Tujuan utama membaca topik itu aslinya untuk evaluasi ke depan. Apakah studi literatur yang telah saya jalankan sudah benar, efisien, dan sesuai dengan tujuan riset.

Buku karangan Lawrence A. Machi dan Brenda T. McEvoy itu cukup padat, sehingga dapat dibaca hanya beberapa menit saja. Intinya ada enam tahap dalam studi literatur, antara lain:

  1. Memilih topik
  2. Mencari literatur
  3. Mengembangkan Argumen
  4. Survey terhadap literatur
  5. Memberikan kritik terhadap suatu literatur, dan
  6. Menulis review

Postingan ini hanya akan membahas yang unik dari buku tersebut yaitu memilih topik, mencari litertur, dan mengembangkan argumen.

Memilih Topik

Ini merupakan pangkal utama dari riset, sekaligus biang keladi kuliah tidak lulus-lulus. Buku tersebut menyarankan untuk mengambil topik dari keseharian. Maksudnya adalah hal-hal real yang spesifik. Jangan asal mencari pertanyaan, misalnya: “mengapa sekelompok siswa sulit memahami penjelasan guru?”. Tentu saja pertanyaan ini terlalu general dan sulit dikerjakan karena tidak jelas.

Mencari Literatur

Mencari literatur yang efisien adalah internet dan perpustakaan. Baca cepat sekilas saja terlebih dahulu (skimming). Langkah saya membuat pengelompokan ternyata sudah benar waktu itu. Hanya saja ternyata ada teknik pengelompokan yang lebih ok, bukan hanya pengelompokan terhadap suatu ide/teknologi/metode, melainkan juga pengelompokan kontribusi pengarang. Misal definisi sustainability oleh siapa saja, dll. Dengan bentuk tabel, kita mudah mengingatnya. Terkadang walau tidak berusaha mengingat, jadi ingat sendiri (dikemukakan oleh siapa dan pada artikel apa).

Mengembangkan Argumen

Suatu argumen adalah mencari alasan yang tepat untuk suatu jawaban yang biasanya kesimpulan riset. Jadi satu argumen terdiri dari bermacam-macam alasan:

Argumen = alasan1 + alasan 2 + …

Sebelum masuk ke argumen yang rumit, ada baiknya membahas terlebih dahulu argumen sederhana. Argumen sederhana terdiri dari: klaim, kejadian dan jaminan (warrant). Contohnya adalah:

  • Klaim: “kamu seharusnya jangan menyeberang jalan”
  • Kejadian (evident): “lampu penyeberangan berwarna merah”
  • Jaminan: “Aturan memberlakukan bahwa lampu merah artinya berhenti”

Klaim

Klaim di sini adalah representasi argumen. Klaim mengarahkan argumen. Menurut referensi lain, Chris Hart, ada lima jenis klaim yaitu: Fact, worth, policy, concept, dan interpretation. Penjelasannya tidak jauh dari arti kelima istilah itu.

Kejadian (Evidence)

Kejadian beda dengan data. Kejadian lebih spesifik dari data, yaitu untuk kepentingan tertentu. Jadi kejadian adalah bahan baku dari pembuktian terhadap klaim kita. Jadi untuk memperkuat klaim, diperlukan data dan metode yang relevan, yang kemudian mentransformasikan data itu menjadi evidence.

Jaminan (Warrant)

Jaminan ini adalah hubungan antara kejadian dan kesimpulan. Hubungan di sini menyiratkan adanya pengorganisasian yang logis, sehingga memperkuat argumen. Kembali ke contoh menyeberang jalan. Ketika ada kejadian lampu menyala merah (evidence), dan adanya klaim (agar berhenti), perlu adanya jaminan. Kalau tidak, maka klaim Anda kurang kuat. Dalam kasus ini, jaminan yang diusulkan adalah karena aturan, yaitu ketika lampu menyala merah maka harus berhenti (tidak menyeberang jalan). Silahkan mencari jaminan lain sesuai dengan bidang ilmu yang kita miliki.

Teettttt .. alarm perpustakaan berbunyi, ternyata sudah jam 10 malam dan perpustakaan akan ditutup. Survey, kritik, dan review mungkin lanjut lagi nanti. Semoga postingan ini sedikit-banyak bisa mencerahkan. Selamat mencoba.