Ganasnya Reviewer Jurnal ber-Impact Factor Tinggi

Bagi rekan-rekan seangkatan yang saat ini sudah menyelesaikan S3 dan ber-santai ria sejenak, pasti pernah merasakan ditolak tulisan ilmiahnya. Karena merupakan syarat kelulusan S3, penolakan tersebut artinya “menunda” kelulusan dalam waktu yang tak tertentu. Berbeda dengan rekan-rekan yang mengirim tulisan ilmiah hanya untuk kenaikan pangkat, luaran penelitian, atau syarat lektor kepala/guru besar, jika ditolak, kirim ke jurnal lain (biasanya yang levelnya di bawahnya) setelah memperbaiki mengikuti saran reviewer sebelumnya. Silahkan lihat tip n trik sederhananya di post yang lalu.

Pra Publikasi

Satu hal yang berbeda, untuk syarat lulus terkadang kampus mensyaratkan terlebih dahulu disetujui jurnal tujuan oleh senat akademik kampus. Biasanya jurnal yang berimpak factor (standar Web of Science) selalu disetujui.

Ada bagusnya juga sih form pengajuan tersebut, yakni sebagai bukti nanti ketika ternyata accept berarti berhak lulus. Kampus tidak bisa menolak karena sudah menyetujui. Sepertinya patut ditiru untuk Kemristek-Dikti karena banyak kasus dosen yang sudah publish di suatu tulisan tertunda lektor kepala atau guru besarnya karena beberapa tulisan tidak layak, padahal sudah butuh waktu untuk menulis dan proses review.

Submit Jurnal

Disertasi selalu lebih kompleks dari artikel di jurnal. Jadi mahasiswa doktoral bisa membuat lebih dari satu artikel jurnal untuk tiap makalah disertasinya. Yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh mensubmit jurnal yang sama untuk lebih dari satu jurnal. Artinya harus disubmit secara serial, jika jurnal A menolak, baru submit ke jurnal B dan tidak boleh ke A dan B secara bersamaan.

Proses Review

Di sinilah tahap krusial nasib artikel yang disubmit karena menentukan diterima atau tidak. Makin tinggi impact factor (atau nilai quartil), makin sulit lolosnya. Bahkan banyak yang ditolak oleh editor sebelum dikirim ke reviewer. Ketika pertama kali submit seminar internasional, proses review tidak terlalu njelimet. Tetapi ketika submit ke jurnal ternyata rumit juga. Contoh di bawah adalah reviewer ke tiga dari jurnal yang minor revision. Tadinya saya fikir minor revision hanya sederhana, tetapi ternyata proses review berjalan sampai tiga ronde, artinya tiga kali bolak balik (walaupun tidak semua reviewer sampai tiga ronde, hanya satu atau dua orang saja).

Untuk merespon reviewer bisa dilihat tekniknya pada postingan yang lalu. Jawaban sebaiknya disertakan perbaikannya di naskah, bukan sekedar jawaban di komentar saja.

Lama Proses Review

Biasanya antara satu tulisan dengan tulisan lainnya seragam waktu penerimaannya, kecuali jika “major revision”. Rekan saya sempat setahun proses review dan selama setahun itu tidak boleh dikirim ke jurnal lain. Kalau pun bisa dengan cara menarik, sebaiknya jangan dilakukan karena tidak etis mengingat proses review sudah berjalan. Editor sudah bersusah payah mencarikan reviewer dan reviewer juga sudah bersusah payah membaca naskah kita. Takutnya bisa kena “blacklist”. Untungnya rekan saya setelah setahun diterima. Bayangkan jika ditolak, repot juga mengingat waktu terbuang percuma setahun hanya ngurusi jurnal dan “argo” kuliah S3 terus berjalan. Untuk mencari proses publikasi yang cepat, trik yang bisa dilakukan adalah: 1) open access (jika diijinkan), 2) special issue, 3) prosidia (seminar yang layak dijurnalkan). Untuk yang ketiga saya mengalaminya, walaupun tetap saja prosesnya setengah tahun dengan tujuh reviewer (reviewer A sampai G, repotnya). Selamat mencoba, semoga naskahnya diterima (accepted).

Contoh Accepted:

Ditolak:

Untungnya punya pembimbing-pembimbing hebat yang terus menyemangati:

Dear Mr. Handayanto,

Sorry to hear this news. But please don’t be discouraged and find another chance.

Could you share the review report from peer-reviewer(s) with me?

Best regards,

So***

Bahasa Inggris memang jadi momok penulis pemula:

Dear Rahmadya:

It seems from the comments that the English needs urgently to be fixed. Some of the technical issues may be from this problem too simply because the referees couldn’t understand what you were trying to say.

The language center might check but it’s really not their job to correct line by line which is what might be needed. Just a suggestion which a couple of my students have followed: hire somebody (preferable a native speaker) and sit down with him/her while they correct so that you can clarify when they aren’t sure what you are trying to get across.

This costs a bit of money and takes some time but you need only one decent paper to graduate:-)

Best,

Sum****

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s