Mitra

Saat ini terjadi pergeseran dalam bisnis, khususnya sejak menjamurnya aplikasi-aplikasi online. Aplikasi ini bercirikan sharing sumber daya, misalnya pemilik kendaraan, pemilik vila/penginapan, kepada vendor aplikasi. Penyedia aplikasi, misalnya aplikasi ojek/taksi online, tidak perlu memiliki kendaraan/armada, cukup bermintra dengan pemilik kendaraan. Nah, di sini kata mitra memiliki makna khusus dimana ketika dahulu ada istilah pegawai dan pemilik, kini semuanya mitra, saling membutuhkan.

Misalnya dalam aplikasi pesan makanan online, maka mitra yang terlibat antara lain pembeli, pedagang makanan/minuman, dan driver/kurir. Posisi setara menyebabkan mereka berperan sebagai mitra, tidak ada satu posisi yang melibihi posisi lain. Tentu saja, masing-masing memiliki alat ukur untuk kinerja dan sesuai dengan visi misi pembuat aplikasi, biasanya ada aspek lain yang perlu diperhatikan misalnya kepuasan konsumen terhadap layanan yang dipesan (makanan, transportasi, dan jasa lain).

Masih belum jelas apakah kondisi tersebut masuk ke bidang lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Jika masuk maka profesional akan memiliki ikatan berupa mitra dengan pemilik organisasi, misalnya dosen dengan yayasan.

Sebenarnya gejala-gejala mulai nampak, yang dipercepat dengan pandemi covid yang mengharuskan bekerja secara online. Beberapa mahasiswa mulai menjalankan kebijakan mendikbud MBKM. Terjadi sharing sumber daya antar kampus. Mulai terjadi seorang mahasiswa satu kampus mengikuti kuliah di kampus-kampus lainnya, bahkan hingga kampus luar negeri (program IISMA).

Kerap terjadi konfilik di suatu institusi pendidikan ketika pemilik/owner masih memiliki paradigma yang lama: bos dan pegawai. Untungnya pemerintah sanggup menengahi kasus-kasus yang terjadi ketika ada konflik antara pemilik dengan pekerja. Jika dahulu depnaker fokus ke buruh, saat ini mulai masuk ke bidang lain, salah satunya pendidikan. Terutama semenjak BPJS baik kesehatan dan ketenagakerjaan wajib diterapkan di tiap-tiap organsisasi/perusahaan.

Bagaimana antara dosen/guru dengan mahasiswa/siswa? Ada kemungkinan terjadi perubahaan paradigma menjadi mitra. Tetapi ada aspek lain yang tidak dapat berubah yakni psikologis maupun adat istiadat. Hormat siswa terhadap guru tentu saja tidak bisa sama dengan terhadap mitra, walaupun dari sisi bisnis berlaku prinsip tersebut. Untuk kursus atau pelatihan mungkin bisa diterapkan, namun untuk guru dan murid atau dengan ustad di lembaga pendidikan agama, ada aspek lain yang tidak mungkin hilang.

Bagaimana kalau dipaksakan? Memang sesuatu yang dipaksakan dapat saja berjalan. Namun, ada prinsip dalam pendidikan yang tidak dapat dilupakan yaitu kesediaan ‘mengajari’ atau ‘berbagi ilmu’ dengan orang lain.

Membayar untuk membeli makanan, misalnya, mungkin selesai setelah makanan habis dimakan atau kendaraan yang dibeli telah dipakai sehari-hari. Tetapi membayar untuk memperoleh ilmu di suatu institusi akan berbeda karena mahasiswa akan memiliki ikatan dengan institusi tersebut walaupun sudah lulus. Dari pengalaman sebagai ketua program studi, banyak orang tua yang datang untuk menitipkan anaknya dididik dengan alasan si orang tua tersebut (ayah atau engkongnya) pernah kuliah di kampus yang sama. Termasuk ketika memohon agar anaknya tidak di drop out (karena masa studi yang habis), yang untungnya berhasil lulus dengan susah payah. Saya hampir menitikan air mata ketika mem-paraf ijazah dan transkrip nilainya krn ingat kedua orang tuanya yang datang menghadap. Agak sulit dibayangkan kondisi ini jika menganggap pendidikan selayaknya jual beli biasa.