Problematika Keabsahan Jurnal Internasional

Baik di WA maupun Facebook, belakangan beredar berita berantai mengenai di-blacklist-nya jurnal Inderscience oleh tim Penilaian Angka Kredit (PAK) dosen (lihat link berikut) yang diupload tanggal 23 November 2017. Kehebohan ditambah dengan waktunya yang bertepatan batas akhir penilaian kinerja lektor kepala dan profesor, yaitu tanggal 27 November tahun ini (2017). Jika sampai tanggal tersebut belum sampai ke tim PAK, tunjangan terancam tidak tersalurkan (lihat info dari kopertis 8 berikut ini). Trus bagaimana, waktu 4 hari tersisa? Jangan khawatir, berdasarkan surat edaran di bawah ini, untuk saat ini tidak ada hubungannya dengan tunjangan dulu, hanya pemetaan saja (paragraph pertama). Syukurlah, tidak seperti bos saya waktu kerja jadi IT suatu bank, kalau ada divisi lain yang ingin minta keringanan dan hal yang aneh-aneh, jawab saja “Itu urusan loe sama keluarga loe “, hehe.

Beberapa aktivis pemerhati riset, mulai mempertanyakan dasar-dasar opini tim PAK dalam melarang dan tidak mengakui suatu jurnal internasional, seperti link facebook Dr. Sunu ini. Ada yang mempermasalahkan ada yang biasa-biasa saja. Hal ini karena ada beberapa motif orang mempublikasikan karya ilmiahnya dalam suatu jurnal.

Ingin Berbagi Ilmu

Ketika mempublikasikan suatu temuan, peneliti pasti sadar bahwa ilmunya dapat dipergunakan oleh siapapun. Salah satu etika yang wajib adalah ketika mensitasi harus menyebutkan sumber referensinya. Biasanya penulis yang ingin berbagi ilmu tulisannya banyak disitasi oleh peneliti lain. Temuannya dijadikan rujukan peneliti-peneliti lainnya. Hal inilah yang menyebabkan ilmu terus berkembang. Bayangkan jika tiap peneliti merahasiakan temuannya, maka ilmu akan sulit berkembang. Tentu saja, terindeks di pengindeks internasional menjadi syarat wajib jika tulisannya ingin dibaca dan disitasi oleh sebanyak mungkin peneliti lain di dunia. Istilah “not only published, but also get cited” menjadi moto dari peneliti yang bermotif ingin membagikan ilmu ke seluruh dunia. Entah itu diakui PAK Dikti atau tidak, tidak masalah.

Untuk Kenaikan Pangkat

Motif ini paling banyak dijumpai di tanah air. Percuma mempublikasikan tulisan dan disitasi oleh banyak orang tetapi tidak diakui oleh tim PAK dosen Dikti, atau diakui tetapi bobotnya kecil. Untuk itu perlu memantau terus jurnal-jurnal atau seminar internasional yang diakui Dikti di situs resminya. Tidak ada masalah sih dengan motif ini, tapi sebaiknya tidak 100% hanya fokus ke tujuan kenaikan pangkat.

Untuk Luaran Penelitian

Beberapa hibah penelitian mengharuskan publikasi di jurnal internasional, atau setidaknya seminar internasional. Karena waktu yang mepet, biasanya peneliti memilih jurnal internasional yang secepat mungkin proses publikasinya. Atau dengan international conference yang memang waktunya sudah fixed. Tetapi tidak ada salahnya dosen yang memperoleh hibah, untuk memenuhi luaran memperhatikan juga jurnal-jurnal yang diakui tim PAK Dikti.

Untuk Lulus Studi Doktoral

Beberapa kampus mengharuskan mahasiswa doktoralnya untuk mempublikasikan tulisan di jurnal internasional yang diakui oleh kampus tersebut. Tiap kampus berbeda-beda dalam menentukan jurnal mana yang diakui atau tidak (dilarang). Tentu saja mahasiswa yang seorang Dosen tugas belajar, tetap memperhatikan jurnal targetnya diakui atau tidak di PAK Dikti. Mungkin langkah-langkah yang diambil kampus dalam menentukan jurnal yang diperbolehkan maupun yang dilarang bisa ditiru, yakni:

  • Kampus menerbitkan daftar jurnal-jurnal yang dilarang (discourage) untuk syarat publikasi selama periode tertentu misalnya dua atau tiga tahun.
  • Jika jurnal yang jadi target publikasi tidak ada dalam list, tersedia FORM untuk dirapatkan di level senat akademik yang berisi profesor-profesor pilihan (sebulan sekali). Jika disetujui, barulah si mahasiswa boleh mengirimkan berkas ke jurnal tersebut.

Mungkin teknik tersebut dapat diadopsi oleh tim PAK Dikti. Bisa saja assessment sendiri, tapi sebaiknya dilakukan tapi tiap periode tertentu dengan mengeluarkan daftar blacklist yang harus dipatuhi oleh dosen-dosen yang ingin mempublikasikan penelitiannya. Jika ada dosen yang ingin mempublikasi ke jurnal yang tidak ada di daftar, bisa minta dicek bagian PAK boleh atau tidak dengan borang tertentu yang resmi. Jadi ketika tulisan dosen tersebut diterima dan dipublikasi, sudah memiliki kekuatan hukum bahwa tulisannya diakui tim PAK Dikti. Jadi, tidak hanya dengan melihat jurnal apa yang dipublikasikan oleh seorang dosen ketika proses kenaikan pangkat dan setelah dicek baru ditentukan jurnalnya diterima atau tidak (ibarat masuk ke meja hakim dan harus menunggu keputusan). Hmm .. sekian, semoga bisa jadi inspirasi.

Update: 27 November 2017

Di grup WA kian ramai saja. Beberapa pemerhati dan pengelola jurnal ikut nimbrung dan memberi saran, seperti tulisan dari Dr. Tole ini:

Update: 28 November 2017

Tim PAK mulai merespon dengan menjawab di situs resminya (lihat link berikut). Cara mendeteksi dengan melihat proses dari submit hingga accepted dan published, terutama korespondensi dengan reviewer sepertinya cukup baik. Semoga pihak yg berkepentingan dengan kasus ini membaca info tersebut, terutama di bagian ini:

“mengirimkan bukti termasuk surat keberatan atas informasi tentang inderscience yang dipublish sejak tanggal 23 November 2017 yang ditujukan kepada Dirjen SDID dengan alamat email:admin.pja@ristekdikti.go.id

Diterima paling lambat hari rabu  tanggal  29 November 2017 pukul 18.00 WIB”

Mencari Inspirasi

Untuk maju terkadang dibutuhkan suatu “role model“, yaitu obyek yang akan kita tiru. Meniru itu mudah, bahkan ketika kita masih kanak-kanak, cara belajar yang cocok adalah meniru. Namun ketika kita beranjak dewasa, banyak faktor-faktor yang membuat keterampilan meniru ini hilang, atau setidaknya jarang digunakan.

Menghargai Prestasi Orang Lain

Menginjak dewasa, banyak ilmu yang diterima, tetapi banyak juga “kondisi” yang masuk ke dalam otak seorang anak. Seorang ekonom yang juga motivator, Rhenald Kasali, menganjurkan juga mencari role model untuk kemajuan kita. Tidak perlu orang-orang hebat dan orang besar, siapa pun bisa kita jadikan role model. Lihat sekeliling kita, rekan kita, atau siapapun itu, lihat apa prestasi yang diperoleh dan jadikan pelajaran. Repotnya terkadang kita bukannya mengikuti langkah-langkah mereka yang berhasil tetapi malah sibuk mengkritisi, mencari kesalahan-kesalahan, dan kejelekannya.

Kesuksesan atau keberhasilan yang terlihat, besar atau kecil, ada proses di dalamnya yang tidak tampak dari luar. Ibarat puncak gunung es yang tampak kecil di permukaan, tetapi besar di bawah. Dekati dan buat dia mau menge-share tips dan trik yang bisa kita jadikan pelajaran. Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan jika memang diawal sudah anti pati terhadapnya, gengsi karena merasa lebih senior, dan sebagainya.

fenomena-gunung-es

Siapa pun Bisa Dijadikan Inspirasi

Lupakan sejenak kejadian-kejadian di negara, terutama masalah politik praktis yang jika tidak hati-hati akan mengganggu kemajuan kita. Mungkin saja guru, teman, dan sumber-sumber lain memiliki pandangan yang berbeda dalam hal tertentu. Jangan sampai sumber-sumber itu lepas akibat ulah kita sendiri, terutama saat ini adalah lewat media sosial. Kita semua terhubung, siswa dengan dosen, staf, pemerintah dan lain-lain. Jaga terus hubungan itu.

Tiap orang itu “Custom”, tidak ada yang sama/seragam. Jadi jika kita mengkotak-kotakan mereka, yang rugi adalah kita sendiri. Logika “karena kita benci A dan orang yang suka A harus kita benci juga” harus segera dihapus. Waktu kita SMP pun diajarkan diagram Venn, dimana satu himpunan bisa saja beririsan dengan himpunan lainnya.

Banyak Bertanya

Mengapa bertanya harus banyak? Karena memang masalah kita biasanya banyak. Selain itu tidak semua bisa menjawab masalah kita. Seperti sudah dibahas sebelumnya, masalah custom. Beberapa hari yang lalu rekan mahasiswa doktoral baru bertanya masalah studinya. Saran saya adalah bertanya sebanyak-banyaknya dengan senior yang lain, karena tidak ada satu mahasiswa pun yang sama persis kasusnya. Ada yang kasus nilai yang kurang, proposal yang belum juga disetujui, jurnal yang lama tidak ada kabar, dan lain-lain. Bahkan dua orang siswa dengan dosen pembimbing yang sama pun memiliki nasib dan perlakuan yang berbeda.

Selain bertanya mencari sumber-sumber inspirasi dari internet juga bagus. Tetapi jangan hanya dari orang-orang yang “super” saja. Saya banyak membaca blog-blog dari yang memang “wah” prestasinya hingga dari mahasiswa/I alay yang sedang studi lanjut. Banyak hal-hal yang di luar fikiran kita ada di tulisannya, dan bisa bermanfaat. Di samping itu, jaman cepat sekali berubah, mungkin sumber dari orang yang “wah” cocok hanya untuk saat dia menggapainya, tetapi tidak cocok lagi dengan kondisi saat ini.

Learning by Teaching

Metode ini saat ini sedang diteliti dalam riset mengenai e-learning. Lihat potongan webinar (seminar online) tentang learning by teacing (LbT).

Memang ilmu itu beda dengan benda fisik. Jika kita mengajarkan, kita tidak kehilangan malah bertambah. Selain ilmu yang bertambah, pengalaman juga bertambah akibat seluruh fungsi otak yang ikut bekerja, kiri kanan atas bawah, limbik, dan istilah-istilah lain yang tidak saya mengerti, katanya. Sekian, semoga tulisan menjelang mudik ke tanah air bisa bermanfaat.

Seminar Wireless 5G di Kampus

Sambil mengurus berkas-berkas sebelum pulang menunggu proses external disertasi, iseng-iseng ikut seminar di jurusan ICT (telkom) jurusan sebelah. Pengisinya adalah dosen dari Jepang (Masayuki Ariyosi) tentang penerapan wireless 5G di kedokteran dan disaster management. Sering juga mendengar bahwa teknologi 4G sebentar lagi akan digantikan oleh 5G. Teknologi terbaru itu kini sedang dikembangkan, banyak masalah-masalah yang dijumpai. Tetapi untuk yang machine to machine communication sepertinya sudah established.

LCX Multi Input Multi Output

Terus terang saya mendengarkan sambil pusing memikirkan maksud dari pembicara yang kental logat Jepangnya. Tetapi lama kelamaan “ngeh” juga ketika dia membahas mengenai LCX. LCX itu adalah metode baru pengganti access point (terminal WIFI) yang memiliki kelemahan karena terdistribusi hanya dalam satu titik sementara LCX kontinyu dan panjang.

Silahkan searching LCX yang berisi kabel coaxial dengan tambahan lilitan (horizontal atau vertical) yang berfungsi sebagai antena. Jadi prinsip kerjanya adalah LCX ini seperti access point yang kontinyu sehingga pengguna yang tersebar memeliki quality of service yang seragam, berbeda dengan access point dimana pengguna yang jauh dari access point akan lambat alias “lemot”.

LCX terus berkembang dari yang tadinya tipe 2×2 berlanjut ke 4×4 MIMO dimana dua kabel LCX digabung menjadi satu. Saya juga masih berfikir apakah tidak saling mengganggu mengingat masalah yang 2×2 saja harus diatur peletakannya agar satu sama lain tidak saling mengganggu.

Riset di Wireless

Sepertinya profesor pembicara itu membutuhkan tim untuk riset dan menawarkan untuk membimbing mahasiswa di kampus saya untuk lanjut ke Jepang atau sekedar kuliah tambahan. Sepertinya banyak rekan saya di Indonesia yang spesialis dalam jaringan piconet ini. Seperti dalam supply dan demand, terkadang perlu dihubungkan antara pensuplai (supervisor) dan yang membutuhkan (mahasiswa bimbingan).

Masalah utama calon-calon mahasiswa doktoral di tanah air adalah kendala bahasa. Pemberi beasiswa dan kampus tujuan biasanya mematok skor IELTS dan TOEFL yang tinggi, sementara jika mengandalkan kampus dalam negeri tentu ada batasnya (anggaran dan kuota dosen pembimbing/supervisor). Sekian semoga bermanfaat bagi rekan yang serius di telkom.

Menyelesaikan masalah “Architecture Mismatch Driver & Application” ketika mengakses Database di Matlab

Melanjutkan postingan yang lalu tentang problematika explore database di Matlab yang melibatkan versi 64 atau 32 bit. Masalah incompatible ini sepertinya tidak direspon dengan baik. Baik oleh Windows maupun Matlab. Sepertinya ada sedikit “paksaan” bagi pengguna versi 32 bit untuk beralih ke versi 64 bit. Padahal banyak yang masih menerapkan versi 32 bit di sistem yang sedang berjalan.

Install Microsoft Access Versi 64 Bit

Pengguna Matlab 64 bit sepertinya sudah harus beralih ke versi 64 bit untuk semua hal yang terlibat dengan Matlab (environment), seperti OS dan sistem basis data-nya. Jika tidak maka akan muncul peringatan adanya ketidaksesuaian dari sisi arsitektur antara driver ODBC dan aplikasi. Perbedaan arsitektur merupakan perbedaan yang tidak sepele dalam suatu sistem perangkat lunak.

Repotnya untuk Microsoft Access, tidak bisa langsung memasang yang 64 bit tanpa meng-uninstall versi yang sebelumnya. Perlu diperhatikan jika ada visio versi 32 bit, windows meminta uninstall juga. Jadi kalau sayang dengan visio yang 32 bit atau tidak punya installer visio yang 64 bit, sebaiknya difikirkan terlebih dahulu, atau siapkan dulu visio versi 64 bitnya.

Tadinya saya masih ragu, jangan-jangan ketika uninstall yang 32 bit dan install yang 64 bit tetap saja database tidak bisa diakses Matlab 64 bit, tetapi ternyata Alhamdulillah bisa. Mungkin ini bisa menjawab pertanyaan dari pembeli buku saya tentang database di Matlab yang tidak bisa terkoneksi dengan access karena beda versi “bit”nya. Oiya, jangan khawatir, semua settingan di office 32 bit yang lalu tetap otomatis terbawa di versi 64 bit yang baru.

Mengecek Koneksi Database di Matlab

Ketika sudah menginstall versi 64 bit, pastikan di ODBC yang 64 bit terisi driver dan platform-nya yang baru (64 bit). Selalu gunakan driver untuk kedua versi access (*.mdb dan *.accdb). Pastikan ketika mengklik Configure… tida ada pesan “architecture mismatch ..” lagi.

Tambahkan satu User DSN baru dan coba buka dengan Matlab 64 bit. Setelah mengetik dexplore di command window Matlab, cari ODBC yang baru saja dibuat. Pastikan database yang dibuat dengan Access dapat dilihat isinya.

Sekian dulu info singkat ini, semoga bermanfaat dan semoga pula naskah tentang data spasial dan bigdata dengan Matlab dapat rampung secepatnya.

Problematika Explore Database pada Matlab

Matlab terkini sudah memiliki fasilitas untuk mengeksplore suatu database. Hampir semua database dapat diakses dengan Matlab, khususnya yang berbasis Windows. Hanya saja ada sedikit permasalahan dengan kompatibilitas antara 64 bit dengan yang 32 bit. Berikut beberapa kemungkinan yang terjadi antara Windows, Matlab, dan Sistem database yang digunakan.

Baik Windows, Matlab dan Database 32 Bit atau 64 Bit

Untuk kasus ini tidak ada masalah yang berarti. Banyak tutorial yang membahas bagaimana mengkoneksikan database dengan Matlab dengan versi bit yang sama. Kebanyakan database dapat digunakan dengan menggunakan fasilitas Open Database Connectivity (ODBC) bawaan Windows. Link youtube ini cukup baik menjelaskan bagaimana mengkoneksikan database ke Matlab 64 bit.

Windows 64 Bit, tetapi Matlab dan Database 32 Bit

Untuk kasus ini ada sedikit masalah ketika mengeset ODBC karena driver yang tidak muncul. Untungnya Windows 64 bit masih memberikan fasilitas untuk mengelola ODBC versi sebelumnya (ODBC 32 bit). Cara mudahnya adalah dengan mengetik: odbcad32 di menu RUN. Letak file ‘odbcad32.exe’ ada di: C:\Windows\SysWOW64\odbcad32.exe.

Windows dan Matlab 64 Bit, tetapi database 32 Bit

Masalah ini banyak ditanyakan oleh pengguna di internet. Hampir semua jawaban tidak memuaskan, bahkan ketika ditanyakan ke pihak Microsoft. Kebanyakan kasusnya adalah user menginstall microsoft access 32 bit sebagai database tetapi memiliki Matlab versi 64 bit, misalnya Matlab 2013b.

Dikatakan bahwa DSN pada ODBC yang dibuat tidak matching antara arsitektur dengan driver aplikasi. Saran yang paling ampuh adalah menginstall ulang Microsoft Access dengan versi yang sama dengan Matlab tersebut (versi 64 bit). Matlab sendiri menganjurkan menggunakan 64 bit karena memiliki keunggulan tersendiri dalam penggunaan RAM maksimalnya (melebihi 3 Gb).

Menggunakan Database non Microsoft

Sebenarnya saya mencari driver yang bisa menambahkan driver access di kolom isian driver 64 bit. Ternyata selalu saja ada instruksi error bahwa access yang diinstall tidak 64 bit. Jika enggan menguninstall office 32 bit, ada alternatif database lain yang bisa digunakan yaitu MySQL. Ketika menginstall ODBC untuk MySQL maka di driver pada ODBC 64 bit muncul driver baru seperti di bawah ini.

Tampak MySQL ODBC 5.3 pada driver. MySQL sendiri dapat menggunakan aplikasi XAMM yang ringan karena Apache tidak selalu “ON” ketika tidak digunakan. Untuk menjalankannya tinggal men-doble klick XAMM start di explore.

Untuk mengujinya silahkan menggunakan fasilitas dexplore pada Matlab dengan mengetikannya di command window. Tekan “connect” yang terletak di kiri atas Matlab (atau otomatis akan meminta koneksi ke ODBC yang diinginkan). Pilih ODBC yang sudah dibentuk sebelumnya dengan pilihan driver MySQL.

Kemudian pastikan tampak fields yang ada di tabelnya. Silahkan yang suka “ngetik coding” di command window mengecek apakah koneksi sudah berjalan seperti berikut ini.

Pastikan isconnection bernilai “1” yang menandakan bahwa database telah berhasil terkoneksi ke Matlab anda. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

NB: Silahkan beli buku yang disertai source code untuk melakukan komputasi dengan Matlab yang terintegrasi dengan database (access dan mysql), online maupun di toko buku Gramedia (semoga stok masih ada): https://www.gramedia.com/pemrograman-basis-data-di-matlab-cd.html.

Life-long Education

Istilah ini sering muncul dan dikontraskan dengan “long life education”. Jika “life long education” berarti belajar sepanjang hidup, “long life education” berarti hidup hanya untuk belajar. Jadi yang benar adalah belajar untuk hidup. Banyak referensi-referensi mengenai hal yang masuk dalam bidang ilmu pendidikan ini, misalnya di paper seminar ini, yang membahas seluk beluk “life long education” yang sedikit membedakan dengan “life long learning” (lihat link ini). Jika learning hanya berfokus kepada belajar, “education” lebih luas dari pada “learning”.

Empat Pilar Pendidikan

Dibahas empat pilar dalam pendidikan, antara lain: “learning to know”, “learning to do”, “learning to live together and work with others”, dan “learning to be”. Pilar itu sudah sesuai dengan urutannya, yang diutarakan pertama kali oleh Delors (1996) dan ditujukan untuk pendidikan di masa depan. Dimulai dari sekedar tahu (know), dilanjutkan dengan bisa mengerjakan (do) dan bekerja sama (live together) dan diakhiri dengan perannya di masyarakat (to be). Jika seluruh rakyat Indonesia sampai tahap “to be”, pasti sejuk dah. Jika “learning to do” tetapi tidak “live together”, biasanya bentrok dan persaingan muncul di sana-sini. Jadi ingat, baru saja sore tadi timnas U23 kita dikalahkan 2-3 oleh timnas Syria. Bayangkan, kita dikalahkan oleh negara yang porak-poranda karena perang sodara. Semoga kita tidak seperti mereka yang kurang skill dalam “live together”-nya. Kalau “learning to do” sepertinya kita sudah banyak yang “ok”, buktinya kita masih bisa bekerja dengan baik, bahkan keahlian mengelas kita mengungguli negara lain. Tetapi kalau kebanyakan baru sampai “learning to know” sepertinya hanya ramai debat saja tanpa aksi, alias wacana thok. Repotnya, apabila keempat pilar tidak ada yang jalan, maka pasti kerjaannya ribut saja di media sosial, gampang kemakan hoax dan gemar cari lawan.

Kwadran Pendidikan

Negara dengan mayoritas muslim sebaiknya mendengar hadits nabinya yang mengatakan agar belajar dimulai dari buaian (bayi) hingga liang kubur (meninggal), alias “life-long education”. Dalam kondisi seperti saat ini dimana perkembangan IPTEK sangat cepat, tidak ada cara lain untuk “sustainable”/bertahan selain belajar terus. Di Swedia, life-long education dikombinasikan dengan “life-wide learning”. Jadi kalau digambarkan, “life-long” itu berdasarkan usia, sementara “life-wide” itu dibedakan menjadi formal dan non-formal, sehingga terbentuk 4 kwadran.

Idealnya negara memfasilitasi secara merata keempat kuadran tersebut. Misalnya untuk generasi muda, selain formal (sekolah), perlu juga memperhatikan pendidikan non-formal (di masyarakat). Selain distribusi yang merata, integrasi juga harus ada. Selama ini pendidikan non formal dan formal sepertinya jalan masing-masing di beberapa negara, padahal sebaiknya antara formal dan non-formal saling terkait. Selain horizaontal (formal dan non-formal), integrasi juga vertikal (tua atau muda).

Tujuan Utama “Life-long Education”

Dari empat pilar pendidikan, “learning to be” merupakan tujuan akhir dari pendidikan. Istilah lain dari “learning to be” adalah “learning society”, yaitu rakyat yang produktif, mampu bertidak dan merespon dengan baik dalam bermasyarakat serta memiliki kesadaran dalam bertindak. Aspek spiritual tidak boleh dilupakan (tidak materialistis). Akan tetapi butuh persyaratan-persyaratan tertentu untuk sampai ke arah sana.

Persyaratan Awal

Dari dulu ada dua syarat untuk menerima pendidikan: kesempatan dan kemauan. Tanpa keduanya, pendidikan tidak berjalan. Untuk memberikan kesempatan belajar, peran pemerintah sangat penting. Jangan sampai pendidikan hanya untuk orang yang mampu (the have). Masalah kesempatan merupakan masalah yang sering dijumpai di negara berkembang seperti di Indonesia dibanding di negara maju. Selain itu pihak yang mampu jangan mengabaikan yang tidak mampu, sehingga tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam hal pemberian kesempatan belajar ke rakyat yang tidak mampu. Sementara itu kemauan perlu dipupuk sejak kanak-kanak dan peran orang tua juga menentukan. Terakhir adalah “educability”, alias bisa dididik. Sepertinya tidak masalah di negara kita, karena tiap orang bisa dididik, kecuali kalua kena narkoba atau dicuci otaknya oleh paham radikal (teroris).

Demikian sedikit gambaran masalah pendidikan yang saya sendiri kurang begitu mendalami. Mungkin rekan-rekan yang mengajar di kampus jurusan pendidikan bisa lebih memberikan penjelasan yang lengkap dan “jujur”. Semoga bermanfaat.

Referensi

Silahkan lihat link di paragraf awal

Perkembangan e-Learning Saat Ini

Ketika mendaftar beasiswa DIKTI, calon karya siswa (mahasiswa yang memperoleh beasiswa) diwajibkan untuk melampirkan proposal disertasi. Waktu itu saya mengusulkan penerapan soft computing dalam sebuah e-learning. Soft computing yang diterapkan pun beragam dari yang biometrik hingga plagiarism check. Setelah wawancara dan dinyatakan lulus, mulailah satu persatu jurnal e-learning saya baca. Ternyata rumit juga .. he he. Alhasil saya beralih dari e-learning ke data spasial, kebetulan dapat hibah bersaing DIKTI tentang optimasi data spasial, jadi sekalian kerja serempak. Ditambah lagi, kampus tempat saya kuliah tidak menawarkan course e-learning.

Kualitas e-learning Terkini

Jujur saja saya tidak begitu mendalami masalah teknis aplikasi e-learning, yang dimotori oleh Moodle. Hanya sedikit berbagi pengalaman saja sebagai pengguna (siswa dan juga pengajar). Ketika kuliah remote sensing & GIS, dosen saya menyediakan e-learning (disebutnya virtual class). Tetapi jarang saya buka, karena hanya sekedar share file-file dan tugas kuliah saja. Waktu itu bentuknya pun tidak jauh berbeda dengan Moodle yang pernah saya coba install dengan php-mysql di laptop. Sekarang ada sedikit perbedaan, seperti tampak dalam gambar di bawah ini.

Sebagai mahasiswa sepertinya sangat pasif dan hampir tidak ada fasilitas untuk onlinenya. Mungkin karena tidak optimal digunakan. Malah lebih suka mengunakan Facebook untuk media komunikasinya. Sementara itu, di bawah ini salah satu situs e-learning dari universitas terbuka.

Tugas-tugas yang diberikan tiap minggu dapat dengan mudah diperiksa dalam sebuah forum diskusi dan juga tugas-tugas. Untuk membuat e-learning yang mirip sekali dengan perkuliahan tatap muka sepertinya agak sulit. Untuk sekedar diskusi saja tingkat keikutsertaan siswa masih rendah. Sepertinya mobile-learning dengan smartphone perlu diusahakan agar memudahkan pengguna. Mirip aplikasi Grab/gojek/atau lainnya yang mudah dan user friendly.

E-learning SEAMEO SEAMOLEC

Salah satu faktor utama suatu aplikasi adalah tingkat penggunaannya. Percuma aplikasi yang baik dan canggih tetapi orang malas menggunakannya. Oleh karena itu sebaiknya riset melibatkan pengguna. Salah satu lembaga level Asia Tenggara (+ Australia dan Timur Leste) adalah Seameo Seamolec (lihat link resminya). Gambar berikut menampilkan seminar internasionalnya (saat tulisan ini dibuat, acara masih berlangsung) via online yang membahas perkembangan terkini online learning.

Software yang digunakan adalah plugin dari Cisco (Webex). Saya kagum juga dengan Cisco dalam menyediakan fasilitas video conference. Pernah ada uji coba dari univ di jogja yang mengadakan diskusi online lewat aplikasi Cisco yang akan dibeli kampus itu (saya lupa nama produknya). Hasilnya cukup OK walaupun saya menggunakan ponsel HP (GSM) sinyalnya, tapi tidak putus-putus.

Salut juga untuk tim (Binus dkk) yang menyelenggarakan seminar ini. Semoga e-learning terus berkembang sehingga bisa menjangkau wilayah Indonesia yang luas dalam mencerdaskan bangsa.

Berikut ini contoh tampilan konferensi online ini (2nd Indopec International seminar). Semoga info ini berguna.

Menghormati Orang Lain .. Wajib di Era Informasi

Saat munculnya media sosial, dimulai oleh milis dan obrolan macam-macam sejenis kaskus hingga facebook, twitter, dan instagram, dimulailah era informasi. Istilah nitizen terbentuk, gabungan dari kata internet dan citizen, yang artinya warga yang berinteraksi lewat media online (internet). Terakhir dengan bantuan “internet of things”, aplikasi-aplikasi online ditawarkan dan membentuk “pasar baru” yang dikhawatirkan pelaku bisnis existing yang masih menerapkan proses bisnis konvensional.

Pengakuan Terhadap Aplikasi Online

Pertama kali logo grab saya lihat menempel di taksi konvensional yang ada di Thailand, tempat saya studi lanjut, kira-kira tiga/empat tahun lalu. Saya hanya berfikir itu sekedar aplikasi bantuan untuk memesan taksi. Kemudian ketika beberapa kali “mudik” ketika libur kuliah, banyak ojek-ojek berwarna hijau dan orange berseliweran. Barulah saya berfikir ini merupakan proses bisnis baru, karena ada aplikasi dan seragam. Akhirnya muncul bentrokan-bentrokan akibat ojek pangkalan yang merasa diambil rejekinya. Terbesar adalah ketika perusahaan taksi ternama demo besar-besaran dengan aksi pengrusakan terhadap mobil-mobil yang diduga beroperasi sebagai taksi online. Walaupun ada aturan-aturan dari pemerintah, seperti kendaraan roda dua yang tidak boleh jadi angkutan, dan aturan-aturan lain yang bermaksud membatasi ojek dan taksi online, tetap saja, konsumen adalah raja.

Ketika dua bulan yang lalu tiba di bandara, kaget juga plang iklan “grab” tampil mendominasi. Sempat heran juga, padahal masih ingat berita viral di internet ketika aksi sweeping taksi online terjadi di bandara. Sampai ada yang pura-pura memesan taksi online sebagai perangkap. Saya sempat “kecele” juga ketika memesan grab di terminal DAMRI dengan berjalan keluar beberapa puluh meter. Ternyata taksi online itu menunggu persis di pinggir jalan terminalnya. Si supir mengatakan bahwa saat ini sudah tidak ada masalah menerima penumpang di terminal. Padahal dulu istri dan adik ipar ketika memesan taksi online di terminal sempat dimaki-maki supirnya oleh taksi pangkalan terminal itu. Sekali lagi .. konsumen adalah raja.

Perilaku Driver Ojek/Taksi Online

Di awal-awal memang banyak pengemudi yang kurang baik. Walaupun tetap saya beri bintang yang baik, mungkin karena tidak semua orang punya rasa kasihan seperti saya, sepertinya supir-supir selebor mulai tersisih. Bahkan makin lama, driver sopan dan ramah banyak dijumpai, juga tentu saja sabar dan taat dalam berlalu lintas.

Akhirnya saya sempat juga merasakan naik ojek online ke terminal DAMRI karena bawaan sedikit (biasanya taksi online). Sialnya ketika itu ada acara sepakbola di stadion patriot Bekasi, dan yang tanding tim “orange”, macet dah. Ketika ojek ingin memutar balik, repot juga ternyata. Baru saja moncong motor mau berbelok ke kanan, mobil-mobil yang keren-keren tidak memberi jalan, bahkan merapatkan dengan mobil di depannya. Salut juga saya dengan skill “pelit-nya”, dengan level akurasi yang beberapa senti saja dengan mobil di depannya. Sebaliknya saya salut dengan kesabaran driver ojek yang menanti beberapa saat lamanya hingga ada supir mobil yang mempersilahkan kami melintasi untuk memutar balik, padahal waktu itu lalu-lintas padat merayap dan melata.

Di era online, memang kita tidak tahu pasti dengan siapa kita berpartner dan berbisnis. Apakah itu dengan orang yang beraliran politik sama dengan kita atau tidak, seagama dengan kita atau tidak, pribumi atau non-pribumi (kalau memang ada), dan perbedaan-perbedaan lainnya. Si driver ojek online tidak marah denga si pengendara mobil yang “pelit”, bahkan dibalas dengan senyuman. Karena bukan tidak mustahil, si supir mobil itu jadi pelanggannya. Siapa tahu karena macet dia pesan gojek, grab, atau uber. Bahkan si mobil yang baik hati memberi jalan, bisa saja baik karena sering memakai jasa ojek online.

Perilaku dalam Ber-Online

Melihat perilaku pelaku bisnis online yang mulai respek terhadap orang lain, sebenarnya dapat kita contoh. Apa yang telah kita ekspresikan baik lewat video, tulisan, dan lain-lain lewat online tidak dapat kita tarik kembali. Istilah “viral” akan meminimalisir perilaku selebor yang ada di lapangan oleh rakyat, apalagi pejabat publik. Sangat mudah dan praktis, jika tidak suka dengan obrolan atau status rekan kita, tinggal unfollow saja .. bahkan bila perlu “unfriend”. Tidak ada dendam dan sakit hati lagi. Bahkan kabarnya ada perusahaan di negara tetangga kita yang menyeleksi calon karyawan dengan membaca statusnya di media sosial. Jadi berhati-hatilah, bisa saja yang tersinggung calon nasabah/rekan/partner bisnis kita. Rugi kan kalau lepas.

Beberapa waktu yang lalu saya kecewa dengan situs layanan “cloud” gratis yang karena tidak aktif, akun saya diblok. Tidak masalah sih sebenarnya. Saya cuma iseng, mengirim email keberatan, dan walau tidak ada keinginan untuk minta dibuka, terus saja saya diemail untuk dibujuk aktif lagi. Tapi ya begitulah, sekali konsumen kecewa, ya beralih, era online banyak memberikan tawaran dan pilihan. Yang membuat cepat, transparan, banyak pilihan, praktis .. akan dipilih konsumen. Saya jadi ingat, warung masakan padang ternyata sejak dulu menerapkan prinsip online, “kalau tidak puas katakan ke kami, tapi kalau puas bilang ke orang lain” .. alias “viral-kan” yang baik-baik saja.

Sharing

Diawali dari sharing informasi, saat ini sharing economy mulai merebak. AirBnB, Gojek, Grab, dan aplikasi-aplikasi online menerapkan “mahdzab” sharing. Motor, mobil, rumah, kamar, bor, sapu, dan benda-benda lain bisa dimanfaatkan (sharing) oleh orang lain dan sama-sama untung, ketimbang mubazir tidak dipakai. Google, Facebook, Youtube, dan lain-lain yang terkesan menggratiskan ternyata malah kian maju. Oleh karena itu silahkan sharing sebisanya, jangan sharing yang negatif atau menyinggung orang lain, karena kita tidak tahu dengan siapa nanti berbisnis, berpartner, bekerja, dan bersosialisasi. Untuk rekan dosen dan pengajar, juga para lulusan baru .. yuk sharing ilmu.

Siap Berubah .. Terpaksa atau Tidak

Dalam catur ada istilah “inisiatif” yaitu kondisi sebelum sampai ke tahap menyerang. Kondisi ini mirip dengan keseharian kita dimana inisiatif cenderung bermakna aktif dan dinamis. Selain itu ada keinginan untuk berubah dari kondisi saat ini ke kondisi yang lebih baik. Prof. Max Ewe, mantan juara dunia catur dari Belanda, mengatakan untuk menjadi inisiatif harus mampu membaca “ciri” yang ada dalam suatu bangunan. Mengetahui ciri tersebut membutuhkan kemampuan membaca, bukan hanya membaca tulisan tetapi membaca lewat media lainnya seperti melihat, mengamati, menganalisa dan sejenisnya.

Prof. Edi, rektor UDINUS Semarang, dalam rakornas APTIKOM 2017 di Papua berbagi pengalamannya. Salah satunya adalah bagaimana proses terbentuknya televisi kampus. Waktu itu ada dosen baru lulusan luar negeri jurusan telkom tetapi ditunjuk menjadi dekan sastra. Mirip yang terjadi di kampus saya (hanya bukan luar negeri). Unik juga mengapa dia tidak ditempatkan di jurusan yang sesuai: yaitu karena tidak ingin menyingkirkan yang lama. Tapi ternyata dosen baru itu bisa berkreasi sesuai dengan pengamatan dia ketika kuliah di luar negeri. Mengapa alumni luar negeri memiliki ke-khas-an tersebut? Mungkin analisa Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya, disruption, bisa menjelaskan.

Kontras & Konfrontasi

Untuk berubah diperlukan kontras dan konfrontasi. Kontras maksudnya adalah perbedaan antara kondisi existing dengan kondisi lain yang lebih baik. Tentu saja tidak bisa dengan hanya menjelaskan, perlu diajak melihat langsung kondisi lain. Video saja tidak cukup. Mengapa piknik/traveling tetap laris walaupun video di youtube sudah banyak yang merekam obyek-obyek wisata. Terkadang kenyamanan yang ada membuat kita merasa nyaman dan tidak ingin berubah karena merasa kita adalah yang terbaik. Hingga tersadar ternyata daerah lain sudah memakai baju dan celana, sementara kita masih menggunakan kolor akibat terisolir.

Terkadang hanya beberapa orang yang memahami perlunya perubahan. Oleh karena itu diperlukan kontras agar orang lain bisa melihat perbedaan yang ada. Jika orang tidak melihat adanya manfaat atau keuntungan dari perubahan, maka tidak akan terjadi perubahan yang diinginkan. Selain itu, kontras belum tentu bermanfaat jika hanya dilihat sekilas saja. Konfrontasi diperlukan untuk memperbanyak frekuensi dari kontras. Orang butuh berkali-kali melihat kontras sebelum mau berubah. Prinsip-nya mirip iklan di televisi/radio. Di kampus yang dosennya enggan studi lanjut, ketika ada seorang dosen mudah yang berangkat kuliah, mungkin menciptakan kontras. Tetapi jika hanya seorang saja yang berangkat, konfrontasi tidak terjadi, mungkin saja mereka menganggap hanya anomali saja. Tetapi jika banyak yang berangkat, maka kontras akan menjadi bermakna sehingga kesadaran untuk “upgrade” terjadi dengan dilanjutkan dengan “bergerak”. Perubahan memerlukan tahapan: kesadaran, bergerak, dan finish. Tanpa ketiganya, masih dikatakan belum berubah.

Apa yg dilakukan dan Bagaimana melakukannya

Satu lagi konsep yang diperlukan dalam membuat perubahan adalah apakah sudah tepat “apa yg dilakukan” dan “bagaimana melakukannya”. Hanya fokus ke salah satunya saja tidak akan membuat kemajuan yang berarti. Kabarnya banyak perusahaan yang excelent dalam “bagaimana melakukannya” tetapi tidak memperhatikan “apa yg seharunya dilakukan” saat ini hancur. Mungkin tidak ada yang salah dalam “bagaimana melakukannya” pada taksi konvensional, tetapi karena tidak bisa mengantisipasi “apa yang harus dilakukan” berakibat fatal juga ternyata, diserang taksi online. Sebaliknya, telkom bagus baik dalam “bagaimana melakukan” maupun dalam “apa yg harus dilakukan” sehingga mampu mengantisipasi trend perkembangan komunikasi yang tanpa kabel dengan fasilitas digitalnya. Mungkin kita sudah baik dalam mengelola suatu institusi, misalnya kampus, tetapi belum tentu baik dalam mengerjakan “apa yang seharusnya”. Dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi saat ini, dibutuhkan pula orang-orang bertipe “driver”, agen perubahan (bukan hanya penumpang, apalagi penumpang gelap). Terkadang perlu “piknik” keluar, baik studi banding, atau mengundang pihak luar datang, untuk menggali “kontras”. Sehingga tidak terjebak dalam rutinitas “business as usual” yang kata orang jawa “ngono-ngono tok” (itu-itu aja) serta terbuai dengan kenyamanan yang ada. Kata para profesor lho …

Waterfall, Iteration, atau Metode Extreem/Agile dalam Menulis dan Revisi

Bagi rekan-rekan yang berkecimpung dalam dunia IT pasti mengenal metode waterfall, iteration atau Extreem/Agile. Metode-metode tersebut diterapkan dalam perancangan perangkat lunak dan analisa & disain. Namun demikian, saya kerap menerapkannya dalam menulis, baik buku, paper imiah, maupun sekedar postingan di blog. Di antara metode-metode tersebut, manakah yang cocok dengan Anda? Mungkin postingan ini bisa sedikit membantu.

Waterfall

Waterfall artinya air terjun. Jadi metode ini menggunakan prinsip air terjun yang jatuh dari atas ke bawah. Menulis dengan metode waterfall berarti menulis secara cepat, tanpa memperhatikan tata bahasa, mengikuti ide yang ada di kepala. Ketika selesai 100% barulah proses editing dimulai. Kesalahan-kesalahan kecil, salah ketik (typo), maupun salah komposisi (letak kalimat dan paragraf) diperbaiki setelah semua ide dituangkan dalam tulisan. Banyak tips dan trik menulis yang saya terima menganjurkan metode ini, sangat cocok sebagai pemula yang terkadang “bengong” ketika di depan laptop. Fokus menuangkan ide menjadi dasar utama, apalagi bagi pemula yang jarang menulis. Re-writing menjadi wajib bagi yang menerapkan metode ini.

Kelebihan waterfall yang mengalirkan tulisan dengan lincah terkadang menyulitkan penulis buku yang tebal. Tidak mungkin lagi mengecek tulisan dari awal. Bayangkan saja berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengecek lagi. Skimming mungkin bisa, tetapi jika mengecek dengan teliti hingga di level tata bahasa, sangat memberatkan, kecuali memang ada bagian yang mengoreksinya. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pun dalam kata pengantar buku “di bawah bendera revolusi” disebutkan bahwa ketika beliau menulis buku tersebut (kumpulan tulisan) mengatakan tidak sempat lagi membaca ulang kembali apa yang ditulisnya. Kemungkinan besar beliau menggunakan metode iterasi, yang merupakan perbaikan dari metode waterfall dalam perancangan sistem.

Iteration

Metode iterasi menerapkan perulangan (iterasi) dalam proses pembuatannya. Ide-nya adalah merubah sesuatu ketika masih sederhana lebih mudah dibanding jika sudah kompleks. Termasuk juga mengoreksinya dan mengujinya. Tentu saja mengecek perbab lebih enak dibanding per-buku. Ketika menulis disertasi, yang paling melelahkan adalah ketika mengoreksi seluruh isi disertasi. Metode iterasi ini digunakan dengan cara ketika selesai satu bab, langsung koreksi bab yang baru saja ditulis. Terkadang bukan hanya satu bab, satu paragraf pun langsung dikoreksi ketika selesai dibuat. Terkadang kesalahan logika bisa ditemukan sebelum terlanjur, misalnya ternyata paragraf yang baru ditulis salah tempat atau kurang cocok di bab/sub-bab yang sedang digarap.

Jika seluruh tulisan selesai dibuat, mengoreksi tulisan yang dibuat dengan metode iterasi ini lebih cepat dan mudah dibanding mengoreksi tulisan yang dibuat dengan waterfall yang masih banyak salah di sana sini. Bahkan bisa hanya dengan “skimming”. Tentu saja konsep re-writing tetap diterapkan walau menulis menggunakan metode iterasi.

Extreem/Agile

Pernah dalam satu semester saya mengikuti kuliah web development dengan ruby and rails. Metode yang digunakan adalah dengan extreem/agile. Metode ini berfokus menghasilkan satu aplikasi dengan cepat. Berbeda dengan iterasi yang hanya perulangan beberapa milestoon/tahap dalam waterfall, extreem/agile menggabungkan beberapa tahap dalam proses pengembangannya. Ketika proses pembuatan proyek, ada fasilitas bantu yang berupa testing. Jadi testing dapat dilakukan sebelum software selesai dibuat. Metode ini bisa cepat karena dibuat “keroyokan” dengan alat bantu versioning. Rollback ketika new version gagal dengan mudah dan aman dilakukan.

Dalam hal menulis, banyak alat bantu yang bisa digunakan. Misalnya spelling and grammar check yang tersedia di wordprocessing yang digunakan. Aplikasi seperti grammarly terkadang bisa mendeteksi bukan hanya salah ketik, melainkan juga tata bahasa (singular, plural, atau completion). Satu tool yang saat ini mutlak diperlukan dalam publikasi ilmiah adalah cek plagiarisme. Beberapa software bisa digunakan untuk itu, seperti turnitin, plagscan, smallseotools, dll (lihat post sebelumnya). Untuk menulis “keroyokan”, penerapan cloud seperti google drive/one drive bisa juga diterapkan, termasuk menu review di mirosoft word.

Mungkin ide dalam postingan ini aneh bagi Anda, tetapi di jaman “disruption” yang melibatkan multi/interdisiplin dalam berbagai bidang, penerapan satu metode di luar domain ilmu sudah biasa dilakukan. Yang background-nya IT, tidak ada salahnya menerapkan metode-metode orang IT untuk hal-hal tertentu. Siapa yang “rigid”/kaku/radikal siap-siap akan ditinggalkan.

Sampai Jumpa SAPTO, Selamat Datang SALAM Infokom

Ada tiga klinik di acara rakornas APTIKOM tanggal 2-4 November yang lalu: Akreditasi, SKKNI, dan Tips n Trik Publikasi Ilmiah. Klinik di sini maksudnya adalah seperti workshop, penjelasan dan praktek (kalau ada). Di antara ketiga-nya saya memilih akreditasi karena ini merupakan yang tidak saya mengerti. Pembicaranya ada dua orang: Prof. Sri Hartati dari ILKOM UGM dan Dr. Prihandoko dari Gunadarma.

Akreditasi yang saat ini dilakukan oleh badan akreditasi nasional (BAN) perguruan tinggi (PT), atau disingkat BAN-PT bermaksud mengecek apakah suatu PT dan prodi-nya mengikuti standar yang ada. Pemerintah bermaksud memberi rasa aman dan nyaman) kepada masyarakat. Selain status antara terakreditas atau tidak terakreditasi, status terakreditasi terbagi lagi menjadi A, B, dan C yang nanti akan diubah menjadi Unggul, Baik sekali, dan Baik. Hanya penamaan saja agar terlihat sopan dan tidak terkesan memberi nilai. Jadi ingat ketika akreditasi di tempat saya bekerja yang asesornya dulu dosen saya ketika S1 di UGM. Selalu saja saya mendapat nilai C dari nya, dan ketika akreditasi pun dapat C .. alamak. Dengan kriteria yang baru sepertinya lebih manusiawi dan tidak merendahkan. Oiya, kabarnya prodi yang dapat B dan C masih dominan (sekitar 80%).

Pentingnya Akreditasi

Akreditasi merupakan aspek penting dalam penyelenggaraan perkuliahan di PT. Penting karena menurut UU No. 12/2012 terutama pasal 28 ayat 1, perguruan tinggi yang tidak terakreditasi tidak boleh meluluskan mahasiswanya. Maksudnya, ketika meluluskan mahasiswa, SK akreditasi harus masih berlaku. Oleh karena itu diharapkan enam bulan (untuk amannya satu tahun) sebelum habisnya SK, kampus segera melakukan re-akreditasi. Tantangan yang dihadapi BAN-PT dalam akreditasi adalah jumlah PT dan prodi yang banyak dan secara geografis tersebar luas.

SAPTO

Untuk menghadapi tantangan jumlah prodi dan PT yang banyak, Ristek-Dikti mengajukan sistem akreditasi PT online atau yang dikenal dengan nama SAPTO. Sistem ini untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam sistem manual. Salah satu masalah yang diatasi dengan SAPTO adalah integritas data. Tidak ada entry data ulang dalam SAPTO sehingga terhindar dari human error. Bahkan sistem akan memberitahu jika ada inputan data yang kurang (dari file excel yang disubmit). Selain itu SAPTO terintegrasi dengan pangkalan data DIKTI (informasi tentang dosen dan mahasiswa). Hanya saja SAPTO membatasi ukuran file maksimal 25 Mb. Oleh karena itu sebaiknya jangan terlalu banyak gambar (yang penting-penting saja). Silahkan yang ingin latihan, SAPTO menyediakan latihan onlinenya: https://sapto-dev.banpt.or.id/sapto/public/.

SAPTO akan dijalankan Januari 2018, namun masih diberi toleransi 6 bulan hingga Juni 2018. Selain sistem yang online, SAPTO berbeda dengan sistem akreditasi sebelumnya. Jika paradigma akreditasi sebelumnya berdasarkan input, proses, dan output, SAPTO menerapkan prinsip proses, output, dan outcome. Tidak lagi dituntut berapa jumlah buku di perpustakaan, ruangan dosen, dan sejenisnya, melainkan berapa jumlah buku yang dipublikasikan oleh dosen, dan kinerja (output) lainnya. Outcome berbeda dengan output. Analoginya adalah, jika makan outputnya kenyang, maka outcome-nya adalah sehat.

SALAM Infokom

Sepertinya sistem akreditasi BAN-PT terus berbenah. Selain berbenah, ternyata Ristek-Dikti menawarkan untuk akreditasi lewat jalur mandiri yang dikenal dengan istilah lembaga akreditasi mandiri (LAM). Yang saat ini sudah berjalan adalah LAM PTKes untuk kampus-kampus bidang kesehatan. Walaupun ada keluhan jumlah uang yang harus dibayarkan untuk akreditasi cukup besar (sekitar 80 juta-an), tetapi bidang-bidang lainnya seperti teknik, dan informatika & komputer (infokom) siap diluncurkan. Salah satunya adalah LAM Infokom untuk bidang infokom, yang kabarnya akan diberi nama SALAM Infokom. Selain terpisah dengan BAN PT, SALAM Infokom juga memiliki sistem informasi tersendiri. Sistem yang dirancang akan obyektif, bahkan antara PT yang diakreditasi dengan asesor tidak bisa dijadwalkan karena sistem yang akan menentukan (asesor maupun anchor asesor-nya). Harapannya dapat subsidi dari pemerintah sehingga biaya akreditasi (ditanggung kampus yang akan diakreditasi) bisa ditekan atau bahkan gratis.

Peran APTIKOM

Saat ini LAM Infokom masih digodok, kabarnya sudah 95% selesai. Kata pembicara, diibaratkan wanita yang hamil tua. Yang merumuskan adalah dosen-dosen yang tergabung dalam asosiasi PT infokom (APTIKOM). Karena APTIKOM terlibat dalam LAM sebaiknya PT yang memiliki bidang infokom di dalamnya aktif dan menjadi anggota APTIKOM. Berbeda dengan akreditasi yang hanya menilai, LAM berfungsi juga sebagai pendamping dan pembimbing. Pendampingan berada di posisi ketika PT mensubmit data-data akreditasi secara online, jika ada yang kurang akan “dipaksa” melengkapi agar tidak gagal nantinya. Jika berkas yang disubmit OK, maka ada proses pembimbingan setelah asesmen lapangan (AL)/visitasi. Misal jika ada nilai lemah di bidang tertentu seperti kurikulum, performa publikasi, dan lain-lain, maka ada proses pembimbingan dari LAM. Jadi jangan main-main sama APTIKOM (yang baru saja melaksanakan rakornas di Papua).

Komponen Penilaian

Komponen penilaian yang berisi butir-butir beserta bobotnya masih terus disempurnakan. Sebagai bocoran, ada sekitar 9 kriteria umum beserta bobotnya. Selain itu ada satu kriteria berisi evaluasi diri, sehingga total ada 10 kriteria. Masing-masing kriteria diberi nilai dari A, B, C, hingga D. Peringkat atau hasil evaluasi ada tiga: unggul, baik sekali, dan baik. Mirip dengan terakreditasi A, B, dan C yang dikenal selama ini.

Peringkat “unggul” dicapai ketika jumlah nilai A (tidak ada D), nA = 8. Untuk peringkat “baik sekali” dicapai jika nilai A dan B (nA+nB) tidak kurang dari 6, sementara jika kurang dari 6 peringkatnya menjadi “baik”. Mungkin sampai sini dulu, karena SALAM Infokom masih dalam proses penggodokan. Semoga bermanfaat.

RAKORNAS APTIKOM 2017

Baru kali ini saya mengikuti acara rapat kerja nasional (rakornas) asosiasi perguruan tinggi informatika dan komputer (APTIKOM) tahun 2017. Keikutsertaan saya karena mewakili pejabat (ketua jurusan) teknik komputer di kampus saya yang tidak bisa hadir dan juga karena saya sekalian presentasi seminar internasional ICIC 2017 yang menyertai acara tahunan itu. Alhamdulillah, paper yang saya buat diajukan untuk dipublish di jurnal internasional terindeks scopus. Postingan ini tidak bercerita hal-hal teknis dan akademis melainkan suasana di rapat kerja tahunan asosiasi tersebut.

Seminar ICIC 2017

Judulnya sih biasa-biasa saja, tetapi di lapangan sungguh luar biasa. Bayangkan, peserta yang hadir banyak yang doktor dan profesor, sementara saya masih menanti disertasi yang rencananya dikoreksi profesor dari nagoya univ. Berikut yang terasa dari acara yang baru pertama kali saya ikut.

Antara “pe-de” dan minder

Jangan terlalu percaya diri dan jangan pula terlalu minder, biasa saja. Itulah nasihat yang bisa dicoba saat ini. Mengapa? Untuk menjawabnya bisa mundur jauh beberapa tahun ke belakang. Di era 90-an dan awal 2000-an pakar-pakar IT masih sedikit dan cenderung didominasi oleh pakar tertentu dan kampus tertentu saja. Saat ini ketika perkembangan IT yang merambah ke mana-mana dan membuat heboh dan tumbangnya raksasa-raksasa bisnis, tidak ada satu pakar pun yang menguasai seluruh ilmu informatika dan komputer (infokom). Tiap orang yang menggeluti IT memiliki kelebihan khusus yang tidak dimiliki oleh orang IT yang lain. Bukan maksudnya menghibur diri, tetapi memang demikian.

Minder karena masih master atau bahkan sarjana? Sepertinya tidak. Jika memiliki kualifikasi keahlian level 9, seorang Susi Pudjiastuti yang hanya tamatan SMP setara dengan gelar doktor. Sarjana dan master “jaman now” sebaiknya memperhatikan hal itu, kecuali tentu saja yang memang berniat kuliah lagi ke jenjang doktoral.

Semoga bisa ketularan

Minder karena homebase di kampus-kampus level bawah? He he .. nyindir diri sendiri. Tetapi saat ini orang melihat kepakarannya bukan homebase-nya. Kalo tidak percaya searching saja di “forlap” Dikti homebase pakar2 IT, pasti banyak yang dari kampus biasa saja. Tapi kebanyakan sih dari kampus ternama, tapi setidaknya orang melihat kepakarannya bukan kampus tempat dia bekerja, apalagi status kepegawaiannya.

Terlalu percaya diri karena jago bahasa pemrograman tertentu atau bidang tertentu? Nanti dulu. IT itu bidang yang dinamis dan cepat sekali usang. Tadinya cloud computing, ternyata saat ini diambil alih oleh internet of things. Banyak anak-anak ABG yang bergelar doktor baru dan memiliki keahlian-keahlian tertentu yang bikin mulut saya mangap, he he.

Antara temuan dan terapan

Seperti disebutkan dalam buku disrupsi karangan Rhenald Kasali, bahwa perkembangan IT ada dua jenis yaitu dari nol ke satu dan dari satu ke-n. Beberapa ahli IT bermain di nol ke satu, dalam artian menemukan hal-hal baru. Bukan hanya ahli dalam artian individual, bisa juga korporasi seperti facebook, google, amazon, dan raksasa-raksasa IT menemukan “mainan” baru (nol ke satu). Beberapa orang IT bermain di sisi satu ke-n, dalam hal ini menyebarkan temuan-temuan dari orang yang bermain nol ke satu. Grab, gojek, bukalapak, dan sejenisnya memainkan perang dari satu ke-n. Termasuk yang mengembangkan ilmu-ilmu non infokom dengan bantuan infokom, seperti e-learning, sistem informasi geografis, kedokteran, dan lain-lain. Riset terkini bermain antara temuan dan terapan. Oiya, tidak ada pertanyaan “bodoh” dalam bidang terapan. Justru para peneliti menggandeng pertanyaan-pertanyaan yang bisa dikategorikan “Aset” itu. Aset karena bisa dijadikan sumber inspirasi yang terkadang tidak mungkin menjadi mungkin. Facebook, twitter, instagram, hingga grab dan gojek, mungkin berasal dari pertanyaan2 aneh pengguna.

Dengan Prof Tedi Mantoro, masih jago bahasa Thai-nya

Menurunnya persaingan antar lembaga

Berbeda di era 90-an dimana antar kampus saling bersaing, dan terkadang sikut-sikutan, saat ini sepertinya mereka berangkulan. Perpindahan dosen dari satu kampus ke kampus lainnya pun biasa terjadi dan tidak ada benci dan dendam, biasa saja. Mungkin kesadaran akan ketertinggalan dalam hal riset dengan negara tetangga merupakan satu pemicu. Memang sudah jadi tuntutan antara peneliti dari Indonesia saling dukung mendukung (riset lanjutan), ditandai dengan saling sitasi antara sesama peneliti tanah air. Dulu mungkin gengsi atau menganggap saingan/kompetitor jika mensitasi rekan sendiri, saat ini tidak lagi, karena negara lain sudah tidak menganggap rekan sesama peneliti sebagai saingan. Heran juga saya melihat h-index jurnal di kampus yang masih nol dan bahkan tanpa ada yang mensitasi, padahal ketika saya lihat isinya ga jauh berbeda satu sama lain. Harusnya riset terdahulu terus dikembangkan, apalagi jurnal-jurnal lokal yang berisi hasil penelitian mahasiswa dimana junior cenderung melihat hasil seniornya.

Lembaga akreditasi mandiri

Selama ini kampus diakreditasi oleh badan akreditasi nasional (BAN) PT. Satu bidang, misalnya kampus kesehatan, sudah tidak diakreditasi lagi oleh BAN PT, melainkan oleh lembaga akreditasi mandiri (LAM) Kesehatan. Dan untuk bidang infokom, sudah 95% LAM infokom siap dijalankan yang artinya siap mengucapkan selamat tinggal ke BAN PT dengan aplikasi online-nya (SAPTO).

Jadi ketika yang mengakreditasi berasal dari asosiasinya sendiri, sepertinya akan mengakomodir kebutuhan bidangnya masing-masing. Tidak ada gunanya sikut-sikutan, rugi sendiri seperti kejadian beberapa tahun lalu ketika dinilai jelek akan membalas memberi nilai jelek, akibatnya jadi tidak obyektif. Sepertinya jika sistemnya rapi, jelas, dan lengkap, hasilnya akan obyektif dan borang tidak lagi “bohong dan ngarang”.

Mungkin itu sedikit gambaran yang ada di rakornas, selain seremonial dan laporan dari aptikom tiap wilayah serta seminar (internasional dan nasional). APTIKOM bisa dijadikan alat mediasi dengan pemerintah, apalagi kepala BAN PT saat ini adalah orang APTIKOM juga (Prof Chan). Masalah aturan-aturan pemerintah (Ristek-Dikti) yang terkesan memberatkan, ada baiknya mengikuti saran Prof R. Eko Indrajit, anggap saja seperti “game” yang versi berikutnya lebih menantang dari sebelumnya dan membuat game lebih menarik, bukannya memberatkan. Terhadap asosiasi-asosiasi, misalnya dalam hal okupasi dan profesi, pemerintah mulai mendengarkan, dan tidak ada lagi kejadia seperti lirik lagu yang saat ini sering saya dengar “.. sayang, apa kowe krungu, jerit e atiku ..”. Sekian laporan pandangan mata rakornas kali ini, semoga bisa ikut lagi di Palembang tahun depan.

Lha .. pulangnya bareng personel srimulat yang tersisa (Tesi, Nurbuat, Polo)

Curve Fitting dengan Matlab

Curve fitting artinya membuat sebuah kurva dari rentetan titik. Kurva yang dihasilkan berupa persamaan linear ataupun non linear (matlab menyediakan quadratic hingga polinomial pangkat sembilan). Silahkan lihat post sebelumnya untuk membedakannya dengan interpolasi. Biasanya dijumpai ketika praktikum yang menguji satu variabel dengan perbedaan perlakuan tertentu. Saya sendiri menjumpai pertama kali kasus ini ketika praktikum fisika dasar di tingkat pertama kuliah. Hasilnya pun hanya dengan menarik garik lurus (linear) terhadap serangkaian titik hasil uji coba tersebut.

Matlab menyediakan toolbox dengan nama “cftool” yang dapat diakses dengan mengetik fungsi tersebut di command window. Misalnya kita memiliki serangkaian data sebagai berikut:

  • data =
  • 19.8960
  • 16.9290
  • 15.6660
  • 19.8870
  • 17.9100
  • 18.4260
  • 18.9570
  • 18.7710
  • 15.4860
  • 17.1510
  • 15.3210
  • 18.2580
  • 17.8860
  • 13.7100
  • 17.6040
  • 16.7610
  • 15.8880
  • 16.6200

Langkah pertama adalah memasukan data tersebut ke dalam cftool. Tekan tombol “data” untuk memunculkan jendela data.

 

Karena data hanya satu seri, isi dengan data x atau data y. Saya coba keduanya ternyata hasilnya sama karena memang datanya hanya satu seri. Setelah menekan “create data set” maka toolbox akan terisi data tersebut. Kembali ke jendela “cftool” tekan “Fitting” untuk memulai proses curve fitting. Muncul jendala baru untuk mengisi parameter-parameter yang sesuai (linear / non linear).

Setelah memasukan jenis polinomialnya, lanjutkan dengan menekan “Apply“. Hasil polinomialnya tampak dalam kolom “Result” dan grafiknya dapat dilihat di jendela “Cftool“.

 

Hasil di kolom result dapat dilihat. Parameter yang dihasilkan adalah konstanta persamaan linear beserta parameter-parameter lainnya seperti Goodness of fit, SSE, R-square, dan lain-lain yang dapat dilihat dari pelajaran statistik. Silahkan coba untuk korelasi dua variabel.

  • Linear model Poly1:
  • f(x) = p1*x + p2
  • Coefficients (with 95% confidence bounds):
  • p1 = -0.1403 (-0.2877, 0.007083)
  • p2 = 18.62 (17.02, 20.21)
  • Goodness of fit:
  • SSE: 37.47
  • R-square: 0.2029
  • Adjusted R-square: 0.1531
  • RMSE: 1.53

Surat Ijin Kampus yang Tercabut

Unik juga, berita pencabutan ijin kampus tidak seheboh berita pencabutan ijin ormas tertentu di grup WA. Sepertinya rekan-rekan sesama pengajar lebih tertarik (terkadang merasa ahli) dengan perpolitikan dibanding pendidikan. Info dari link ini menyebutkan bahwa pencabutan ijin khusus perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan Permenristekdikti 100/2016: yakni untuk satu universitas minimal memiliki 10 prodi (6 eksakta dan 4 sosial). Untungnya ada opsi untuk merger agar tetap beroperasi. Apakah penutupan beberapa kampus nanti merupakan efek dari disruption? Judul dari buku yang saat ini sedang saya nikmati.

Jika pengelola taksi mengalami penurunan dan terancam bangkrut karena taksi online, sepertinya tidak untuk kampus. Kampus online pun belum bisa menyaingi, mungkin online-online lainnya yang mempengaruhi penurunan suatu kampus. Misalnya kemudahan seorang calon siswa mengakses kinerja suatu kampus lewat internet (akreditasi, dosen-dosen, alumni, dan sejenisnya). Tidak serta merta dengan plang yang indah, gedung yang mentereng, akan diminati oleh calon siswa jika akreditasi yang rendah, info tentang kasus tertentu dan kinerja buruk lainnya dapat dengan mudah dilihat secara online.

Sharing

Sharing ini sebenarnya inti dari bisnis-bisnis online yang banyak beredar. Sharing di sini bukan menggratiskan sesuatu, tetapi menggunakan suatu sumber daya dari orang lain sesuai kebutuhan dari pada tidak terpakai/menganggur. Misal konsumen butuh transport ke lokasi tertentu, seseorang memiliki kendaraan yang tidak selalu terpakai, dan aplikasi online menghubungkan keduanya (Grab/Uber/Gojek). Kasus lain, seorang ingin berwisata dan memerlukan tempat penginapan, orang lain memiliki kamar kosong di suatu lokasi pariwisata, dan aplikasi online menghubungkannya (AirBnB).

Kampus yang kritis karena kekurangan siswa dan akan dipaksa ditutup pada januari tahun depan memiliki beberapa aset yaitu gedung, dan sumber daya manusia (dosen, laboran, dan staf tata usaha). Sepertinya Ristek-dikti melihat “nganggur”-nya aset-aset tersebut. Kampus yang berlebihan siswa, butuh dosen, sementara ada kampus lain yang kelebihan pengajar dan gedung karena sepi mahasiswa. Di sini Ristek-dikti menerapkan prinsip ini (hanya dugaan sih) yakni mengakomodir dengan mengajurkan merger kedua institusi tersebut. Selain indeks publikasi penelitian negara kita yang terus naik (kini mengalahkan Thailand), sepertinya Ristek-dikti mengejar indeks kinerja kampus karena dua kampus yang merger diharapkan meningkatkan rangking gabungan kampus-kampus tersebut. Bandingkan negara kita (atau Jakarta saja) dengan Singapura yang hanya memiliki dua kampus negeri tetapi ranking dunianya tinggi (NUS dan Nanyang).

Kampus: Even Organizer Pendidikan

Ada calon siswa butuh pendidikan, ada pengajar yang bisa membagi ilmunya, lalu ada kampus yang mempertemukannya. Prof Rhenald Kasali membandingkan alur proses itu dengan even organizer. Even organizer yang baik bisa mempertemukan misalnya, seorang artis dengan penonton setianya. Ristek-dikti sepertinya menerapkan ini (hanya dugaan lagi sih) dengan rencana mengimpor profesor world class ke Indonesia. Perlu diketahui, beberapa negara maju saat ini kelebihan profesor sementara kebutuhan siswa malah terbanyak dari negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memang karena memiliki pertumbuhan penduduk yang tinggi. Bahkan kabarnya di Taiwan, jumlah siswa yang lanjut kuliah terus menurun dan butuh siswa dari negara lain, kata pemateri ketika saya ikut pelatihan bahasa sebelum berangkat studi.

Bagaimana dengan tri-darma lainnya: penelitian dan pengabdian masyarakat? Ristek-dikti di sini lagi-lagi melihat aspek online dari penelitian: Open Journal System (OJS). Bahkan OJS ini wajib dimiliki oleh kampus dengan E-ISSN nya. OJS menghubungkan peneliti dengan pembaca jurnal yang dapat diakses online. Mungkin suatu saat OJS bukan hanya hasil penelitian, melainkan juga penghubung peneliti dengan yang membutuhkan penelitian. Sementara itu, untuk pengabdian sudah mulai digagas informasi yang menghubungkan UMKM-UMKM di tanah air dengan para dosen yang siap membantu memberikan training tertentu.

Kalau kita amati sepertinya perkuliahan cukup melibatkan tata usaha, dosen dan siswa. Ketua jurusan, kaprodi, dan dekan hanya berfungsi sebagai legalitas saja (tanda tangan, wisuda, dan sejenisnya). Mirip dengan kampus-kampus di luar negeri. Hanya saja di sini aspek non-teknis sangat berperan (like or dislike), terutama saat penjadwalan. Kalau kita lihat aplikasi online yang mempertemukan driver dengan konsumen akan melihat jarak terdekat di antara mereka. Jika penentuan dosen berdasarkan like/dislike akan mengganggu perkualiahan seperti beban dosen yg berat, dan terkadang hingga sebulan siswa belum memiliki dosen, padahal dosen tertentu “nganggur” akibat tidak disukai si penentu dosen. Kalau di aplikasi online, siswa bakal memberi bintang tiga ke kampus itu. Atau jangan-jangan tata usaha dan para pejabat penentu dosen akan ter-disrupsi?

Terdisrupsi-kah Dosen?

Pertanyaan yang mengerikan. Untungnya yang terdisrupsi adalah penghubung konvensional antara konsumen dengan barang dan jasa. Pengelola taksi yang kalah dalam menghubungkan konsumen dengan driver, pengelola mall yang kalah dalam menghubungkan barang dengan pembeli dan sejenisnya oleh aplikasi online. Terkadang seolah-olah daya beli konsumen menurun padahal hanya berpaling dari konvensional ke online. Bahkan kebutuhan barang dan jasa transportasi meningkat ketika adanya aplikasi online. Sepertinya begitu pula dengan kebutuhan dosen yang terus meningkat. Sampai-sampai univ kependidikan terkenal oleh kepala evaluasi kinerja akademik (EKA) diduga ‘beternak doktor’.

Jika konsumen butuh barang, tentu saja yang terdisrupsi bukan barangnya melainkan institusi jadul yang menghubungkan barang ke konsumen. Jika siswa butuh dosen, tentu saja yang terdisrupsi institusi yang menghubungkannya, jika jadul dan tidak baik mengelolanya. Hanya saja jika sudah transparan dan online, siswa bukan hanya butuh dosen saja, melainkan dosen yang sesuai dengan “menu”-nya. Menu di sini adalah kepakaran, yang biasanya doktor atau memiliki lisensi-lisensi tertentu. Repotnya, pengelola kampus yang seperti pengelola bisnis lainnya memiliki kekhawatiran yang sama terhadap penurunan penghasilan apalagi sampai bangkrut sehingga membuat aturan-aturan mengikat terhadap para dosen supaya tidak kabur-kaburan (tapi malah kabur beneran).

Pertanyaan yang harus dijawab: bagaimana jika peran dosen digantikan dengan modul online atau self learning lainnya, e.g. computer based training (CBT), video tutorial, dll? Sepertinya sebagian, sementara mentoring masih perlu (praktek bedah, pilot, riset, dan sejenisnya).

Perhatikan SIM: Surat Ijin Mengemudi Mengajar

Teringat waktu krisis moneter akhir 90-an, sulit sekali mencari kerja. Terpaksa memanfaatkan ilmu yang ada dengan mengajar, ya hanya mengajar, selain itu, “there is nothing I can do”. Ketika selesai menguji tugas akhir siswa, rekan dosen berkata ke saya untuk mengambil secarik kertas surat tugas ngajar dan menguji. Bingung juga, untuk apa kertas itu? Dia menjelaskan untuk mengajukan kepangkatan, yang dia istilahkan dengan SIM tapi “M”-nya: mengajar. Akhirnya saya ikutin nasihat teman saya itu (tidak perlu disebutkan soalnya kalau dia baca bakalan Ge Er, hehe) untuk memperoleh pangkat pertama saya.

Ternyata kepusingan itu berlanjut, yaitu harus master untuk tetap jadi dosen. Doktor untuk lektor kepala (walaupun diturunkan syaratnya cukup jurnal internasional) dan guru besar. Dan yang heboh publikasi internasional untuk lektor kepala dan guru besar per tiga tahun. Ya, begitulah. Sebenarnya pentingkah itu semua? Bukannya siswa hanya butuh ilmunya? Ojek online aja butuh SIM C dan SIM A (untuk taksi online). Ibarat aplikasi online, semoga bisa menjadi dosen dan kampus bintang lima, bukan bintang tiga ke bawah yang terancam suspen.

Epoch, Iteration, dan Stop Condition

Perkembangan Soft-computing menciptakan istilah-istilah baru yang sebelumnya belum pernah ada. Hal ini terjadi karena soft computing mengadopsi istilah-istilah lain. Sebagai contoh dalam algoritma genetika, istilah-istilah mutasi, kromosom, dan istilah-istilah yang berasal dari teori genetik dan evolusi menjadi istilah dalam ilmu komputer. Bahkan algoritma yang sudah sejak lama digunakan sudah bergeser ke arah metode. Metode lebih general dibanding algoritma yang lebih spesifik dan penerapan khusus. Jika Anda perhatikan algoritma genetika, beberapa tulisan menulisnya dalam bahasa Inggris dengan Genetic Algorithms dengan tambahan “s” di belakang algoritma. Hal ini karena algoritma genetika melibatkan beberapa algoritma seperti roulette wheel, encoding ke bits string dan sebaliknya (decoding), dan lain-lain. Namun beberapa buku tidak menambahkan “s” di belakang algoritma (Genetic Algorithm) dengan anggapan bahwa algoritma genetika adalah satu metode.

Beberapa rekan menanyakan istilah terkenal dalam machine learning yaitu “Epoch”. Banyak yang mengartikannya dengan iterasi. Tetapi mengapa tidak mengambil istilah iterasi saja? Jawabannya berasal dari training artificial neural network. Salah satu metode training, yaitu propagasi balik (backpropagation), menggunakan istilah epoch karena ketika melakukan satu kali iterasi dilakukan dengan rambatan balik. Untuk gampangnya, misalnya satu iterasi melibatkan proses a-b-c-d, maka epoch dalam satu “iterasi”-nya (dengan istilah satu kali epoch) melibatkan a-b-c-d-c-b-a. Dua iterasi: a-b-c-d-a-b-c-d, sementara dua epoch: a-b-c-d-c-b-a-b-c-d-c-b-a. Atau gampangnya iterasi itu epoch tanpa rambatan balik (hanya maju saja).

Beberapa rekan juga menanyakan metode yang cocok untuk stop condition. Untuk iterasi, sejak dulu kita sudah mengenal dengan error atau delta error. Jika error antara satu iterasi dengan iterasi berikutnya cukup kecil maka proses perhitungan berhenti. Error yang saat ini sering digunakan adalah Mean Square Error. Silahkan gunakan metode lain, misalnya Gradient Descent dengan prinsip kemiringan. Kemiringan diambil dari posisi saat ini dibanding epoch maupun iterasi sebelumnya. Jika masih besar selisihnya berarti masih miring. Ibaratnya kendaraan beroda jika masih miring masih bergerak turun, sementara jika sudah tidak begitu miring jalanan-nya, kendaraan itu bergerak perlahan, dan walaupun belum berhenti, dalam komputasi sudah dihentikan demi efisiensi. Untuk prakteknya perhatikan grafik hasil pelatihan jaringan syaraf tiruan di akhir prosesnya. Teringat saya ketika presentasi hasil penelitian di kampus. Karena reviewer adalah doktor dari FAI mempertanyakan mengapa perlu “pelatihan” karena buang-buang waktu dan biaya (dikiranya pelatihan JST itu: pelatihan/kursus/workshop).