Life-long Education

Istilah ini sering muncul dan dikontraskan dengan “long life education”. Jika “life long education” berarti belajar sepanjang hidup, “long life education” berarti hidup hanya untuk belajar. Jadi yang benar adalah belajar untuk hidup. Banyak referensi-referensi mengenai hal yang masuk dalam bidang ilmu pendidikan ini, misalnya di paper seminar ini, yang membahas seluk beluk “life long education” yang sedikit membedakan dengan “life long learning” (lihat link ini). Jika learning hanya berfokus kepada belajar, “education” lebih luas dari pada “learning”.

Empat Pilar Pendidikan

Dibahas empat pilar dalam pendidikan, antara lain: “learning to know”, “learning to do”, “learning to live together and work with others”, dan “learning to be”. Pilar itu sudah sesuai dengan urutannya, yang diutarakan pertama kali oleh Delors (1996) dan ditujukan untuk pendidikan di masa depan. Dimulai dari sekedar tahu (know), dilanjutkan dengan bisa mengerjakan (do) dan bekerja sama (live together) dan diakhiri dengan perannya di masyarakat (to be). Jika seluruh rakyat Indonesia sampai tahap “to be”, pasti sejuk dah. Jika “learning to do” tetapi tidak “live together”, biasanya bentrok dan persaingan muncul di sana-sini. Jadi ingat, baru saja sore tadi timnas U23 kita dikalahkan 2-3 oleh timnas Syria. Bayangkan, kita dikalahkan oleh negara yang porak-poranda karena perang sodara. Semoga kita tidak seperti mereka yang kurang skill dalam “live together”-nya. Kalau “learning to do” sepertinya kita sudah banyak yang “ok”, buktinya kita masih bisa bekerja dengan baik, bahkan keahlian mengelas kita mengungguli negara lain. Tetapi kalau kebanyakan baru sampai “learning to know” sepertinya hanya ramai debat saja tanpa aksi, alias wacana thok. Repotnya, apabila keempat pilar tidak ada yang jalan, maka pasti kerjaannya ribut saja di media sosial, gampang kemakan hoax dan gemar cari lawan.

Kwadran Pendidikan

Negara dengan mayoritas muslim sebaiknya mendengar hadits nabinya yang mengatakan agar belajar dimulai dari buaian (bayi) hingga liang kubur (meninggal), alias “life-long education”. Dalam kondisi seperti saat ini dimana perkembangan IPTEK sangat cepat, tidak ada cara lain untuk “sustainable”/bertahan selain belajar terus. Di Swedia, life-long education dikombinasikan dengan “life-wide learning”. Jadi kalau digambarkan, “life-long” itu berdasarkan usia, sementara “life-wide” itu dibedakan menjadi formal dan non-formal, sehingga terbentuk 4 kwadran.

Idealnya negara memfasilitasi secara merata keempat kuadran tersebut. Misalnya untuk generasi muda, selain formal (sekolah), perlu juga memperhatikan pendidikan non-formal (di masyarakat). Selain distribusi yang merata, integrasi juga harus ada. Selama ini pendidikan non formal dan formal sepertinya jalan masing-masing di beberapa negara, padahal sebaiknya antara formal dan non-formal saling terkait. Selain horizaontal (formal dan non-formal), integrasi juga vertikal (tua atau muda).

Tujuan Utama “Life-long Education”

Dari empat pilar pendidikan, “learning to be” merupakan tujuan akhir dari pendidikan. Istilah lain dari “learning to be” adalah “learning society”, yaitu rakyat yang produktif, mampu bertidak dan merespon dengan baik dalam bermasyarakat serta memiliki kesadaran dalam bertindak. Aspek spiritual tidak boleh dilupakan (tidak materialistis). Akan tetapi butuh persyaratan-persyaratan tertentu untuk sampai ke arah sana.

Persyaratan Awal

Dari dulu ada dua syarat untuk menerima pendidikan: kesempatan dan kemauan. Tanpa keduanya, pendidikan tidak berjalan. Untuk memberikan kesempatan belajar, peran pemerintah sangat penting. Jangan sampai pendidikan hanya untuk orang yang mampu (the have). Masalah kesempatan merupakan masalah yang sering dijumpai di negara berkembang seperti di Indonesia dibanding di negara maju. Selain itu pihak yang mampu jangan mengabaikan yang tidak mampu, sehingga tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam hal pemberian kesempatan belajar ke rakyat yang tidak mampu. Sementara itu kemauan perlu dipupuk sejak kanak-kanak dan peran orang tua juga menentukan. Terakhir adalah “educability”, alias bisa dididik. Sepertinya tidak masalah di negara kita, karena tiap orang bisa dididik, kecuali kalua kena narkoba atau dicuci otaknya oleh paham radikal (teroris).

Demikian sedikit gambaran masalah pendidikan yang saya sendiri kurang begitu mendalami. Mungkin rekan-rekan yang mengajar di kampus jurusan pendidikan bisa lebih memberikan penjelasan yang lengkap dan “jujur”. Semoga bermanfaat.

Referensi

Silahkan lihat link di paragraf awal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s