Mencari Inspirasi

Untuk maju terkadang dibutuhkan suatu “role model“, yaitu obyek yang akan kita tiru. Meniru itu mudah, bahkan ketika kita masih kanak-kanak, cara belajar yang cocok adalah meniru. Namun ketika kita beranjak dewasa, banyak faktor-faktor yang membuat keterampilan meniru ini hilang, atau setidaknya jarang digunakan.

Menghargai Prestasi Orang Lain

Menginjak dewasa, banyak ilmu yang diterima, tetapi banyak juga “kondisi” yang masuk ke dalam otak seorang anak. Seorang ekonom yang juga motivator, Rhenald Kasali, menganjurkan juga mencari role model untuk kemajuan kita. Tidak perlu orang-orang hebat dan orang besar, siapa pun bisa kita jadikan role model. Lihat sekeliling kita, rekan kita, atau siapapun itu, lihat apa prestasi yang diperoleh dan jadikan pelajaran. Repotnya terkadang kita bukannya mengikuti langkah-langkah mereka yang berhasil tetapi malah sibuk mengkritisi, mencari kesalahan-kesalahan, dan kejelekannya.

Kesuksesan atau keberhasilan yang terlihat, besar atau kecil, ada proses di dalamnya yang tidak tampak dari luar. Ibarat puncak gunung es yang tampak kecil di permukaan, tetapi besar di bawah. Dekati dan buat dia mau menge-share tips dan trik yang bisa kita jadikan pelajaran. Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan jika memang diawal sudah anti pati terhadapnya, gengsi karena merasa lebih senior, dan sebagainya.

fenomena-gunung-es

Siapa pun Bisa Dijadikan Inspirasi

Lupakan sejenak kejadian-kejadian di negara, terutama masalah politik praktis yang jika tidak hati-hati akan mengganggu kemajuan kita. Mungkin saja guru, teman, dan sumber-sumber lain memiliki pandangan yang berbeda dalam hal tertentu. Jangan sampai sumber-sumber itu lepas akibat ulah kita sendiri, terutama saat ini adalah lewat media sosial. Kita semua terhubung, siswa dengan dosen, staf, pemerintah dan lain-lain. Jaga terus hubungan itu.

Tiap orang itu “Custom”, tidak ada yang sama/seragam. Jadi jika kita mengkotak-kotakan mereka, yang rugi adalah kita sendiri. Logika “karena kita benci A dan orang yang suka A harus kita benci juga” harus segera dihapus. Waktu kita SMP pun diajarkan diagram Venn, dimana satu himpunan bisa saja beririsan dengan himpunan lainnya.

Banyak Bertanya

Mengapa bertanya harus banyak? Karena memang masalah kita biasanya banyak. Selain itu tidak semua bisa menjawab masalah kita. Seperti sudah dibahas sebelumnya, masalah custom. Beberapa hari yang lalu rekan mahasiswa doktoral baru bertanya masalah studinya. Saran saya adalah bertanya sebanyak-banyaknya dengan senior yang lain, karena tidak ada satu mahasiswa pun yang sama persis kasusnya. Ada yang kasus nilai yang kurang, proposal yang belum juga disetujui, jurnal yang lama tidak ada kabar, dan lain-lain. Bahkan dua orang siswa dengan dosen pembimbing yang sama pun memiliki nasib dan perlakuan yang berbeda.

Selain bertanya mencari sumber-sumber inspirasi dari internet juga bagus. Tetapi jangan hanya dari orang-orang yang “super” saja. Saya banyak membaca blog-blog dari yang memang “wah” prestasinya hingga dari mahasiswa/I alay yang sedang studi lanjut. Banyak hal-hal yang di luar fikiran kita ada di tulisannya, dan bisa bermanfaat. Di samping itu, jaman cepat sekali berubah, mungkin sumber dari orang yang “wah” cocok hanya untuk saat dia menggapainya, tetapi tidak cocok lagi dengan kondisi saat ini.

Learning by Teaching

Metode ini saat ini sedang diteliti dalam riset mengenai e-learning. Lihat potongan webinar (seminar online) tentang learning by teacing (LbT).

Memang ilmu itu beda dengan benda fisik. Jika kita mengajarkan, kita tidak kehilangan malah bertambah. Selain ilmu yang bertambah, pengalaman juga bertambah akibat seluruh fungsi otak yang ikut bekerja, kiri kanan atas bawah, limbik, dan istilah-istilah lain yang tidak saya mengerti, katanya. Sekian, semoga tulisan menjelang mudik ke tanah air bisa bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s